Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Jaejoong melangkah turun dari taxi di depan cafe
itu, cafe tempat dia dulu sering menghabiskan waktunya bersama Changmin di hari
minggu di masa lalu.
Dia memasuki cafe itu dan menatap ke arah tempat
duduk di sudut, tempat favorit mereka dulu dan tersenyum ketika melihat bahwa Changmin
sudah menunggu di sana.
“Hai oppa.” Jaejoong melangkah mendekat, menatap Changmin
yang langsung mendongak menatapnya dan membalas senyumnya.
“Hai Jaejoongie.” Changmin berdiri, langsung
menarikkan kursi untuk Jaejoong di depannya,
“Duduklah, aku sudah memesankan minuman
kesukaanmu.”
Mata Changmin mengamati Jaejoong dengan lembut,
“Kau cantik sekali, Jaejoongie.”
Pipi Jaejoong merona, menatap Changmin yang
mengambil tempat duduk di depannya dan menatapnya dalam-dalam.
“Terimakasih oppa.”
“Kau tampak lebih feminim sekarang, apakah itu
karena hubunganmu dengan Yunho?”
Sekali lagi, Jaejoong terdorong untuk berkata jujur
kepada Changmin, tetapi dia kemudian menahan diri.
“Mungkin.” Gumamnya lembut,
berusaha menghindari pertanyaan selanjutnya, “Jadi
bagaimana oppa, bagaimana tentang Kyuhyun?”
Mata Changmin berubah muram, “Kyuhyun... yah...”
lelaki itu menghela napas panjang, “Aku berusaha
menghubunginya seharian ini tetapi tidak diangkat, semua pesanku tidak di
balas, mungkin dia marah kepadaku.”
“Kenapa dia marah kepadamu?” Jaejoong menyela,
merasa bingung.
Changmin menghela napas panjang sekali lagi, seakan
ingin membuang seluruh beban berat di benaknya.
“Karena aku selalu membicarakanmu. Kyuhyun merasa
terganggu, dia tidak mengerti kalau kau adalah teman masa kecilku dan kita
cukup dekat.”
Ada senyum miris di wajah Changmin, “Aku rasa dia
cemburu kepadaku.”
Jaejoong membelalakkan matanya, “Kyuhyun?”
Membayangkan wajah Kyuhyun yang luar biasa cantik
dan sempurna, jauh sekali di atas dirinya, rasanya sangatlah tidak mungkin
kalau Kyuhyun cemburu kepada Jaejoong.
“Bagaimana mungkin dia cemburu kepadaku?”
Ekspresi Changmin tampak serius,
“Mungkin karena pembicaraan tentangmu terasa
mendominasi percakapan kami... Kyuhyun merasa terganggu, dia bilang mungkin di
dalam otakku terlalu dipenuhi dirimu.” Changmin tersenyum.
Kata-kata Changmin itu membuat Jaejoong sedikit
ternganga. Apakah maksud kata-kata Changmin itu?
“Seharusnya kau jangan membicarakan tentang aku
terus-terusan.”
Jaejoong berusaha bersikap wajar meskipun merasakan
hal yang berbeda di benaknya.
Changmin menghela napas panjang, “Yah, entahlah Jaejoongie,
kurasa memang benar kata-kata Kyuhyun, aku terlalu sering membicarakanmu, Jaejoong,
mungkin hal itulah yang membuat Kyuhyun terganggu....”
“Dan kenapa kau sering membicarakan tentangku, oppa?”
Mata Changmin berubah serius, “Mungkin tanpa sadar,
kau selalu ada di hatiku, Jaejoongie.”
Kali ini jantung Jaejoong benar-benar berdesir. Changmin
seolah ingin mengungkapkan sesuatu kepadanya, lelaki itu tampak serius, menatap
Jaejoong dengan tatapan matanya yang dalam.
Apakah Changmin.. apakah Changmin secara tidak
langsung ingin mengatakan bahwa Jaejoong ada di dalam hatinya? Bahwa sekarang
entah kenapa lelaki itu mulai menyadari bahwa Jaejoong mungkin selama ini
selalu tersimpan di dalam hatinya dan menunggu untuk diakui?
Kalau memang benar begitu, kenapa tidak ada rasa
yang berbeda di benak Jaejoong selain jantungnya yang berdesir pelan? Bukankah
inilah yang selama ini dinantikannya? Pengakuan Changmin bahwa Jaejoong ada di
dalam hatinya, meskipun sedikit? Seharusnya Jaejoong bersorak dan berteriak
gembira bukan? Tetapi kenapa dia sekarang malahan merasa..... datar?
Jemari yang ramping tiba-tiba menyentuh bahunya
lembut, membuat Jaejoong terperanjat kaget, begitupun Changmin yang tampak
benar-benar terkejut dengan mata memandang ke belakang Jaejoong.
Jaejoong mendongakkan kepalanya, menatap ke
belakang, dan membelalakkan matanya ketika melihat Yunho berdiri di sana, di
belakangnya, memandangnya dengan tatapan mata memperingatkan yang segera
hilang, berganti dengan tatapan mesra penuh sandiwara.
“Maafkan aku terlambat sayang.”
Yunho menunduk dan mengecup dahi Jaejoong yang
sedang duduk dengan lembut, kemudian lelaki itu menarik kursi dan duduk di
sebelah Jaejoong, berhadap-hadapan dengan Changmin, ditatapanya lelaki itu
dengan tatapan mata datar,
“Maafkan aku terlambat, Tadi aku bersama Jaejoong
dan kebetulan aku sedang ada urusan mengenai konser tunggalku, jadi aku
terpaksa meninggalkan Jaejoong sebentar, Jaejoong lalu bilang sambil menungguku
dia akan menemuimu, dan aku berjanji akan segera menyusul setelah semua
urusanku beres.”
Changmin masih ternganga, seolah kehilangan
kata-kata. Dia menoleh berganti-ganti ke arah Jaejoong yang memasang wajah
bersalah dan Yunho yang tersenyum tenang, dan kemudian ekspresinya berubah
sedikit malu.
“Oh. Maafkan aku, aku tidak tahu kalau aku
mengganggu Jaejoongie di sela acara kalian.”
Lelaki itu langsung beranjak berdiri, “Kurasa aku
ada urusan mendadak, aku harus pergi.”
“Changmin oppa!”
Jaejoong hendak berdiri, mencegah kepergian Changmin,
tetapi tangan Yunho menahannya dengan kencang dan penuh peringatan, membuat
gerakan dan suara Jaejoong tertahankan.
Changmin menoleh, menatap Jaejoong, ekspresinya
terlihat terluka.
“Mungkin lain kali kita bisa mengatur waktu untuk
bertemu, Jaejoongie. Selamat tinggal.”
Dan kemudian, tanpa menoleh lagi, Changmin
melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Seketika itu juga Jaejoong langsung melemparkan
tatapan marah kepada Yunho.
“Kenapa kau melakukan itu, Yunho? Itu sangat tidak
sopan, kau seperti mengusir Changmin dengan kasar, tetapi menggunakan bahasa
yang halus.”
Yunho menyandarkan tubuhnya di kursi dan bersedekap
dengan tenang.
“Karena kau menemui Changmin tanpa meminta
persetujuan kepadaku.”
Jaejoong membelalakkan matanya, “Aku tidak
membutuhkan izinmu untuk apapun, kau bukan siapa-siapaku.” Gumam Jaejoong,
nadanya sedikit meninggi menahankan emosi karena
menghadapi sikap Yunho yang angkuh.
“Kau memang bukan siapa-siapaku dan hubungan kita
hanyalah hubungan sandiwara. Tetapi selama kita bersandiwara, kau berada di bawah
tanggung jawabku.” Mata Yunho menyipit.
“Apakah kau tidak tahu bahwa aku sedang memancing Ahra,
yang kuduga sebagai otak dibalik penyeranganmu untuk mengulangi lagi usahanya?”
“Mengulangi lagi?”
“Ya.” Yunho menatap Jaejoong dengan serius,
“Aku berusaha membuatnya lengah dan terburu-buru
untuk menyerangmu lagi, dan aku sudah menghubungi polisi, mereka akan
menyiapkan orang untuk mengawasimu dan menangkap Ahra ketika dia melakukan
maksudnya, dan selama polisi belum bergerak, kau harus berada di tempat di mana
aku bisa melihatmu, agar aku bisa menjagamu.”
Jaejoong membuka mulutnya untuk membantah, tetapi
kemudian dia menahan diri, menyadari bahwa perkataan Yunho ada benarnya juga.
Tetapi meskipun begitu, itu tidak membenarkan perlakukan Yunho kepada Changmin
tadi.
“Tetapi tetap saja aku tidak suka, kau seolah
memaksa pergi Changmin tadi.”
“Aku tidak memaksanya pergi, dia sendiri yang pergi
dengan tergesa-gesa.” Yunho mengangkat alisnya,
“Kurasa dia hampir menyatakan perasaannya kepadamu
ya?”
Jaejoong merasakan pipinya merona, kemudian dia
bergumam lirih,
“Aku tidak tahu... mungkin saja... dia bilang aku
ada di hatinya.” Suara Jaejoong menjadi pelan, berubah ragu.
Yunho terkekeh, “Dia benar-benar terlambat
menyadari perasaannya, kalau kau menuruti saranku, jangan langsung memberikan
jalan untuknya.”
Mata Yunho menajam, “Kau sendiri bagaimana
perasaanmu?”
Jaejoong tercekat, bahkan dia tidak bisa
menjelaskan perasaannya kepada dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia bisa
menjelaskan perasannya kepada Yunho?
Sementara itu Yunho mengamati ekspresi Jaejoong dan
tiba-tiba senyumnya melebar.
“Kurasa Changmin sudah terlambat.”
Jaejoong yang sedang merenung dan sibuk dengan
pikirannya mendengar Yunho bergumam dan mengangkat kepalanya,
“Apa?”
Yunho menggelengkan kepalanya,
“Tidak.” Senyumnya mengembang, penuh arti,
“Ayo kita pergi, kita harus berlatih biola untuk
konser tunggalku nanti?”
Konser tunggal? Jaejoong baru mendengar informasi itu, Yunho
akan mengadakan konser tunggal? Tetapi bukankah tangan Yunho belum pulih benar?
Yunho melihat pertanyaan di mata Jaejoong dan
menganggukkan kepalanya, “Ayo kita bicarakan sambil jalan, aku punya banyak
rencana, dan aku membutuhkanmu, Jaejoong.”
.
.
.
Mereka berada di ruang musik, tempat Yunho biasanya
berlatih di rumah itu. Ruangan itu lebih seperti ballrom yang
besar, terletak di bagian belakang rumah. Dua buah biola telah disiapkan di
sana, satu adalah Stradivari milik Yunho dan satu lagi adalah biola Paganini
pemberian Yunho untuk Jaejoong.
Mereka berdiri di tengah ruangan dan Jaejoong
menatap Yunho dengan bingung, pandangannya berganti-ganti antara Yunho dengan
dua buah biola yang telah disiapkan itu.
“Apakah kita.. apakah kita akan bermain biola?”
Jaejoong masih teringat jelas ketika dia melihat Yunho
mencoba bermain biola di rumah sakit waktu itu, dan lelaki itu tidak bisa
menyelesaikan permainannya karena tangannya kesakitan. Dia juga masih ingat
ekspresi sedih Yunho waktu itu... ekspresi sedih sang maestro yang tidak bisa
menyelesaikan permainan biolanya.
Yunho tersenyum penuh arti, “Aku ingin kau melihat
sesuatu.”
Ditarikkannya kursi untuk Jaejoong di tengah
ruangan,
“Duduklah, buatlah dirimu nyaman, kau adalah
penonton pertamaku.” Gumam Yunho lembut.
Mau tak mau Jaejoong duduk di kursi itu seperti
yang diminta Yunho, duduk dengan tenang, meraskan jantungnya berdebar menanti
apa yang akan terjadi.
Yunho sendiri melangkah ke depan Jaejoong dengan
membawa biola Stradivarius miliknya. Jantung Jaejoong berdebar, penuh
antisipasi menanti apa yang akan terjadi.
Dan kemudian Jaejoong ternganga ketika dia menatap Yunho
yang meletakkan biola itu di pundak kanannya....
Di pundak kanannya?
Apakah itu berarti... Yunho akan menggunakan tangan
kirinya untuk menggesek biolanya?
Tetapi apakah itu mungkin? Menggesek biola dengan
tangan kiri sangatlah sulit dan sangat jarang di kalangan violinist profesional
sekalipun. Bahkan seorang violinist kidal kebanyakan memilih tetap menggunakan
tangan kanannya untuk menggesek biolanya, karena menggesek biola dengan tangan
kiri memerlukan konsentrasi dan teknik yang lebih sulit, untuk menghasilkan
nada-nada yang sama persis dengan nada yang dihasilkan dengan gesekan tangan
kanannya amatlah sulit, bisa dikatakan tingkat kesulitannya dua kali lipat.
Tetapi Yunho seorang pemain biola jenius bukan?
Tidak menutup kemungkinan bahwa Yunho akan mampu
melakukannya....
Jaejoong duduk di sana, menatap Yunho yang berdiri
tegak di tengah ruangan, posisi sempurna seorang violinist profesional dan
merasakan jantungnya berdebar semakin kencang... dan menunggu.
Lalu Yunho menggesekkan biolanya hingga alunan
musik terdengar memenuhi ruangan. Nada awalnya indah....dan seketika Jaejoong
menyadari bahwa ini adalah salah satu nada yang sulit. Lagu yang sama yang pernah
dimainkan Jaejoong pada malam audisinya untuk mengikuti kelas khusus Yunho,
lagu yang sama yang pernah mereka mainkan bersama-sama tanpa rencana.
Tchaikovsky, Violin Concerto in D major Op.35 ....
Alunan nada yang cukup indah dan sulit, diciptakan
oleh maestro yang sangat ahli dan luar biasa, dengan tingkat kesulitan yang
cukup tinggi.
Ketika nada-nada berubah semakin cepat, dengan
sempurna, tanpa meleset sama sekali, Jaejoong ternganga, matanya membelalak,
seluruh ekspresinya mengungkapkan ketakjuban yang tiada terkira.
Perasaannya bergolak, antara kekaguman dan
ketakjuban melihat Yunho, sang maestro biola yang jenius.... ternyata bisa
memainkan biolanya dengan sempurna meskipun menggesek dengan tangan
kirinya!
Ternyata istilah kejeniusan Yunho itu benar adanya,
semua orang tidak main-main ketika menempelkan istilah itu kepada Yunho. Lelaki
ini benar-benar memiliki teknik tinggi dalam bermain biola, dan kenyataan bahwa
lelaki itu bisa memainkan biolanya dengan tangan kanan dan kirinya dengan sama-sama
sempurnanya, amatnya luar biasa... bagaikan sebuah keajaiban.....
.
.
.
.
To Be Continue

OMG! Changmin nyaris bgt nyatain perasaannya ke Jj, untung yunho buru2 dtg.
ReplyDeleteTp kok jd kasian ya sama changmin.
Indeed! Yunho emng maestro jenius.