Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona
memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya.
Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang.
Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan
menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang
yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi
kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Pagi harinya, direktur akademi
musik yang juga adalah ayah Changmin datang bertamu, Yunho menemuinya di ruang
tamu keluarganya.
“Bagaimana kondisi tanganmu, Yunho?”
sang direktur rumah sakit, Mr. Park, bertanya dengan hati-hati.
Yunho menyandarkan tubuhnya
dengan santai di sofa, tersenyum dengan ekspresi datar.
“Aku pasti akan bisa bermain biola
lagi.”
Mr. Park menganggukkan kepalanya,
“Aku percaya kau akan pulih seperti semula Yunho, kau adalah pemain yang sangat
berbakat dan tiada duanya di dunia ini. Lagipula, konser tunggal yang sedianya
akan diadakan untuk menghormatimu akan berlangsung bulan depan. Kau tidak
melupakannya kan?”
Terus terang Yunho melupakannya.
Dia terlalu sibuk dengan segala hal yang terjadi di sekitarnya hingga lupa
bahwa bulan depan akan ada even penting baginya.
Konser itu sudah direncanakan
sekian lama, hampir setahun yang lalu, sebuah konser besar di gedung orkestra
terbesar dinegara ini, dengan menggandeng tiga orkestra terkenal untuk
mendampingi Yunho memainkan konser violin tunggalnya. List tamunya bahkan sudah
penuh sampai mencapai daftar tunggu yang begitu lama, kebanyakan dipenuhi oleh
orang-orang hebat di dunia musik, dalam dan luar negeri.
Konser tunggal dari Yunho amat
sangat ditunggu-tunggu, sebuah kesempatan langka untuk mendengarkan permainan
jenius sang violinist yang mungkin tidak ada duanya di dunia ini.
Dan Yunho melupakannya, dia
mengerutkan keningnya. Konser itu menambah tekanan di dalam dirinya, itu
berarti dia punya batas waktu untuk menyempurnakan kesembuhannya. Dia harus
sembuh dengan sempurna untuk menghadapi konser tersebut.
“Aku pasti akan siap.”
Yunho tersenyum, menutupi
perasaannya dan memasang wajah tenang.
Mr. Park menatap Yunho dengan
serius.
“Yunho, kau tidak boleh
memaksakan diri, aku tahu bahwa luka di urat tangan bagi seorang pemain biola
sangat krusial hingga kadang memerlukan waktu yang lama untuk pulih kembali.
Kalau kau memang belum siap, aku bisa mengusahakan untuk memundurkan konser
besar itu...”
“Aku siap.”
Yunho menjawab mantap. Dia tidak
akan menyerah pada rasa sakitnya dan berlama-lama meratapi diri, konser tunggal
yang akan dilakukan bulan depan akan menjadi pendorong yang sangat bagus bagi
kesembuhannya. Lagipula Yunho tidak ingin mengobarkan api pada gosip yang telah
kian memanas. Di luar sana, spekulasi bertebaran di mana-mana, semua
mempertanyakan kemampuan Yunho bermain biola, kalau konser itu sampai diundur,
semua orang pasti akan berkesimpulan bahwa Yunho kehilangan kemampuannya
bermain biola.
Lelaki itu tersenyum. Ini
kesempatan bagus, dia akan menggunakan konser itu untuk menjawab semua
pertanyaan yang bertebaran.
.
.
.
Jaejoong segera mengangkat
teleponnya ketika melihat Changmin yang menelepon ponselnya.
“Halo oppa?”
“Halo Jaejoongie.” Suara Changmin
tampak tenang dan lembut seperti biasa,
“Apa kabarmu? Kenapa kau tidak
memberi kabar?”
Jaejoong tersenyum, merasa
bersalah. Biasanya dia memang selalu menelepon Changmin atau setidaknya
mengirimkan pesan, tetapi kemarin dia terlalu disibukkan dengan penyesuaian
dirinya tinggal di rumah Yunho, pun dengan perasaannya yang terus menerus cemas
akan kemampuan Yunho bermain biola lagi, membuat dia hampir-hampir tidak
memikirkan Changmin sama sekali.
“Maafkan aku oppa, agak sibuk di
sini. Tetapi aku sehat-sehat saja.” Gumam Jaejoong ceria.
Sejenak hening di luar sana, lalu
Changmin bergumam,
“Kau kerasan ya di sana? Di rumah
Yunho?”
Jaejoong mengangkat bahunya, “Aku
diperlakukan dengan baik di sini.”
Seketika Jaejoong mengajukan
pertanyaan, menyadari ada yang berbeda di balik suara Changmin,
“Ada apa oppa? Kau tampaknya
banyak pikiran?”
Changmin menghela napas panjang,
“Yah... aku.. entahlah Jaejoong. Ini tentang Kyuhyun, aku rasa hubungan jarak
jauh ini tidak berhasil. Pada awal-awal kami begitu yakin kami bisa, berusaha
menjaga komunikasi sebaik mungkin, tetapi kemudian semua terasa melelahkan.....
entahlah, lama kelamaan kami lelah untuk berkomunikasi, kadang-kadang bahkan
seharian aku tidak mendengar kabar dari Kyuhyun.”
Jaejoong tercenung, menelaah
perasaannya mendengar perkataan Changmin itu. Seharusnya, karena dia mencintai Changmin
dia boleh merasa senang kalau mendengar ada gangguan dari hubungan Changmin dan
Kyuhyun, itu berarti ada kesempatan baginya untuk memasuki hati Changmin.
Tetapi entah kenapa Jaejoong tidak merasa senang, mungkin karena suara pedih Changmin,
membuatnya ikut merasa sedih dan prihatin.
“Hubungan jarak jauh memang
berat, meskipun aku sendiri belum pernah merasakannya.”
Jaejoong menghela napas panjang,
“Tetapi kalau kalian bisa menjalankannya dengan penuh tekad, kalian pasti bisa
melakukannya.”
Jaejoong bisa membayangkan Changmin
tersenyum miris di seberang sana,
“Yah. Mungkin memang tekadku dan Kyuhyun
masih kurang.” Gumamnya,
“Bagaimana dengan kau sendiri, Jaejoong?
Bagaimana hubunganmu dengan Yunho?”
Changmin tentu saja masih mengira
bahwa Jaejoong dan Yunho adalah sepasang kekasih... tiba-tiba saja Jaejoong
merasakan dorongan untuk mengatakan semuanya kepada Changmin, bahwa dia dan Yunho
hanyalah berpacaran pura-pura.
Kalimat itu sudah ada di ujung
bibirnya, tetapi langsung membeku ketika mata Jaejoong menangkap kehadiran Yunho
di ambang pintu. Yunho berdiri di sana, bersandar di ambang pintu dan menatap Jaejoong
dengan pandangan memperingatkan.
Mau tak mau Jaejoong mengucapkan
kebohongan lagi kepada Changmin.
“Hubungan kami baik-baik saja.”
Gumam Jaejoong,
dipenuhi oleh rasa bersalah
karena harus membohongi Changmin.
“Oh.”
Changmin tampak kehabisan
kata-kata, lelaki itu berkali-kali menghela napas sebelum berbicara.
“Aku senang hubungan kalian
baik-baik saja.” Gumamnya tenang,
sedikit ragu, “Jaejoong, aku
merindukanmu, aku ingin bercakap-cakap denganmu, seperti kita dulu, saling
berbagi perasaan dan bercerita untuk menenangkan pikiran, kira-kira, bisakah
kau menyempatkan diri keluar dari rumah Yunho dan menemuiku? Mungkin kita bisa
bertemu di cafe langganan kita.”
Jaejoong tersenyum lembut, ‘Tentu
saja bisa oppa.”
Matanya melirik ke arah Yunho
yang masih mengamatinya dari ambang pintu,
“Aku akan mengusahakan waktunya.”
“Oke. Terimakasih, Jaejoongie.” Changmin
lalu mengakhiri percakapannya.
Dan Jaejoong memasukkan ponselnya
di saku bajunya, mengangkat alisnya sambil menatap Yunho yang balas menatapnya
penuh arti.
‘Kenapa?” gumamnya langsung
kepada Yunho.
Yunho tersenyum, lalu melangkah
memasuki ruangan, dan duduk di sofa tepat di depan Jaejoong.
“Dia mulai mengejarmu, ya?”
Jaejoong mengerutkan keningnya,
“Changmin tidak mengejarku, dia
sedang menceritakan permasalahannya dengan Kyuhyun.”
“Oh ya? Ada masalah apa?”
“Mereka menjalani hubungan jarak
jauh.” Suara Jaejoong berubah prihatin,
“Dan entah kenapa itu tidak
berjalan dengan baik, Changmin merasa kalau dia dan Kyuhyun mulai kehilangan
komunikasi.”
“Hmmm.”
Yunho merenung sejenak, lalu
menatap Jaejoong dalam senyuman,
“Apakah kau sadar Jaejoong? Bila
seorang namja mulai membicarakan permasalahan hubungannya dengan kekasihnya,
berarti namja itu sedang berusaha mengambil hatimu. Kau pernah dengar tidak,
suami-suami yang mendekati selingkuhannya, mereka biasanya menarik perhatian yeoja
lain itu dengan berkeluh kesah tentang kekurangan isterinya, tentang
ketidakbahagiaannya dengan hubungan yang sedang dijalananinya, suami-suami itu
akan bersikap sebagai korban, hingga memancing si yeoja yang diincarnya agar
terdorong menjadi sang penyelamat.”
Jaejoong menatap Yunho tidak
setuju,
“Changmin oppa tidak sedang
menarik perhatianku, dia benar-benar sedang bermasalah dengan Kyuhyun. Aku
mengenal Changmin oppa sudah sejak dulu kala dan kami memang terbiasa saling
bertukar pikiran.
Yunho menatap Jaejoong dengan
ekspresi datar,
“Terserah pendapatmu Jaejoong.
Aku hanya bisa memberimu satu saran, jangan bersikap terlalu mudah kalau kau
memang ingin mendapatkan Changmin, semakin sulit kau didapatkan, semakin kuat
seorang lelaki ingin mengejarmu.”
Lelaki itu menatap Jaejoong
dengan tajam, “Aku dengar dia mengajakmu bertemu, apakah kau akan
melakukannya?”
Jaejoong mengangkat dagunya,
“Kalau ya, apa hubungannya denganmu?”
“Kau kekasihku.”
Dalam sedetik lelaki itu
bergumam, menatap Jaejoong dengan kuat. Tetapi ketika melihat ekspersi terkejut
Jaejoong, Yunho berdehem,
“Maksudku... kau adalah kekasihku
di mata semua orang selama ini, jadi kalau kau melakukan pertemuan dengan
lelaki lain, mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya.”
Jaejoong mengamati Yunho, merasa
bingung karena pipi Yunho sepertinya merona, entah kenapa,
“Tidak akan ada yang berpikir
tidak-tidak kalau aku menemui Changmin oppa, dia kan temanku sejak kecil.”
Yunho menggelengkan kepalanya,
memasang wajah tidak setuju,
“Tidak Jaejoong, pokoknya, kalau
kau hendak menemui Changmin, kau harus bersamaku.” Gumamnya keras kepala.
Jaejoong mengerutkan keningnya
semakin dalam, menatap ekspresi wajah Yunho yang keras kepala, bagaimana
mungkin dia menemui Changmin dengan membawa Yunho? Bukankah Changmin
ingin menemuinya dengan tujuan untuk bertukar pikiran? Bagaimana mungkin
itu bisa dilakukan kalau ada Yunho di tengah-tengah mereka?
.
.
.
Ketika melangkah ke luar ruangan
itu dan meninggalkan Jaejoong, Yunho merasa ada yang bergolak di dalam dirinya.
Rasanya hampir seperti....
cemburu.
Membayangkan Jaejoong menemui Changmin
dan mereka menghabiskan waktu berduaan, rasanya tidak menyenangkan bagi benak Yunho.
Dia tidak suka.
Dan kenapa dia tidak suka?
Seharusnya Yunho tidak peduli
dengan siapa Jaejoong menghabiskan waktu bersama, seharusnya Yunho tidak peduli
siapa lelaki yang dipuja Jaejoong. Seharusnya Yunho tidak peduli.
Tetapi dia peduli.
Apakah jangan-jangan sandiwara
ini sudah menjadi serius untuknya?
Tetapi bagaimana bisa?
Bagaimana mungkin hatinya tercuri
oleh seorang anak perempuan yang masih bisa dibilang remaja? Anak perempuan
berumur delapan belas tahun, jauh di bawah usianya yang dua puluh enam tahun
dan bisa dibilang lebih pantas sebagai adiknya?
Yunho menghela napas panjang,
merasa kesal dengan apa yang berkecamuk di pikirannya.
.
.
.
Konser itu tentu saja juga bisa
digunakan Yunho untuk memuluskan rencananya terhadap Ahra, semula dia berencana
memancing kecemburuan Ahra, supaya perempuan itu bertindak gegabah, tetapi
sepertinya hal itu memerlukan waktu yang cukup lama, padahal Yunho sudah tidak
sabar untuk segera membuat Ahra tertangkap basah dan dihukum atas perbuatannya.
Konser itu mengubah rencananya,
dia bisa menggunakannya untuk memancing Ahra dengan cara lain.
Jadi ketika berada di kamarnya,
dia menelepon Ahra.
“Yunho!”
suara Ahra meninggi dan langsung
mengangkat ponselnya pada deringan pertama ketika tahu bahwa Yunholah yang
menelepon.
“Ada apa sayang?”
Yunho sedikit menggertakkan
giginya, tetapi menahan diri,
“Aku akan mengadakan konser
tunggal bulan depan, setelahnya tentu saja akan ada pesta perayaan, dan aku
ingin kau menjadi pendamping resmiku.”
“Kau ingin aku menjadi
pendampingmu?” kali ini suara Ahra setengah menjerit, dipenuhi rasa girang.
“Tentu saja, aku tidak punya
perempuan lain yang kurasa lebih pantas untuk mendampingiku, selain dirimu, Ahra.”
Napas Ahra tercekat mendengar
suara Yunho yang merayu,
“Terimakasih Yunho, aku pasti
akan berdandan secantik mungkin hingga membuatmu bangga membawamu sebagai
pendampingmu.” Gumamnya penuh semangat,
“Sebulan lagi ya? Apakah kau
sudah sembuh, Yunho?”
“Aku sudah sembuh.” Jawab Yunho
cepat, “Tetapi ada sedikit masalah.”
“Masalah? Masalah
Apa?”
Yunho menghela napas panjang,
berusaha tampak terganggu,
“Kehadiran Jaejoong. Semua orang
tampaknya berusaha menjodohkanku dengannya, padahal aku hanya menganggapnya
sebagai murid istimewaku, eommaku juga memaksaku membawa Jaejoong ke konser
itu. Maafkan aku Ahra atas sikapku di telepon kemarin itu, aku bersikap kasar
padamu seolah-olah akan meninggalkanmu karena tertarik pada Jaejoong,
sebenarnya waktu itu aku terpaksa karena dipaksa oleh eommaku yang sangat ingin
menjodohkanku dengan Jaejoong. Semula aku berniat mengikuti kemauan eommaku,
tetapi aku terus memikirkanmu. Aku tidak mau dipaksa membawa Jaejoong ke pesta,
padahal aku ingin membawa dirimu, aku bingung bagaimana cara menyingkirkan Jaejoong.”
“Menyingkirkan Jaejoong?” Ahra
tampak terkejut dengan kata-kata Yunho.
“Ya, menyingkirkan Jaejoong,
supaya aku tidak berkewajiban membawa Jaejoong sebagai pasangan resmiku di
pesta setelah konser tersebut. Kau tahu rasanya malas sekali membawa anak
remaja ke sebuah pesta, berbeda kalau aku membawamu, seorang yeoja dewasa yang
matang dan begitu cantik.”
Yunho sengaja menyelipkan nada
merayu di dalam suaranya, membuat napas Ahra tercekat.
“Aku.. aku mungkin bisa
membantumu, Yunho.” Gumam Ahra cepat, kehilangan kewaspadaannya.
Yunho tersenyum lebar, menyadari
bahwa pancingannya kepada Ahra hampir mengenai sasaran.
“Aku tahu kau pasti bisa
mengusahakannya Ahra, mengingat betapa inginnya aku membawamu sebagai
pasanganku di pesta itu.”
.
.
.
Jaejoong menatap dirinya di
cermin dan tersenyum, penampilannya tampak sedikit feminim dengan rok corak
daun anggur dengan warna serupa musim gugur.
Dia akan menemui Changmin hari
ini.
Yah biarpun Yunho melarangnya, Jaejoong
pikir, dia boleh-boleh saja menemui Changmin, toh Changmin adalah teman masa
kecilnya, kecemasan Yunho tidak beralasan, dia menemui Changmin kan bukan untuk
bermesraan di muka umum atau apa, dia menemui Changmin untuk bertukar pikiran.
Lagipula, lama sekali rasanya dia tidak bertemu dengan lelaki itu..
Jaejoong melangkah keluar kamar,
dan hampir bertabrakan dengan ibu Yunho yang kebetulan lewat di lorong.
Ibu Yunho mengamati penampilannya
dan tersenyum lembut,
“Cantik sekali.” Gumamnya memuji.
“Mau kemana, Jaejoong?”
Tiba-tiba saja Jaejoong merasa
gugup, dia tersenyum sedikit malu-malu,
“Eh, saya akan menemui teman
saya.”
“Oh, hati-hati kalau begitu.”
Gumam sang ibu ramah,
lalu mengangkat alisnya, “Kau
tidak meminta Yunho menemanimu?”
Jaejoong langsung menggelengkan
kepalanya kuat-kuat, “Ti. Tidak, tidak perlu, Yunho sepertinya sedang
beristirahat.”
Dan kemudian, menghindari
pertanyaan lebih lanjut, Jaejoong mengucapkan kata-kata perpisahan basa-basi
dan kemudian buru-buru berpamitan.
.
.
.
“Jaejoong tampak cantik sekali
tadi.”
Sang ibu meletakkan kue berisi
biskuit ke samping meja tempat Yunho duduk., Yunho sedang ada di ruang baca dan
membaca, dan seperti biasanya, ibunya selalu menyediakan biskuit buatan sendiri
sebagai teman Yunho membaca.
Yunho mengangkat matanya dari
buku dan menatap ibunya,
“Jaejoong?” dia mengerutkan
kening,
“Apakah dia berdandan? Memangnya
dia mau ke mana?”
Sang ibu mengerucutkan bibirnya,
“ Lho, kau tidak tahu, Yunho? Jaejoong tadi buru-buru pergi, katanya mau
bertemu dengan temannya, aku bertanya kenapa dia tidak minta kau antar, tetapi
katanya kau sedang beristirahat, jadi kupikir kau sudah tahu kalau Jaejoong
keluar.”
Seketika itu juga Yunho
menggertakkan giginya.
Sialan. Dasar Jaejoong, Perempuan
itu tidak mengindahkan peringatannya dan memilih untuk menemui Changmin tanpa
seizinnya.
Pasti, tidak terbantahkan lagi, Jaejoong
pasti pergi menemui Changmin. Hal itu membuatnya menahankan rasa terbakar di
dalam dadanya, membayangkan Jaejoong sedang berduaan dengan Changmin.
Selain itu, ada rasa cemas yang
menyeruak di dadanya. Yunho sudah berhasil memancing Ahra supaya berusaha
melenyapkan Jaejoong, demi menjebak Ahra dalam misinya. Hal itu berarti sampai Yunho
berhasil menjebak Ahra, Jaejoong selalu dalam kondisi terancam.
Jaejoong tidak boleh lepas dari
penjagaan Yunho!
.
.
.
.
To Be Continue

Duh Yunho mulai baper nih yaaaaa. Semoga JJ baik baik aja, aku khawatir takut JJ kenapa-napa T.T
ReplyDeleteIsh! Itu Jj ceroboh bgt sih, udah dibilangin ga boleh kemana2 jg.
ReplyDeleteMudah2an ahra ga macem2.
Mudah2an jg rencananya yunho yg mau ngejebak ahra berhasil.