Summary: Jaejoong kecewa pada Yunho hingga membuat dia
menentukan pilihan untuk meninggalkan Yunho dan semua yang membuatnya sakit.
Dia memilih meninggalkan Gyongju, kota pesisir pantai yang indah lengkap dengan
ceritanya bersama Yunho disana. Dia memilih kembali ke Gongju, kota dimana
tempat ia kembali pulang. Karena eomma dan Jaekyung ada disana. Tetapi ketika
kembali ke Gongju, dia menemukan kenyataan yang membuatnya tak bisa menetap
lagi di kota itu. Lalu haruskah ia kembali ke Gyongju? Siapkah ia kembali
bertemu dengan Yunho?
The
Untitled Story
Season
2
©Kitahara Saki
Remake from Abby Glines Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita
Chapter 4,
Jaejoong
Papan kayu retak di bawah kakiku kala aku
melangkah kembali ke teras depan rumah Nenek Yihan. Aku membiarkan pintu kasa
menutup dengan suara keras di belakangku sebelum teringat bahwa pintu itu sudah
tua dan kelihatan sudah lama berkarat. Aku menghabiskan banyak waktu masa
kecilku di teras depan ini mengupas kacang polong dengan Yihan dan Nenek Yihan.
Aku tidak ingin dia marah padaku. Perutku bergejolak.
"Duduklah Jae dan berhenti menatap seperti
kau bersiap untuk menangis. Tuhan tahu aku mencintaimu layaknya kau cucuku sendiri.
Kupikir kau akan menjadi salah satunya suatu hari nanti."
Dia menggelengkan kepalanya.
"Bocah bodoh tidak bias mengatasinya
bersama-sama. Aku berharap dia akan menyadarinya sebelum semuanya terlambat.
Tapi dia tidak, bukan? Kau telah pergi dan menemukan orang lain untukmu."
Ini bukan sesuatu yang kuharapkan. Aku mengambil
kursi di depannya dan mulai mengupas kacang polong jadi aku tidak perlu melihatnya.
"Yihan dan aku telah putus lebih dari tiga
tahun silam. Tidak ada yang terjadi sekarang karena hubungan itu. Dia adalah temanku,
itu saja."
Nenek Yihan berdeham dan bergeser di ayunan
teras dimana duduk.
"Aku tidak mempercayainya. Kalian berdua
tidak terpisahkan semenjak anak-anak. Bahkan ketika remaja dia tidak bisa
berhenti menatapmu. Itu lucu melihat betapa dia memujamu dan bahkan tidak menyadarinya
sendiri. Tapi masa remaja menghantamnya dan membuatnya kehilangan pikirannya
tentang mencintai. Aku benci dia begitu. Aku benci dia kehilangan dirimu, Jae.
Karena tidak akan ada Jaejoong lain untuk Yihan. Kau untuknya."
Dia tidak menyebutkan tes kehamilanku. Apakah
dia tahu aku membelinya? Aku tidak ingin mengulang masa lalu ku dengan Yihan. Tentu
kami punya kenangan tapi ada begitu banyak kesedihan dan penyesalan yang tidak
ingin ku alami lagi. Aku sudah hidup dalam kebohongan yang dibangun oleh
Ayahku. Hanya mengingatnya terasa menyakitkan.
"Apakah Yihan datang ke sini hari
ini?" tanyaku.
"Ya. Dia datang pagi ini mencarimu. Aku
bilang padanya kau belum kembali dari kepergian awalmu. Dia tampak khawatir dan
berbalik dan pergi tanpa mengatakan apa apa. Dia juga menangis. Jangan dikira
aku pernah melihatnya menangis sebelumnya. Paling tidak sejak ia masih
kecil."
Dia menangis? Aku memejamkan mata dan
menjatuhkan kacang polong ke dalam ember plastik besar yang digunakan Nenek Yihan.
Yihan seharusnya tidak marah. Dia tidak seharusnya menangis. Dia membiarkan aku
pergi sejak lama. Mengapa ini begitu sulit baginya?
"Berapa lama itu?" tanyaku,
Aku berpikir tentang berapa jam yang telah dia
lalui sejak aku memperlihatkan jiwaku padanya di tempat parker apotek.
"Ah, sekitar sembilan jam yang lalu kurasa.
Itu masih pagi. Dia terlihat kacau, Jae. Setidaknya pergilah mencarinya dan
berbicara dengannya. Tidak peduli bagaimana perasaanmu padanya sekarang dia
perlu mendengar sendiri darimu bahwa kau baik-baik saja."
Aku mengangguk. "Bisakah aku memakai
telponmu?" tanyaku, berdiri.
"Tentu saja bisa. Makanlah salah satu dari
pie goreng saat kau berada di sana. Aku membuat cukup untuk banyak orang setelah
dia kabur pagi ini. Itu rasa favoritnya," katanya.
"Cherry," jawabku
Dan dia tersenyum padaku. Aku bisa melihat begitu
banyak hal dalam mata miliknya. Aku tahu Yihan. Tidak ada yang mengejutkanku
darinya. Aku memahami dia. Kami memiliki masa lalu. Aku mencintai keluarganya
dan mereka jelas mencintaiku juga. Ini adalah rasa aman.
Junsu berdiri di sisi lain dari pintu menyesap
segelas teh manis dan mengeluarkan ponselnya ke arahku. Dia menguping. Aku tak terkejut.
"Telponlah dia. Selesaikan masalah ini,"
katanya.
Aku mengambil ponselnya dan berjalan ke ruang
tamu untuk memberi sedikit privasi pada diriku sebelum menekan nomor Yihan. Aku
menghapalnya di luar kepala. Dia punya nomor yang sama sejak dia punya ponsel
pertama ketika kami berumur enam belas tahun.
"Halo," jawabnya.
Aku bisa mendengar keraguan dalam suaranya. Sesuatu
telah terjadi. Dia terdengar seperti sedang berbicara melalui hidungnya.
"Yihan? Apakah kau baik-baik saja?"
tanyaku tiba-tiba khawatir tentang dia. Ada jeda
kemudian desahan panjang.
"Jaejoong. Yeah... Aku baik-baik saja."
"Dimana kau?"
Dia berdeham. "Aku, eh...aku di Gyongju."
Dia ada di Gyongju? Apa? Aku terduduk di sofa di
belakangku dan mencengkeram erat ponsel. Apakah dia memberitahu Yunho? Hatiku terasa
sakit dan aku memejamkan mata ku erat-erat sebelum bertanya,
"Kenapa kau ada di Gyongju? Tolong katakan
padaku kau tidak ..."
Aku tidak bisa mengatakan itu. Tidak dengan Junsu
ada di ruangan dan lebih dari senang menguping pembicaraanku.
"Aku harus melihat wajahnya. Aku perlu tahu
jika dia mencintaimu. Aku perlu tahu...karena, aku hanya perlu tahu."
Itu tidak masuk akal.
"Apa yang kau katakan padanya? Bagaimana
kau menemukannya? Apakah kau menemukannya?"
Mungkin dia tidak menemukannya. Mungkin aku bisa
menghentikan ini. Ada tawa keras di ujung lain telpon.
"Ya, aku menemukan dia baik baik saja.
Tidak sulit. Tempat ini kecil dan semua orang tahu di mana putra bintang rock
tinggal."
Oh Tuhan, oh Tuhan, oh Tuhan...
"Apa yang kau katakan padanya?"
tanyaku perlahan kala ketakutan mulai
menyelimutiku.
"Aku tidak memberitahunya. Aku tidak akan
melakukannya kepadamu. Berikan aku sedikit kesempatan. Aku selingkuh sebab aku
adalah remaja pria yang bergairah tapi sialan Jaejoong kapan kau akan
memaafkanku? Apakah aku harus membayar kesalahanku itu sepanjang hidupku? Aku
minta maaf! Oh TUHAN Aku benar-benar menyesal. Aku akan kembali dan mengubah
segalanya jika aku bisa."
Dia berhenti dan membuat rengutan yang terdengar
seperti sedang sakit.
"Yihan. Ada apa denganmu? Apakah kau
baik-baik saja?" tanyaku.
Aku tidak mau mengakui apa yang dia katakan. Aku
tahu dia menyesal. Aku juga. Tapi tidak, aku tidak akan pernah bias melaluinya.
Memaafkan adalah satu hal. Melupakan adalah hal lain.
"Aku baik-baik. Aku hanya sedikit babak
belur. Anggap saja namja itu tidak suka padaku, oke."
Namja. Yunho? Apakah Yunho menyakitinya? Itu
tidak terdengar seperti Yunho sama sekali.
"Siapa?"
Yihan mendesah, "Jung Yunho."
Aku melongo saat aku menatap lurus ke depan. Yunho
telah menyakiti Yihan?
"Aku tidak mengerti."
"Tidak apa-apa. Aku punya kamar untuk
menginap dan aku akan tidur. Aku akan pulang besok. Kita punya beberapa hal
untuk dibicarakan."
"Yihan. Mengapa Yunho menyakitimu?"
Ada jeda lain dan kemudian napas kelelahan.
"Karena aku bertanya akan hal yang
menurutnya bukanlah urusanku. Aku akan pulang besok."
Dia bertanya pertanyaan. Pertanyaan macam apa?
"Jaejoong, kau tidak harus memberitahunya.
Aku akan menjagamu. Hanya saja... kita perlu bicara."
Dia menjagaku? Apa yang dia bicarakan? Aku tidak
akan membiarkan dia mengurusku.
"Dimana kau sebenarnya?" tanyaku.
"Di sebuah hotel di luar dari Gyongju. Mereka
pikir omong kosong mereka tidak akan ketahuan di kota. Semua yang ada disana
biayanya lima kali terlalu mahal."
"Oke. Tetaplah disitu dan aku akan
menemuimu besok." Jawabku kemudian menutup telepon.
Junsu melangkah ke dalam ruangan. Dia mengangkat
satu alis gelapnya saat ia menatapku menunggu. Dia telah menguping . Aku tahu
dia melakukannya.
"Aku butuh tumpangan untuk Gyongju,"
kataku bangkit berdiri.
Aku tidak bisa membiarkan Yihan berbaring
terluka di kamar hotel dan aku tidak bisa menghadapai kemungkinan dia akan
kembali dan mencoba untuk berbicara dengan Yunho lagi. Jika Junsu bias mengantarku
kesana aku bisa memeriksanya dan kemudian mengantarnya pulang .
Junsu mengangguk dan tersenyum kecil. Aku tahu
dia tidak ingin aku untuk melihat bagaimana bahagianya dia mendengar ini. Aku tidak
akan tinggal. Dia tidak perlu melambungkan harapannya terlalu tinggi.
"Ini hanya tentang Yihan. Aku tidak...Aku
tidak bisa tinggal di sana."
Dia tampaknya tidak percaya padaku.
"Tentu saja. Aku tahu."
Aku sedang tidak bersemangat untuk
meyakinkannya. Aku menyerahkan ponsel padanya dan kembali ke kamar sementaraku untuk
berkemas beberapa hal.
.
.
Yunho
Changmin akhirnya menyerah padaku dan pergi berdansa dengan salah seorang
gadis yang telah main mata dengan kami ketika kami berjalan masuk ke klub. Dia
datang ke sini untuk bersenang-senang, dan aku membutuhkan pengalihan tapi sekarang
saat aku sudah disini yang ingin kulakukan hanyalah segera pergi. Meminum
birku, aku tidak mencoba untuk membuat kontak mata dengan siapa pun.
Aku terus menunduk dan cemberut. Itu tidak sulit untuk dilakukan. Ucapan
Yoochun itu terus berputar di kepalaku. Aku takut...Tidak, aku terlalu takut
untuk membiarkan diriku percaya bahwa dia akan kembali ke sini. Aku telah
melihat wajahnya malam itu di kamar hotel. Dia begitu kosong. Emosi di matanya
hilang. Dia telah selesai -dengan ku, dengan Ayahnya, dengan segala sesuatu
nya.
Cinta itu kejam. Sangat kejam.
Kursi bar di samping ku berbunyi di lantai saat itu di duduki. Aku
tidak melihatnya. Aku tidak ingin siapa pun untuk berbicara denganku.
"Tolong katakan padaku bahwa mimik cemberut di wajah tampanmu
itu bukanlah karena seorang yeoja. Kau mungkin menghancurkan hatiku."
Suara perempuan itu terdengar akrab. Aku memiringkan kepalaku ke
sisi hanya cukup untuk melihat wajahnya. Meskipun dia lebih tua sekarang aku
langsung mengenalinya. Ada beberapa hal yang tak bisa dilupakan oleh pria dalam
hidupnya dan gadis yang mengambil keperjakaan mereka adalah salah satunya.
Go Ahra. Dia tiga tahun lebih tua dariku dan sedang mengunjungi
neneknya kala musim panas saat aku berumur empat belas tahun. Itu bukanlah
cinta. Lebih seperti pelajaran hidup.
"Ahra," jawabku,
lega itu bukanlah perempuan lain yang tidak ku kenal yang ingin
melemparkan dirinya kepadaku.
"Dan dia mengingat namaku. Aku terkesan," jawabnya lalu memandang
bartender dan tersenyum.
"Tolong Jack dan Coke."
"Para pria tidak pernah melupakan wanita pertamanya."
Dia bergeser di bangkunya, menyilangkan kaki dan memiringkan kepalanya
untuk menatapku menyebabkan rambut hitam panjangnya jatuh di salah satu bahu.
Dia masih memanjangkannya. Aku pernah terpesona akan hal itu dulu.
"Kebanyakan para namja tidak tetapi kau telah menjalani
kehidupan yang berbeda dibandingkan dengan kebanyakan orang. Ketenaran harus
mengubahmu selama bertahun-tahun."
"Abojiku yang terkenal bukan aku," bentakku,
Aku membenci ketika wanita ingin berbicara tentang sesuatu yang
tidak mereka ketahui. Ahra dan aku telah bercinta beberapa kali tapi dia tidak
benar-benar tahu banyak tentangku saat itu.
"Hmmm, terserah. Jadi, kenapa kau begitu murung?"
Aku tidak murung . Aku benar-benar kacau. Tapi dia bukan orang yang
aku berniat untuk menceritakan curhatku.
"Aku baik-baik saja,"
jawabku dan melirik kembali ke lantai dansa berharap untuk menangkap
perhatian Changmin. Aku sudah siap untuk pergi.
"Kau kelihatan seperti sedang patah hati dan tidak tahu apa
yang harus dilakukan dengan hal itu," katanya sambil meraih Jack dan Cokenya.
" Aku tidak akan berbicara denganmu tentang kehidupan
pribadiku, Ahra."
Aku memberikan peringatan terdengar keras dan jelas di ujung
suaraku.
"Whoaa sabar, tampan. Aku tidak berusaha untuk membuatmu
kesal. Hanya berbasa-basi."
Kehidupan pribadi ku bukanlah hal basa-basi.
"Kalo begitu tanyakan saja padaku tentang cuaca sialan
itu," kataku sambil membentak .
Dia tidak menanggapi dan aku senang. Mungkin dia akan pindah. Jangan
ganggu aku.
"Aku sedang di kota merawat Nenekku. Dia sakit dan aku butuh sesuatu
yang baru untuk kulakukan dalam hidupku. Aku baru saja mengalami perceraian
yang berantakan. Sebuah perubahan pemandangan dari tempat tinggalku sebelumnya
adalah apa yang aku butuhkan. Aku akan berada di sini selama setidaknya enam
bulan. Apakah kau akan jahat padaku selama aku disini atau kau akan baik padaku
suatu saat dalam waktu dekat?"
Dia ingin berkencan denganku. Tidak, aku tidak siap untuk itu. Aku
akan mulai menjawabnya ketika ponselku memberitahu adanya pesan teks masuk.
Lega karena memiliki jeda sejenak sehingga aku bisa berpikir tentang bagaimana
aku akan menanggapinya aku menariknya keluar dari kantongku. Aku tidak
mengenali nomornya. Tapi ‘Hei Ini Junsu’
menarik perhatianku dan aku berhenti bernapas saat aku membuka teks untuk
membaca selengkapnya.
‘Hei ini Junsu. Jika kau bukanlah seseorang yang
sangat bodoh bangunlah dan bersiaplah dengan rencana.’
Apa artinya itu? Apa yang aku lewati? Apakah Jaejoong di Gyongju? Apakah
artinya ini? Aku berdiri dan menaruh cukup uang di bar untuk membayar birku dan
minuman Ahra.
"Aku harus pergi. Senang bertemu denganmu lagi. Jaga diri
mu,"
kataku sambil lalu saat aku berjalan melalui kerumunan orang
sampai aku menemukan Changmin sedang berdansa dengan seseorang berambut merah
di lantai dansa. Matanya bertemu mataku dan aku mengangguk ke arah pintu.
"Sekarang," kataku
Aku berbalik untuk berjalan keluar. Aku akan meninggalkan dia
disini jika dia tidak menyusulku saat aku mencapai Range Roverku. Jaejoong akan
kesini. Aku akan mencari tahu. Bertanya pada Junsu apa yang dia maksudkan
dengan pesan yang menyemangatiku itu bukanlah sia-sia.
.
.
.
.
To Be Continue