Summary: Jaejoong kecewa pada Yunho hingga membuat dia
menentukan pilihan untuk meninggalkan Yunho dan semua yang membuatnya sakit.
Dia memilih meninggalkan Gyongju, kota pesisir pantai yang indah lengkap dengan
ceritanya bersama Yunho disana. Dia memilih kembali ke Gongju, kota dimana
tempat ia kembali pulang. Karena eomma dan Jaekyung saudaranya ada disana.
Tetapi ketika kembali ke Gongju, dia menemukan kenyataan yang membuatnya tak
bisa menetap lagi di kota itu. Lalu haruskah ia kembali ke Gyongju? Siapkah ia
kembali bertemu dengan Yunho?
The
Untitled Story
Season
2
©Kitahara Saki
Remake from Abby Glines Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita
Chapter 5,
Jaejoong
Aku mengulurkan tangan dan menyentuh kaki Junsu
untuk membangunkannya. Dia telah tertidur selama hampir dua jam. Kami berada di
luar pantai Gyongju dan aku memerlukan nya untuk mengemudi agar aku bisa
melihat truk Yihan pada semua motel murah.
"Kita sudah sampai?"gumamnya mengantuk
dan duduk di kursinya.
"Hampir.Aku memerlukanmu untuk menyetir.
Aku akan mencari truk Yihan."
Junsu menatap bosan. Aku tahu dia melakukan ini
hanya dengan harapan bisa membawaku ke Gyongju dan menjagaku disana. Dia kurang
peduli tentang menemukan Yihan.Tapi aku butuh tumpangan.Aku akan pergi ke rumah
Yihan. Dia dan aku akan berbicara. Dia tidak punya urusan untuk datang menemui Yunho.
Aku hanya berharap dia tidak mengatakan pada Yunho tentang apa yang kubeli.
Bukan berarti aku ingin menyimpan rahasia itu
dari Yunho. Hanya saja aku tidak akan membiarkan semua nya hilang begitu saja.
Aku perlu memprosesnya. Mencari tahu apa yang harusku lakukan. Kemudian aku
akan menghubungi Yunho. Yihan pergi menemui Yunho
seperti orang gila bukan lah hal yang ku inginkan. Aku tetap tidak
percaya dia melakukan itu.
"Berhenti disana.Aku ingin masuk kesana dan
pertama tama aku mau latte untukku," perintah Junsu.
Aku melakukan sesuai yang dia katakan dan
memarkir mobil di depan Starbucks.
"Kau mau sesuatu?"tanya Junsu saat dia
membuka pintu.
Aku tidak yakin kalau kafein bagus untuk...untuk
si bayi. Aku menggelengkan kepalaku dan menunggu sampai dia keluar dari pintu
sebelum aku mengeluarkan isakan dari dadaku yang tidakku harapkan. Aku tidak berfikir
apa arti dua garis merah itu. Seorang bayi. Bayi Yunho. Oh,Tuhan.
Aku keluar dari mobil dan berjalan mengelilingi
mobil untuk menuju pintu penumpang. Saat aku kembali ke mobil dan hendak masuk
Junsu sedang berjalan menuju mobil. Dia terlihat sedikit waspada sekarang. Aku
mendorong kembali pikiran tentang bayiku dan focus untuk menemukan Yihan. Aku
bisa menjalani masa depan ku,masa depan bayiku nanti.
"Ok.Aku punya kafein.Aku siap menemukan
cowok ini."
Aku tidak membetulkannya. Aku tahu dia sudah
tahu nama nya sekarang. Aku mengucapkan nya beberapa kali. Hanya saja dia menolak
untuk mengetahuinya. Bagi nya ini adalah bentuk dari pemberontakan. Yihan
mewakili Gyongju dan dia tidak ingin aku pergi kepelukannya. Malahan
kejengkelan nya itu membuatku hangat. Dia menginginkanku dan rasa nya
menyenangkan.
"Dia meninggalkan Gyongju karena harga
kamar hotel. Jadi, dia mungkin ada di suatu tempat yang sesuai dengannya.
Biasakah kau membawaku ke beberapa tempat itu?" tanyaku.
Dia menggangguk tetapi tidak menatapku. Dia
mengetik pesan. Bagus. Aku memerlukan nya untuk fokus dan dia malah sepertinya mengatakan
pada Yihan kalau kami hampir sampai. Aku benar benar tidak ingin Yunho
mengetahui sesuatu.
Kami mengemudi selama tiga puluh menit dengan
aku memeriksa tempat parkir pada semua motel murah di kota.Hal ini membuatku frustasi.
Dia pasti ada di suatu tempat.
"Bisakah aku meminjam ponsel mu? Aku akan
menelpon nya dan memberitahu kalau aku mencarinya. Dia akan mengatakan padaku
keberadannya kalau dia tahu aku sudah berkendara sampai sejauh ini."
Junsu memberikan ponsel nya padaku dan aku
dengan cepat memencet nomor Yihan.Terdengar nada dering dua kali.
"Hallo?"
"Yihan. Ini aku. Kau ada dimana? Aku ada di
luar kota Gyongju dan aku tidak bisa menemukan trukmu dimana pun."
Sunyi, kemudian "Sialan."
"Jangan marah. Aku hanya ingin mengecekmu.
Aku datang untuk membawa mu pulang."
Aku tahu dia putus asa kalau aku dating mendekati
Gyongju lagi.
"Ku bilang pada mu aku akan pulang segera
setelah aku menyelesaikan semua nya,Jaejoong.
Tidak bisakah kau tetap berada disana?"
kejengkelan dalam suara nya mengganggu ku. Kau
akan berfikiran dia tidak bahagia ketika aku datang untuk mendatanginya.
"Kau ada di mana Yihan?" tanyaku lagi.
Kemudian aku mendengar suara wanita di
belakangnya. Telpon nya jadi teredam. Tidak diperlukan otak pintar untuk
mencari apa yang dilakukan Yihan dengan seorang wanita dan dia mencoba untuk
menyembunyikannya dari ku. Hal ini mebuatku marah. Bukan karena kupikir Yihan
dan aku punya kesempatan tetapi karena dia membiarkanku berfikir dia terluka
dan sendirian di kota asing. Pecundang.
"Dengar. Aku tidak punya waktu untuk
permainan bodoh mu,Yihan. Aku akan kesana,selesai. Lain kali, bisakah kau tidak
membuat nya terdengar seolah kau membutuhkanku padalah jelas kau tidak butuh."
"Tidak, Jaejoong. Dengar kan aku. Ini tidak
seperti yang kau pikirkan. Aku tidak bisa tidur setelah aku menelpon jadi aku
kembali ke truk dan pulang ke rumah. Aku ingin menemui mu."
Seorang gadis berteriak marah dari sisi lain
dari telpon. Dia marah pada siapa pun yang bersamanya. Cowok ini bodoh.
"Pergilah buat teman mu merasa lebih baik.
Aku tidak butuh penjelasan. Aku tidak butuh apa pun darimu. Aku tidak membutuhkanmu
lagi."
"JAEJOONG! TIDAK! Aku mencintai mu,sayang.
Aku sangat mencintaimu. Tolong dengar kan aku,"
dia memohon dan gadis yang bersamanya menjadi
lebih histeris.
"Diam Sooyoung!" dia menggeram
Dan aku tahu dia kembali ke Gongju. Dia bersama Sooyoung.
"Kau pergi bersama Sooyoung? Kau sudah
pulang jadi aku tidak perlu kuatir lagi dan pergi menemui Sooyoung? Kau aneh,Yihan.
Kenyataannya? Kau tidak bisa menyakitiku lagi.Tapi berhentilah dan berfikir untuk
mengubah perasaan orang lain. Kau tetap bercumbu dengan Sooyoung dan itu salah.
Berhentilah berfikir dengan kejantanan mu dan dewasalah."
Aku menekan tombol end dan memberikan kembali
ponsel nya pada Junsu. Mata nya melebar saat dia manatap ku.
"Dia sudah kembali ke Gongju,"kataku
menjelaskan.
"Yeah...aku tahu,"kata Junsu pelan.
Dia menunggu. Dia layak mendapatkan lebih. Dia
telah membawaku kembali kesini. Dia juga satu satu nya sahabat sejati yangku
punya. Yihan bukan lah teman. Tidak
juga. Seorang sahabat sejati tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang dia
lakukan.
"Bisakah aku tidur di tempat mu malam ini? Ku
pikir aku tidak akan kembali kesana. Aku akan segera pergi. Aku akan mencari
tahu kemana aku akan pergi besok dan kemudian ketikaku sampai disana aku akan
meminta halmonie mengirimkan sisa barang ku. Sepertinya aku tidak punya terlalu
banyak barang. Trukku berada di pemakamam. Truk itu tidak akan pernah bisa di
pakai untuk perjalanan lagi."
Junsu mengangguk dan menyalakan mobil kemudian
keluar menuju jalan.
"Kau bisa tinggal bersamaku selama kau
membutuhkannya. Atau lebih lama," jawabnya.
"Terima kasih," kataku sebelum
menyandar kan kepalaku ke kursi
Aku menghirup nafas dalam dalam. Apa yang akan
kulakukan sekarang? Aroma dari bacon menjadi lebih tajam dan semakin tajam
saatku hirup. Seolah bacon itu mengambil alih semua indra ku. Tenggorokanku
sesak. Perutku bergulung oleh bau yang tajam itu. Bunyi desis minyak terdengar
dari suatu tempat. Sebelum aku benar-benar bisa membuka mataku kakiku telah
menapak lantai dan aku lari ke kamar mandi. Untung saja apartemen Junsu tidak
telalu besar dan aku tidak perlu berlari jauh.
"Jaejoong?"suara Junsu memanggil dari
dapur tapi aku tidak bisa berhenti.
Menjatuhkan lututku di depan toilet aku memegang
tempat duduk porselen dengan kedua tanganku dan mulai memuntah kan semua isi dari
perutku hingga tidak ada yang tersisa selain didera kekeringan yang melumpuhkan
tubuh ku. Setiap kali aku berfikir telah selesai aku mencium lagi bau bacon
bercampur dengan muntahan dan aku akan mulai muntah lagi. Aku begitu lemah
tubuhku bergetar saat aku mencoba untuk muntah dan tidak ada lagi yang keluar.
Sebuah lap dingin ada di wajahku dan Junsu berdiri di depanku mengguyur toilet
dan kemudian menyandarkanku pada dinding.
Aku meletakkan lap pada hidungku untuk menghalangi
bau. Junsu tahu dan menutup pintu kamar mandi di belakangnya. Setelah dia menyalakan
kipas angin dia meletakkan tangan di pinggang nya dan menatap ku.
Ketidakpercayaan di wajah nya membingungkan ku. Aku sakit.Apa yang aneh dengan
itu?
"Bacon? Bau bacon membuat mu mual?"
Dia menggelengkan kepala nya,tetap menatapku seolah dia tidak mempercayainya.
"Dan kau tidak akan mengatakan nya pada
ku,bukan? Kau akan menaruh pantat mu pada bus sialan dan pergi begitu saja.
Sendirian saja. Aku tidak bisa mempercayai mu, Jae. Apa yang terjadi pada gadis
pintar yang mengajariku agar namja tidak mempermainkan ku? Hmmm? Kemana pergi
nya dia? Karena rencana mu disini payah. Sangat payah. Kau tidak bisa pergi
begitu saja. Kau punya teman disini. Kau akan membutuhkan teman...dan ku harap
kau berniat mengatakan Yunho tentang hal ini juga. Aku mengenal mu dengan baik,
jadi ini adalah bayinya."
Bagaimana dia tahu? Aku hanya muntah. Banyak
orang yang terkena virus,
"Ini hanya virus,"gumam ku.
"Jangan bohong pada ku. Ini hanya bacon,Jaejoong.
Kau tidur begitu nyenyak di sofa dan saat aku mulai memasak bacon kau mulai mengeluarkan
suara aneh dan terlonjak dan berbalik. Kemudian kau berlari seperti peluru yang
hendak di muntah kan. Ini bukan ilmu pengetahuan tentang roket sayang.
Hilangkan ekspresi terkejut itu dari wajah mu."
Aku tidak bisa bohong padanya. Dia adalah
temanku. Mungkin satu- satu nya yang kumiliki sekarang. Aku menarik lututku ke
atas dagu dan membungkus lengan disekeliling kaki ku. Ini adalah cara untuk memeluk
diriku sendiri. Ketika aku merasa dunia seolah hancur disekitarku dan tidak
bisa mengendalikan nya aku akan selalu memeluk diriku seperti ini.
"Itulah kenapa Yihan datang kesini. Dia
mengetahui aku membeli tes kehamilan kemarin. Aku tahu itulah mengapa dia
kemari. Untuk bertanya pada Yunho...untuk bertanya tentang hubungan antara Yunho
dan aku. Aku menolak untuk bicara dengan Yihan tentang hal ini. Aku tidak ingin
bicara tentang Yunho sama sekali. Kemudian aku terlambat.Terlambat dua minggu.
Ku pikir aku akan membeli beberapa tes dan itu akan jadi negatif dan semua nya
akan baik- baik saja."
Aku menghentikan penjelasanku dan
mengistirahatkan pipi pada lutut ku.
"Tes itu...semua nya positif?" tanya Junsu.
Aku mengangguk dan tidak menatapnya.
"Kau akan mengatakan nya pada Yunho? Atau
kau hanya akan pergi begitu saja?"
Apa yang akan dilakukan Yunho? Adiknya membenci
ku. Ibunya membenci ku. Mereka membenci ibuku. Dan aku membenci ayahku. Bagi Yunho
menjadi bagian dari kehidupan bayi ini membuat nya menjauhi mereka. Aku tidak
bisa meminta nya melakukan itu. Meskipun mereka semua kejam. Dia mencintai
mereka. Dan dia tidak akan menyerah pada Boa. Aku sudah tahu itu ketika terjadi
padaku dan Boa, dia telah memilih Boa. Dia akan melakukannya sampai kapan pun.
Ketika aku tahu semuanya. Dia akan menyimpan rahasianya. Dia memilihnya.
"Aku tidak bisa mengatakan padanya."
kataku pelan.
"Apakah itu benar? Karena dia perlu tahu
pentingnya menjadi seorang pria dan berada disana untukmu. Pelarian ini
bodoh."
Dia tidak tahu semuanya. Dia hanya tahu sedikit
dan hanya sepotong. Ini hanya cerita tentang Boa dan tidak ada yang lain di mata
Yunho. Tapi aku tidak setuju. Ini juga cerita ku. Boa tetap memiliki kedua
orang tua nya dan kakak. Aku tidak punya siapa- siapa. Ibuku telah meninggal.
Kakakku telah meninggal. Dan ayahku mungkin juga sudah meninggal. Jadi cerita
ini lebih menjadi milikku daripada Boa. Mungkin lebih.
Aku mengangkat kepalaku dan menatap Junsu. Dia
satu- satu nya temanku di dunia dan jika aku ingin bercerita tentang hal ini
maka dia lah orang satu satunya.
.
.
.
.
To Be Continue
No comments:
Post a Comment