Tuesday, December 8

[REMAKE] The Untittled Story Season 2 Chapter V

Summary: Jaejoong kecewa pada Yunho hingga membuat dia menentukan pilihan untuk meninggalkan Yunho dan semua yang membuatnya sakit. Dia memilih meninggalkan Gyongju, kota pesisir pantai yang indah lengkap dengan ceritanya bersama Yunho disana. Dia memilih kembali ke Gongju, kota dimana tempat ia kembali pulang. Karena eomma dan Jaekyung saudaranya ada disana. Tetapi ketika kembali ke Gongju, dia menemukan kenyataan yang membuatnya tak bisa menetap lagi di kota itu. Lalu haruskah ia kembali ke Gyongju? Siapkah ia kembali bertemu dengan Yunho?
The Untitled Story
Season 2
©Kitahara Saki
Remake from Abby Glines Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita


Chapter 5,

Jaejoong
Aku mengulurkan tangan dan menyentuh kaki Junsu untuk membangunkannya. Dia telah tertidur selama hampir dua jam. Kami berada di luar pantai Gyongju dan aku memerlukan nya untuk mengemudi agar aku bisa melihat truk Yihan pada semua motel murah.
"Kita sudah sampai?"gumamnya mengantuk dan duduk di kursinya.
"Hampir.Aku memerlukanmu untuk menyetir. Aku akan mencari truk Yihan."
Junsu menatap bosan. Aku tahu dia melakukan ini hanya dengan harapan bisa membawaku ke Gyongju dan menjagaku disana. Dia kurang peduli tentang menemukan Yihan.Tapi aku butuh tumpangan.Aku akan pergi ke rumah Yihan. Dia dan aku akan berbicara. Dia tidak punya urusan untuk datang menemui Yunho. Aku hanya berharap dia tidak mengatakan pada Yunho tentang apa yang kubeli.
Bukan berarti aku ingin menyimpan rahasia itu dari Yunho. Hanya saja aku tidak akan membiarkan semua nya hilang begitu saja. Aku perlu memprosesnya. Mencari tahu apa yang harusku lakukan. Kemudian aku akan menghubungi Yunho. Yihan pergi menemui Yunho
seperti orang gila bukan lah hal yang ku inginkan. Aku tetap tidak percaya dia melakukan itu.
"Berhenti disana.Aku ingin masuk kesana dan pertama tama aku mau latte untukku," perintah Junsu.
Aku melakukan sesuai yang dia katakan dan memarkir mobil di depan Starbucks.
"Kau mau sesuatu?"tanya Junsu saat dia membuka pintu.
Aku tidak yakin kalau kafein bagus untuk...untuk si bayi. Aku menggelengkan kepalaku dan menunggu sampai dia keluar dari pintu sebelum aku mengeluarkan isakan dari dadaku yang tidakku harapkan. Aku tidak berfikir apa arti dua garis merah itu. Seorang bayi. Bayi Yunho. Oh,Tuhan.
Aku keluar dari mobil dan berjalan mengelilingi mobil untuk menuju pintu penumpang. Saat aku kembali ke mobil dan hendak masuk Junsu sedang berjalan menuju mobil. Dia terlihat sedikit waspada sekarang. Aku mendorong kembali pikiran tentang bayiku dan focus untuk menemukan Yihan. Aku bisa menjalani masa depan ku,masa depan bayiku nanti.
"Ok.Aku punya kafein.Aku siap menemukan cowok ini."
Aku tidak membetulkannya. Aku tahu dia sudah tahu nama nya sekarang. Aku mengucapkan nya beberapa kali. Hanya saja dia menolak untuk mengetahuinya. Bagi nya ini adalah bentuk dari pemberontakan. Yihan mewakili Gyongju dan dia tidak ingin aku pergi kepelukannya. Malahan kejengkelan nya itu membuatku hangat. Dia menginginkanku dan rasa nya menyenangkan.
"Dia meninggalkan Gyongju karena harga kamar hotel. Jadi, dia mungkin ada di suatu tempat yang sesuai dengannya. Biasakah kau membawaku ke beberapa tempat itu?" tanyaku.
Dia menggangguk tetapi tidak menatapku. Dia mengetik pesan. Bagus. Aku memerlukan nya untuk fokus dan dia malah sepertinya mengatakan pada Yihan kalau kami hampir sampai. Aku benar benar tidak ingin Yunho mengetahui sesuatu.
Kami mengemudi selama tiga puluh menit dengan aku memeriksa tempat parkir pada semua motel murah di kota.Hal ini membuatku frustasi. Dia pasti ada di suatu tempat.
"Bisakah aku meminjam ponsel mu? Aku akan menelpon nya dan memberitahu kalau aku mencarinya. Dia akan mengatakan padaku keberadannya kalau dia tahu aku sudah berkendara sampai sejauh ini."
Junsu memberikan ponsel nya padaku dan aku dengan cepat memencet nomor Yihan.Terdengar nada dering dua kali.
"Hallo?"
"Yihan. Ini aku. Kau ada dimana? Aku ada di luar kota Gyongju dan aku tidak bisa menemukan trukmu dimana pun."
Sunyi, kemudian "Sialan."
"Jangan marah. Aku hanya ingin mengecekmu. Aku datang untuk membawa mu pulang."
Aku tahu dia putus asa kalau aku dating mendekati Gyongju lagi.
"Ku bilang pada mu aku akan pulang segera setelah aku  menyelesaikan semua nya,Jaejoong. Tidak bisakah kau tetap berada disana?"
kejengkelan dalam suara nya mengganggu ku. Kau akan berfikiran dia tidak bahagia ketika aku datang untuk mendatanginya.
"Kau ada di mana Yihan?" tanyaku lagi.
Kemudian aku mendengar suara wanita di belakangnya. Telpon nya jadi teredam. Tidak diperlukan otak pintar untuk mencari apa yang dilakukan Yihan dengan seorang wanita dan dia mencoba untuk menyembunyikannya dari ku. Hal ini mebuatku marah. Bukan karena kupikir Yihan dan aku punya kesempatan tetapi karena dia membiarkanku berfikir dia terluka dan sendirian di kota asing. Pecundang.
"Dengar. Aku tidak punya waktu untuk permainan bodoh mu,Yihan. Aku akan kesana,selesai. Lain kali, bisakah kau tidak membuat nya terdengar seolah kau membutuhkanku padalah jelas kau tidak butuh."
"Tidak, Jaejoong. Dengar kan aku. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak bisa tidur setelah aku menelpon jadi aku kembali ke truk dan pulang ke rumah. Aku ingin menemui mu."
Seorang gadis berteriak marah dari sisi lain dari telpon. Dia marah pada siapa pun yang bersamanya. Cowok ini bodoh.
"Pergilah buat teman mu merasa lebih baik. Aku tidak butuh penjelasan. Aku tidak butuh apa pun darimu. Aku tidak membutuhkanmu lagi."
"JAEJOONG! TIDAK! Aku mencintai mu,sayang. Aku sangat mencintaimu. Tolong dengar kan aku,"
dia memohon dan gadis yang bersamanya menjadi lebih histeris.
"Diam Sooyoung!" dia menggeram
Dan aku tahu dia kembali ke Gongju. Dia bersama Sooyoung.
"Kau pergi bersama Sooyoung? Kau sudah pulang jadi aku tidak perlu kuatir lagi dan pergi menemui Sooyoung? Kau aneh,Yihan. Kenyataannya? Kau tidak bisa menyakitiku lagi.Tapi berhentilah dan berfikir untuk mengubah perasaan orang lain. Kau tetap bercumbu dengan Sooyoung dan itu salah. Berhentilah berfikir dengan kejantanan mu dan dewasalah."
Aku menekan tombol end dan memberikan kembali ponsel nya pada Junsu. Mata nya melebar saat dia manatap ku.
"Dia sudah kembali ke Gongju,"kataku menjelaskan.
"Yeah...aku tahu,"kata Junsu pelan.
Dia menunggu. Dia layak mendapatkan lebih. Dia telah membawaku kembali kesini. Dia juga satu satu nya sahabat sejati yangku punya. Yihan bukan lah teman.  Tidak juga. Seorang sahabat sejati tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang dia lakukan.
"Bisakah aku tidur di tempat mu malam ini? Ku pikir aku tidak akan kembali kesana. Aku akan segera pergi. Aku akan mencari tahu kemana aku akan pergi besok dan kemudian ketikaku sampai disana aku akan meminta halmonie mengirimkan sisa barang ku. Sepertinya aku tidak punya terlalu banyak barang. Trukku berada di pemakamam. Truk itu tidak akan pernah bisa di pakai untuk perjalanan lagi."
Junsu mengangguk dan menyalakan mobil kemudian keluar menuju jalan.
"Kau bisa tinggal bersamaku selama kau membutuhkannya. Atau lebih lama," jawabnya.
"Terima kasih," kataku sebelum menyandar kan kepalaku ke kursi
Aku menghirup nafas dalam dalam. Apa yang akan kulakukan sekarang? Aroma dari bacon menjadi lebih tajam dan semakin tajam saatku hirup. Seolah bacon itu mengambil alih semua indra ku. Tenggorokanku sesak. Perutku bergulung oleh bau yang tajam itu. Bunyi desis minyak terdengar dari suatu tempat. Sebelum aku benar-benar bisa membuka mataku kakiku telah menapak lantai dan aku lari ke kamar mandi. Untung saja apartemen Junsu tidak telalu besar dan aku tidak perlu berlari jauh.
"Jaejoong?"suara Junsu memanggil dari dapur tapi aku tidak bisa berhenti.
Menjatuhkan lututku di depan toilet aku memegang tempat duduk porselen dengan kedua tanganku dan mulai memuntah kan semua isi dari perutku hingga tidak ada yang tersisa selain didera kekeringan yang melumpuhkan tubuh ku. Setiap kali aku berfikir telah selesai aku mencium lagi bau bacon bercampur dengan muntahan dan aku akan mulai muntah lagi. Aku begitu lemah tubuhku bergetar saat aku mencoba untuk muntah dan tidak ada lagi yang keluar. Sebuah lap dingin ada di wajahku dan Junsu berdiri di depanku mengguyur toilet dan kemudian menyandarkanku pada dinding.
Aku meletakkan lap pada hidungku untuk menghalangi bau. Junsu tahu dan menutup pintu kamar mandi di belakangnya. Setelah dia menyalakan kipas angin dia meletakkan tangan di pinggang nya dan menatap ku. Ketidakpercayaan di wajah nya membingungkan ku. Aku sakit.Apa yang aneh dengan itu?
"Bacon? Bau bacon membuat mu mual?" Dia menggelengkan kepala nya,tetap menatapku seolah dia tidak mempercayainya.
"Dan kau tidak akan mengatakan nya pada ku,bukan? Kau akan menaruh pantat mu pada bus sialan dan pergi begitu saja. Sendirian saja. Aku tidak bisa mempercayai mu, Jae. Apa yang terjadi pada gadis pintar yang mengajariku agar namja tidak mempermainkan ku? Hmmm? Kemana pergi nya dia? Karena rencana mu disini payah. Sangat payah. Kau tidak bisa pergi begitu saja. Kau punya teman disini. Kau akan membutuhkan teman...dan ku harap kau berniat mengatakan Yunho tentang hal ini juga. Aku mengenal mu dengan baik, jadi ini adalah bayinya."
Bagaimana dia tahu? Aku hanya muntah. Banyak orang yang terkena virus,
"Ini hanya virus,"gumam ku.
"Jangan bohong pada ku. Ini hanya bacon,Jaejoong. Kau tidur begitu nyenyak di sofa dan saat aku mulai memasak bacon kau mulai mengeluarkan suara aneh dan terlonjak dan berbalik. Kemudian kau berlari seperti peluru yang hendak di muntah kan. Ini bukan ilmu pengetahuan tentang roket sayang. Hilangkan ekspresi terkejut itu dari wajah mu."
Aku tidak bisa bohong padanya. Dia adalah temanku. Mungkin satu- satu nya yang kumiliki sekarang. Aku menarik lututku ke atas dagu dan membungkus lengan disekeliling kaki ku. Ini adalah cara untuk memeluk diriku sendiri. Ketika aku merasa dunia seolah hancur disekitarku dan tidak bisa mengendalikan nya aku akan selalu memeluk diriku seperti ini.
"Itulah kenapa Yihan datang kesini. Dia mengetahui aku membeli tes kehamilan kemarin. Aku tahu itulah mengapa dia kemari. Untuk bertanya pada Yunho...untuk bertanya tentang hubungan antara Yunho dan aku. Aku menolak untuk bicara dengan Yihan tentang hal ini. Aku tidak ingin bicara tentang Yunho sama sekali. Kemudian aku terlambat.Terlambat dua minggu. Ku pikir aku akan membeli beberapa tes dan itu akan jadi negatif dan semua nya akan baik- baik saja."
Aku menghentikan penjelasanku dan mengistirahatkan pipi pada lutut ku.
"Tes itu...semua nya positif?" tanya Junsu.
Aku mengangguk dan tidak menatapnya.
"Kau akan mengatakan nya pada Yunho? Atau kau hanya akan pergi begitu saja?"
Apa yang akan dilakukan Yunho? Adiknya membenci ku. Ibunya membenci ku. Mereka membenci ibuku. Dan aku membenci ayahku. Bagi Yunho menjadi bagian dari kehidupan bayi ini membuat nya menjauhi mereka. Aku tidak bisa meminta nya melakukan itu. Meskipun mereka semua kejam. Dia mencintai mereka. Dan dia tidak akan menyerah pada Boa. Aku sudah tahu itu ketika terjadi padaku dan Boa, dia telah memilih Boa. Dia akan melakukannya sampai kapan pun. Ketika aku tahu semuanya. Dia akan menyimpan rahasianya. Dia memilihnya.
"Aku tidak bisa mengatakan padanya." kataku pelan.
"Apakah itu benar? Karena dia perlu tahu pentingnya menjadi seorang pria dan berada disana untukmu. Pelarian ini bodoh."
Dia tidak tahu semuanya. Dia hanya tahu sedikit dan hanya sepotong. Ini hanya cerita tentang Boa dan tidak ada yang lain di mata Yunho. Tapi aku tidak setuju. Ini juga cerita ku. Boa tetap memiliki kedua orang tua nya dan kakak. Aku tidak punya siapa- siapa. Ibuku telah meninggal. Kakakku telah meninggal. Dan ayahku mungkin juga sudah meninggal. Jadi cerita ini lebih menjadi milikku daripada Boa. Mungkin lebih.
Aku mengangkat kepalaku dan menatap Junsu. Dia satu- satu nya temanku di dunia dan jika aku ingin bercerita tentang hal ini maka dia lah orang satu satunya.
.
.
.
.

To Be Continue

No comments:

Post a Comment