Wednesday, October 28

[REMAKE] The Violiniest Chapter XVIII



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

Chapter 18.

Jaejoong melangkah turun dari taxi di depan cafe itu, cafe tempat dia dulu sering menghabiskan waktunya bersama Changmin di hari minggu di masa lalu.
Dia memasuki cafe itu dan menatap ke arah tempat duduk di sudut, tempat favorit mereka dulu dan tersenyum ketika melihat bahwa Changmin sudah menunggu di sana.
“Hai oppa.” Jaejoong melangkah mendekat, menatap Changmin yang langsung mendongak menatapnya dan membalas senyumnya.
“Hai Jaejoongie.” Changmin berdiri, langsung menarikkan kursi untuk Jaejoong di depannya,
“Duduklah, aku sudah memesankan minuman kesukaanmu.”
Mata Changmin mengamati Jaejoong dengan lembut, “Kau cantik sekali, Jaejoongie.”
Pipi Jaejoong merona, menatap Changmin yang mengambil tempat duduk di depannya dan menatapnya dalam-dalam.
“Terimakasih oppa.”
Changmin masih tidak melepaskan tatapan matanya dari Jaejoong,
“Kau tampak lebih feminim sekarang, apakah itu karena hubunganmu dengan Yunho?”
Sekali lagi, Jaejoong terdorong untuk berkata jujur kepada Changmin, tetapi dia kemudian menahan diri.
“Mungkin.” Gumamnya lembut,
berusaha menghindari pertanyaan selanjutnya, “Jadi bagaimana oppa, bagaimana tentang Kyuhyun?”
Mata Changmin berubah muram, “Kyuhyun... yah...”
lelaki itu menghela napas panjang, “Aku berusaha menghubunginya seharian ini tetapi tidak diangkat, semua pesanku tidak di balas, mungkin dia marah kepadaku.”
“Kenapa dia marah kepadamu?” Jaejoong menyela, merasa bingung.
Changmin menghela napas panjang sekali lagi, seakan ingin membuang seluruh beban berat di benaknya.
“Karena aku selalu membicarakanmu. Kyuhyun merasa terganggu, dia tidak mengerti kalau kau adalah teman masa kecilku dan kita cukup dekat.”
Ada senyum miris di wajah Changmin, “Aku rasa dia cemburu kepadaku.”
Jaejoong membelalakkan matanya, “Kyuhyun?”
Membayangkan wajah Kyuhyun yang luar biasa cantik dan sempurna, jauh sekali di atas dirinya, rasanya sangatlah tidak mungkin kalau Kyuhyun cemburu kepada Jaejoong.
“Bagaimana mungkin dia cemburu kepadaku?”
Ekspresi Changmin tampak serius,
“Mungkin karena pembicaraan tentangmu terasa mendominasi percakapan kami... Kyuhyun merasa terganggu, dia bilang mungkin di dalam otakku terlalu dipenuhi dirimu.” Changmin tersenyum.
Kata-kata Changmin itu membuat Jaejoong sedikit ternganga. Apakah maksud kata-kata Changmin itu?
“Seharusnya kau jangan membicarakan tentang aku terus-terusan.”
Jaejoong berusaha bersikap wajar meskipun merasakan hal yang berbeda di benaknya.
Changmin menghela napas panjang, “Yah, entahlah Jaejoongie, kurasa memang benar kata-kata Kyuhyun, aku terlalu sering membicarakanmu, Jaejoong, mungkin hal itulah yang membuat Kyuhyun terganggu....”
“Dan kenapa kau sering membicarakan tentangku, oppa?”
Mata Changmin berubah serius, “Mungkin tanpa sadar, kau selalu ada di hatiku, Jaejoongie.”
Kali ini jantung Jaejoong benar-benar berdesir. Changmin seolah ingin mengungkapkan sesuatu kepadanya, lelaki itu tampak serius, menatap Jaejoong dengan tatapan matanya yang dalam.
Apakah Changmin.. apakah Changmin secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa Jaejoong ada di dalam hatinya? Bahwa sekarang entah kenapa lelaki itu mulai menyadari bahwa Jaejoong mungkin selama ini selalu tersimpan di dalam hatinya dan menunggu untuk diakui?
Kalau memang benar begitu, kenapa tidak ada rasa yang berbeda di benak Jaejoong selain jantungnya yang berdesir pelan? Bukankah inilah yang selama ini dinantikannya? Pengakuan Changmin bahwa Jaejoong ada di dalam hatinya, meskipun sedikit? Seharusnya Jaejoong bersorak dan berteriak gembira bukan? Tetapi kenapa dia sekarang malahan merasa..... datar?
Jemari yang ramping tiba-tiba menyentuh bahunya lembut, membuat Jaejoong terperanjat kaget, begitupun Changmin yang tampak benar-benar terkejut dengan mata memandang ke belakang Jaejoong.
Jaejoong mendongakkan kepalanya, menatap ke belakang, dan membelalakkan matanya ketika melihat Yunho berdiri di sana, di belakangnya, memandangnya dengan tatapan mata memperingatkan yang segera hilang, berganti dengan tatapan mesra penuh sandiwara.
“Maafkan aku terlambat sayang.”
Yunho menunduk dan mengecup dahi Jaejoong yang sedang duduk dengan lembut, kemudian lelaki itu menarik kursi dan duduk di sebelah Jaejoong, berhadap-hadapan dengan Changmin, ditatapanya lelaki itu dengan tatapan mata datar,
“Maafkan aku terlambat, Tadi aku bersama Jaejoong dan kebetulan aku sedang ada urusan mengenai konser tunggalku, jadi aku terpaksa meninggalkan Jaejoong sebentar, Jaejoong lalu bilang sambil menungguku dia akan menemuimu, dan aku berjanji akan segera menyusul setelah semua urusanku beres.”
Changmin masih ternganga, seolah kehilangan kata-kata. Dia menoleh berganti-ganti ke arah Jaejoong yang memasang wajah bersalah dan Yunho yang tersenyum tenang, dan kemudian ekspresinya berubah sedikit malu.
“Oh. Maafkan aku, aku tidak tahu kalau aku mengganggu Jaejoongie di sela acara kalian.”
Lelaki itu langsung beranjak berdiri, “Kurasa aku ada urusan mendadak, aku harus pergi.”
“Changmin oppa!”
Jaejoong hendak berdiri, mencegah kepergian Changmin, tetapi tangan Yunho menahannya dengan kencang dan penuh peringatan, membuat gerakan dan suara Jaejoong tertahankan.
Changmin menoleh, menatap Jaejoong, ekspresinya terlihat terluka.
“Mungkin lain kali kita bisa mengatur waktu untuk bertemu, Jaejoongie. Selamat tinggal.”
Dan kemudian, tanpa menoleh lagi, Changmin melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Seketika itu juga Jaejoong langsung melemparkan tatapan marah kepada Yunho.
“Kenapa kau melakukan itu, Yunho? Itu sangat tidak sopan, kau seperti mengusir Changmin dengan kasar, tetapi menggunakan bahasa yang halus.”
Yunho menyandarkan tubuhnya di kursi dan bersedekap dengan tenang.
“Karena kau menemui Changmin tanpa meminta persetujuan kepadaku.”
Jaejoong membelalakkan matanya, “Aku tidak membutuhkan izinmu untuk apapun, kau bukan siapa-siapaku.” Gumam Jaejoong,
nadanya sedikit meninggi menahankan emosi karena menghadapi sikap Yunho yang angkuh.
“Kau memang bukan siapa-siapaku dan hubungan kita hanyalah hubungan sandiwara. Tetapi selama kita bersandiwara, kau berada di bawah tanggung jawabku.” Mata Yunho menyipit.
“Apakah kau tidak tahu bahwa aku sedang memancing Ahra, yang kuduga sebagai otak dibalik penyeranganmu untuk mengulangi lagi usahanya?”
“Mengulangi lagi?”
“Ya.” Yunho menatap Jaejoong dengan serius,
“Aku berusaha membuatnya lengah dan terburu-buru untuk menyerangmu lagi, dan aku sudah menghubungi polisi, mereka akan menyiapkan orang untuk mengawasimu dan menangkap Ahra ketika dia melakukan maksudnya, dan selama polisi belum bergerak, kau harus berada di tempat di mana aku bisa melihatmu, agar aku bisa menjagamu.”
Jaejoong membuka mulutnya untuk membantah, tetapi kemudian dia menahan diri, menyadari bahwa perkataan Yunho ada benarnya juga. Tetapi meskipun begitu, itu tidak membenarkan perlakukan Yunho kepada Changmin tadi.
“Tetapi tetap saja aku tidak suka, kau seolah memaksa pergi Changmin tadi.”
“Aku tidak memaksanya pergi, dia sendiri yang pergi dengan tergesa-gesa.” Yunho mengangkat alisnya,
“Kurasa dia hampir menyatakan perasaannya kepadamu ya?”
Jaejoong merasakan pipinya merona, kemudian dia bergumam lirih,
“Aku tidak tahu... mungkin saja... dia bilang aku ada di hatinya.” Suara Jaejoong menjadi pelan, berubah ragu.
Yunho terkekeh, “Dia benar-benar terlambat menyadari perasaannya, kalau kau menuruti saranku, jangan langsung memberikan jalan untuknya.”
Mata Yunho menajam, “Kau sendiri bagaimana perasaanmu?”
Jaejoong tercekat, bahkan dia tidak bisa menjelaskan perasaannya kepada dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia bisa menjelaskan perasannya kepada Yunho?
Sementara itu Yunho mengamati ekspresi Jaejoong dan tiba-tiba senyumnya melebar.
“Kurasa Changmin sudah terlambat.”
Jaejoong yang sedang merenung dan sibuk dengan pikirannya mendengar Yunho bergumam dan mengangkat kepalanya,
“Apa?”
Yunho menggelengkan kepalanya,
“Tidak.” Senyumnya mengembang, penuh arti,
“Ayo kita pergi, kita harus berlatih biola untuk konser tunggalku nanti?”
Konser tunggal? Jaejoong baru mendengar informasi itu, Yunho akan mengadakan konser tunggal? Tetapi bukankah tangan Yunho belum pulih benar?
Yunho melihat pertanyaan di mata Jaejoong dan menganggukkan kepalanya, “Ayo kita bicarakan sambil jalan, aku punya banyak rencana, dan aku membutuhkanmu, Jaejoong.”
.
.
.
Mereka berada di ruang musik, tempat Yunho biasanya berlatih di rumah itu. Ruangan itu lebih seperti ballrom yang besar, terletak di bagian belakang rumah. Dua buah biola telah disiapkan di sana, satu adalah Stradivari milik Yunho dan satu lagi adalah biola Paganini pemberian Yunho untuk Jaejoong.
Mereka berdiri di tengah ruangan dan Jaejoong menatap Yunho dengan bingung, pandangannya berganti-ganti antara Yunho dengan dua buah biola yang telah disiapkan itu.
“Apakah kita.. apakah kita akan bermain biola?”
Jaejoong masih teringat jelas ketika dia melihat Yunho mencoba bermain biola di rumah sakit waktu itu, dan lelaki itu tidak bisa menyelesaikan permainannya karena tangannya kesakitan. Dia juga masih ingat ekspresi sedih Yunho waktu itu... ekspresi sedih sang maestro yang tidak bisa menyelesaikan permainan biolanya.
Yunho tersenyum penuh arti, “Aku ingin kau melihat sesuatu.”
Ditarikkannya kursi untuk Jaejoong di tengah ruangan,
“Duduklah, buatlah dirimu nyaman, kau adalah penonton pertamaku.” Gumam Yunho lembut.
Mau tak mau Jaejoong duduk di kursi itu seperti yang diminta Yunho, duduk dengan tenang, meraskan jantungnya berdebar menanti apa yang akan terjadi.
Yunho sendiri melangkah ke depan Jaejoong dengan membawa biola Stradivarius miliknya. Jantung Jaejoong berdebar, penuh antisipasi menanti apa yang akan terjadi.
Dan kemudian Jaejoong ternganga ketika dia menatap Yunho yang meletakkan biola itu di pundak kanannya....
Di pundak kanannya? 
Apakah itu berarti... Yunho akan menggunakan tangan kirinya untuk menggesek biolanya?
Tetapi apakah itu mungkin? Menggesek biola dengan tangan kiri sangatlah sulit dan sangat jarang di kalangan violinist profesional sekalipun. Bahkan seorang violinist kidal kebanyakan memilih tetap menggunakan tangan kanannya untuk menggesek biolanya, karena menggesek biola dengan tangan kiri memerlukan konsentrasi dan teknik yang lebih sulit, untuk menghasilkan nada-nada yang sama persis dengan nada yang dihasilkan dengan gesekan tangan kanannya amatlah sulit, bisa dikatakan tingkat kesulitannya dua kali lipat.
Tetapi Yunho seorang pemain biola jenius bukan?
Tidak menutup kemungkinan bahwa Yunho akan mampu melakukannya....
Jaejoong duduk di sana, menatap Yunho yang berdiri tegak di tengah ruangan, posisi sempurna seorang violinist profesional dan merasakan jantungnya berdebar semakin kencang... dan menunggu.
Lalu Yunho menggesekkan biolanya hingga alunan musik terdengar memenuhi ruangan. Nada awalnya indah....dan seketika Jaejoong menyadari bahwa ini adalah salah satu nada yang sulit. Lagu yang sama yang pernah dimainkan Jaejoong pada malam audisinya untuk mengikuti kelas khusus Yunho, lagu yang sama yang pernah mereka mainkan bersama-sama tanpa rencana.
Tchaikovsky, Violin Concerto in D major Op.35 .... 
Alunan nada yang cukup indah dan sulit, diciptakan oleh maestro yang sangat ahli dan luar biasa, dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.
Ketika nada-nada berubah semakin cepat, dengan sempurna, tanpa meleset sama sekali, Jaejoong ternganga, matanya membelalak, seluruh ekspresinya mengungkapkan ketakjuban yang tiada terkira.
Perasaannya bergolak, antara kekaguman dan ketakjuban melihat Yunho, sang maestro biola yang jenius.... ternyata bisa memainkan biolanya dengan sempurna meskipun menggesek dengan tangan kirinya!
Ternyata istilah kejeniusan Yunho itu benar adanya, semua orang tidak main-main ketika menempelkan istilah itu kepada Yunho. Lelaki ini benar-benar memiliki teknik tinggi dalam bermain biola, dan kenyataan bahwa lelaki itu bisa memainkan biolanya dengan tangan kanan dan kirinya dengan sama-sama sempurnanya, amatnya luar biasa... bagaikan sebuah keajaiban.....
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment:

  1. OMG! Changmin nyaris bgt nyatain perasaannya ke Jj, untung yunho buru2 dtg.
    Tp kok jd kasian ya sama changmin.
    Indeed! Yunho emng maestro jenius.

    ReplyDelete