Summary: Jung Yunho, violinist jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Yunho terus memainkan
biolanya dengan penuh perasaaan, memainkan seluruh nada yang sulit dengan
mudahnya, seolah-olah kemampuannya benar-benar sempurna tanpa pernah terluka
sekalipun. Dan kemudian, ketika Yunho memainkan nada penutup yang tinggi dan
menyanyat hati di akhir cerita, dan mengakhirinya dengan kelembutan yang tak
terkira... Jaejoong langsung berdiri, tidak bisa menahan dirinya dan menubruk Yunho
memelukkanya sambil berurai air mata.
“Kau bisa memainkan
biolamu, kau bisa memainkan biolamu dengan tangan kirimu, dan itu sempurna.”
Serunya penuh perasaan, membuat suaranya sedikit tercekat.
Yunho
menunduk, tersenyum melihat Jaejoong memeluknya, dengan sebelah tangan dia
meletakkan biolanya di meja, lalu lelaki itu mendongakkan wajah Jaejoong,
“Apakah permainan
biolaku tadi sempurna?”
lelaki itu mengangkat
alisnya, tampak tidak yakin, meskipun mata Jaejoong yang berurai air mata dan
sinar takjub di sana sudah cukup membuktikan kebenaran kata-kata Jaejoong.
Jaejoong
menganggukkan kepalanya dengan kuat.
“Permainan biolamu
luar biasa, Yunho... sungguh luar biasa.” Napas Jaejoong terengah,
“Aku tidak menyangka
kau bisa memainkan biolamu sama bagusnya dengan menggunakan tangan kirimu.”
Yunho tertawa, “Aku
disebut maestro jenius bukan?” gumamnya sedikit angkuh,
dan sekarang Jaejoong
sama sekali tidak merasa terganggu dengan keangkuhan Yunho karena perkatannya
benar adanya.
“Aku senang sekali Yunho.”
Jaejoong mengusap air matanya,
“Selama ini aku
dipenuhi rasa bersalah, karena aku berpikir bahwa dirikulah penyebab kau
kehilangan bakatmu.... aku... aku tidak menyangka kau bisa memainkan biola
dengan tangan kirimu...” suara Jaejoong tercekat, tertelan oleh isakannya.
Yunho mengulurkan
jemarinya dan mengusap air mata Jaejoong, tersenyum dengan lembut,
“Aku bermaksud
membuatnya sebagai kejutan, dan sepertinya aku berhasil.” Gumamnya sambil
tersenyum,
“Konser tunggalku akan
diadakan sebulan lagi, aku bermaksud menggunakannya untuk memperkenalkanmu,
kita akan mengambil satu session panjang di pertunjukan utama, untuk berduet
biola bersama.”
Jaejoong
membelalakkan matanya, tidak menyangka.
Dia?
Yunho akan
mengajaknya berduet bersamanya langsung di konser tunggalnya? Konser besar
bertaraf internasional yang pasti akan dihadiri oleh ribuan orang dari kalangan
musik baik dalam dan luar negeri?
Tiba-tiba rasa gugup
dan takut memenuhi benaknya, dia menatap Yunho sedikit ragu,
“Aku tidak tahu
apakah aku mampu.”
Yunho tersenyum, “Kau
pasti mampu, Jaejoong. Aku tahu seberapa tingginya kemampuanmu dan aku yakin.”
Lelaki itu
mengulurkan jemarinya, dan mengangkat dagu Jaejoong. “Bermain duet biola
denganmu terasa pas dan sempurna untukku, kau bisa mengimbangiku, semuanya,
seluruh nada yang kita mainkan seakan saling melengkapi secara alami, kau
adalah pasangan bermain biolaku yang sempurna.”
Dan kemudian, tanpa
diduga, Yunho menundukkan kepalanya, dan mengecup bibir Jaejoong.
Kecupan itu semula
dilakukan untuk meluapkan perasaan mereka berdua, tetapi kemudian tanpa
tertahankan berubah semakin dalam, Yunho merangkulkan tangannya dengan lembut
memeluk punggung Jaejoong dan merapatkan kepadanya, sementara Jaejoong
berjinjit dan melingkarkan lengannya di leher Yunho. Kecupan mereka semakin
dalam, bibir mereka bertaut semakin erat, saling mencecap rasa satu sama lain.
Dan kemudian ketika
bibir mereka berpisah, napas mereka berdua terengah-engah. Saling menatap, yang
satu penuh hasrat yang satu lebih seperti terkejut dan malu.
Yunholah yang pertama
sadarkan diri dan tersenyum lembut,
“Kurasa kita bisa
satu tingkat lebih maju sebagai pasangan.” Gumamnya lembut.
Pipi Jaejoong merah
padam. Bingung. Apakah maksud Yunho tentang hubungan sandiwara mereka sebagai
pasangan? Ataukah Jaejoong sebagai pasangan bermain biolanya?
Dan kenapa mereka
berciuman? Kenapa pula Jaejoong tidak bisa menolak ciumannya? Dia malahan
bergayut di leher Yunho seolah-olah menggantungkan seluruh hidupnya kepada
lelaki itu.
Detik itulah Jaejoong
menyadari posisinya yang merapat dengan begitu intim kepada lelaki itu, rona
merah di wajahnya semakin nyata ketika dia buru-buru melepaskan diri dari
pelukannya kepada Yunho, sedikit menjauh dan melangkah mundur.
“Aku... kurasa aku
akan ke kamar untuk menenangkan diri.”
Jaejoong langsung
membalikkan badannya, dan terburu-buru melangkah pergi meninggalkan ruang musik
itu.
.
.
.
Yunho masih berdiri
di tengah ruangan ketika Jaejoong meninggalkannya.
Dia tercenung.
Ciuman itu... ciuman
itu telah memastikan segalanya. Dan Jaejoong juga membalas ciumannya tanpa
kemarahan sama sekali seperti biasanya, apakah itu ada artinya?
.
.
.
Apa
yang terjadi kepadanya?
Jaejoong membanting
tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan nanar.
Jemarinya menyentuh bibirnya yang masih berbekas ciuman Yunho, terasa panas
membara...
Biasanya kalau Yunho
menciumnya tanpa permisi, Jaejoong merasa jengkel, marah dan terhina, tetapi
sekarang yang mengalir di dalam dirinya bukanlah itu... perasaan yang ada di
sana adalah perasaan hangat yang dipenuhi dengan euforia menyengat ke
dalam jiwanya.
Apakah ini karena
ketakjubannya melihat Yunho mampu memainkan biolanya dengan tangan kirinya,
sesempurna dia memainkannya dengan tangan kanannya?
Ataukah…
ada
perasaan lain yang bertumbuh di dalam jiwanya...?
Bisa dibilang Yunho
adalah lelaki satu-satunya yang pernah menciumnya, beberapa kali pula....
Jantung Jaejoong berdesir oleh perasaan yang berkembang ke dalam jiwanya,
perasaan yang tidak pernah diduganya akan tumbuh kepada lelaki arogan, angkuh
dan sangat suka menjahilinya, si tukang cium sembarangan, Yunho.
Dan tiba-tiba saja Jaejoong
merasa takut untuk menumbuhkan perasaan ini. Yunho terkenal dengan reputasinya
sebagai penghancur perempuan, itulah yang membuat Jaejoong merasa ragu apakah
yang dirasakan Yunho kepadanya adalah keseriusan, ataukah lelaki itu sedang
berpura-pura seperti yang dilakukannya kepada perempuan-perempuan lainnya?
Dan bagaimana pula
perasaannya kepada Changmin? Apakah perasaannya itu mulai pudar seiring dengan
patah hatinya yang tidak berbalas kepada lelaki itu?
Jaejoong berusaha
menelaah perasaannya tetapi dia tidak menemukan jawabannya. Pada akhirnya dia
tertidur dengan berbagai pertanyaan yang masih memenuhi benaknya.
.
.
.
Ahra menatap
Andrew yang berada di balik kemudi, mereka berada di mobil yang diparkir secara
tak kentara di depan rumah Yunho, mengawasi dari tadi.
“Kau harus bisa menyingkirkan
Jaejoong di konser itu. Dia bisa saja tampil di konser itu, karena Yunho bilang
acara utamanya adalah duetnya dengan Jaejoong, aku tidak mau merusak acara
utama konser Yunho. Tetapi segera setelah konser, kau harus menculik Jaejoong
dan melenyapkannya, karena akulah yang akan datang ke pesta setelah konser
sebagai pasangan Yunho.”
Matanya melirik
tajam ke arah Andrew, “Kali ini kau tidak boleh gagal, Andrew.”
Andrew mengamati Ahra
dengan gelisah, “Kau yakin kali ini aman? Bukankah serangan kemarin telah
membuat polisi waspada?”
“Kali ini pasti
aman.” Ahra tersenyum lebar,
“Karena sekarang Yunho
mendukungku untuk menyingkirkan Jaejoong, jadi semuanya akan lebih mudah.”
Senyumnya tampak mengambang, seperti seorang remaja yang jatuh cinta,
”Bahkan Yunho sendiri
yang memintaku supaya bisa membantunya menyingkirkan Jaejoong? Kau
percaya itu Andrew? Ternyata perasaan Yunho begitu dalam kepadaku, rupanya dia
masih terikat dengan pesonaku, dan segera setelah kau berhasil menyingkirkan Jaejoong,
jalanku bersama Yunho akan semakin mulus.”
Matanya menatap
Andrew dengan penuh arti, “Dan tentu saja bayaran untukmu akan semakin besar
kalau kau berhasil melaksanakan tugasmu kali ini.”
Andrew tercenung,
sebenarnya, jauh di dalam hatinya, terbersit ketidak percayaan akan kata-kata Ahra
bahwa Yunho mendukungnya. Tetapi Ahra tampak yakin dengan kata-katanya, dan
bayarannya terasa begitu menggoda, sehingga Andrew memutuskan akan melaksanakan
tugasnya dengan sebaik-baiknya kali ini.
.
.
.
Pagi harinya ketika Jaejoong
keluar dari kamar, dia langsung berpapasan dengan Yunho di ruang tengah, lelaki
itu sepertinya sudah menunggunya.
"Selamat pagi.”
Yunho sedang menyesap
secangkir kopi yang masih mengepul panas,
”Duduklah Jaejoong,
dan sarapan, di teko yang itu ada cokelat panas.”
Jaejoong duduk dengan
ragu, tiba-tiba merasa canggung berduaan saja dengan Yunho dalam satu ruangan.
Dia menuang cokelat dari teko ke cangkir, dan kemudian menyesapnya. Di meja di
depan mereka banyak tersaji piring-piring berisi berbagai makanan kecil dan
biskuit untuk sarapan, menguarkan aroma harum di pagi hari.
“Kurasa kita harus
berlatih intensif mulai hari ini, untuk persiapan konser kita.”
Jaejoong
menganggukkan kepalanya,
“Apakah kau tidak
ingin memberitahu media dan khalayak bahwa kau bisa bermain biola dengan
sempurna dengan menggunakan tangan kirimu?”
Yunho menatap kedua
telapak tangannya. “Sebenarnya, ketika sakitku pulih, aku bisa memainkan
biolaku dengan tangan kananku juga.” Lelaki itu tersenyum miris,
“Sayangnya, kemampuan
tangan kananku tidak bisa kembali sempurna, dokter bilang hanya delapan puluh
lima persen kemungkinan kemampuan tangan kananku kembali, dan sisa lima belas
persen, bagi seorang violinist terlalu jauh untuk dikejar.”
Ditatapnya Jaejoong
dengan pandangan intens, “Aku dulu memainkan biola dengan tangan kiri, pada
awal aku bermain biola, tetapi kemudian guru biolaku mengajarkanku untuk
bermain biola dengan tangan kanan, hal itu lebih kepada keindahan estetika,
terutama ketika kita bermain dalam sebuah orkestra besar, posisi biola yang
berlawanan akan menyulitkan di antara seluruh violinist yang berdiri berjajar
dalam sebuah konser, hal itu jugalah yang menjadi alasan banyak pemain biola
kidal yang tetap bermain dengan tangan kanannya.” Yunho tersenyum
“Dan untunglah
sekarang aku bisa kembali kepada cara bermain alamiku, dengan tangan kiri.”
Jaejoong
menganggukkan kepalanya, “Kau akan menjadi tiada duanya di dunia ini,
satu-satunya pemain biola jenius yang memainkan biolanya dengan tangan kirinya.
Yunho tersenyum, “Aku
ingin membicarakan mengenai Ahra, aku memancingnya supaya berusaha
menyingkirkanmu sekali lagi, Jaejoong... dengan memancing kecemburuannya, aku
tahu dia sangat pencemburu dan ketika dia termakan kecemburuannya dia akan
kehilangan kehati-hatiannya.”
Mata Yunho tampak
tajam dan serius, “Karena itu, selama proses ini terjadi sampai aku dan polisi
bisa menjebak Ahra, aku minta jangan lagi kau lakukan hal seperti kemarin,
pergi tanpa berpamitan seperti itu.”
Jaejoong
menganggukkan kepalnya, “Aku mengerti Yunho.”
Yunho merubah posisi
duduknya dengan santai, “Dan bagaimana dengan Changmin? Apakah dia sudah
menghubungimu lagi?”
Jaejoong
menggelengkan kepalanya, tiba-tiba merasa bersalah kepada Changmin, karena
semalam dia bahkan sama sekali tidak memikirkan tentang lelaki itu...
“Dia belum
menghubungiku, mungkin aku akan menghubunginya nanti dan meminta maaf
kepadanya.”
Yunho memasang wajah
tanpa ekspresi, “Sampaikan permintaan maafku kepadanya juga. Kurasa aku memang
keterlaluan, kemarin. Aku sedikit marah karena kau menemuinya tanpa pamit
kepadaku, dan aku melampiaskan kemarahan kepadanya.”
Dan
kenapa Yunho perlu merasa marah karena Jaejoong menemui Changmin tanpa
berpamitan kepadanya?
“Akan kusampaikan kepada
Changmin oppa nanti.” Gumam Jaejoong setengah gugup,
“Kapan kita akan
berlatih nanti?” Jaejoong mengalihkan pembicaraan, merasa tidak nyaman
membicarakan Changmin dengan Yunho.
Yunho bersedekap,
“Segera, mungkin nanti setelah kau menyelesaikan sarapanmu.”
Ada senyum di sudut
bibirnya ketika melihat Jaejoong beranjak dari sofa dan tidak nyaman,
“Kau mau pergi ke
mana Jaejoong?”
“Aku akan kembali ke
kamar, dan mempersiapkan diri sebelum latihan.” Jaejoong menjawab cepat, merasa
gugup tiba-tiba.
Yunho hanya diam
ketika Jaejoong beranjak pergi meninggalkannya, tetapi ketika Jaejoong sudah di
ambang pintu, Yunho memanggilnya.
“Jaejoong?”
Jaejoong menolehkan
kepalanya sambil mengerutkan keningnya, “Iya Yunho?”
Lelaki itu duduk di
sana, benar-benar tampan seperti pangeran hedonis yang sempurna, dengan tangan
bersedekap dan tatapan mata tajam. Dan kata-kata yang keluar dari bibirnya
sangat mengejutkan.
“Kurasa aku jatuh
cinta kepadamu.”
.
.
.
.
To Be Continue

Duh gemes banget sama mereka berdua hahahahahaha. Kalau saling suka ya bilang ajaaaaa :'D semangat terus ya kak sakiiii
ReplyDeleteahhhh aku suka semua ff nya saki kanapa ga di publish di ffn or watpat ...
ReplyDeleteoya ada yang bikin aku bingung adik nya yunho . yg awalnya junsu jadi jihye terus jadi junsu lg ... jadi bikin bingung aja
cepet update ya ...
Kyaaaaa.....
ReplyDeleteAkhirnya yunho ngeluarin kalimat sakti itu jg...