Friday, October 30

[REMAKE] The Violiniest Chapter XIX



Summary: Jung Yunho, violinist jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

Chapter 19.

Yunho terus memainkan biolanya dengan penuh perasaaan, memainkan seluruh nada yang sulit dengan mudahnya, seolah-olah kemampuannya benar-benar sempurna tanpa pernah terluka sekalipun. Dan kemudian, ketika Yunho memainkan nada penutup yang tinggi dan menyanyat hati di akhir cerita, dan mengakhirinya dengan kelembutan yang tak terkira... Jaejoong langsung berdiri, tidak bisa menahan dirinya dan menubruk Yunho memelukkanya sambil berurai air mata.
“Kau bisa memainkan biolamu, kau bisa memainkan biolamu dengan tangan kirimu, dan itu sempurna.” Serunya penuh perasaan, membuat suaranya sedikit tercekat.
Yunho menunduk, tersenyum melihat Jaejoong memeluknya, dengan sebelah tangan dia meletakkan biolanya di meja, lalu lelaki itu mendongakkan wajah Jaejoong,
“Apakah permainan biolaku tadi sempurna?”
lelaki itu mengangkat alisnya, tampak tidak yakin, meskipun mata Jaejoong yang berurai air mata dan sinar takjub di sana sudah cukup membuktikan kebenaran kata-kata Jaejoong.
Jaejoong menganggukkan kepalanya dengan kuat.
“Permainan biolamu luar biasa, Yunho... sungguh luar biasa.” Napas Jaejoong terengah,
“Aku tidak menyangka kau bisa memainkan biolamu sama bagusnya dengan menggunakan tangan kirimu.”
Yunho tertawa, “Aku disebut maestro jenius bukan?” gumamnya sedikit angkuh,
dan sekarang Jaejoong sama sekali tidak merasa terganggu dengan keangkuhan Yunho karena perkatannya benar adanya.
“Aku senang sekali Yunho.” Jaejoong mengusap air matanya,
“Selama ini aku dipenuhi rasa bersalah, karena aku berpikir bahwa dirikulah penyebab kau kehilangan bakatmu.... aku... aku tidak menyangka kau bisa memainkan biola dengan tangan kirimu...” suara Jaejoong tercekat, tertelan oleh isakannya.
Yunho mengulurkan jemarinya dan mengusap air mata Jaejoong, tersenyum dengan lembut,
“Aku bermaksud membuatnya sebagai kejutan, dan sepertinya aku berhasil.” Gumamnya sambil tersenyum,
“Konser tunggalku akan diadakan sebulan lagi, aku bermaksud menggunakannya untuk memperkenalkanmu, kita akan mengambil satu session panjang di pertunjukan utama, untuk berduet biola bersama.”
Jaejoong membelalakkan matanya, tidak menyangka. 
Dia? 
Yunho akan mengajaknya berduet bersamanya langsung di konser tunggalnya? Konser besar bertaraf internasional yang pasti akan dihadiri oleh ribuan orang dari kalangan musik baik dalam dan luar negeri?
Tiba-tiba rasa gugup dan takut memenuhi benaknya, dia menatap Yunho sedikit ragu,
“Aku tidak tahu apakah aku mampu.”
Yunho tersenyum, “Kau pasti mampu, Jaejoong. Aku tahu seberapa tingginya kemampuanmu dan aku yakin.”
Lelaki itu mengulurkan jemarinya, dan mengangkat dagu Jaejoong. “Bermain duet biola denganmu terasa pas dan sempurna untukku, kau bisa mengimbangiku, semuanya, seluruh nada yang kita mainkan seakan saling melengkapi secara alami, kau adalah pasangan bermain biolaku yang sempurna.”
Dan kemudian, tanpa diduga, Yunho menundukkan kepalanya, dan mengecup bibir Jaejoong.
Kecupan itu semula dilakukan untuk meluapkan perasaan mereka berdua, tetapi kemudian tanpa tertahankan berubah semakin dalam, Yunho merangkulkan tangannya dengan lembut memeluk punggung Jaejoong dan merapatkan kepadanya, sementara Jaejoong berjinjit dan melingkarkan lengannya di leher Yunho. Kecupan mereka semakin dalam, bibir mereka bertaut semakin erat, saling mencecap rasa satu sama lain.
Dan kemudian ketika bibir mereka berpisah, napas mereka berdua terengah-engah. Saling menatap, yang satu penuh hasrat yang satu lebih seperti terkejut dan malu.
Yunholah yang pertama sadarkan diri dan tersenyum lembut,
“Kurasa kita bisa satu tingkat lebih maju sebagai pasangan.” Gumamnya lembut.
Pipi Jaejoong merah padam. Bingung. Apakah maksud Yunho tentang hubungan sandiwara mereka sebagai pasangan? Ataukah Jaejoong sebagai pasangan bermain biolanya?
Dan kenapa mereka berciuman? Kenapa pula Jaejoong tidak bisa menolak ciumannya? Dia malahan bergayut di leher Yunho seolah-olah menggantungkan seluruh hidupnya kepada lelaki itu.
Detik itulah Jaejoong menyadari posisinya yang merapat dengan begitu intim kepada lelaki itu, rona merah di wajahnya semakin nyata ketika dia buru-buru melepaskan diri dari pelukannya kepada Yunho, sedikit menjauh dan melangkah mundur.
“Aku... kurasa aku akan ke kamar untuk menenangkan diri.”
Jaejoong langsung membalikkan badannya, dan terburu-buru melangkah pergi meninggalkan ruang musik itu.
.
.
.
Yunho masih berdiri di tengah ruangan ketika Jaejoong meninggalkannya.
Dia tercenung.
Ciuman itu... ciuman itu telah memastikan segalanya. Dan Jaejoong juga membalas ciumannya tanpa kemarahan sama sekali seperti biasanya, apakah itu ada artinya?
.
.
.
Apa yang terjadi kepadanya?
Jaejoong membanting tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan nanar. Jemarinya menyentuh bibirnya yang masih berbekas ciuman Yunho, terasa panas membara...
Biasanya kalau Yunho menciumnya tanpa permisi, Jaejoong merasa jengkel, marah dan terhina, tetapi sekarang yang mengalir di dalam dirinya bukanlah itu... perasaan yang ada di sana adalah perasaan hangat yang dipenuhi dengan  euforia menyengat ke dalam jiwanya.
Apakah ini karena ketakjubannya melihat Yunho mampu memainkan biolanya dengan tangan kirinya, sesempurna dia memainkannya dengan tangan kanannya?
Ataukah…
ada perasaan lain yang bertumbuh di dalam jiwanya...?
Bisa dibilang Yunho adalah lelaki satu-satunya yang pernah menciumnya, beberapa kali pula....  Jantung Jaejoong berdesir oleh perasaan yang berkembang ke dalam jiwanya, perasaan yang tidak pernah diduganya akan tumbuh kepada lelaki arogan, angkuh dan sangat suka menjahilinya, si tukang cium sembarangan, Yunho.
Dan tiba-tiba saja Jaejoong merasa takut untuk menumbuhkan perasaan ini. Yunho terkenal dengan reputasinya sebagai penghancur perempuan, itulah yang membuat Jaejoong merasa ragu apakah yang dirasakan Yunho kepadanya adalah keseriusan, ataukah lelaki itu sedang berpura-pura seperti yang dilakukannya kepada perempuan-perempuan lainnya?
Dan bagaimana pula perasaannya kepada Changmin? Apakah perasaannya itu mulai pudar seiring dengan patah hatinya yang tidak berbalas kepada lelaki itu?
Jaejoong berusaha menelaah perasaannya tetapi dia tidak menemukan jawabannya. Pada akhirnya dia tertidur dengan berbagai pertanyaan yang masih memenuhi benaknya.
.
.
.
Ahra menatap  Andrew yang berada di balik kemudi, mereka berada di mobil yang diparkir secara tak kentara di depan rumah Yunho, mengawasi dari tadi.
“Kau harus bisa menyingkirkan Jaejoong di konser itu. Dia bisa saja tampil di konser itu, karena Yunho bilang acara utamanya adalah duetnya dengan Jaejoong, aku tidak mau merusak acara utama konser Yunho. Tetapi segera setelah konser, kau harus menculik Jaejoong dan melenyapkannya, karena akulah yang akan datang ke pesta setelah konser sebagai pasangan Yunho.”
Matanya  melirik tajam ke arah Andrew, “Kali ini kau tidak boleh gagal, Andrew.”
Andrew mengamati Ahra dengan gelisah, “Kau yakin kali ini aman?  Bukankah serangan kemarin telah membuat polisi waspada?”
“Kali ini pasti aman.” Ahra tersenyum lebar,
“Karena sekarang Yunho mendukungku untuk menyingkirkan Jaejoong, jadi semuanya akan lebih mudah.” Senyumnya tampak mengambang, seperti seorang remaja yang jatuh cinta,
”Bahkan Yunho sendiri yang memintaku supaya bisa membantunya menyingkirkan Jaejoong?  Kau percaya itu Andrew? Ternyata perasaan Yunho begitu dalam kepadaku, rupanya dia masih terikat dengan pesonaku, dan segera setelah kau berhasil menyingkirkan Jaejoong, jalanku bersama Yunho akan semakin mulus.”
Matanya menatap Andrew dengan penuh arti, “Dan tentu saja bayaran untukmu akan semakin besar kalau kau berhasil melaksanakan tugasmu kali ini.”
Andrew tercenung, sebenarnya, jauh di dalam hatinya, terbersit ketidak percayaan akan kata-kata Ahra bahwa Yunho mendukungnya. Tetapi Ahra tampak yakin dengan kata-katanya, dan bayarannya terasa begitu menggoda, sehingga Andrew memutuskan akan melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya kali ini.
.
.
.
Pagi harinya ketika Jaejoong keluar dari kamar, dia langsung berpapasan dengan Yunho di ruang tengah, lelaki itu sepertinya sudah menunggunya.
"Selamat pagi.”
Yunho sedang menyesap secangkir kopi yang masih mengepul panas,
”Duduklah Jaejoong, dan sarapan, di teko yang itu ada cokelat panas.”
Jaejoong duduk dengan ragu, tiba-tiba merasa canggung berduaan saja dengan Yunho dalam satu ruangan. Dia menuang cokelat dari teko ke cangkir, dan kemudian menyesapnya. Di meja di depan mereka banyak tersaji piring-piring berisi berbagai makanan kecil dan biskuit untuk sarapan, menguarkan aroma harum di pagi hari.
“Kurasa kita harus berlatih intensif mulai hari ini, untuk persiapan konser kita.”
Jaejoong menganggukkan kepalanya,
“Apakah kau tidak ingin memberitahu media dan khalayak bahwa kau bisa bermain biola dengan sempurna dengan menggunakan tangan kirimu?”
Yunho menatap kedua telapak tangannya. “Sebenarnya, ketika sakitku pulih, aku bisa memainkan biolaku dengan tangan kananku juga.” Lelaki itu tersenyum miris,
“Sayangnya, kemampuan tangan kananku tidak bisa kembali sempurna, dokter bilang hanya delapan puluh lima persen kemungkinan kemampuan tangan kananku kembali, dan sisa lima belas persen, bagi seorang violinist terlalu jauh untuk dikejar.”
Ditatapnya Jaejoong dengan pandangan intens, “Aku dulu memainkan biola dengan tangan kiri, pada awal aku bermain biola, tetapi kemudian guru biolaku mengajarkanku untuk bermain biola dengan tangan kanan, hal itu lebih kepada keindahan estetika, terutama ketika kita bermain dalam sebuah orkestra besar, posisi biola yang berlawanan akan menyulitkan di antara seluruh violinist yang berdiri berjajar dalam sebuah konser, hal itu jugalah yang menjadi alasan banyak pemain biola kidal yang tetap bermain dengan tangan kanannya.” Yunho tersenyum
“Dan untunglah sekarang aku bisa kembali kepada cara bermain alamiku, dengan tangan kiri.”
Jaejoong menganggukkan kepalanya, “Kau akan menjadi tiada duanya di dunia ini, satu-satunya pemain biola jenius yang memainkan biolanya dengan tangan kirinya.
Yunho tersenyum, “Aku ingin membicarakan mengenai Ahra, aku memancingnya supaya berusaha menyingkirkanmu sekali lagi, Jaejoong... dengan memancing kecemburuannya, aku tahu dia sangat pencemburu dan ketika dia termakan kecemburuannya dia akan kehilangan kehati-hatiannya.”
Mata Yunho tampak tajam dan serius, “Karena itu, selama proses ini terjadi sampai aku dan polisi bisa menjebak Ahra, aku minta jangan lagi kau lakukan hal seperti kemarin, pergi tanpa berpamitan seperti itu.”
Jaejoong menganggukkan kepalnya, “Aku mengerti Yunho.”
Yunho merubah posisi duduknya dengan santai, “Dan bagaimana dengan Changmin?  Apakah dia sudah menghubungimu lagi?”
Jaejoong menggelengkan kepalanya, tiba-tiba merasa bersalah kepada Changmin, karena semalam dia bahkan sama sekali tidak memikirkan tentang lelaki itu...
“Dia belum menghubungiku, mungkin aku akan menghubunginya nanti dan meminta maaf kepadanya.”
Yunho memasang wajah tanpa ekspresi, “Sampaikan permintaan maafku kepadanya juga. Kurasa aku memang keterlaluan, kemarin. Aku sedikit marah karena kau menemuinya tanpa pamit kepadaku, dan aku melampiaskan kemarahan kepadanya.”
Dan kenapa Yunho perlu merasa marah karena Jaejoong menemui Changmin tanpa berpamitan kepadanya?
“Akan kusampaikan kepada Changmin oppa nanti.” Gumam Jaejoong setengah gugup,
“Kapan kita akan berlatih nanti?” Jaejoong mengalihkan pembicaraan, merasa tidak nyaman membicarakan Changmin dengan Yunho.
Yunho bersedekap, “Segera, mungkin nanti setelah kau menyelesaikan sarapanmu.”
Ada senyum di sudut bibirnya ketika melihat Jaejoong beranjak dari sofa dan tidak nyaman,
“Kau mau pergi ke mana Jaejoong?”
“Aku akan kembali ke kamar, dan mempersiapkan diri sebelum latihan.” Jaejoong menjawab cepat, merasa gugup tiba-tiba.
Yunho hanya diam ketika Jaejoong beranjak pergi meninggalkannya, tetapi ketika Jaejoong sudah di ambang pintu, Yunho memanggilnya.
“Jaejoong?”
Jaejoong menolehkan kepalanya sambil mengerutkan keningnya, “Iya Yunho?”
Lelaki itu duduk di sana, benar-benar tampan seperti pangeran hedonis yang sempurna, dengan tangan bersedekap dan tatapan mata tajam. Dan kata-kata yang keluar dari bibirnya sangat mengejutkan.
“Kurasa aku jatuh cinta kepadamu.”
.
.
.
.
To Be Continue

3 comments:

  1. Duh gemes banget sama mereka berdua hahahahahaha. Kalau saling suka ya bilang ajaaaaa :'D semangat terus ya kak sakiiii

    ReplyDelete
  2. Anonymous10:06 AM

    ahhhh aku suka semua ff nya saki kanapa ga di publish di ffn or watpat ...

    oya ada yang bikin aku bingung adik nya yunho . yg awalnya junsu jadi jihye terus jadi junsu lg ... jadi bikin bingung aja

    cepet update ya ...

    ReplyDelete
  3. Kyaaaaa.....
    Akhirnya yunho ngeluarin kalimat sakti itu jg...

    ReplyDelete