Saturday, October 24

[REMAKE] The Violiniest Chapter XVII



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

Chapter 17.

Pagi harinya, direktur akademi musik yang juga adalah ayah Changmin datang bertamu, Yunho menemuinya di ruang tamu keluarganya.
“Bagaimana kondisi tanganmu, Yunho?” sang direktur rumah sakit, Mr. Park, bertanya dengan hati-hati.
Yunho menyandarkan tubuhnya dengan santai di sofa, tersenyum dengan ekspresi datar.
“Aku pasti akan bisa bermain biola lagi.”
Mr. Park menganggukkan kepalanya, “Aku percaya kau akan pulih seperti semula Yunho, kau adalah pemain yang sangat berbakat dan tiada duanya di dunia ini. Lagipula, konser tunggal yang sedianya akan diadakan untuk menghormatimu akan berlangsung bulan depan. Kau tidak melupakannya kan?”
Terus terang Yunho melupakannya. Dia terlalu sibuk dengan segala hal yang terjadi di sekitarnya hingga lupa bahwa bulan depan akan ada even penting baginya.
Konser itu sudah direncanakan sekian lama, hampir setahun yang lalu, sebuah konser besar di gedung orkestra terbesar dinegara ini, dengan menggandeng tiga orkestra terkenal untuk mendampingi Yunho memainkan konser violin tunggalnya. List tamunya bahkan sudah penuh sampai mencapai daftar tunggu yang begitu lama, kebanyakan dipenuhi oleh orang-orang hebat di dunia musik, dalam dan luar negeri.
Konser tunggal dari Yunho amat sangat ditunggu-tunggu, sebuah kesempatan langka untuk mendengarkan permainan jenius sang violinist yang mungkin tidak ada duanya di dunia ini.
Dan Yunho melupakannya, dia mengerutkan keningnya. Konser itu menambah tekanan di dalam dirinya, itu berarti dia punya batas waktu untuk menyempurnakan kesembuhannya. Dia harus sembuh dengan sempurna untuk menghadapi konser tersebut.
“Aku pasti akan siap.”
Yunho tersenyum, menutupi perasaannya dan memasang wajah tenang.
Mr. Park menatap Yunho dengan serius.
“Yunho, kau tidak boleh memaksakan diri, aku tahu bahwa luka di urat tangan bagi seorang pemain biola sangat krusial hingga kadang memerlukan waktu yang lama untuk pulih kembali. Kalau kau memang belum siap, aku bisa mengusahakan untuk memundurkan konser besar itu...”
“Aku siap.”
Yunho menjawab mantap. Dia tidak akan menyerah pada rasa sakitnya dan berlama-lama meratapi diri, konser tunggal yang akan dilakukan bulan depan akan menjadi pendorong yang sangat bagus bagi kesembuhannya. Lagipula Yunho tidak ingin mengobarkan api pada gosip yang telah kian memanas. Di luar sana, spekulasi bertebaran di mana-mana, semua mempertanyakan kemampuan Yunho bermain biola, kalau konser itu sampai diundur, semua orang pasti akan berkesimpulan bahwa Yunho kehilangan kemampuannya bermain biola.
Lelaki itu tersenyum. Ini kesempatan bagus, dia akan menggunakan konser itu untuk menjawab semua pertanyaan yang bertebaran.
.
.
.
Jaejoong segera mengangkat teleponnya ketika melihat Changmin yang menelepon ponselnya.
“Halo oppa?”
“Halo Jaejoongie.” Suara Changmin tampak tenang dan lembut seperti biasa,
“Apa kabarmu? Kenapa kau tidak memberi kabar?”
Jaejoong tersenyum, merasa bersalah. Biasanya dia memang selalu menelepon Changmin atau setidaknya mengirimkan pesan, tetapi kemarin dia terlalu disibukkan dengan penyesuaian dirinya tinggal di rumah Yunho, pun dengan perasaannya yang terus menerus cemas akan kemampuan Yunho bermain biola lagi, membuat dia hampir-hampir tidak memikirkan Changmin sama sekali.
“Maafkan aku oppa, agak sibuk di sini. Tetapi aku sehat-sehat saja.” Gumam Jaejoong ceria.
Sejenak hening di luar sana, lalu Changmin bergumam,
“Kau kerasan ya di sana? Di rumah Yunho?”
Jaejoong mengangkat bahunya, “Aku diperlakukan dengan baik di sini.”
Seketika Jaejoong mengajukan pertanyaan, menyadari ada yang berbeda di balik suara Changmin,
“Ada apa oppa? Kau tampaknya banyak pikiran?”
Changmin menghela napas panjang, “Yah... aku.. entahlah Jaejoong. Ini tentang Kyuhyun, aku rasa hubungan jarak jauh ini tidak berhasil. Pada awal-awal kami begitu yakin kami bisa, berusaha menjaga komunikasi sebaik mungkin, tetapi kemudian semua terasa melelahkan..... entahlah, lama kelamaan kami lelah untuk berkomunikasi, kadang-kadang bahkan seharian aku tidak mendengar kabar dari Kyuhyun.”
Jaejoong tercenung, menelaah perasaannya mendengar perkataan Changmin itu. Seharusnya, karena dia mencintai Changmin dia boleh merasa senang kalau mendengar ada gangguan dari hubungan Changmin dan Kyuhyun, itu berarti ada kesempatan baginya untuk memasuki hati Changmin. Tetapi entah kenapa Jaejoong tidak merasa senang, mungkin karena suara pedih Changmin, membuatnya ikut merasa sedih dan prihatin.
“Hubungan jarak jauh memang berat, meskipun aku sendiri belum pernah merasakannya.”
Jaejoong menghela napas panjang, “Tetapi kalau kalian bisa menjalankannya dengan penuh tekad, kalian pasti bisa melakukannya.”
Jaejoong bisa membayangkan Changmin tersenyum miris di seberang sana,
“Yah. Mungkin memang tekadku dan Kyuhyun masih kurang.” Gumamnya,
“Bagaimana dengan kau sendiri, Jaejoong? Bagaimana hubunganmu dengan Yunho?”
Changmin tentu saja masih mengira bahwa Jaejoong dan Yunho adalah sepasang kekasih... tiba-tiba saja Jaejoong merasakan dorongan untuk mengatakan semuanya kepada Changmin, bahwa dia dan Yunho hanyalah berpacaran pura-pura.
Kalimat itu sudah ada di ujung bibirnya, tetapi langsung membeku ketika mata Jaejoong menangkap kehadiran Yunho di ambang pintu. Yunho berdiri di sana, bersandar di ambang pintu dan menatap Jaejoong dengan pandangan memperingatkan.
Mau tak mau Jaejoong mengucapkan kebohongan lagi kepada Changmin.
“Hubungan kami baik-baik saja.” Gumam Jaejoong,
dipenuhi oleh rasa bersalah karena harus membohongi Changmin.
“Oh.”
Changmin tampak kehabisan kata-kata, lelaki itu berkali-kali menghela napas sebelum berbicara.
“Aku senang hubungan kalian baik-baik saja.” Gumamnya tenang,
sedikit ragu, “Jaejoong, aku merindukanmu, aku ingin bercakap-cakap denganmu, seperti kita dulu, saling berbagi perasaan dan bercerita untuk menenangkan pikiran, kira-kira, bisakah kau menyempatkan diri keluar dari rumah Yunho dan menemuiku? Mungkin kita bisa bertemu di cafe langganan kita.”
Jaejoong tersenyum lembut, ‘Tentu saja bisa oppa.”
Matanya melirik ke arah Yunho yang masih mengamatinya dari ambang pintu,
“Aku akan mengusahakan waktunya.”
“Oke. Terimakasih, Jaejoongie.” Changmin lalu mengakhiri percakapannya.
Dan Jaejoong memasukkan ponselnya di saku bajunya, mengangkat alisnya sambil menatap Yunho yang balas menatapnya penuh arti.
‘Kenapa?” gumamnya langsung kepada Yunho.
Yunho tersenyum, lalu melangkah memasuki ruangan, dan duduk di sofa tepat di depan Jaejoong.
“Dia mulai mengejarmu, ya?”
Jaejoong mengerutkan keningnya,
“Changmin tidak mengejarku, dia sedang menceritakan permasalahannya dengan Kyuhyun.”
“Oh ya? Ada masalah apa?”
“Mereka menjalani hubungan jarak jauh.” Suara Jaejoong berubah prihatin,
“Dan entah kenapa itu tidak berjalan dengan baik, Changmin merasa kalau dia dan Kyuhyun mulai kehilangan komunikasi.”
“Hmmm.”
Yunho merenung sejenak, lalu menatap Jaejoong dalam senyuman,
“Apakah kau sadar Jaejoong? Bila seorang namja mulai membicarakan permasalahan hubungannya dengan kekasihnya, berarti namja itu sedang berusaha mengambil hatimu. Kau pernah dengar tidak, suami-suami yang mendekati selingkuhannya, mereka biasanya menarik perhatian yeoja lain itu dengan berkeluh kesah tentang kekurangan isterinya, tentang ketidakbahagiaannya dengan hubungan yang sedang dijalananinya, suami-suami itu akan bersikap sebagai korban, hingga memancing si yeoja yang diincarnya agar terdorong menjadi sang penyelamat.”
Jaejoong menatap Yunho tidak setuju,
“Changmin oppa tidak sedang menarik perhatianku, dia benar-benar sedang bermasalah dengan Kyuhyun. Aku mengenal Changmin oppa sudah sejak dulu kala dan kami memang terbiasa saling bertukar pikiran.
Yunho menatap Jaejoong dengan ekspresi datar,
“Terserah pendapatmu Jaejoong. Aku hanya bisa memberimu satu saran, jangan bersikap terlalu mudah kalau kau memang ingin mendapatkan Changmin, semakin sulit kau didapatkan, semakin kuat seorang lelaki ingin mengejarmu.”
Lelaki itu menatap Jaejoong dengan tajam, “Aku dengar dia mengajakmu bertemu, apakah kau akan melakukannya?”
Jaejoong mengangkat dagunya, “Kalau ya, apa hubungannya denganmu?”
“Kau kekasihku.”
Dalam sedetik lelaki itu bergumam, menatap Jaejoong dengan kuat. Tetapi ketika melihat ekspersi terkejut Jaejoong, Yunho berdehem,
“Maksudku... kau adalah kekasihku di mata semua orang selama ini, jadi kalau kau melakukan pertemuan dengan lelaki lain, mungkin beberapa orang akan bertanya-tanya.”
Jaejoong mengamati Yunho, merasa bingung karena pipi Yunho sepertinya merona, entah kenapa,
“Tidak akan ada yang berpikir tidak-tidak kalau aku menemui Changmin oppa, dia kan temanku sejak kecil.”
Yunho menggelengkan kepalanya, memasang wajah tidak setuju,
“Tidak Jaejoong, pokoknya, kalau kau hendak menemui Changmin, kau harus bersamaku.” Gumamnya keras kepala.
Jaejoong mengerutkan keningnya semakin dalam, menatap ekspresi wajah Yunho yang keras kepala, bagaimana mungkin dia menemui Changmin dengan membawa Yunho? Bukankah Changmin  ingin menemuinya dengan tujuan untuk bertukar pikiran? Bagaimana mungkin itu bisa dilakukan kalau ada Yunho di tengah-tengah mereka?
.
.
.
Ketika melangkah ke luar ruangan itu dan meninggalkan Jaejoong, Yunho merasa ada yang bergolak di dalam dirinya. Rasanya hampir seperti.... 
cemburu.
Membayangkan Jaejoong menemui Changmin dan mereka menghabiskan waktu berduaan, rasanya tidak menyenangkan bagi benak Yunho. Dia tidak suka.
Dan kenapa dia tidak suka?
Seharusnya Yunho tidak peduli dengan siapa Jaejoong menghabiskan waktu bersama, seharusnya Yunho tidak peduli siapa lelaki yang dipuja Jaejoong. Seharusnya Yunho tidak peduli.
Tetapi dia peduli.
Apakah jangan-jangan sandiwara ini sudah menjadi serius untuknya?
Tetapi bagaimana bisa? 
Bagaimana mungkin hatinya tercuri oleh seorang anak perempuan yang masih bisa dibilang remaja? Anak perempuan berumur delapan belas tahun, jauh di bawah usianya yang dua puluh enam tahun dan bisa dibilang lebih pantas sebagai adiknya?
Yunho menghela napas panjang, merasa kesal dengan apa yang berkecamuk di pikirannya.
.
.
.
Konser itu tentu saja juga bisa digunakan Yunho untuk memuluskan rencananya terhadap Ahra, semula dia berencana memancing kecemburuan Ahra, supaya perempuan itu bertindak gegabah, tetapi sepertinya hal itu memerlukan waktu yang cukup lama, padahal Yunho sudah tidak sabar untuk segera membuat Ahra tertangkap basah dan dihukum atas perbuatannya.
Konser itu mengubah rencananya, dia bisa menggunakannya untuk memancing Ahra dengan cara lain.
Jadi ketika berada di kamarnya, dia menelepon Ahra.
“Yunho!”
suara Ahra meninggi dan langsung mengangkat ponselnya pada deringan pertama ketika tahu bahwa Yunholah yang menelepon.
“Ada apa sayang?”
Yunho sedikit menggertakkan giginya, tetapi menahan diri,
“Aku akan mengadakan konser tunggal bulan depan, setelahnya tentu saja akan ada pesta perayaan, dan aku ingin kau menjadi pendamping resmiku.”
“Kau ingin aku menjadi pendampingmu?” kali ini suara Ahra setengah menjerit, dipenuhi rasa girang.
“Tentu saja, aku tidak punya perempuan lain yang kurasa lebih pantas untuk mendampingiku, selain dirimu, Ahra.”
Napas Ahra tercekat mendengar suara Yunho yang merayu,
“Terimakasih Yunho, aku pasti akan berdandan secantik mungkin hingga membuatmu bangga membawamu sebagai pendampingmu.” Gumamnya penuh semangat,
“Sebulan lagi ya? Apakah kau sudah sembuh, Yunho?”
“Aku sudah sembuh.” Jawab Yunho cepat, “Tetapi ada sedikit masalah.”
Masalah? Masalah Apa?”
Yunho menghela napas panjang, berusaha tampak terganggu,
“Kehadiran Jaejoong. Semua orang tampaknya berusaha menjodohkanku dengannya, padahal aku hanya menganggapnya sebagai murid istimewaku, eommaku juga memaksaku membawa Jaejoong ke konser itu. Maafkan aku Ahra atas sikapku di telepon kemarin itu, aku bersikap kasar padamu seolah-olah akan meninggalkanmu karena tertarik pada Jaejoong, sebenarnya waktu itu aku terpaksa karena dipaksa oleh eommaku yang sangat ingin menjodohkanku dengan Jaejoong. Semula aku berniat mengikuti kemauan eommaku, tetapi aku terus memikirkanmu. Aku tidak mau dipaksa membawa Jaejoong ke pesta, padahal aku ingin membawa dirimu, aku bingung bagaimana cara menyingkirkan Jaejoong.”
“Menyingkirkan Jaejoong?” Ahra tampak terkejut dengan kata-kata Yunho.
“Ya, menyingkirkan Jaejoong, supaya aku tidak berkewajiban membawa Jaejoong sebagai pasangan resmiku di pesta setelah konser tersebut. Kau tahu rasanya malas sekali membawa anak remaja ke sebuah pesta, berbeda kalau aku membawamu, seorang yeoja dewasa yang matang dan begitu cantik.”
Yunho sengaja menyelipkan nada merayu di dalam suaranya, membuat napas Ahra tercekat.
“Aku.. aku mungkin bisa membantumu, Yunho.” Gumam Ahra cepat, kehilangan kewaspadaannya.
Yunho tersenyum lebar, menyadari bahwa pancingannya kepada Ahra hampir mengenai sasaran.
“Aku tahu kau pasti bisa mengusahakannya Ahra, mengingat betapa inginnya aku membawamu sebagai pasanganku di pesta itu.”
.
.
.
Jaejoong menatap dirinya di cermin dan tersenyum, penampilannya tampak sedikit feminim dengan rok corak daun anggur dengan warna serupa musim gugur.
Dia akan menemui Changmin hari ini.
Yah biarpun Yunho melarangnya, Jaejoong pikir, dia boleh-boleh saja menemui Changmin, toh Changmin adalah teman masa kecilnya, kecemasan Yunho tidak beralasan, dia menemui Changmin kan bukan untuk bermesraan di muka umum atau apa, dia menemui Changmin untuk bertukar pikiran. Lagipula, lama sekali rasanya dia tidak bertemu dengan lelaki itu..
Jaejoong melangkah keluar kamar, dan hampir bertabrakan dengan ibu Yunho yang kebetulan lewat di lorong.
Ibu Yunho mengamati penampilannya dan tersenyum lembut,
“Cantik sekali.” Gumamnya memuji. “Mau kemana, Jaejoong?”
Tiba-tiba saja Jaejoong merasa gugup, dia tersenyum sedikit malu-malu,
“Eh, saya akan menemui teman saya.”
“Oh, hati-hati kalau begitu.” Gumam sang ibu ramah,
lalu mengangkat alisnya, “Kau tidak meminta Yunho menemanimu?”
Jaejoong langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Ti. Tidak, tidak perlu, Yunho sepertinya sedang beristirahat.”
Dan kemudian, menghindari pertanyaan lebih lanjut, Jaejoong mengucapkan kata-kata perpisahan basa-basi dan kemudian buru-buru berpamitan.
.
.
.
“Jaejoong tampak cantik sekali tadi.”
Sang ibu meletakkan kue berisi biskuit ke samping meja tempat Yunho duduk., Yunho sedang ada di ruang baca dan membaca, dan seperti biasanya, ibunya selalu menyediakan biskuit buatan sendiri sebagai teman Yunho membaca.
Yunho mengangkat matanya dari buku dan menatap ibunya,
“Jaejoong?” dia mengerutkan kening,
“Apakah dia berdandan? Memangnya dia mau ke mana?”
Sang ibu mengerucutkan bibirnya, “ Lho, kau tidak tahu, Yunho? Jaejoong tadi buru-buru pergi, katanya mau bertemu dengan temannya, aku bertanya kenapa dia tidak minta kau antar, tetapi katanya kau sedang beristirahat, jadi kupikir kau sudah tahu kalau Jaejoong keluar.”
Seketika itu juga Yunho menggertakkan giginya. Sialan. Dasar Jaejoong, Perempuan itu tidak mengindahkan peringatannya dan memilih untuk menemui Changmin tanpa seizinnya.
Pasti, tidak terbantahkan lagi, Jaejoong pasti pergi menemui Changmin. Hal itu membuatnya menahankan rasa terbakar di dalam dadanya, membayangkan Jaejoong sedang berduaan dengan Changmin.
Selain itu, ada rasa cemas yang menyeruak di dadanya. Yunho sudah berhasil memancing Ahra supaya berusaha melenyapkan Jaejoong, demi menjebak Ahra dalam misinya. Hal itu berarti sampai Yunho berhasil menjebak Ahra, Jaejoong selalu dalam kondisi terancam.
Jaejoong tidak boleh lepas dari penjagaan Yunho!
.
.
.
.
To Be Continue

2 comments:

  1. Duh Yunho mulai baper nih yaaaaa. Semoga JJ baik baik aja, aku khawatir takut JJ kenapa-napa T.T

    ReplyDelete
  2. Ish! Itu Jj ceroboh bgt sih, udah dibilangin ga boleh kemana2 jg.
    Mudah2an ahra ga macem2.
    Mudah2an jg rencananya yunho yg mau ngejebak ahra berhasil.

    ReplyDelete