Wednesday, October 7

[REMAKE] The Untittled Story Chapter XXVII



Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Chapter 27
"Yunnie."
Ia mengangkat kepalanya. Wajahnya basah oleh air mata. Aku tidak akan menghapus mereka. Mereka mewakili sebuah tujuan. Aku berdiri dan melepaskan kancing kemejaku kemudian kuloloskan agar bisa aku geletakkan diatas ranjang. Aku kemudian melempar braku ke sembarang arah. Mata Yunho tak pernah meninggalkan tubuhku. Kebingungan di wajahnya dapat diduga. Aku tidak bisa menjelaskan hal ini. Aku hanya membutuhkannya.
Aku mendorong turun celana pendek yang kukenakan dan melangkah keluar dari celana tersebut. Kemudian melepaskan sepatuku dan perlahan melepas celana dalamku. Setelah aku benar-benar telanjang. Aku melangkah keatas mengangkangi kaki Yunho. Tangannya segera membungkus di sekelilingku dan ia membenamkan wajahnya di perutku. Daerah yang basah oleh air matanya terasa dingin pada kulitku menyebabkan aku menggigil.
"Apa yang kau lakukan, Boo?" Yunho bertanya sambil sambil sedikit menarik diri hanya agar dapat menengadah menatapku. Aku tidak bisa menjawab itu.
Aku mencengkeram kemejanya dan menariknya hingga ia mengangkat tangannya dan membiarkanku menariknya hingga terlepas melalui kepalanya dan melemparkannya ke samping. Merosot hingga aku terduduk diatas pangkuannya, aku menyelinapkan tanganku ke belakang kepalanya dan menciumnya. Perlahan. Ini adalah terakhir kalinya. Tangan Yunho berada di rambutku dan ia segera mengambil alih. Setiap belaian lidahnya lembut dan santai. Ia tidak lapar dan menuntut. Mungkin ia sudah tahu ini adalah selamat tinggal. Itu tidak berarti harus keras dan cepat. Ini merupakan kenangan terakhir yang aku akan miliki bersamanya. Tentang kami. Satu-satunya kenangan yang tidak berisi kebohongan. Sekarang hanya kebenaran yang ada diantara kami.
"Apakah kau yakin?" Yunho berbisik di mulutku saat aku bergoyang melawan ereksi yang aku rasakan di bawah celana jinsnya.
Aku hanya sanggup mengangguk.
Yunho mengangkatku dan membaringkanku di atas tempat tidur sebelum melepaskan sepatu dan celana jinsnya. Ia merangkak di atasku saat wajahnya yang berbayang mengamatiku.
"Kau adalah wanita paling cantik yang pernah aku lihat. Di dalam dan di luar." Bisiknya saat ia menghujani ciuman di wajahku sebelum menarik bibir bawahku ke dalam mulutnya dan kemudian dihisap.
Aku mengangkat pinggulku. Aku membutuhkannya di dalam. Aku akan selalu membutuhkannya di dalam tapi ini akan menjadi terakhir kalinya dia berada di dalamku. Ini dekat. Tidak akan ada yang pernah sedekat ini lagi. Tidak seorangpun.
Yunho menjalarkan tangannya menyusuri tubuhku meluangkan waktu untuk menyentuh setiap bagian. Seolah-olah ia sedang menghafalkanku. Aku melengkung ke dalam tangannya dan memejamkan mataku membiarkan rasa dari tangannya menandai diriku.
"Aku sangat mencintaimu,"
Dia menyumpah saat kepalanya menunduk untuk mencium pusarku. Aku membiarkan kakiku jatuh terbuka sehingga ia dapat bergerak diantaranya.
"Apakah aku perlu memakai kondon?" tanyanya, bergerak kembali keatas tubuhku.
Ya, dia harus menggunakannya. Tidak boleh mengambil resiko. Lagi-lagi, aku hanya mengangguk.
Ia berdiri untuk mengambil celana jinsnya dan menarik keluar sebuah kondom dari dompetnya. Aku melihatnya merobek pembungkusnya hingga terbuka kemudian diselipkannya dari ujung kepala kejantanannya hingga menutupi keseluruhan hingga pangkalnya. Aku tidak mencium dia disana, di kejantanannya. Aku pernah memikirkannya tetapi aku tidak memiliki keberanian. Sesuatu yang memang harus tetap tidak diketahui.
Yunho menyusurkan tangannya ke dalam kakiku dan kemudian dengan perlahan mendorongnya hingga terbuka lebih lebar.
"Ini akan selalu menjadi milikku," katanya penuh dengan keyakinan.
Aku tidak mengoreksinya. Tidak ada gunanya. Memang tidak akan pernah menjadi milik orang lain. Setelah hari ini, aku hanya akan menjadi milik diriku sendiri.
Yunho menurunkan tubuhnya diatasku hingga aku bisa merasakan kepala ereksinya menekanku.
"Tidak pernah terasa senikmat ini. Tidak akan pernah ada yang senikmat ini," dia mengerang kemudian meluncur memasuki diriku.
Otot-otot kewanitaanku meregang menerima kejantanannya. Aku melingkarkan tanganku di sekeliling lengannya dan berteriak ketika ia mengisiku sepenuhnya. Perlahan, ia bergerak keluar dan mengayun kembali untuk memasukiku. Matanya tak pernah meninggalkanku. Aku mengunci tatapannya. Aku bisa melihat badai di dalam matanya. Aku tahu dia bingung. Aku bahkan dapat melihat ketakutan. Kemudian ada cinta. Aku melihatnya. Keganasan di matanya. Aku mempercayainya. Aku percaya itu. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Tetapi itu sudah terlambat sekarang. Cinta tidaklah cukup. Setiap orang selalu mengatakan bahwa cinta saja sudah cukup. Itu tidak cukup. Tidak ketika jiwamu telah hancur berkeping-keping.
Aku menyelipkan kakiku di seputaran pinggulnya dan kemudian membungkuskan lenganku di sekeliling lehernya. Dekat. Aku butuh dekat dengannya. Nafasnya terasa hangat di leherku saat ia menekankan ciuman pada kulit yang lembut disana. Ia membisikkan kata cinta dan janji-janji yang tidak akan pernah bisa dipatuhi Aku membiarkannya. Hanya untuk terakhir kalinya.
Kenikmatan yang terbangun telah mencapai puncaknya ketika Yunho melayangkan sebuah ciuman di bibirku dan berkata, "Hanya kau."
Aku tidak berpaling saat aku memeluknya erat dan membiarkan aliran perasaan bahagia yang utuh menyelubungiku. Mulut Yunho terbuka dan sebuah geraman keras menggetar dadanya saat ia memompaku dua kali lagi dan kemudian dia diam terpaku. Sorot matanya tidak pernah meninggalkan mataku.
Kami berdua bernapas dengan cepat dan keras ketika aku mengatakan semua yang ingin aku katakan tanpa harus mengeluarkan kata-kata. Semuanya tersirat di dalam mataku. Jika ia melihat cukup dekat.
"Jangan lakukan ini, Boo," dia memohon.
"Selamat tinggal, Yunnie."
Yunho menggelengkan kepalanya. Ia masih terkubur jauh di dalam diriku.
"Tidak. Jangan kau lakukan ini pada kita."
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku membiarkan tanganku jatuh terkulai ke sisiku dan kakiku menyelinap menuruni pinggangnya sehingga aku tidak lagi menempel  padanya. Aku tidak ingin berdebat dengannya.
"Aku tidak sempat mengucapkan salam perpisahan pada saudari kembarku atau eommaku. Salam perpisahan terakhir yang tidak pernah bisa aku dapatkan. Ini adalah perpisahan terakhir yang aku butuhkan. Ini adalah sekali diantara kita tanpa ada kebohongan."
Yunho mencengkeram selimut di bawahku dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya.
"Tidak. Tidak. Kumohon, jangan."
 Aku ingin mengulurkan tanganku dan menyentuh wajahnya. Untuk mengatakan padanya semua akan baik-baik saja. Dia akan melangkah maju untuk meneruskan hidup dan melupakan semua ini. Mengenai kami. Tapi aku tidak mampu melakukan itu. Bagaimana aku bisa menghiburnya jika aku merasa hampa di dalam?
Yunho menarik keluar kejantanannya dariku dan aku meringis pada kekosongan yang bergema di seluruh tubuhku. Ia berdiri dan tidak memandangku. Aku menatap dalam keheningan saat ia mulai berpakaian. Inilah saatnya. Apakah kehampaan harus terasa menyakitkan? Kapankah rasa sakit akan berhenti timbul?
Setelah mengenakan kemejanya dia mengangkat matanya untuk menatapku. Aku duduk dan menarik lututku terhadap dadaku untuk menutupi ketelanjanganku dan untuk menahan diriku. Aku takut aku akan benar-benar hancur.
"Aku tidak dapat membuatmu memaafkanku. Aku tidak pantas mendapatkan pengampunan darimu. Aku tidak dapat mengubah masa lalu. Yang dapat kulakukan adalah memberikan apa yang kau inginkan. Jika ini yang kau inginkan, aku akan pergi, Boo. Ini akan membunuhku tapi aku akan melakukannya."
Apa lagi yang mungkin bisa terjadi? Aku tidak akan pernah sama lagi. Gadis yang ia cintai sudah tidak ada lagi. Ia akan segera mengetahuinya jika dia tinggal. Aku tidak memiliki masa lalu. Aku tidak mempunyai dasar. Semua itu telah lenyap. Tidak ada yang masuk akal dan aku tahu itu tidak akan pernah. Yunho pantas mendapatkan lebih.
"Selamat tinggal, Yunho," sahutku untuk terakhir kalinya.
 Rasa sakit yang bergelayut di matanya tidak mampu kuhadapi. Aku menjatuhkan padanganku darinya dan mempelajari selimut bermotif kotak-kotak yang berwarna biru di bawahku.
Aku mendengarkan saat ia berjalan menuju pintu. Suara langkah kakinya teredam di karpet tua pudar. Kemudian pintu terbuka dan sinar rembulan menerangi ke dalam kamar yang gelap. Ada jeda. Aku bertanya-tanya apakah dia akan mengatakan hal lain. Aku tidak ingin ia melakukannya. Setiap kata yang dia katakan hanya membuat ini menjadi lebih sulit.
Pintu menutup. Aku mengangkat mataku untuk melihat kamar motel yang kosong di sekelilingku. Perpisahan itu tidak sebaik yang orang-orang katakan. Aku tahu itu sekarang.
"Bukan dia yang menyebabkan aku lari. Dialah yang menjadi alasanku ingin tinggal."
.
.
.
.
END
Hola, akhirnya selesai juga. Novel ini sebenarnya Trilogi, Dan ini ending dari season 1. Bagi penyuka Hurt, Angst bacanya sampai chapter Ini aja oke.
Buat penyuka Happy end, selamat menunggu Saki buat selesaiin Season 2 dan 3 oke.
See Ya,….

3 comments:

  1. Kereeenn,,,,,?!!!!
    Lanjuut dong???

    ReplyDelete
  2. Kereeenn,,,,,?!!!!
    Lanjuut dong???

    ReplyDelete
  3. Berpisaaahhhhh.
    Ayo yg happy nya nihhh,,,
    Saki,, lanjutannya ditunggu

    ReplyDelete