Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara
orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong
membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya
agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
"Yunnie."
Ia mengangkat kepalanya. Wajahnya basah
oleh air mata. Aku tidak akan menghapus mereka. Mereka mewakili sebuah tujuan.
Aku berdiri dan melepaskan kancing kemejaku kemudian kuloloskan agar bisa aku
geletakkan diatas ranjang. Aku kemudian melempar braku ke sembarang arah. Mata Yunho
tak pernah meninggalkan tubuhku. Kebingungan di wajahnya dapat diduga. Aku
tidak bisa menjelaskan hal ini. Aku hanya membutuhkannya.
Aku mendorong turun celana pendek yang
kukenakan dan melangkah keluar dari celana tersebut. Kemudian melepaskan
sepatuku dan perlahan melepas celana dalamku. Setelah aku benar-benar
telanjang. Aku melangkah keatas mengangkangi kaki Yunho. Tangannya segera
membungkus di sekelilingku dan ia membenamkan wajahnya di perutku. Daerah yang
basah oleh air matanya terasa dingin pada kulitku menyebabkan aku menggigil.
"Apa yang kau lakukan, Boo?" Yunho
bertanya sambil sambil sedikit menarik diri hanya agar dapat menengadah
menatapku. Aku tidak bisa menjawab itu.
Aku mencengkeram kemejanya dan menariknya
hingga ia mengangkat tangannya dan membiarkanku menariknya hingga terlepas
melalui kepalanya dan melemparkannya ke samping. Merosot hingga aku terduduk
diatas pangkuannya, aku menyelinapkan tanganku ke belakang kepalanya dan
menciumnya. Perlahan. Ini adalah terakhir kalinya. Tangan Yunho berada di
rambutku dan ia segera mengambil alih. Setiap belaian lidahnya lembut dan
santai. Ia tidak lapar dan menuntut. Mungkin ia sudah tahu ini adalah selamat
tinggal. Itu tidak berarti harus keras dan cepat. Ini merupakan kenangan
terakhir yang aku akan miliki bersamanya. Tentang kami. Satu-satunya kenangan
yang tidak berisi kebohongan. Sekarang hanya kebenaran yang ada diantara kami.
"Apakah kau yakin?" Yunho
berbisik di mulutku saat aku bergoyang melawan ereksi yang aku rasakan di bawah
celana jinsnya.
Aku hanya sanggup mengangguk.
Yunho mengangkatku dan membaringkanku di
atas tempat tidur sebelum melepaskan sepatu dan celana jinsnya. Ia merangkak di
atasku saat wajahnya yang berbayang mengamatiku.
"Kau adalah wanita paling cantik yang
pernah aku lihat. Di dalam dan di luar." Bisiknya saat ia menghujani
ciuman di wajahku sebelum menarik bibir bawahku ke dalam mulutnya dan kemudian
dihisap.
Aku mengangkat pinggulku. Aku
membutuhkannya di dalam. Aku akan selalu membutuhkannya di dalam tapi ini akan
menjadi terakhir kalinya dia berada di dalamku. Ini dekat. Tidak akan ada yang
pernah sedekat ini lagi. Tidak seorangpun.
Yunho menjalarkan tangannya menyusuri
tubuhku meluangkan waktu untuk menyentuh setiap bagian. Seolah-olah ia sedang
menghafalkanku. Aku melengkung ke dalam tangannya dan memejamkan mataku
membiarkan rasa dari tangannya menandai diriku.
"Aku sangat mencintaimu,"
Dia menyumpah saat kepalanya menunduk untuk
mencium pusarku. Aku membiarkan kakiku jatuh terbuka sehingga ia dapat bergerak
diantaranya.
"Apakah aku perlu memakai
kondon?" tanyanya, bergerak kembali keatas tubuhku.
Ya, dia harus menggunakannya. Tidak boleh
mengambil resiko. Lagi-lagi, aku hanya mengangguk.
Ia berdiri untuk mengambil celana jinsnya
dan menarik keluar sebuah kondom dari dompetnya. Aku melihatnya merobek
pembungkusnya hingga terbuka kemudian diselipkannya dari ujung kepala
kejantanannya hingga menutupi keseluruhan hingga pangkalnya. Aku tidak mencium
dia disana, di kejantanannya. Aku pernah memikirkannya tetapi aku tidak
memiliki keberanian. Sesuatu yang memang harus tetap tidak diketahui.
Yunho menyusurkan tangannya ke dalam kakiku
dan kemudian dengan perlahan mendorongnya hingga terbuka lebih lebar.
"Ini akan selalu menjadi milikku,"
katanya penuh dengan keyakinan.
Aku tidak mengoreksinya. Tidak ada gunanya.
Memang tidak akan pernah menjadi milik orang lain. Setelah hari ini, aku hanya
akan menjadi milik diriku sendiri.
Yunho menurunkan tubuhnya diatasku hingga
aku bisa merasakan kepala ereksinya menekanku.
"Tidak pernah terasa senikmat ini.
Tidak akan pernah ada yang senikmat ini," dia mengerang kemudian meluncur
memasuki diriku.
Otot-otot kewanitaanku meregang menerima
kejantanannya. Aku melingkarkan tanganku di sekeliling lengannya dan berteriak
ketika ia mengisiku sepenuhnya. Perlahan, ia bergerak keluar dan mengayun
kembali untuk memasukiku. Matanya tak pernah meninggalkanku. Aku mengunci
tatapannya. Aku bisa melihat badai di dalam matanya. Aku tahu dia bingung. Aku
bahkan dapat melihat ketakutan. Kemudian ada cinta. Aku melihatnya. Keganasan
di matanya. Aku mempercayainya. Aku percaya itu. Aku bisa melihatnya dengan
jelas. Tetapi itu sudah terlambat sekarang. Cinta tidaklah cukup. Setiap orang
selalu mengatakan bahwa cinta saja sudah cukup. Itu tidak cukup. Tidak ketika
jiwamu telah hancur berkeping-keping.
Aku menyelipkan kakiku di seputaran
pinggulnya dan kemudian membungkuskan lenganku di sekeliling lehernya. Dekat.
Aku butuh dekat dengannya. Nafasnya terasa hangat di leherku saat ia menekankan
ciuman pada kulit yang lembut disana. Ia membisikkan kata cinta dan janji-janji
yang tidak akan pernah bisa dipatuhi Aku membiarkannya. Hanya untuk terakhir
kalinya.
Kenikmatan yang terbangun telah mencapai
puncaknya ketika Yunho melayangkan sebuah ciuman di bibirku dan berkata,
"Hanya kau."
Aku tidak berpaling saat aku memeluknya
erat dan membiarkan aliran perasaan bahagia yang utuh menyelubungiku. Mulut Yunho
terbuka dan sebuah geraman keras menggetar dadanya saat ia memompaku dua kali
lagi dan kemudian dia diam terpaku. Sorot matanya tidak pernah meninggalkan
mataku.
Kami berdua bernapas dengan cepat dan keras
ketika aku mengatakan semua yang ingin aku katakan tanpa harus mengeluarkan
kata-kata. Semuanya tersirat di dalam mataku. Jika ia melihat cukup dekat.
"Jangan lakukan ini, Boo," dia
memohon.
"Selamat tinggal, Yunnie."
Yunho menggelengkan kepalanya. Ia masih
terkubur jauh di dalam diriku.
"Tidak. Jangan kau lakukan ini pada
kita."
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku membiarkan
tanganku jatuh terkulai ke sisiku dan kakiku menyelinap menuruni pinggangnya
sehingga aku tidak lagi menempel
padanya. Aku tidak ingin berdebat dengannya.
"Aku tidak sempat mengucapkan salam
perpisahan pada saudari kembarku atau eommaku. Salam perpisahan terakhir yang
tidak pernah bisa aku dapatkan. Ini adalah perpisahan terakhir yang aku
butuhkan. Ini adalah sekali diantara kita tanpa ada kebohongan."
Yunho mencengkeram selimut di bawahku
dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya.
"Tidak. Tidak. Kumohon, jangan."
Aku
ingin mengulurkan tanganku dan menyentuh wajahnya. Untuk mengatakan padanya
semua akan baik-baik saja. Dia akan melangkah maju untuk meneruskan hidup dan
melupakan semua ini. Mengenai kami. Tapi aku tidak mampu melakukan itu.
Bagaimana aku bisa menghiburnya jika aku merasa hampa di dalam?
Yunho menarik keluar kejantanannya dariku
dan aku meringis pada kekosongan yang bergema di seluruh tubuhku. Ia berdiri
dan tidak memandangku. Aku menatap dalam keheningan saat ia mulai berpakaian.
Inilah saatnya. Apakah kehampaan harus terasa menyakitkan? Kapankah rasa sakit
akan berhenti timbul?
Setelah mengenakan kemejanya dia mengangkat
matanya untuk menatapku. Aku duduk dan menarik lututku terhadap dadaku untuk
menutupi ketelanjanganku dan untuk menahan diriku. Aku takut aku akan
benar-benar hancur.
"Aku tidak dapat membuatmu
memaafkanku. Aku tidak pantas mendapatkan pengampunan darimu. Aku tidak dapat
mengubah masa lalu. Yang dapat kulakukan adalah memberikan apa yang kau
inginkan. Jika ini yang kau inginkan, aku akan pergi, Boo. Ini akan membunuhku
tapi aku akan melakukannya."
Apa lagi yang mungkin bisa terjadi? Aku
tidak akan pernah sama lagi. Gadis yang ia cintai sudah tidak ada lagi. Ia akan
segera mengetahuinya jika dia tinggal. Aku tidak memiliki masa lalu. Aku tidak
mempunyai dasar. Semua itu telah lenyap. Tidak ada yang masuk akal dan aku tahu
itu tidak akan pernah. Yunho pantas mendapatkan lebih.
"Selamat tinggal, Yunho," sahutku
untuk terakhir kalinya.
Rasa
sakit yang bergelayut di matanya tidak mampu kuhadapi. Aku menjatuhkan
padanganku darinya dan mempelajari selimut bermotif kotak-kotak yang berwarna
biru di bawahku.
Aku mendengarkan saat ia berjalan menuju
pintu. Suara langkah kakinya teredam di karpet tua pudar. Kemudian pintu
terbuka dan sinar rembulan menerangi ke dalam kamar yang gelap. Ada jeda. Aku
bertanya-tanya apakah dia akan mengatakan hal lain. Aku tidak ingin ia
melakukannya. Setiap kata yang dia katakan hanya membuat ini menjadi lebih
sulit.
Pintu menutup. Aku mengangkat mataku untuk
melihat kamar motel yang kosong di sekelilingku. Perpisahan itu tidak sebaik
yang orang-orang katakan. Aku tahu itu sekarang.
"Bukan dia yang menyebabkan aku lari.
Dialah yang menjadi alasanku ingin tinggal."
.
.
.
.
END
Hola,
akhirnya selesai juga. Novel ini sebenarnya Trilogi, Dan ini ending dari season
1. Bagi penyuka Hurt, Angst bacanya sampai chapter Ini aja oke.
Buat
penyuka Happy end, selamat menunggu Saki buat selesaiin Season 2 dan 3 oke.
See
Ya,….

Kereeenn,,,,,?!!!!
ReplyDeleteLanjuut dong???
Kereeenn,,,,,?!!!!
ReplyDeleteLanjuut dong???
Berpisaaahhhhh.
ReplyDeleteAyo yg happy nya nihhh,,,
Saki,, lanjutannya ditunggu