Thursday, October 8

[REMAKE] The Violinist Chapter IX



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
The Violiniest
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

 Chapter 9,

Yunho baru bangun tidur ketika ponselnya berbunyi. Sambil menggerutu, tangannya menggapai-gapai ponsel yang terletak di meja di sebelah ranjangnya. Suara Ahra langsung terdengar ketika Yunho mengucapkan sapaan pertamanya di ponsel,
“Pasti gara-gara Jaejoong bukan, kau meninggalkanku?”
Yunho langsung mengerutkan keningnya. Suara Ahra tampak aneh... sepertinya perempuan itu sedang mabuk. 
Apakah karena dirinya? 
Yah memang ada berbagai macam reaksi perempuan-perempuan yang dihancurkan hatinya oleh Yunho. Ada yang menangis terus menerus, ada yang marah dan mencaci maki, bahkan ada yang mengancam bunuh diri – yang akhirnya hanyalah berupa ancaman kosong. Ahra sendiri kelihatannya berbeda, perempuan itu tampaknya depresi. Yah dari semua perempuan yang pernah dipacarinya, Ahra memang yang paling tampak tergila-gila dan sangat posesif kepadanya.... mungkin karena dia memang wanita culas yang tamak.
“Bukanlah sudah kubilang tidak ada hubungannya dengan Jaejoong, Ahra? Dan kau mabuk di pagi hari, sungguh memalukan, seperti tidak ada kegiatan lain saja.”
“Memalukan?” Ahra tertawa histeris,
“Kaulah yang membuatku seperti ini. Hari-hariku selalu dipenuhi penantian untuk saat aku berjumpa denganmu, dan sekarang kau mencampakkan aku begitu saja seperti sampah!”
“Seharusnya kau tahu bahwa itu akan terjadi kepadamu ketika kau memutuskan mengambil resiko untuk memacariku.” Yunho bergumam dengan suara dingin,
“Perbaiki dirimu dan enyahlah dari hidupku!”
Setelah dengan sengaja mengucapkan kata-kata yang cukup kasar tersebut, Yunho memutuskan pembicaraan mereka.
.
.
.
Ahra menatap ponsel di tangannya dengan tatapan mata nanar. Ini bukan Yunhonya. Kenapa Yunho bersikap begitu kejam kepadanya? Kenapa Yunho berubah begitu cepat? Mencampakkan dan menyakitinya?
Ditenggaknya minuman berwarna keemasan dari botol kaca di meja riasnya. Minum adalah salah satu pelampiasannya untuk mempertahankan dirinya, kalau tidak mungkin dia sudah gila.
Mata Ahra yang kuyu setengah mabuk menatap dirinya sendiri di cermin. Meskipun penampilannya berantakan, tidak mengenakan riasan dan masih mengenakan gaun tidurnya, Ahra tahu dia tetap cantik.
Ahra memang dilahirkan cantik jelita  meskipun dia merasa dirinya kurang beruntung karena dilahirkan di keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah, ibunya yang memimpikan anaknya yang cantik bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik, sengaja membanting tulang untuk memasukkannya ke sekolah elite dengan harapan Ahra bisa menggaet salah satu lelaki kaya yang bersekolah di sana dan menjadikannya suaminya. Dan memang kecantikan Ahra membuat para lelaki tertarik kepadanya, sampai akhirnya Ahra memilih mangsa yang paling besar, seorang lelaki yang dua puluh tahun lebih tua darinya dan dijadikannya suaminya. Suaminya benar-benar membawa Ahra naik dalam kelas sosialnya, karena suaminya sangat kaya dan mempunyai pengaruh yang sangat besar di bidang musik.
Tetapi rupanya pernikahan mereka tidak bertahan lama, kelakuan Ahra yang suka mencari lelaki-lelaki muda untuk memuaskan sikap manjanya rupanya membuat suaminya muak dan menceraikannya. Untungnya Ahra punya pengacara yang cukup handal sehingga bisa menghasilkan banyak uang dari perceraiannya, toh suaminya masih saja kaya meskipun harus membayarnya dengan begitu besar. Saat ini Ahra hidup bermewah-mewah dengan harta bagian dari perceraiannya, bergonta-ganti pacar sesukanya dan menikmati masa menjandanya... sampai kemudian dia bertemu dengan Yunho.
Yunho... ah lelaki itu begitu mempesona, dengan sikap sopan dan senyumnya yang menawan... dan wajahnya itu.. kesempurnaan wajahnya mungkin bahkan telah membuat dewa dan dewi menangis karena iri....
Reputasi Yunho sudah terkenal, Ahra bahkan mengenal salah satu dari perempuan yang dicampakkan Yunho. Tetapi sikap Yunho kepadanya sangat baik dan penuh kelembutan, membuat Ahra percaya bahwa Yunho telah berubah, bahwa Yunho telah membuka hati untuknya dan bahwa Yunho benar-benar mencintainya, dan kemudian setelah sekian lama bersama Yunho, Ahra terperosok semakin dalam mencintai lelaki itu, menyerahkan seluruh hatinya tanpa perlindungan sama sekali.
Matanya masih nanar menatap bayangannya di cermin.... disentuhnya pipinya, dirasakannya kelembutan di sana. Pipinya masih halus bukan? Biasanya Ahra selalu memeriksa setiap inci kulit wajahnya dengan teliti... di usianya yang sudah berkepala tiga, dia sadar bahwa dia harus benar-benar menjaga kecantikannya.... makanya setiap dia menemukan sedikit saja keriput, Ahra langsung panik dan menghubungi dokter ahli kecantikan langganannya untuk menyuntikkan botox ataupun melakukan apapun untuk menghilangkan keriput itu.
Dia ingin tampak muda, cantik dan menarik, apalagi ketika berjalan berdampingan dengan Yunho yang luar biasa tampan. Dia ingin mereka tampak sebagai pasangan yang serasi.
Dan sebenarnya dia sudah berhasil selama ini.... sampai kemudian anak perempuan ingusan itu muncul.
Anak itu tidak cantik menurut Ahra, masih lebih cantik dirinya. Tetapi kemudaan dan kesegaran Jaejoong terasa mengancamnya, membuatnya merasa seperti perempuan tua yang sudah layu... apalagi kulit Jaejoong begitu mulus dan halus, memancarkan keranuman masa mudanya, membuat Ahra memendam rasa iri luar biasa.
Yunho pasti berpaling kepada Jaejoong karena kemudaan dan keranuman Jaejoong. Perempuan ingusan itu mungkin membuat Yunho tertarik karena berbeda dengan perempuan-perempuan yang pernah dipacari Yunho sebelumnya, dan Ahra yakin kalau Yunho meninggalkan dirinya karena Jaejoong.
Dia tidak boleh membiarkan Jaejoong memiliki Yunho. Dia akan menghancurkan Jaejoong sebelum itu terjadi.
.
.
.
Jadi apa yang akan dilakukannya hari ini?
Hari ini masih libur panjang dan dengan menyedihkan dia hampir menggunakan seluruh waktunya untuk merenung sendirian di kamar, mempelajari literatur musik klasik yang sebenarnya sudah sangat dikuasainya.
Yunho menatap dirinya di cermin dan menggerutu dalam hati. Baru kali ini dia sadar bahwa dirinya hampir tidak punya teman untuk sekedar menghabiskan hari libur bersama. Teman-temannya sudah berlabuh dan menemukan belahan jiwanya masing-masing sehingga memutuskan menghabiskan hari liburnya bersama pasangannya.
Tinggal Yunho sendirian tanpa pasangan dan tanpa cinta dalam hidupnya. Bagaimanapun juga ini adalah jalan yang dipilihnya, jalan yang penuh dengan dendam dan kebencian masa lalu, melampiaskannya kepada semua perempuan yang dirasa pantas.
Tetapi entah kenapa hatinya tidak pernah bisa puas? Semakin dia menyakiti perempuan, semakin hatinya haus untuk menyakiti lagi dan lagi. Ternyata pembalasan dendam itu tidak selalu berujung memuaskan, yang ada, jiwanya malahan terasa semakin hampa dan kosong.
Tiba-tiba saja Yunho merasa amat sangat kesepian... amat sangat kesepian.
Lelaki itu menghela napas panjang dan kemudian duduk di sofa sambil memilah-milah surat-surat yang masuk untuknya, beberapa hanyalah ucapan selamat atas kesuksesan konsernya di Austria, beberapa surat-surat penting dan kemudian dia menemukan sebuah undangan pesta perjamuan makan malam untuk nanti malam,  yang akan dilaksanakan di rumah salah seorang komposer terkenal yang merupakan sahabatnya.
Yunho langsung mendapatkan ide.
.
.
.
“Kenapa kau tidak pergi bersama Kyuhyun?”
Meskipun sakit, Jaejoong tetap bertanya kepada Changmin. Lelaki itu pagi-pagi sudah datang ke rumahnya dan sarapan bersama, ini sudah hampir jam sepuluh siang dan tidak ada tanda-tanda lelaki itu akan pergi. Saat ini mereka sedang duduk bersama di bagian belakang rumah Jaejoong, duduk di sofa nyaman dengan bantal-bantal empuk dan membaca buku. Ibu Jaejoong menyiapkan berbagai makanan kecil di piring dan sepoci limun dingin untuk mereka. Rasanya sudah lama sekali Jaejoong tidak menghabiskan hari dengan bersantai seperti ini bersama Changmin.
Oh, tentu saja Jaejoong berharap Changmin akan tinggal sampai penghujung hari, seperti yang selalu mereka lakukan bersama ketika libur panjang seperti ini. Tetapi hati kecilnya menyuruhnya bertanya. Jaejoong sudah terlalu sering terbanting harapannya atas Changmin, dan dia tidak mau mengalaminya lagi. Kyuhyun sepertinya semakin sering menyita waktu Changmin akhir-akhir ini hingga Changmin jarang punya waktu untuk Jaejoong. Yah, tetapi Jaejoong tidak bisa menyalahkan Changmin, Kyuhyun sangat cantik, feminim dan merupakan impian setiap lelaki akan perempuan idamannya, jauh bertolak belakang dengan Jaejoong yang tomboy dan seperti anak lelaki.
Changmin mencomot biskuit keju hangat buatan ibu Jaejoong dan tersenyum,
“Aku akan berada di sini sampai sore.” Gumamnya, lalu mengangkat bahunya, “Kyuhyun harus mengantarkan ayahnya ke acara resmi sampai sore, rencananya kami baru akan bertemu malam ini.”
Jantung Jaejoong serasa diremas, jadi Changmin menghabiskan waktu bersamanya hanya karena dia tidak bisa menghabiskan waktu bersama Kyuhyun?
Changmin sendiri tampaknya melihat ekspresi Jaejoong yang murung, lelaki itu tertawa, kemudian merangkul Jaejoong ke dalam pelukannya,
“Hei maafkan aku ya, akhir-akhir ini aku tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersamamu, tapi kuharap kau mau mengerti ya Jaejoong, Kyuhyun tidak lama berada di korea, dia akan kembali ke sekolahnya akhir bulan nanti, dan kami terpaksa menjalin hubungan percintaan jarak jauh.”
“Percintaan?”
satu kata itu langsung menempel di telinga Jaejoong, bagaikan belati yang ditusukkan di sana.
Changmin menganggukkan kepalanya, matanya tampak berbinar.
“Sebenarnya aku mau menceritakan kepadamu nanti, tapi aku sudah tidak sabar membagi kebahagiaanku bersamamu.”
Lelaki itu menggosok-gosokkan kedua jemarinya dengan penuh semangat,
“Kemarin aku menyatakan perasaanku kepada Kyuhyun, dan dia menerimanya.”
Kalau saat itu ada petir menyambar di depan mereka, mungkin Jaejoong tidak akan seterkejut sekarang, mulutnya menganga dan wajahnya pucat pasi.
“Jadi kalian sekarang....?”
“Yap.” Changmin tertawa,
“Akhirnya setelah penantian panjangku sejak dulu, perasaanku berbalas juga. Kyuhyun bilang sebenarnya sejak dulu dia sudah tertarik kepadaku, tetapi dia berpikir ulang karena dia akan segera bersekolah di luar negeri. Kemarin ketika pulang ke Korea, dia bertekad akan menemuiku dan menelaah perasaannya sendiri dan ternyata perasaan itu masih sama kuatnya. Kami akhirnya bertekad mencoba menjalani hubungan ini meskipun harus hubungan jarak jauh nantinya... “
“Bukankah Kyuhyun dan abojinya sudah menetap di luar negeri? Mereka kan hanya pulang kemari jika ada liburan panjang dan acara penting menyangkut pekerjaan abojinya? Akan seperti apa hubungan kalian nanti? Kalian hanya bisa bertemu minimal enam bulan sekali.”
Setelah menelan ludah dan menguatkan diri, Jaejoong mencoba memberikan pendapat layaknya seorang sahabat.
“Kan sekarang teknologi informasi sudah semakin maju, hubungan jarak jauh semakin dimudahkan, mungkin nkami akan chatting setiap malam, mengobrol lewat web camera, itu sama saja kami bertemu setiap hari bukan? Lagipula kami bertahan seperti ini tidak akan lama..”
“Maksudmu?”
jantung Jaejoong berdesir, selalu begitu ketika dia merasa akan menerima sebuah kabar buruk.
Changmin tidak memperhatikan ekspresi Jaejoong yang semakin pucat, matanya bersinar penuh tekad, memandang ke kejauhan,
“Aku sudah bilang pada aboji, aku akan menyusul Kyuhyun melanjutkan pendidikanku di luar negeri.”
Seketika itu juga, seluruh harapan sesedikit apapun yang masih tersisa di benak Jaejoong, tercabut paksa seluruhnya hingga bersih, sampai ke akar-akarnya.
.
.
.
Lelaki itu tertidur.
Jaejoong mengamati dengan sayang Changmin yang tengah tertidur pulas di sofa. Dia sendiri duduk condong di depan Changmin, memuaskan diri untuk memandangi lelaki yang dicintainya itu selagi ada kesempatan.
Changmin begitu pulasnya sehingga tatatapan memuja Jaejoong ke arahnya tidak akan mengganggu tidurnya. Jaejoong mengamati wajah Changmin yang tampan, alis matanya yang tebal, bibirnya yang indah yang selalu digunakannya untuk tersenyum, menceriakan hari-hari Jaejoong....
Sejak dia pindah ke Korea, Changmin selalu ada untuknya, menjaganya sejak kecil sampai sekarang. Changmin adalah pusat dunia Jaejoong. Dan sekarang, Changmin bilang dia akan pergi ke belahan dunia lain untuk mengejar wanita yang dipujanya, mengejar wanita beruntung itu.
Ah, betapa inginnya Jaejoong mengungkapkan perasaannya kepada Changmin, mengungkapkan kepada lelaki itu bahwa dia ada di sini, menunggu untuk dilihat, menunggu Changmin untuk menyadari cintanya. Tetapi di sisi lain Jaejoong merasa takut, Changmin begitu dekat dengannya dan sikapnya seperti menganggap Jaejoong sebagai adiknya sendiri, Jaejoong takut kalau dia mengungkapkan perasaannya, Changmin akan berubah sikap dan menjauhinya, apalagi jika Changmin memang tidak bisa membalas perasaannya, hubungan mereka pasti akan berubah menjadi kaku dan canggung...
Akan sanggupkah Jaejoong tanpa kehadiran Changmin di dekatnya?
Tiba-tiba saja dada Jaejoong terasa sesak. Matanya terasa panas..... dan kemudian, dengan nekad dan putus asa, Jaejoong menundukkan kepalanya, lalu mengecup dahi Changmin dengan lembut.
Detik yang sama sekilas sinar blitz menerpanya, membuatnya mengernyitkan kening, menolehkan kepalanya ke arah sinar itu, lalu membelalakkan matanya kaget.
Yunho tengah berdiri di pintu penghubung ruang belakang dengan ruang tengah, lelaki itu bersandar santai di ambang pintu, tersenyum mengejek kepada Jaejoong dan dijemarinya tengah memegang ponsel, ponsel yang tadi dipakainya memotret Jaejoong yang diam-diam sedang mencuri  mencium dahi Changmin yang tengah tertidur pulas!
Jaejoong langsung berdiri dengan defensif, sebelumnya dia sempat melirik cemas ke arah Changmin, dan bersyukur dalam hati karena lelaki itu masih tertidur pulas. Kemudian dengan langkah lebar, Jaejoong mendatangi Yunho dengan marah,
“Apa yang kau lakukan di sini dan kenapa kau mengambil fotoku?”
Senyum miring muncul di bibir Yunho,
“Eommamu menyuruhku masuk ke belakang dan mencarimu.”
Matanya sengaja melirik ke arah ponselnya,
“Wah sungguh foto yang menyedihkan, kau dengan penuh cinta mencium diam-diam sahabatmu... cinta bertepuk sebelah tangan, eh?”
Kata-kata Yunho langsung menyulut amarah Jaejoong, dia langsung menyerang Yunho, mencoba mengambil ponsel itu dari tangan Yunho,
“Kemarikan ponsel itu!”
Jaejoong mendesis, setengah terengah berusaha menggapai Yunho yang dengan sengaja mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan ekspresi menahan tawa. Jaejoong melihat ekspresi Yunho dan merasa jengkel luar biasa, lelaki itu pasti menertawakannya karena tubuhnya pendek seperti anak kecil, dan Yunho bertubuh tinggi, merebut ponsel itu akan percuma bagi Jaejoong, apalagi kalau Yunho mengangkat tangannya tinggi-tinggi seperti itu,
“Kau jahat! Kemarikan ponsel itu!”
“Percuma Jaejoong, kau tidak akan bisa mengambil ponsel itu dariku.”
Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya menggoda,
“Mungkin aku akan menghapusnya kalau kau mau melakukan sesuatu untukku.”
Jaejoong membelalakkan matanya, terkejut akan sikap tidak terpuji Yunho,
“Kau memerasku?”
“Bisa dibilang begitu.” Yunho sama sekali tidak tampak malu, matanya sengaja melirik ke arah sofa tempat Changmin masih tertidur pulas,
“Dan aku rasa kau tidak ingin Changmin melihat foto ini bukan? Disini wajahmu benar-benar penuh cinta, sungguh menyedihkan, mungkin Changmin akan kaget karena kau menyimpan perasaan lebih kepadanya, dan mungkin dia akan menjauhimu...”
“Oke.”
Jaejoong tidak tahan lagi mendengarnya, dia tahu apa yang dikatakan Yunho benar, dan dia takut itu akan terjadi, dijauhi Changmin karena perasaan canggung adalah hal terakhir yang diinginkannya, dia butuh bisa dekat dengan Changmin, dan kalau satu-satunya jalan adalah dalam posisi seperti saudara atau sahabatnya, maka Jaejoong tidak akan merusaknya.
“Kau ingin aku melakukan apa?”
Jaejoong menggertakkan giginya menahan marah, tetapi dia mencoba bersabar. Dia tidak bisa melawan Yunho sekarang, lelaki itu memegang kartu AS untuk mengancam Jaejoong dan sekarang sedang berada di atas angin.
“Aku ingin kau menemaniku datang ke jamuan makan malam yang akan diadakan nanti malam, sebagai pasanganku. Aku akan memperkenalkanmu sebagai murid khususku dan mungkin kita akan berduet sedikit di sana.” Yunho tersenyum,
“Sebenarnya aku sudah mendapatkan izin eommamu, tetapi aku tahu kau akan menggunakan segala cara untuk menolak ajakanku, jadi menyenangkan sekali aku bisa memaksamu melakukan apa yang kumau mulai sekarang.”
Tatapannya berubah sedikit menakutkan,
“Lakukan apa yang aku mau, Jaejoong, dan mungkin aku akan berbaik hati menghapus foto ini dari ponselku.”
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment:

  1. Yunho emang licik bgt!
    Semoga ga terjadi apa2 sama Jj..

    ReplyDelete