Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Chapter 8,
Luar
biasa...
Bukan
hanya ketampanannya saja yang mendominasi seluruh panggung, membuat seluruh
perempuan yang berdiri di depan panggung, mayoritas utama penonton
berteriak-teriak histeris di tengah hingar bingarnya musik.
Jaejoong
bahkan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak ternganga, karena ternyata
kepandaian Yunho bermain gitar tidak kalah dengan kehebatannya bermain biola. Jaejoong
memang bukan ahlinya tentang permainan gitar, dia mungkin bisa menilai dengan
mudah permainan piano atau biola seseorang, tetapi alat-alat musik di genre
musik pop dan band sama sekali bukan keahliannya. Meskipun begitu Jaejoong bisa
tahu bahwa permainan gitar Yunho sangat bagus, lelaki itu memainkan musiknya
dengan begitu mahir.
Lama kemudian Jaejoong terlarut dalam hingar bingarnya suasana, band terus
memainkan musik yang penuh energi, membawa penonton ke dalam suasananya dan
semuanya terhipnotis dengan kemampuan bermain gitar Yunho yang berpadu dengan
suara vokal Yoochun yang merdu.
Luar
biasa.... Jaejoong tidak menyadari bahwa musik dengan aliran lain bisa seindah
ini, dia selalu menganggap bahwa musik klasik adalah yang terindah... ternyata
musik aliran lain, kalau dimainkan dengan sepenuh hati, akan menciptakan nada
yang sama indahnya.
Lamunan Jaejoong
tersentak oleh gemuruh tepuk tangan yang membahana, semua penonton
berteriak-teriak histeris di bawah panggung, dan dilihatnya Yunho dan rekan
band-nya membungkukkan badan kepada seluruh penonton, membuat mereka semua
semakin histeris.
Yunho berjalan ke arah samping panggung, tempat Jaejoong masih berdiri dan terpaku, senyumnya melebar, lelaki itu hendak menghampiri Jaejoong ketika salah seorang penonton yang histeris nekad naik ke panggung,
Yunho berjalan ke arah samping panggung, tempat Jaejoong masih berdiri dan terpaku, senyumnya melebar, lelaki itu hendak menghampiri Jaejoong ketika salah seorang penonton yang histeris nekad naik ke panggung,
"Yunho!"
Teriak
perempuan itu dengan tatapan mata memuja, lalu tanpa disangka-sangka, perempuan
itu merangkulkan lengannya di leher Yunho dan mencium bibirnya dengan sekuat
tenaga.
Para
pengawal di luar panggung langsung menarik perempuan itu, berusaha memaksanya
turun. Perempuan itu meronta, menatap ke arah Yunho dan berkali-kali
meneriakkan kata-kata cinta dan pemujaan kepada lelaki itu, membuat Yunho hanya
tersenyum geli dan terus melangkah ke arah Jaejoong.
"Bagaimana
permainanku?" Yunho masuk ke samping panggung, berdiri dengan begitu
arogan seolah-olah Jaejoong wajib memujinya, sementara itu Jaejoong
mengamati Yunho dan mengernyitkan keningnya. Ada bekas lipstick di seluruh
bibir Yunho, bekas lipstick dari perempuan yang tadi menciumnya..... oh ya
ampun, lelaki ini memang terbiasa sembarangan berciuman dengan siapa saja!
"Menurutku
menarik." jawab Jaejoong sekenanya.
Yunho
mengangkat alisnya, "Menarik? hanya itu?"
Tatapan Jaejoong tampak tidak bersahabat,
Tatapan Jaejoong tampak tidak bersahabat,
"Memangnya
kau mengharapkan pujian seperti apa? bukankah kau sudah banyak menerima pujian
dari semua orang? masih belum puaskah?"
Yunho
tertawa, lalu menatap Jaejoong penuh makna,
"Kenapa
kau begitu membenciku Jaejoong? sejak awal mula sepertinya kau selalu terdorong
untuk menentangku."
lelaki
itu berjalan ke area belakang panggung, langsung menuju pintu belakang, membuat
Jaejoong terpaksa mengikutinya, dan tetap diam saja, mencoba pura-pura tidak
mendengar perkataan Yunho.
Ya, dia
sendiri tidak tahu kenapa dia bersikap antipati kepada lelaki itu, mungkin
karena kearoganan Yunho, mungkin karena sikapnya yang tidak menghormati
perempuan, atau mungkin juga karena aura lelaki itu terasa mengancam. Yunho
terlalu tampan, terlalu mempesona dan tidak segan-segan menguarkan seluruh
pesonanya itu kepada perempuan manapun. Tetapi Yunho berbahaya, dari seluruh
reputasi yang didengar oleh Jaejoong dia menyadari bahwa Yunho jahat kepada
perempuan, dia selalu memainkan hati mereka, membuat para perempuan itu
menyadari bahwa mereka sudah menaklukkan Yunho, membuat para perempuan itu
bermimpi sampai terbang tinggi, dan kemudian langsung menghempaskan mereka
begitu saja dengan hati hancur. Dibalik sikap ramah dan pesonanya, Yunho adalah
seorang pembenci perempuan. Dan Jaejoong ketakutan akan menjadi salah seorang
perempuan calon korban Yunho, tergila-gila akan pesona lelaki itu hanya untuk
dihancurkan begitu saja. Jadi, sikap ketus dan menjauhnya, mungkin adalah
estimasi dari pertahanan dirinya terhadap lelaki itu.
Tetapi
tentu saja Jaejoong tidak akan bisa menjelaskan hal itu kepada Yunho bukan?
Yunho
sendiri melirik ke arah Jaejoong yang hanya diam sambil mengikutinya, dia lalu
mengangkat bahunya dan tersenyum skepstis,
"Ah,
sudahlah. Ayo kita pulang."
gumamnya
sambil melangkah cepat-cepat menuju parkiran, membiarkan Jaejoong mengikutinya.
.
.
.
.
"Kau
tahu kenapa aku mengajakmu melihatku bermain gitar bersama band?"
Yunho
meliirik ke arah Jaejoong yang duduk di sebelahnya, dia melajukan mobilnya
dengan tenang, menembus kegelapan malam yang semakin kelam.
Jaejoong
mau tak mau menatap ke arah Yunho,
"Supaya
aku tahu bahwa seorang pemain musik harus bisa memainkan musik apa saja?"
Yunho
terkekeh, "Tidak tepat seperti itu, Jaejoong. Aku hanya ingin mengajarkan
kepadamu, bahwa musik yang indah tidak hanya dihasilkan oleh penguasaan teknik
dan keahlian. Asalkan kau punya hasrat untuk memainkannya, dan kau bisa
menghanyutkan perasaanmu ke dalam permainanmu, kau akan bisa menghasilkan musik
yang indah, entah itu dengan biola atau sebuah gitar, entah itu di musik klasik
atau aliran kontemporer."
"Apakah
kau selalu seperti itu? hanyut dalam perasaanmu ketika membawakan
musikmu?"
"Tentu
saja." mata Yunho berubah dalam,
"Aku
adalah pemain yang emosional, ketika aku marah biasanya aliran musikku akan
terdengar penuh kemarahan, ketika aku sedih aliran musikku akan terdengar penuh
kesedihan. Kau tahu, sebenarnya itu salah satu kelemahanku, dulu aku sangat
hebat bermain biola, tetapi aku tidak mampu menjaga emosiku dalam permainanku
sehingga nada yang dihasilkan tidak pernah benar."
Yunho
tersenyum tipis,
"Lalu
aku bertemu dengan salah satu mentorku di italia, dia melatihku supaya
membalikkan visiku, aku tidak memasukkan emosiku ke dalam musikku, tetapi aku
harus bisa memasukkan emosi yang ada di musik itu ke dalam perasaanku."
Tatapan Yunho
berubah serius, "Permainanmu semalam begitu penuh kesedihan, penuh emosi
dan sakit hati, kau memasukkan perasaanmu ke dalam permainanmu, membuatnya
terasa tidak pas dengan musik yang kau mainkan... sama persis dengan diriku di
waktu lampau. Aku hanya ingin memperbaikimu Jaejoong."
Jaejoong
terdiam, menyadari kebenaran kata-kata Yunho. Emosi dan permainan musik memang
sangat berkaitan, apalagi untuk permainan biola yang membawakan pesan emosi....
Jaejoong memang harus banyak berlatih....
Detik
itulah Jaejoong sadar, bahwa di balik sikap arogan dan tidak menyenangkannya, Yunho
benar-benar serius ingin mengajarinya bermain biola dengan serius.
Yah,...
mungkin Yunho tidak sejahat yang Jaejoong kira. Mungkin semua kesan Jaejoong
terhadap Yunho selama ini salah..
.
.
.
.
"Heechul
ahjumma bilang kau pulang sampai tengah malam bersama Yunho."
Changmin
bergabung bersama Jaejoong di sofa rumah Jaejoong sementara Jaejoong sedang
sibuk melahap mie goreng untuk makan siangnya. Hari ini mereka libur latihan
karena tanggal merah, dan Jaejoong juga merasa amat capek semalam, pulang
begitu larutnya di malam hari hingga dia baru bangun tengah hari.
Ibu Jaejoong
menunggu dengan cemas ketika mereka pulang kemarin, sudah siap mengomel ketika
akhirnya Jaejoong mengetuk pintu pukul dua belas malam. Tetapi kemudian Yunho
langsung muncul di belakang Jaejoong, dan seperti biasa menebarkan pesonanya
ketika meminta maaf kepada ibu Jaejoong dan menjelaskan bahwa ia mengajak Jaejoong
untuk menonton konser yang diharapkan bisa menambah pengetahuan Jaejoong. Dan
seperti yang sudah diduga, ibu Jaejoong langsung luluh dengan pesona Yunho,
bukannya memarahi Yunho karena memulangkan anak gadisnya setelah larut malam, ibu
Jaejoong malahan mengucapkan terimakasih kepada Yunho.
Bibir Jaejoong mengerucut tidak senang membayangkan sikap ibunya kemarin, membuat Changmin mengangkat alisnya,
Bibir Jaejoong mengerucut tidak senang membayangkan sikap ibunya kemarin, membuat Changmin mengangkat alisnya,
"Jaejoong,
kau mendengar perkataanku tadi?"
Jaejoong
menoleh menatap Changmin tertarik dari lamunannya dan mengangkat alisnya.
"Memangnya
kau tadi bertanya apa?"
Changmin
terkekeh, "Dasar."
jemarinya
dengan lembut mengusap kepala Jaejoong, seperti yang selalu dia lakukan sejak Jaejoong
kecil, membuatnya merasa damai dan nyaman,
"Aku
dengar dari ibumu, kau pulang sampai larut tengah malam, ibumu sempat menelepon
ke rumah menanyakan apakah kau bersama aku, tentu saja aku ikut cemas. Tadi
pagi aku menelepon dan ibumu yang mengangkat, beliau bilang kau masih tidur
karena semalam kau pulang lewat tengah malam bersama Yunho."
Tatapan Changmin
tampak menyelidik, "Apa yang Yunho lakukan kepadamu, Jaejoong?"
Jaejoong
menatap Changmin bingung, "Apa maksudmu?"
"Maksudku.."
Changmin
tampak salah tingkah,
"Well
kau kan tahu reputasi Yunho sebagai yeoja killer, dia kan berbahaya bagi yeoja
manapun, dan kau kau masih terlalu muda dan polos dibanding Yunho yang sudah
dewasa dan berpengalaman, aku cemas dia akan mempermainkanmu."
Kali ini
wajah Changmin berubah serius,
"Katakan
padaku, dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh kepadamu, bukan?"
Jaejoong
hampir saja tersedak mie yang dikunyahnya mendengar kata-kata Changmin, tetapi
kemudian dia tertawa,
"Oppa...
yang benar saja!"
Jaejoong
terkekeh, meletakkan piring mie-nya yang tiba-tiba saja terasa tidak menarik
lagi,
"Mana
mungkin Yunho mengincarku sebagai korbannya, kau tahu sendiri seleranya adalah yeoja
yang lebih tua, dari kelas atas dan kaya raya....mana mungkin dia melirikku
anak ingusan yang baru berusia delapan belas tahun?"
"Tetapi
semalam kalian pulang larut, bukankah idealnya latihan itu selesai jam sepuluh
malam?" Changmin mengerutkan dahinya.
Jaejoong
menatap Changmin dan tiba-tiba saja dadanya terasa hangat, Changmin begitu
tampan, dan lelaki itu mencemaskannya. Yah, setidaknya dengan kehadiran Kyuhyun
di antara mereka, lelaki itu tidak benar-benar melupakannya.
"Kami
melihat konser Yunho yang lain...." gumamnya tenang.
"Konser?
maksudmu Yunho mengadakan konser? Yang mana? kalau dia ada konser resmi pasti
aku tahu?"
"Bukan
konser biola." Jaejoong tersenyum,
"Dia
bermain gitar bersama band."
Changmin
langsung terperangah, "Gitar? dia bermain gitar?"
informasi
itu pasti terasa mengejutkan buat Changmin. Lelaki itu bahkan sampai
menggelengkan kepalanya,
"Astaga
itu sesuatu yang sama sekali tidak pernah kuduga, Yunho pasti berhasil
merahasiakan kegiatan sampingannya selama ini.... bermain gitar di sebuah
band... astaga..."
"Dan
permainan gitarnya sangat bagus."
Jaejoong
tersenyum simpul, tetapi kemudian mendapati Changmin menatapnya dengan sangat
serius,
"Jaejoong,
dia memberitahumu rahasia ini, entah kau ini murid istimewanya atau dia punya
maksud lain... aku mau kau berhati-hati Jaejoong, jangan sampai jatuh ke dalam
pesonanya..."
dengan
lembut, sekali lagi Changmin mengusap rambut Jaejoong,
"Kau
tahu aku sangat menyayangimu seperti adik kandungku sendiri, aku tidak mau
terjadi sesuatu kepadamu, atau sampai ada yang mematahkan hatimu."
Kata-kata
Changmin selanjutnya sudah tidak terdengar lagi di telinga Jaejoong. Hanya satu
kata yang ditangkap oleh Jaejoong,
Adik..?
Bahkan
hanya dengan kata-kata itu, tanpa disadari, Changminlah yang telah mematahkan
hati Jaejoong.
.
.
.
Yunho
meletakkan biolanya dan mengerutkan kening ketika mendengar ponselnya yang
diletakkan dimeja berdering, dia mengerutkan bibirnya kesal melihat siapa yang
menelepon, dan setelah menghela napas panjang, dia mengangkatnya,
"Ada
apa Ahra?"
"Kudengar
kau bersama yeoja ingusan itu sampai malam."
Ledakan
kecemburuan lagi.
Yunho
tersenyum sinis, sepertinya memang sudah waktunya dia menghancurkan Ahra.
Perempuan itu mulai terlalu percaya diri, bukan hanya merasa bahwa Yunho adalah
miliknya, tetapi juga bersikap posesif yang keterlaluan. Yunho pernah memergoki
Ahra sedang memeriksa seluruh isi ponselnya.
Rasanya
akan sangat nikmat ketika menghancurkan hati Ahra yang sudah begitu
mencintainya sepenuh hati. Yunho tersenyum jahat, membayangkan bahwa Ahra
mungkin akan setengah gila kalau Yunho memutuskannya begitu saja.
"Darimana
kau tahu kabar itu Ahra? apakah kau menguntitku kemarin?"
"Tidak."
Ahra
tampak malu mendengar kata-kata Yunho,
"Bukan
menguntitmu, aku semalam mencoba menghubungi ponselmu, tetapi kau tidak mengangkatnya,
jadi aku berinisiatif menelepon kampus tempat kau mengajar kelas khusus.
Penjaga kampus bilang kelasmu sudah selesai, dan dia melihat kau pergi bersama
yeoja ingusan itu."
"Jaejoong.
Dia punya nama Ahra, jangan menyebutnya dengan 'yeoja ingusan'." Yunho
menyela tajam, tetapi Ahra tidak mau menyerah,
"Yah
siapapun namanya, aku tidak peduli." suaranya merendah,
"Yang
pasti dia masih ingusan, masih kecil Yunho, akan sangat memalukan kalau kau
memberikan perhatian lebih kepadanya dan dia nanti jadi tergila-gila kepadamu,
kau tahu bukan perasaan remaja masih sangat labil?"
Tanpa
sadar Yunho tersenyum tipis, tidakkah Ahra menyadari bahwa dia
sendirilah yang tampak seperti remaja dengan emosi yang labil?
"Sudahlah."
Tiba-tiba Yunho sampai di keputusan bahwa waktunya untuk Ahra sudah berakhir,
"Kau
ada waktu untuk makan malam bersama nanti?"
"Tentu
saja." Ahra setengah menjerit, tidak bisa menyembunyikan kegirangan dalam
suaranya,
"Jemput
aku jam tujuh ya, aku akan berdandan secantik mungkin, dan setelah makan malam
kau bisa tinggal di rumahku, aku akan memberikan hadiah spesial untukmu."
suaranya menjadi seksi, rendah merayu dan penuh arti.
.
.
.
Mereka
makan malam bersama di sebuah restoran romantis yang elegan. Yunho tidak akan
tanggung-tanggung memilih tempat untuk mematahkan hati perempuan, dia akan
melambungkan perasaan Ahra dulu sebelum menghancurkannya.
Ahra
berdandan secantik mungkin tentu saja, dengan gaun ungu gelapnya yang tampak
kontras dengan kulitnya yang putih dan berkilauan, rambutnya ditata kebelakang
dan kalung permata di lehernya membuat penampilannya seperti puteri raja.
"Kau
sangat cantik malam ini Ahra." Yunho menyesap anggurnya, mereka sudah
selesai makan malam dan memutuskan untuk duduk sebentar dan bersantai menikmati
anggur.
Ahra
tersenyum merayu kepada Yunho,
"Aku
berdandan hanya untukmu Yunho... dan seperti janjiku di telepon tadi, kau bisa
menginap di rumahku kalau kau mau malam ini, aku akan memberikan malam yang
luar biasa untukmu." suaranya rendah, merayu, penuh godaan.
Tentu
saja Yunho tidak tergoda. Dia hanya meletakkan anggurnya dan menatap Ahra
dengan datar,
"Maafkan
aku tidak bisa."
Matanya
menatap tajam, membuat Ahra tiba-tiba merasa cemas, Yunho tidak pernah tampak
seserius ini sebelumnya,
"Mungkin
ini akan menjadi pertemuan terakhir kita Ahra."
Ahra
ternganga mendengar kata-kata Yunho, mulutnya membuka tetapi tidak ada suara
yang keluar, wajahnya memucat.
"Apa
maksudmu Yunho?"
"Kau
tahu jelas apa maksudku."
Ada
kilatan kejam di mata Yunho. Kilatan yang selama ini berhasil disembunyikannya,
meskipun sekarang tak perlu lagi. Yunho sudah tidak bisa menyembunyikan
perasaan muaknya ketika menatap Ahra.
Ahra
tentu saja mengerti arti tatapan itu, dia shock, bingung dan semua perasaan
sesak langsung memenuhi dadanya. Tatapan Yunho kepadanya bukan tatapan lembut
dan penuh cinta seperti sebelumnya. Itu tatapan kejam, penuh rasa muak dan
kebencian?
Astaga...
selama ini dia berpikir bahwa dirinya sudah berhasil menaklukkan Yunho, membuat
lelaki itu pada akhirnya berlabuh. Reputasi Yunho sebagai penghancur perempuan
memang menakutkan, tetapi bukankah selama ini Yunho seolah sudah takluk
kepadanya?
Atau
jangan-jangan Yunho sudah merencanakannya? Menjadikannya korban... sama seperti
perempuan-perempuan lainnya?
"Kau
mencampakkanku, Yunho?"
akhirnya Ahra
berkata-kata, bibirnya bergetar hampir menahankan air mata.
Yunho
tersenyum,
"Tepat
sekali Ahra, waktuku untukmu sudah berakhir. Perlu kau tahu aku tidak pernah
tertarik kepadamu, kau sama seperti yeoja lainnya, hanya menimbulkan rasa muak
di hatiku."
"Tidak
mungkin!"
Ahra
mencoba membantah, setengah menjerit, tidak mempedulikan beberapa orang di
restoran itu yang menoleh kepada mereka,
"Kau
mencintaiku Yunho, aku yakin itu, sikapmu kepadaku, pelukanmu, kelembutanmu
ketika menciumku, itu semua penuh cinta!"
"Jangan
mencoba menipu dirimu sendiri Ahra, kau tahu aku sangat pandai
bersandiwara."
Yunho
beranjak berdiri dan menatap Ahra dengan dingin,
"Aku
rasa kau bisa pulang naik taxi, dan karena hubungan kita sudah berakhir, jangan
harap aku mau menjadi pendampingmu lagi."
Dengan
senyumannya yang terakhir Yunho membalikkan badan meninggalkan Ahra.
"Ini
semua karena yeoja ingusan itu bukan?" Suara teriakan Ahra itu menahankan
langkah Yunho, Yunho membalikkan badan dan menatap Ahra gusar.
"Tidak
ada hubungannya dengan Jaejoong. Namanya Jaejoong, Ahra." Bibir Yunho
menipis,
"Aku
tertarik kepadanya hanya karena dia sama sepertiku, jenius dalam bermain biola.
Dia istimewa."
Setelah
mengucapkan kata-kata itu, Yunho membalikkan badan dan berlalu, meninggalkan Ahra
duduk di sana, penuh rasa malu dan berurai air mata.
.
.
.
Ahra
duduk di sana dengan mata membara. Dia masih tidak percaya Yunho
meninggalkannya begitu saja. Begitu kejamnya!!
Dan ini
semua pasti karena perempuan itu. Yunho memang membantah, tetapi Ahra yakin,
sikap Yunho kepadanya berubah setelah perempuan ingusan itu muncul.
Jaejoong
istimewa karena dia pandai bermain biola, sama seperti Yunho.
Tiba-tiba
mata Ahra menyala jahat.
Baiklah.
Dia akan menghancurkan keistimewaan Jaejoong itu, agar Jaejoong tidak menarik
lagi di mata Yunho!
.
.
.
.
,
To Be
Continue

Apa yg mau dilakuin si Ahra itu? Wah, bener2
ReplyDeleteChangmin yakin cm sekedar khawatir sama Jj?
ReplyDeleteGa cemburu sama yunho kan?
Waduh! Ahra diputusin sama yunho bukannya lega tp malah ngeri nih..