Tuesday, October 6

[REMAKE] The Violiniest Chapter VIII



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

Chapter 8,

Luar biasa...
Bukan hanya ketampanannya saja yang mendominasi seluruh panggung, membuat seluruh perempuan yang berdiri di depan panggung, mayoritas utama penonton berteriak-teriak histeris di tengah hingar bingarnya musik.
Jaejoong bahkan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak ternganga, karena ternyata kepandaian Yunho bermain gitar tidak kalah dengan kehebatannya bermain biola. Jaejoong memang bukan ahlinya tentang permainan gitar, dia mungkin bisa menilai dengan mudah permainan piano atau biola seseorang, tetapi alat-alat musik di genre musik pop dan band sama sekali bukan keahliannya. Meskipun begitu Jaejoong bisa tahu bahwa permainan gitar Yunho sangat bagus, lelaki itu memainkan musiknya dengan begitu mahir.
Lama kemudian Jaejoong terlarut dalam hingar bingarnya suasana, band terus memainkan musik yang penuh energi, membawa penonton ke dalam suasananya dan semuanya terhipnotis dengan kemampuan bermain gitar Yunho yang berpadu dengan suara vokal Yoochun yang merdu.
Luar biasa.... Jaejoong tidak menyadari bahwa musik dengan aliran lain bisa seindah ini, dia selalu menganggap bahwa musik klasik adalah yang terindah... ternyata musik aliran lain, kalau dimainkan dengan sepenuh hati, akan menciptakan nada yang sama indahnya.
Lamunan Jaejoong tersentak oleh gemuruh tepuk tangan yang membahana, semua penonton berteriak-teriak histeris di bawah panggung, dan dilihatnya Yunho dan rekan band-nya membungkukkan badan kepada seluruh penonton, membuat mereka semua semakin histeris.
Yunho berjalan ke arah samping panggung, tempat Jaejoong masih berdiri dan terpaku, senyumnya melebar, lelaki itu hendak menghampiri Jaejoong ketika salah seorang penonton yang histeris nekad naik ke panggung,
"Yunho!"
Teriak perempuan itu dengan tatapan mata memuja, lalu tanpa disangka-sangka, perempuan itu merangkulkan lengannya di leher Yunho dan mencium bibirnya dengan sekuat tenaga.
Para pengawal di luar panggung langsung menarik perempuan itu, berusaha memaksanya turun. Perempuan itu meronta, menatap ke arah Yunho dan berkali-kali meneriakkan kata-kata cinta dan pemujaan kepada lelaki itu, membuat Yunho hanya tersenyum geli dan terus melangkah ke arah Jaejoong.
"Bagaimana permainanku?" Yunho masuk ke samping panggung, berdiri dengan begitu arogan seolah-olah Jaejoong wajib memujinya,  sementara itu Jaejoong mengamati Yunho dan mengernyitkan keningnya. Ada bekas lipstick di seluruh bibir Yunho, bekas lipstick dari perempuan yang tadi menciumnya..... oh ya ampun, lelaki ini memang terbiasa sembarangan berciuman dengan siapa saja!
"Menurutku menarik." jawab Jaejoong sekenanya.
Yunho mengangkat alisnya, "Menarik? hanya itu?"

Tatapan Jaejoong tampak tidak bersahabat,
"Memangnya kau mengharapkan pujian seperti apa? bukankah kau sudah banyak menerima pujian dari semua orang? masih belum puaskah?"
Yunho tertawa, lalu menatap Jaejoong penuh makna,
"Kenapa kau begitu membenciku Jaejoong? sejak awal mula sepertinya kau selalu terdorong untuk menentangku."
lelaki itu berjalan ke area belakang panggung, langsung menuju pintu belakang, membuat Jaejoong terpaksa mengikutinya, dan tetap diam saja, mencoba pura-pura tidak mendengar perkataan Yunho.
Ya, dia sendiri tidak tahu kenapa dia bersikap antipati kepada lelaki itu, mungkin karena kearoganan Yunho, mungkin karena sikapnya yang tidak menghormati perempuan, atau mungkin juga karena aura lelaki itu terasa mengancam. Yunho terlalu tampan, terlalu mempesona dan tidak segan-segan menguarkan seluruh pesonanya itu kepada perempuan manapun. Tetapi Yunho berbahaya, dari seluruh reputasi yang didengar oleh Jaejoong dia menyadari bahwa Yunho jahat kepada perempuan, dia selalu memainkan hati mereka, membuat para perempuan itu menyadari bahwa mereka sudah menaklukkan Yunho, membuat para perempuan itu bermimpi sampai terbang tinggi, dan kemudian langsung menghempaskan mereka begitu saja dengan hati hancur. Dibalik sikap ramah dan pesonanya, Yunho adalah seorang pembenci perempuan. Dan Jaejoong ketakutan akan menjadi salah seorang perempuan calon korban Yunho, tergila-gila akan pesona lelaki itu hanya untuk dihancurkan begitu saja. Jadi, sikap ketus dan menjauhnya, mungkin adalah estimasi dari pertahanan dirinya terhadap lelaki itu.
Tetapi tentu saja Jaejoong tidak akan bisa menjelaskan hal itu kepada Yunho bukan?
Yunho sendiri melirik ke arah Jaejoong yang hanya diam sambil mengikutinya, dia lalu mengangkat bahunya dan tersenyum skepstis,
"Ah, sudahlah. Ayo kita pulang."
gumamnya sambil melangkah cepat-cepat menuju parkiran, membiarkan Jaejoong mengikutinya.
.
.
.
"Kau tahu kenapa aku mengajakmu melihatku bermain gitar bersama band?"
Yunho meliirik ke arah Jaejoong yang duduk di sebelahnya, dia melajukan mobilnya dengan tenang, menembus kegelapan malam yang semakin kelam.
Jaejoong mau tak mau menatap ke arah Yunho,
"Supaya aku tahu bahwa seorang pemain musik harus bisa memainkan musik apa saja?"
Yunho terkekeh, "Tidak tepat seperti itu, Jaejoong. Aku hanya ingin mengajarkan kepadamu, bahwa musik yang indah tidak hanya dihasilkan oleh penguasaan teknik dan keahlian. Asalkan kau punya hasrat untuk memainkannya, dan kau bisa menghanyutkan perasaanmu ke dalam permainanmu, kau akan bisa menghasilkan musik yang indah, entah itu dengan biola atau sebuah gitar, entah itu di musik klasik atau aliran kontemporer."
"Apakah kau selalu seperti itu? hanyut dalam perasaanmu ketika membawakan musikmu?"
"Tentu saja." mata Yunho berubah dalam,
"Aku adalah pemain yang emosional, ketika aku marah biasanya aliran musikku akan terdengar penuh kemarahan, ketika aku sedih aliran musikku akan terdengar penuh kesedihan. Kau tahu, sebenarnya itu salah satu kelemahanku, dulu aku sangat hebat bermain biola, tetapi aku tidak mampu menjaga emosiku dalam permainanku sehingga nada yang dihasilkan tidak pernah benar."
Yunho tersenyum tipis,
"Lalu aku bertemu dengan salah satu mentorku di italia, dia melatihku supaya membalikkan visiku, aku tidak memasukkan emosiku ke dalam musikku, tetapi aku harus bisa memasukkan emosi yang ada di musik itu ke dalam perasaanku."
Tatapan Yunho berubah serius, "Permainanmu semalam begitu penuh kesedihan, penuh emosi dan sakit hati, kau memasukkan perasaanmu ke dalam permainanmu, membuatnya terasa tidak pas dengan musik yang kau mainkan... sama persis dengan diriku di waktu lampau. Aku hanya ingin memperbaikimu Jaejoong."
Jaejoong terdiam, menyadari kebenaran kata-kata Yunho. Emosi dan permainan musik memang sangat berkaitan, apalagi untuk permainan biola yang membawakan pesan emosi.... Jaejoong memang harus banyak berlatih....
Detik itulah Jaejoong sadar, bahwa di balik sikap arogan dan tidak menyenangkannya, Yunho benar-benar serius ingin mengajarinya bermain biola dengan serius.
Yah,... mungkin Yunho tidak sejahat yang Jaejoong kira. Mungkin semua kesan Jaejoong terhadap Yunho selama ini salah..
.
.
.
"Heechul ahjumma bilang kau pulang sampai tengah malam bersama Yunho."
Changmin bergabung bersama Jaejoong di sofa rumah Jaejoong sementara Jaejoong sedang sibuk melahap mie goreng untuk makan siangnya. Hari ini mereka libur latihan karena tanggal merah, dan Jaejoong juga merasa amat capek semalam, pulang begitu larutnya di malam hari hingga dia baru bangun tengah hari.
Ibu Jaejoong menunggu dengan cemas ketika mereka pulang kemarin, sudah siap mengomel ketika akhirnya Jaejoong mengetuk pintu pukul dua belas malam. Tetapi kemudian Yunho langsung muncul di belakang Jaejoong, dan seperti biasa menebarkan pesonanya ketika meminta maaf kepada ibu Jaejoong dan menjelaskan bahwa ia mengajak Jaejoong untuk menonton konser yang diharapkan bisa menambah pengetahuan Jaejoong. Dan seperti yang sudah diduga, ibu Jaejoong langsung luluh dengan pesona Yunho, bukannya memarahi Yunho karena memulangkan anak gadisnya setelah larut malam, ibu Jaejoong malahan mengucapkan terimakasih kepada Yunho.
Bibir Jaejoong mengerucut tidak senang membayangkan sikap ibunya kemarin, membuat Changmin mengangkat alisnya,
"Jaejoong, kau mendengar perkataanku tadi?"
Jaejoong menoleh menatap Changmin tertarik dari lamunannya dan mengangkat alisnya.
"Memangnya kau tadi bertanya apa?"
Changmin terkekeh, "Dasar."
jemarinya dengan lembut mengusap kepala Jaejoong, seperti yang selalu dia lakukan sejak Jaejoong kecil, membuatnya merasa damai dan nyaman,
"Aku dengar dari ibumu, kau pulang sampai larut tengah malam, ibumu sempat menelepon ke rumah menanyakan apakah kau bersama aku, tentu saja aku ikut cemas. Tadi pagi aku menelepon dan ibumu yang mengangkat, beliau bilang kau masih tidur karena semalam kau pulang lewat tengah malam bersama Yunho."
Tatapan Changmin tampak menyelidik, "Apa yang Yunho lakukan kepadamu, Jaejoong?"
Jaejoong menatap Changmin bingung, "Apa maksudmu?"
"Maksudku.."
Changmin tampak salah tingkah,
"Well kau kan tahu reputasi Yunho sebagai yeoja killer, dia kan berbahaya bagi yeoja manapun, dan kau kau masih terlalu muda dan polos dibanding Yunho yang sudah dewasa dan berpengalaman, aku cemas dia akan mempermainkanmu."
Kali ini wajah Changmin berubah serius,
"Katakan padaku, dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh kepadamu, bukan?"
Jaejoong hampir saja tersedak mie yang dikunyahnya mendengar kata-kata Changmin, tetapi kemudian dia tertawa,
"Oppa... yang benar saja!"
Jaejoong terkekeh, meletakkan piring mie-nya yang tiba-tiba saja terasa tidak menarik lagi,
"Mana mungkin Yunho mengincarku sebagai korbannya, kau tahu sendiri seleranya adalah yeoja yang lebih tua, dari kelas atas dan kaya raya....mana mungkin dia melirikku anak ingusan yang baru berusia delapan belas tahun?"
"Tetapi semalam kalian pulang larut, bukankah idealnya latihan itu selesai jam sepuluh malam?" Changmin mengerutkan dahinya.
Jaejoong menatap Changmin dan tiba-tiba saja dadanya terasa hangat, Changmin begitu tampan, dan lelaki itu mencemaskannya. Yah, setidaknya dengan kehadiran Kyuhyun di antara mereka, lelaki itu tidak benar-benar melupakannya.
"Kami melihat konser Yunho yang lain...." gumamnya tenang.
"Konser? maksudmu Yunho mengadakan konser? Yang mana? kalau dia ada konser resmi pasti aku tahu?"
"Bukan konser biola." Jaejoong tersenyum,
"Dia bermain gitar bersama band."
Changmin langsung terperangah, "Gitar? dia bermain gitar?"
informasi itu pasti terasa mengejutkan buat Changmin. Lelaki itu bahkan sampai menggelengkan kepalanya,
"Astaga itu sesuatu yang sama sekali tidak pernah kuduga, Yunho pasti berhasil merahasiakan kegiatan sampingannya selama ini.... bermain gitar di sebuah band... astaga..."
"Dan permainan gitarnya sangat bagus."
Jaejoong tersenyum simpul, tetapi kemudian mendapati Changmin menatapnya dengan sangat serius,
"Jaejoong, dia memberitahumu rahasia ini, entah kau ini murid istimewanya atau dia punya maksud lain... aku mau kau berhati-hati Jaejoong, jangan sampai jatuh ke dalam pesonanya..."
dengan lembut, sekali lagi Changmin mengusap rambut Jaejoong,
"Kau tahu aku sangat menyayangimu seperti adik kandungku sendiri, aku tidak mau terjadi sesuatu kepadamu, atau sampai ada yang mematahkan hatimu."
Kata-kata Changmin selanjutnya sudah tidak terdengar lagi di telinga Jaejoong. Hanya satu kata yang ditangkap oleh Jaejoong,
Adik..?
Bahkan hanya dengan kata-kata itu, tanpa disadari, Changminlah yang telah mematahkan hati Jaejoong.
.
.
.
Yunho meletakkan biolanya dan mengerutkan kening ketika mendengar ponselnya yang diletakkan dimeja berdering, dia mengerutkan bibirnya kesal melihat siapa yang menelepon, dan setelah menghela napas panjang, dia mengangkatnya,
"Ada apa Ahra?"
"Kudengar kau bersama yeoja ingusan itu sampai malam."
Ledakan kecemburuan lagi. 
Yunho tersenyum sinis, sepertinya memang sudah waktunya dia menghancurkan Ahra. Perempuan itu mulai terlalu percaya diri, bukan hanya merasa bahwa Yunho adalah miliknya, tetapi juga bersikap posesif yang keterlaluan. Yunho pernah memergoki Ahra sedang memeriksa seluruh isi ponselnya.
Rasanya akan sangat nikmat ketika menghancurkan hati Ahra yang sudah begitu mencintainya sepenuh hati. Yunho tersenyum jahat, membayangkan bahwa Ahra mungkin akan setengah gila kalau Yunho memutuskannya begitu saja.
"Darimana kau tahu kabar itu Ahra? apakah kau menguntitku kemarin?"
"Tidak."
Ahra tampak malu mendengar kata-kata Yunho,
"Bukan menguntitmu, aku semalam mencoba menghubungi ponselmu, tetapi kau tidak mengangkatnya, jadi aku berinisiatif menelepon kampus tempat kau mengajar kelas khusus. Penjaga kampus bilang kelasmu sudah selesai, dan dia melihat kau pergi bersama yeoja ingusan itu."
"Jaejoong. Dia punya nama Ahra, jangan menyebutnya dengan 'yeoja ingusan'." Yunho menyela tajam, tetapi Ahra tidak mau menyerah,
"Yah siapapun namanya, aku tidak peduli." suaranya merendah,
"Yang pasti dia masih ingusan, masih kecil Yunho, akan sangat memalukan kalau kau memberikan perhatian lebih kepadanya dan dia nanti jadi tergila-gila kepadamu, kau tahu bukan perasaan remaja masih sangat labil?"
Tanpa sadar Yunho tersenyum tipis, tidakkah Ahra menyadari bahwa dia sendirilah yang tampak seperti remaja dengan emosi yang labil?
"Sudahlah." Tiba-tiba Yunho sampai di keputusan bahwa waktunya untuk Ahra sudah berakhir,
"Kau ada waktu untuk makan malam bersama nanti?"
"Tentu saja." Ahra setengah menjerit, tidak bisa menyembunyikan kegirangan dalam suaranya,
"Jemput aku jam tujuh ya, aku akan berdandan secantik mungkin, dan setelah makan malam kau bisa tinggal di rumahku, aku akan memberikan hadiah spesial untukmu." suaranya menjadi seksi, rendah merayu dan penuh arti.
.
.
.
Mereka makan malam bersama di sebuah restoran romantis yang elegan. Yunho tidak akan tanggung-tanggung memilih tempat untuk mematahkan hati perempuan, dia akan melambungkan perasaan Ahra dulu sebelum menghancurkannya.
Ahra berdandan secantik mungkin tentu saja, dengan gaun ungu gelapnya yang tampak kontras dengan kulitnya yang putih dan berkilauan, rambutnya ditata kebelakang dan kalung permata di lehernya membuat penampilannya seperti puteri raja.
"Kau sangat cantik malam ini Ahra." Yunho menyesap anggurnya, mereka sudah selesai makan malam dan memutuskan untuk duduk sebentar dan bersantai menikmati anggur.
Ahra tersenyum merayu kepada Yunho,
"Aku berdandan hanya untukmu Yunho... dan seperti janjiku di telepon tadi, kau bisa menginap di rumahku kalau kau mau malam ini, aku akan memberikan malam yang luar biasa untukmu." suaranya rendah, merayu, penuh godaan.
Tentu saja Yunho tidak tergoda. Dia hanya meletakkan anggurnya dan menatap Ahra dengan datar,
"Maafkan aku tidak bisa."
Matanya menatap tajam, membuat Ahra tiba-tiba merasa cemas, Yunho tidak pernah tampak seserius ini sebelumnya,
"Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kita Ahra."
Ahra ternganga mendengar kata-kata Yunho, mulutnya membuka tetapi tidak ada suara yang keluar, wajahnya memucat.
"Apa maksudmu Yunho?"
"Kau tahu jelas apa maksudku."
Ada kilatan kejam di mata Yunho. Kilatan yang selama ini berhasil disembunyikannya, meskipun sekarang tak perlu lagi. Yunho sudah tidak bisa menyembunyikan perasaan muaknya ketika menatap Ahra.
Ahra tentu saja mengerti arti tatapan itu, dia shock, bingung dan semua perasaan sesak langsung memenuhi dadanya. Tatapan Yunho kepadanya bukan tatapan lembut dan penuh cinta seperti sebelumnya. Itu tatapan kejam, penuh rasa muak dan kebencian?
Astaga... selama ini dia berpikir bahwa dirinya sudah berhasil menaklukkan Yunho, membuat lelaki itu pada akhirnya berlabuh. Reputasi Yunho sebagai penghancur perempuan memang menakutkan, tetapi bukankah selama ini Yunho seolah sudah takluk kepadanya?
Atau jangan-jangan Yunho sudah merencanakannya? Menjadikannya korban... sama seperti perempuan-perempuan lainnya?
"Kau mencampakkanku, Yunho?"
akhirnya Ahra berkata-kata, bibirnya bergetar hampir menahankan air mata.
Yunho tersenyum,
"Tepat sekali Ahra, waktuku untukmu sudah berakhir. Perlu kau tahu aku tidak pernah tertarik kepadamu, kau sama seperti yeoja lainnya, hanya menimbulkan rasa muak di hatiku."
"Tidak mungkin!"
Ahra mencoba membantah, setengah menjerit, tidak mempedulikan beberapa orang di restoran itu yang menoleh kepada mereka,
"Kau mencintaiku Yunho, aku yakin itu, sikapmu kepadaku, pelukanmu, kelembutanmu ketika menciumku, itu semua penuh cinta!"
"Jangan mencoba menipu dirimu sendiri Ahra, kau tahu aku sangat pandai bersandiwara."
Yunho beranjak berdiri dan menatap Ahra dengan dingin,
"Aku rasa kau bisa pulang naik taxi, dan karena hubungan kita sudah berakhir, jangan harap aku mau menjadi pendampingmu lagi."
Dengan senyumannya yang terakhir Yunho membalikkan badan meninggalkan Ahra.
"Ini semua karena yeoja ingusan itu bukan?" Suara teriakan Ahra itu menahankan langkah Yunho, Yunho membalikkan badan dan menatap Ahra gusar.
"Tidak ada hubungannya dengan Jaejoong. Namanya Jaejoong, Ahra." Bibir Yunho menipis,
"Aku tertarik kepadanya hanya karena dia sama sepertiku, jenius dalam bermain biola. Dia istimewa."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Yunho membalikkan badan dan berlalu, meninggalkan Ahra duduk di sana, penuh rasa malu dan berurai air mata.
.
.
.
Ahra duduk di sana dengan mata membara. Dia masih tidak percaya Yunho meninggalkannya begitu saja. Begitu kejamnya!!
Dan ini semua pasti karena perempuan itu. Yunho memang membantah, tetapi Ahra yakin, sikap Yunho kepadanya berubah setelah perempuan ingusan itu muncul.
Jaejoong istimewa karena dia pandai bermain biola, sama seperti Yunho.
Tiba-tiba mata Ahra menyala jahat.
Baiklah. Dia akan menghancurkan keistimewaan Jaejoong itu, agar Jaejoong tidak menarik lagi di mata Yunho!
.
.
.
,
To Be Continue

2 comments:

  1. Apa yg mau dilakuin si Ahra itu? Wah, bener2

    ReplyDelete
  2. Changmin yakin cm sekedar khawatir sama Jj?
    Ga cemburu sama yunho kan?
    Waduh! Ahra diputusin sama yunho bukannya lega tp malah ngeri nih..

    ReplyDelete