Wednesday, September 16

The Untittled Story Chapter XX



Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong

Chapter 20
Parkiran yang penuh dengan mobil bukanlah sesuatu yang kuharapkan saat aku tiba di rumah Yunho setelah pulang kerja. Lapangan golf sudah sangat sibuk tadi sehingga aku hanya bisa berhenti sekali untuk memberikan para tamu minum di lubang ke 16. Dia tidak mengirimku sms lagi sepanjang hari. Perutku melilit dengan gelisah. Ada apa ini? Apakah perasaan manis yang dia rasakan setelah mengambil keperawananku memudar begitu cepat?
Aku harus memarkir jauh hingga keluar tepi jalan. Menutup pintu trukku, aku mulai berjalan menuju pintu.
"Kau takkan ingin ada di dalam sana," suara akrab Changmin terdengar di kegelapan. Aku melihat sekeliling dan melihat cahaya oranye kecil jatuh ke tanah kemudian ditindis oleh sepatu boot sebelum Changmin keluar dari tempat persembunyiannya.
"Apakah kau datang ke pesta ini hanya untuk berkeliaran di luar?" tanyaku, ini kedua kalinya semenjak aku tiba di pesta ini menemukan Changmin hanya sendirian di luar.
"Aku tidak bisa berhenti merokok. Yunho mengira aku sudah berhenti. Jadi aku bersembunyi di luar ketika ingin merokok," jelasnya.
"Merokok akan membunuhmu," ucapku padanya, mengingat semua perokok yang aku lihat perlahan sekarat saat aku mengantar ibuku ke perawatan kemoterapi.
"Itu yang mereka katakan padaku," dia membalasnya sambil menghela napas.
Aku melihat kembali ke rumah dan mendengar suara musik mulai mengalir keluar. "Aku tak tahu bahwa malam ini ada pesta," ucapku, berharap suara kekecewaanku tak terdengar.
Changmin tertawa dan menyandarkan pinggulnya di sebuah Volvo. "Bukankan di sini selalu ada pesta?"
Tidak, tidak lagi. Setelah semalam aku berpikir Yunho akan menelpon atau mengirim pesan teks kepadaku. "Kukira aku hanya tak menyangka akan hal ini."
"Kurasa Yunho juga begitu. Ini pestanya Boa. Dia menjebaknya. Perempuan itu selalu bisa lolos dari segala aturan yang Yunho terapkan. Aku selalu kena imbasnya lebih dari sekali karena aku tidak turut mengatasi jebakan wanita sialan itu."
Aku melintas untuk ikut bersandar di Volvo disampingnya dan bersedekap. "Jadi kau tumbuh besar bersama Boa juga?" Aku butuh sesuatu. Segala jenis penjelasan.
Changmin menyipitkan matanya ke arahku. "Ya. Tentu saja. Heechul adalah ibunya. Hanya dia orang tua yang kami punya. Well..." Changmin menarik diri dari Volvo dan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau hampir menguasaiku. Aku tak bisa mengatakan apa-apa, Jae. Jujur ketika seseorang melakukannya aku tak ingin berada di sekitarnya."
Changmin berjalan kembali menuju ke dalam rumah.
Aku melihatnya sampai dia masuk ke dalam sebelum aku berjalan menuju ke dalam rumah. Aku berharap tidak ada orang di kamarku. Jika ada, aku akan ke dapur. Aku sedang tidak ingin meladeni Boa. Atau segala rahasia tentang Boa yang orang lain tahu kecuali aku. Aku yakin aku juga sedang tidak ingin meladeni Yunho.
Aku membuka pintu dan bersyukur tidak ada orang di sana yang berdiri melihatku datang. Aku langsung menuju tangga. Tawa dan suara memenuhi rumah. Aku tidak cocok dengan mereka. Tidak ada gunanya berada di sana dan bertindak seperti yang pernah kulakukan.
Aku melirik ke pintu yang menuju ke arah tangganya Yunho dan membiarkan kenangan semalam menyapaku kembali. Aku mulai berpikir bahwa itu hanyalah kejadian sekali saja. Aku membuka pintuku dan melangkah masuk sebelum aku menyalakan lampu.
Aku menutup mulutku menahan teriakan yang hampir keluar saat menyadari aku tidak sendiri. Itu Yunho. Dia duduk di ranjangku memandang keluar jendela. Dia berdiri saat aku menutup pintu dan berjalan ke arahku.
"Hai," tegurnya dengan suara lembut.
"Hai," balasku, kurang yakin mengapa dia ada di kamarku sementara rumahnya penuh dengan orang.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Dia tersenyum geli padaku. "Menunggumu. Kupikir itu sudah jelas."
Tersenyum, aku menundukkan kepalaku. Matanya kadang-kadang bisa menghanyutkan. "Aku bisa melihatnya. Tapi kau punya tamu."
"Bukan tamuku. Percayalah padaku, aku ingin rumah yang senyap," ucapnya menangkup sisi wajahku dengan tangannya. "Naiklah ke lantai atas denganku. Kumohon."
Dia tak perlu meminta. Aku dengan senang hati akan melakukannya. Aku menaruh tasku di atas ranjang dan menyelipkan tanganku di tangannya. "Tunjukkan jalannya."
Yunho menggenggam tanganku dan kami berjalan ke atas bersama.
Ketika kami tiba di tangga teratas Yunho menarikku dalam pelukannya dan menciumku dengan keras. Mungkin aku tampak murahan tapi aku tak perduli. Aku merindukannya hari ini. Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya dan balas menciumnya dengan segala emosi yang berputar di dalam diriku yang aku sendiri tak cukup memahaminya.
Ketika dia melepaskan ciuman kami berdua terengah-engah. "Bicara. Pertama kita akan bicara. Aku ingin melihatmu tertawa dan tersenyum. Aku ingin mengetahui apa siaran TV favoritmu saat kau kecil dan siapa yang membuatmu menangis di sekolah dan poster boyband mana yang terpasang di dindingmu. Kemudian aku ingin kau telanjang lagi di ranjangku."
Tersenyum pada keanehannya, namun menggemaskan, caranya memberitahuku bahwa dia tidak hanya ingin bercinta denganku, aku berjalan menuju ke sofa kulit besar yang terlihat besar dibanding TV.
"Haus?" tanya Yunho, berjalan ke arah kulkas baja yang tak ku perhatikan semalam. Sebuah bar kecil terpajang disamping kulkasnya.
"Air es sungguh menyenangkan," jawabku.
Yunho sedang menata minuman dan aku berbalik untuk melihat keluar menuju laut. "Happy Together adalah acara favoritku, Jang Dong Gun membuatku menangis setidaknya seminggu sekali tapi kemudian dia mulai membuat Jaekyung menangis dan aku menjadi marah dan melukainya. Serangan favorit dan terbaikku adalah tendangan cepat kearah kemaluannya. Dan yang paling membanggakan, poster TVXQ yang terpasang di dindingku."
Yunho berhenti di sampingku dan menyodorkanku segelas air es. Aku bisa melihat kebingungan di wajahnya. Dia duduk di sampingku. "Siapa Jaekyung?"
Aku menyebutkan saudara perempuanku tanpa berpikir. Aku merasa nyaman dengan Yunho. Aku ingin dia tahu tentangku. Mungkin jika aku membuka rahasiaku dia akan membagi miliknya. Walaupun dia tak ingin membagi rahasia tentang Boa.
"Jaekyung adalah saudara kembarku. Dia meninggal dalam kecelakaan mobil 5 tahun yang silam. Appaku yang mengemudi. Dua minggu kemudian, appa keluar dari hidup kami dan tak pernah kembali. Eommaku mengatakan bahwa kami harus memaafkannya karena dia tidak bisa hidup dengan kenyataan bahwa dia yang mengemudikan mobil yang menyebabkan Jaekyung meninggal. Aku selalu ingin percaya padanya. Walaupun dia tidak datang saat pemakaman eomma aku sungguh ingin percaya dia tidak bisa mengatasinya. Jadi aku memaafkan dia. Aku tidak membencinya atau membiarkan kegetiran dan kebencian menguasaiku. Tapi aku datang kesini dan ya...kau tahu. Aku rasa Eommaku salah."
Yunho membungkuk dan menaruh gelasnya di atas meja kayu unik di samping sofa dan merangkulku. "Aku tak tahu kalau kau punya saudara kembar," katanya takjub.
"Kami identik. Kau tak bisa membedakan kami. Kami sangat bergembira di sekolah dan juga dengan para namja. Hanya Yihan yang bisa membedakan kami."
Yunho mulai bermain dengan kunciranku kala kami duduk di sana memandang lautan. "Berapa lama orangtuamu saling mengenal sebelum mereka menikah?" tanyanya. Bukan pertanyaan yang kuperkirakan.
"Itu adalah cinta pada pandangan pertama. eommaku menengok temannya di Gwangju. Appa baru saja putus dengan pacarnya dan dia datang pada satu malam kala eommaku sedang sendiri di apartemen temannya. Temannya agak sedikit nakal menurut eommaku. Appa hanya melihat sekali dan dia terpikat. Aku tak bisa menyalahkannya. eommaku sangat cantik. Warna rambutnya sama dengan milikku tapi dia punya mata besar yang sangat indah. Ibuku sangat menyenangkan. Kau pasti bisa bahagia hanya berada di dekatnya. Tidak ada yang membuatnya sedih. Dia selalu tersenyum. Aku hanya melihat dia menangis sekali saat dia diberitahu tentang Jaekyung. Dia jatuh ke lantai dan menangis hari itu. Itu sangat menakutkanku jika aku tak merasakan hal yang sama. Seperti separuh jiwaku pergi." Aku berhenti. Mataku berkaca-kaca. Aku biarkan diriku terbawa suasana saat bercerita. Aku tak pernah terbuka selama ini kepada orang lain.
Yunho menempelkan dahinya di ubun-ubunku. "Aku minta maaf, Boo. Aku tak tahu."
Untuk pertama kalinya sejak Jaekyung meninggal aku merasa butuh seseorang untuk berbicara. Aku tak perlu menahan diri. Aku berbalik ke pelukannya dah menciumnya. Aku butuh kedekatan ini. Aku teringat luka itu dan sekarang aku harus melupakannya. Dia sangat pandai dalam segalanya tetapi dia menghilang.
"Aku mencintai mereka. Aku selalu mencintai mereka tapi aku baik-baik saja sekarang. Mereka telah bersama. Mereka saling memiliki," ucapku padanya ketika kurasa keengganannya untuk balas menciumku.
"Siapa yang kau miliki?" tanyanya dengan geram.
"Aku punya diriku sendiri. Aku tahu selama 3 tahun yang lalu ketika eomma sakit aku berkeyakinan bahwa selama aku berpegang teguh pada diriku dan tidak melupakan siapa diriku maka aku akan baik-baik saja," jawabku.
Yunho memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Ketika dia membuka matanya wajah putus asanya mengejutkanku. "Aku butuh dirimu. Sekarang. Izinkan aku bercinta denganmu di sini, kumohon."
Aku melepas kausku dan kemudian melepas miliknya. Dia mengangkat tangannya kala aku menarik kausnya melewati atas kepalanya. Dia bergerak cepat melepas braku dan itu telah hilang tanpa sesuatu di antara kami. Dia menangkup payudaraku saat jempolnya membelai puncak putingku. "Kau sungguh sangat cantik. Di dalam dan di luar," bisiknya. "Meskipun aku tak layak untukmu, aku ingin terkubur di dalam dirimu. Aku tak bisa menunggu. Aku hanya butuh sedekat mungkin denganmu semampuku."
Aku beringsut darinya dan berdiri. Setelah melepas sepatuku, aku melepas celana pendekku dan mendorongnya turun bersama celana dalamku kemudian melangkah keluar darinya. Dia duduk di sana melihatku seakan aku adalah hal paling memukau yang pernah dilihatnya. Itu menguatkan. Perasaan malu yang kukira akan muncul saat berdiri telanjang di depannya hilang sama sekali.
"Telanjanglah," ucapku,
Melihat ke arah ereksinya yang menekan celana jinsnya. Aku pikir dia akan tertawa geli akan hal itu tapi ternyata tidak. Dia berdiri, dengan cepat melangkah keluar dari jinsnya dan kemudian menghempaskan dirinya bersamaku kembali di sofa.
"Naiki aku," perintahnya. Aku menuruti kata-katanya.
"Sekarang," dia menelan ludah, "turun perlahan ke arahku."
Aku menunduk dan melihat dia sedang memegang pangkal kejantanannya. Aku berpegang di bahunya dan perlahan menurunkan diriku saat dia menangani semuanya.
"Perlahan, boo. Pelan-pelan. Kau akan nyeri."
Aku mengangguk dan menggigit bibir bawahku saat ujungnya mulai memasukiku. Dia memindahkan kejantanannya maju mundur di pangkal pahaku, menggodaku. Aku meremas bahunya dan terkesiap. Rasanya nikmat. Sangat nikmat.
"Ya, begitu. Kau mulai basah. Oh Tuhan, aku ingin merasakannya," geramnya.
Melihat nafsu liar di matanya seakan menyalakan tombol di dalam diriku. Aku ingin dia mengingatku. Mengingat ini. Aku tahu waktu kami terbatas dan aku tahu aku takkan bisa melupakannya. Tapi, aku ingin tahu ketika ini berakhir dia takkan melupakanku. Aku tak ingin menjadi salah satu gadis yang telah diperawaninya.
Membungkuk kedepan, aku menunggu hingga dia menggosok kejantanannya di jalan masukku. Kemudian aku membenamkan diri dengan keras sambil menjerit keras ketika miliknya memenuhiku.
"BRENGSEK," teriak Yunho. Aku tak mau menunggunya untuk khawatir padaku. Aku akan menaikinya. Aku mengerti istilahnya sekarang. Aku yang memegang kendali. Dia mulai membuka mulutnya dan ingin mengatakan sesuatu namun aku menghentikannya dengan mendesakkan lidahku di mulutnya ketika aku mengangkat pinggulku dan meluncur ke arahnya lagi dengan keras. Erangan dan liukan tubuhnya dibawahku meyakinkanku aku melakukan sesuatu dengan benar.
Aku mundur sehingga aku bisa menjerit keras saat aku mulai memacunya lebih cepat dan keras. Rasa nyeri dalam diriku berteriak saat miliknya masuk ke diriku namun itu adalah rasa sakit yang nikmat.
"Boo.. Oh sial BooJae," geramnya kala dia menarik pinggulku dan dia membiarkan dirinya bebas dan menikmatinya. Tangannya mulai mengambil alih. Dia mengangkatku dan menghentakku kebawah dengan dorongan cepat dan tajam. Setiap umpatan dan erangan keras yang keluar dari bibirnya membuatku makin ganas. Aku butuh ini bersamanya.
Orgasme hampir sampai dan aku tahu dengan beberapa tusukan lagi aku akan hancur berantakan di atasnya. Aku juga ingin dia orgasme bersamaku. Aku mulai memacu di atasnya dan membiarkan keluar jeritan keras yang coba kukendalikan. "Aku hampir sampai," aku mengerang kala sensasinya terbangun.
"Terus boo, sungguh nikmat," geramnya dan kemudian kami berdua sampai di puncak bersama. tubuhnya terguncang dibawahku dan kemudian diam. Namaku keluar dari bibirnya disaat yang sama aku mencapai klimaksku.
Ketika getarannya perlahan mereda dan aku bisa bernapas lagi aku melingkarkan tanganku di lehernya dan jatuh ke atasnya.
Kedua tangannya memelukku erat di kala dia bernapas pelan. Aku menyukai percintaan lembut yang kami alami semalam tapi ada sesuatu yang bisa dikatakan tentang bercinta. Aku tersenyum akan pikiranku dan berbalik untuk mencium lehernya.
"Tak pernah. Tak pernah dalam hidupku, " dia terengah-engah mengelus punggungku dan menangkup pantatku dengan remasan lembut. "Itu tadi. Ya Tuhan, Boo, aku tak bisa berkata-kata."
Tersenyum ke lehernya kutahu aku telah membuat kesan pada pria yang sempurna, terluka, misterius dan bingung ini.
"Aku yakin kata yang kau cari itu adalah luar biasa," aku tertawa saat aku bersandar sehingga aku bisa menatapnya.
Kelembutan di matanya membuat hatiku agak mencair. "Percintaan paling luar biasa yang pernah dikenal manusia," balasnya dan mengulurkan tangan untuk menyelipkan rambutku ke belakang telinga. "Aku hancur. Kau tahu itu, kan? Kau menghancurkanku."
Aku menggoyangkan pinggulku sedikit dan aku masih bisa merasakannya di dalamku. "Hmmm tidak, kupikir milikmu masih berfungsi."
"Ya Tuhan, sayang...kau akan membuatku keras dan siap lagi. Aku harus membersihkanmu."
Aku menelusuri bibir bawahnya dengan ujung jariku. "Aku takkan berdarah lagi. Aku telah melakukannya sebelumnya."
Yunho menarik jariku ke mulutnya dan menghisapnya dengan lembut sebelum melepaskannya. "Aku tidak memakai kondom. Aku juga bersih. Aku selalu memakai kondom dan memeriksakan diri secara teratur."
Aku tak yakin bagaimana mengolah informasi ini. Aku tidak berpikir soal kondom.
"Aku minta maaf. Saat kau telanjang aku kehilangan akal sehatku. Aku berjanji padamu kalau aku bersih."
Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak, tidak apa-apa. Aku percaya padamu. Aku juga tak memikirkannya tadi."
Yunho menarikku kembali ke arahnya. "Bagus, karena tadi itu sungguh luar biasa. Aku tak pernah merasakannya tanpa memakai kondom. Mengetahui bahwa aku di dalam dirimu dan merasakan ketelanjanganmu membuatku sangat bahagia. Kau sungguh mengagumkan. Segalanya panas dan basah dan sangat ketat."
Aku bergoyang kembali. Kalimat kotornya di telingaku membangunkan gairahku. "Mmm," jawabku saat kurasakan dia kembali keras di dalamku.
"Apakah kau memakai kontrasepsi?"
Aku tak punya alasan untuk itu. Aku menggelengkan kepala.
Dia mengerang dan menggeser pinggulku sampai miliknya keluar dariku. "Kita tak bisa melakukannya lagi sampai kau memakainya. Tapi kau sudah membuatku keras kembali." Dia meraih kewanitaanku dan membelai clitku. "Sangat seksi," gumamnya. Aku menengadahkan kepalaku dah menikmati sentuhan lembutnya.
"Boo, ayo mandi bersamaku," pintanya dengan suara serak.
"Oke," ujarku, menatap ke arahnya.
Dia membantuku berdiri dan kemudian menuntunku ke kamar mandinya yang besar.
"Aku menginginkanmu di pancuran. Apa yang kita lakukan di luar sana adalah hal yang sangat mengagumkan yang pernah kurasakan sepanjang hidupku. Tapi di sini aku akan melakukannya dengan perlahan. Aku akan merawatmu."
.
.
.
.
To Be Continue
Adakah YunJae shipper yg tinggal di Malang. meet up yuk?

3 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Sakii aku suka ff kamu...
    Walaupun bhs nya agak berat dikit tapi kereeeennnn....

    ReplyDelete
  3. Gimana klo Jae hamil ???
    Sebenernya kenapa sih ma si Boa???
    Ada apa ma Boa ????
    #penasaraaaaaaannnnn

    ReplyDelete