Summary: Jung Yunho, violinist jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona
memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya.
Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang.
Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan
menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang
yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi
kehidupan mereka.
The Violinist
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Prolog…
‘Perempuan itu racun. Perempuan itu jahat. Mungkin
mereka tampak cantik dan lembut di luar, tetapi siapa yang tahu betapa kejinya
jiwa yang tertanam di sana.’
Itulah yang tertanam di benaknya, di hari itu, hari
yang dingin dan berkabut, ketika ibunya membangunkannya di dini hari. Waktu itu
dia masih menghabiskan malam-malamnya dengan menangis, menangis karena sudah hampir
dua minggu dia dipisahkan dari adik kesayangannya, dari ayahnya yang lembut dan
baik hati.
Sekarang dia terpaksa tinggal bersama ibunya,
yang membawanya pergi begitu saja dari rumah dan kemudian tinggal di rumah
teman laki-lakinya.
Meskipun dia masih kecil, tetapi dia bisa membaca
kalau pria itu bukan hanya sekedar teman bagi ibunya. Ibunya memeluk pria kaya
itu dengan mesra, membiarkannya mencium pipinya di depan umum. Dan ibunya tidur
di kamar pria itu, sementara dia ditempatkan di sebuah kamar yang dingin dan
sepi, sendirian.
Dia masih kecil. Tapi dia sudah tahu pasti kalau
ibunya tidak mencintainya. Perempuan itu merenggutnya dan membawanya, bukan
karena menginginkannya tetapi lebih karena ingin menyakiti ayahnya. Dengan
tega ibunya memisahkan dia dari orang-orang yang disayanginya. Dia benci
ibunya, benci sekali!
Masih dini hari ketika ibunya membangunkannya,
jemarinya yang lentik dengan pewarna kuku merah menyala, menyentuh pundak
kecilnya, mengguncangnya terburu-buru,
"Bangun, bangun, kau harus segera bangun, eomma
akan mengantarmu."
Dia terbangun, mengucek matanya bingung,
"Kita mau kemana eomma?" suaranya yang
mungil dan lemah masih serak, matanya susah dibuka karena sembab, menangis
semalaman.
“eomma akan mengantarmu. Kau tahu, eomma ada pekerjaan
di luar negeri dan eomma tidak bisa membawamu, jadi eomma akan menitipkanmu
sementara di rumah teman eomma."
Dia langsung duduk, masih kebingungan, dan hanya
menurut ketika ibunya mengantarkannya ke kamar mandi, menyuruhnya mencuci muka.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, ibunya sudah mengatur pakaiannya ke tas
ransel kecilnya yang selalu dibawanya kemana-mana.
"Bawa biolamu sendiri, ayo kita
berangkat." Ibunya membawa tas ranselnya keluar, sementara dia
terburu-buru mengikuti, sambil meraih tas berisi biola berat dan besar berwarna
merah gelap. Biola ini milik ayahnya, seorang pemain biola terkenal yang karena
suatu hal, tidak bisa bermain biola lagi. Itulah yang menjadi penyebab
perpisahan ayah dan ibunya, yang menyebabkan ibunya meninggalkan ayahnya dan
keluarga mereka tercerai berai.
Tetapi bagaimanapun juga, biola itu adalah hartanya
yang paling berharga. Milik ayahnya, ayahnya yang baik dengan jemarinya yang
besar yang selalu mengusap kepala kecilnya, ayahnya yang dengan senyum
lembutnya selalu memeluknya dengan sayang, menaikkan dirinya kepangkuannya
setelah sesi-sesi berlatih biola bersama yang menyenangkan. Seandainya dia bisa
memilih, dia ingin bersama ayahnya. Dia tahu ayahnya punya cinta yang tulus,
dia tahu ayahnya benar-benar menginginkannya.
Sayangnya, dia hanyalah anak kecil yang harus
tunduk kepada keputusan orang-orang yang lebih tua, karena dia masih tidak
punya daya apa-apa.
Dia memeluk biola itu erat-erat dan kemudian
mengikuti ibunya yang sudah melangkah keluar rumah, di sana sebuah mobil sudah
menunggu, Ibunya masuk lebih dulu ke dalam mobil, dan dia tak punya pilihan
lain selain mengikuti ibunya masuk ke dalam mobil.
Mobil itupun melaju membelah jalan, dan mereka
melewatkannya dalam keheningan. Ibunya terdiam menatap lurus ke depan,
sementara dia duduk di ujung terjauh di kursi, menatap kosong ke arah
jendela, dan bertanya-tanya dimanakah ayah dan adiknya sekarang? Apakah mereka
baik-baik saja? Apakah dia bisa menemui mereka lagi?
.
.
.
Mobil itu memasuki pintu gerbang putuh di sebuah
rumah yang sangat indah. Ibunya turun lebih dahulu dan membiarkan dia
mengikutinya. Pintu rumah terbuka, dan sepasang suami isteri setengah baya
membuka pintu. Sepertinya mereka adalah salah satu teman ibunya, karena mereka
langsung tersenyum ketika melihat ibunya.
Dia dan ibunya lalu dipersilahkan masuk, dan duduk
di ruang tamu yang sangat megah. Suami isteri itu menatapnya dengan lembut, dan
si isteri mendekatinya dan mengenalkan diri,
"Kenalkan, aku Jung Kibum.... kau bisa
memanggilku Kibum eomma, semoga kau kerasan di sini ya nak."
Jemari mungilnya yang begitu lembut mengelus
kepalanya, membuatnya teringat kepada ayahnya. Seketika itu juga dia tahu,
bahwa perempuan setengah baya di depannya ini baik hati dan tulus. Dia
akan diperlakukan dengan baik ketika tinggal di sini - sampai ibunya
menjemputnya lagi.
Lalu dia disuruh ke ruangan lain sementara para
orang dewasa bercakap-cakap, seorang pelayan yang baik hati membawanya ke ruang
bermain di sebelah ruang tamu, di sana ada banyak sekali mainan yang sepertinya
masih baru, beberapa bahkan masih terbungkus plastik. Pelayan itu sudah
menyiapkan segelas susu putih hangat dan sepiring kue cokelat yang menggiurkan,
dan dengan sayang menyuruhnya bermain sesukanya.
Tetapi tentu saja dia tidak berani. Mainan-mainan
itu tampaknya masih baru, dan tentunya ada yang punya bukan? Mungkin saja
pemiliknya adalah anak dari pasangan suami isteri setengah baya yang baik hati
itu. Dia takut merusakkan mainan itu dan dimarahi.
Dia duduk dikursi kecil yang disediakan, dan
meminum susunya dengan haus, ternyata dia lapar. Semalam dia tidak bisa menelan
makanannya karena menahan rasa ingin menangis akibat kerinduannya pada ayah dan
adiknya, sekarang perutnya menagih minta makan. Dia juga memakan sepotong kue
manis yang sangat enak itu.
Setelah menghabiskan satu potong kue dan meneguk
sisa susu hangatnya, tiba-tiba dia mendengar deru mobil melaju meninggalkan
rumah itu.
Apakah itu mobil eommanya? Apakah eommanya telah
pergi? Kenapa eommanya tidak berpamitan kepadanya?
Dia langsung berlari keluar, dan menubruk Kibum,
perempuan setengah baya yang meminta dipanggil eomma. Kibum setengah berlutut,
lalu memeluknya dengan mata berkaca-kaca entah kenapa, perempuan itu lalu
mengusap rambutnya dengan sayang,
"Eommamu sudah pergi dia begitu terburu-buru
dan tidak sempat berpamitan, tidak apa-apa ya adeul, mulai sekarang kau tinggal
di sini ya...kami semua akan merawatmu dengan baik, kau jangan sedih." Kibum
kemudian menggandeng tangan mungilnya dengan lembut,
"Kemari sayang, biar kutunjukkan
kamarmu."
Sebelum pergi, mata Kibum melirik ke arah
mainan-mainan di ruang bermain itu yang tidak disentuh olehnya dan tersenyum
lembut,
"Jangan takut memainkan semuanya, semua itu
baru dan dibeli khusus untukmu, semua itu milikmu."
Dia lalu di antar ke sebuah kamar yang begitu
indah. Kamar khusus anak-anak, yang sepertinya baru dicat dan di dekor ulang.
Dindingnya biru dengan pola pesawat yang indah, tempat tidurnya juga bersprei
biru muda, berbagai mainan juga ada di sana, seolah-olah menjaga agar dia tidak
kesepian.
"Istirahatlah di sini dulu sayang, nanti kalau
sarapan sudah siap, eomma akan memanggilmu."
Kibum menyebut dirinya sendiri sebagai eomma, berbisik
lembut dan membantunya naik ke ranjang, dia memang masih mengantuk
akibat terlalu dini dibangunkan oleh ibunya tadi.
Kibum menyelimutinya dengan selimut tebal, kemudian
mengecup dahinya lembut sebelum pergi. Setelah Kibum keluar dan menutup pintu
di belakangnya, dia merasakan ada yang basah di dahinya.
Air mata? Kenapa Kibum eommanya menangis?
Karena penasaran, dia bangun lagi dan turun dari
ranjang, mencoba mengintip keluar. Di sana dilihatnya Kibum menangis
sesenggukan di pelukan suaminya.
"Sudahlah baby, jangan terbawa perasaanmu,
nanti anak itu melihatnya dan kebingungan." suaminya, lelaki setengah baya
yang berwajah lembut tampak menghibur Kibum.
"Tapi aku sedih sekali tiap melihatnya, anak
sebaik dan setampan itu, dibuang begitu saja oleh eommanya hanya demi segepok
uang untuk membiayai kehidupan berfoya-foyanya di luar negeri. Dia sungguh eomma
yang jahat."
Kibum mengusap air matanya, tampak begitu sedih.
"Tapi kau sekarang yang menjadi eommanya, Kibummie.
Eomma kandungnya sudah menyerahkan anak itu, dan dia sama sekali tidak berniat
kembali. Anak itu memang anak yang malang, tetapi dengan kasih sayang kita, dia
akan baik-baik saja. Kita akan menyayanginya, dan membuatnya melupakan eommanya."
Dia yang masih mengintip di ujung pintu kamarnya
terpaku, membeku mendengar percakapan itu. Dia memang masih kecil, tetapi
sedikit banyak dia mengerti.
Eommanya telah meninggalkannya di sini, bukan
menitipkannya untuk menjemputnya dikemudian hari, tetapi menjualnya. Ya eommanya
telah membuangnya, menjualnya untuk segepok uang.
Air matanya meleleh, dan dia berlari naik ke
ranjang, menangis sesenggukan sampai matanya perih, Dia ingin bersama ayahnya,
dia ingin bersama adiknya.
Kalau memang eommanya mau membuangnya, kenapa dia
tidak ditinggalkan saja bersama appa dan dongsaengnya?
Ibunya memang jahat. Ibunya tidak punya hati,
menyakiti ayahnya, menyakiti adiknya, menyakiti dirinya. Mungkin semua
perempuan berjiwa jahat seperti ibunya.
Semua yeoja memang jahat!
Dan lama kelamaan, karena terlalu lelah menangis,
dia tertidur, tubuh kecilnya tengkurap di atas ranjang itu, dengan pipi penuh
bekas air mata.
Sampai kemudian sebuah jemari lembut membelai
rambutnya, dan membuainya ke dalam pelukan. Dia terbangun, dan menyadari tubuh
mungilnya ada di pelukan Kibum.
"Tidurlah dengan tenang sayang, kau aman di
sini bersama kami. Aku menyayangimu aegyi." lalu Kibum bersenandung lagu
nina bobo.
Dia memejamkan lagi, mata merasa tenang,
sebelum terlelap jauh, dia berpikir bahwa mungkin Kibum termasuk perempuan yang
tidak jahat. Dia merasa bisa mempercayainya. Mulai sekarang, Kibum adalah eommanya.
Dia akan melupakan ibu kandungnya, perempuan jahat yang membuangnya tanpa hati.
Tetapi ternyata cinta Kibum tetap tidak bisa
menyembuhkan kepedihannya, sampai dewasa, dia masih menyimpan luka itu....
Luka yang menciptakan kebencian mendalam kepada
mahluk yang bernama 'perempuan'
.
.
.
.
To Be Continue
Hola, Saki bawa FF
Remake terbaru punya kak Santhy Agatha. Sekalian nunggu portal novel kembali
seperti semula dan melanjutkan Remake an TUS season 2. Aniway Saki udah
nyelesaiin sampai end season pertamanya. Tinggal tunggu di update. Jadi sabar
ya….

Sebelumnya makasih bnyk buat Saki yg selalu nge-remake novel2 bermutu jd versi Yunjae yg tentunya ttp bgs & menarik.
ReplyDeleteBtw, aku jg lg tunggu portal novel balik lg tp udah lama bgt nunggu ga balik2, kira2 ntar bakalan balik ga ya?
Semangat terus ya buat Saki...^^