Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara
orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong
membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya
agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Chapter
20
Parkiran yang penuh dengan mobil bukanlah
sesuatu yang kuharapkan saat aku tiba di rumah Yunho setelah pulang kerja.
Lapangan golf sudah sangat sibuk tadi sehingga aku hanya bisa berhenti sekali
untuk memberikan para tamu minum di lubang ke 16. Dia tidak mengirimku sms lagi
sepanjang hari. Perutku melilit dengan gelisah. Ada apa ini? Apakah perasaan
manis yang dia rasakan setelah mengambil keperawananku memudar begitu cepat?
Aku harus memarkir jauh hingga keluar tepi
jalan. Menutup pintu trukku, aku mulai berjalan menuju pintu.
"Kau takkan ingin ada di dalam
sana," suara akrab Changmin terdengar di kegelapan. Aku melihat sekeliling
dan melihat cahaya oranye kecil jatuh ke tanah kemudian ditindis oleh sepatu
boot sebelum Changmin keluar dari tempat persembunyiannya.
"Apakah kau datang ke pesta ini hanya
untuk berkeliaran di luar?" tanyaku, ini kedua kalinya semenjak aku tiba
di pesta ini menemukan Changmin hanya sendirian di luar.
"Aku tidak bisa berhenti merokok. Yunho
mengira aku sudah berhenti. Jadi aku bersembunyi di luar ketika ingin
merokok," jelasnya.
"Merokok akan membunuhmu," ucapku
padanya, mengingat semua perokok yang aku lihat perlahan sekarat saat aku
mengantar ibuku ke perawatan kemoterapi.
"Itu yang mereka katakan padaku,"
dia membalasnya sambil menghela napas.
Aku melihat kembali ke rumah dan mendengar
suara musik mulai mengalir keluar. "Aku tak tahu bahwa malam ini ada
pesta," ucapku, berharap suara kekecewaanku tak terdengar.
Changmin tertawa dan menyandarkan
pinggulnya di sebuah Volvo. "Bukankan di sini selalu ada pesta?"
Tidak, tidak lagi. Setelah semalam aku
berpikir Yunho akan menelpon atau mengirim pesan teks kepadaku. "Kukira
aku hanya tak menyangka akan hal ini."
"Kurasa Yunho juga begitu. Ini
pestanya Boa. Dia menjebaknya. Perempuan itu selalu bisa lolos dari segala
aturan yang Yunho terapkan. Aku selalu kena imbasnya lebih dari sekali karena
aku tidak turut mengatasi jebakan wanita sialan itu."
Aku melintas untuk ikut bersandar di Volvo
disampingnya dan bersedekap. "Jadi kau tumbuh besar bersama Boa
juga?" Aku butuh sesuatu. Segala jenis penjelasan.
Changmin menyipitkan matanya ke arahku.
"Ya. Tentu saja. Heechul adalah ibunya. Hanya dia orang tua yang kami
punya. Well..." Changmin menarik diri dari Volvo dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Kau hampir menguasaiku. Aku tak bisa mengatakan apa-apa, Jae.
Jujur ketika seseorang melakukannya aku tak ingin berada di sekitarnya."
Changmin berjalan kembali menuju ke dalam
rumah.
Aku melihatnya sampai dia masuk ke dalam
sebelum aku berjalan menuju ke dalam rumah. Aku berharap tidak ada orang di
kamarku. Jika ada, aku akan ke dapur. Aku sedang tidak ingin meladeni Boa. Atau
segala rahasia tentang Boa yang orang lain tahu kecuali aku. Aku yakin aku juga
sedang tidak ingin meladeni Yunho.
Aku membuka pintu dan bersyukur tidak ada
orang di sana yang berdiri melihatku datang. Aku langsung menuju tangga. Tawa
dan suara memenuhi rumah. Aku tidak cocok dengan mereka. Tidak ada gunanya
berada di sana dan bertindak seperti yang pernah kulakukan.
Aku melirik ke pintu yang menuju ke arah
tangganya Yunho dan membiarkan kenangan semalam menyapaku kembali. Aku mulai
berpikir bahwa itu hanyalah kejadian sekali saja. Aku membuka pintuku dan
melangkah masuk sebelum aku menyalakan lampu.
Aku menutup mulutku menahan teriakan yang
hampir keluar saat menyadari aku tidak sendiri. Itu Yunho. Dia duduk di
ranjangku memandang keluar jendela. Dia berdiri saat aku menutup pintu dan
berjalan ke arahku.
"Hai," tegurnya dengan suara
lembut.
"Hai," balasku, kurang yakin mengapa
dia ada di kamarku sementara rumahnya penuh dengan orang.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Dia tersenyum geli padaku.
"Menunggumu. Kupikir itu sudah jelas."
Tersenyum, aku menundukkan kepalaku.
Matanya kadang-kadang bisa menghanyutkan. "Aku bisa melihatnya. Tapi kau
punya tamu."
"Bukan tamuku. Percayalah padaku, aku
ingin rumah yang senyap," ucapnya menangkup sisi wajahku dengan tangannya.
"Naiklah ke lantai atas denganku. Kumohon."
Dia tak perlu meminta. Aku dengan senang
hati akan melakukannya. Aku menaruh tasku di atas ranjang dan menyelipkan
tanganku di tangannya. "Tunjukkan jalannya."
Yunho menggenggam tanganku dan kami
berjalan ke atas bersama.
Ketika kami tiba di tangga teratas Yunho
menarikku dalam pelukannya dan menciumku dengan keras. Mungkin aku tampak
murahan tapi aku tak perduli. Aku merindukannya hari ini. Aku melingkarkan
kedua tanganku di lehernya dan balas menciumnya dengan segala emosi yang
berputar di dalam diriku yang aku sendiri tak cukup memahaminya.
Ketika dia melepaskan ciuman kami berdua
terengah-engah. "Bicara. Pertama kita akan bicara. Aku ingin melihatmu
tertawa dan tersenyum. Aku ingin mengetahui apa siaran TV favoritmu saat kau
kecil dan siapa yang membuatmu menangis di sekolah dan poster boyband mana yang
terpasang di dindingmu. Kemudian aku ingin kau telanjang lagi di
ranjangku."
Tersenyum pada keanehannya, namun
menggemaskan, caranya memberitahuku bahwa dia tidak hanya ingin bercinta
denganku, aku berjalan menuju ke sofa kulit besar yang terlihat besar dibanding
TV.
"Haus?" tanya Yunho, berjalan ke
arah kulkas baja yang tak ku perhatikan semalam. Sebuah bar kecil terpajang
disamping kulkasnya.
"Air es sungguh menyenangkan,"
jawabku.
Yunho sedang menata minuman dan aku
berbalik untuk melihat keluar menuju laut. "Happy Together adalah acara
favoritku, Jang Dong Gun membuatku menangis setidaknya seminggu sekali tapi kemudian
dia mulai membuat Jaekyung menangis dan aku menjadi marah dan melukainya.
Serangan favorit dan terbaikku adalah tendangan cepat kearah kemaluannya. Dan
yang paling membanggakan, poster TVXQ yang terpasang di dindingku."
Yunho berhenti di sampingku dan
menyodorkanku segelas air es. Aku bisa melihat kebingungan di wajahnya. Dia duduk
di sampingku. "Siapa Jaekyung?"
Aku menyebutkan saudara perempuanku tanpa
berpikir. Aku merasa nyaman dengan Yunho. Aku ingin dia tahu tentangku. Mungkin
jika aku membuka rahasiaku dia akan membagi miliknya. Walaupun dia tak ingin
membagi rahasia tentang Boa.
"Jaekyung adalah saudara kembarku. Dia
meninggal dalam kecelakaan mobil 5 tahun yang silam. Appaku yang mengemudi. Dua
minggu kemudian, appa keluar dari hidup kami dan tak pernah kembali. Eommaku
mengatakan bahwa kami harus memaafkannya karena dia tidak bisa hidup dengan
kenyataan bahwa dia yang mengemudikan mobil yang menyebabkan Jaekyung
meninggal. Aku selalu ingin percaya padanya. Walaupun dia tidak datang saat
pemakaman eomma aku sungguh ingin percaya dia tidak bisa mengatasinya. Jadi aku
memaafkan dia. Aku tidak membencinya atau membiarkan kegetiran dan kebencian
menguasaiku. Tapi aku datang kesini dan ya...kau tahu. Aku rasa Eommaku
salah."
Yunho membungkuk dan menaruh gelasnya di
atas meja kayu unik di samping sofa dan merangkulku. "Aku tak tahu kalau
kau punya saudara kembar," katanya takjub.
"Kami identik. Kau tak bisa membedakan
kami. Kami sangat bergembira di sekolah dan juga dengan para namja. Hanya Yihan
yang bisa membedakan kami."
Yunho mulai bermain dengan kunciranku kala
kami duduk di sana memandang lautan. "Berapa lama orangtuamu saling
mengenal sebelum mereka menikah?" tanyanya. Bukan pertanyaan yang
kuperkirakan.
"Itu adalah cinta pada pandangan
pertama. eommaku menengok temannya di Gwangju. Appa baru saja putus dengan
pacarnya dan dia datang pada satu malam kala eommaku sedang sendiri di
apartemen temannya. Temannya agak sedikit nakal menurut eommaku. Appa hanya
melihat sekali dan dia terpikat. Aku tak bisa menyalahkannya. eommaku sangat
cantik. Warna rambutnya sama dengan milikku tapi dia punya mata besar yang
sangat indah. Ibuku sangat menyenangkan. Kau pasti bisa bahagia hanya berada di
dekatnya. Tidak ada yang membuatnya sedih. Dia selalu tersenyum. Aku hanya
melihat dia menangis sekali saat dia diberitahu tentang Jaekyung. Dia jatuh ke
lantai dan menangis hari itu. Itu sangat menakutkanku jika aku tak merasakan
hal yang sama. Seperti separuh jiwaku pergi." Aku berhenti. Mataku
berkaca-kaca. Aku biarkan diriku terbawa suasana saat bercerita. Aku tak pernah
terbuka selama ini kepada orang lain.
Yunho menempelkan dahinya di ubun-ubunku.
"Aku minta maaf, Boo. Aku tak tahu."
Untuk pertama kalinya sejak Jaekyung
meninggal aku merasa butuh seseorang untuk berbicara. Aku tak perlu menahan
diri. Aku berbalik ke pelukannya dah menciumnya. Aku butuh kedekatan ini. Aku
teringat luka itu dan sekarang aku harus melupakannya. Dia sangat pandai dalam
segalanya tetapi dia menghilang.
"Aku mencintai mereka. Aku selalu
mencintai mereka tapi aku baik-baik saja sekarang. Mereka telah bersama. Mereka
saling memiliki," ucapku padanya ketika kurasa keengganannya untuk balas
menciumku.
"Siapa yang kau miliki?" tanyanya
dengan geram.
"Aku punya diriku sendiri. Aku tahu
selama 3 tahun yang lalu ketika eomma sakit aku berkeyakinan bahwa selama aku
berpegang teguh pada diriku dan tidak melupakan siapa diriku maka aku akan
baik-baik saja," jawabku.
Yunho memejamkan matanya dan menarik napas
dalam-dalam. Ketika dia membuka matanya wajah putus asanya mengejutkanku.
"Aku butuh dirimu. Sekarang. Izinkan aku bercinta denganmu di sini,
kumohon."
Aku melepas kausku dan kemudian melepas
miliknya. Dia mengangkat tangannya kala aku menarik kausnya melewati atas
kepalanya. Dia bergerak cepat melepas braku dan itu telah hilang tanpa sesuatu
di antara kami. Dia menangkup payudaraku saat jempolnya membelai puncak
putingku. "Kau sungguh sangat cantik. Di dalam dan di luar,"
bisiknya. "Meskipun aku tak layak untukmu, aku ingin terkubur di dalam
dirimu. Aku tak bisa menunggu. Aku hanya butuh sedekat mungkin denganmu
semampuku."
Aku beringsut darinya dan berdiri. Setelah
melepas sepatuku, aku melepas celana pendekku dan mendorongnya turun bersama
celana dalamku kemudian melangkah keluar darinya. Dia duduk di sana melihatku
seakan aku adalah hal paling memukau yang pernah dilihatnya. Itu menguatkan.
Perasaan malu yang kukira akan muncul saat berdiri telanjang di depannya hilang
sama sekali.
"Telanjanglah," ucapku,
Melihat ke arah ereksinya yang menekan
celana jinsnya. Aku pikir dia akan tertawa geli akan hal itu tapi ternyata
tidak. Dia berdiri, dengan cepat melangkah keluar dari jinsnya dan kemudian
menghempaskan dirinya bersamaku kembali di sofa.
"Naiki aku," perintahnya. Aku
menuruti kata-katanya.
"Sekarang," dia menelan ludah,
"turun perlahan ke arahku."
Aku menunduk dan melihat dia sedang
memegang pangkal kejantanannya. Aku berpegang di bahunya dan perlahan menurunkan
diriku saat dia menangani semuanya.
"Perlahan, boo. Pelan-pelan. Kau akan
nyeri."
Aku mengangguk dan menggigit bibir bawahku
saat ujungnya mulai memasukiku. Dia memindahkan kejantanannya maju mundur di
pangkal pahaku, menggodaku. Aku meremas bahunya dan terkesiap. Rasanya nikmat.
Sangat nikmat.
"Ya, begitu. Kau mulai basah. Oh
Tuhan, aku ingin merasakannya," geramnya.
Melihat nafsu liar di matanya seakan
menyalakan tombol di dalam diriku. Aku ingin dia mengingatku. Mengingat ini.
Aku tahu waktu kami terbatas dan aku tahu aku takkan bisa melupakannya. Tapi,
aku ingin tahu ketika ini berakhir dia takkan melupakanku. Aku tak ingin
menjadi salah satu gadis yang telah diperawaninya.
Membungkuk kedepan, aku menunggu hingga dia
menggosok kejantanannya di jalan masukku. Kemudian aku membenamkan diri dengan
keras sambil menjerit keras ketika miliknya memenuhiku.
"BRENGSEK," teriak Yunho. Aku tak
mau menunggunya untuk khawatir padaku. Aku akan menaikinya. Aku mengerti
istilahnya sekarang. Aku yang memegang kendali. Dia mulai membuka mulutnya dan
ingin mengatakan sesuatu namun aku menghentikannya dengan mendesakkan lidahku
di mulutnya ketika aku mengangkat pinggulku dan meluncur ke arahnya lagi dengan
keras. Erangan dan liukan tubuhnya dibawahku meyakinkanku aku melakukan sesuatu
dengan benar.
Aku mundur sehingga aku bisa menjerit keras
saat aku mulai memacunya lebih cepat dan keras. Rasa nyeri dalam diriku
berteriak saat miliknya masuk ke diriku namun itu adalah rasa sakit yang
nikmat.
"Boo.. Oh sial BooJae," geramnya
kala dia menarik pinggulku dan dia membiarkan dirinya bebas dan menikmatinya.
Tangannya mulai mengambil alih. Dia mengangkatku dan menghentakku kebawah
dengan dorongan cepat dan tajam. Setiap umpatan dan erangan keras yang keluar
dari bibirnya membuatku makin ganas. Aku butuh ini bersamanya.
Orgasme hampir sampai dan aku tahu dengan
beberapa tusukan lagi aku akan hancur berantakan di atasnya. Aku juga ingin dia
orgasme bersamaku. Aku mulai memacu di atasnya dan membiarkan keluar jeritan
keras yang coba kukendalikan. "Aku hampir sampai," aku mengerang kala
sensasinya terbangun.
"Terus boo, sungguh nikmat,"
geramnya dan kemudian kami berdua sampai di puncak bersama. tubuhnya terguncang
dibawahku dan kemudian diam. Namaku keluar dari bibirnya disaat yang sama aku
mencapai klimaksku.
Ketika getarannya perlahan mereda dan aku
bisa bernapas lagi aku melingkarkan tanganku di lehernya dan jatuh ke atasnya.
Kedua tangannya memelukku erat di kala dia
bernapas pelan. Aku menyukai percintaan lembut yang kami alami semalam tapi ada
sesuatu yang bisa dikatakan tentang bercinta. Aku tersenyum akan pikiranku dan
berbalik untuk mencium lehernya.
"Tak pernah. Tak pernah dalam hidupku,
" dia terengah-engah mengelus punggungku dan menangkup pantatku dengan
remasan lembut. "Itu tadi. Ya Tuhan, Boo, aku tak bisa berkata-kata."
Tersenyum ke lehernya kutahu aku telah
membuat kesan pada pria yang sempurna, terluka, misterius dan bingung ini.
"Aku yakin kata yang kau cari itu
adalah luar biasa," aku tertawa saat aku bersandar sehingga aku bisa
menatapnya.
Kelembutan di matanya membuat hatiku agak
mencair. "Percintaan paling luar biasa yang pernah dikenal manusia,"
balasnya dan mengulurkan tangan untuk menyelipkan rambutku ke belakang telinga.
"Aku hancur. Kau tahu itu, kan? Kau menghancurkanku."
Aku menggoyangkan pinggulku sedikit dan aku
masih bisa merasakannya di dalamku. "Hmmm tidak, kupikir milikmu masih
berfungsi."
"Ya Tuhan, sayang...kau akan membuatku
keras dan siap lagi. Aku harus membersihkanmu."
Aku menelusuri bibir bawahnya dengan ujung
jariku. "Aku takkan berdarah lagi. Aku telah melakukannya
sebelumnya."
Yunho menarik jariku ke mulutnya dan
menghisapnya dengan lembut sebelum melepaskannya. "Aku tidak memakai
kondom. Aku juga bersih. Aku selalu memakai kondom dan memeriksakan diri secara
teratur."
Aku tak yakin bagaimana mengolah informasi
ini. Aku tidak berpikir soal kondom.
"Aku minta maaf. Saat kau telanjang
aku kehilangan akal sehatku. Aku berjanji padamu kalau aku bersih."
Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak,
tidak apa-apa. Aku percaya padamu. Aku juga tak memikirkannya tadi."
Yunho menarikku kembali ke arahnya.
"Bagus, karena tadi itu sungguh luar biasa. Aku tak pernah merasakannya
tanpa memakai kondom. Mengetahui bahwa aku di dalam dirimu dan merasakan
ketelanjanganmu membuatku sangat bahagia. Kau sungguh mengagumkan. Segalanya
panas dan basah dan sangat ketat."
Aku bergoyang kembali. Kalimat kotornya di
telingaku membangunkan gairahku. "Mmm," jawabku saat kurasakan dia
kembali keras di dalamku.
"Apakah kau memakai kontrasepsi?"
Aku tak punya alasan untuk itu. Aku
menggelengkan kepala.
Dia mengerang dan menggeser pinggulku
sampai miliknya keluar dariku. "Kita tak bisa melakukannya lagi sampai kau
memakainya. Tapi kau sudah membuatku keras kembali." Dia meraih
kewanitaanku dan membelai clitku. "Sangat seksi," gumamnya. Aku
menengadahkan kepalaku dah menikmati sentuhan lembutnya.
"Boo, ayo mandi bersamaku,"
pintanya dengan suara serak.
"Oke," ujarku, menatap ke
arahnya.
Dia membantuku berdiri dan kemudian
menuntunku ke kamar mandinya yang besar.
"Aku menginginkanmu di pancuran. Apa
yang kita lakukan di luar sana adalah hal yang sangat mengagumkan yang pernah
kurasakan sepanjang hidupku. Tapi di sini aku akan melakukannya dengan
perlahan. Aku akan merawatmu."
.
.
.
.
To Be Continue
Adakah YunJae shipper yg tinggal di Malang. meet up yuk?
Adakah YunJae shipper yg tinggal di Malang. meet up yuk?

This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteSakii aku suka ff kamu...
ReplyDeleteWalaupun bhs nya agak berat dikit tapi kereeeennnn....
Gimana klo Jae hamil ???
ReplyDeleteSebenernya kenapa sih ma si Boa???
Ada apa ma Boa ????
#penasaraaaaaaannnnn