Thursday, September 17

[REMAKE] The Untittled Story Chapter XXI



Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Chapter 21
Meninggalkan Yunho di tempat tidur pagi ini sangat sulit. Ia tidur begitu damai aku tidak ingin membangunkannya. Aku menahan diri untuk tidak menciumi wajahnya sebelum aku pergi. Tidur membuatnya terlihat tidak khawatir. Aku tidak menyadari betapa intens dan waspadanya ia sampai aku memperhatikan ia tertidur dan melihat ia benar-benar damai.
Membuka pintu menuju ruangan staf aku disambut dengan bau donat baru dan Seok Chun oppa yang tersenyum.
"Selamat pagi sayang," ia berkata riang seperti biasanya.
"Itu masih harus dilihat, kau akan membagi donat itu atau tidak?"
Ia memegang kotak itu kepadaku. "Aku membeli dua ekstra hanya untukmu sayang. Aku tahu kau datang bekerja hari ini dan aku tidak ingin menjadi tangan kosong."
Aku duduk didepannya dan meraih donatku. "Jika aku pikir kau akan menikmatinya, aku akan mencium wajahmu," godaku.
Seok Chun oppa menggoyangkan alisnya, "Siapa yang tahu, sayang? Wajah sepertimu bisa menyebabkan seorang pria tersesat."
Sambil tertawa, aku menggigit kenikmatan yang hangat dan halus. Ini tidak sehat tapi donat ini sangat enak.
"Makanlah karena kita mempunyai hari yang sangat panjang. Pesta debutan malam ini dan kita tidak akan berada di ruang makan. Kita semua akan dikirim ke ruangan pesta dan dipaksa untuk berjalan dengan nampan makanan kemudian melayani mereka semua pada makan malam."
Pesta debutan? Apa sih itu?
“Apakah itu sebabnya ada begitu banyak truk di luar dengan bunga dan dekorasi?"
Seok Chun oppa mengangguk dan meraih donat lain yang dilapisi coklat. "Ya. Terjadi setiap tahun selama minggu ini. Ibu kaya yang gila mendampingi putri mereka dan mengenalkannya kepada masyarakat. Setelah malam ini, gadis-gadis akan dianggap sebagai wanita dewasa dan diperlakukan sebagai anggota klub dewasa. Mereka bisa berada di komite dan sejenisnya. Ini adalah omong kosong gila. Apalagi sejak Boa berumur 21 beberapa minggu lalu. Itu berarti dia bisa dilepaskan kedunia orang dewasa."
Boa seorang debutan. Itu menarik. Ibunya tidak ada di sini. Apakah ini berarti dia kembali? Jantungku berdegup kencang...Aku harus segera pergi. Yunho tidak mengatakan kepadaku bahwa sesuatu telah berubah tentang kepindahanku. Ketika aku pergi akankan dia masih melihatku?
"Tarik napas, Jae. Itu hanya sebuah pesta sialan," kata Seok Chun oppa. Aku mengambil napas dalam-dalam. Aku tak menyadari bahwa aku mulai panik. Inilah sebabnya mengapa aku mau menjaga jarak. Aku tahu hari ini akan datang. Apakah ayahku ada di rumah hari ini?
"Jam berapa mulainya?" Aku berhasil bertanya tanpa ada hambatan di suaraku.
"Jam tujuh tapi mereka akan menutup ruang makan jam lima supaya kita bisa bersiap-siap."
Aku mengangguk dan meletakkan sisa donatku. Aku tidak bisa menghabiskannya. Hari ini menjadi permainan menunggu. Aku merasakan ponsel di kantongku tapi aku tidak bisa sms Yunho. Aku tidak mau ia memberitahu kabar buruk melalui sms. Aku hanya akan menunggu.
"Jae, aku perlu menemuimu sebentar di ruanganku." Suara Hyunjoong masuk ke pikiranku. Mataku tertuju ke mata Seok Chun oppa yang melebar dengan keprihatinan. Bagus. Apa yang sudah kulakukan?
Aku berdiri dan berbalik menghadap Hyunjoong. Ia tidak terlihat marah. Ia tersenyum ke arahku dan itu memberikan keberanian yang aku butuhkan untuk berjalan ke arahnya. Ia membukakan pintu untukku dan aku melangkah keluar ke koridor.
"Santai, Jae. Kau tidak dalam masalah. Kita hanya perlu membahas tentang malam ini."
Oh. Wow. Aku menarik napas dalam-dalam dan mengangguk lalu mengikutinya ke pintu di ujung lorong.
"Aku tidak mendapatkan apapun yang mewah. Aboji percaya bahwa aku bekerja dari bawah sampai ke puncak. Bahkan jika aku akan mewarisi klub suatu hari nanti." Hyunjoong memutar matanya saat membuka pintu kantornya dan menyuruhku masuk. Ruangannya sebesar kamarku di rumah Yunho. Ada dua jendela besar yang menghadap ke lapangan golf.
Hyunjoong berjalan memutar untuk duduk di pinggir mejanya daripada dibelakangnya. Aku menghargai ia mencoba untuk tidak membuatnya sangat formal. Itu akan membuatku gugup.
"Pesta Debutan nanti malam. Ini adalah kegiatan tahunan di sekitar sini. Kami mengadakan acara untuk gadis kaya yang manja menjadi dewasa. Ini sesuatu yang menjengkelkan yang menjadikan klub ini memperoleh keuntungan lebih dari lima puluh juta dolar dari biaya, sumbangan dan sejenisnya. Jadi kita tidak bisa menghentikan omong kosong ini. Eommaku juga tidak mampu menghentikannya meski ia bisa. Dulu dia juga seorang debutan dan kau akan berpikir seakan dia telah dinobatkan menjadi ratu Inggris saat mendengar ibuku membicarakannya."
Aku tidak merasa lebih baik tentang malam ini. Penjelasan ini membuatku merasa bertambah buruk.
"Boa sekarang dua puluh satu tahun. Jadi, ia akan menjadi seorang debutan. Aku melihat daftarnya dan Yunho akan menjadi pendampingnya, hal ini tradisional untuk appa atau oppa sang gadis untuk mendampinginya. Pendamping pun harus dari anggota klub. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi antara kau dan Yunho tapi aku tahu bahwa Boa membencimu. Aku tidak membutuhkan drama malam ini. Namun aku membutuhkanmu. Kau salah satu dari yang terbaik. Pertanyaannya adalah, bisakah kau melakukannya tanpa adanya suatu pertengkaran? Karena Boa akan melakukan yang terbaik untuk menutup mulutmu. Ini semua kembali padamu untuk mengabaikannya. Kau mungkin berkencan dengan seorang anggota klub tapi kau tetap seorang pelayan. Tidak mengubah itu. Anggota selalu benar. Klub harus memihak Boa jika pertengkaran itu terjadi."
Apa yang dia harapkan? Ini bukan SMA. Kita semua orang dewasa. Aku bisa mengabaikan Boa dan Yunho semalamam jika perlu.
"Aku bisa melakukannya. Tidak masalah."
Hyunjoong mengangguk cepat. "Bagus, karena bayarannya sangat bagus dan kau butuh pengalamannya."
"Aku bisa melakukannya," Aku menenangkannya.
Hyunjoong berdiri. "Aku percaya kau bisa. Kau bisa membantu Seok Chun hyung dengan sarapan sekarang. Ia mungkin sedang mengutuk kita berdua."
.
.
 .
Sisa hari ini berjalan dengan cepat dan aku begitu sibuk dengan persiapannya yang membuatku tidak mempunyai waktu untuk memikirkan Boa atau kembalinya ayahku. Atau Yunho. Sekarang aku berdiri di dapur dengan staf pelayan lain. Aku menggunakan baju pelayan putih dan hitam dengan rambut yang ditarik menjadi sanggul. Aku mulai merasa kecemasan muncul di perutku.
Ini adalah pertama kalinya aku harus menghadapi perbedaan antara Yunho dan aku. Dunianya dibandingkan duniaku. Mereka akan bertumbukan malam ini. Aku sudah mempersiapkan diri untuk setiap komentar yang Boa akan buat tentangku. Aku bahkan sudah berbicara dengan Seok Chun oppa menjadi penyekat dan menahanku dari keharusan berdekatan dengan Nan. Aku ingin melihat Yunho atau mungkin berbicara padanya tapi aku punya perasaan itu tidak akan disetujui.
"Waktunya beraksi. Kudapan dan minuman. Kalian tahu tugas kalian. Ayo." Jessica gwijangnim menjalankan pertunjukan malam ini di belakang panggung. Aku mengambil nampan martini dan menuju antrian di pintu. Semua orang pergi dengan cepat dan kami semua membuat jalan yang berbeda melalui kerumunan. Punyaku setengah lingkaran searah jarum jam. Kecuali aku melihat Boa, lalu aku berbalik berlawanan dan Seok Chun oppa pergi searah jarum jam. Ini adalah ide yang bagus. Aku hanya berharap itu berhasil.
Pasangan pertama yang aku tuju bahkan tidak memedulikanku saat mereka mengobrol dan mengambil minuman dari nampan. Itu cukup mudah. Aku berhasil melewati beberapa kelompok lagi. Beberapa pria dan wanita yang kukenal dari lapangan golf. Mereka akan selalu mengangguk dan tersenyum ketika mereka mengenaliku tapi hanya itu.
Setengah jalan melalui ruangan, nampanku kosong dan aku mengingat dalam hati di mana terakhir kali aku berhenti. Aku bergegas kembali ke dapur untuk minuman lainnya. Jessica sedang menungguku. Ia mendorong nampan martini baru kearahku dan mengusirku pergi.
Aku berhasil kembali ke tempat semula, hanya harus berhenti dua kali dan memungkinkan seseorang untuk mendapatkan minuman dari nampan. Tuan Dong Bae memanggil namaku dan melambaikan tangan. Aku tersenyum kembali kearahnya. Ia memainkan delapan belas hole setiap jum'at dan sabtu. Itu membuatku takjub bahwa seorang pria Sembilan puluh tahun bisa berkeliling sebaik itu. Ia juga datang untuk minum kopi dan dua telur rebus Senin sampai Jum'at pagi.
Saat aku berbalik dari tersenyum, mataku terkunci dengan mata Yunho. Aku sudah berusaha keras untuk tidak melihat kearahnya meskipun aku tahu ia disini. Itu adalah malam besar Boa. Yunho tidak akan melewatkannya. Tidak ada alasan ia harus. Dia jahat tapi ia adik Yunho. Itu aku yang dia benci. Bukan Yunho.
Wajahnya terlihat sedih dan senyum kecilnya terlihat dipaksakan. Aku tersenyum kearahnya berusaha keras untuk tidak memikirkan ucapan anehnya. Paling tidak ia melihat ke arahku. Aku tidak tahu apa yang aku harapkan darinya.
Tuan dan Nyonya Park menyapa dan memberitahuku mereka merindukan melihatku di lapangan golf. Aku berbohong dan mengatakan aku merindukannya juga. Lalu aku kembali ke dapur untuk nampan lain.
Jessica mendorong sebuah nampan dengan sampanye ke arahku, "Ayo, ayo, cepat," ia membentak.
Aku berjalan secepat yang aku bisa dengan nampan penuh gelas sampanye. Setelah di ruangan pesta aku mulai ke jalan yang sama melalui anggota yang tenggelam dalam percakapan dan aku hanya sebuah nempan minuman. Aku lebih menyukai ini. Aku tidak merasa gelisah.
Tawa familiar Junsu menarik perhatianku dan aku berbalik untuk mencarinya. Aku tidak melihat ia di dapur sebelumnya. Aku mengira Jessica tidak menginginkan dia bekerja. Atau ayah Hyunjoong tidak mau.
Junsu tidak berpakaian seperti kami. Ia menggunakan gaun sifon yang menempel dan rambut cokelat panjangnya menumpuk di kepala dengan ikal menggantung ke bawah di sekitar wajahnya. Ia menoleh dan menatap mataku, dan ia menyeringai lebar. Aku melihat ia bergegas kearahku. Stiletto yang ia kenakan bahkan tidak memperlambat langkahnya.
"Bisakah kau percaya kalau aku di sini sebagai tamu?" Junsu bertanya, melihat ke sekeliling kami dengan kagum kemudian kembali melihatku. Aku menggeleng karena aku tidak bisa percaya.
"Saat Yoochun datang ke apartemenku berlutut dan memohon padaku semalam, aku memberitahunya kalau ia menginginkan aku sebagai pacarnya ia harus memperlihatkannya di depan umum. Ia setuju dan yah, kau mendapatkan gambarnya. Segala sesuatunya menjadi benar-benar panas di apartemenku. Tapi bagaimanapun juga, disinilah aku," desahnya.

 Yoochun telah bersikap jantan. Bagus untuknya. Aku menoleh ke belakang untuk melihat Yoochun mengawasi kami. Aku tersenyum kearahnya dan mengangguk menyetujui. Ia memberiku seringai kecil sambil mengangkat bahu.
"Aku senang bisa tahu akhirnya ia mendapat akal sehatnya," balasku.
Junsu meremas lenganku. "Terima kasih," ia berbisik.
Ia tidak punya apa-apa untuk berterima kasih padaku tapi aku tersenyum. "Pergilah bersenang-senang. Aku harus mengantar habis ini semua sebelum bibimu datang kesini dan mendapatiku sedang mengobrol."
"Okay. Aku akan, Meskipun aku berharap kau dapat menikmatinya denganku." Matanya melirik melewati bahuku. Aku tahu ia sedang melihat Yunho. Ia disini dan ia mengabaikanku di depan semua orang ini. Ia melakukannya demi Boa tapi apakah itu membuatnya lebih baik?
Perlahan-lahan aku tersadar. Aku akan menjadi seperti Junsu.
"Aku butuh uang jadi aku bisa mendapatkan tempat tinggalku sendiri," Aku memberitahunya dengan sebuah senyuman terpaksa. "Pergilah berbaur," Aku mendorongnya dan berjalan pergi ke kelompok orang berikutnya.
Matanya mengikutiku mengirimkan sensasi membakar ke leherku. Aku tahu Yunho memperhatikanku. Aku tidak harus berbalik dan melihat Yunho untuk membuktikan. Apakah ia baru saja menyadari situasi kami seperti yang kualami? Aku meragukannya. Ia seorang pria. Aku sudah bersikap gampangan. Aku juga seorang munafik terbesar di dunia. Sekarang aku merasa bersalah memarahi dan mengasihani Junsu.
Sampanye terakhir meninggalkan nampanku dan aku berjalan kembali melalui kerumunan, berhati-hati untuk tidak mendekati Yunho atau Boa. Aku bahkan tidak melirik kearah mereka. Aku masih punya harga diri. Aku hanya harus berhenti tiga kali pada tamu untuk meletakkan gelas kosong mereka pada nampanku saat aku bergegas kembali ke dapur dengan selamat.
"Bagus kau kembali. Ambil nampan ini. Kita butuh makanan di luar sana sebelum mereka minum terlalu banyak dan kita punya pemabuk mengacau di tangan kita," kata Jessica, menyodorkan nampan yang aku tidak tahu isinya. Mereka juga bau. Aku mengernyitkan hidungku dan menjauhkan nampan itu dariku. Jessica terkekeh dengan tawa.
"Itu escargot, siput. Mereka menjijikkan tapi orang-orang ini berpikir mereka makanan yang lezat. Tahan baunya dan pergilah." Aku rasa perutku berputar. Aku bisa melakukannya tanpa penjelasan itu. Escargot akan menjadi deskripsi yang memadai.
Ketika aku sampai di pintu masuk ballroom aku memantapkan diri dan mencoba untuk tidak berpikir tentang siput yang aku berikan untuk dimakan orang-orang atau fakta bahwa Yunho ada di sana berpura-pura ia tidak mengenalku sama sekali. Setelah aku menghabiskan dua malam terakhir di tempat tidurnya.
"Kau baik-baik saja?" Hyunjoong bertanya saat aku berjalan ke dalam ruangan. Ia berada disampingku terlihat khawatir.
"Ya. Kecuali kenyataan bahwa aku memberi orang-orang siput untuk dimakan," jawabku. Hyunjoong terkekeh, mengambil satu dari nampanku dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Kau harus mencoba satu. Ini benar-benar enak. Apalagi direndam di bawang putih dan mentega."
Perutku berputar lagi dan aku menggeleng. Hyunjoong tertawa keras saat ini. "Kau selalu membuat sesuatu menjadi lebih menarik, Jae," ia berkata, sambil membungkuk kearah telingaku. "Aku minta maaf tentang Yunho. Sekedar catatan, jika kau memilihku kau tidak akan kerja malam ini. Kau akan berada di lenganku."
Aku merasa wajahku merona. Sudah cukup mengetahui bahwa aku adalah rahasia kecilnya tapi bahwa orang lain yang mengetahuinya itu memalukan. Bagaimanapun, aku menginginkan Yunho. Sangat menginginkannya. Well, memang aku mendapat apa yang kuharapkan.
"Aku butuh uang. Aku sebentar lagi mampu mendapat tempat tinggalku sendiri," aku terus terang memberitahu Hyunjoong.
 Hyunjoong memberiku anggukan singkat dan senyum simpatik sebelum berbalik untuk menyambut tamu yang lebih tua yang kebetulan lewat. Aku mengambil momen itu untuk pergi. Aku punya siput untuk memberi makan orang-orang.
Seok Chun oppa menangkap mataku dan ia mengedip meyakinkan padaku. Ia sibuk mengurus sisi ruangan Yunho dengan cerdas. Aku bahkan tidak mendekat kearahnya. Junsu tersenyum cerah padaku saat aku datang di kelompoknya. Senyumnya hilang saat ia melihat ke makanan dalam nampanku.
"Apa itu?" ia bertanya ketakutan.
"Kau tidak ingin tahu," aku memberitahunya, membuat Yoochun dan seorang pria yang aku tidak begitu kukenal tertawa.
"Mungkin lebih baik kau melewatkannya," Yoochun memberitahu Junsu sambil menyelipkan tangannya di pinggangnya dan menariknya lebih dekat ke sisinya dengan mesra.
Junsu berseri-seri kearah Yoochun dan segala kemesraan manis itu yang mampu kuterima. Aku bergegas ke kelompok berikutnya. Rambut merah keriting itu terlihat akrab. Aku butuh satu detik untuk mendatanginya. Racun jahat di senyumnya mengingatkanku persis di mana aku pernah melihatnya sebelumnya. Ia sudah mengejar Hyunjoong di rumah Yunho pada malam pesta Boa. Aku belum menjadi pemuja malam itu berkat Hyunjoong.
"Bukankah ini menyenangkan?" katanya, mengalihkan perhatiannya menjauh dari pasangan yang berbicara padanya dan fokus padaku. "Aku tebak Hyunjoong memutuskan kau lebih cocok berkerja padanya daripada berkencan dengannya." Ia terkikik dan menggelengkan kepalanya sehingga ikal merahnya memantul. "Aku bersumpah, ini membuat malamku menyenangkan." Ia mengulurkan tangan dan membalikkan nampanku.
Siput-siput turun ke depan bajuku diikuti dengan nampan yang terjatuh keras di lantai. Aku terlalu tercengang untuk bergerak atau bicara.
"Oh dan lihat dia sangat kikuk. Hyunjoong harus pilih-pilih tentang karyawannya," gadis itu mendesis penuh kebencian.
"Oh tuhanku! Jae, kau baik-baik saja?" suara Junsu datang dari belakangku menyadarkanku dari keterkejutan.
Aku berhasil menyingkirkan siput yang masih menempel di pakaianku.
"Minggir," perintah suara berat yang langsung kukenali. Kepalaku terangkat untuk menemukan Yunho mendorong melewati beberapa orang dengan rambut merah yang tampaknya menertawakan kekacauan yang kubuat. Dia marah. Tidak salah lagi. Yunho mencengkeram pinggangku dan mengamati wajahku sesaat. Aku tidak yakin untuk apa. "Kau baik-baik saja?" ia bertanya pelan.
Aku mengangguk, tidak yakin bagaimana harus bereaksi.
Pembuluh darah di lehernya sekali lagi menegang dibalik kulitnya saat menelan ludah. Ia nyaris tidak memutar kepalanya memandang pada si rambut merah. "Jangan mendekati aku dan dia lagi. Mengerti?" ia berkata dengan tenang yang mematikan.
Mata gadis itu melebar. "Buat apa kau marah padaku? Dia yang kikuk. Ia menumpahkan seisi nampan ke dirinya sendiri."
Tangan Yunho mencengkeram erat pinggangku. "Jika kau mengucapkan satu kata lagi aku akan mengancam untuk mencabut semua sumbanganku dari klub ini sampai kau dikawal keluar. Secara permanen."
Gadis itu terkesiap, "Tapi aku teman Boa, Yunho. Teman terlamanya. Kau tidak akan melakukannya padaku. Apalagi untuk pelayan sewaan." Cibiran kekanak-kanakan dalam suaranya terdengar aneh dari gadis berusia dua puluh satu tahun.
"Coba saja," balasnya.
Dia mentap kembali ke arahku. "Kau ikut denganku."
Aku tidak punya waktu untuk merespon sebelum ia membalikkan kepalanya untuk melihat ke belakang bahuku. "Aku bersamanya Junsu. Ia baik-baik saja. Kembalilah ke Yoochun." Yunho menyelipkan tangannya di sekitar pinggangku. "Hati-hati siputnya, mereka licin."
Dua orang pelayan bergegas masuk ke ruangan dengan perlengkapan untuk memberihkan kekacauan. Musik tidak berhenti tapi tempat ini menjadi tenang. Perlahan-lahan, orang-orang mulai berbicara lagi. Aku tetap mengarahkan mataku ke pintu menunggu sampai aku bisa keluar dari ballroom ini dan melepaskan diri dari pelukan Yunho.
Jika orang-orang di sini tidak tahu kami sudah berhubungan seks, mereka tahu sekarang. Dia baru saja menunjukkan pada semua orang bahwa ia peduli padaku tapi ia tidak benar-benar ingin berjalan dengan aku di lengannya. Dadaku terasa sakit. Aku butuh jarak dari dia. Sudah waktunya aku belajar untuk merangkak kembali ke dunia kecilku di mana aku mempercayai diriku dan hanya aku. Tidak ada orang lain. Setelah kami keluar dari ballroom dan jauh dari mata yang ingin tahu, aku melangkah menjauh dari Yunho dan menjaga jarak diantara kami. Aku menyilangkan lenganku di depan dada dan menatap kakiku. Aku tidak yakin apakah memandangnya merupakan sesuatu yang baik atau bukan. Aku tidak mengambil waktu untuk menikmati betapa indah ia terlihat dalam tuksedo hitam. Aku sudah melakukan yang terbaik untuk tidak melihat ke arahnya. Sekarang ia berdiri disini di depanku berpakaian seperti seharusnya di mana aku dengan pakaian pelayan yang berlumur minyak siput, perbedaan besar diantara dunia kami sangat jelas.
"Jae, Aku minta maaf. Aku tidak mengira sesuatu seperti itu akan terjadi. Aku bahkan tak tahu dia punya masalah denganmu. Aku akan berbicara dengan Boa tentang hal ini. Aku punya perasaan Boa ada hubungannya dengan ini,"
"Si rambut merah itu membenciku karena Hyunjoong tertarik padaku. Boa tidak ada hubungannya dengan ini dan begitu pula dirimu."
Yunho tidak langsung membalas. Aku bertanya-tanya apakah aku harus berbalik dan berjalan kembali ke dapur.
"Apakah Hyunjoong masih merayumu?"
Apakah ia baru saja menanyakan itu padaku? Aku berdiri di sana berlumur siput dan mentega dan ia bertanya padaku apakan beberapa pria menggodaku? Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih punya pekerjaan. Itu saja. Sudah cukup. Aku berbalik dan kembali ke dapur. Yunho tidak membiarkanku menjauh. Tangannya terulur dan meraih lenganku.
"Boo, tunggu. Maafkan aku. Seharusnya aku tidak menanyakan itu. Itu bukan masalah sekarang. Aku mau memastikan kau baik-baik saja dan membantumu membersihkan diri." Suaranya terdengar sedih saat ia mengatakan bagian akhir.
Aku mendesah dan berbalik dan bertemu tatapannya saat ini. "Aku baik-baik saja. Aku harus pergi ke dapur dan melihat apakah aku masih punya pekerjaan. Aku sudah diperingatkan oleh Hyunjoong pagi ini bahwa sesuatu seperti ini mungkin terjadi dan itu akan menjadi kesalahanku. Jadi, saat ini aku punya masalah yang lebih besar daripada kau yang tiba-tiba merasa perlu bersikap posesif padaku. Yang mana ini konyol. Karena kau sedang melakukan yang terbaik untuk mengabaikanku sampai peristiwa ini terjadi. Kau tahu aku atau tidak, Yunho. Pilih salah satu pihak." Luka pada suaraku tidak mudah untuk disembunyikan. Aku menyentak lenganku lepas dari tangannya dan berjalan kembali menuju dapur.
"Kau sedang bekerja. Apa yang kau ingin aku lakukan?" panggilnya dan aku berhenti. "Mengakuimu akan memberikan alasan Boa untuk menyerangmu. Aku melindungimu."
Fakta bahwa ia mengakuinya memberitahuku begitu banyak. Boa diprioritaskan. Ia mengabaikanku untuk membuat Boa senang. Aku menduganya tentu saja. Aku hanya cewek panggilannya. Boa adiknya. Ia benar lebih memilih Boa daripada aku. Bagaimana ia bisa melihatku sebagai sesuatu yang lebih saat aku pergi ke tempat tidurnya dengan mudah?
"Kau benar, Yunho. Kau mengabaikanku akan mencegah Boa menyerangku. Aku hanya seorang yeoja yang kau tiduri dua malam terakhir. Segala sesuatunya menganggap aku tidak spesial. Aku satu dari banyak gadis yang lain." Aku tidak menunggunya untuk mengatakan lagi. Aku berlari ke pintu dapur membantingnya sebelum air mata yang menggenangi mataku terjatuh.
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment:

  1. Pengen lanjuuuttttt
    Bener2 dehhh,,, sape sih si Boa ???

    Makasih, Saki chan dah apdet terus nihhh

    Gemes bgt baca cerita ini,,,

    ReplyDelete