Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara
orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong
membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya
agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Meninggalkan Yunho di tempat tidur pagi ini
sangat sulit. Ia tidur begitu damai aku tidak ingin membangunkannya. Aku
menahan diri untuk tidak menciumi wajahnya sebelum aku pergi. Tidur membuatnya
terlihat tidak khawatir. Aku tidak menyadari betapa intens dan waspadanya ia
sampai aku memperhatikan ia tertidur dan melihat ia benar-benar damai.
Membuka pintu menuju ruangan staf aku
disambut dengan bau donat baru dan Seok Chun oppa yang tersenyum.
"Selamat pagi sayang," ia berkata
riang seperti biasanya.
"Itu masih harus dilihat, kau akan
membagi donat itu atau tidak?"
Ia memegang kotak itu kepadaku. "Aku
membeli dua ekstra hanya untukmu sayang. Aku tahu kau datang bekerja hari ini
dan aku tidak ingin menjadi tangan kosong."
Aku duduk didepannya dan meraih donatku.
"Jika aku pikir kau akan menikmatinya, aku akan mencium wajahmu,"
godaku.
Seok Chun oppa menggoyangkan alisnya,
"Siapa yang tahu, sayang? Wajah sepertimu bisa menyebabkan seorang pria
tersesat."
Sambil tertawa, aku menggigit kenikmatan
yang hangat dan halus. Ini tidak sehat tapi donat ini sangat enak.
"Makanlah karena kita mempunyai hari
yang sangat panjang. Pesta debutan malam ini dan kita tidak akan berada di
ruang makan. Kita semua akan dikirim ke ruangan pesta dan dipaksa untuk
berjalan dengan nampan makanan kemudian melayani mereka semua pada makan
malam."
Pesta debutan? Apa sih itu?
“Apakah itu sebabnya ada begitu banyak truk
di luar dengan bunga dan dekorasi?"
Seok Chun oppa mengangguk dan meraih donat
lain yang dilapisi coklat. "Ya. Terjadi setiap tahun selama minggu ini.
Ibu kaya yang gila mendampingi putri mereka dan mengenalkannya kepada
masyarakat. Setelah malam ini, gadis-gadis akan dianggap sebagai wanita dewasa
dan diperlakukan sebagai anggota klub dewasa. Mereka bisa berada di komite dan
sejenisnya. Ini adalah omong kosong gila. Apalagi sejak Boa berumur 21 beberapa
minggu lalu. Itu berarti dia bisa dilepaskan kedunia orang dewasa."
Boa seorang debutan. Itu menarik. Ibunya
tidak ada di sini. Apakah ini berarti dia kembali? Jantungku berdegup
kencang...Aku harus segera pergi. Yunho tidak mengatakan kepadaku bahwa sesuatu
telah berubah tentang kepindahanku. Ketika aku pergi akankan dia masih
melihatku?
"Tarik napas, Jae. Itu hanya sebuah
pesta sialan," kata Seok Chun oppa. Aku mengambil napas dalam-dalam. Aku
tak menyadari bahwa aku mulai panik. Inilah sebabnya mengapa aku mau menjaga
jarak. Aku tahu hari ini akan datang. Apakah ayahku ada di rumah hari ini?
"Jam berapa mulainya?" Aku
berhasil bertanya tanpa ada hambatan di suaraku.
"Jam tujuh tapi mereka akan menutup
ruang makan jam lima supaya kita bisa bersiap-siap."
Aku mengangguk dan meletakkan sisa donatku.
Aku tidak bisa menghabiskannya. Hari ini menjadi permainan menunggu. Aku
merasakan ponsel di kantongku tapi aku tidak bisa sms Yunho. Aku tidak mau ia
memberitahu kabar buruk melalui sms. Aku hanya akan menunggu.
"Jae, aku perlu menemuimu sebentar di
ruanganku." Suara Hyunjoong masuk ke pikiranku. Mataku tertuju ke mata Seok
Chun oppa yang melebar dengan keprihatinan. Bagus. Apa yang sudah kulakukan?
Aku berdiri dan berbalik menghadap Hyunjoong.
Ia tidak terlihat marah. Ia tersenyum ke arahku dan itu memberikan keberanian
yang aku butuhkan untuk berjalan ke arahnya. Ia membukakan pintu untukku dan
aku melangkah keluar ke koridor.
"Santai, Jae. Kau tidak dalam masalah.
Kita hanya perlu membahas tentang malam ini."
Oh. Wow. Aku menarik napas dalam-dalam dan
mengangguk lalu mengikutinya ke pintu di ujung lorong.
"Aku tidak mendapatkan apapun yang mewah.
Aboji percaya bahwa aku bekerja dari bawah sampai ke puncak. Bahkan jika aku
akan mewarisi klub suatu hari nanti." Hyunjoong memutar matanya saat
membuka pintu kantornya dan menyuruhku masuk. Ruangannya sebesar kamarku di
rumah Yunho. Ada dua jendela besar yang menghadap ke lapangan golf.
Hyunjoong berjalan memutar untuk duduk di
pinggir mejanya daripada dibelakangnya. Aku menghargai ia mencoba untuk tidak
membuatnya sangat formal. Itu akan membuatku gugup.
"Pesta Debutan nanti malam. Ini adalah
kegiatan tahunan di sekitar sini. Kami mengadakan acara untuk gadis kaya yang
manja menjadi dewasa. Ini sesuatu yang menjengkelkan yang menjadikan klub ini
memperoleh keuntungan lebih dari lima puluh juta dolar dari biaya, sumbangan
dan sejenisnya. Jadi kita tidak bisa menghentikan omong kosong ini. Eommaku
juga tidak mampu menghentikannya meski ia bisa. Dulu dia juga seorang debutan
dan kau akan berpikir seakan dia telah dinobatkan menjadi ratu Inggris saat
mendengar ibuku membicarakannya."
Aku tidak merasa lebih baik tentang malam
ini. Penjelasan ini membuatku merasa bertambah buruk.
"Boa sekarang dua puluh satu tahun.
Jadi, ia akan menjadi seorang debutan. Aku melihat daftarnya dan Yunho akan
menjadi pendampingnya, hal ini tradisional untuk appa atau oppa sang gadis
untuk mendampinginya. Pendamping pun harus dari anggota klub. Aku tak tahu apa
yang sedang terjadi antara kau dan Yunho tapi aku tahu bahwa Boa membencimu.
Aku tidak membutuhkan drama malam ini. Namun aku membutuhkanmu. Kau salah satu
dari yang terbaik. Pertanyaannya adalah, bisakah kau melakukannya tanpa adanya
suatu pertengkaran? Karena Boa akan melakukan yang terbaik untuk menutup
mulutmu. Ini semua kembali padamu untuk mengabaikannya. Kau mungkin berkencan
dengan seorang anggota klub tapi kau tetap seorang pelayan. Tidak mengubah itu.
Anggota selalu benar. Klub harus memihak Boa jika pertengkaran itu
terjadi."
Apa yang dia harapkan? Ini bukan SMA. Kita
semua orang dewasa. Aku bisa mengabaikan Boa dan Yunho semalamam jika perlu.
"Aku bisa melakukannya. Tidak
masalah."
Hyunjoong mengangguk cepat. "Bagus,
karena bayarannya sangat bagus dan kau butuh pengalamannya."
"Aku bisa melakukannya," Aku
menenangkannya.
Hyunjoong berdiri. "Aku percaya kau
bisa. Kau bisa membantu Seok Chun hyung dengan sarapan sekarang. Ia mungkin
sedang mengutuk kita berdua."
.
.
.
Sisa hari ini berjalan dengan cepat dan aku
begitu sibuk dengan persiapannya yang membuatku tidak mempunyai waktu untuk
memikirkan Boa atau kembalinya ayahku. Atau Yunho. Sekarang aku berdiri di
dapur dengan staf pelayan lain. Aku menggunakan baju pelayan putih dan hitam
dengan rambut yang ditarik menjadi sanggul. Aku mulai merasa kecemasan muncul
di perutku.
Ini adalah pertama kalinya aku harus
menghadapi perbedaan antara Yunho dan aku. Dunianya dibandingkan duniaku.
Mereka akan bertumbukan malam ini. Aku sudah mempersiapkan diri untuk setiap
komentar yang Boa akan buat tentangku. Aku bahkan sudah berbicara dengan Seok
Chun oppa menjadi penyekat dan menahanku dari keharusan berdekatan dengan Nan.
Aku ingin melihat Yunho atau mungkin berbicara padanya tapi aku punya perasaan
itu tidak akan disetujui.
"Waktunya beraksi. Kudapan dan
minuman. Kalian tahu tugas kalian. Ayo." Jessica gwijangnim menjalankan
pertunjukan malam ini di belakang panggung. Aku mengambil nampan martini dan
menuju antrian di pintu. Semua orang pergi dengan cepat dan kami semua membuat
jalan yang berbeda melalui kerumunan. Punyaku setengah lingkaran searah jarum
jam. Kecuali aku melihat Boa, lalu aku berbalik berlawanan dan Seok Chun oppa
pergi searah jarum jam. Ini adalah ide yang bagus. Aku hanya berharap itu
berhasil.
Pasangan pertama yang aku tuju bahkan tidak
memedulikanku saat mereka mengobrol dan mengambil minuman dari nampan. Itu
cukup mudah. Aku berhasil melewati beberapa kelompok lagi. Beberapa pria dan wanita
yang kukenal dari lapangan golf. Mereka akan selalu mengangguk dan tersenyum
ketika mereka mengenaliku tapi hanya itu.
Setengah jalan melalui ruangan, nampanku
kosong dan aku mengingat dalam hati di mana terakhir kali aku berhenti. Aku
bergegas kembali ke dapur untuk minuman lainnya. Jessica sedang menungguku. Ia
mendorong nampan martini baru kearahku dan mengusirku pergi.
Aku berhasil kembali ke tempat semula,
hanya harus berhenti dua kali dan memungkinkan seseorang untuk mendapatkan minuman
dari nampan. Tuan Dong Bae memanggil namaku dan melambaikan tangan. Aku
tersenyum kembali kearahnya. Ia memainkan delapan belas hole setiap jum'at dan
sabtu. Itu membuatku takjub bahwa seorang pria Sembilan puluh tahun bisa
berkeliling sebaik itu. Ia juga datang untuk minum kopi dan dua telur rebus
Senin sampai Jum'at pagi.
Saat aku berbalik dari tersenyum, mataku
terkunci dengan mata Yunho. Aku sudah berusaha keras untuk tidak melihat
kearahnya meskipun aku tahu ia disini. Itu adalah malam besar Boa. Yunho tidak akan
melewatkannya. Tidak ada alasan ia harus. Dia jahat tapi ia adik Yunho. Itu aku
yang dia benci. Bukan Yunho.
Wajahnya terlihat sedih dan senyum kecilnya
terlihat dipaksakan. Aku tersenyum kearahnya berusaha keras untuk tidak
memikirkan ucapan anehnya. Paling tidak ia melihat ke arahku. Aku tidak tahu
apa yang aku harapkan darinya.
Tuan dan Nyonya Park menyapa dan
memberitahuku mereka merindukan melihatku di lapangan golf. Aku berbohong dan
mengatakan aku merindukannya juga. Lalu aku kembali ke dapur untuk nampan lain.
Jessica mendorong sebuah nampan dengan
sampanye ke arahku, "Ayo, ayo, cepat," ia membentak.
Aku berjalan secepat yang aku bisa dengan
nampan penuh gelas sampanye. Setelah di ruangan pesta aku mulai ke jalan yang
sama melalui anggota yang tenggelam dalam percakapan dan aku hanya sebuah
nempan minuman. Aku lebih menyukai ini. Aku tidak merasa gelisah.
Tawa familiar Junsu menarik perhatianku dan
aku berbalik untuk mencarinya. Aku tidak melihat ia di dapur sebelumnya. Aku
mengira Jessica tidak menginginkan dia bekerja. Atau ayah Hyunjoong tidak mau.
Junsu tidak berpakaian seperti kami. Ia
menggunakan gaun sifon yang menempel dan rambut cokelat panjangnya menumpuk di
kepala dengan ikal menggantung ke bawah di sekitar wajahnya. Ia menoleh dan menatap
mataku, dan ia menyeringai lebar. Aku melihat ia bergegas kearahku. Stiletto
yang ia kenakan bahkan tidak memperlambat langkahnya.
"Bisakah kau percaya kalau aku di sini
sebagai tamu?" Junsu bertanya, melihat ke sekeliling kami dengan kagum
kemudian kembali melihatku. Aku menggeleng karena aku tidak bisa percaya.
"Saat Yoochun datang ke apartemenku
berlutut dan memohon padaku semalam, aku memberitahunya kalau ia menginginkan
aku sebagai pacarnya ia harus memperlihatkannya di depan umum. Ia setuju dan
yah, kau mendapatkan gambarnya. Segala sesuatunya menjadi benar-benar panas di
apartemenku. Tapi bagaimanapun juga, disinilah aku," desahnya.
Yoochun
telah bersikap jantan. Bagus untuknya. Aku menoleh ke belakang untuk melihat Yoochun
mengawasi kami. Aku tersenyum kearahnya dan mengangguk menyetujui. Ia memberiku
seringai kecil sambil mengangkat bahu.
"Aku senang bisa tahu akhirnya ia
mendapat akal sehatnya," balasku.
Junsu meremas lenganku. "Terima
kasih," ia berbisik.
Ia tidak punya apa-apa untuk berterima
kasih padaku tapi aku tersenyum. "Pergilah bersenang-senang. Aku harus
mengantar habis ini semua sebelum bibimu datang kesini dan mendapatiku sedang
mengobrol."
"Okay. Aku akan, Meskipun aku berharap
kau dapat menikmatinya denganku." Matanya melirik melewati bahuku. Aku
tahu ia sedang melihat Yunho. Ia disini dan ia mengabaikanku di depan semua orang
ini. Ia melakukannya demi Boa tapi apakah itu membuatnya lebih baik?
Perlahan-lahan aku tersadar. Aku akan
menjadi seperti Junsu.
"Aku butuh uang jadi aku bisa
mendapatkan tempat tinggalku sendiri," Aku memberitahunya dengan sebuah
senyuman terpaksa. "Pergilah berbaur," Aku mendorongnya dan berjalan
pergi ke kelompok orang berikutnya.
Matanya mengikutiku mengirimkan sensasi
membakar ke leherku. Aku tahu Yunho memperhatikanku. Aku tidak harus berbalik
dan melihat Yunho untuk membuktikan. Apakah ia baru saja menyadari situasi kami
seperti yang kualami? Aku meragukannya. Ia seorang pria. Aku sudah bersikap
gampangan. Aku juga seorang munafik terbesar di dunia. Sekarang aku merasa
bersalah memarahi dan mengasihani Junsu.
Sampanye terakhir meninggalkan nampanku dan
aku berjalan kembali melalui kerumunan, berhati-hati untuk tidak mendekati Yunho
atau Boa. Aku bahkan tidak melirik kearah mereka. Aku masih punya harga diri.
Aku hanya harus berhenti tiga kali pada tamu untuk meletakkan gelas kosong
mereka pada nampanku saat aku bergegas kembali ke dapur dengan selamat.
"Bagus kau kembali. Ambil nampan ini.
Kita butuh makanan di luar sana sebelum mereka minum terlalu banyak dan kita
punya pemabuk mengacau di tangan kita," kata Jessica, menyodorkan nampan
yang aku tidak tahu isinya. Mereka juga bau. Aku mengernyitkan hidungku dan
menjauhkan nampan itu dariku. Jessica terkekeh dengan tawa.
"Itu escargot, siput. Mereka
menjijikkan tapi orang-orang ini berpikir mereka makanan yang lezat. Tahan
baunya dan pergilah." Aku rasa perutku berputar. Aku bisa melakukannya
tanpa penjelasan itu. Escargot akan menjadi deskripsi yang memadai.
Ketika aku sampai di pintu masuk ballroom
aku memantapkan diri dan mencoba untuk tidak berpikir tentang siput yang aku
berikan untuk dimakan orang-orang atau fakta bahwa Yunho ada di sana
berpura-pura ia tidak mengenalku sama sekali. Setelah aku menghabiskan dua
malam terakhir di tempat tidurnya.
"Kau baik-baik saja?" Hyunjoong
bertanya saat aku berjalan ke dalam ruangan. Ia berada disampingku terlihat
khawatir.
"Ya. Kecuali kenyataan bahwa aku
memberi orang-orang siput untuk dimakan," jawabku. Hyunjoong terkekeh,
mengambil satu dari nampanku dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Kau harus mencoba satu. Ini
benar-benar enak. Apalagi direndam di bawang putih dan mentega."
Perutku berputar lagi dan aku menggeleng. Hyunjoong
tertawa keras saat ini. "Kau selalu membuat sesuatu menjadi lebih menarik,
Jae," ia berkata, sambil membungkuk kearah telingaku. "Aku minta maaf
tentang Yunho. Sekedar catatan, jika kau memilihku kau tidak akan kerja malam
ini. Kau akan berada di lenganku."
Aku merasa wajahku merona. Sudah cukup
mengetahui bahwa aku adalah rahasia kecilnya tapi bahwa orang lain yang
mengetahuinya itu memalukan. Bagaimanapun, aku menginginkan Yunho. Sangat
menginginkannya. Well, memang aku mendapat apa yang kuharapkan.
"Aku butuh uang. Aku sebentar lagi
mampu mendapat tempat tinggalku sendiri," aku terus terang memberitahu Hyunjoong.
Hyunjoong
memberiku anggukan singkat dan senyum simpatik sebelum berbalik untuk menyambut
tamu yang lebih tua yang kebetulan lewat. Aku mengambil momen itu untuk pergi.
Aku punya siput untuk memberi makan orang-orang.
Seok Chun oppa menangkap mataku dan ia
mengedip meyakinkan padaku. Ia sibuk mengurus sisi ruangan Yunho dengan cerdas.
Aku bahkan tidak mendekat kearahnya. Junsu tersenyum cerah padaku saat aku
datang di kelompoknya. Senyumnya hilang saat ia melihat ke makanan dalam
nampanku.
"Apa itu?" ia bertanya ketakutan.
"Kau tidak ingin tahu," aku
memberitahunya, membuat Yoochun dan seorang pria yang aku tidak begitu kukenal
tertawa.
"Mungkin lebih baik kau
melewatkannya," Yoochun memberitahu Junsu sambil menyelipkan tangannya di
pinggangnya dan menariknya lebih dekat ke sisinya dengan mesra.
Junsu berseri-seri kearah Yoochun dan
segala kemesraan manis itu yang mampu kuterima. Aku bergegas ke kelompok
berikutnya. Rambut merah keriting itu terlihat akrab. Aku butuh satu detik
untuk mendatanginya. Racun jahat di senyumnya mengingatkanku persis di mana aku
pernah melihatnya sebelumnya. Ia sudah mengejar Hyunjoong di rumah Yunho pada
malam pesta Boa. Aku belum menjadi pemuja malam itu berkat Hyunjoong.
"Bukankah ini menyenangkan?"
katanya, mengalihkan perhatiannya menjauh dari pasangan yang berbicara padanya
dan fokus padaku. "Aku tebak Hyunjoong memutuskan kau lebih cocok berkerja
padanya daripada berkencan dengannya." Ia terkikik dan menggelengkan
kepalanya sehingga ikal merahnya memantul. "Aku bersumpah, ini membuat
malamku menyenangkan." Ia mengulurkan tangan dan membalikkan nampanku.
Siput-siput turun ke depan bajuku diikuti
dengan nampan yang terjatuh keras di lantai. Aku terlalu tercengang untuk
bergerak atau bicara.
"Oh dan lihat dia sangat kikuk. Hyunjoong
harus pilih-pilih tentang karyawannya," gadis itu mendesis penuh
kebencian.
"Oh tuhanku! Jae, kau baik-baik
saja?" suara Junsu datang dari belakangku menyadarkanku dari keterkejutan.
Aku berhasil menyingkirkan siput yang masih
menempel di pakaianku.
"Minggir," perintah suara berat
yang langsung kukenali. Kepalaku terangkat untuk menemukan Yunho mendorong
melewati beberapa orang dengan rambut merah yang tampaknya menertawakan
kekacauan yang kubuat. Dia marah. Tidak salah lagi. Yunho mencengkeram
pinggangku dan mengamati wajahku sesaat. Aku tidak yakin untuk apa. "Kau
baik-baik saja?" ia bertanya pelan.
Aku mengangguk, tidak yakin bagaimana harus
bereaksi.
Pembuluh darah di lehernya sekali lagi
menegang dibalik kulitnya saat menelan ludah. Ia nyaris tidak memutar kepalanya
memandang pada si rambut merah. "Jangan mendekati aku dan dia lagi.
Mengerti?" ia berkata dengan tenang yang mematikan.
Mata gadis itu melebar. "Buat apa kau
marah padaku? Dia yang kikuk. Ia menumpahkan seisi nampan ke dirinya
sendiri."
Tangan Yunho mencengkeram erat pinggangku.
"Jika kau mengucapkan satu kata lagi aku akan mengancam untuk mencabut
semua sumbanganku dari klub ini sampai kau dikawal keluar. Secara
permanen."
Gadis itu terkesiap, "Tapi aku teman
Boa, Yunho. Teman terlamanya. Kau tidak akan melakukannya padaku. Apalagi untuk
pelayan sewaan." Cibiran kekanak-kanakan dalam suaranya terdengar aneh
dari gadis berusia dua puluh satu tahun.
"Coba saja," balasnya.
Dia mentap kembali ke arahku. "Kau
ikut denganku."
Aku tidak punya waktu untuk merespon
sebelum ia membalikkan kepalanya untuk melihat ke belakang bahuku. "Aku
bersamanya Junsu. Ia baik-baik saja. Kembalilah ke Yoochun." Yunho
menyelipkan tangannya di sekitar pinggangku. "Hati-hati siputnya, mereka
licin."
Dua orang pelayan bergegas masuk ke ruangan
dengan perlengkapan untuk memberihkan kekacauan. Musik tidak berhenti tapi
tempat ini menjadi tenang. Perlahan-lahan, orang-orang mulai berbicara lagi.
Aku tetap mengarahkan mataku ke pintu menunggu sampai aku bisa keluar dari
ballroom ini dan melepaskan diri dari pelukan Yunho.
Jika orang-orang di sini tidak tahu kami
sudah berhubungan seks, mereka tahu sekarang. Dia baru saja menunjukkan pada
semua orang bahwa ia peduli padaku tapi ia tidak benar-benar ingin berjalan
dengan aku di lengannya. Dadaku terasa sakit. Aku butuh jarak dari dia. Sudah
waktunya aku belajar untuk merangkak kembali ke dunia kecilku di mana aku
mempercayai diriku dan hanya aku. Tidak ada orang lain. Setelah kami keluar
dari ballroom dan jauh dari mata yang ingin tahu, aku melangkah menjauh dari Yunho
dan menjaga jarak diantara kami. Aku menyilangkan lenganku di depan dada dan
menatap kakiku. Aku tidak yakin apakah memandangnya merupakan sesuatu yang baik
atau bukan. Aku tidak mengambil waktu untuk menikmati betapa indah ia terlihat
dalam tuksedo hitam. Aku sudah melakukan yang terbaik untuk tidak melihat ke
arahnya. Sekarang ia berdiri disini di depanku berpakaian seperti seharusnya di
mana aku dengan pakaian pelayan yang berlumur minyak siput, perbedaan besar
diantara dunia kami sangat jelas.
"Jae, Aku minta maaf. Aku tidak
mengira sesuatu seperti itu akan terjadi. Aku bahkan tak tahu dia punya masalah
denganmu. Aku akan berbicara dengan Boa tentang hal ini. Aku punya perasaan Boa
ada hubungannya dengan ini,"
"Si rambut merah itu membenciku karena
Hyunjoong tertarik padaku. Boa tidak ada hubungannya dengan ini dan begitu pula
dirimu."
Yunho tidak langsung membalas. Aku
bertanya-tanya apakah aku harus berbalik dan berjalan kembali ke dapur.
"Apakah Hyunjoong masih
merayumu?"
Apakah ia baru saja menanyakan itu padaku?
Aku berdiri di sana berlumur siput dan mentega dan ia bertanya padaku apakan
beberapa pria menggodaku? Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih punya
pekerjaan. Itu saja. Sudah cukup. Aku berbalik dan kembali ke dapur. Yunho
tidak membiarkanku menjauh. Tangannya terulur dan meraih lenganku.
"Boo, tunggu. Maafkan aku. Seharusnya
aku tidak menanyakan itu. Itu bukan masalah sekarang. Aku mau memastikan kau
baik-baik saja dan membantumu membersihkan diri." Suaranya terdengar sedih
saat ia mengatakan bagian akhir.
Aku mendesah dan berbalik dan bertemu
tatapannya saat ini. "Aku baik-baik saja. Aku harus pergi ke dapur dan
melihat apakah aku masih punya pekerjaan. Aku sudah diperingatkan oleh Hyunjoong
pagi ini bahwa sesuatu seperti ini mungkin terjadi dan itu akan menjadi
kesalahanku. Jadi, saat ini aku punya masalah yang lebih besar daripada kau
yang tiba-tiba merasa perlu bersikap posesif padaku. Yang mana ini konyol.
Karena kau sedang melakukan yang terbaik untuk mengabaikanku sampai peristiwa
ini terjadi. Kau tahu aku atau tidak, Yunho. Pilih salah satu pihak." Luka
pada suaraku tidak mudah untuk disembunyikan. Aku menyentak lenganku lepas dari
tangannya dan berjalan kembali menuju dapur.
"Kau sedang bekerja. Apa yang kau
ingin aku lakukan?" panggilnya dan aku berhenti. "Mengakuimu akan
memberikan alasan Boa untuk menyerangmu. Aku melindungimu."
Fakta bahwa ia mengakuinya memberitahuku
begitu banyak. Boa diprioritaskan. Ia mengabaikanku untuk membuat Boa senang.
Aku menduganya tentu saja. Aku hanya cewek panggilannya. Boa adiknya. Ia benar
lebih memilih Boa daripada aku. Bagaimana ia bisa melihatku sebagai sesuatu
yang lebih saat aku pergi ke tempat tidurnya dengan mudah?
"Kau benar, Yunho. Kau mengabaikanku
akan mencegah Boa menyerangku. Aku hanya seorang yeoja yang kau tiduri dua
malam terakhir. Segala sesuatunya menganggap aku tidak spesial. Aku satu dari
banyak gadis yang lain." Aku tidak menunggunya untuk mengatakan lagi. Aku
berlari ke pintu dapur membantingnya sebelum air mata yang menggenangi mataku
terjatuh.
.
.
.
.
To Be Continue

Pengen lanjuuuttttt
ReplyDeleteBener2 dehhh,,, sape sih si Boa ???
Makasih, Saki chan dah apdet terus nihhh
Gemes bgt baca cerita ini,,,