Thursday, September 17

[REMAKE] The Violinist Chapter I



Summary: Jung Yunho, violinist jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
The Violinist
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri 
By Kitahara Saki/7ec4df8e

Chapter 1

"Kau memang jahat!"
Perempuan berambut pirang panjang itu berdiri setengah menggebrak meja, menatap ke arah Yunho yang hanya bersedekap tenang dan dingin. Mata perempuan itu berkaca-kaca, hampir menangis. Sementara itu Yunho malahan melirik tak peduli.
"Aku memang jahat."
lelaki itu tersenyum manis, wajahnya tampan tetapi sekarang terlihat penuh kebencian,
"Kalau kau sudah puas melampiaskan kemarahanmu, kau boleh pergi."
Sebuah tamparan dari jemari lentik berkuku merah berkilauan itupun melayang, mengenai pipi Yunho dengan kerasnya, luapan emosinya akibat perlakukan kejam Yunho kepadanya. Yunho menerimanya dengan tenang, dia sudah terbiasa. Perempuan-perempuan emosional biasanya akan berusaha menyakiti lawannya ketika dia disakiti, itu memberikan kepuasan, rasa yang sepadan bagi mereka.
Mata Yunho berkilat, dan setengah tersenyum kepada perempuan di hadapannya,
"Sudah puas?"
Perempuan itu tidak bisa berkata-kata lagi, air matanya berlelehan di pipinya, tak tertahankan. Kemudian dengan tangis terisak-isak, perempuan itu pergi setengah berlari meninggalkan Yunho.
Yunho mengusap pipinya yang terasa panas, menyadari beberapa mata terarah kepadanya di cafe itu. Yah, orang-orang itu pasti tertarik dengan kejadian dramatis seperti syuting drama di depan mata mereka. Yunho tahu, Seulgi pasti marah ketika dia memutuskannya dengan kejam, tetapi Yunho tidak pernah mengira Seulgi akan bersikap sedramatis itu, kalau saja Yunho tahu, dia pasti akan memilih tempat yang lebih pribadi untuk melakukannya.
Dengan tenang, Yunho menjentikkan jarinya, memberi isyarat kepada pelayan yang langsung tergopoh-gopoh mendatanginya,
"Kopi hitam, jangan pakai gula. Satu." gumamnya tenang lalu duduk menunggu. Seperti kebiasaannya, setelah mematahkan hati perempuan, Yunho akan meminum satu cangkir kopi hitam, untuk menghormati momennya.
Lama kelamaan ini jadi kebiasaan. Yunho mengernyit. Sepertinya Yunho tidak akan pernah bisa menjalin hubungan dengan perempuan, tanpa dia tergoda untuk menyakiti perempuan itu. Dan pada akhirnya, itulah yang memang selalu dilakukannya.
Oh, jangan ditanya, Yunho adalah kekasih yang baik hati dan mempesona. Dia akan memperlakukan semua kekasihnya seperti ratu, mereka akan dimanjakan dengan penuh kasih sayang, diberikan prioritas waktunya dan pasti akan merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia.... hingga akhirnya Yunho menghempaskannya ketika dirasa waktunya sudah tiba.
Kopi hitamnya datang. Yunho menyesapnya dan mengernyit merasakan kepahitan dan asam khas kopi yang kental. Dia lalu merenung. Semua perempuan itu seperti tidak pernah jera, mereka selalu datang dan datang lagi, mengharapkan cintanya. Padahal reputasi Yunho sebagai ladykiller sudah begitu terkenal, mereka malahan menganggap Yunho sebagai hadiah yang harus dimenangkan, merasa bisa menaklukkan Yunho pada akhirnya.
Senyum sinis mengembang di bibir Yunho. Huh! Mereka semua bermimpi.
Jemari Yunho mencengkeram gelasnya dengan erat, terbawa perasaannya. Kebenciannya kepada ibunya telah menyeruak, jauh begitu dalam ke dasar jiwanya yang kelam. Apa yang dilakukan ibunya kepadanya, kepada ayah dan adiknya, memisahkan mereka begitu saja, itu adalah dosa yang tak termaafkan, Yunho tidak akan pernah memaafkan ibunya untuk hal yang satu itu. Tidak akan pernah! Karena kalau ibunya tidak merenggutnya lalu meninggalkannya begitu saja, Yunho seharusnya masih mempunyai kesempatan untuk melewatkan hari-harinya bersama  ayahnya. Ayah yang kemudian tidak pernah bisa ditemuinya lagi bahkan sampai hari terakhir ayahnya hidup di dunia.
Setidaknya, pada akhirnya Yunho dipertemukan kembali dengan adik kandungnya, Junsu setelah bertahun-tahun terpisahkan tanpa jejak. Entah itu takdir Tuhan, atau memang Tuhan selalu mendengarkan doa Yunho setiap malamnya, adiknya itu yang sekarang sudah dewasa dan cantik, secara kebetulan menjadi anak asuh dari ibu sahabatnya, mereka dipertemukan tanpa sengaja, tetapi dari pandangan pertama, Yunho langsung tahu. Meskipun Junsu tidak bisa mengingatnya karena ketika mereka terpisah usia Junsu masih sangat kecil, Yunho langsung mengenali adiknya itu. Siapa pula yang bisa melupakan wajah lucu yang menatapnya dengan tatapan mata memuja, menguntitnya kemana-mana dan selalu meneriakkan namanya dengan bahagia di kala mereka kecil itu?
Sayangnya takdir yang sama tidak menyentuh Yunho dan ayahnya. Dari kisah Junsu, Yunho tahu, kehidupan ayahnya begitu sulit bersama Junsu, ayahnya - seorang pemain biola kelas dunia yang begitu terkenal yang kemudian terpuruk karena cacat di tangannya - bahkan sampai harus bekerja menjadi tukang bangunan untuk menghidupi dirinya. Pada saat yang sama, Yunho hidup berkelimpahan dengan keluarga angkatnya. Rasa bersalah itu terus menyeruak semakin dalam ke dalam jiwanya, semakin dalam dan kelam, membuatnya merasa pahit dan penuh penyesalan. 
Seharusnya Yunho ada bersama ayahnya meskipun mereka harus hidup susah, Yunho anak laki-laki, setidaknya dia bisa bekerja membantu ayahnya. Dan penyesalan Yunho yang paling mendalam....... seharusnya dia bisa memeluk ayahnya di saat terakhirnya, mengantarkan jasadnya ke persemayaman terakhirnya. Itu semua tidak bisa dia lakukan dan itu membuatnya merasa pilu. Pilu dan benci, benci kepada ibunya yang telah membuatnya kehilangan semua saat berharga yang seharusnya bisa dirasakannya.
Ibunya sekarang sudah menerima ganjarannya. Akibat usaha penculikan amatirnya demi mendapatkan harta, ibunya itu harus mendekam di penjara selama beberapa lama. Yah. Tempat yang paling cocok untuk perempuan seperti itu memang di penjara. Yunho mengernyit. Kehidupan sudah mengarah ke jalan yang tenang sekarang, Junsu sudah hidup bahagia dengan suaminya yang begitu memujanya, Yunho sendiri seharusnya sudah bisa meletakkan dendamnya yang berkepanjangan.
Tetapi dia tidak bisa. Dendam itu masih membara, kepada semua perempuan yang mengejar-ngejarnya hanya karena melihat ketampanannya, atau melihat harta dan kemampuan bermain biola. Yunho tidak menyukai mereka semua. Mereka pada akhirnya akan sama saja seperti ibunya. Mungkin nanti, ketika Yunho kehilangan kemampuannya bermain biola, kehilangan harta dan ketampanannya, para perempuan itu akan mencampakkannya, sama seperti ketika ibunya mencampakkan ayahnya.
.
.
.
"Bagimana konsermu di austria?"
Mr. Kim, salah satu mantan mentornya ketika dia masih belajar di akademi ini tersenyum menatap Yunho yang baru saja datang berkunjung. Yunho adalah muridnya yang paling brilian. Lelaki ini membawa bakat jenius permainan biola ke dalam tangannya, seorang pemakin biola berbakat alami yang diimbangi dengan teknik tingkat tinggi. 
Ketika kedua orangtuanya, yang merupakan sahabat Mr. Kim membawa Yunho kepadanya, semula Mr. Kim sama sekali tidak punya bayangan apa-apa. Yang datang kepadanya adalah seorang anak lelaki kurus dan tampan berumur sekitar enam atau tujuh tahun, memeluk sebuah biola berwarna merah gelap yang sepertinya kebesaran untuk anak seumurannya.
Tetapi ketika anak kecil itu memainkan biolanya, Mr. Kim terpana. Dia langsung tahu, anak kecil ini bisa disebut 'prodigy' dalam permainan biolanya. Anak sekecil itu, dengan biola yang kebesaran, tetapi memainkan biola bukan hanya dengan teknik yang sempurna, tetapi cara bermain yang mempesona. Tidak ada duanya, apalagi untuk ukuran anak sekecil itu!
Tanpa pikir panjang Mr. Kim langsung mengajukan diri untuk membimbing Yunho secara khusus. Dia adalah seorang komposer, mantan pemain biola dan guru musik di Akademi ini, dia punya banyak sekali kenalan orang-orang terbaik di dunia musik klasik. Maka, Yunhopun masuk ke dalam akademi ini, ke dalam kelas bimbingan khusus, dalam sesi-sesi tertentu, untuk mengembangkan bakatnya, Yunho dikirim ke sekolah-sekolah musik terkenal di berbagai negara, dan itu membuatnya semakin terkenal.
Ketika lulus, Yunho semakin sering menghabiskan harinya di luar negeri, mengikuti konser dengan berbagai orkestra terkenal dan juga melakukan konser solo. Lelaki itu sangat sukses dalam bermusik, dan tentu saja hal itu karena permainan biolanya yang jenius. 
Dan pantas saja, ternyata Yunho adalah anak kandung dari seorang pemain biola jenius lainnya, yang dulu begitu terkenal tetapi menghilang begitu saja tanpa jejak, sebuah kehilangan besar di dunia musik. Lelaki itu ternyata menurunkan bakatnya kepada anak lelaki sulungnya ini.
"Seperti biasa, melelahkan." Yunho menyandarkan tubuhnya di sofa dan tersenyum tipis,
"Bolehkah aku menggunakan ruanganku yang biasa untuk berlatih?"
Mr. Kim sudah menganggap Yunho seperti anaknya sendiri, dan dia adalah salah satu orang istimewa di akademi ini. Ada sebuah ruangan khusus di ujung sayap kiri akademi yang tersembunyi dan tertutup yang selalu digunakan oleh Yunho untuk berlatih diam-diam. Ruangan itu tentunya selalu ada untuk Yunho meskipun sudah lama sekali Yunho tidak menggunakannya karena perjalanannya ke luar negeri. Dan karena sekarang sepertinya Yunho memilih untuk beristirahat beberapa lama dari konsernya yang melelahkan, lelaki itu pasti akan sering memakai kembali ruangan itu.
"Kau bisa ke sana kapan saja, Yunho."
Yunho meletakkan tehnya, dan menganggukkan kepalanya,
"Aku akan ke sana, terimakasih Sir." 

.
.
Yunho berjalan dalam diam. Melalui lorong di sayap paling sepi Akademi musik terbesar itu, dan menghela napas panjang.
Sepi.
Sepi itu menyayat jauh ke dalam jiwanya. Yah. Dia kesepian. Kadangkala dia merindukan tubuh hangat untuk dipeluk, seorang perempuan yang tidak jahat, seorang perempuan yang tidak hanya mencintai bagian luarnya.... seorang perempuan yang tidak seperti ibunya.
Tetapi apakah perempuan seperti itu ada? Yunho tersenyum pahit. Kalaupun ada, perempuan-perempuan itu bukanlah jodohnya, karena sampai sekarang Yunho belum pernah menemukannya.
Dia sampai di ruangan berlatih khususnya. Sebuah ruangan besar, dengan jendela kaca di semua sisinya, memantulkan cahaya matahari yang redup, karena sekeliling luar ruangan itu adalah pepohonan yang rimbun dan sangat besar.
Yunho berdiri di tengah ruangan, dan kemudian membuka tempat biolanya. Dia menghela napas dan memejamkan mata, lalu memainkan biolanya, dalam nada yang tiba-tiba terlintas di benaknya.

.
.
Suara alunan biola yang menyayat dengan penuh keahlian itu mengalun melewati lorong aula akademi musik itu. Jaejoong mengenali nada itu bahkan ketika dia mendengarkannya samar-samar, Itu ‘Introduction et Rondo Capriccioso’, dimainkan dengan sangat ahli di gesekan setiap nadanya, membawa perasaan ke dalam naik turunnya gesekan biola itu...... dan siapapun yang memainkannya, dia pasti sangat brilian. 
Jaejoong berjalan mengernyitkan keningnya, mengikuti arah suara itu. Dia merasa terbawa ke alam lain, dalam keheningan diiringi alunan musik yang membawakan emosi yang aneh dan naik turun, ada kepedihan di sana, ada kesakitan... ada kesepian dan yang terutama... ada kemarahan di sana, semua emosi itu dibalut dengan indah dalam teknik bermain biola yang mendekati jenius.... menghasilkan nada yang luar biasa.
Dia melangkah dengan hati-hati ke ujung lorong akademi itu. Menyadari bahwa jantungnya berdebar kencang... seharusnya dia tidak boleh jalan-jalan sendirian sampai ke tempat ini. Ibunya pasti akan mencarinya dan kebingungan. Tapi suara alunan biola ini menariknya tanpa dapat ditahankan, membawanya ke area terlarang - Disebut area terlarang karena katanya, di akademi ini sedang kedatangan seorang pemain biola kenamaan, yang dalam usia semuda itu, begitu sukses dalam setiap konsernya di luar negeri dan begitu diakui di sana. Sang pemain biola terkenal ini sekarang sedang beristirahat setelah masa konsernya yang panjang di Austria, dan menikmati waktu pribadinya di sudut khusus akademi ini, tempat dia biasa berlatih. Dan karena dia adalah alumni yang sangat istimewa, maka pihak akademi menyediakan tempat khusus untuknya, dimana tidak ada seorangpun yang boleh mengganggu.
Suara alunan biola itu semakin keras, semakin menyentuh hingga ke dalam dada. Jaejoong terus berjalan, dengan hati-hati berpegangan kepada dinding, melangkah pelan, hingga akhirnya dia sampai di sebuah pintu, di dalam ruangan itulah nada yang begitu indah berasal....tanpa sadar, Jaejoong berdiri di ambang pintu itu dan terpaku.
Sang pemain biola tampaknya selama beberapa lama tidak menyadari kehadirannya, tetapi lama kelamaan dia menyadari keberadaan Jaejoong, alunan biola yang indah itu berhenti begitu saja, membuat Jaejoong mengerutkan keningnya karena kehilangan nada-nada indah yang sempurna itu.
"Mainkan lagi."
Tanpa sadar Jaejoong meminta. Alunan biola itu begitu indahnya sehingga menciptakan rasa seperti 'ketagihan' bagi pendengarnya.
Sang pemain biola menghentikan permainannya, suara yang dikeluarkannya kemudian sangat tajam dan ketus, sangat bertolak belakang dengan permainan biolanya yang indah,
"Apa yang kau lakukan di sini gadis kecil? Tidak tahukah kau bahwa ini area terlarang?"
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment:

  1. Sebenernya ga bisa nyalahin Yunho jg kenapa dia bisa kejam gt sama cewe2.
    Itu gara2 ibu kandungnya yg kejam.
    Aku jd ngebayangin seorang Jung Yunho dgn biolanya.
    Hmmm....pasti tambah gagah deh...

    ReplyDelete