Summary: Jung Yunho, violinist jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
The Violinist
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Chapter 1
"Kau memang jahat!"
Perempuan berambut pirang panjang
itu berdiri setengah menggebrak meja, menatap ke arah Yunho yang hanya
bersedekap tenang dan dingin. Mata perempuan itu berkaca-kaca, hampir menangis.
Sementara itu Yunho malahan melirik tak peduli.
"Aku memang jahat."
lelaki itu tersenyum manis,
wajahnya tampan tetapi sekarang terlihat penuh kebencian,
"Kalau kau sudah puas
melampiaskan kemarahanmu, kau boleh pergi."
Sebuah tamparan dari jemari
lentik berkuku merah berkilauan itupun melayang, mengenai pipi Yunho dengan
kerasnya, luapan emosinya akibat perlakukan kejam Yunho kepadanya. Yunho
menerimanya dengan tenang, dia sudah terbiasa. Perempuan-perempuan emosional
biasanya akan berusaha menyakiti lawannya ketika dia disakiti, itu memberikan
kepuasan, rasa yang sepadan bagi mereka.
"Sudah puas?"
Perempuan itu tidak bisa
berkata-kata lagi, air matanya berlelehan di pipinya, tak tertahankan. Kemudian
dengan tangis terisak-isak, perempuan itu pergi setengah berlari meninggalkan Yunho.
Yunho mengusap pipinya yang
terasa panas, menyadari beberapa mata terarah kepadanya di cafe itu. Yah,
orang-orang itu pasti tertarik dengan kejadian dramatis seperti syuting drama
di depan mata mereka. Yunho tahu, Seulgi pasti marah ketika dia memutuskannya
dengan kejam, tetapi Yunho tidak pernah mengira Seulgi akan bersikap sedramatis
itu, kalau saja Yunho tahu, dia pasti akan memilih tempat yang lebih pribadi
untuk melakukannya.
Dengan tenang, Yunho menjentikkan
jarinya, memberi isyarat kepada pelayan yang langsung tergopoh-gopoh
mendatanginya,
"Kopi hitam, jangan pakai
gula. Satu." gumamnya tenang lalu duduk menunggu. Seperti kebiasaannya,
setelah mematahkan hati perempuan, Yunho akan meminum satu cangkir kopi hitam,
untuk menghormati momennya.
Lama kelamaan ini jadi kebiasaan.
Yunho mengernyit. Sepertinya Yunho tidak akan pernah bisa menjalin hubungan
dengan perempuan, tanpa dia tergoda untuk menyakiti perempuan itu. Dan pada
akhirnya, itulah yang memang selalu dilakukannya.
Oh, jangan ditanya, Yunho adalah kekasih yang baik
hati dan mempesona. Dia akan memperlakukan semua kekasihnya seperti ratu,
mereka akan dimanjakan dengan penuh kasih sayang, diberikan prioritas waktunya
dan pasti akan merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia.... hingga
akhirnya Yunho menghempaskannya ketika dirasa waktunya sudah tiba.
Kopi hitamnya datang. Yunho
menyesapnya dan mengernyit merasakan kepahitan dan asam khas kopi yang kental.
Dia lalu merenung. Semua perempuan itu seperti tidak pernah jera, mereka selalu
datang dan datang lagi, mengharapkan cintanya. Padahal reputasi Yunho sebagai ladykiller sudah
begitu terkenal, mereka malahan menganggap Yunho sebagai hadiah yang harus
dimenangkan, merasa bisa menaklukkan Yunho pada akhirnya.
Senyum sinis mengembang di bibir Yunho. Huh! Mereka
semua bermimpi.
Jemari Yunho mencengkeram
gelasnya dengan erat, terbawa perasaannya. Kebenciannya kepada ibunya telah
menyeruak, jauh begitu dalam ke dasar jiwanya yang kelam. Apa yang dilakukan
ibunya kepadanya, kepada ayah dan adiknya, memisahkan mereka begitu saja, itu
adalah dosa yang tak termaafkan, Yunho tidak akan pernah memaafkan ibunya untuk
hal yang satu itu. Tidak akan pernah! Karena kalau ibunya
tidak merenggutnya lalu meninggalkannya begitu saja, Yunho seharusnya masih
mempunyai kesempatan untuk melewatkan hari-harinya bersama ayahnya. Ayah
yang kemudian tidak pernah bisa ditemuinya lagi bahkan sampai hari terakhir
ayahnya hidup di dunia.
Setidaknya, pada akhirnya Yunho
dipertemukan kembali dengan adik kandungnya, Junsu setelah bertahun-tahun
terpisahkan tanpa jejak. Entah itu takdir Tuhan, atau memang Tuhan selalu
mendengarkan doa Yunho setiap malamnya, adiknya itu yang sekarang sudah dewasa
dan cantik, secara kebetulan menjadi anak asuh dari ibu sahabatnya,
mereka dipertemukan tanpa sengaja, tetapi dari pandangan pertama, Yunho
langsung tahu. Meskipun Junsu tidak bisa mengingatnya karena ketika mereka
terpisah usia Junsu masih sangat kecil, Yunho langsung mengenali adiknya itu.
Siapa pula yang bisa melupakan wajah lucu yang menatapnya dengan tatapan mata
memuja, menguntitnya kemana-mana dan selalu meneriakkan namanya dengan bahagia
di kala mereka kecil itu?
Sayangnya takdir yang sama tidak
menyentuh Yunho dan ayahnya. Dari kisah Junsu, Yunho tahu, kehidupan ayahnya
begitu sulit bersama Junsu, ayahnya - seorang pemain biola kelas dunia yang
begitu terkenal yang kemudian terpuruk karena cacat di tangannya - bahkan
sampai harus bekerja menjadi tukang bangunan untuk menghidupi dirinya. Pada
saat yang sama, Yunho hidup berkelimpahan dengan keluarga angkatnya. Rasa
bersalah itu terus menyeruak semakin dalam ke dalam jiwanya, semakin dalam dan
kelam, membuatnya merasa pahit dan penuh penyesalan.
Seharusnya Yunho ada bersama
ayahnya meskipun mereka harus hidup susah, Yunho anak laki-laki, setidaknya dia
bisa bekerja membantu ayahnya. Dan penyesalan Yunho yang paling mendalam.......
seharusnya dia bisa memeluk ayahnya di saat terakhirnya, mengantarkan jasadnya
ke persemayaman terakhirnya. Itu semua tidak bisa dia lakukan dan itu
membuatnya merasa pilu. Pilu dan benci, benci kepada ibunya yang telah
membuatnya kehilangan semua saat berharga yang seharusnya bisa dirasakannya.
Ibunya sekarang sudah menerima
ganjarannya. Akibat usaha penculikan amatirnya demi mendapatkan harta, ibunya
itu harus mendekam di penjara selama beberapa lama. Yah. Tempat yang paling
cocok untuk perempuan seperti itu memang di penjara. Yunho mengernyit.
Kehidupan sudah mengarah ke jalan yang tenang sekarang, Junsu sudah hidup
bahagia dengan suaminya yang begitu memujanya, Yunho sendiri seharusnya sudah
bisa meletakkan dendamnya yang berkepanjangan.
Tetapi dia tidak bisa. Dendam itu
masih membara, kepada semua perempuan yang mengejar-ngejarnya hanya karena
melihat ketampanannya, atau melihat harta dan kemampuan bermain biola. Yunho
tidak menyukai mereka semua. Mereka pada akhirnya akan sama saja seperti
ibunya. Mungkin nanti, ketika Yunho kehilangan kemampuannya bermain biola,
kehilangan harta dan ketampanannya, para perempuan itu akan mencampakkannya,
sama seperti ketika ibunya mencampakkan ayahnya.
.
.
.
"Bagimana konsermu di
austria?"
Mr. Kim, salah satu mantan
mentornya ketika dia masih belajar di akademi ini tersenyum menatap Yunho yang baru
saja datang berkunjung. Yunho adalah muridnya yang paling brilian. Lelaki ini
membawa bakat jenius permainan biola ke dalam tangannya, seorang pemakin biola
berbakat alami yang diimbangi dengan teknik tingkat tinggi.
Ketika kedua orangtuanya, yang merupakan sahabat Mr. Kim membawa Yunho kepadanya, semula Mr. Kim sama sekali tidak punya bayangan apa-apa. Yang datang kepadanya adalah seorang anak lelaki kurus dan tampan berumur sekitar enam atau tujuh tahun, memeluk sebuah biola berwarna merah gelap yang sepertinya kebesaran untuk anak seumurannya.
Ketika kedua orangtuanya, yang merupakan sahabat Mr. Kim membawa Yunho kepadanya, semula Mr. Kim sama sekali tidak punya bayangan apa-apa. Yang datang kepadanya adalah seorang anak lelaki kurus dan tampan berumur sekitar enam atau tujuh tahun, memeluk sebuah biola berwarna merah gelap yang sepertinya kebesaran untuk anak seumurannya.
Tetapi ketika anak kecil itu
memainkan biolanya, Mr. Kim terpana. Dia langsung tahu, anak kecil ini bisa
disebut 'prodigy' dalam permainan biolanya. Anak sekecil itu,
dengan biola yang kebesaran, tetapi memainkan biola bukan hanya dengan teknik
yang sempurna, tetapi cara bermain yang mempesona. Tidak ada duanya, apalagi
untuk ukuran anak sekecil itu!
Tanpa pikir panjang Mr. Kim
langsung mengajukan diri untuk membimbing Yunho secara khusus. Dia adalah
seorang komposer, mantan pemain biola dan guru musik di Akademi ini, dia punya
banyak sekali kenalan orang-orang terbaik di dunia musik klasik. Maka, Yunhopun
masuk ke dalam akademi ini, ke dalam kelas bimbingan khusus, dalam sesi-sesi
tertentu, untuk mengembangkan bakatnya, Yunho dikirim ke sekolah-sekolah musik
terkenal di berbagai negara, dan itu membuatnya semakin terkenal.
Ketika lulus, Yunho semakin
sering menghabiskan harinya di luar negeri, mengikuti konser dengan berbagai
orkestra terkenal dan juga melakukan konser solo. Lelaki itu sangat sukses
dalam bermusik, dan tentu saja hal itu karena permainan biolanya yang
jenius.
Dan pantas saja, ternyata Yunho
adalah anak kandung dari seorang pemain biola jenius lainnya, yang dulu begitu
terkenal tetapi menghilang begitu saja tanpa jejak, sebuah kehilangan besar di
dunia musik. Lelaki itu ternyata menurunkan bakatnya kepada anak lelaki
sulungnya ini.
"Seperti biasa,
melelahkan." Yunho menyandarkan tubuhnya di sofa dan tersenyum tipis,
"Bolehkah aku menggunakan
ruanganku yang biasa untuk berlatih?"
Mr. Kim sudah menganggap Yunho
seperti anaknya sendiri, dan dia adalah salah satu orang istimewa di akademi
ini. Ada sebuah ruangan khusus di ujung sayap kiri akademi yang tersembunyi dan
tertutup yang selalu digunakan oleh Yunho untuk berlatih diam-diam. Ruangan itu
tentunya selalu ada untuk Yunho meskipun sudah lama sekali Yunho tidak
menggunakannya karena perjalanannya ke luar negeri. Dan karena sekarang
sepertinya Yunho memilih untuk beristirahat beberapa lama dari konsernya yang
melelahkan, lelaki itu pasti akan sering memakai kembali ruangan itu.
"Kau bisa ke sana kapan
saja, Yunho."
Yunho meletakkan tehnya, dan
menganggukkan kepalanya,
"Aku akan ke sana,
terimakasih Sir."
.
.
.
.
.
Yunho berjalan dalam diam.
Melalui lorong di sayap paling sepi Akademi musik terbesar itu, dan menghela
napas panjang.
Sepi.
Sepi itu menyayat jauh ke dalam
jiwanya. Yah. Dia kesepian. Kadangkala dia merindukan tubuh hangat untuk
dipeluk, seorang perempuan yang tidak jahat, seorang perempuan yang tidak hanya
mencintai bagian luarnya.... seorang perempuan yang tidak seperti ibunya.
Tetapi apakah perempuan seperti
itu ada? Yunho tersenyum pahit. Kalaupun ada, perempuan-perempuan itu bukanlah
jodohnya, karena sampai sekarang Yunho belum pernah menemukannya.
Dia sampai di ruangan berlatih
khususnya. Sebuah ruangan besar, dengan jendela kaca di semua sisinya,
memantulkan cahaya matahari yang redup, karena sekeliling luar ruangan itu
adalah pepohonan yang rimbun dan sangat besar.
Yunho berdiri di tengah ruangan,
dan kemudian membuka tempat biolanya. Dia menghela napas dan memejamkan mata,
lalu memainkan biolanya, dalam nada yang tiba-tiba terlintas di benaknya.
.
.
.
.
.
.
Suara alunan biola yang menyayat
dengan penuh keahlian itu mengalun melewati lorong aula akademi musik itu. Jaejoong
mengenali nada itu bahkan ketika dia mendengarkannya samar-samar, Itu ‘Introduction et
Rondo Capriccioso’, dimainkan dengan sangat ahli di gesekan setiap
nadanya, membawa perasaan ke dalam naik turunnya gesekan biola
itu...... dan siapapun yang memainkannya, dia pasti sangat brilian.
Jaejoong berjalan mengernyitkan
keningnya, mengikuti arah suara itu. Dia merasa terbawa ke alam lain, dalam keheningan
diiringi alunan musik yang membawakan emosi yang aneh dan naik turun, ada
kepedihan di sana, ada kesakitan... ada kesepian dan yang terutama... ada
kemarahan di sana, semua emosi itu dibalut dengan indah dalam teknik bermain
biola yang mendekati jenius.... menghasilkan nada yang luar biasa.
Dia melangkah dengan hati-hati ke
ujung lorong akademi itu. Menyadari bahwa jantungnya berdebar kencang...
seharusnya dia tidak boleh jalan-jalan sendirian sampai ke tempat ini. Ibunya
pasti akan mencarinya dan kebingungan. Tapi suara alunan biola ini menariknya
tanpa dapat ditahankan, membawanya ke area terlarang - Disebut area terlarang
karena katanya, di akademi ini sedang kedatangan seorang pemain biola kenamaan,
yang dalam usia semuda itu, begitu sukses dalam setiap konsernya di luar negeri
dan begitu diakui di sana. Sang pemain biola terkenal ini sekarang sedang
beristirahat setelah masa konsernya yang panjang di Austria, dan menikmati
waktu pribadinya di sudut khusus akademi ini, tempat dia biasa berlatih. Dan
karena dia adalah alumni yang sangat istimewa, maka pihak akademi menyediakan
tempat khusus untuknya, dimana tidak ada seorangpun yang boleh mengganggu.
Suara alunan biola itu semakin
keras, semakin menyentuh hingga ke dalam dada. Jaejoong terus berjalan, dengan
hati-hati berpegangan kepada dinding, melangkah pelan, hingga akhirnya dia
sampai di sebuah pintu, di dalam ruangan itulah nada yang begitu indah
berasal....tanpa sadar, Jaejoong berdiri di ambang pintu itu dan terpaku.
Sang pemain biola tampaknya
selama beberapa lama tidak menyadari kehadirannya, tetapi lama kelamaan dia
menyadari keberadaan Jaejoong, alunan biola yang indah itu berhenti begitu
saja, membuat Jaejoong mengerutkan keningnya karena kehilangan nada-nada indah
yang sempurna itu.
"Mainkan lagi."
"Mainkan lagi."
Tanpa sadar Jaejoong meminta.
Alunan biola itu begitu indahnya sehingga menciptakan rasa seperti 'ketagihan'
bagi pendengarnya.
Sang pemain biola menghentikan
permainannya, suara yang dikeluarkannya kemudian sangat tajam dan ketus, sangat
bertolak belakang dengan permainan biolanya yang indah,
"Apa yang kau lakukan di
sini gadis kecil? Tidak tahukah kau bahwa ini area terlarang?"
.
.
.
.
.
To Be Continue

Sebenernya ga bisa nyalahin Yunho jg kenapa dia bisa kejam gt sama cewe2.
ReplyDeleteItu gara2 ibu kandungnya yg kejam.
Aku jd ngebayangin seorang Jung Yunho dgn biolanya.
Hmmm....pasti tambah gagah deh...