Monday, September 14

The Untittled Story Chapter XIX



Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
 The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong

Napas berat Yunho di telingaku saat tubuhnya menindihku terasa hebat. Aku ingin menahannya di sini. Tetap di dalam tubuhku. Hanya seperti ini.
 Ketika dia memindahkan lengannya dan mengangkat tubuhnya dariku, aku merapatkan lenganku di sekitarnya dan dia terkekeh. "Aku akan kembali. Aku harus mengurusmu terlebih dahulu," ujarnya dan kemudian mencium bibirku sebelun meninggalkanku sendiri di ranjangnya.
Aku melihat bokong telanjangnya yang semuanya dalam kesempurnaan berjalan melintasi ruangan dan masuk ke dalam apa yang tampaknya seperti kamar mandi. Aku mendengar kran air menyala dan kemudian dia berjalan keluar dengan sepenuhnya telanjang di bagian depan. Mataku secara langsung berpaling kearah lain. Aku mendengar Yunho tertawa dan aku memejamkan mata malu karena tertangkap basah mengamatinya.
"Tidak perlu malu padaku sekarang," godanya kemudian meraih untuk membuka lututku lagi. "Bukalah untukku," katanya lembut dan mendorong lututku hingga terbuka. Aku melihat kain lap di tangannya untuk pertama kali.
"Tidak terlalu banyak," katanya, membersihkan di antara kakiku ketika aku memperhatikannya dalam ketertarikan. "Apakah itu sakit?" dia bertanya dengan nada prihatin dalam suaranya saat dia dengan lembut menyeka area yang lembut. Aku menggelengkan kepalaku. Sekarang saat kami tidak lagi liar dalam gairah hal ini sangat memalukan. Tapi mendapati dia sedang membersihkanku sangatlah manis. Inikah yang dilakukan para pria setelah berhubungan seks? Aku tidak melihat ini dalam film sebelumnya.
Yunho terlihat senang dengan pekerjaan membersihkannya dan dia membuang kain lap yang telah di gunakan ke tempat sampah di samping tempat tidur. Dia merangkak naik lagi ke ranjang menempatkan dirinya di sisiku serta menarikku ke dalam pelukannya.
"Kupikir kau bukan seorang pemeluk, Yunho," kataku saat dia menyusurkan hidungnya di sepanjang leherku dan menarik napas dengan keras.
"Memang bukan. Hanya denganmu BooJae. Kau adalah pengecualianku," bisiknya kemudian menyelipkan kepalaku di bawah dagunya
“BooJae?” Aku sempat mendengarnya berteriak memanggil nama itu tadi ketika pelepasannya.
“Ya, BooJae, panggilanku untukmu, kau suka?”
“Ya, Yunnie, itu sangat manis.” Lalu ia menarik selimut menutupi kami. Dengan cepat aku tertidur. Aku aman dan bahagia.
.
.
.

 Ciuman lambat terasa di bagian dalam betisku dan sepanjang lengkungan kakiku adalah hal pertama yang aku rasakan. Aku memaksa mataku terbuka. Yunho berlutut di ujung ranjang menciumi kakiku dan naik ke sisi tungkaiku dengan seringaian nakal di wajahnya.
"Itu dia matamu. Aku mulai berpikir berapa banyak yang perlu kucium untuk membuatmu bangun Boo. Bukannya aku keberatan mencium lebih tinggi lagi tapi itu akan berakhir dengan beberapa hubungan seks yang mengagumkan dan kau sekarang hanya punya waktu sekitar dua puluh menit untuk berangkat kerja."
Kerja. Oh sial. Aku bangun dan Yunho menurunkan kakiku. "Kau masih memiliki waktu. Aku akan menyiapkanmu sesuatu untuk dimakan kala kau bersiap-siap," dia meyakinkanku.
"Terima kasih. Tapi kau tidak perlu melakukannya. Aku akan mengambil sesuatu di ruang istirahat pegawai sesampainya aku disana."
Aku mencoba agar kecanggungan yang terjadi di pagi hari setelah kejadian semalam tidak menyerang. Aku telah berhubungan seks dengan pria ini. Seks yang benar-benar hebat atau setidaknya menurutku seperti itu. Sekarang hari telah terang dan aku telanjang di ranjangnya.
"Aku ingin kau makan di sini. Kumohon."
Dia ingin aku di sini. Jantungku berdebar keras di dadaku. "Oke. Aku perlu pergi ke kamarku dan mandi."
Yunho melirik kamar mandinya dan kemudian ke arahku. "Aku terbelah, antara aku ingin kau mandi di sini tapi kupikir aku tidak akan mampu berjalan keluar mengetahui kau sedang telanjang dan bersabun di kamar mandiku. Aku akan sangat ingin bergabung denganmu"
Memegang selimut menutupi dadaku, aku bangun dan tersenyum padanya. "Semenarik apapun kedengarannya aku akan terlambat bekerja."
Yunho menghela napas dan mengangguk. "Betul. Kau harus pergi ke kamarmu."
Aku memandang sekeliling untuk mencari pakaianku tapi tidak menemukannya dimanapun.
"Pakai ini. Bibi Hwang datang hari ini. Aku akan menyuruhnya mencuci dan menyetrika pakaian yang kau kenakan semalam." Dia melemparkan kaus yang dipakainya tadi malam padaku. Aku mencium aromanya saat kausnya mendarat di dadaku. Akan sangat sulit untukku mengembalikannya. Aku mencoba memakainya tanpa membuat selimut jatuh.
"Sekarang berdirilah. Aku ingin melihatmu," gumamnya sambil bangun. Dia memakai celana piyama ketika dia menuruni tepi tempat tidur dan menungguku untuk berdiri. Aku membiarkan selimutnya jatuh dan berdiri. Kausnya menutupi hingga atas lututku."
"Bisakah kau mengajukan ijin sakit?" Dia bertanya saat matanya menjalari ke bawah tubuhku.
Sebuah sensasi gelenyar hangat mengalir melewatiku. "Aku sedang tidak sakit," balasku.
"Apakah kau yakin? Karena kupikir aku terkena demam," katanya berjalan mengitari tempat tidur dan menarikku kearahnya. "Tadi malam sangat menakjubkan," katanya di rambutku.
Aku tidak menduga reaksi seperti ini darinya. Aku khawatir kalau dia akan mengusirku pagi ini. Tapi dia tidak melakukannya. Dia bersikap manis. Dan sangat lezat hingga aku tegoda untuk menelepon dan mengajukan ijin sakit.
Ini adalah hariku untuk mengantar minuman dan jika aku tidak datang maka Junsu akan melakukan semua pekerjaan pada hari Jum’at. Itu akan sangat kejam. Aku tidak sanggup.
"Aku harus bekerja hari ini. Mereka mengharapkanku," uraiku.
Dia mengangguk dan mundur, "Aku tahu. Larilah Jae. Bawa lari bokong kecil menggemaskanmu ke bawah dan bersiap-siap. Aku tidak bisa berjanji aku akan membiarkanmu pergi jika kau berdiri disini terlihat seperti itu lebih lama."
Sambil cekikikan, aku berlari melewatinya dan menuruni tangga. Tawa geli yang aku tinggal di belakang terdengar sangat sempurna. Yunho sempurna.
.
.
.
Hawa panas semakin bertambah parah. Aku benar-benar berharap Jessica gwijangnim akan mengijinkanku menaikkan rambutku. Aku siap untuk mengambil sebotol air es dan menyiramkannya keatas kepalaku. Aku pasti akan langsung kering dengan hawa sepanas ini. Kenapa para pria bermain golf di tengah cuaca seperti ini? Apakah mereka gila?
Menarik cart minuman kembali ke lubang pertama aku menyadari kepala seseorang dengan rambut hitam yang dimiliki Hyunjoong. Bagus. Seseorang yang tidak aku harapkan untuk suasana hatiku hari ini. Yoochun mungkin ingin menunggu Junsu kembali lagi untuk putaran dia yang berikutnya. Aku mungkin bisa melewati mereka. Hyunjoong berbalik dan melihatku dan sebuah senyum tersungging di bibirnya.
"Kembali mengantarkan minum hari ini. Sesenangnya aku menempatkanmu di dalam ini membuat permainan golf lebih menyenangkan." Hyunjoong berkata dengan nada menggoda saat aku menepikan cart ke samping mereka.
Aku tidak akan menanggapi godaanya. Tapi dia adalah bosku jadi aku juga tidak bisa membuatnya marah.
"Mundur Hyunjoong. Itu sedikit terlalu dekat," suara Yunho datang dari belakangku dan aku berbalik untuk melihatnya berjalan mendekati kami dengan sebuah celana pendek biru dan kaus putih polo. Dia bermain golf?
"Jadi dia adalah alasan mengapa kau tiba-tiba ingin bermain dengan kami hari ini?" Tanya Hyunjoong.
Aku tidak berpaling dari Yunho ketika dia berjalan mendekatiku. Dia di sini untukku. Setidaknya aku sangat yakin dia begitu. Saat sarapan dia bertanya padaku dimana aku akan bekerja hari ini.
Tangannya melingkari pinggangku. Dia menarikku ke sampingnya dan menundukkan kepalanya untuk berbisik di telingaku, "Apa kau nyeri?"
Dia khawatir tentang diriku yang akan merasa nyeri hari ini dan harus bekerja di atas kakiku sepanjang hari. Aku sudah bilang padanya aku baik-baik saja. Aku hanya merasa meregang. Rupanya dia masih khawatir.
"Aku baik-baik saja" jawabku lirih.
Dia menekankan sebuah ciuman di telingaku. "Apa kau merasa meregang? Bisakah kau berkata bahwa aku pernah berada di dalammu?"
Aku mengangguk, merasakan lututku sedikit lemah akibat dari nada suaranya.
"Bagus. Aku suka mengetahui kau bisa merasakan dimana aku pernah berada," katanya kemudian menarik diri dariku dan mensejajarkan tatapan matanya pada Hyunjoong.
"Aku telah mengira ini akan terjadi." Kata Hyunjoong dengan nada sebal.
"Sudahkah Boa mengetahui hal ini?" Tanya Yoochun. Si pirang memukul lengannya dan memberenggut padanya.
Mengapa Boa selalu disinggung? Apakah aku akan pernah tahu?
"Ini bukan urusan Boa. Ataupun kau," pungkas Yunho melotot pada Yoochun.
"Aku datang kesini untuk bermain golf.  Jangan membicarakan ini di luar sini. Jae, kenapa kau tidak memberikan semua orang minuman dan lanjut ke lubang selanjutnya," kata Hyunjoong.
Yunho menegang di sampingku. Hyunjoong menguji kami. Dia ingin melihatku apakah aku sekarang akan bersikap berbeda saat Yunho sudah mengklaimku di tempat umum. Aku di sini untuk bekerja. Hanya karena aku sudah tidur dengan Yunho tidak mengubah tempatku di pola besar ini. Aku tahu itu.
Aku melangkah melepaskan diri dari lengan Yunho untuk membuka pendingin dan mulai menyerahkan minuman pilihan semua orang. Uang tip yang aku terima tidak sebesar yang biasanya mereka berikan di kelompok ini. Kecuali, tentu saja, bagi Hyunjoong. Aku pikir itu akan berubah juga hari ini.
Aku bisa melihat lembaran seratus dollar yang Hyunjoong berikan padaku dan aku yakin Yunho juga melakukan hal yang sama. Aku dengan cepat menutup tanganku dan menyurukkannya ke dalam sakuku. Aku akan menghadapinyanya nanti saat Yunho tidak melihat. Yunho berjalan kearahku dan menyelipkan bayarannya ke sakuku. Dia menciumku lembut dan kemudian berkedip padaku sebelum dia berjalan untuk mengambil club (tongkat pemukul) golf dari caddy.
Aku tidak memberikan Hyunjoong alasan untuk menegurku, aku dengan cepat berjalan kembali menaiki cart dan menuju ke lubang selanjutnya. Ponsel di sakuku bergetar mengejutkanku. Yunho menyelipkannya di sakuku sebelum aku berangkat pagi ini. Aku lupa kalau aku memiliki ponsel.
Aku menghentikan laju cart dan menariknya keluar.
Aku minta maaf tentang Hyunjoong, Yunho.
Kenapa dia minta maaf? Dia tidak punya alasan untuk minta maaf.
Aku baik-baik saja. Hyunjoong adalah bosku. Bukan masalah besar.
Aku menyelipkan ponselku kembali ke sakuku dan mengarah ke pemberhentianku selanjutnya.
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment:

  1. Perasaan ni chapter pendek bgt *saking asyiknya baca
    Makasih Saki dah apdet ngebut :D
    ditunggu part selanjutnya,,
    Fighting !!!!

    ReplyDelete