Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara
orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong
membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya
agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Napas berat Yunho
di telingaku saat tubuhnya menindihku terasa hebat. Aku ingin menahannya di
sini. Tetap di dalam tubuhku. Hanya seperti ini.
Ketika dia memindahkan lengannya dan
mengangkat tubuhnya dariku, aku merapatkan lenganku di sekitarnya dan dia terkekeh.
"Aku akan kembali. Aku harus mengurusmu terlebih dahulu," ujarnya dan
kemudian mencium bibirku sebelun meninggalkanku sendiri di ranjangnya.
Aku melihat
bokong telanjangnya yang semuanya dalam kesempurnaan berjalan melintasi ruangan
dan masuk ke dalam apa yang tampaknya seperti kamar mandi. Aku mendengar kran
air menyala dan kemudian dia berjalan keluar dengan sepenuhnya telanjang di
bagian depan. Mataku secara langsung berpaling kearah lain. Aku mendengar Yunho
tertawa dan aku memejamkan mata malu karena tertangkap basah mengamatinya.
"Tidak perlu
malu padaku sekarang," godanya kemudian meraih untuk membuka lututku lagi.
"Bukalah untukku," katanya lembut dan mendorong lututku hingga
terbuka. Aku melihat kain lap di tangannya untuk pertama kali.
"Tidak
terlalu banyak," katanya, membersihkan di antara kakiku ketika aku
memperhatikannya dalam ketertarikan. "Apakah itu sakit?" dia bertanya
dengan nada prihatin dalam suaranya saat dia dengan lembut menyeka area yang
lembut. Aku menggelengkan kepalaku. Sekarang saat kami tidak lagi liar dalam
gairah hal ini sangat memalukan. Tapi mendapati dia sedang membersihkanku
sangatlah manis. Inikah yang dilakukan para pria setelah berhubungan seks? Aku
tidak melihat ini dalam film sebelumnya.
Yunho terlihat
senang dengan pekerjaan membersihkannya dan dia membuang kain lap yang telah di
gunakan ke tempat sampah di samping tempat tidur. Dia merangkak naik lagi ke
ranjang menempatkan dirinya di sisiku serta menarikku ke dalam pelukannya.
"Kupikir kau
bukan seorang pemeluk, Yunho," kataku saat dia menyusurkan hidungnya di
sepanjang leherku dan menarik napas dengan keras.
"Memang
bukan. Hanya denganmu BooJae. Kau adalah pengecualianku," bisiknya
kemudian menyelipkan kepalaku di bawah dagunya
“BooJae?” Aku
sempat mendengarnya berteriak memanggil nama itu tadi ketika pelepasannya.
“Ya, BooJae,
panggilanku untukmu, kau suka?”
“Ya, Yunnie, itu
sangat manis.” Lalu ia menarik selimut menutupi kami. Dengan cepat aku
tertidur. Aku aman dan bahagia.
.
.
.
Ciuman lambat terasa di bagian dalam betisku
dan sepanjang lengkungan kakiku adalah hal pertama yang aku rasakan. Aku
memaksa mataku terbuka. Yunho berlutut di ujung ranjang menciumi kakiku dan
naik ke sisi tungkaiku dengan seringaian nakal di wajahnya.
"Itu dia
matamu. Aku mulai berpikir berapa banyak yang perlu kucium untuk membuatmu
bangun Boo. Bukannya aku keberatan mencium lebih tinggi lagi tapi itu akan
berakhir dengan beberapa hubungan seks yang mengagumkan dan kau sekarang hanya
punya waktu sekitar dua puluh menit untuk berangkat kerja."
Kerja. Oh sial.
Aku bangun dan Yunho menurunkan kakiku. "Kau masih memiliki waktu. Aku
akan menyiapkanmu sesuatu untuk dimakan kala kau bersiap-siap," dia
meyakinkanku.
"Terima
kasih. Tapi kau tidak perlu melakukannya. Aku akan mengambil sesuatu di ruang
istirahat pegawai sesampainya aku disana."
Aku mencoba agar
kecanggungan yang terjadi di pagi hari setelah kejadian semalam tidak
menyerang. Aku telah berhubungan seks dengan pria ini. Seks yang benar-benar
hebat atau setidaknya menurutku seperti itu. Sekarang hari telah terang dan aku
telanjang di ranjangnya.
"Aku ingin
kau makan di sini. Kumohon."
Dia ingin aku di
sini. Jantungku berdebar keras di dadaku. "Oke. Aku perlu pergi ke kamarku
dan mandi."
Yunho melirik
kamar mandinya dan kemudian ke arahku. "Aku terbelah, antara aku ingin kau
mandi di sini tapi kupikir aku tidak akan mampu berjalan keluar mengetahui kau
sedang telanjang dan bersabun di kamar mandiku. Aku akan sangat ingin bergabung
denganmu"
Memegang selimut
menutupi dadaku, aku bangun dan tersenyum padanya. "Semenarik apapun
kedengarannya aku akan terlambat bekerja."
Yunho menghela
napas dan mengangguk. "Betul. Kau harus pergi ke kamarmu."
Aku memandang
sekeliling untuk mencari pakaianku tapi tidak menemukannya dimanapun.
"Pakai ini. Bibi
Hwang datang hari ini. Aku akan menyuruhnya mencuci dan menyetrika pakaian yang
kau kenakan semalam." Dia melemparkan kaus yang dipakainya tadi malam
padaku. Aku mencium aromanya saat kausnya mendarat di dadaku. Akan sangat sulit
untukku mengembalikannya. Aku mencoba memakainya tanpa membuat selimut jatuh.
"Sekarang
berdirilah. Aku ingin melihatmu," gumamnya sambil bangun. Dia memakai
celana piyama ketika dia menuruni tepi tempat tidur dan menungguku untuk
berdiri. Aku membiarkan selimutnya jatuh dan berdiri. Kausnya menutupi hingga
atas lututku."
"Bisakah kau
mengajukan ijin sakit?" Dia bertanya saat matanya menjalari ke bawah
tubuhku.
Sebuah sensasi
gelenyar hangat mengalir melewatiku. "Aku sedang tidak sakit,"
balasku.
"Apakah kau
yakin? Karena kupikir aku terkena demam," katanya berjalan mengitari
tempat tidur dan menarikku kearahnya. "Tadi malam sangat
menakjubkan," katanya di rambutku.
Aku tidak menduga
reaksi seperti ini darinya. Aku khawatir kalau dia akan mengusirku pagi ini.
Tapi dia tidak melakukannya. Dia bersikap manis. Dan sangat lezat hingga aku
tegoda untuk menelepon dan mengajukan ijin sakit.
Ini adalah hariku
untuk mengantar minuman dan jika aku tidak datang maka Junsu akan melakukan
semua pekerjaan pada hari Jum’at. Itu akan sangat kejam. Aku tidak sanggup.
"Aku harus
bekerja hari ini. Mereka mengharapkanku," uraiku.
Dia mengangguk
dan mundur, "Aku tahu. Larilah Jae. Bawa lari bokong kecil menggemaskanmu
ke bawah dan bersiap-siap. Aku tidak bisa berjanji aku akan membiarkanmu pergi
jika kau berdiri disini terlihat seperti itu lebih lama."
Sambil cekikikan,
aku berlari melewatinya dan menuruni tangga. Tawa geli yang aku tinggal di
belakang terdengar sangat sempurna. Yunho sempurna.
.
.
.
Hawa panas
semakin bertambah parah. Aku benar-benar berharap Jessica gwijangnim akan
mengijinkanku menaikkan rambutku. Aku siap untuk mengambil sebotol air es dan
menyiramkannya keatas kepalaku. Aku pasti akan langsung kering dengan hawa
sepanas ini. Kenapa para pria bermain golf di tengah cuaca seperti ini? Apakah
mereka gila?
Menarik cart
minuman kembali ke lubang pertama aku menyadari kepala seseorang dengan rambut
hitam yang dimiliki Hyunjoong. Bagus. Seseorang yang tidak aku harapkan untuk
suasana hatiku hari ini. Yoochun mungkin ingin menunggu Junsu kembali lagi
untuk putaran dia yang berikutnya. Aku mungkin bisa melewati mereka. Hyunjoong
berbalik dan melihatku dan sebuah senyum tersungging di bibirnya.
"Kembali
mengantarkan minum hari ini. Sesenangnya aku menempatkanmu di dalam ini membuat
permainan golf lebih menyenangkan." Hyunjoong berkata dengan nada menggoda
saat aku menepikan cart ke samping mereka.
Aku tidak akan
menanggapi godaanya. Tapi dia adalah bosku jadi aku juga tidak bisa membuatnya
marah.
"Mundur Hyunjoong.
Itu sedikit terlalu dekat," suara Yunho datang dari belakangku dan aku
berbalik untuk melihatnya berjalan mendekati kami dengan sebuah celana pendek
biru dan kaus putih polo. Dia bermain golf?
"Jadi dia
adalah alasan mengapa kau tiba-tiba ingin bermain dengan kami hari ini?"
Tanya Hyunjoong.
Aku tidak
berpaling dari Yunho ketika dia berjalan mendekatiku. Dia di sini untukku.
Setidaknya aku sangat yakin dia begitu. Saat sarapan dia bertanya padaku dimana
aku akan bekerja hari ini.
Tangannya
melingkari pinggangku. Dia menarikku ke sampingnya dan menundukkan kepalanya
untuk berbisik di telingaku, "Apa kau nyeri?"
Dia khawatir
tentang diriku yang akan merasa nyeri hari ini dan harus bekerja di atas kakiku
sepanjang hari. Aku sudah bilang padanya aku baik-baik saja. Aku hanya merasa
meregang. Rupanya dia masih khawatir.
"Aku
baik-baik saja" jawabku lirih.
Dia menekankan
sebuah ciuman di telingaku. "Apa kau merasa meregang? Bisakah kau berkata
bahwa aku pernah berada di dalammu?"
Aku mengangguk,
merasakan lututku sedikit lemah akibat dari nada suaranya.
"Bagus. Aku
suka mengetahui kau bisa merasakan dimana aku pernah berada," katanya
kemudian menarik diri dariku dan mensejajarkan tatapan matanya pada Hyunjoong.
"Aku telah
mengira ini akan terjadi." Kata Hyunjoong dengan nada sebal.
"Sudahkah Boa
mengetahui hal ini?" Tanya Yoochun. Si pirang memukul lengannya dan
memberenggut padanya.
Mengapa Boa
selalu disinggung? Apakah aku akan pernah tahu?
"Ini bukan
urusan Boa. Ataupun kau," pungkas Yunho melotot pada Yoochun.
"Aku datang
kesini untuk bermain golf. Jangan
membicarakan ini di luar sini. Jae, kenapa kau tidak memberikan semua orang
minuman dan lanjut ke lubang selanjutnya," kata Hyunjoong.
Yunho menegang di
sampingku. Hyunjoong menguji kami. Dia ingin melihatku apakah aku sekarang akan
bersikap berbeda saat Yunho sudah mengklaimku di tempat umum. Aku di sini untuk
bekerja. Hanya karena aku sudah tidur dengan Yunho tidak mengubah tempatku di
pola besar ini. Aku tahu itu.
Aku melangkah
melepaskan diri dari lengan Yunho untuk membuka pendingin dan mulai menyerahkan
minuman pilihan semua orang. Uang tip yang aku terima tidak sebesar yang
biasanya mereka berikan di kelompok ini. Kecuali, tentu saja, bagi Hyunjoong.
Aku pikir itu akan berubah juga hari ini.
Aku bisa melihat
lembaran seratus dollar yang Hyunjoong berikan padaku dan aku yakin Yunho juga
melakukan hal yang sama. Aku dengan cepat menutup tanganku dan menyurukkannya
ke dalam sakuku. Aku akan menghadapinyanya nanti saat Yunho tidak melihat. Yunho
berjalan kearahku dan menyelipkan bayarannya ke sakuku. Dia menciumku lembut
dan kemudian berkedip padaku sebelum dia berjalan untuk mengambil club (tongkat
pemukul) golf dari caddy.
Aku tidak
memberikan Hyunjoong alasan untuk menegurku, aku dengan cepat berjalan kembali
menaiki cart dan menuju ke lubang selanjutnya. Ponsel di sakuku bergetar
mengejutkanku. Yunho menyelipkannya di sakuku sebelum aku berangkat pagi ini.
Aku lupa kalau aku memiliki ponsel.
Aku menghentikan
laju cart dan menariknya keluar.
Aku minta maaf tentang Hyunjoong, Yunho.
Kenapa dia minta
maaf? Dia tidak punya alasan untuk minta maaf.
Aku baik-baik saja. Hyunjoong adalah bosku.
Bukan masalah besar.
Aku menyelipkan
ponselku kembali ke sakuku dan mengarah ke pemberhentianku selanjutnya.
.
.
.
.
To Be Continue

Perasaan ni chapter pendek bgt *saking asyiknya baca
ReplyDeleteMakasih Saki dah apdet ngebut :D
ditunggu part selanjutnya,,
Fighting !!!!