Sunday, September 13

[Remake] The Untittled Story Chapter XVIII



Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?



The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong

Chapter 18
Yunho tidak memulainya dengan perlahan. Mulutnya kuat dan menuntut. Aku senang. Ini romantis. Ini nyata. Dia juga menggunakan barbel lidahnya. Pada awalnya aku tidak menyadarinya tapi aku merasakannya. Jentikan lidahnya hebat dengan adanya benda itu. Aku suka merasakan sesuatu yang tidak bisa diraih.
Kedua tangannya menangkup wajahku. Ciumannya melambat dan kemudian dia menarik diri tapi tetap memegang wajahku dengan tangannya. "Ikutlah ke  atas denganku. Aku ingin menunjukkan kamarku," dia memberikanku senyuman nakal, "dan ranjangku."
Aku mengangguk dan Yunho menjatuhkan tangannya dari wajahku. Dia menyelipkan salah satu tangannya ke tanganku dan menautkan jemari kami kemudian diremasnya. Tanpa berkata-kata, dia mengarahkanku ke tangga menarikku naik dengan lembut dan dengan segera karena dia ingin segera tiba di atas. Saat kami tiba di lantai dua, dia mendorongku ke dinding dan menciumku dengan ganas, menjepit bibirku dan membelai lidahku. Dia menyentak ke belakang dan mengambil nafas dalam. "Satu tangga lagi menuju lantai atas," ujarnya dengan suara parau dan menarikku kearah pintu di ujung lorong. Kami melewati kamarku dan dia berhenti sebentar. Pada mulanya, aku pikir dia mungkin ingin menuju kesana tetapi dia tidak berhenti hingga kami mencapai pintu kecil di ujung lorong. Aku menduga ada tangga yang menuju kamarnya. Dia menarik kunci untuk membukanya, kemudian membuka pintu dan memberi isyarat padaku agar mengikutinya.
Di ruangan tempat tangga itu berada terbuat dari kayu keras seperti sebuah tangga lain.di rumah ini tapi disana ada dinding di satu sisi saat kami menaiki anak tangga selangkah demi selangkah.
Saat aku sampai di ujung teratas tangga, aku membeku. Pemandangannya sangat mempesona. Cahaya bulan yang menyinari lautan memberikan kamar sebuah latar belakang paling luar biasa yang bisa dibayangkan.
"Kamar ini adalah alasan mengapa aku meminta ibuku untuk membeli rumah ini. Meskipun saat itu aku baru berusia sepuluh tahun aku tahu bahwa kamar ini istimewa," bisik Yunho di belakangku membungkus pinggangku dengan lengannya.
"Ini sangat menakjubkan," aku bernafas dengan suara pelan. Aku merasa seolah berbicara terlalu keras akan menghancurkan momen ini.
"Aku menghubungi ayahku hari itu dan berkata padanya kalau aku menemukan rumah yang ingin aku tinggali. Dia mengirimkan uangnya melalui ibuku dan ibuku membelinya .Dia suka lokasinya jadi di rumah inilah kami menghabiskan waktu musim panas kami. Dia punya rumah sendiri di Atlanta tapi dia lebih suka tinggal disini."
Dia bercerita tentang dirinya. Keluarganya. Dia mencoba. Hatiku sedikit meleleh lagi. Seharusnya aku menghentikannya untuk membingkai dirinya di hatiku. Aku tidak ingin hatiku terluka saat semua ini berakhir dan dia pergi .Tapi aku ingin tahu lebih mengenai dirinya.
"Aku tidak pernah ingin pergi," balasku jujur.
Yunho mencium telingaku dengan lembut. "Ah, tapi kau belum melihat kabinku di Vale atau apartemenku di Manhattan."
Tidak, aku belum pernah dan aku tidak akan pernah melihatnya. Namun, aku bisa membayangkan dia berada di tempat-tempat itu. Aku sudah sering melihatnya di televisi bagaimana bentuk tempat itu. Musim dingin ini aku bisa melihat dia menyalakan api di kabin yang besar di pegunungan dengan salju yang menutupi luar rumahnya. Atau bersantai di apartemennya yang mengarah ke pemandangan kota Manhattan. Mungkin dari jendelanya dia bisa melihat pohon natal besar yang selalu dipasang setiap tahun.
Yunho memutarku ke arah kanan hingga aku mencapai pada ranjang berukuran king size. Ranjang itu berwarna hitam legam. Kasur dan selimutnya juga hitam. Bahkan bantalnya pun hitam. "Dan itu adalah ranjangku," katanya membawaku berjalan kearah ranjang dengan tangan di pinggangku. Aku tidak ingin memikirkan tentang semua gadis yang pernah ada disini sebelumnya. Aku tidak akan. Aku menutup mata ku dan memblokir semua pikiran itu.
"Jae, meskipun kita hanya berciuman atau berbaring disana dan mengobrol, aku tidak masalah. Aku hanya ingin kau berada disini. Dekat denganku."
Perkataannnya itu satu atau dua inci sedikit melesak ke dalam hatiku. Aku berbalik dan menatapnya. "Kau tidak serius dengan itu. Aku melihat sikapmu sebagai Jung Yunho. Kau tidak membawa gadis ke kamarmu dan hanya ingin berbicara." Aku mencoba terdengar menggoda tapi suaraku pecah saat aku menyebut gadis lain.
Yunho mengerutkan dahi, "Aku tidak pernah membawa gadis kesini, Jae."
Apa? Ya dia pernah melakukannya.
"Pada malam pertama aku datang kesini kau bilang ranjangmu sudah penuh," aku mengingatkannya.
Dia menyeringai. "Yeah, karena aku tidur disana. Aku tidak membawa gadis ke kamarku. Aku tidak ingin seks yang tidak berarti mencemari kamar ini. Aku suka berada disini."
"Besok paginya seorang gadis ada disini. Kau meninggalkannya di ranjang dan dia mencarimu hanya memakai pakaian dalam."
Yunho menyelipkan tangannya ke bawah kemejaku dan mulai mengusap lingkaran kecil di punggungku, "Kamar pertama di kanan adalah milik Changmin sampai orang tua kami bercerai. Aku menggunakannya sebagai kamar bujangan sekarang. Kesanalah aku membawa gadis gadis itu. Bukan disini. Tidak pernah disini. Kau yang pertama,"
dia berhenti dan seringai tersungging di bibirnya. "Well, aku mengijinkan bibi Hwang kemari seminggu sekali untuk membersihkan kamar tapi aku bersumpah tidak ada kebohongan diantara kita."
Apa itu berarti aku berbeda? Aku bukan satu diantara mereka? Tuhan, kuharap begitu.
Tidak... tidak aku tidak boleh berharap. Aku harus punya pegangan. Dia mungkin akan segera meninggalkan aku. Dunia kami tidak sama. Bahkan tidak mungkin untuk saling mendekat satu sama lain.
"Tolong, cium aku," kataku, berdiri berjinjit dan menekankan mulutku padanya sebelum dia sempat menolak atau menyarankan kami untuk ngobrol lagi. Aku tidak ingin mengobrol. Jika kami berbicara aku ingin lebih.
Yunho mendorongku ke ranjangnya dan menutup tubuhku dengan tubuhnya sementara lidahnya bertautan dengan lidahku. Tangannya menelusuri sisi tubuhku hingga dia menemukan lututku. Dia memisahkan lututku dan menempatkan dirinya diantara jarak yang dia ciptakan.
Aku ingin merasakan lebih dari dirinya. Aku meraih ujung kausnya dan menyentakkannya. Dia mengetahui isyarat itu dan memutuskan ciuman lama kami untuk membuka bajunya dan dilemparkannya kesamping. Saat ini aku punya ruang untuk menjelajahi dia. Aku menjalankan tanganku di sepanjang lengannya dan tonjolan keras otot bisepnya. Aku menggerakkan tanganku ke dadanya dan menjalarkan jariku di sepanjang otot perutnya, menghela napas dengan nikmat pada setiap riak keras. Meluncurkan tanganku keatas, aku menyusurkan ibu jariku pada otot dadanya yang keras dan merasakan putingnya menegang di bawah sentuhanku. Astaga, ini sangat seksi.
Yunho mundur dan mulai membuka kancing kemeja putih seragamku hampir dengan tergesa-gesa. Saat dia mencapai kancing terakhir dia mendorongnya dan menyentakkan braku ke bawah hingga kedua payudaraku terlepas dari bra berenda yang menutupinya.
Dia menjulurkan lidahnya dan menjentikkannya pada salah satu putingku. Dia pindah dari satu ke yang lain dan melakukan hal yang sama sebelum dia merendahkan kepalanya dan menarik ke dalam mulutnya dengan satu tarikan keras.
Tubuhku menempel padanya dan benda keras yang aku rasakan menyapu pada kakiku sekarang mendesak keras diantara pahaku menekan kearah intiku."Ah!" Aku berteriak, menggesekkan tubuhku pada kejantanannya dan ingin merasakannya lebih.
Yunho membiarkan putingku lepas dari mulutnya saat dia menatapku dan merendahkan tubuhnya, meninggalkanku sekali lagi tanpa tekanan yang aku butuhkan. Tangannya membuka rokku dan dia mulai menariknya perlahan bersamaan dengan celana dalamku. Dia tidak pernah mengalihkan pandangannya dariku.
Aku mengangkat tubuhku untuk memudahkannya meloloskan pakaian menuruni pinggangku. Yunho duduk dan membengkokkan jarinya mengisyaratkan agar aku duduk. Aku siap untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Segera setelah aku duduk dia benar-benar melepaskan kemejaku. Kemudian dia membuka braku dan membuangnya ke samping.
"Kau telanjang di ranjangku lebih cantik dari yang pernah aku bayangkan... dan percayalah aku telah memikirkannya. Berulang kali."
Dia menarik diri dariku mengaitkan lengannya di bawah lututku dan menempatkan dirinya diantara kakiku. Tapi dia masih memakai celana pedeknya. Aku menginginkan itu lepas... OH!
Yunho menggerakkan pinggangnya diatas kakiku yang terbuka dan menekan tepat dimana aku menginginkannya juga.
"Ya! Kumohon!" Aku mencakarnya membutuhkannya agar dia lebih mendekat.
Yunho merendahkan tubuhnya menggerakkan tangannya untuk memegang sisi dalam dari pahaku saat dia mencium pusarku dan kemudian puncak kewanitaanku. Dia butuh lebih banyak rambut. Aku ingin menarik sesuatu.
Mata peraknya terangkat dan mengunci mataku saat lidahnya menyelinap masuk dan dia menjalarkan tindikan logamnya pada clitku. Aku meneriakkan namanya dan mencengkeram kuat selimut untuk menjaga diriku agar tetap berada di ranjang. Aku merasa sepertu bisa terbang tinggi melesat keluar dari jendela yang luar biasa besar.
"Tuhan, kau begitu manis," Yunho terengah saat dia merendahkan kepalanya untuk menyapukan lidahnya lagi pada kewanitaanku. Aku pernah mendengarnya. Aku tahu tentang itu tapi aku tidak pernah membayangkan rasa nya akan begitu nikmat.
"Yunho, kumohon," aku merintih.
Dia berhenti sejenak di atas tubuhku. Kehangatan nafasnya membasuh denyutan yang dia ciptakan. "Mohon apa, boojae. Katakan padaku apa yang kau inginkan."
Aku menggelengkan kepalaku berulang-ulang dan menutup rapat mataku. Aku tidak bisa mengatakan padanya. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.
"Aku ingin mendengar kau mengatakannya Jae." ujar Yunho dengan bisikan tertahan.
"Kumohon, jilat aku lagi," Aku terbata-bata.
"Sial," Yunho mengutuk sebelum menjalankan lidahnya maju mundur pada lipatanku. Kemudian dia menarik clitku yang membengkak kedalam mulutnya dan membuatku terbang ke luar angkasa. Dunia meledak penuh warna dan nafasku terhenti saat kenikmatan melandaku.
Kenikmatan itu tidak menurun dari puncakku hingga aku menyadari Yunho telah meninggalkanku dan telah telanjang dan merendahkan dirinya lagi diatas tubuhku.
"Kondom sudah dipakai, Aku harus berada di dalam," Yunho berbisik di telingaku saat dia menarik kakiku agar terbuka dengan tangannya dan aku merasa ujung dari batang kejantanannya mememasukiku.
"Oh, fuck, kau begitu basah. Akan sulit untuk tidak tergelincir masuk ke dalamnya. Aku akan mencoba untuk perlahan-lahan. Aku berjanji."
Suaranya mengejang dan pembuluh darah di lehernya muncul ke permukaan kulit saat dia menekan lebih jauh ke dalam diriku. Dorongannya meregangkanku tapi rasanya begitu nikmat. Rasa nyeri yang aku bayangkan tidak ada. Aku mengangkat tubuhku membuka kakiku lebih lebar dan Yunho menelan keras dan membeku.
"Jangan begerak. Tolong baby, jangan bergerak," Yunho memohon, menahan dirinya agar tetap diam. Kemudian dia mendorong lebih jauh didalam keketatanku sebelum rasa sakit menghantam. Aku menegang dan begitu pula dengan Yunho. "Itu dia. Aku akan melakukannya dengan cepat tapi kemudian aku akan berhenti saat aku sudah berada di dalam dan membiarkanmu agar terbiasa denganku."
Aku mengangguk dan memejamkan mataku dan mengulurkan tanganku untuk memegang lengannya. Yunho menarik diri dan kemudian pinggangnya bergerak ke depan diiringi dengan satu hujaman yang kuat. Rasa ngilu yang panas mengirisku dan aku berteriak, mencengkeram lengannya erat dan menahannya sementara gelombang rasa sakit melanda tubuhku.
Aku bisa mendengar nafas kasar Yunho saat dia menahan dirinya. Aku tidak tahu benar bagaimana rasanya hal ini untuk para pria tapi bisa kukatakan ini tidak mudah. Yunho seperti sedang kesakitan.
"Oke. Aku oke," bisikku saat rasa sakit mereda.
Yunho membuka matanya dan menatapku. Matanya berkabut."Apa kau yakin? Karena baby, aku sangat ingin bergerak."
Aku mengangguk dan terus memegangi lengannya saat rasa sakit kembali datang lago ketika dia bergerak. Pinggang Yunho bergerak mundur dan rasanya seolah dia meninggalkanku kemudian dia menghujam kedepan dengan perlahan dan mengisiku lagi. Tidak ada rasa sakit kali ini. Aku hanya merasa meregang dan penuh.
"Apakah itu sakit?" Tanya Yunho ketika dia menahan dirinya lagi.
"Tidak. Aku menyukainya," aku meyakinkan dia.
Yunho memundurkan pinggangnya lagi dan kemudian bergerak maju menyebabkan aku merintih nikmat. Rasanya nikmat. Lebih dari baik.
"Kau menyukainya?" Yunho bertanya dengan kekaguman.
"Ya. Rasanya begitu nikmat."
Yunho menutup mata nya dan menghempaskan kepalanya ke belakang dan mengeluarkan erangan saat dia mulai bergerak lebih cepat. Aku bisa merasakan tubuhku naik lebih tinggi lagi. Apakah itu mungkin? Bisa kah aku mengalami orgasme lagi dalam waktu sesingkat ini?
Yang aku tahu, aku ingin lebih. Aku mengangkat pinggangku untuk menyelaraskan hujamannya dan itu sepertinya membuat dia hilang kendali.
"Yeah. Ya Tuhan, kau menakjubkan. Begitu ketat. Jae, kau sangat ketat," sahut Yunho diantara erangannya saat dia bergerak di dalamku.
Aku menarik lututku ke atas sehingga aku bisa melingkarkan kakiku di sekeliling pinggangnya dan dia mulai gemetaran, "Apakah kau sudah dekat, baby?" Tanyanya dengan suara tertahan.
"Kupikir begitu," balasku, merasa sesuatu terbangun didalam diriku. Aku belum sampai kesana. Rasa nyeri yang muncul di awal perlahan menghilang. Yunho menyelipkan tangannya diantara kami hingga ibu jarinya menggosok tepat pada denyutanku.
"AH! Ya di sana," aku menjerit dan berpegangan padanya saat gelombang memecahku. Yunho mengeluarkan geraman dan menjadi kaku dan tetap diam kemudian dia memompa diriku sekali lagi untuk terakhir kalinya.
.
.
.
.
.
To Be Continue

2 comments:

  1. ommo,,, apa yg terjadi,, aku ga bisa ngasih komen di chap sblumnya.. saat aku nekan publikasikan, komen aku ga ada, n kolom komen juga ikut hilang,, sedih,,

    saki,,,, aku smpai nyut2an baca ff ini,, suka bgt,, ya tuhan,, chap ini bnran bkin cenat cenut,, yunjae bnar2 nakal,, mksih udah update saki,, aku tggu lanjutannya,,,

    ReplyDelete
  2. Finally,, akhirnya,,,
    Jaejoong dibobol juga ma Yunho
    Kkkkkk
    Penasaran ma hubungan mereka selanjutnya,,,

    ReplyDelete