Saturday, September 12

[Remake] The Untittled Story Chapter XVII



Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?


The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita



Chapter 17
Dengan keras aku membuka pintu truk, lega karena menyelesaikan hari ini. Mataku langsung menuju ke arah sebuah kotak hitam dengan sebuah catatan di atasnya yang ada di atas kursiku. Aku meraihnya dan membuka kotak itu.
Jae,
Itu adalah sebuah telepon. Kau memerlukannya. Aku sudah bicara dengan papamu dan dia bilang akan memberikannya untukmu. Itu dari dia. Waktu bicara dan jumlah pesan yang bisa dilakukan tidak tebatas jadi gunakan itu semaumu.
Yunho

Appaku meminta pada Yunho untuk memberiku telepon? Benarkah? Aku membuka kotak itu dan sebuah iPhone berwana putih lengkap dengan pelindungnya ada di dalam. Aku menariknya keluar dan mempelajari sebentar. Aku menekan tombol lingkaran di bagian bawah layar dan kemudian layar menyala. Papaku tidak pernah memberiku hadiah sejak ulang tahunku sebelum dia pergi. Sebelum Jaekyung meninggal, dia memberi kami skuter elektrik yang sama dan helm.
Aku naik ke atas truk dan menggenggam telepon di tanganku. Apa sebaiknya aku menelpon appa mengenai hal ini? Akan bagus kalau dia menjelaskan padaku kenapa dia tidak ada disini. Kenapa dia mengirimku ke tempat dimana aku tidak diinginkan? Apa dia sudah pernah bertemu Boa? Tentu saja, dia pasti sudah tahu kalau Boa tidak akan menerimaku. Selain itu, kalau dia adalah saudaranya Yunho berarti dia juga adalah saudara tiriku. Apa yang membuat dia begitu marah? Aku tumbuh dengan uang yang lebih sedikit darinya? Ya Tuhan, dia benar-benar jahat.
Aku menekan kontak dan melihat kalau aku hanya memiliki tiga nomor yang tersimpan di dalam teleponku. Yang pertama adalah Junsu, lalu Jessica, dan kemudian Yunho. Dia memasukkan nomornya disini. Itu membuatku terkejut.
Telepon itu mulai memainkan lagu Larc en ciel yang pernah kudengar di radio sebelumnya dan nama Yunho berkedip-kedip di layar. Dia menelponku.
"Halo," jawabku, masih tidak yakin apa yang harus kupikirkan mengenai ini.
"Kurasa kau sudah mendapatkan teleponnya. Apa kau menyukainya?" Tanya Yunho.
"Ya, ini bagus sekali. Tapi kenapa appa ingin kau memberikan ini?" Dia tidak begitu peduli mengenai hal lain pada diriku selama bertahun-tahun. Ini benar-benar mengejutkan.
"Demi keamanan. Semua wanita membutuhkan telepon. Terutama kalau mereka mengemudi kendaraan yang lebih tua dari umur mereka. Kau bisa saja mogok setiap saat."
"Aku memiliki pistol," Aku mengingatkan dia.
Dia terkekeh. "Ya, kau memilikinya, dasar keras kepala. Tapi sebuah pistol tidak bisa menarik trukmu."
Poin yang benar.
"Apa kau akan pulang kerumah?" Dia bertanya. Kata-katanya yang menyebutkan "rumah" seakan-akan seperti rumahnya adalah rumahku dan itu membuatku merasa hangat di dalamku. Bahkan meskipun dia sebenarnya tidak berniat seperti itu.
"Ya, kalau itu ok. Aku bisa pergi melakukan sesuatu kalau kau ingin aku berada di luar rumah."
"Tidak aku ingin kau disini. Aku memasak."
Dia memasak? Untukku? "Oh, ok. Well, aku akan berada disana dalam beberapa menit." "Sampai jumpa," Dia mengatakan itu dan sambungan telepon diputuskan. Dia bertingkah sangat aneh sekali lagi.
.
.
.
 Saat aku berjalan ke arah rumah, aku bisa mencium aroma bumbu taco di hidungku. Aku menutup pintu dan segera menuju ke arah dapur. Kalau memang ini adalah masakan Meksiko buatan sendiri, maka aku akan benar-benar terkesan.
Yunho sedang memunggungiku saat aku masuk ke dapur. Dia sedang mengikuti lagu yang tidak kuketahui yang dimainkan peralatan musik yang ada. Itu lebih ringan dan lebih pelan dari lagu yang biasa dia dengarkan. Sebuah botol Corona terbuka di bar dengan seiris lemon disampingnya. Aku melakukan itu saat aku bekerja di lapangan.
"Baunya enak," Katanya. Yunho menoleh ke belakang di atas bahunya dan perlahan senyuman merekah di wajahnya.
"Iya," Dia menjawab, membersihkan tangannya dengan handuk tangan di sebelahnya.
Dia mengambil corona dan memberikannya kepadaku. "Ini, minumlah. Enchiladas nya sudah hampir selesai. Aku perlu membalik quesadillas dan mereka akan siap dalam beberapa menit. Kita bisa segera makan."
Aku meletakkan corona di bibirku dan menyesapnya. Sebagian besar untuk keberanian. Ini bukanlah sesuatu yang kuharapkan di pertemuanku berikutnya dengan dia. Yunho seperti sebuah teka teki yang tidak pernah bisa aku pecahkan.
"Aku berharap kau suka makanan meksiko," dia mengatakan itu saat dia menarik enchiladas keluar dari oven. Jung Yunho tidak kelihatan seperti orang yang terbiasa berada di dapur untuk memasak. Tapi sial, kalau saja dia tidak begitu seksi saat melakukannya.
"Aku suka makanan meksiko," Aku meyakinkannya. "Aku akui, aku akan sangat terkesan kalau kau bisa memasaknya."
Yunho melihatku dan mengedipkan mata. "Aku memiliki banyak talenta yang bisa membuat otakmu meledak."
Aku yakin itu. Aku menelan lebih banyak lagi corona.
"Tenanglah. Kau juga harus makan sesuatu. Saat aku bilang minumlah, bukan berarti kau harus menghabiskan itu."
Aku mengangguk dan menyeka sedikit tetesan yang tersisa di bawah bibirku. Yunho memperhatikanku dengan begitu intens. Itu membuat tanganku sedikit gemetar.
Dia mengalihkan pandangannya dan mulai mengangkat quesadillas dari atas wajan. Dia meletakkannya di piring besar yang penuh dengan taco keras dan halus. Ada burrito juga disana. Dia membuat semuanya.
"Semua yang lain sudah siap di atas meja. Ambilkan aku corona dari lemari es dan ikuti aku."
Aku melakukan apa yang dia katakan dengan cepat dan kemudian mengejar Yunho. Dia tidak berhenti di ruang makan. Tapi dia berjalan keluar ke arah beranda yang luas di belakang yang menghadap ke laut. Dua lampu yang terang ada di tengah meja sehingga kita bisa mendapatkan cahaya seperti cahaya lilin tanpa takut untuk mati karena angin.
"Duduklah, aku akan menyiapkan piring untukmu," Dia mengatakan itu, menunjuk tempat duduk pertama yang ada di depanku agar aku duduk disana. Hanya ada dua tempat duduk disini.
Aku duduk dan Yunho mulai menyiapkan semuanya di piringku. Kemudian dia meletakkan penutup makanan dan meletakkan serbet dari sebelah piringku ke pangkuanku. Mulutnya begitu dekat dengan telingaku sehingga nafasnya yang hangat membuatku gemetar.
"Bisa kuambilkan minuman yang lain?" Dia membisikkan itu di telingaku sebelum berdiri untuk mundur.
Aku menggelengkan kepala. Aku tidak akan bisa minum kalau dia melakukan hal seperti itu. Jantungku berdegup cepat seakan sudah gila. Aku tidak bisa menelan sesuatu kalau seperti ini.
Yunho mengambil minumannya sendiri dan duduk di seberangku. Aku melihatnya saat dia menyiapkan piring hingga matanya berpindah ke mataku. "Kalau kau tidak menyukai ini, jangan katakan padaku. Egoku tidak bisa mengatasinya."
Aku yakin tidak ada yang dia masak yang terasa tidak enak. Aku menyeringai dan mengambil garpu dan pisau untuk mulai memotong enchilada menjadi potongan-potongan kecil. Tidak mungkin aku bisa menghabiskan semua ini tapi aku bisa merasakan setiap masakan yang ada.
Pada saat makanan itu menyentuh lidahku, itu mengejutkan aku. Ini sama lezatnya dengan apa yang biasa kumakan di restoran Meksiko. Sambil tersenyum, aku memandangnya. "Ini lezat dan aku beritahukan aku sangat terkejut."
Yunho memasukkan segarpu penuh ke dalam mulutnya dan menyeringai. Egonya tidak akan pernah hancur. Itu mungkin perlu untuk dijatuhkan sedikit. Aku mulai merasakan masakan yang lain dan merasa bahwa diriku tenyata lebih lapar daripada yang kupikirkan tadi. Semuanya begitu lezat sehingga aku tidak ingin membuang apapun.
Setelah aku merasakan masakan ke empat di piringku, aku tahu bahwa aku harus berhenti. Aku menyesap corona dan menyandarkan diriku ke kursi. Yunho sedang membersihkan makanannya juga. Saat selesai, dia meletakkan botolnya dan matanya berubah serius. Uh-oh. Kita pasti akan membicarakan tentang semalam. Aku ingin melupakan kemarin malam. Terutama karena malam ini begitu indah.
"Maafkan aku mengenai apa yang dilakukan Boa hari ini," dia mengatakannya dengan rasa sedih dalam suaranya.
"Bagaimana kau bisa tahu mengenai hal itu?" Aku bertanya dan tiba-tiba merasa tidak nyaman.
"Hyunjoong menelponku. Dia memberiku peringatan bahwa Boa akan diusir kalau lain kali dia melakukan hal yang kasar pada pegawainya. Hyunjoong adalah orang yang baik. Dia kadang bisa keterlaluan juga tapi dia adalah atasan yang baik." Aku mengangguk.
"Dia seharusnya tidak bicara seperti itu padamu. Aku sudah bicara padanya. Dia berjanji padaku tidak akan melakukannya lagi. Tapi kalau dia melakukannya, di tempat lain, tolong katakanlah padaku."
Ini adalah makan malam untuk permintaan maaf atas kelakuan adiknya yang jahat, bukan untuk memperbaiki hubungan diantara kami. Aku tidak berada dalam kencan romantis seperti imajinasi di kepalaku. Ini cuma Yunho yang meminta maaf atas kelakuan Boa.
Aku mendorong kursiku ke belakang dan mengangkat piringku. "Terima kasih. Aku menghargainya. Kau baik sekali. Aku pastikan kalau aku tidak akan mengadukannya pada Hyunjoong kalau Boa kasar lagi padaku di masa mendatang. Dia tadi cuma melihatku secara langsung saja hari ini."
Aku mengambil minumanku. "Makan malamnya menyenangkan. Senang karena bisa menikmatinya setelah bekerja seharian. Terima kasih banyak."
Aku tidak membuat kontak mata dengannya. Aku hanya ingin menjauh darinya.
Dengan cepat aku masuk, aku membersihkan piringku dan meletakkanya di mesin cuci piring sebelum mencuci botolku dan meletakkan ke dalam tempat sampah.
"Jae," Yunho memanggilku dari belakang dan dengan tiba-tiba tubuhnya mengurungku. Tangannya berada di kedua sisi meja dapur dan yang bisa kulakukan hanyalah berdiri disana dan melihat ke tempat cuci yang ada di depanku. Tubuhnya yang keras dan hangat menggosok punggungku dan aku menggigit lidahku untuk menjaga agar tidak mendesah. Aku tidak akan membiarkan dia melihat seberapa terpengaruhnya diriku padanya.
"Ini bukanlah usaha minta maaf untuk Boa. Ini adalah usaha minta maaf untukku. Aku minta maaf untuk kemarin malam. Aku terbaring di ranjangku semalaman berharap kau ada disana bersamaku. Berharap aku tidak mendorongmu pergi menjauh. Aku mendorong orang untuk pergi Jae. Itu adalah mekanisme pertahanan diri bagiku. Tapi aku tidak mau mendorongmu menjauh."
Berjalan menjauh dari dia dan menjaga jarak dengannya adalah hal yang tepat untuk dilakukan. Yunho tidak akan dan tidak pernah menjadi pangeran yang mempesona untuk siapapun juga. Aku tidak akan pernah membiarkan diriku berpikir dia adalah orang yang akan mencintai dan menghiburku. Dia tidak akan pernah menjadi orang yang tepat bagiku. Tapi hatiku mulai merasakan sedikit ketertarikan padanya. Tidak untuk selamanya tapi sekarang aku ingin menjadikan Yunho yang pertama. Dia tidak akan menjadi yang terakhir bagiku. Dia bisa berhenti kapanpun dalam perjalanan hidupnya. Perhentian yang mungkin akan aku ingat seumur hidupku. Itu adalah yang paling aku takutkan. Karena tidak bisa melanjutkan hidupku.
Dia meraih dan menyisir rambutku dari sisi leherku dan kemudian mencium leherku. "Tolong. Maafkan aku. Satu kesempatan lagi, Jae. Aku menginginkan ini. Aku menginginkanmu."
Yunho akan menjadi yang pertama. Itu perasaan yang benar. Di dalam diriku aku tahu dia adalah pria yang akan mengajari aku mengenai kehidupan. Meski kalau dia nantinya akan menyakiti diriku. Aku membalikkan badanku dan meletakkan kedua tanganku melingkar di lehernya.
"Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat," Aku katakan itu, memandang matanya yang penuh dengan emosinya yang membuatku mengharapkan lebih banyak lagi.
"Ok," Dia mengatakan itu dengan hati-hati.
"Aku ingin bersamamu malam ini. Tidak ada lagi rayuan. Tidak ada lagi menunggu."
Ekspresi kekuatiran pada dirinya tiba-tiba menghilang dan digantikan dengan rasa lapar.
"Tentu saja. Iya," Dia menggeram dan menarikku ke arah dirinya.
.
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment:

  1. Hmmm,,ini yg lanjutannya kan ??
    Agak loading aku hhhhhhh

    ReplyDelete