Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan
diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi
sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong
dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara
Saki, 7ec4df8e
Remake
from Abby Glines Story
Staring:
Jung Yunho, Kim Jaejoong
Chapter 18
Yunho tidak
memulainya dengan perlahan. Mulutnya kuat dan menuntut. Aku senang. Ini
romantis. Ini nyata. Dia juga menggunakan barbel lidahnya. Pada awalnya aku
tidak menyadarinya tapi aku merasakannya. Jentikan lidahnya hebat dengan adanya
benda itu. Aku suka merasakan sesuatu yang tidak bisa diraih.
Kedua tangannya
menangkup wajahku. Ciumannya melambat dan kemudian dia menarik diri tapi tetap
memegang wajahku dengan tangannya. "Ikutlah ke atas denganku. Aku ingin menunjukkan
kamarku," dia memberikanku senyuman nakal, "dan ranjangku."
Aku mengangguk
dan Yunho menjatuhkan tangannya dari wajahku. Dia menyelipkan salah satu
tangannya ke tanganku dan menautkan jemari kami kemudian diremasnya. Tanpa
berkata-kata, dia mengarahkanku ke tangga menarikku naik dengan lembut dan
dengan segera karena dia ingin segera tiba di atas. Saat kami tiba di lantai
dua, dia mendorongku ke dinding dan menciumku dengan ganas, menjepit bibirku
dan membelai lidahku. Dia menyentak ke belakang dan mengambil nafas dalam. "Satu
tangga lagi menuju lantai atas," ujarnya dengan suara parau dan menarikku
kearah pintu di ujung lorong. Kami melewati kamarku dan dia berhenti sebentar.
Pada mulanya, aku pikir dia mungkin ingin menuju kesana tetapi dia tidak
berhenti hingga kami mencapai pintu kecil di ujung lorong. Aku menduga ada
tangga yang menuju kamarnya. Dia menarik kunci untuk membukanya, kemudian
membuka pintu dan memberi isyarat padaku agar mengikutinya.
Di ruangan tempat
tangga itu berada terbuat dari kayu keras seperti sebuah tangga lain.di rumah
ini tapi disana ada dinding di satu sisi saat kami menaiki anak tangga
selangkah demi selangkah.
Saat aku sampai
di ujung teratas tangga, aku membeku. Pemandangannya sangat mempesona. Cahaya
bulan yang menyinari lautan memberikan kamar sebuah latar belakang paling luar
biasa yang bisa dibayangkan.
"Kamar ini
adalah alasan mengapa aku meminta ibuku untuk membeli rumah ini. Meskipun saat
itu aku baru berusia sepuluh tahun aku tahu bahwa kamar ini istimewa,"
bisik Yunho di belakangku membungkus pinggangku dengan lengannya.
"Ini sangat
menakjubkan," aku bernafas dengan suara pelan. Aku merasa seolah berbicara
terlalu keras akan menghancurkan momen ini.
"Aku
menghubungi ayahku hari itu dan berkata padanya kalau aku menemukan rumah yang
ingin aku tinggali. Dia mengirimkan uangnya melalui ibuku dan ibuku membelinya
.Dia suka lokasinya jadi di rumah inilah kami menghabiskan waktu musim panas
kami. Dia punya rumah sendiri di Atlanta tapi dia lebih suka tinggal
disini."
Dia bercerita
tentang dirinya. Keluarganya. Dia mencoba. Hatiku sedikit meleleh lagi.
Seharusnya aku menghentikannya untuk membingkai dirinya di hatiku. Aku tidak
ingin hatiku terluka saat semua ini berakhir dan dia pergi .Tapi aku ingin tahu
lebih mengenai dirinya.
"Aku tidak
pernah ingin pergi," balasku jujur.
Yunho mencium
telingaku dengan lembut. "Ah, tapi kau belum melihat kabinku di Vale atau
apartemenku di Manhattan."
Tidak, aku belum
pernah dan aku tidak akan pernah melihatnya. Namun, aku bisa membayangkan dia
berada di tempat-tempat itu. Aku sudah sering melihatnya di televisi bagaimana
bentuk tempat itu. Musim dingin ini aku bisa melihat dia menyalakan api di
kabin yang besar di pegunungan dengan salju yang menutupi luar rumahnya. Atau
bersantai di apartemennya yang mengarah ke pemandangan kota Manhattan. Mungkin
dari jendelanya dia bisa melihat pohon natal besar yang selalu dipasang setiap
tahun.
Yunho memutarku
ke arah kanan hingga aku mencapai pada ranjang berukuran king size. Ranjang itu
berwarna hitam legam. Kasur dan selimutnya juga hitam. Bahkan bantalnya pun
hitam. "Dan itu adalah ranjangku," katanya membawaku berjalan kearah
ranjang dengan tangan di pinggangku. Aku tidak ingin memikirkan tentang semua
gadis yang pernah ada disini sebelumnya. Aku tidak akan. Aku menutup mata ku
dan memblokir semua pikiran itu.
"Jae,
meskipun kita hanya berciuman atau berbaring disana dan mengobrol, aku tidak
masalah. Aku hanya ingin kau berada disini. Dekat denganku."
Perkataannnya itu
satu atau dua inci sedikit melesak ke dalam hatiku. Aku berbalik dan
menatapnya. "Kau tidak serius dengan itu. Aku melihat sikapmu sebagai Jung
Yunho. Kau tidak membawa gadis ke kamarmu dan hanya ingin berbicara." Aku
mencoba terdengar menggoda tapi suaraku pecah saat aku menyebut gadis lain.
Yunho mengerutkan
dahi, "Aku tidak pernah membawa gadis kesini, Jae."
Apa? Ya dia
pernah melakukannya.
"Pada malam
pertama aku datang kesini kau bilang ranjangmu sudah penuh," aku
mengingatkannya.
Dia menyeringai.
"Yeah, karena aku tidur disana. Aku tidak membawa gadis ke kamarku. Aku
tidak ingin seks yang tidak berarti mencemari kamar ini. Aku suka berada
disini."
"Besok
paginya seorang gadis ada disini. Kau meninggalkannya di ranjang dan dia
mencarimu hanya memakai pakaian dalam."
Yunho menyelipkan
tangannya ke bawah kemejaku dan mulai mengusap lingkaran kecil di punggungku,
"Kamar pertama di kanan adalah milik Changmin sampai orang tua kami
bercerai. Aku menggunakannya sebagai kamar bujangan sekarang. Kesanalah aku
membawa gadis gadis itu. Bukan disini. Tidak pernah disini. Kau yang
pertama,"
dia berhenti dan
seringai tersungging di bibirnya. "Well, aku mengijinkan bibi Hwang kemari
seminggu sekali untuk membersihkan kamar tapi aku bersumpah tidak ada
kebohongan diantara kita."
Apa itu berarti
aku berbeda? Aku bukan satu diantara mereka? Tuhan, kuharap begitu.
Tidak... tidak
aku tidak boleh berharap. Aku harus punya pegangan. Dia mungkin akan segera
meninggalkan aku. Dunia kami tidak sama. Bahkan tidak mungkin untuk saling
mendekat satu sama lain.
"Tolong,
cium aku," kataku, berdiri berjinjit dan menekankan mulutku padanya
sebelum dia sempat menolak atau menyarankan kami untuk ngobrol lagi. Aku tidak
ingin mengobrol. Jika kami berbicara aku ingin lebih.
Yunho mendorongku
ke ranjangnya dan menutup tubuhku dengan tubuhnya sementara lidahnya bertautan
dengan lidahku. Tangannya menelusuri sisi tubuhku hingga dia menemukan lututku.
Dia memisahkan lututku dan menempatkan dirinya diantara jarak yang dia
ciptakan.
Aku ingin
merasakan lebih dari dirinya. Aku meraih ujung kausnya dan menyentakkannya. Dia
mengetahui isyarat itu dan memutuskan ciuman lama kami untuk membuka bajunya
dan dilemparkannya kesamping. Saat ini aku punya ruang untuk menjelajahi dia.
Aku menjalankan tanganku di sepanjang lengannya dan tonjolan keras otot
bisepnya. Aku menggerakkan tanganku ke dadanya dan menjalarkan jariku di
sepanjang otot perutnya, menghela napas dengan nikmat pada setiap riak keras.
Meluncurkan tanganku keatas, aku menyusurkan ibu jariku pada otot dadanya yang
keras dan merasakan putingnya menegang di bawah sentuhanku. Astaga, ini sangat
seksi.
Yunho mundur dan
mulai membuka kancing kemeja putih seragamku hampir dengan tergesa-gesa. Saat
dia mencapai kancing terakhir dia mendorongnya dan menyentakkan braku ke bawah
hingga kedua payudaraku terlepas dari bra berenda yang menutupinya.
Dia menjulurkan
lidahnya dan menjentikkannya pada salah satu putingku. Dia pindah dari satu ke
yang lain dan melakukan hal yang sama sebelum dia merendahkan kepalanya dan
menarik ke dalam mulutnya dengan satu tarikan keras.
Tubuhku menempel
padanya dan benda keras yang aku rasakan menyapu pada kakiku sekarang mendesak
keras diantara pahaku menekan kearah intiku."Ah!" Aku berteriak,
menggesekkan tubuhku pada kejantanannya dan ingin merasakannya lebih.
Yunho membiarkan
putingku lepas dari mulutnya saat dia menatapku dan merendahkan tubuhnya,
meninggalkanku sekali lagi tanpa tekanan yang aku butuhkan. Tangannya membuka
rokku dan dia mulai menariknya perlahan bersamaan dengan celana dalamku. Dia
tidak pernah mengalihkan pandangannya dariku.
Aku mengangkat
tubuhku untuk memudahkannya meloloskan pakaian menuruni pinggangku. Yunho duduk
dan membengkokkan jarinya mengisyaratkan agar aku duduk. Aku siap untuk
melakukan apapun yang dia inginkan. Segera setelah aku duduk dia benar-benar
melepaskan kemejaku. Kemudian dia membuka braku dan membuangnya ke samping.
"Kau
telanjang di ranjangku lebih cantik dari yang pernah aku bayangkan... dan
percayalah aku telah memikirkannya. Berulang kali."
Dia menarik diri
dariku mengaitkan lengannya di bawah lututku dan menempatkan dirinya diantara
kakiku. Tapi dia masih memakai celana pedeknya. Aku menginginkan itu lepas...
OH!
Yunho
menggerakkan pinggangnya diatas kakiku yang terbuka dan menekan tepat dimana
aku menginginkannya juga.
"Ya!
Kumohon!" Aku mencakarnya membutuhkannya agar dia lebih mendekat.
Yunho merendahkan
tubuhnya menggerakkan tangannya untuk memegang sisi dalam dari pahaku saat dia
mencium pusarku dan kemudian puncak kewanitaanku. Dia butuh lebih banyak rambut.
Aku ingin menarik sesuatu.
Mata peraknya
terangkat dan mengunci mataku saat lidahnya menyelinap masuk dan dia
menjalarkan tindikan logamnya pada clitku. Aku meneriakkan namanya dan
mencengkeram kuat selimut untuk menjaga diriku agar tetap berada di ranjang.
Aku merasa sepertu bisa terbang tinggi melesat keluar dari jendela yang luar
biasa besar.
"Tuhan, kau
begitu manis," Yunho terengah saat dia merendahkan kepalanya untuk
menyapukan lidahnya lagi pada kewanitaanku. Aku pernah mendengarnya. Aku tahu
tentang itu tapi aku tidak pernah membayangkan rasa nya akan begitu nikmat.
"Yunho,
kumohon," aku merintih.
Dia berhenti
sejenak di atas tubuhku. Kehangatan nafasnya membasuh denyutan yang dia
ciptakan. "Mohon apa, boojae. Katakan padaku apa yang kau inginkan."
Aku menggelengkan
kepalaku berulang-ulang dan menutup rapat mataku. Aku tidak bisa mengatakan
padanya. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.
"Aku ingin
mendengar kau mengatakannya Jae." ujar Yunho dengan bisikan tertahan.
"Kumohon,
jilat aku lagi," Aku terbata-bata.
"Sial,"
Yunho mengutuk sebelum menjalankan lidahnya maju mundur pada lipatanku.
Kemudian dia menarik clitku yang membengkak kedalam mulutnya dan membuatku
terbang ke luar angkasa. Dunia meledak penuh warna dan nafasku terhenti saat
kenikmatan melandaku.
Kenikmatan itu
tidak menurun dari puncakku hingga aku menyadari Yunho telah meninggalkanku dan
telah telanjang dan merendahkan dirinya lagi diatas tubuhku.
"Kondom sudah
dipakai, Aku harus berada di dalam," Yunho berbisik di telingaku saat dia
menarik kakiku agar terbuka dengan tangannya dan aku merasa ujung dari batang
kejantanannya mememasukiku.
"Oh, fuck,
kau begitu basah. Akan sulit untuk tidak tergelincir masuk ke dalamnya. Aku
akan mencoba untuk perlahan-lahan. Aku berjanji."
Suaranya
mengejang dan pembuluh darah di lehernya muncul ke permukaan kulit saat dia
menekan lebih jauh ke dalam diriku. Dorongannya meregangkanku tapi rasanya
begitu nikmat. Rasa nyeri yang aku bayangkan tidak ada. Aku mengangkat tubuhku
membuka kakiku lebih lebar dan Yunho menelan keras dan membeku.
"Jangan
begerak. Tolong baby, jangan bergerak," Yunho memohon, menahan dirinya
agar tetap diam. Kemudian dia mendorong lebih jauh didalam keketatanku sebelum
rasa sakit menghantam. Aku menegang dan begitu pula dengan Yunho. "Itu
dia. Aku akan melakukannya dengan cepat tapi kemudian aku akan berhenti saat
aku sudah berada di dalam dan membiarkanmu agar terbiasa denganku."
Aku mengangguk
dan memejamkan mataku dan mengulurkan tanganku untuk memegang lengannya. Yunho
menarik diri dan kemudian pinggangnya bergerak ke depan diiringi dengan satu
hujaman yang kuat. Rasa ngilu yang panas mengirisku dan aku berteriak,
mencengkeram lengannya erat dan menahannya sementara gelombang rasa sakit
melanda tubuhku.
Aku bisa
mendengar nafas kasar Yunho saat dia menahan dirinya. Aku tidak tahu benar
bagaimana rasanya hal ini untuk para pria tapi bisa kukatakan ini tidak mudah. Yunho
seperti sedang kesakitan.
"Oke. Aku
oke," bisikku saat rasa sakit mereda.
Yunho membuka matanya
dan menatapku. Matanya berkabut."Apa kau yakin? Karena baby, aku sangat
ingin bergerak."
Aku mengangguk
dan terus memegangi lengannya saat rasa sakit kembali datang lago ketika dia
bergerak. Pinggang Yunho bergerak mundur dan rasanya seolah dia meninggalkanku
kemudian dia menghujam kedepan dengan perlahan dan mengisiku lagi. Tidak ada
rasa sakit kali ini. Aku hanya merasa meregang dan penuh.
"Apakah itu
sakit?" Tanya Yunho ketika dia menahan dirinya lagi.
"Tidak. Aku
menyukainya," aku meyakinkan dia.
Yunho memundurkan
pinggangnya lagi dan kemudian bergerak maju menyebabkan aku merintih nikmat.
Rasanya nikmat. Lebih dari baik.
"Kau
menyukainya?" Yunho bertanya dengan kekaguman.
"Ya. Rasanya
begitu nikmat."
Yunho menutup
mata nya dan menghempaskan kepalanya ke belakang dan mengeluarkan erangan saat
dia mulai bergerak lebih cepat. Aku bisa merasakan tubuhku naik lebih tinggi
lagi. Apakah itu mungkin? Bisa kah aku mengalami orgasme lagi dalam waktu
sesingkat ini?
Yang aku tahu,
aku ingin lebih. Aku mengangkat pinggangku untuk menyelaraskan hujamannya dan
itu sepertinya membuat dia hilang kendali.
"Yeah. Ya
Tuhan, kau menakjubkan. Begitu ketat. Jae, kau sangat ketat," sahut Yunho
diantara erangannya saat dia bergerak di dalamku.
Aku menarik
lututku ke atas sehingga aku bisa melingkarkan kakiku di sekeliling pinggangnya
dan dia mulai gemetaran, "Apakah kau sudah dekat, baby?" Tanyanya
dengan suara tertahan.
"Kupikir
begitu," balasku, merasa sesuatu terbangun didalam diriku. Aku belum
sampai kesana. Rasa nyeri yang muncul di awal perlahan menghilang. Yunho
menyelipkan tangannya diantara kami hingga ibu jarinya menggosok tepat pada
denyutanku.
"AH! Ya di
sana," aku menjerit dan berpegangan padanya saat gelombang memecahku. Yunho
mengeluarkan geraman dan menjadi kaku dan tetap diam kemudian dia memompa
diriku sekali lagi untuk terakhir kalinya.
.
.
.
.
.
To Be Continue

ommo,,, apa yg terjadi,, aku ga bisa ngasih komen di chap sblumnya.. saat aku nekan publikasikan, komen aku ga ada, n kolom komen juga ikut hilang,, sedih,,
ReplyDeletesaki,,,, aku smpai nyut2an baca ff ini,, suka bgt,, ya tuhan,, chap ini bnran bkin cenat cenut,, yunjae bnar2 nakal,, mksih udah update saki,, aku tggu lanjutannya,,,
Finally,, akhirnya,,,
ReplyDeleteJaejoong dibobol juga ma Yunho
Kkkkkk
Penasaran ma hubungan mereka selanjutnya,,,