Oke,
Saki mau minta maaf, setelah Saki cek dari chap 1 sampai sekarang
banyak kesalahan yang Saki perbuat tentang pemberian nama.
yang
jadi kekasih Junsu saki tulis Enhyuk, tp sebenarnya Yoochun, sementara
bos di klub golf saki tulis Yoochun, yg benar Hyunjoong, pacar pertama
Jae, Saki tulis Hyunjoong, tp yang benar Yihan, dan namja yg suka Jae di
club bukan Yihan.
Maaf, Saki benar2 minta maaf.
Dan ini mundur 2 chapter ya, tapi ceritanya yang paling baru kok.
Happy Reading....
.
.
.
Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?Dan ini mundur 2 chapter ya, tapi ceritanya yang paling baru kok.
Happy Reading....
.
.
.
The Untitled Story
Remake from Abby Glines Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita
Chapter 16
Yunho membuka pintu dan mundur sedikit sehingga aku bisa masuk. Aku berjalan masuk ke dalam dan langsung menuju ke dapur.
Yunho membuka pintu dan mundur sedikit sehingga aku bisa masuk. Aku berjalan masuk ke dalam dan langsung menuju ke dapur.
"Sekarang kamarmu ada di atas." Yunho
mengatakan itu, memecahkan keheningan yang ada.
Aku tahu itu. Pikiranku sekarang sedang
berada di tempat lain. Aku berbalik dan berjalan menuju ke arah tangga. Yunho
tidak mengikutiku. Aku ingin melihat ke belakang dan memastikan apa yang sedang
dia lakukan tapi aku tidak berani melakukannya.
"Aku berusaha untuk tetap berada jauh
darimu." Kata-katanya terdengar sedih. Aku behenti dan menoleh untuk
melihatnya. Dia sedang bediri di anak tangga paling bawah dan memandang padaku.
Ekspresi rasa sakit di wajahnya membuat hatiku juga ikut sakit.
"Malam pertama dimana aku mencoba
menyingkirkanmu. Itu bukan karena aku tidak menyukaimu." Dia tertawa
pahit. "Tapi karena aku tahu. Aku tahu kau akan berada di bawah kulitku.
Aku tahu aku tidak akan bisa berada jauh darimu. Mungkin aku sedikit membencimu
karena kau telah menemukan kelemahan yang ada di dalam diriku."
"Apa yang salah kalau kau tertarik
padaku?" Aku bertanya, paling tidak aku perlu dia menjawab pertanyaan itu.
"Karena kau tidak tahu semuanya dan
aku tidak bisa mengatakannya padamu. Aku tidak bisa memberitaukan rahasia Boa.
Itu semua miliknya. Aku mencintainya Jae. Aku mencintai dia dan sudah
melindunginya seumur hidupku. Dia adalah adikku. Itulah yang aku lakukan.
Bahkan meski aku menginginkanmu sampai tidak menginginkan hal yang lain di
dunia ini, aku tetap tidak bisa memberitaukan rahasia Boa."
Semua kata-kata yang keluar dari mulutnya
terdengar seperti dipaksakan keluar. Boa memang adiknya dan aku mengerti
loyalitas dan cinta semacam itu. Aku juga akan mati untuk Jaekyung jika bisa
melakukannya. Usianya hanya lima belas menit lebih muda dariku tapi akan
kulakukan apapun yang dia pinta. Tidak ada pria atau perasaan lainnya yang
mampu membuatku mengkhianati adikku.
"Aku bisa mengerti hal itu. Tak apa.
Aku seharusnya tidak bertanya. Maafkan aku." Aku menyesal.
Aku sudah memaksa masuk ke dalam
kehidupannya dan adiknya. Tentu saja apapun yang Junsu tahu seharusnya dia
tidak perlu mengetahuinya. Kalau Junsu berpikir perlindungan Yunho terhadap
adiknya akan menjadi masalah bagi hubungan kami, dia salah.
Yunho menutup matanya dan menggumamkan
sesuatu. Dia sedang berhadapan dengan sesuatu. Mungkin ini akan membawa memori
yang buruk. Meskipun besar keinginanku untuk turun kebawah dan memeluknya, aku
tahu aku tidak akan diterima sekarang ini. Aku akan mengacaukannya.
"Selamat malam, Yunho," Aku
mengatakan itu dan melanjutkan naik ke atas. Aku tidak menoleh lagi ke belakang
kali ini. Aku langsung menuju ke kamarku.
.
.
.
.
Tidak ada yang tidak menyadari pagi yang
terlihat di jendela ini. Jam alarm sudah tidak diperlukan lagi. Matahari
membangunkan aku satu jam sebelum jam alarmku mulai berbunyi. Aku mandi dan
mengenakan pakaian dengan santai karena aku memiliki kamar mandi di sini dan
lebih banyak ruang untuk bisa bergerak bebas.
Aku sedang tidak berada dalam mood untuk
makan makanan Yunho pagi ini. Aku benar-benar dalam mood yang tidak ingin makan
tapi aku harus bekerja dua shift hari ini jadi aku memerlukan makanan. Aku akan
berhenti di toko kopi untuk membeli sedikit kafein dan sebuah muffin. Rok linen
hitam yang pendek dan atasan hem berkancing dengan warna putih yang harus kami
kenakan sebagai seragam saat kami menyajikan makanan di ruang makan di klub adalah
merupakan tanggung jawab kami untuk tetap bersih dan rapi. Aku menghabiskan
waktu beberapa jam kemarin untuk menyeterika beberapa seragam yang aku miliki
di rumah.
Setelah mengenakan sepatu tenis, aku turun
ke bawah. Aku tidak mendengar ada aktifitas di atas hari ini jadi aku tahu
kalau Yunho belum bangun. Aku senang karena mengetahui bahwa Yunho belum bangun
tidur. Sekarang aku memiliki waktu untuk menghapus kejadian semalam yang
membuatku malu.
Bukan karena aku membiarkan Yunho
menyentuhku di tempat dimana orang lain tidak ada yang pernah menyentuhku
sebelumnya tapi juga karena aku menjadi terangsang seperti seorang wanita nakal
cabul yang sinting. Aku perlu minta maaf pada Yunho tapi aku masih belum siap
untuk melakukannya.
Dengan perlahan aku menutup pintu depan di
belakangku dan menuju ke arah truk. Paling tidak aku tidak akan kembali ke
rumah hingga malam nanti. Tidak perlu berhadapan dengan Yunho setidaknya selama
dua belas jam.
Seok Chun oppa sudah ada di ruangan staff
dengan celemeknya saat aku tiba. Dia memberikan senyuman padaku dan kemudian
membuat wajah cemberut dengan menggunakan bibirnya. "Uh, oh, kelihatannya
seseorang mendapatkan pagi yang buruk."
Aku tidak bisa mengatakan masalahku pada Seok
Chun oppa. Dia juga mengenal orang-orang ini. Aku harus menyimpan semua masalah
untukku sendiri.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak,"
Sahutku.
Seok Chun oppa membuat suara mendesis.
"Sayang sekali. Tidur adalah hal yang indah."
Aku mengangguk tanda setuju dan melakukan
absensi masuk. "Apa aku sendirian hari ini?" Tanyaku.
"Tentu saja. Kau baru menyadari ini
setelah mengikutiku selama dua jam. Kau benar-benar harus menenangkan diri hari
ini."
Aku lega karena seseorang memikirkan itu.
Aku mengambil tablet pesanan dan sebuah bolpen kemudian meletakkanya di saku
celemek warna hitamku.
"Waktunya sarapan," Seok Chun
oppa mengatakan itu dengan sebuah kedipan dan mendorong pintu yang menuju ke
ruang makan.
"Oooh kelihatannya bos dan temannya
ada di meja nomor delapan. Meski aku sangat ingin pergi bermain mata dengan
mereka, mereka mungkin lebih memilihmu. Aku akan menghampiri mama dengan
pakaian tenis paginya di meja nomor sepuluh. Mereka memberi tip bagus."
Menunggu Hyunjoong dan temannya bukanlah
sesuatu yang aku ingin lakukan pagi ini. Tapi aku tidak bisa berdebat dengan Seok
Chun oppa. Dia benar. Dia akan mendapat tip lebih banyak dari wanita. Para
wanita mencintainya.
Aku menuju ke meja mereka. Mata Hyunjoong
terangkat saat dia melihatku dan tersenyum. "Kau kelihatan lebih baik
disini." Dia mengatakan itu saat aku berhenti di depan mereka.
"Terima kasih. Rasanya lebih
sejuk," Aku membalasnya.
"Jae sudah pindah kesini. Aku mungkin
akan makan lebih banyak disini." Pria dengan rambut pirang keriting
mengatakan itu. Aku masih tidak mengetahui namanya.
"Ini akan sangat baik untuk
bisnis." Hyunjoong menyetujuinya.
"Bagaimana malammu tanpa Junsu?" Yoochun
bertanya dengan sedikit nada menyinggung. Dia sedang menggunakan Junsu untuk
melawanku rupanya. Aku tidak peduli. Dia memang seorang bajingan selama aku
mengetahuinya.
"Kita melewati waktu yang
menyenangkan. Apa yang bisa aku berikan untuk minuman kalian?" Aku
bertanya, merubah subyek pembicaraan.
"Kopi, please," si pirang
mengatakan itu.
"Ok, aku mengerti. Tidak dilanjutkan
lagi. Ini kode dari wanita dan sesuatu tentang itu. Aku mau jus jeruk," Yoochun
menjawabku.
"Aku juga minta kopinya," Hyunjoong
mengatakannya.
"Aku akan segera kembali dengan
minuman kalian," Aku menjawab dan berputar untuk mendatangi dua meja
lainnya yang terisi dengan tamu. Seok Chun oppa membantu di salah satu meja
jadi aku bergerak ke meja yang lain. Butuh sedikit waktu bagiku sebelum
menyadari siapa yang ada di meja itu. Kakiku berhenti bergerak saat aku melihat
Boa menggerakkan rambut pirang strawberry panjangnya ke belakang bahunya
kemudian memberikan pandangan marahnya padaku. Aku melihat ke arah Seok Chun
oppa yang sudah menyelesaikan pesanan di mejanya yang kedua. Aku harus
melakukan ini. Ini menggelikan. Dia adalah adiknya Yunho.
Aku memaksa kakiku untuk bergerak dan
berjalan menuju ke mejanya. Dia duduk dengan gadis lain. Aku pernah melihat
gadis itu sebelumnya. Dia sama cantiknya dengan Boa.
"Kim Samchon pasti sekarang membiarkan
semua orang bekerja disini. Aku perlu mengatakan pada Hyunjoong untuk bicara
pada abojinya agar lebih selektif memilih pekerjanya." Boa mengatakan itu
perlahan namun dengan suara yang cukup keras.
Wajahku terasa hangat dan aku tahu kalau
itu berubah merah. Sekarang aku cuma perlu membuktikan kalau aku bisa melewati
ini. Boa membenciku karena alasan yang tidak kuketahui. Kecuali tentu saja, Yunho
memberitahu padanya kalau aku memiliki rasa ingin tahu dalam urusannya. Rasanya
Yunho tidak akan melakukan hal semacam itu, tapi memang aku belum terlalu
mengenal Yunho dengan baik. Tidak.
"Selamat pagi, apa yang bisa kubantu untuk
minuman kalian?" Aku mengatakannya dengan nada sesopan mungkin.
Gadis yang lain mencibir dan menundukkan
kepalanya. Boa memandangku seakan aku ini melakukan sesuatu yang menjijikkan.
"Kau tidak bisa membantu kami apapun. Aku berharap pelayan yang lebih
berkelas saat aku makan disini. Kalian tidak bisa melakukan itu."
Aku melihat sekali lagi ke arah Seok Chun
oppa tapi dia sudah pergi. Boa mungkin memang adiknya Yunho, tapi dia adalah
seorang wanita yang sangat menyebalkan. Kalau aku tidak perlu melakukan
pekerjaan ini, aku akan katakan padanya agar mencium bokongku dan
meninggalkannya.
"Apakah ada masalah disini?"
Suara Hyunjoong muncul dari belakang. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku
merasa lega atas kehadirannya.
"Ya, ada. Kau memperkerjakan seorang
wanita tak berkelas. Singkirkan dia. Aku membayar begitu banyak untuk menjadi
anggota disini untuk bisa bertoleransi dengan pelayanan seperti ini."
Apa itu karena aku tinggal di rumah
kakaknya? Apa dia juga membenci appaku? Aku tidak ingin dia membenciku. Kalau
dia membenciku, Yunho tidak akan pernah terbuka untukku. Pintu itu akan
tertutup.
"Jung Boa, kau tidak pernah membayar
apapun untuk menjadi anggota disini. Kau disini karena kakakmu
memperbolehkannya. Jae adalah salah satu pegawai terbaik yang pernah kami
miliki dan tidak ada member lainnya yang pernah komplain. Tidak juga kakakmu.
Jadi, simpan keluhanmu sayang, dan tenanglah." Hyunjoong membunyikan
jarinya dan Seok Chun oppa datang dengan cepat ke arah kami. Dia pasti kembali
pada saat drama ini terjadi dan aku merindukannya. "Hyung, apa kau bisa
melayani Boa dan Ahra? Boa kelihatannya ada masalah dengan Jae dan aku tidak
ingin Jae terpaksa harus menunggui dia."
Seok Chun oppa mengangguk. Hyunjoong
menggandeng lenganku dan mengantarku kembali ke dapur. Aku tahu kalau kami tadi
menjadi pusat perhatian tapi aku tidak peduli pada saat itu. Aku benar-benar
bersyukur karena bisa pergi dari pandangan orang-orang yang ingin tahu dan bisa
bernafas.
Saat pintu dapur menutup di belakangku aku
mengeluarkan nafas yang sudah aku tahan sedari tadi.
"Aku cuma ingin mengatakan ini sekali
saja Jae. Kau membuatku menginginkanmu pada malam itu di tempat Yunho. Aku
tidak perlu bertanya padamu kenapa. Aku tahu kenapa saat itu Yunho tidak bisa
ditemukan dimanapun. Kau sudah membuat
pilihan dan aku mundur. Tapi apa yang terjadi disini tadi hanyalah sedikit dari
apa yang bisa terjadi. Penggerutu itu benar-benar punya racun mematikan di
jantungnya. Dia bisa lebih menyakitkan dan marah dan saat waktunya tiba untuk
memilih, Yunho akan memilih dia."
Aku berbalik dan memandang Hyunjoong dengan
tidak yakin akan apa maksud dari perkataannya tadi. Hyunjoong memberiku
senyuman sedih kemudian dia melepaskan lenganku dan berjalan kembali ke arah
ruang makan. Hyunjoong juga mengetahui rahasia itu. Dia tahu. Ini semua
membuatku menjadi gila. Ada masalah apa sebenarnya?
.
.
.
.
.
To Be Continue

Kyaaaa,,, akhirnya lepas kendali juga (dasar byuntae)
ReplyDeleteSaki chan,,, makasih dah apdet lgi 😊
Semoga chapter selanjutnya yunjae makin mesra hhhh
Semoga mood nulisnya selalu bagus biar apdet terus, fighting !!!!
huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa........ saki kmna aja???
ReplyDeletesennag bgt kmu akhirnya update,, pnsarn bgt sama lnjutannya,,
kyaaaaaaaaaa,, mreka making out di mobil, back seta,, sexeh sekaleh,,, jae smpe jdi seliar itu dibawah yunho..
update trus saki,, aku tgguin ya,, fighting