Wednesday, August 26

[Remake] The Untittled Story Chapter XV

Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?



The Untitled Story
Remake from Abby Glines Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita

Yunho tidak berbohong saat dia mengatakan kalau dia ingin aku berpakaian lagi. Dia mengambil bra-ku lalu mengaitkannya kembali di punggung ku, dia juga meninggalkan kecupan kecil di bahu ku sebelum menyelipkan pakaianku melalui kepala.
"Aku lebih suka  kau  disini sementara aku pergi mencari Junsu. Saat ini kau menunjukkan ekspresi yang begitu puas di wajahmu dan itu benar-benar seksi. Aku tidak ingin mengakhirinya dengan pertengkaran."
Pujian lagi. Aku tidak yakin akan terbiasa dengan perlakuannya yang seperti ini padaku.
"Aku datang kesini bersama Junsu karena aku ingin mencoba untuk menasihati Junsu agar tidak tidur bersama dengan namja yang hanya menganggapnya sebagai pasangan untuk bersenang-senang saja. Lalu kau ikut dengan kami, dan sekarang aku disini, duduk di jok belakang mobilmu. Aku rasa, aku harus menjelaskannya pada Junsu."
Yunho tidak menjawab. Dia terlihat memperhatikan ku sejenak tapi aku  tidak bisa membaca ekspresi wajahnya di dalam gelap. "Aku mencoba untuk mengerti jika kau ingin menasihati nya untuk tidak melakukan hal itu."
Yunho menggerakkan tubuhnya kembali kearah ku dan menyelipkan tangan nya pada rambutku. "Karena aku merasakannya dan aku tidak ingin berbagi. Ini bukanlah untuk bersenang-senang. Aku mungkin sedikit ketagihan."
Jantungku berdetak kencang pada tulang rusukku dan aku menarik nafas dalam-dalam. Wow. Okay. Astaga. Aku mencoba untuk  mengangguk dan Yunho merendah kan kepalanya lalu menekan kan kecupan kecil dibibir ku sebelum memainkan ujung lidahnya di bibir bawahku.
"Mmmmm, yeah. Kau tetap disini. Aku akan mencari Junsu, membawanya kesini dan berbicara padamu."
Lagi, yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk.
Yunho menjauh dariku dan keluar dari pintu dan masuk kembali ke dalam Mirotic. Sebelum aku bisa menarik nafas.
Dia mungkin berpikir kalau dia juga ketagihan tapi dia sama sekali tidak tahu apa yang telah di lakukan pada ku. Setidaknya dia dapat berjalan.Aku tidak akan pernah bisa  berjalan dengan kedua kaki ku sesudah nya.
Meluruskan posisi dudukku, aku menarik celanaku kembali dan menutup pintu dengan cepat. Aku harus bangun dan secepat mungkin pindah ke jok depan tapi aku masih tidak yakin dengan kakiku. Apakah ini normal? Haruskah seorang pria membuat wanita merasakan hal yang seperti ini? Atau mungkin ada yang salah denganku. Tidak seharusnya aku bereaksi seperti ini terhadap Yunho...Atau harus?
Ini adalah salah satu saat dimana aku membutuhkan seorang teman wanita untuk berbagi. Satu-satunya yang aku miliki adalah Junsu dan aku tidak benar-benar yakin kalau dia bisa memberikanku saran yang baik kalau menyangkut tentang pria. Aku butuh ibu ku. 
Rasa sakit muncul  saat aku mengingat ibuku pergi dan yang aku bisa lakukan setelahnya adalah menutup mataku untuk melawan semua bayangannya. Aku tidak bisa membiarkan kesedihanku berlanjut disaat seperti ini.
.
.
.
Pintu terbuka, dan  Junsu berdiri disana tersenyum kearahku. "Baiklah, lihat dirimu. Melakukan sesuatu yang panas di Rosemary, di jok belakang Range Rovernya. Aku pikir kau menginginkan pria dengan dengan marga Jin itu." Katanya sedikit menghina
"Naiklah Junsu, sebelum kau terjatuh diatas pantatmu disini," Ucap Yunho di belakangnya. Aku melihatnya dari balik bahu Junsu. Dia terlihat terganggu.
"Aku tidak ingin pergi. Aku suka Dongwoon, atau siapa namanya, Donghae? Tidak, tunggu, apa yang terjadi dengan Enhyuk? Aku kehilangan namja itu...Aku pikir," Junsu melantur saat dia berusaha naik ke jok belakang.
"Siapa Dongwoon dan Donghae?" Tanyaku saat dia menggapai sandaran kursi lalu membanting punggungnya di jok.
"Dongwoon sudah menikah. Dia mengelak, tapi aku tahu kalau dia sudah menikah. Aku bisa memberitahunya. Pernikahan adalah satu-satunya yang selalu memiliki aroma dari mereka."
Apa yang sebenarnya sedang dia bicarakan?
Pintu bagian belakang tertutup dan aku baru saja ingin bertanya lebih padanya saat pintu di sampingku terbuka. Aku menoleh dan melihat Yunho berdiri disana  dengan mengulurkan tangan nya untuk ku genggam. "Jangan menanggapi apapun yang  dia katakan. Aku menemukannya di bar saat dia menyelesaikan gelas tequilla keenamnya yang dibelikan oleh Dongwoon yang sudah menikah. Dia mabuk."
 Ini bukanlah seperti malam yang aku inginkan untuk dilalui. Aku pikir pria–pria dari tempat asalku berbeda dari pria-pria disini. Mungkin mereka akan memperlakukannya lebih baik. Tapi dia memakai celana pendek kulit yang berwarna merah. Aku menyelipkan tanganku ke Yunho lalu dia meremas nya dengan lembut.
"Kau tidak harus memberikannya penjelasan malam ini. Dia tidak akan mengingatnya besok pagi."
Dia mungkin saja benar. Aku melangkah kearah Range Rover namun dia menarikku hingga membentur dadanya sebelum aku sempat menutup pintu mobil dibelakang ku.
"Aku ingin merasakan bibirmu yang manis tapi aku melarang diriku sendiri. Kita harus mengantarkannya pulang sebelum dia sakit," Ucap Yunho bisikan serak.
Aku mengangguk. Aku juga ingin dia  menciumku, tapi kami harus segera mengantarkan Junsu pulang kalau dia tidak ingin jatuh sakit. Aku mulai bergerak untuk menjauh darinya tapi dia memelukku semakin erat.
"Tapi yang tadi aku katakan, aku bersungguh-sungguh. Aku ingin kau berada diranjangku malam ini."
Sekali lagi, semua yang aku bisa lakukan untuk saat ini hanya mengangguk. Aku juga  ingin berada diranjangnya. Aku mungkin akan menjadi sebodoh Junsu yang ingin mendatangi para pria. Yunho membawa ku ke sisi pintu penumpang dan membuka kan pintu untuk ku.
"Persetan dengan persahabatan," gumamnya, meraih pinggang ku untuk membantu ku naik.
Menyeringai, aku melihatnya berjalan didepan Range Rover lalu naik.
"Seringai itu untuk apa?" Tanyanya, saat dia berada dibelakang kemudi.
Aku mengangkat bahu. "Persetan dengan persahabatan. Itu membuatku tertawa."
Yunho terkekeh dan menggelengkan kepalanya sebelum dia membelokkan Range Rover keluar dari area parkir.
"Aku tahu sesuatu yang tidak kau tahu. Ya, aku tahu. Ya, aku tahu," Junsu mulai bernyanyi dengan nada yang dibuat-buat sendiri.
Aku memutar kepalaku untuk melihatnya. Dia tidak tersenyum tapi kerutan janggal tergambar di wajah nya.
"Aku tahu sesuatu," bisiknya keras.
"Aku mendengarnya," jawabku dan melihat sekilas kearah Yunho, tapi dia tidak menunjukkan wajah geli atau apapun. Dia sama sekali tidak menyukai Junsu yang mabuk.
"Itu adalah rahasia besar. Salah satu yang besar...dan aku mengetahuinya. Aku tidak menduganya tapi aku tahu. Aku tahu sesuatu yang tidak kau tahu. Kau tidak tahu. Kau tidak tahu," Junsu mulai bernyanyi lagi.
Aku ingin bertanya kepadanya apa yang sebenarnya dia ketahui tentang sesuatu tapi Yunho menyelanya dan berbicara lebih dulu.
"Cukup Junsu." Peringatan Yunho terdengar sangat jelas.
Aku bahkan bergetar karena mendengar nada kaku dari suaranya.
 Junsu mengatupkan bibirnya bersamaan dan bertingkah seperti dia menguncinya lalu kunci itu dibuang jauh-jauh.
Aku memutar kembali kepalaku, menganggap kalau dia tidak tahu apa-apa tentang sesuatu yang sangat ingin kuketahui. Yunho bertingkah seperti dia memang benar-benar tahu. Dia terlihat siap untuk menyetop mobil lalu melempar Junsu keluar. Yunho menyalakan radio untuk mendengarkan beberapa musik, jadi aku memutuskan untuk tetap diam. Yunho terlihat marah karena Junsu mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya dia ketahui.
Dia memiliki banyak rahasia disekitarnya. Ada beberapa hal yang dia tolak untuk dibicarakan. Kami memang saling tertarik satu sama lain. Tapi itu bukan berarti dia harus memberitahuku semua rahasianya. Atau haruskah? Tidak! Tentu saja tidak. Tapi sekali lagi, haruskah aku memberikan separuh dari diriku untuk seseorang yang tidak benar-benar aku kenal? Dia sangat menjaganya. Akankah aku bisa melakukan dengannya dan tidak tertarik pada nya? Aku tidak benar-benar yakin tentang hal ini.
Tangan Yunho menggenggam tangan ku. Aku melihat sekilas kearahnya, namun dia tetap melihat jalan tapi dia juga terlihat sedang memikirkan sesuatu. Aku sangat berharap aku bisa menanyakan sesuatu padanya. Tapi kami belum sampai ke tahap itu. Mungkin kami tidak akan pernah bisa. Haruskah aku merelakan keperawananku kepada seorang pria yang  mungkin akan meninggalkanku sesudah nya tanpa ada nya harapan lebih?
"Itu adalah waktu terbaik yang pernah aku lewati. Aku menyukai pria yang kutemui hari ini. Mereka sangat menyenangkan," dari arah jok belakang, terdengar Junsu mengigau dalam tidurnya.
"Kau harus mencari yang lebih baik Jae. Itu jika kau pintar. Memilih Yunho adalah ide yang buruk. Karena selalu ada Boa."
Boa? Aku menoleh kearah Junsu. Matanya tertutup, tetapi mulutnya setengah terbuka. Sebuah dengkuran halus keluar dari mulutnya dan aku tahu tidak akan ada komentar untuk menjelaskan semuanya malam ini. Setidaknya tidak dari Junsu.
Aku melihat kembali kearah Yunho yang tiba-tiba melepaskan tangannya dariku dan sekarang menggengam erat kemudi. Rahangnya juga mengeras. Ada apa dengan adik nya? Dia adalah saudara perempuannya, kan?
"Apakah Boa saudaramu?" Tanyaku, berjaga-jaga atas reaksinya. Dia mengangguk tapi tidak mengatakan apapun. Inilah apa yang aku ketahui terakhir kali saat aku menanyakan nya. Dia menutupinya dariku.
"Lalu apa maksud Junsu kalau begitu? Bagaimana mungkin kalau kita tidur bersama akan berpengaruh pada Boa?"
Tubuh Yunho mengejang. Dia tidak menjawabnya. Hatiku rasanya hancur. Rahasia itu, bagaimanapun itu, mungkin akan menahan kami untuk melakukan lebih. Itu sangat penting untuknya, dan itu adalah bendera peringatan untuk ku. Jika dia tidak bisa memberitahuku sesuatu yang diketahui oleh Junsu, maka kami memang memiliki masalah dengan hal itu.
"Boa adalah adik ku. Aku tidak ingin...Aku tidak bisa membicarakan tentangnya padamu."
Cara dia mengatakan "kau" padaku, membuat perutku rasanya seperti diaduk. Sesuatu telah berakhir disini. Aku ingin bertanya lebih banyak lagi tapi rasa sedih dan kehilangan mengurungkan niatku saat aku menyadari bahwa aku tidak bisa tidur malam ini diranjangnya ataupun malam-malam yang lain, rasanya benar-benar membuatku ingin menghentikannya. Ini akan membuatku membatasi diri untuk terlalu dekat dengan Yunho. Aku seharus nya tidak  membiarkan dia menyentuh ku seperti tadi.Tidak saat dia dengan mudah melemparkan ku ke samping.
Kami  menghabiskan waktu menuju kantor dalam diam. Yunho keluar dari Range Rover tanpa mengatakan apapun dan  membangunkan Junsu. Lalu membantu Junsu masuk. Pintunya terkunci, tapi untung saja Junsu memiliki kuncinya. Dia menggumamkan tentang sesuatu , apakah dia harus bermalam disini atau Ayahnya akan membunuhnya. Aku tidak dapat membantunya. Aku benar-benar tidak memiliki energi. Aku hanya ingin tidur. Aku ingin tempat tidurku yang berada dibawah tangga. Bukannya sebuah tempat tidur berukuran besar yang sedang menantiku.
Saat kembali kedalam mobil, dia juga tetap diam. Aku mencoba mencari tahu mengapa dia begitu tertutup tentang Boa dan apa yang dikatakan Junsu tidak memperlihatkan suatu petunjuk apapun. Waktu perjalanan menuju garasi mobil hanya memakan waktu beberapa menit. Aku membuka pintu lalu turun saat dia memarkirkan mobil di taman. Aku tidak ingin menunggunya, jadi aku berjalan lebih dulu kearah pintu. Dan pintu itu terkunci, jadi aku harus menunggunya datang untuk membuka pintunya.
.
.
.
.
.
To Be Continue

3 comments:

  1. Duwhhh,,yihan maen raba aja,,
    Yun aja belom
    Pengen cepet2 liat yunjae 'deket'

    Saki,,,,semoga bisa apdet cepet ya hhhhhhh
    Fighting !!!!

    ReplyDelete
  2. Anonymous10:16 PM

    akhirnya update juga.
    secara aku suka Yihan gx apa apalah. ngamal dikit sebelum di santap Yunho~ di gampar~

    gx sabar pengen Yunjae moment.

    ReplyDelete
  3. joongie,, menjauhlah dari pria itu,,, sblum kau tau apa hbngannya sma si ular boa,,
    mksih telah update saki sayang,, aku mencintaimu

    ReplyDelete