Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara
orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong
membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya
agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Remake from Abby Glines
Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong ©
their self
Marga disesuaikan untuk
kepentingan cerita
Chapter 14
"Jae?" Nada perhatian yang
berasal dari suara Yunho mengejutkanku, aku membuka mataku dan menegang di
kegelapan ketika aku melihatnya berjalan kearahku.
"Ya," jawabku.
"Aku tidak bisa menemukan mu. Kenapa kau
berada diluar? Disini tidak aman."
Aku
sudah biasa dengan peran kakak nya. Aku bisa menangani nya dengan caraku sendiri.
Dia harus kembali kedalam.
"Aku baik-baik saja. Masuklah ke dalam dan
lanjutkan kegiatan mu di ruangan kita tadi." Kepahitan terdengar
jelas dalam suaraku. Itu karena aku tidak bisa menahannya.
"Kenapa kau bisa berada di luar?"
Dia mengulangi pertanyaannya, dengan perlahan dia melangkah semakin dekat
kearahku.
"Karena aku ingin ada disini,"
jawabku pelan, menatapnya.
"Pestanya ada didalam. Bukankah itu yang
kau inginkan? menari dengan pria dan minuman? Dan kau tidak akan bisa
menemukannya disini—diluar."
"Kembalilah, Yunho."
Yunho
melangkah lebih dekat lagi dan hanya menyisakan jarak beberapa inci.
"Tidak, aku ingin tahu apa yang sedang terjadi."
Sesuatu dalam diri ku terasa memberontak
keluar, aku pun meletakkan tangan ku di dada
nya dan saat itu juga aku mendorongnya sekeras yang aku bisa. Dia
sedikit terhuyung ke belakang.
"Kau ingin tahu apa yang sebenarnya
terjadi? Semua yang membuatku seperti ini adalah kau Yunho. Semua karena
kau." Aku berteriak padanya, kemudian langsung pergi meninggalkan nya
menuju tempat parkir.
Sebuah tangan kuat tiba-tiba membungkus
sekeliling lengan ku dan aku
berusaha keras untuk
melepaskannya tapi sia-sia saja. Yunho dengan kuat menahanku seakan
dia tidak ingin
membiarkanku pergi.
"Apa maksud semua ini, Jae?" tanyanya, menarik ku hingga aku
membentur dadanya.
Aku
menggeliat dalam pegangannya dan berusaha melawan untuk dapat berteriak. Aku benci
mengetahui diriku bahwa dengan
mencium aromanya saja, membuat
jantungku berdegup kencang dan tubuh ku terasa
berdenyut. Aku ingin dia menjauh dariku. Tidak menebarkan kehangatan aroma
tubuhnya pada diriku.
"Biarkan. Aku. Pergi." Aku memohon
kepadanya.
"Tidak sampai kau memberitahuku apa
masalahmu," jawabnya marah.
Aku
menepis tangannya tapi dia tidak bergeming sedikitpun. Ini sangat tidak
masuk akal. Dia tidak ingin
mendengar apa yang aku katakan. Kenyataan itu
membuat ku ingin mengatakan nya. Sesuatu yang akan ku katakan
mungkin akan membuatnya terganggu. Merusak
semua rencananya untuk menjadi sahabat yang baik.
"Aku tidak suka kau menyentuh wanita
lain. Dan saat pria lain meraba-raba pantatku, aku sangat membencinya. Aku ingin kau yang melakukannya. Sangat ingin kau
menyentuhku disana. tapi kau
tidak menginginkannya dan sekarang aku sudah mengerti untuk hal itu. Sekarang, tolong biarkan aku pergi!"
Aku
mencoba untuk melepaskan diri ku dan
menuju ke Range Rover nya. Aku
tidak bisa menahannya sampai
nanti dia mengajak ku
untuk pulang kerumah.
Air
mata terus mengalir dan aku berlari lebih kencang. Saat aku sampai di Range
Rover nya aku menuju ke samping dan bersandar di sana, menutup mataku. Aku baru
saja bilang pada Yunho untuk meraba pantat ku. Betapa bodohnya
aku. Dia bahkan memberikan ku pinjaman
kamar. Membiarkan ku tinggal disana hingga appa ku pulang jadi aku bisa
menyimpan uang ku dan sekarang aku malah memberikannya alasan untuk bisa
mengusir ku dari rumah nya.
Terdengar suara 'click' pintu dari Range Rover
dan saat aku membuka mataku aku melihat Yunho melangkah ke arah ku. Dia mungkin
akan membawaku pulang lalu mengusir ku begitu saja. Dia berhenti disamping ku
dan dengan kasar membuka pintunya.
Dia
menemukan ku di belakang. Sangat memalukan.
"Masuk atau aku akan menyeret mu untuk
masuk ke dalam," geram nya.
Aku
masuk ke tempat duduk belakang sebelum dia mencoba untuk menyeret ku masuk ke dalam. Tetapi dia tidak
membanting pintu di belakang ku. Dia malah menindih ku.
"Apa yang kau lakukan?" tanya ku,
sebelum dia semakin menekan tubuh ku pada kursi
kemudian mulut nya sudah berada di mulut ku.
Aku membuka mulut ku untuk membiarkan lidah
nya menjelajahi ku. Oh tuhan, gerakan lidah nya di dalam mulut ku sangat
menyenangkan. Malam ini, rasa mint dari dalam mulutnya tidak tercampur dengan
rasa lain. Aku bisa mencecap nya untuk beberapa lama dan itu sama sekali tidak
membosankan.
Kedua tangan nya mencari-cari pinggang ku
dan dia menggeser ku sehingga satu
kaki ku berada di atas kursi dengan posisi tertekuk dan satu lagi tetap berada di lantai. Dia
melebarkan kaki ku hingga terbuka lebar dan memposisikan dirinya berada
diantara kakiku. Mulutnya meninggalkan mulutku dan menjelajah lapar menciumi
leher ku. Dia menggigit kecil bagian bahuku yang telanjang menyebabkan
kegembiraan melanda ku.
Kedua tangannya menemukan celah bajuku yang
sudah terbuka sebagian.
"Lepaskan pakaianmu." Ucapnya
saat dia dengan cepat melepaskan baju melalui kepalaku kemudian melemparnya
begitu saja kearah jok depan tanpa sekalipun melepaskan tatapan dari dadaku.
"Aku ingin kau melepas semuanya, Jae."
Dia meraih kebelakang tubuh ku dengan satu tangan dan dia menarik lepas ikatan bra dalam waktu
kurang dari satu detik. Dia menurunkan bra melalui tanganku kemudian
membuangnya ke jok depan dengan kausku.
"Inilah alasanku menjaga jarak darimu.
Ini, Jae. Aku tidak ingin menghentikan nya.Tidak sekarang." Dia
menundukkan kepala nya dan meraih puting ku lalu membawa kedalam mulutnya. Dia
menghisap nya keras dan ledakan basah melanda di antara paha ku. Aku berteriak,
meraih kedua bahunya lalu meremasnya.
Aku
melihat saat dia menusuk kan lidah seksinya.
"Rasanya seperti permen. Para wanita
tidak seharusnya memiliki rasa seperti ini. Terlalu berbahaya," bisiknya
di kulitku, kemudian hidungnya bermain-main dicelah dada sambil menghirup
keras. "Dan aromamu luar biasa."
Mulutnya sekali lagi berada didalam mulutku
sedangkan tangannya yang besar sepenuhnya membungkus dadaku dan meremasnya
dengan lembut lalu menyentak kan puting ku . Aku ingin merasakan lebih. Aku
menjalankan tanganku ke dada nya,menyelipkan tangan ku di bawah kaus nya. Aku
akan menatap dada nya lama untuk mengetahui seperti apa bentuk nya. Sekarang
aku ingin tahu bagaimana rasa nya di bawah tangan ku. Kulit hangat yang
menutupi otot keras nya begitu lembut. Aku tidak berjanji bahwa hal ini akan menjadi
sesuatu yang lebih dari sekedar kegiatan sesaat dan aku ingin merasakan
semuanya.
Yunho
meraih ke belakang dengan satu tangan dan menarik pakaiannya lepas, melemparnya
begitu saja kesamping lalu kembali untuk melumat bibirku dengan bibirnya. Aku
melengkungkan tubuhku mendekat pada nya.Aku tidak pernah telanjang dada dengan
seorang pria. Aku ingin merasakan dadanya yang telanjang pada tubuhku.
Sepertinya dia tahu apa yang aku inginkan, dia membungkus ku lebih erat dalam
pelukan nya dan menarik ku padanya . Rasa basah, bekas mulutnya yang
mengeksplorasi dadaku, yang dia tinggalkan terasa dingin tapi kehangatan yang
berasal dari kulitnya mengejutkanku.
Aku
mengerang dan menariknya mendekat,takut dia akan menjauh. Aku telah mendapat
kan apa yang aku inginkan sejak aku melihat dia dan gadis itu di beranda.
Sekarang dia berada diantara kedua kakiku. Ini adalah fantasiku.
"Jae kau sungguh manis," bisiknya,
menarik bibir bawah ku ke dalam mulutnya lalu menghisapnya.
Aku
bergeser ke bawahnya agar semakin merasakan bagian pribadi nya yang mengeras
diantara kedua kakiku. Aku berdenyut-denyut dan ingin sekali merasakan
ereksinya pada ku. Yunho menyelipkan tangannya ke bawah untuk membelai lututku
dan kemudian mulai menjalankan tangannya naik menuju paha bagian dalamku. Aku
membiarkan kakiku terbuka lebar, menginginkan dia lebih dekat lagi. Rasa sakit
menjadi lebih kuat dan gambaran tangan
nya berada hampir dekat dengan pusat
denyutan ku membuatku pusing.
Saat
jari-jarinya berjalan di sekitar pinggir celana sutraku, aku tersentak dan
mendesah. "Santai. Aku hanya ingin melihat betapa manis nya di ujung
tubuhmu," ucap Yunho parau
Aku
mencoba mengangguk tapi aku tidak bisa mengingat apapun selain bernafas. Aku
menatap mata abu-abu milik Yunho yang terlihat seperti sinar yang berkabut. Dia
tidak berpaling saat tangannya mulai menyelinap ke dalam tepi celana berendaku.
"Yunho," bisikku, meremas bahu Yunho
sambil terus menatapnya.
"Shhh,
tidak apa-apa," jawabnya
Aku
tidak takut. Dia mencoba untuk meredakan rasa takut ku tapi sia-sia saja.
Kebahagiaan dan kebutuhan yang terlalu besar. Aku butuh dia bergegas. Sesuatu
sedang terbentuk di dalam diri ku dan aku ingin cepat-cepat untuk meraih nya.
Rasa ingin mencakar sesuatu muncul didalam diriku.
Yunho
membenamkan kepalanya di dalam leher ku dan melenguh panjang.
"Ini terlalu banyak," erangnya.
Aku
mencoba membuka mulut ku dan memohon padanya agar tidak berhenti. Aku
membutuhkannya. Aku ingin pelepasan itu aku tahu aku akan segera datang.
Jarinya meluncur masuk ke dalam pusat ku yang
basah dan jari-jari kaki ku seketika melengkung saat tubuhku melengkung tak terkendali. Lalu
jarinya semakin masuk kedalam. Perlahan. Aku membeku, khawatir terhadap apa yang aku rasakan. Ketebalan dari
jari-jarinya mendorong lebih jauh di dalam tubuh ku dan aku ingin meraih
tangannya dan mendorong nya lebih keras. Ini sangat nikmat. Terlalu nikmat.
"Sialan. Kau begitu nikmat. Basah,
panas...benar-benar panas. Dan Tuhan, kau begitu ketat." Nafas Yunho
terasa berat di leherku saat dia mengucapkan kata-kata yang membuatku semakin
ingin lebih. Semakin nakal kata-kata Yunho, tubuhku semakin meresponnya dengan
baik.
"Aku mohon, Yunho," Pintaku, melawan
dorongan untuk meraih tangannya dan memaksa dia untuk membawaku secepatnya
keluar dari denyutan di bawah sentuhannya.
"Aku butuh..." Aku tidak tahu apa yang aku butuhkan. Aku hanya
membutuhkannya.
Yunho
mengangkat kepalanya dan menjalankan
hidung nya disepanjang leherku lalu menekankan ciuman di dagu ku.
"Aku tahu apa yang kau butuhkan. Aku
hanya tidak yakin aku bisa mengatasinya saat aku melihat kau mendapatkannya.
Kau membuatku ingin melakukan segalanya padamu,sayang. Aku mencoba untuk
menjadi pria baik-baik. Dan aku tidak ingin kehilangan kendali di belakang
mobil sialan ini."
Aku
menggelengkan kepalaku. Dia tidak boleh berhenti. Aku juga tidak ingin dia
menjadi pria baik-baik. Aku ingin dia berada didalam diriku. Sekarang.
"Kumohon,Kau tidak perlu menjadi
baik.kumohon," pintaku.
Yunho
mengembuskan napas kasar, "Sialan,sayang. Hentikan itu. Aku bisa meledak
sekarang juga. Aku akan membiarkan mu klimaks tapi saat aku akhirnya aku akan
tenggelam di dalam diri mu untuk pertama kalinya kau tidak akan tergelak di
belakang mobil ku.Kau akan berada di ranjang ku."
Tangan nya bergerak sebelum aku bisa
meresponnya dan mataku berputar. "Itu dia. Datanglah untukku, Jae.
Datanglah di tangan ku dan aku ingin
merasakannya. Aku ingin melihatmu klimaks."
Kata-katanya membuatku terasa berputar di
tepi tebing yang berusaha keras untuk kucapai.
"Yunhooooo!"
Aku mendengar teriakan keras dari suaraku
sendiri saat aku sepenuhnya tenggelam dalam kenikmatan. Aku tahu aku menangis
untuknya, meneriakkan namanya bahkan mencakarnya tapi aku benar-benar tidak
bisa mengendalikan diriku.Kegembiraan ini luar biasa.
"Ahhhh, yeah. Itu dia. Sialan. Kau sangat
cantik." Aku menyadari kata-kata Yunho tapi rasa nya begitu jauh. Aku
lemas dan terengah-engah saat kesadaran meligkupiku.
Aku
memaksa mataku untuk terbuka, jadi aku bisa melihat apa yang telah Yunho
lakukan dari reaksi terliar ku yang aku tahu itu adalah orgasme pertamaku. Aku
banyak mendengar tentang apa itu orgasme tapi aku tidak pernah sekalipun
mencoba untuk mendapatkannya. Aku yakin aku pernah mencobanya beberapa kali
tapi aku tidak memiliki banyak fantasi untuk mendapatkannya. Tapi setelah malam
ini, hal ini tidak akan menjadi masalah lagi bagiku. Yunho telah memberikanku
gambaran fantasi yang menyenangkan untuk bisa mendapatkannya dan bahkan dia
masih menggunakan celana jeansnya.
Aku
melihat Yunho yang juga menatapku dengan jarinya di dalam mulut nya. Butuh
beberapa saat untuk untuk mengerti persis seperti apa jari-jari itu. Aku
terkesiap setelah menyadarinya, membuat Yunho tertawa saat dia menarik keluar
jari-jari itu dari dalam mulutnya lalu tersenyum.
"Memang benar. Kau terasa manis di
dalam sama seperti bagian tubuhmu yang lain."
Mungkin jika aku tidak klimaks, aku tidak
akan memerah malu seperti sekarang ini. Dari semua hal yang bisa aku lakukan,
aku hanya bisa menutup mataku erat-erat. Suara tawa Yunho terdengar kencang.
"Ayolah,Jae. Kau baru saja klimaks
dengan cara yang liar dan seksi di tangan ku dan bahkan meninggalkan beberapa
bukti cakaran di punggung ku. Jadi, jangan merasa malu padaku sekarang. Karena
sayang, sebelum malam ini berakhir kau akan telanjang diatas ranjang ku."
Aku mengintip kearahnya, berharap aku
mendengar nya dengan baik. Aku ingin lebih. Benar-benar lebih.
"Kau berpakaian lah dulu sementara aku
akan mencari Bethy dan melihat apakah dia butuh tumpangan atau dia sudah
menemukan seorang teman untuk mengantarnya pulang."
Aku menggeliat dan mencoba mengangguk.
"Okay."
"Jika aku tidak merasa sekeras ini
sekarang aku pastikan bahwa kita akan diam lebih lama disini dan aku menikmati
mata mengantukmu sehabis orgasme. Aku suka mengetahui kalau aku yang
menyebabkannya. Aku benar-benar membutuhkan lebih dari ini."
.
.
.
.
.
To Be Continue

Cieeeee bilang aja Yunho takut JJ dapet gebetan d Mirotic
ReplyDeleteSemoga nanti terjadi hal yg diinginkan dan iya-iya antara YunJae hhhhh
Fighting Saki !!
Ditunggu next chapternya.
Saki makasih udah kembali
ReplyDeleteFighting!