Wednesday, March 25

[Remake] The Untittled Story Chapter XIII


Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?



The Untitled Story

Kitahara Saki
 Remake from Abby Glines Story

Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita




Chapter 13
Junsu menunjukkan Yunho arah menuju Mirotic. Ah ternyata tempatnya ada di perbatasan gyongju. Sekitar satu jam dari rumah pantai Yunho. Tidak terlalu mengejutkan memang. Karena daerah sekitar rumah Yunho adalah kawasan rumah yang digunakan untuk menenangkan diri, sehingga tempat seperti Mirotic dipastikan jauh dari sana.
Bar itu sangat luas dan keseluruhannya terbuat dari papan kayu. Rupanya, tempat ini sangat terkenal. Mungkin karena didaerah ini tidak terlalu banyak ditemukan tempat semacam ini. Bir-bir terang yang berpijar menandakan hiasan dinding didalam dan diluar ruangan.
Lagu “Choosey Lover” milik DBSK berdentum keras melalui stereo saat kami melangkah masuk kedalam.
“Mereka akan memulai live musik sekitar tiga puluh menit lagi. Itu adalah waktu terbaik untuk berdansa. Kami memiliki banyak waktu untuk menemukan tempat yang bagus dan minum segelas tequila dengan sekali tegukan,” teriak Junsu ditengah hingar bingar bar.
Aku tidak pernah meneguk tequila. Bahkan bir sekalipun, aku tidak pernah. Tapi malam ini aku akan mencobanya. Aku ingin menjadi bebas. Menikmati malam ini. Yunho bergerak dibelakangku dan tangannya berada dipunggungku. Ini bukanlah posisi seorang teman... bukan?
Aku memutuskan untuk tidak menegurnya disini karena kalau begitu aku harus berteriak melawan suara musik yang berdentum keras. Yunho mengajak kami ke meja kosong  yang berada jauh dari lantai dansa. Dia berdiri dan mempersilahkan aku duduk. Junsu masuk dan duduk diseberangku sedangkan Yunho duduk disebelahku.
Junsu memberengut kepadanya.
“Kau ingin minum apa?” Tanya Yunho, menunduk kearah telingaku jadi dia tidak perlu berteriak.
“Aku tidak tahu,” jawabku, melirik kearah Junsu untuk meminta bantuan. “Apa yang harus aku minum?”
Mata Junsu melebar lalu dia tertawa. “Kau tidak pernah minum sebelumnya, ya?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Aku belum dewasa untuk bisa membeli alkohol untuk diriku sendiri. Kau?”
Dia menepuk tangannya. “Ini akan menjadi sangat menyenangkan. Aku dua puluh satu tahun, setidaknya ID-ku menyatakan seperti itu.” Dia melempar pandangan kearah Yunho. “Kau harus membiarkannya pergi keluar. Aku akan mengajaknya ke bar.”
Yunho tidak bergeming. Dia kembali menatapku, “Kau tidak pernah sekalipun meminum alkohol?”
“Tidak. Tapi aku akan mencobanya malam ini,” Aku meyakinkannya.
“Kau harus perlahan-lahan. Kau tidak memiliki toleransi yang cukup tinggi untuk itu. “Dia meraih lengan pelayan. “Kami ingin menu.”
Junsu meletakkan tangannya dipinggang. “Kenapa kau memesan makanan? Kita disini untuk minum dan berdansa. Bukannya makan.”
Yunho memutar kepala kearahnya jadi aku tidak bisa melihat dengan pasti wajahnya tapi yang aku tahu bahunya menegang. “Dia tidak pernah mabuk sebelumnya. Dia butuh makan terlebih dahulu atau dia akan membungkuk untuk memuntahkannya dan aku akan memarahimu selama dua jam.”
Oh. Aku tidak ingin muntah. Tidak untuk itu.
Junsu memutar matanya dan melambaikan tangannya didepan wajah Yunho seakan Yunho adalah seorang idiot. “Baiklah. Terserah padamu ABOJI?. Yang pasti aku akan mendapatkan sesuatu yang bisa diminum dan memberikannya juga. Jadi suruh dia makan dengan cepat.”
Pelayan itu kembali dengan membawa menu sebelum Junsu menyelesaikan pembicaraannya. Yunho mengambilnya dan berbalik kearahku sambil membuka menu. “Pilih sesuatu untuk dimakan. Tidak usah memperdulikan kata-kata diva pemabuk itu, kau harus makan terlebih dahulu.”
Aku mengangguk. Aku tidak ingin sakit.
“Kentang goreng keju kelihatannya enak.”
Yunho mengangkat menunya dan pelayan kembali berlari kearah kami.
“Kentang goreng keju. Dua porsi dan segelas penuh air.”
Pelayan itu mengangguk dan berjalan meninggalkan kami, Yunho menyenderkan punggungnya dan memiringkan kepalanya untuk melihatku. “Jadi saat ini kau berada di Mirotic. Apakah itu yang benar-benar kau harapkan? Karena jujur saja, bagiku musik ini sangat menyakitkan.”
Sambil tersenyum, aku mengangkat bahu dan melihat sekelilingku. Aku sadar jika bar yang biasa dikunjungi Yunho sangat berbeda dengan bar yang seperti ini.
“Aku baru disini dan aku belum mabuk ataupun menari, jadi aku akan memberitahumu setelah itu terjadi.”
Yunho menyeringai, “Kau ingin menari?”
Aku ingin menari tapi tidak dengan Yunho. Aku tahu bagaimana gampangnya untuk melupakan bahwa ia adalah seorang teman. “Ya, aku ingin. Tapi pertama aku butuh dorongan keberanian dan aku juga butuh seseorang untuk memintaku menari.”
“Aku pikir aku hanya bertanya,” jawabnya.
Aku meletakkan siku diatas meja dan mengistirahatkan dagu ditanganku. “Apa kau pikir itu sebuah ide yang bagus?” Aku ingin ia mengakui bahwa itu bukanlah sebuah ide yang bagus.
Yunho mendesah, “Mungkin tidak.”
Aku mengangguk.
Dua piring kentang goreng keju diletakkan didepan kami dan sebuah gelas yang berisi air dingin diletakkan didepan Yunho. Makanan itu terlihat sangat baik. Aku tidak menyadari bahwa sebenarnya aku sangat lapar. Aku harus menjaga berapa banyak makanan yang aku habiskan. Ini seharga tujuh dollar. Dan aku tidak ingin menghabiskan lebih dari dua puluh dollar. Sebenarnya aku hanya ingin segelas minuman tapi Yunho bilang bahwa aku membutuhkan makanan untuk dimakan.
Aku mengambil kentang goreng lembut yang disiram keju lalu menggigitnya.
“Rasanya lebih baik daripada roti dengan topping  selai kacang, bukan?” Yunho bertanya sambil tersenyum menggoda. Aku mengangguk dan mengambil makanan yang lain.
Junsu meluncur dari sisi Yunho masuk ke dalam ruangan sambil membawa dua minuman yang dituang dalam gelas kecil. Minuman itu terlihat berwarna kuning. “Aku pikir aku harus memulainya dengan minuman yang paling ringan. Tequila adalah minuman untuk wanita dewasa. Kau belum siap untuk itu. Jadi, ini adalah lemon drop (tequila lemon). Rasanya manis dan enak.”
“Makanlah dulu,” Yunho menginterupsinya.
Aku mengambil makanan lagi dan makan dengan cepat, sampai habis. Lalu aku meraih gelas minuman lemon. “Okay, aku siap,” Aku memberitahu Junsu dan dia mengambil miliknya lalu menyeringai. Aku menontonnya saat dia meletakan itu dibibirnya dan memiringkan kepalanya ke belakang. Aku pun melakukan hal yang sama.
Rasanya sangat enak. Hanya ada sedikit rasa terbakar ditenggorokanku. Aku suka lemon. rasa. Rasanya enak.Aku meletakkan gelas kosong ke meja dan tersenyum pada Yunho yang sedang menatap ku.
“Makan,” balasnya.
Aku mencoba untuk tidak tertawa padanya tapi aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa. Yunho terlihat sangat konyol.
Aku mengambil kentang goreng lagi dan menggigitnya, lalu Junsu mengulurkan tangannya dan mengambil beberapa kentang goreng juga.
“Aku bertemu beberapa pria di bar. Aku menunjukmu dan mereka sudah mengawasi kita sejak kita duduk disini. Kau siap untuk mulai berkenalan dan menambah teman baru?”
Yunho bergerak lebih dekat ke sisiku dan kehangatan yang berasal dari dirinya serta yang berasal dari perutku membuat aku ingin tetap disini dengan... Yunho. Tapi yang aku butuhkan adalah aku harus bangun dari tempat ini. Aku mengangguk.
“Biarkan dia keluar, Yunho. Kau bisa menjaga kehangatan di ruangan ini sampai saat kami kembali nanti,” kata Junsu.
Yunho tidak segera beranjak dan aku mulai berpikir bahwa ia mengabaikannya atau dia akan menyuruhku untuk  makan. Akhirnya dia bergerak dan berdiri.
Aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Apapun yang bisa membuatnya tersenyum dan berhenti cemberut tapi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.
“Hati-hati. Aku ada disini jika kau membutuhkanku,”bisik nya pelan saat dia melangkah lebih dekat kearahku. Aku hanya mengangguk. Hatiku terasa sesak dan  aku ingin kembali ke ruangan itu bersamanya.
“Ayolah Jae. Waktu nya kau untuk mendapatkan minuman gratis dan pria. Kau adalah teman terpanas yang pernah aku miliki. Ini seharusnya bisa menyenangkan.Jangan bilang mereka kau masih berusia sembilan belas tahun. Beritahu mereka kalau usiamu dua puluh satu tahun.”
“Okay.”
Junsu menarikku kearah dua pria yang jelas-jelas mengawasi kami. Satu jangkung dengan rambut pirang panjang yang diselipkan dibelakang telinganya. Dia terlihat belum bercukur selama beberapa hari, tapi kemeja flanel yang melekat ditubuhnya kelihatan keren.Matanya melirik kearahku, lalu kearah Junsu, dan kembali lagi kearahku. Dia belum mengambil keputusan, ingin bersamaku atau Junsu.
Pria lain berambut ikal pendek hitam kecoklatan dan sepasang mata coklat yang cantik. Warna coklat yang membuatmu ingin menatapnya. Kaus berkerah putihnya tidak banyak meninggalkan banyak hal untuk diimajinasikan dan dadanya yang bidang itu terasa sangat indah untuk dilihat. Dia sudah terlihat memakai kerah terbuka yang berwarna biru sama seperti saat mereka datang. Matanya melirikku. Tidak bergerak ataupun bergeser. Sebuah senyuman kecil terlihat dibibirnya dan aku memutuskan ini bukanlah hal yang buruk untuk aku lanjutkan.
“Boys, kenalkan ini adalah Jae. Aku menjauhkannya dari kakaknya dan sekarang dia butuh minum.”
Pria berambut hitam gelap berdiri dan mengulurkan tangannya, “Seunghyun. Senang berkenalan denganmu Jae.”
Aku menyelipkan tanganku ditangannya dan menjabatnya. “Senang berkenalan denganmu  juga Seunghyun.”
“Kau ingin minum apa?” Tanyanya, sebuah senyum membentang diwajahnya sebagai tanda perkenalan.
“Dia ingin lemon drop. Hanya itu yang dia inginkan untuk saat ini,” Kata Junsu disampingku.
“Hey, Jae, Aku Enhyuk.” Kata si pirang, mengulurkan tangannya dan aku menjabatnya. “Hello, Enhyuk.”
“Okay boys, jangan bertengkar. Disini ada kita berdua. Tenanglah, Enhyuk. Kepolosannya membuatmu panas,” Kata Junsu dengan nada kesal. 
“Ayo menari bersamaku dan aku akan menunjukkan bagaimana wanita nakal bisa menyembuhkan penyakit gatal kalian.”
Junsu memiliki perhatian penuh Enhyuk sekarang. Aku menutup mulutku agar tidak tertawa. Dia sangat baik. Junsu berkedip kearahku dan membiarkan Enhyuk membawanya ke lantai dansa.
 “Temanmu yang ada disana. Dia ingin kita untuk berkenalan. Aku bilang bahwa aku tidak tertarik dan dia menunjuk kau. Yang bisa kulihat adalah rambut hitam menawanmu dan aku tertarik.” Kata Seunghyun sambil menyodorkan segelas lemon drop.
 “Terima kasih. Dan ya, Junsu sangat menyenangkan. Dia membawaku malam ini. Ini adalah pertama kalinya aku pergi ketempat seperti ini.”
Seunghyun menganggukkan kepalanya ke arah Yunho. Seorang berkaki panjang dengan rambut pirang bersandar ditepi meja kami. Aku melihat jari-jarinya digerakkan disepanjang pahanya. Jelas itu tidak akan membuatnya bertahan.
 “Itu alasan mengapa kakakmu ikut denganmu malam ini?”
Pertanyaan Seunghyun mengingatkanku mengapa aku berada disini dan aku membuang tatapanku dari Yunho dan kaki gadis itu. 
“Um, uh...  seperti itu lah.”
Aku meletakkan gelas pada bibirku dan meminumnya dengan cepat.
 “Bisakah kita... Maksudku, maukah kau menari bersamaku?” Tanyaku saat aku meletakkan kembali gelas diatas meja bar.
Seunghyun berdiri dan mengarahkanku ke lantai dansa. Junsu sudah menekankan tubuhnya kepada Enhyuk dengan cara yang illegal untuk di depan umum. Aku tidak akan menari dengan cara seperti itu. Dan juga ku harap kalau Yihan tidak menginginkannya.
Seunghyun mengambil tanganku dan meletakkan disekitar lehernya sebelum dia meletakkan tangannya sendiri disekitar pinggangku dan menarikku untuk lebih dekat dengannya. Itu sangat bagus. Semacam itu lah.Musiknya mengalun pelan dan  sexy. Bukan seperti yang aku inginkan, untuk  menari dengan orang yang baru saja aku kenal.
“Apakah kau tinggal disekitar sini? Aku tidak pernah melihatmu disini sebelumnya,” Kata Seunghyun, menundukkan kepalanya agar sejajar dengan telingaku sehingga aku bisa mendengarnya.
Aku menggelengkan kepalaku. “ Tempat tinggalku sekitar empat puluh menit dari  sini dan aku baru saja pindah.”
Dia menyeringai. “Pantas saja, terdengar dari logatmu. Aku tahu itu lebih tebal dari  pada penduduk lokal disini.”
Tangan Seunghyun menyelinap semakin bawah hingga jari-jarinya menyentuh lekukan dibawah pinggangku. Ini sedikit mengganggu ku.
“Apakah kau kuliah?” Tanyanya, tangannya meluncur satu inci lebih bawah.
Aku menggelengkan kepalaku, “Tidak. Aku... uh... bekerja.”
Aku mencari Junsu ditengah keramaian tapi aku tidak bisa melihatnya dimana-mana. Kemana dia pergi? Sebenci-bencinya aku untuk melihat ke arah Yunho, aku tetap melihat kearah ruangan untuk melihat apakah Yunho masih ada disana. Si rambut pirang sudah bersama Yunho didalam ruangan sekarang. Matanya terlihat seperti bibir Yunho sedang berada didalam bibir si pirang.
Tangan Seunghyun meluncur ke pantatku sepenuhnya sekarang. “Sialan, tubuhmu sangat luar biasa.” Bisiknya ditelingaku. Gawat. Aku butuhkan bantuan.
Tunggu. Sejak kapan aku membutuhkan bantuan? Aku tidak pernah bisa mengandalkan siapapun dalam setahun ini. Aku tidak ingin bertingkah seperti orang yang tidak berdaya sekarang. Aku meletakkan tanganku di dada Seunghyun untuk mendorongnya. “Aku butuh udara segar dan aku tidak suka orang yang baru saja aku kenal meraba pantatku.” Aku memberitahunya dan sesegera mungkin berputar menuju kearah pintu keluar. Aku tidak ingin kembali ke dalam ruangan dan melihat Yunho bersama dengan beberapa wanita dan aku yakin saat ini aku tidak akan memikirkan untuk mencari teman berdansa dulu. Yang aku butuhkan hanya udara segar.
Berjalan keluar, menerobos ke dalam gelapnya malam aku menarik nafas dalam-dalam dan menyandarkan tubuhku pada sisi gedung. Mungkin aku tidak cocok untuk hal seperti ini? Atau mungkin ini sudah berlebihan dan terlalu cepat untuk pemula sepertiku. Di sisi lain aku butuh bernafas dan seorang teman berdansa yang baru. Seunghyun bukanlah pasangan yang baik.
.
.
.
.
To Be Continue

3 comments:

  1. Seneng yunho mulai baik ke jae kyaaaaaaa duh yunho bilang aja gak rela kalo jae pergi dari rumah, ya kan? Hahahahahaha suka! Semangat kak saki!

    ReplyDelete
  2. Saki~chan akhirnya update juga,,,,
    Dan aku bisa komen jga ,, tapi gak bisa pake akunku yg kazjj_saranghae.......
    Gak tau kenapa gak bisa dibuka hukzzz

    Tapi yg penting bisa baca apdetanmu

    Kapan YunJae lebih dari sekedar teman ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah bisa pake akun ini lgi heeee

      Delete