Tuesday, March 31

[Remake] The Untittled Story Chapter XIV


Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?



The Untitled Story
Remake from Abby Glines Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita
Chapter 14
"Jae?" Nada perhatian yang berasal dari suara Yunho mengejutkanku, aku membuka mataku dan menegang di kegelapan ketika aku melihatnya berjalan kearahku.
 "Ya," jawabku.
 "Aku tidak bisa menemukan mu. Kenapa kau berada diluar? Disini tidak aman."
 Aku sudah biasa dengan peran kakak nya. Aku bisa menangani nya dengan caraku sendiri. Dia harus kembali kedalam.
"Aku baik-baik saja. Masuklah ke  dalam dan   lanjutkan kegiatan mu di ruangan kita tadi." Kepahitan terdengar jelas dalam suaraku. Itu karena aku tidak bisa menahannya.
 "Kenapa kau bisa berada di luar?" Dia mengulangi pertanyaannya, dengan perlahan dia melangkah semakin dekat kearahku.
 "Karena aku ingin ada disini," jawabku pelan, menatapnya.
 "Pestanya ada didalam. Bukankah itu yang kau inginkan? menari dengan pria dan minuman? Dan kau tidak akan bisa menemukannya disini—diluar."
 "Kembalilah, Yunho."
 Yunho melangkah lebih dekat lagi dan hanya menyisakan jarak beberapa inci. "Tidak, aku ingin tahu apa yang sedang terjadi."
 Sesuatu dalam diri ku terasa memberontak keluar, aku pun meletakkan tangan ku di dada  nya dan saat itu juga aku mendorongnya sekeras yang aku bisa. Dia sedikit terhuyung ke belakang.
 "Kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi? Semua yang membuatku seperti ini adalah kau Yunho. Semua karena kau." Aku berteriak padanya, kemudian langsung pergi meninggalkan nya menuju tempat parkir.
 Sebuah tangan kuat tiba-tiba membungkus sekeliling lengan ku dan  aku berusaha  keras  untuk   melepaskannya tapi sia-sia saja. Yunho dengan kuat menahanku seakan dia  tidak  ingin  membiarkanku pergi.
 "Apa maksud semua  ini, Jae?" tanyanya, menarik  ku hingga aku  membentur dadanya.
 Aku menggeliat dalam pegangannya dan berusaha melawan untuk dapat  berteriak. Aku  benci  mengetahui diriku  bahwa  dengan  mencium aromanya saja, membuat  jantungku  berdegup  kencang dan tubuh ku  terasa  berdenyut. Aku  ingin dia  menjauh dariku. Tidak  menebarkan kehangatan  aroma  tubuhnya  pada  diriku.
 "Biarkan. Aku. Pergi." Aku memohon kepadanya.
 "Tidak sampai kau memberitahuku apa masalahmu," jawabnya  marah.
 Aku menepis tangannya tapi dia tidak bergeming sedikitpun. Ini sangat  tidak  masuk akal. Dia  tidak  ingin  mendengar apa yang aku katakan. Kenyataan  itu  membuat  ku  ingin mengatakan nya. Sesuatu yang akan ku katakan mungkin akan membuatnya terganggu. Merusak  semua  rencananya untuk  menjadi sahabat yang baik.
 "Aku tidak suka kau menyentuh wanita lain. Dan saat pria lain meraba-raba pantatku, aku sangat membencinya. Aku  ingin kau yang melakukannya. Sangat ingin kau menyentuhku  disana. tapi  kau  tidak  menginginkannya dan  sekarang aku sudah  mengerti untuk hal itu. Sekarang, tolong  biarkan aku pergi!"
Aku  mencoba  untuk  melepaskan diri  ku dan  menuju ke Range Rover nya. Aku  tidak  bisa menahannya sampai nanti  dia mengajak  ku  untuk  pulang  kerumah.
 Air mata terus mengalir dan aku berlari lebih kencang. Saat aku sampai di Range Rover nya aku  menuju ke samping dan  bersandar di sana, menutup mataku. Aku baru saja  bilang pada  Yunho untuk meraba pantat ku. Betapa bodohnya aku. Dia bahkan memberikan ku pinjaman  kamar. Membiarkan ku tinggal disana hingga appa ku pulang jadi aku bisa menyimpan uang ku dan sekarang aku malah memberikannya alasan untuk bisa mengusir ku dari rumah nya.
 Terdengar suara 'click' pintu dari Range Rover dan saat aku membuka mataku aku melihat Yunho melangkah ke arah ku. Dia mungkin akan membawaku pulang lalu mengusir ku begitu saja. Dia berhenti disamping ku dan dengan kasar membuka pintunya.
 Dia  menemukan ku di belakang. Sangat memalukan.
 "Masuk atau aku akan menyeret mu untuk masuk ke dalam," geram nya.
 Aku masuk ke tempat duduk  belakang  sebelum dia mencoba untuk  menyeret ku masuk ke dalam. Tetapi dia tidak membanting pintu di belakang ku. Dia malah menindih ku.
 "Apa yang kau lakukan?" tanya ku, sebelum dia semakin menekan tubuh ku pada kursi  kemudian mulut nya sudah berada di mulut ku.
Aku membuka mulut ku untuk membiarkan lidah nya menjelajahi ku. Oh tuhan, gerakan lidah nya di dalam mulut ku sangat menyenangkan. Malam ini, rasa mint dari dalam mulutnya tidak tercampur dengan rasa lain. Aku bisa mencecap nya untuk beberapa lama dan itu sama sekali tidak membosankan.
 Kedua tangan nya mencari-cari pinggang ku dan  dia menggeser ku  sehingga satu  kaki ku berada di atas kursi dengan posisi tertekuk  dan satu lagi tetap berada di lantai. Dia melebarkan kaki ku hingga terbuka lebar dan memposisikan dirinya berada diantara kakiku. Mulutnya meninggalkan mulutku dan menjelajah lapar menciumi leher ku. Dia menggigit kecil bagian bahuku yang telanjang menyebabkan kegembiraan melanda ku.
 Kedua tangannya menemukan celah bajuku yang sudah terbuka sebagian.
"Lepaskan pakaianmu." Ucapnya saat dia dengan cepat melepaskan baju melalui kepalaku kemudian melemparnya begitu saja kearah jok depan tanpa sekalipun melepaskan tatapan dari dadaku.
"Aku ingin kau melepas semuanya, Jae." Dia meraih kebelakang tubuh ku dengan satu tangan dan  dia menarik lepas ikatan bra dalam waktu kurang dari satu detik. Dia menurunkan bra melalui tanganku kemudian membuangnya ke jok depan dengan kausku.
"Inilah alasanku menjaga jarak darimu. Ini, Jae. Aku tidak ingin menghentikan nya.Tidak sekarang." Dia menundukkan kepala nya dan meraih puting ku lalu membawa kedalam mulutnya. Dia menghisap nya keras dan ledakan basah melanda di antara paha ku. Aku berteriak, meraih kedua bahunya lalu meremasnya.
 Aku melihat saat dia menusuk kan lidah seksinya.
"Rasanya seperti permen. Para wanita tidak seharusnya memiliki rasa seperti ini. Terlalu berbahaya," bisiknya di kulitku, kemudian hidungnya bermain-main dicelah dada sambil menghirup keras. "Dan aromamu luar biasa."
 Mulutnya sekali lagi berada didalam mulutku sedangkan tangannya yang besar sepenuhnya membungkus dadaku dan meremasnya dengan lembut lalu menyentak kan puting ku . Aku ingin merasakan lebih. Aku menjalankan tanganku ke dada nya,menyelipkan tangan ku di bawah kaus nya. Aku akan menatap dada nya lama untuk mengetahui seperti apa bentuk nya. Sekarang aku ingin tahu bagaimana rasa nya di bawah tangan ku. Kulit hangat yang menutupi otot keras nya begitu lembut. Aku tidak berjanji bahwa hal ini akan menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar kegiatan sesaat dan aku ingin merasakan semuanya.
 Yunho meraih ke belakang dengan satu tangan dan menarik pakaiannya lepas, melemparnya begitu saja kesamping lalu kembali untuk melumat bibirku dengan bibirnya. Aku melengkungkan tubuhku mendekat pada nya.Aku tidak pernah telanjang dada dengan seorang pria. Aku ingin merasakan dadanya yang telanjang pada tubuhku. Sepertinya dia tahu apa yang aku inginkan, dia membungkus ku lebih erat dalam pelukan nya dan menarik ku padanya . Rasa basah, bekas mulutnya yang mengeksplorasi dadaku, yang dia tinggalkan terasa dingin tapi kehangatan yang berasal dari kulitnya mengejutkanku.
 Aku mengerang dan menariknya mendekat,takut dia akan menjauh. Aku telah mendapat kan apa yang aku inginkan sejak aku melihat dia dan gadis itu di beranda. Sekarang dia berada diantara kedua kakiku. Ini adalah fantasiku.
 "Jae kau sungguh manis," bisiknya, menarik bibir bawah ku ke dalam mulutnya lalu menghisapnya.
 Aku bergeser ke bawahnya agar semakin merasakan bagian pribadi nya yang mengeras diantara kedua kakiku. Aku berdenyut-denyut dan ingin sekali merasakan ereksinya pada ku. Yunho menyelipkan tangannya ke bawah untuk membelai lututku dan kemudian mulai menjalankan tangannya naik menuju paha bagian dalamku. Aku membiarkan kakiku terbuka lebar, menginginkan dia lebih dekat lagi. Rasa sakit menjadi lebih  kuat dan gambaran tangan nya  berada hampir dekat dengan pusat denyutan  ku membuatku pusing.

 Saat jari-jarinya berjalan di sekitar pinggir celana sutraku, aku tersentak dan mendesah. "Santai. Aku hanya ingin melihat betapa manis nya di ujung tubuhmu," ucap Yunho parau
 Aku mencoba mengangguk tapi aku tidak bisa mengingat apapun selain bernafas. Aku menatap mata abu-abu milik Yunho yang terlihat seperti sinar yang berkabut. Dia tidak berpaling saat tangannya mulai menyelinap ke dalam tepi celana berendaku.
 "Yunho," bisikku, meremas bahu Yunho sambil terus menatapnya.
 "Shhh, tidak apa-apa," jawabnya
 Aku tidak takut. Dia mencoba untuk meredakan rasa takut ku tapi sia-sia saja. Kebahagiaan dan kebutuhan yang terlalu besar. Aku butuh dia bergegas. Sesuatu sedang terbentuk di dalam diri ku dan aku ingin cepat-cepat untuk meraih nya. Rasa ingin mencakar sesuatu muncul didalam diriku.
 Yunho membenamkan kepalanya di dalam leher ku dan melenguh panjang.
 "Ini terlalu banyak," erangnya.
 Aku mencoba membuka mulut ku dan memohon padanya agar tidak berhenti. Aku membutuhkannya. Aku ingin pelepasan itu aku tahu aku akan segera datang.
 Jarinya meluncur masuk ke dalam pusat ku yang basah dan jari-jari kaki ku seketika melengkung saat  tubuhku melengkung tak terkendali. Lalu jarinya semakin masuk kedalam. Perlahan. Aku membeku, khawatir terhadap  apa yang aku rasakan. Ketebalan dari jari-jarinya mendorong lebih jauh di dalam tubuh ku dan aku ingin meraih tangannya dan mendorong nya lebih keras. Ini sangat nikmat. Terlalu nikmat.
 "Sialan. Kau begitu nikmat. Basah, panas...benar-benar panas. Dan Tuhan, kau begitu ketat." Nafas Yunho terasa berat di leherku saat dia mengucapkan kata-kata yang membuatku semakin ingin lebih. Semakin nakal kata-kata Yunho, tubuhku semakin meresponnya dengan baik.
 "Aku mohon, Yunho," Pintaku, melawan dorongan untuk meraih tangannya dan memaksa dia untuk membawaku secepatnya keluar dari denyutan di bawah sentuhannya.
 "Aku butuh..." Aku  tidak tahu apa yang aku butuhkan. Aku hanya membutuhkannya.
 Yunho mengangkat kepalanya dan  menjalankan hidung nya disepanjang leherku lalu menekankan ciuman di dagu ku.
"Aku tahu apa yang kau butuhkan. Aku hanya tidak yakin aku bisa mengatasinya saat aku melihat kau mendapatkannya. Kau membuatku ingin melakukan segalanya padamu,sayang. Aku mencoba untuk menjadi pria baik-baik. Dan aku tidak ingin kehilangan kendali di belakang mobil sialan ini."
 Aku menggelengkan kepalaku. Dia tidak boleh berhenti. Aku juga tidak ingin dia menjadi pria baik-baik. Aku ingin dia berada didalam diriku. Sekarang.
"Kumohon,Kau tidak perlu menjadi baik.kumohon," pintaku.
 Yunho mengembuskan napas kasar, "Sialan,sayang. Hentikan itu. Aku bisa meledak sekarang juga. Aku akan membiarkan mu klimaks tapi saat aku akhirnya aku akan tenggelam di dalam diri mu  untuk  pertama kalinya kau tidak akan tergelak di belakang mobil ku.Kau akan berada di ranjang ku."
Tangan nya bergerak sebelum aku bisa meresponnya dan mataku berputar. "Itu dia. Datanglah untukku, Jae. Datanglah di tangan ku dan  aku ingin merasakannya. Aku ingin melihatmu klimaks."
Kata-katanya membuatku terasa berputar di tepi tebing yang berusaha keras untuk kucapai.
"Yunhooooo!"
Aku mendengar teriakan keras dari suaraku sendiri saat aku sepenuhnya tenggelam dalam kenikmatan. Aku tahu aku menangis untuknya, meneriakkan namanya bahkan mencakarnya tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku.Kegembiraan ini luar biasa.
 "Ahhhh, yeah. Itu dia. Sialan. Kau sangat cantik." Aku menyadari kata-kata Yunho tapi rasa nya begitu jauh. Aku lemas dan terengah-engah saat kesadaran meligkupiku.
 Aku memaksa mataku untuk terbuka, jadi aku bisa melihat apa yang telah Yunho lakukan dari reaksi terliar ku yang aku tahu itu adalah orgasme pertamaku. Aku banyak mendengar tentang apa itu orgasme tapi aku tidak pernah sekalipun mencoba untuk mendapatkannya. Aku yakin aku pernah mencobanya beberapa kali tapi aku tidak memiliki banyak fantasi untuk mendapatkannya. Tapi setelah malam ini, hal ini tidak akan menjadi masalah lagi bagiku. Yunho telah memberikanku gambaran fantasi yang menyenangkan untuk bisa mendapatkannya dan bahkan dia masih menggunakan celana jeansnya.
 Aku melihat Yunho yang juga menatapku dengan jarinya di dalam mulut nya. Butuh beberapa saat untuk untuk mengerti persis seperti apa jari-jari itu. Aku terkesiap setelah menyadarinya, membuat Yunho tertawa saat dia menarik keluar jari-jari itu dari dalam mulutnya lalu tersenyum.
"Memang benar. Kau terasa manis di dalam sama seperti bagian tubuhmu yang lain."
Mungkin jika aku tidak klimaks, aku tidak akan memerah malu seperti sekarang ini. Dari semua hal yang bisa aku lakukan, aku hanya bisa menutup mataku erat-erat. Suara tawa Yunho terdengar kencang.
"Ayolah,Jae. Kau baru saja klimaks dengan cara yang liar dan seksi di tangan ku dan bahkan meninggalkan beberapa bukti cakaran di punggung ku. Jadi, jangan merasa malu padaku sekarang. Karena sayang, sebelum malam ini berakhir kau akan telanjang diatas ranjang ku."
Aku mengintip kearahnya, berharap aku mendengar nya dengan baik. Aku ingin lebih. Benar-benar lebih.
"Kau berpakaian lah dulu sementara aku akan mencari Bethy dan melihat apakah dia butuh tumpangan atau dia sudah menemukan seorang teman untuk mengantarnya pulang."
Aku menggeliat dan mencoba mengangguk. "Okay."
"Jika aku tidak merasa sekeras ini sekarang aku pastikan bahwa kita akan diam lebih lama disini dan aku menikmati mata mengantukmu sehabis orgasme. Aku suka mengetahui kalau aku yang menyebabkannya. Aku benar-benar membutuhkan lebih dari ini."
.
.
.
.
.
To Be Continue

2 comments:

  1. Cieeeee bilang aja Yunho takut JJ dapet gebetan d Mirotic
    Semoga nanti terjadi hal yg diinginkan dan iya-iya antara YunJae hhhhh
    Fighting Saki !!

    Ditunggu next chapternya.

    ReplyDelete
  2. Saki makasih udah kembali
    Fighting!

    ReplyDelete