Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Remake from Abby Glines Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita
Yunho tidak berbohong saat dia mengatakan
kalau dia ingin aku berpakaian lagi. Dia mengambil bra-ku lalu mengaitkannya
kembali di punggung ku, dia juga meninggalkan kecupan kecil di bahu ku sebelum
menyelipkan pakaianku melalui kepala.
"Aku lebih suka kau
disini sementara aku pergi mencari Junsu. Saat ini kau menunjukkan
ekspresi yang begitu puas di wajahmu dan itu benar-benar seksi. Aku tidak ingin
mengakhirinya dengan pertengkaran."
Pujian lagi. Aku tidak yakin akan terbiasa
dengan perlakuannya yang seperti ini padaku.
"Aku datang kesini bersama Junsu
karena aku ingin mencoba untuk menasihati Junsu agar tidak tidur bersama dengan
namja yang hanya menganggapnya sebagai pasangan untuk bersenang-senang saja.
Lalu kau ikut dengan kami, dan sekarang aku disini, duduk di jok belakang
mobilmu. Aku rasa, aku harus menjelaskannya pada Junsu."
Yunho tidak menjawab. Dia terlihat
memperhatikan ku sejenak tapi aku tidak
bisa membaca ekspresi wajahnya di dalam gelap. "Aku mencoba untuk mengerti
jika kau ingin menasihati nya untuk tidak melakukan hal itu."
Yunho menggerakkan tubuhnya kembali kearah
ku dan menyelipkan tangan nya pada rambutku. "Karena aku merasakannya dan
aku tidak ingin berbagi. Ini bukanlah untuk bersenang-senang. Aku mungkin
sedikit ketagihan."
Jantungku berdetak kencang pada tulang
rusukku dan aku menarik nafas dalam-dalam. Wow. Okay. Astaga. Aku mencoba
untuk mengangguk dan Yunho merendah kan
kepalanya lalu menekan kan kecupan kecil dibibir ku sebelum memainkan ujung
lidahnya di bibir bawahku.
"Mmmmm, yeah. Kau tetap disini. Aku
akan mencari Junsu, membawanya kesini dan berbicara padamu."
Lagi, yang bisa kulakukan hanyalah
mengangguk.
Yunho menjauh dariku dan keluar dari pintu
dan masuk kembali ke dalam Mirotic. Sebelum aku bisa menarik nafas.
Dia mungkin berpikir kalau dia juga
ketagihan tapi dia sama sekali tidak tahu apa yang telah di lakukan pada ku.
Setidaknya dia dapat berjalan.Aku tidak akan pernah bisa berjalan dengan kedua kaki ku sesudah nya.
Meluruskan posisi dudukku, aku menarik
celanaku kembali dan menutup pintu dengan cepat. Aku harus bangun dan secepat
mungkin pindah ke jok depan tapi aku masih tidak yakin dengan kakiku. Apakah
ini normal? Haruskah seorang pria membuat wanita merasakan hal yang seperti
ini? Atau mungkin ada yang salah denganku. Tidak seharusnya aku bereaksi
seperti ini terhadap Yunho...Atau harus?
Ini adalah salah satu saat dimana aku
membutuhkan seorang teman wanita untuk berbagi. Satu-satunya yang aku miliki
adalah Junsu dan aku tidak benar-benar yakin kalau dia bisa memberikanku saran
yang baik kalau menyangkut tentang pria. Aku butuh ibu ku.
Rasa sakit muncul saat aku mengingat ibuku pergi dan yang aku
bisa lakukan setelahnya adalah menutup mataku untuk melawan semua bayangannya.
Aku tidak bisa membiarkan kesedihanku berlanjut disaat seperti ini.
.
.
.
Pintu terbuka, dan Junsu berdiri disana tersenyum kearahku.
"Baiklah, lihat dirimu. Melakukan sesuatu yang panas di Rosemary, di jok
belakang Range Rovernya. Aku pikir kau menginginkan pria dengan dengan marga
Jin itu." Katanya sedikit menghina
"Naiklah Junsu, sebelum kau terjatuh
diatas pantatmu disini," Ucap Yunho di belakangnya. Aku melihatnya dari
balik bahu Junsu. Dia terlihat terganggu.
"Aku tidak ingin pergi. Aku suka
Dongwoon, atau siapa namanya, Donghae? Tidak, tunggu, apa yang terjadi dengan
Enhyuk? Aku kehilangan namja itu...Aku pikir," Junsu melantur saat dia
berusaha naik ke jok belakang.
"Siapa Dongwoon dan Donghae?"
Tanyaku saat dia menggapai sandaran kursi lalu membanting punggungnya di jok.
"Dongwoon sudah menikah. Dia mengelak,
tapi aku tahu kalau dia sudah menikah. Aku bisa memberitahunya. Pernikahan
adalah satu-satunya yang selalu memiliki aroma dari mereka."
Apa yang sebenarnya sedang dia bicarakan?
Pintu bagian belakang tertutup dan aku baru
saja ingin bertanya lebih padanya saat pintu di sampingku terbuka. Aku menoleh
dan melihat Yunho berdiri disana dengan
mengulurkan tangan nya untuk ku genggam. "Jangan menanggapi apapun
yang dia katakan. Aku menemukannya di
bar saat dia menyelesaikan gelas tequilla keenamnya yang dibelikan oleh
Dongwoon yang sudah menikah. Dia mabuk."
Ini
bukanlah seperti malam yang aku inginkan untuk dilalui. Aku pikir pria–pria
dari tempat asalku berbeda dari pria-pria disini. Mungkin mereka akan
memperlakukannya lebih baik. Tapi dia memakai celana pendek kulit yang berwarna
merah. Aku menyelipkan tanganku ke Yunho lalu dia meremas nya dengan lembut.
"Kau tidak harus memberikannya
penjelasan malam ini. Dia tidak akan mengingatnya besok pagi."
Dia mungkin saja benar. Aku melangkah
kearah Range Rover namun dia menarikku hingga membentur dadanya sebelum aku
sempat menutup pintu mobil dibelakang ku.
"Aku ingin merasakan bibirmu yang
manis tapi aku melarang diriku sendiri. Kita harus mengantarkannya pulang
sebelum dia sakit," Ucap Yunho bisikan serak.
Aku mengangguk. Aku juga ingin dia menciumku, tapi kami harus segera mengantarkan
Junsu pulang kalau dia tidak ingin jatuh sakit. Aku mulai bergerak untuk
menjauh darinya tapi dia memelukku semakin erat.
"Tapi yang tadi aku katakan, aku
bersungguh-sungguh. Aku ingin kau berada diranjangku malam ini."
Sekali lagi, semua yang aku bisa lakukan
untuk saat ini hanya mengangguk. Aku juga
ingin berada diranjangnya. Aku mungkin akan menjadi sebodoh Junsu yang
ingin mendatangi para pria. Yunho membawa ku ke sisi pintu penumpang dan
membuka kan pintu untuk ku.
"Persetan dengan persahabatan,"
gumamnya, meraih pinggang ku untuk membantu ku naik.
Menyeringai, aku melihatnya berjalan
didepan Range Rover lalu naik.
"Seringai itu untuk apa?"
Tanyanya, saat dia berada dibelakang kemudi.
Aku mengangkat bahu. "Persetan dengan
persahabatan. Itu membuatku tertawa."
Yunho terkekeh dan menggelengkan kepalanya
sebelum dia membelokkan Range Rover keluar dari area parkir.
"Aku tahu sesuatu yang tidak kau tahu.
Ya, aku tahu. Ya, aku tahu," Junsu mulai bernyanyi dengan nada yang
dibuat-buat sendiri.
Aku memutar kepalaku untuk melihatnya. Dia
tidak tersenyum tapi kerutan janggal tergambar di wajah nya.
"Aku tahu sesuatu," bisiknya
keras.
"Aku mendengarnya," jawabku dan
melihat sekilas kearah Yunho, tapi dia tidak menunjukkan wajah geli atau
apapun. Dia sama sekali tidak menyukai Junsu yang mabuk.
"Itu adalah rahasia besar. Salah satu
yang besar...dan aku mengetahuinya. Aku tidak menduganya tapi aku tahu. Aku
tahu sesuatu yang tidak kau tahu. Kau tidak tahu. Kau tidak tahu," Junsu
mulai bernyanyi lagi.
Aku ingin bertanya kepadanya apa yang
sebenarnya dia ketahui tentang sesuatu tapi Yunho menyelanya dan berbicara
lebih dulu.
"Cukup Junsu." Peringatan Yunho
terdengar sangat jelas.
Aku bahkan bergetar karena mendengar nada
kaku dari suaranya.
Junsu
mengatupkan bibirnya bersamaan dan bertingkah seperti dia menguncinya lalu
kunci itu dibuang jauh-jauh.
Aku memutar kembali kepalaku, menganggap
kalau dia tidak tahu apa-apa tentang sesuatu yang sangat ingin kuketahui. Yunho
bertingkah seperti dia memang benar-benar tahu. Dia terlihat siap untuk
menyetop mobil lalu melempar Junsu keluar. Yunho menyalakan radio untuk
mendengarkan beberapa musik, jadi aku memutuskan untuk tetap diam. Yunho
terlihat marah karena Junsu mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya dia
ketahui.
Dia memiliki banyak rahasia disekitarnya.
Ada beberapa hal yang dia tolak untuk dibicarakan. Kami memang saling tertarik
satu sama lain. Tapi itu bukan berarti dia harus memberitahuku semua
rahasianya. Atau haruskah? Tidak! Tentu saja tidak. Tapi sekali lagi, haruskah
aku memberikan separuh dari diriku untuk seseorang yang tidak benar-benar aku
kenal? Dia sangat menjaganya. Akankah aku bisa melakukan dengannya dan tidak
tertarik pada nya? Aku tidak benar-benar yakin tentang hal ini.
Tangan Yunho menggenggam tangan ku. Aku
melihat sekilas kearahnya, namun dia tetap melihat jalan tapi dia juga terlihat
sedang memikirkan sesuatu. Aku sangat berharap aku bisa menanyakan sesuatu
padanya. Tapi kami belum sampai ke tahap itu. Mungkin kami tidak akan pernah
bisa. Haruskah aku merelakan keperawananku kepada seorang pria yang mungkin akan meninggalkanku sesudah nya tanpa
ada nya harapan lebih?
"Itu adalah waktu terbaik yang pernah
aku lewati. Aku menyukai pria yang kutemui hari ini. Mereka sangat
menyenangkan," dari arah jok belakang, terdengar Junsu mengigau dalam
tidurnya.
"Kau harus mencari yang lebih baik Jae.
Itu jika kau pintar. Memilih Yunho adalah ide yang buruk. Karena selalu ada Boa."
Boa? Aku menoleh kearah Junsu. Matanya
tertutup, tetapi mulutnya setengah terbuka. Sebuah dengkuran halus keluar dari
mulutnya dan aku tahu tidak akan ada komentar untuk menjelaskan semuanya malam
ini. Setidaknya tidak dari Junsu.
Aku melihat kembali kearah Yunho yang
tiba-tiba melepaskan tangannya dariku dan sekarang menggengam erat kemudi.
Rahangnya juga mengeras. Ada apa dengan adik nya? Dia adalah saudara
perempuannya, kan?
"Apakah Boa saudaramu?" Tanyaku,
berjaga-jaga atas reaksinya. Dia mengangguk tapi tidak mengatakan apapun.
Inilah apa yang aku ketahui terakhir kali saat aku menanyakan nya. Dia
menutupinya dariku.
"Lalu apa maksud Junsu kalau begitu?
Bagaimana mungkin kalau kita tidur bersama akan berpengaruh pada Boa?"
Tubuh Yunho mengejang. Dia tidak
menjawabnya. Hatiku rasanya hancur. Rahasia itu, bagaimanapun itu, mungkin akan
menahan kami untuk melakukan lebih. Itu sangat penting untuknya, dan itu adalah
bendera peringatan untuk ku. Jika dia tidak bisa memberitahuku sesuatu yang
diketahui oleh Junsu, maka kami memang memiliki masalah dengan hal itu.
"Boa adalah adik ku. Aku tidak
ingin...Aku tidak bisa membicarakan tentangnya padamu."
Cara dia mengatakan "kau" padaku,
membuat perutku rasanya seperti diaduk. Sesuatu telah berakhir disini. Aku
ingin bertanya lebih banyak lagi tapi rasa sedih dan kehilangan mengurungkan niatku
saat aku menyadari bahwa aku tidak bisa tidur malam ini diranjangnya ataupun
malam-malam yang lain, rasanya benar-benar membuatku ingin menghentikannya. Ini
akan membuatku membatasi diri untuk terlalu dekat dengan Yunho. Aku seharus nya
tidak membiarkan dia menyentuh ku
seperti tadi.Tidak saat dia dengan mudah melemparkan ku ke samping.
Kami
menghabiskan waktu menuju kantor dalam diam. Yunho keluar dari Range
Rover tanpa mengatakan apapun dan
membangunkan Junsu. Lalu membantu Junsu masuk. Pintunya terkunci, tapi
untung saja Junsu memiliki kuncinya. Dia menggumamkan tentang sesuatu , apakah
dia harus bermalam disini atau Ayahnya akan membunuhnya. Aku tidak dapat
membantunya. Aku benar-benar tidak memiliki energi. Aku hanya ingin tidur. Aku
ingin tempat tidurku yang berada dibawah tangga. Bukannya sebuah tempat tidur
berukuran besar yang sedang menantiku.
Saat kembali kedalam mobil, dia juga tetap
diam. Aku mencoba mencari tahu mengapa dia begitu tertutup tentang Boa dan apa
yang dikatakan Junsu tidak memperlihatkan suatu petunjuk apapun. Waktu
perjalanan menuju garasi mobil hanya memakan waktu beberapa menit. Aku membuka
pintu lalu turun saat dia memarkirkan mobil di taman. Aku tidak ingin
menunggunya, jadi aku berjalan lebih dulu kearah pintu. Dan pintu itu terkunci,
jadi aku harus menunggunya datang untuk membuka pintunya.
.
.
.
.
.
To Be Continue

Duwhhh,,yihan maen raba aja,,
ReplyDeleteYun aja belom
Pengen cepet2 liat yunjae 'deket'
Saki,,,,semoga bisa apdet cepet ya hhhhhhh
Fighting !!!!
akhirnya update juga.
ReplyDeletesecara aku suka Yihan gx apa apalah. ngamal dikit sebelum di santap Yunho~ di gampar~
gx sabar pengen Yunjae moment.
joongie,, menjauhlah dari pria itu,,, sblum kau tau apa hbngannya sma si ular boa,,
ReplyDeletemksih telah update saki sayang,, aku mencintaimu