Kemungkinan bayi itu terbentuk dari percintaan
mereka adalah 80%, Yunho sudah mempelajarinya dari semua referensi yang bisa ia
dapat, ia mengetahui bahwa dari
rata-rata umur mereka berdua kemungkinan Jaejoong hamil malam ini sangat besar,
dan diam-diam dia sudah mencocokkan dengan siklus Jaejoong, dia tahu yeoja itu
sedang dalam masa suburnya.
Ciuman-ciuman lembut di perutnya itu membuat
Jaejoong terbangun, dia membuka mata dan menatap Yunho,
"Bear?" Jaejoong bertanya-tanya kenapa
Yunho mengecup perutnya.
Yunho tersenyum, senyum yang sedikit kejam menurut
Jaejoong, tapi usapan tangan namja itu yang dilakukan sambil lalu di sepanjang
kulitnya yang telanjang, terasa begitu lembut sekaligus menggoda,
"Aku bergairah lagi." gumam Yunho Serak,
lalu bergerak naik dan mengecup bibir Jaejoong penuh gairah.
Yunho berbeda dengan tadi, pikir Jaejoong, kali ini
sedikit lebih kasar, tidak menahan diri dan sangat posesif. Ciumannya begitu
bergairah, melumat bibir Jaejoong kuat-kuat, lidahnya menjelajahi mulut
Jaejoong dengan panas, tangannya mengusap tubuh Jaejoong penuh gairah,
"Kau milikku Boo." gumam Yunho parau
sebelum bercinta lagi dengan Jaejoong.
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy Agatha
Jaejoong
terbangun dalam pelukan Yunho. Matahari fajar sedikit menembus tirai putih
jendela hotel itu, masih gelap dan dingin. Dengan nyaman Jaejoong makin
bergelung dalam pelukan namja itu. Dan secara otomatis Yunho mengetatkan
pelukannya, melingkarkan lengannya erat-erat di tubuh Jaejoong.
Jaejoong
memejamkan matanya, menenggelamkan wajahnya di dada telanjang Yunho, menghirup
aroma Yunho kuat-kuat dan menyimpannya rapat-rapat dalam memorinya. Tiba-tiba
air mata merembes dari sela bulu matanya, dan Jaejoong menahannya agar tidak
menjadi isakan.
Kenapa?
Kenapa Tuhan membuatnya jatuh cinta lebih dulu kepada Yunho sebelum kemudian
mengabulkan doanya agar Changmin terbangun dari komanya? Apa rencana Tuhan di
balik semua peristiwa ini? Kenapa di saat Changmin benar-benar sudah bangun,
hatinya sudah jatuh dimiliki oleh Yunho?
Jaejoong
mengigit bibirnya agar tangisnya tidak semakin keras dan membangunkan Yunho,
dia tidak boleh menangis. Ini semua sudah menjadi keputusannya. Dia sudah
memiliki Changmin. Changmin yang mencintai dan dicintai olehnya sejak awal. Changmin
yang sebatang kara dan tidak akan punya siapa-siapa kalau Jaejoong tidak ada di
sampingnya. Changmin lebih membutuhkan Jaejoong dibandingkan Yunho. Tanpa
Jaejoong, Changmin akan rapuh, sedangkan tanpa Jaejoong, Yunho akan tetap kuat.
Yunho bisa mencari Jaejoong-Jaejoong yang lain dengan segala kelebihannya,
sedangkan Changmin hanya memiliki Jaejoong.
Dia
sudah memutuskan dalam hatinya, tapi kenapa hatinya tetap terasa begitu sakit?
Rasanya seperti disayat-sayat ketika memikirkan Yunho, ketika ingatannya
melayang pada setiap kebersamaan mereka. Kenapa rasanya masih terasa begitu
sakit?
Dan
malam ini Jaejoong memutuskan bertindak egois. Hanya malam ini ya Tuhan, ampuni
aku, desah Jaejoong dalam hati. Dia tahu semua ini akan terjadi. Dia tahu jika
dia datang menemui Yunho pada akhirnya mereka akan berakhir di ranjang dan
bercinta. Jaejoong tahu itu semua akan terjadi, tapi dia tetap mengambil
konsekuensi itu, dia butuh merasakan pelukan Yunho untuk terakhir kalinya, dan
kemudian meyakinkan dirinya bahwa ini adalah perpisahannya dengan Yunho.
Pelukan
Yunho tiba-tiba mengencang dan namja itu dengan masih malas-malasan mengecup
dahi Jaejoong,
"Dingin?"
tanyanya Serak.
Jaejoong
mendongakkan wajah dan mendapati mata musang itu menatapnya. Lalu tersenyum
lembut, dan menggeleng.
Yunho
meraih dagu Jaejoong dan mengecupnya dengan kecupan singkat,
"Aku
menyakitimu tidak semalam?"
Sekali
lagi Jaejoong menggeleng dan menenggelamkan wajahnya ke dada Yunho, menahan air
mata. Ini adalah saat berharganya. Berada dalam pelukan erat Yunho, merasakan
kelembutan dan kemesraannya. Dia akan menyimpan kenangan ini dihatinya, biar di
saat-saat dia merasa pedih dan merindukan Yunho, dia tinggal menarik keluar
kenangan tentang pagi ini, dan hatinya bisa terasa hangat.
Seperti
inilah dia akan mengenang Yunho nanti, lembut, penuh cinta dan memeluknya
erat-erat.
Seolah
mengerti pikiran Jaejoong yang berkecamuk, Yunho tidak mengatakan apa-apa lagi.
Dia hanya memeluk Jaejoong erat-erat dan mengusap punggungnya dengan lembut,
mereka larut dalam keheningan dan usapan Yunho membuat Jaejoong setengah
tertidur,
"Aku
harap kau tidak menyesali malam tadi." bisik Yunho lembut, menggugah
Jaejoong dari kondisi setengah tidurnya.
Jaejoong
mendongakkan kepalanya lagi dan menatap Yunho lembut,
"Kau
tahu aku tidak menyesal." tangannya dengan hati-hati mengusap wajah Yunho,
takut akan reaksi Yunho karena dia tidak pernah melakukannya sebelumnya. Tapi
Yunho langsung memejamkan mata, menikmati setiap usapan Jaejoong dengan penuh
perasaan.
Merasa
mendapatkan izin, dengan lembut Jaejoong menggerakkan tangannya, meraba wajah
Yunho. Mulai dari dahinya, lalu ke alisnya yang tebal, ke mata yang terpejam
itu, ke bulu mata tebal yang hampir menyentuh pipi ketika Yunho terpejam, ke
hidungnya, ke tulang pipinya yang tinggi, ke rahangnya yang mulai ditumbuhi
bakal janggut, hingga ke bibirnya yang tipis tapi penuh, bibir yang tak
terhitung lagi sudah mengecupnya berapa kali.
"Boo..."
Yunho mendesah, mengernyitkan keningnya merasakan usapan lembut Jaejoong di
wajahnya, tangannya lalu menahan jemari Jaejoong di bibirnya dan mengecupnya,
mata birunya membuka dan menatap Jaejoong bagai api biru yang menyala,
"Apapun
yang akan terjadi nanti, aku akan membuat kau mensyukuri malam ini." gumam
Yunho misterius.
Jaejoong
mengernyitkan kening mendengar kata-kata Yunho yang penuh arti. Apa maksud
Yunho?
Tapi
sebelum Jaejoong bisa berpikir lebih lanjut, Yunho sudah meggulingkan tubuh
Jaejoong dan menindihnya. Bercinta lagi dengannya.
.
.
.
.
Jaejoong
membuka pintu apartemen dengan berhati-hati dan menemukan Junsu sedang duduk di
ruang tamu sedang menyesap kopi dan menonton televisi.
Junsu
tersenyum penuh pengertian ketika menatap Jaejoong. Saat itu jam 8 pagi,
Jaejoong sengaja meminta Yunho memulangkannya pagi-pagi sehingga Changmin belum
bangun. Semalampun ia berangkat setelah yakin Changmin sudah tertidur pulas.
"Changmin
belum bangun." jawab Junsu tenang, menjawab pertanyaan di mata Jaejoong.
Jaejoong
menarik napas lega,
"Anda
menginap di sini?" tanyanya pelan.
Junsu
mengangguk,
"Boa-shi
memintaku menemani untuk berjaga-jaga, dan aku tidak keberatan, toh aku tidak
ada acara apa-apa," Junsu tersenyum lembut kepada Jaejoong, "kuharap
semalam menyelesaikan segalanya."
Pipi
Jaejoong memerah mendengar ucapan Junsu yang penuh arti itu,
"Dia
agak marah tadi pagi saat saya buru-buru pulang demi Changmin", bisik
Jaejoong pelan.
Junsu
terkekeh sambil meletakkan cangkir kopinya,
"Dia
memang begitu, tak usah pedulikan, aku yakin sebenarnya dia bahagia kau telah
memberinya kesempatan," suara Junsu berubah serius, "Dan setelah semalampun
kau tetap pada keputusanmu Jaejoong?"
Jaejoong
tercenung mendengar pertanyaan itu, sejenak ragu, tapi lalu menganggukkan
kepalanya mantap,
"Saya
harus terus bersama Changmin, dia membutuhkan saya." jawabnya lembut.
"Anda
selalu memikirkan orang lain, bagaimana dengan diri anda sendiri?" tanya Junsu
tiba-tiba.
Dengan
masih tersenyum Jaejoong menjawab,
"Saya
tidak apa-apa, saya merasa bahagia karena semua orang bahagia."
Semua
orang bahagia selain kau dan Yunho. Pikir Junsu miris ketika Jaejoong berpamitan
ke kamar untuk berganti pakaian. Junsu tahu kalau Jaejoong sama tersiksanya
dengan Yunho. Dan dia ingin berteriak marah kepada Jaejoong, memarahi
ketidakegoisan yeoja itu, sekaligus bertanya sampai kapan Jaejoong
mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan orang lain? Untuk kebahagiaan orang
lain? Junsu merasakan dorongan kuat untuk memaksa Jaejoong berbuat egois,
mementingkan kepentingannya sendiri, berusaha meraih kebahagiaannya sendiri.
Tapi dia tahu Jaejoong, dengan kebaikan hatinya yang luar biasa itu tidak akan
mau melakukannya.
Dan
tiba-tiba Junsu teringat pertemuannya dengan Yunho ketika namja itu baru pulang
dari eropa beberapa hari lalu, mata Yunho saat itu tampak penuh tekad, setengah
gila dan menyala-nyala,
.
.
.
.
"Kalau
dia tidak bisa memilihku, maka aku akan memaksanya memilihku."
Wajah
Junsu memucat mendengar nada final dalam ucapan Yunho waktu itu,
"Astaga
Jung, kau tidak sedang berencana melakukan tindakan kasar dan pemaksaan untuk
memiliki Jaejoong kan?" berbagai pikiran buruk melintas di pikirannya,
seperti kemungkinan Yunho menculik Jaejoong dan membawanya pergi, atau
kemungkinan Yunho akan menyingkirkan Changmin dengan cara kasar. Itu semua bisa
dilakukan Yunho dengan kekejaman dan kekuasaannya. Dan Junsu takut Yunho
kehilangan akal sehatnya dan memutuskan melakukan salah satu dari hal yang
ditakutinya itu.
Yunho
menarik napas panjang,
"Aku
akan membuatnya hamil anakku." gumamnya setelah jeda yang cukup lama.
Junsu
menganga mendengarnya,
"Mwo?"
Junsu sudah mendengar cukup jelas tadi, tapi dia sama sekali tidak yakin dengan
apa yang didengar telinganya, dia butuh mendengar lagi.
"Aku
akan membuatnya mengandung anakku." gumam Yunho penuh tekad.
"Kau
sudah gila Jung!" suara Junsu meninggi menyadari keseriusan dalam suara
Yunho,
Tapi
Yunho sama sekali tidak terpengaruh dengan nada marah dan ketidak setujuan
Junsun dia tetap tenang dan berpikir,
"Jika
Jaejoong mengandung anakku, mengingat sifatnya, dia tidak akan mungkin
mengugurkannya. Itu berarti dia akan mengakui hubungan kami kepada Changmin,
dan aku akan menggunakan segala cara - dengan menggunakan anak itu sebagai
alasan agar aku bisa mengklaim Jaejoong."
"Kau
gila!" seru Junsu tidak setuju, "apa kau tidak pernah memikirkan
perasaan Changmin?? Hatinya akan hancur, dan Jaejoong juga akan menderita jika
dia sadar dia telah menyakiti hati Changmin."
"Kau
pikir mereka saja yang menderita hah??" sela Yunho keras, membuat Junsu
tertegun,
"aku
juga menderita! Aku tidak bisa makan, aku tidak bisa tidur! Aku menjalani detik
demi detik, menit demi menit penuh penyiksaan!! Aku sama saja sudah mati
akhir-akhir ini! Aku juga menderita, menyadari bahwa aku bisa memiliki Jaejoong
tetapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuat yeoja itu memilihku!! Sebelum
kepulanganku aku sudah bertekad akan melakukan ini! Tidak ada yang bisa
mengahalangiku!!
"Yunho,"
Junsu melembut, mencoba meredakan emosi Yunho, "aku mengerti perasaanmu,
tapi bagaimana kalau nanti Changmin ternyata menerima kondisi Jaejoong apa
adanya dan kemudian Jaejoong memutuskan membesarkan anak itu bersama Changmin?"
"Kalau
itu terjadi, maka tidak ada cara lain kecuali dengan kekerasan," jawab
Yunho dingin,
"aku
akan memberikan ultimatum, Jaejoong memilihku, atau aku akan merenggut anak itu
darinya, kalau perlu aku akan menempuh jalur hukum."
"rencanamu
menakutkan." Junsu bergumam spontan.
Yunho
mengangguk tidak membantah,
"Ya,
apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan BooJae kembali." jawabnya
menyetujui, tanpa penyesalan dan tampak penuh tekad menjalankan rencananya.
.
.
.
.
.
.
To Be
Continue

mungkin klo yg jadi karakter Yunho itu bukan si abang bear, aq dah enekkk mampus.
ReplyDeletetapi berhubung YunJae forever ya aq dukung lol
masalah tinggal di changmin,,,
duh min,,kpan dirimu tahu sihhhh
gregettttttttttttt
yoochun kemana ??? blom keliatan lgi. kangen Uchun.
Saki TUS nya apdet ya hehehe
fighting !!!!!
Wah yunpa serem,,,
ReplyDeleteHmmm,,,
Ayolah jaema, jangan mementingkan orang lain trus, pikirkan perasaanmu ma yunpa juga ...
Semoga jaema hamil..
Smoga minnie mengerti,,
Yoosu di ending bersatu gak ya?
Semoga aja iya..
Saki, fighting,,
Hahaha.. sama chinggu.. aku juga... klo bkuakn karna yunjae forever. Aku jg ga suka sm karakter yunho yg ambisius dan egois..tp karna yg main appa bear.. yahhh capchay lahh..hahahha
ReplyDeleteSAKI...ANYYEONGHASEYO~~~
Melambai ala miss word
Si jung mulai lagi ... Kmaren dah baik sekarang mulai punya kliatan lgi jahat nya ....
ReplyDeletehuuaaa cool
ReplyDeletedo it jung
Briliant bgt emng otak mesumnya Yunho... /applause/
ReplyDelete