Yunho langsung menegakkan tubuhnya, mengangkat dagu
Jaejoong agar menatapnya,
“Ye? Katakan sekali lagi, katakan,” Yunho mendesak
ketika Jaejoong menghindari matanya. “Katakan sekali lagi Boo, aku perlu
mendengarkan lagi.”
Jaejoong menarik napas panjang, lalu menatap mata
biru yang berbinar-binar itu,
“Aku merindukanmu Yunnie, beuang mesumku.” gumamnya
lagi, lebih pelan dan bergetar.
“Demi Tuhan,” Yunho memejamkan matanya lama, lalu
memeluk Jaejoong, “betapa aku ingin mendengar pengakuan itu darimu...”
Mereka berpelukan lama, menikmati saat-saat yang
penuh dengan keheningan itu, sampai kemudian Yunho menjauhkan pelukannya dan
menatap penuh tekad,
“Keunde, kenapa kau menyebutku beruang? Aku bahkan
jauh lebih dari tampan dari seekor beruang. Dan ya, jika kau menyebutku mesum,
tapi itu hanya denganmu Boo.“
“Karena kau segendut beruang!”
“Mwo!”
Teriak Yunho protes, membuat Jaejoong tertawa.
Yunho bahagia melihat senyum Jaejoong lagi. Rasanya sudah puluhan abad dia
tidak melihat raut bahagia dimata Jaejoong.
“Kita harus berbicara dengan Changmin.”
Sacrificio de Amor
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy
Agatha
“Jangan!!!” Jaejoong langsung berteriak mencegah
dan ketakutan, “Jangan Bear!!”
Mata Yunho berkilat-kilat,
“Kau harus menentukan perasaanmu Boo, aku atau
Changmin. Salah satu dari kami harus mendapat kepastian tentang perasaanmu.”
gumamnya tegas.
Jaejoong menangis lagi, tangannya bergerak lembut,
mengelus pipis Yunho, namja itu langsung memejamkan matanya,
“Bear... Mungkin aku juga menyayangimu, mungkin aku
juga mencintaimu. Keunde, Changmin lebih membutuhkan aku, tanpa aku dia tidak
punya siapa-siapa lagi. Sedangkan kau, kau namja yang hebat, kau bisa mencari
banyak penggantiku, kau pasti masih bisa hidup tanpa aku.” gumam Jaejoong
lembut.
Ketika Yunho membuka matanya, kesakitan dan
kepedihan yang terpancar di dalamnya begitu mengiris hati Jaejoong,
“Jadi aku dikalahkan karena aku hebat?” suara Yunho
terdengar begitu pedih, “Apakah aku harus terluka parah seperti Changmin dulu
biar kau memilihku?”
“Bear!!!” Jaejoong berseru spontan, terkejut,
“Jangan pernah.... jangan pernah berpikir seperti itu, kau... kau pasti bisa
memahami keputusanku.”
Yunho melihat air mata Jaejoong yang mengalir dan
mengusapnya lembut, Kemudian Yunho merangkum pipi Jaejoong dengan kedua
tangannya, menghadapkan wajah mungil pucat pasi itu agar mau menatap matanya.
Mereka bertatapan. Yang satu penuh air mata, yang
lain penuh tekad, saling memandang dalam keheningan,
Lalu sebuah senyum kecil muncul di bibir Yunho,
“Dasar bodoh, kau tidak perlu mengatakan apa-apa
lagi. Cukup dengan kau bahagia. Itu saja, kau mengerti? Sekarang hapus air
matamu itu dan tersenyumlah!”
Sejak saat itu Yunho seolah-olah menghilang dari
kehidupan Jaejoong, Jaejoong merenung dalam mobil rumah sakit yang membawa
mereka pulang ke apartemen.
Hari ini Changmin sudah boleh pulang dari rumah
sakit, bersama Junsu dan Boa mereka pulang ke apartemen. Boa memutuskan untuk
tinggal sementara membantu Jaejoong, dan Junsu sudah berjanji akan berkunjung
setiap hari untuk mengecek kondisi Changmin dan melakukan terapi rutin.
Kata Junsu, Yunho memutuskan mengambil tugas
perjalanan ke eropa dan mungkin akan kembali dalam waktu yang lama.
Dada Jaejoong terasa nyeri, ketika sekali lagi mengakui
kenyataan itu kepada dirinya sendiri, Oh ya, dia merindukan yubbie bearnya,
sangat merindukannya. Ternyata cinta memang bisa tumbuh tanpa direncanakan.
Jaejoong mencintai Yunho. Dia tidak tahu kapan perasaan ini bertumbuh. Dia
hanya tahu dia mencintai Yunho, itu saja.
“Aku tidak menyangka atasanmu yang kelihatannya
sombong itu bisa begitu baik, meminjamkan apartemennya”, Changmin memecah
keheningan, menatap Jaejoong dengan sedikit menyelidik, dia bertanya-tanya
karena akhir-akhir ini Jaejoong begitu murung,
“Aku yang membujuknya,” Junsu yang duduk di kursi
depan cepat-cepat menjawab, tahu bahwa Jaejoong pasti kebingungan dengan
pertanyaan Changmin itu,
“Yunho adalah sahabat suamiku, aku bilang merawatmu
penting bagiku, karena kau adalah salah seorang yang selamat dari kecelakaan
yang menewaskan suamiku. Jadi Yunho mau meminjamkan apartemen itu, toh
apartemen itu tidak terpakai.”
Diam-diam Jaejoong dan Boa menarik napas lega
mendengar kelihaian Junsu menjawab.
Mereka sampai di apartemen, dan Jaejoong mendorong
kursi roda Changmin memasuki ruangan itu.
Begitu mereka masuk tanpa sadar Jaejoong
mengernyit, semua kenangan itu seolah menghantamnya.
Di sini, di apartemen ini dia menghabiskan waktu
berdua dengan Yunho, makan malam bersama, bercakap-cakap bersama….
“Apartemen yang sangat bagus, kita beruntung Jae, atasanmu
sangat baik.” Changmin mendongakkan kepalanya ke belakang menatap Jaejoong
sambil tersenyum,
Mau tak mau Jaejoong memaksakan senyuman di
bibirnya. Kuatkah ia berada di sini? Apalagi di kamar itu... Jaejoong melirik
kamarnya, tempat Yunho juga menghabiskan sebagian besar waktunya di sana.
“Ani! dia tidak mau masuk lagi ke kamar itu!”
Dengan cepat dan efisien mereka menyiapkan
segalanya sehingga Changmin selesai di terapi dan beristirahat di kamarnya. Boa
menjaganya sebentar, lalu berpamitan untuk kembali ke rumah sakit, berjanji
akan pulang dan menginap di sini nanti malam.
Setelah memastikan Changmin tertidur pulas, Junsu
menyeduh kopi dan mengajak Jaejoong duduk di ruang depan.
“Dia sudah kembali dari eropa.” Junsu membuka
percakapan, menatap Jaejoong dari atas cangkir kopi yang diteguknya.
Seketika itu juga hati Jaejoong melonjak, tahu
siapa yang di isyaratkan sebagai ‘dia’ itu.
“Apakah dia baik-baik saja?” Tanya Jaejoong pelan.
Junsu tersenyum miring mendengar kelembutan dalam
suara Jaejoong,
“Kau itu baik hati ya, sudah menerima arogansinya
yang tidak tanggung-tanggung, tetapi masih saja mencemaskannya,” dengan pelan
Junsu meletakkan cangkirnya, “Yah, dia
baik-baik saja, sedikit kurus, terlalu memaksakan diri dan jadi pemarah seperti
beruang terluka, tak ada yang berani menyinggungnya dan mendekatinya dalam
radius 100 meter kalau dia sedang mengeluarkan aura pemarahnya, bahkan direktur
keuangan memilih berhubungan dengannya via telepon,” Junsu terkekeh. Lalu
wajahnya berubah serius melihat kesedihan Jaejoong, “Yah.... dengan melupakan
fakta kalau akhir-akhir ini dia lebih seperti mayat hidup daripada manusia,
sepertinya dia baik-baik saja.”
Jaejoong memalingkan wajahnya dengan pedih,
“Dia menderita Jae...” desah Junsu kemudian, “Aku
tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya.”
“Cukup...” Jaejoong tidak tahan lagi mendengarnya,
penderitaan Yunho serasa mengiris-iris hatinya, “aku tidak mau mendengar lagi.”
Junsu menarik napas,
“Tapi tadi dia memintaku menyampaikan pesan
kepadamu.”
Kata-kata Junsu yang menggantung membuat Jaejoong
menoleh, tertarik,
“Pesan?”
Junsu menggangguk,
“Ya, sebuah pesan... malam ini jam delapan,
ditunggu di restourannya,“ lalu Junsu menyebutkan nama sebuah hotel,
Dan Jaejoong mengernyit, hotel tempat pertama kali
dia bersama Yunho.
.
.
.
.
Jaejoong merasa tidak nyaman, pakaiannya terlalu
biasa-biasa saja untuk ukuran hotel yang mewah ini. Dia berdiri dengan kikuk di
lobby, tak tahu harus berbuat apa.
Entah dorongan apa yang membuatnya datang menemui
Yunho malam ini. Dia tahu dia nekat, seperti memancing iblis untuk membakarnya.
Tapi dia tidak bisa menahan diri. Dia ingin bertemu Yunho, walaupun mungkin ini
untuk terakhir kalinya.
“Ada yang bisa kami bantu agashi?” Namja petugas
hotel itu datang menghampiri, sepertinya melihat kebingungan Jaejoong,
“Eh saya...saya Kim Jaejoong...saya sudah
ditunggu...”
“Ah ne, Kim agashi,” petugas itu berubah sopan dan
membungkukkan tubuh, “silahkan, anda sudah ditunggu, mari saya antar.”
Dengan ragu Jaejoong melangkah mengikuti petugas
hotel itu, memasuki restaurant yang tertata dengan mewah dan elegan.
Dan disanalah Yunho, duduk dengan pakaian resminya,
mata Yunho sudah melihatnya ketika dia memasuki ruangan. Dan tidak lepas
memandanginya dengan tajam setelahnya.
Ketika Jaejoong mendekat, Yunho berdiri dengan
sopan lalu duduk lagi setelah Jaejoong duduk,
Hening sejenak, masing-masing sibuk dengan
pikirannya sendiri.
“Gomapta sudah datang Boo.” gumam Yunho lembut,
Jaejoong mengangguk, matanya berkaca-kaca melihat
kelembutan tatapan Yunho.
“Mungkin ini untuk terakhir kalinya, mungkin
setelah ini aku tidak akan datang lagi.” gumam Jaejoong pelan.
Yunho menggangguk,
“Setelah ini aku tidak akan pernah memintamu datang
lagi.”
Hening lagi. Sampai pelayan membawakan makanan
pembuka, mereka makan malam dalam diam.
Sampai kemudian Yunho menuangkan anggur ke gelas
Jaejoong,
Jaejoong mengernyit,
“Aku tidak pernah minum alkohol.” (Anggap Jae gak
bisa minum ne)
Yunho tersenyum menggoda, senyum pertamanya malam
itu,
“Tenang saja, aku akan menjagamu. Kemungkinan
terburuknya mungkin kau diperkosa saat mabuk.”
Pipi Jaejoong langsung merona dan Yunho terkekeh.
Anggur itu mencairkan segalanya, suasana menjadi
hangat, dan percakapan mereka mengalir lancar, Yunho menceritakan tentang
perjalanannya ke Eropa dan Jaejoong mendengarkannya dengan penuh minat.
Sampai kemudian, Yunho menggenggam tangan Jaejoong
lalu mengecupnya,
“Aku ingin memelukmu.”
Hanya satu kalimat, tapi Jaejoong mengerti. Dia
menganggukkan kepalanya. Entah kenapa dia menyetujuinya. Mungkin karena anggur
itu sudah mempengaruhi pikiran normalnya. Yang pasti Jaejoong juga ingin
merasakan pelukan Yunho.
Dengan lembut Yunho menghela Jaejoong, melangkah ke
lantai atas,
Ketika Yunho membuka pintu kamar, Jaejoong menatap
Yunho bingung, dan Yunho tertawa menyadari kebingungan Jaejoong,
“Yah... kamar yang sama... Kuakui... aku memang
agak sedikit sentimental,” Yunho mengangkat bahu, pipinya sedikit merona,
“Kupikir... tempat saat pertama akan cocok untuk menjadi tempat saat terakhir
kita.”
Jaejoong tersenyum lembut, dan membiarkan Yunho
membimbingnya memasuki kamar,
Mereka berdiri dengan canggung, sampai Yunho
mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya,
“Aku membawa cincin keluargaku, cincin yang
diberikan turun-temurun untuk pengantin yeoja,” dengan tenang dia membuka kotak
itu dan menunjukkan cincin dengan berlian biru yang mungil dan cantik, “Aku
ingin memberikannya kepadamu.”
“Andwae!!” Jaejoong langsung berseru keras,
menolak, “Andwae bear, itu... itu cincin yang sangat penting, itu untuk
pengantin yeojamu!”
“Bagiku, kaulah pengantin yeojaku,” Yunho menarik
tangan Jaejoong, memaksa memasangkan cincin itu ketangannya, lalu
menggenggamnya erat-erat ketika Jaejoong berusaha melepaskan cincin itu, “Aku
ingin kau memilikinya.”
“Yunho...” Jaejoong merintih penuh penderitaan,
penuh air mata, Dan Yunho mengusap air matanya lembut, mengecup air matanya
lembut,
“BooJae,” bisiknya seolah kesakitan, lalu mencium
bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan, “Ya tuhan Boo, kau tidak tahu...
Betapa aku merindukanmu...”
Ciumannya semakin dalam, semakin bergairah, semakin
penuh kerinduan, tak tertahankan....
.
.
.
.
Yunho melepaskan ciumannya dan menatap Jaejoong
lembut,
"Kau mabuk ya?" senyumnya. Merasa senang
karena Jaejoong membalas ciumannya dengan sama bergairahnya.
Jaejoong hanya merangkulkan tangannya erat-erat di
leher Yunho, merasakan benaknya melayang-layang. Sepertinya dia memang mabuk,
karena sekarang dia merasa bebas dan begitu nyaman bersama Yunho.
Yunho terkekeh geli,
"Aku senang kalau kau mabuk, kau begitu
penurut dan tidak takut-takut," dengan lembut Yunho mengecup telinga
Jaejoong, mencumbunya dengan penuh kelembutan, "biarkan aku mencintaimu
malam ini Jung Jaejoong...."
Dengan lembut Yunho menghela Jaejoong ke atas tempat
tidur dan mengecupi wajahnya penuh perasaan, "selama ini kita berhubungan
seks...tapi malam ini aku berjanji, kita akan.... bercinta."
Yunho menggerakkan tangannya menurunkan gaun
Jaejoong dan mulai mengecupi pundaknya, tersenyum senang ketika mendengar
desahan Jaejoong,
"Hmm, kau senang Boo? Katakan kau menyukainya"
dengan penuh perasaan di kecupinya semua permukaan kulit Jaejoong.
Jaejoong merasa dirinya melayang-layang, pengaruh
alkohol, ditambah kemesraan Yunho yang luar biasa membuatnya merasa di
awang-awang, dibukanya matanya, “Ya bear, aku menyukai semua sentuhanmu.” dan
samar-samar dilihatnya Yunho mengecupi jemarinya, ketika Yunho menatapnya, mata
namja itu tampak berkilauan,
Posisi mereka begitu intim, telanjang bersama
dengan tubuh menyatu. Yunho mendesakkan dirinya lebih rapat, menikmati tubuh
yeojanya yang melingkupinya. Dadanya serasa membuncah oleh perasaan hangat,
ketika mata mereka bersatu dalam pesan yang tersirat,
"Aku mencintaimu." bisik Yunho lembut.
Dan Jaejoongpun melayang, terbawa oleh cinta Yunho.
.
.
.
.
Yunho memeluk tubuh Jaejoong yang lunglai dan
terlelap, tubuhnya rileks setelah percintaan mereka. Tapi otaknya berpikir
keras.
Dia sengaja membuat Jaejoong mabuk malam ini, agar
Jaejoong tidak waspada, agar Jaejoong tidak menyadari, tidak menyadari apa yang
sudah dia rencanakan jauh sebelumnya.
Dia tidak memakai pelindung saat mereka bercinta
tadi. Dia berusaha membuat Jaejoong hamil.
Yunho memejamkan mata dan mengernyit ketika
sengatan rasa bersalah menyerbunya. Dia telah memanipulasi ketulusan perasaan
Jaejoong dengan menjebaknya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah berusaha
melupakan Jaejoong. Tuhan tahu dia berusaha sangat keras, apa saja agar
Jaejoong bahagia bersama Changmin yang sudah dipilihnya. Dia bahkan mengajukan
diri untuk perjalanan bisnis ke luar negeri agar bisa melupakan Jaejoong. Tapi
yeoja itu membayanginya, membuatnya gelisah dan tidak bisa berkonsentrasi.
Yunho merasa dirinya nyaris gila ketika memutuskan akan pulang dan memutuskan
untuk memiliki Jaejoong dengan cara apapun. Jika Jaejoong tidak mau memilihnya,
maka Yunho akan memaksa Jaejoong memilihnya!
Dengan lembut Yunho mengecup dahi Jaejoong yang
berbaring di lengannya. Sebelah tangannya meraba perut Jaejoong yang telanjang
di balik selimut dan mengelusnya.
Anakku
mungkin sudah bertumbuh di sini, pikirnya posesif.
Rasa memiliki dengan intensitas luar biasa muncul
tiba-tiba dalam hatinya ketika menyadari bahwa anaknya mungkin sudah mulai
bertumbuh dan terbentuk di dalam rahim Jaejoong. Dengan lembut diusapnya perut
Jaejoong, Yunho tidak bisa menahan diri, pelan-pelan diletakkannya kepala
Jaejoong di bantal, lalu dia bergerak turun dan mengecup perut Jaejoong,
"Kau harus tumbuh di sana," bisiknya
penuh tekad, "Kau harus tumbuh sehat dan kuat di sana, agar appamu bisa
bersama dengan eommamu", Yunho berbicara sambil mengecup perut Jaejoong.
Kemungkinan bayi itu terbentuk dari percintaan
mereka adalah 80%, Yunho sudah mempelajarinya dari semua referensi yang bisa ia
dapat, ia mengetahui bahwa dari
rata-rata umur mereka berdua kemungkinan Jaejoong hamil malam ini sangat besar,
dan diam-diam dia sudah mencocokkan dengan siklus Jaejoong, dia tahu yeoja itu
sedang dalam masa suburnya.
Ciuman-ciuman lembut di perutnya itu membuat
Jaejoong terbangun, dia membuka mata dan menatap Yunho,
"Bear?" Jaejoong bertanya-tanya kenapa
Yunho mengecup perutnya.
Yunho tersenyum, senyum yang sedikit kejam menurut
Jaejoong, tapi usapan tangan namja itu yang dilakukan sambil lalu di sepanjang
kulitnya yang telanjang, terasa begitu lembut sekaligus menggoda,
"Aku bergairah lagi." gumam Yunho Serak,
lalu bergerak naik dan mengecup bibir Jaejoong penuh gairah.
Yunho berbeda dengan tadi, pikir Jaejoong, kali ini
sedikit lebih kasar, tidak menahan diri dan sangat posesif. Ciumannya begitu
bergairah, melumat bibir Jaejoong kuat-kuat, lidahnya menjelajahi mulut
Jaejoong dengan panas, tangannya mengusap tubuh Jaejoong penuh gairah,
"Kau milikku Boo." gumam Yunho parau
sebelum bercinta lagi dengan Jaejoong.
.
.
.
.
.
To Be Continue
Mian, Saki baru update, seharian gak nyentuh laptop sama sekali...
Semakin mendekati final nih... Yunho sudah mulai unjuk gigi, tidak menyerahkan Jae kesiapapun.

Ihh..kt sehati yahh..baru aja buka blog ini..eh semeenit lalu Saki apdet.
ReplyDeleteWow...wow...yunho..sedikit picik sihh memang.. tp memang yunjae harus bersama.. faithing appe bear
apapun lah cara yun buat dapetin jj,, aq dukung #plakk
ReplyDeletecepetan dong Min tau ttg yunjae,,,dan ngerelain jj buat yun dan ma junsu aja -MinSu-
kkkkkk
maki n deket ma ending,,,gak sabarrrr
Sakiiiiii mau lgiiiii
fighting !!!!!
yunho picik tp aku suka
ReplyDeletesemoga jadi anak ....
yuho aku mendukungmu
Yah apapun dan bagaimana pun cara'y elephant umma hrs bersatu sma appa bear ^^
ReplyDeleteSakiii d mhn d lanjutkan chap berikut'y...
~Fighthing ~
Mudah2an hamil ya yunpa...
ReplyDeleteMakasih saki..
Mudah2an cangmin dapat mengerti..
Yunjae forever..
Aku pikir yunho akan menyerah tp ternyata nggak. Syukur deh. Berharap Jae cepet hamil *ketawanisatabarengYunho
ReplyDeleteYunho maju terus pantang mundur!! Aigoo, obsesi makin besar nih Yunho. Changmin, kemarilah! Biar aku peluk. gak bakal tega liat Changmin tau kenyataan tentang Jeje, belom lagi akal bulus Yunho! Haaahh, Changminie ;(
ReplyDeletePasti langsung jadi tuch secara bikin nya beronde2
ReplyDeleteStelah jae hamil
jae mutlak milik yunho seorang
semoga changmin tabah menghadapi nya
yei ceritain aja ke min ttghub kalian
ReplyDeletemmg agk jahat seh disaat kondisi min yg kyk gni
Ckckck....
ReplyDeleteApa2an itu Yunho malah ngejebak Jaejae...
Tp bagus! Teruskan! Kkkkkkk.....