Sunday, March 30

[Remake] Sacrificio de Amor Chapter XXII


Yunho langsung menegakkan tubuhnya, mengangkat dagu Jaejoong agar menatapnya,
“Ye? Katakan sekali lagi, katakan,” Yunho mendesak ketika Jaejoong menghindari matanya. “Katakan sekali lagi Boo, aku perlu mendengarkan lagi.”
Jaejoong menarik napas panjang, lalu menatap mata biru yang berbinar-binar itu,
“Aku merindukanmu Yunnie, beuang mesumku.” gumamnya lagi, lebih pelan dan bergetar.
“Demi Tuhan,” Yunho memejamkan matanya lama, lalu memeluk Jaejoong, “betapa aku ingin mendengar pengakuan itu darimu...”
Mereka berpelukan lama, menikmati saat-saat yang penuh dengan keheningan itu, sampai kemudian Yunho menjauhkan pelukannya dan menatap penuh tekad,
“Keunde, kenapa kau menyebutku beruang? Aku bahkan jauh lebih dari tampan dari seekor beruang. Dan ya, jika kau menyebutku mesum, tapi itu hanya denganmu Boo.“
“Karena kau segendut beruang!”
“Mwo!”
Teriak Yunho protes, membuat Jaejoong tertawa. Yunho bahagia melihat senyum Jaejoong lagi. Rasanya sudah puluhan abad dia tidak melihat raut bahagia dimata Jaejoong.
“Kita harus berbicara dengan Changmin.”

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy Agatha
“Jangan!!!” Jaejoong langsung berteriak mencegah dan ketakutan, “Jangan Bear!!”
Mata Yunho berkilat-kilat,
“Kau harus menentukan perasaanmu Boo, aku atau Changmin. Salah satu dari kami harus mendapat kepastian tentang perasaanmu.” gumamnya tegas.
Jaejoong menangis lagi, tangannya bergerak lembut, mengelus pipis Yunho, namja itu langsung memejamkan matanya,
“Bear... Mungkin aku juga menyayangimu, mungkin aku juga mencintaimu. Keunde, Changmin lebih membutuhkan aku, tanpa aku dia tidak punya siapa-siapa lagi. Sedangkan kau, kau namja yang hebat, kau bisa mencari banyak penggantiku, kau pasti masih bisa hidup tanpa aku.” gumam Jaejoong lembut.
Ketika Yunho membuka matanya, kesakitan dan kepedihan yang terpancar di dalamnya begitu mengiris hati Jaejoong,
“Jadi aku dikalahkan karena aku hebat?” suara Yunho terdengar begitu pedih, “Apakah aku harus terluka parah seperti Changmin dulu biar kau memilihku?”
“Bear!!!” Jaejoong berseru spontan, terkejut, “Jangan pernah.... jangan pernah berpikir seperti itu, kau... kau pasti bisa memahami keputusanku.”
Yunho melihat air mata Jaejoong yang mengalir dan mengusapnya lembut, Kemudian Yunho merangkum pipi Jaejoong dengan kedua tangannya, menghadapkan wajah mungil pucat pasi itu agar mau menatap matanya.
Mereka bertatapan. Yang satu penuh air mata, yang lain penuh tekad, saling memandang dalam keheningan,
Lalu sebuah senyum kecil muncul di bibir Yunho,
“Dasar bodoh, kau tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Cukup dengan kau bahagia. Itu saja, kau mengerti? Sekarang hapus air matamu itu dan tersenyumlah!”
Sejak saat itu Yunho seolah-olah menghilang dari kehidupan Jaejoong, Jaejoong merenung dalam mobil rumah sakit yang membawa mereka pulang ke apartemen.
Hari ini Changmin sudah boleh pulang dari rumah sakit, bersama Junsu dan Boa mereka pulang ke apartemen. Boa memutuskan untuk tinggal sementara membantu Jaejoong, dan Junsu sudah berjanji akan berkunjung setiap hari untuk mengecek kondisi Changmin dan melakukan terapi rutin.
Kata Junsu, Yunho memutuskan mengambil tugas perjalanan ke eropa dan mungkin akan kembali dalam waktu yang lama.
Dada Jaejoong terasa nyeri, ketika sekali lagi mengakui kenyataan itu kepada dirinya sendiri, Oh ya, dia merindukan yubbie bearnya, sangat merindukannya. Ternyata cinta memang bisa tumbuh tanpa direncanakan. Jaejoong mencintai Yunho. Dia tidak tahu kapan perasaan ini bertumbuh. Dia hanya tahu dia mencintai Yunho, itu saja.
“Aku tidak menyangka atasanmu yang kelihatannya sombong itu bisa begitu baik, meminjamkan apartemennya”, Changmin memecah keheningan, menatap Jaejoong dengan sedikit menyelidik, dia bertanya-tanya karena akhir-akhir ini Jaejoong begitu murung,
“Aku yang membujuknya,” Junsu yang duduk di kursi depan cepat-cepat menjawab, tahu bahwa Jaejoong pasti kebingungan dengan pertanyaan Changmin itu,
“Yunho adalah sahabat suamiku, aku bilang merawatmu penting bagiku, karena kau adalah salah seorang yang selamat dari kecelakaan yang menewaskan suamiku. Jadi Yunho mau meminjamkan apartemen itu, toh apartemen itu tidak terpakai.”
Diam-diam Jaejoong dan Boa menarik napas lega mendengar kelihaian Junsu menjawab.
Mereka sampai di apartemen, dan Jaejoong mendorong kursi roda Changmin memasuki ruangan itu.
Begitu mereka masuk tanpa sadar Jaejoong mengernyit, semua kenangan itu seolah menghantamnya.
Di sini, di apartemen ini dia menghabiskan waktu berdua dengan Yunho, makan malam bersama, bercakap-cakap bersama….
“Apartemen yang sangat bagus, kita beruntung Jae, atasanmu sangat baik.” Changmin mendongakkan kepalanya ke belakang menatap Jaejoong sambil tersenyum,
Mau tak mau Jaejoong memaksakan senyuman di bibirnya. Kuatkah ia berada di sini? Apalagi di kamar itu... Jaejoong melirik kamarnya, tempat Yunho juga menghabiskan sebagian besar waktunya di sana.
“Ani! dia tidak mau masuk lagi ke kamar itu!”
Dengan cepat dan efisien mereka menyiapkan segalanya sehingga Changmin selesai di terapi dan beristirahat di kamarnya. Boa menjaganya sebentar, lalu berpamitan untuk kembali ke rumah sakit, berjanji akan pulang dan menginap di sini nanti malam.
Setelah memastikan Changmin tertidur pulas, Junsu menyeduh kopi dan mengajak Jaejoong duduk di ruang depan.
“Dia sudah kembali dari eropa.” Junsu membuka percakapan, menatap Jaejoong dari atas cangkir kopi yang diteguknya.
Seketika itu juga hati Jaejoong melonjak, tahu siapa yang di isyaratkan sebagai ‘dia’ itu.
“Apakah dia baik-baik saja?” Tanya Jaejoong pelan.
Junsu tersenyum miring mendengar kelembutan dalam suara Jaejoong,
“Kau itu baik hati ya, sudah menerima arogansinya yang tidak tanggung-tanggung, tetapi masih saja mencemaskannya,” dengan pelan Junsu  meletakkan cangkirnya, “Yah, dia baik-baik saja, sedikit kurus, terlalu memaksakan diri dan jadi pemarah seperti beruang terluka, tak ada yang berani menyinggungnya dan mendekatinya dalam radius 100 meter kalau dia sedang mengeluarkan aura pemarahnya, bahkan direktur keuangan memilih berhubungan dengannya via telepon,” Junsu terkekeh. Lalu wajahnya berubah serius melihat kesedihan Jaejoong, “Yah.... dengan melupakan fakta kalau akhir-akhir ini dia lebih seperti mayat hidup daripada manusia, sepertinya dia baik-baik saja.”
Jaejoong memalingkan wajahnya dengan pedih,
“Dia menderita Jae...” desah Junsu kemudian, “Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya.”
“Cukup...” Jaejoong tidak tahan lagi mendengarnya, penderitaan Yunho serasa mengiris-iris hatinya, “aku tidak mau mendengar lagi.”
Junsu menarik napas,
“Tapi tadi dia memintaku menyampaikan pesan kepadamu.”
Kata-kata Junsu yang menggantung membuat Jaejoong menoleh, tertarik,
“Pesan?”
Junsu menggangguk,
“Ya, sebuah pesan... malam ini jam delapan, ditunggu di restourannya,“ lalu Junsu menyebutkan nama sebuah hotel,
Dan Jaejoong mengernyit, hotel tempat pertama kali dia bersama Yunho.
.
.
.
.
Jaejoong merasa tidak nyaman, pakaiannya terlalu biasa-biasa saja untuk ukuran hotel yang mewah ini. Dia berdiri dengan kikuk di lobby, tak tahu harus berbuat apa.
Entah dorongan apa yang membuatnya datang menemui Yunho malam ini. Dia tahu dia nekat, seperti memancing iblis untuk membakarnya. Tapi dia tidak bisa menahan diri. Dia ingin bertemu Yunho, walaupun mungkin ini untuk terakhir kalinya.
“Ada yang bisa kami bantu agashi?” Namja petugas hotel itu datang menghampiri, sepertinya melihat kebingungan Jaejoong,
“Eh saya...saya Kim Jaejoong...saya sudah ditunggu...”
“Ah ne, Kim agashi,” petugas itu berubah sopan dan membungkukkan tubuh, “silahkan, anda sudah ditunggu, mari saya antar.”
Dengan ragu Jaejoong melangkah mengikuti petugas hotel itu, memasuki restaurant yang tertata dengan mewah dan elegan.
Dan disanalah Yunho, duduk dengan pakaian resminya, mata Yunho sudah melihatnya ketika dia memasuki ruangan. Dan tidak lepas memandanginya dengan tajam setelahnya.
Ketika Jaejoong mendekat, Yunho berdiri dengan sopan lalu duduk lagi setelah Jaejoong duduk,
Hening sejenak, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Gomapta sudah datang Boo.” gumam Yunho lembut,
Jaejoong mengangguk, matanya berkaca-kaca melihat kelembutan tatapan Yunho.
“Mungkin ini untuk terakhir kalinya, mungkin setelah ini aku tidak akan datang lagi.” gumam Jaejoong pelan.
Yunho menggangguk,
“Setelah ini aku tidak akan pernah memintamu datang lagi.”
Hening lagi. Sampai pelayan membawakan makanan pembuka, mereka makan malam dalam diam.
Sampai kemudian Yunho menuangkan anggur ke gelas Jaejoong,
Jaejoong mengernyit,
“Aku tidak pernah minum alkohol.” (Anggap Jae gak bisa minum ne)
Yunho tersenyum menggoda, senyum pertamanya malam itu,
“Tenang saja, aku akan menjagamu. Kemungkinan terburuknya mungkin kau diperkosa saat mabuk.”
Pipi Jaejoong langsung merona dan Yunho terkekeh.
Anggur itu mencairkan segalanya, suasana menjadi hangat, dan percakapan mereka mengalir lancar, Yunho menceritakan tentang perjalanannya ke Eropa dan Jaejoong mendengarkannya dengan penuh minat.
Sampai kemudian, Yunho menggenggam tangan Jaejoong lalu mengecupnya,
“Aku ingin memelukmu.”
Hanya satu kalimat, tapi Jaejoong mengerti. Dia menganggukkan kepalanya. Entah kenapa dia menyetujuinya. Mungkin karena anggur itu sudah mempengaruhi pikiran normalnya. Yang pasti Jaejoong juga ingin merasakan pelukan Yunho.
Dengan lembut Yunho menghela Jaejoong, melangkah ke lantai atas,
Ketika Yunho membuka pintu kamar, Jaejoong menatap Yunho bingung, dan Yunho tertawa menyadari kebingungan Jaejoong,
“Yah... kamar yang sama... Kuakui... aku memang agak sedikit sentimental,” Yunho mengangkat bahu, pipinya sedikit merona, “Kupikir... tempat saat pertama akan cocok untuk menjadi tempat saat terakhir kita.”
Jaejoong tersenyum lembut, dan membiarkan Yunho membimbingnya memasuki kamar,
Mereka berdiri dengan canggung, sampai Yunho mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya,
“Aku membawa cincin keluargaku, cincin yang diberikan turun-temurun untuk pengantin yeoja,” dengan tenang dia membuka kotak itu dan menunjukkan cincin dengan berlian biru yang mungil dan cantik, “Aku ingin memberikannya kepadamu.”
“Andwae!!” Jaejoong langsung berseru keras, menolak, “Andwae bear, itu... itu cincin yang sangat penting, itu untuk pengantin yeojamu!”
“Bagiku, kaulah pengantin yeojaku,” Yunho menarik tangan Jaejoong, memaksa memasangkan cincin itu ketangannya, lalu menggenggamnya erat-erat ketika Jaejoong berusaha melepaskan cincin itu, “Aku ingin kau memilikinya.”
“Yunho...” Jaejoong merintih penuh penderitaan, penuh air mata, Dan Yunho mengusap air matanya lembut, mengecup air matanya lembut,
“BooJae,” bisiknya seolah kesakitan, lalu mencium bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan, “Ya tuhan Boo, kau tidak tahu... Betapa aku merindukanmu...”
Ciumannya semakin dalam, semakin bergairah, semakin penuh kerinduan, tak tertahankan....
.
.
.
.
Yunho melepaskan ciumannya dan menatap Jaejoong lembut,
"Kau mabuk ya?" senyumnya. Merasa senang karena Jaejoong membalas ciumannya dengan sama bergairahnya.
Jaejoong hanya merangkulkan tangannya erat-erat di leher Yunho, merasakan benaknya melayang-layang. Sepertinya dia memang mabuk, karena sekarang dia merasa bebas dan begitu nyaman bersama Yunho.
Yunho terkekeh geli,
"Aku senang kalau kau mabuk, kau begitu penurut dan tidak takut-takut," dengan lembut Yunho mengecup telinga Jaejoong, mencumbunya dengan penuh kelembutan, "biarkan aku mencintaimu malam ini Jung Jaejoong...."
Dengan lembut Yunho menghela Jaejoong ke atas tempat tidur dan mengecupi wajahnya penuh perasaan, "selama ini kita berhubungan seks...tapi malam ini aku berjanji, kita akan.... bercinta."
Yunho menggerakkan tangannya menurunkan gaun Jaejoong dan mulai mengecupi pundaknya, tersenyum senang ketika mendengar desahan Jaejoong,
"Hmm, kau senang Boo? Katakan kau menyukainya" dengan penuh perasaan di kecupinya semua permukaan kulit Jaejoong.
Jaejoong merasa dirinya melayang-layang, pengaruh alkohol, ditambah kemesraan Yunho yang luar biasa membuatnya merasa di awang-awang, dibukanya matanya, “Ya bear, aku menyukai semua sentuhanmu.” dan samar-samar dilihatnya Yunho mengecupi jemarinya, ketika Yunho menatapnya, mata namja itu tampak berkilauan,
Posisi mereka begitu intim, telanjang bersama dengan tubuh menyatu. Yunho mendesakkan dirinya lebih rapat, menikmati tubuh yeojanya yang melingkupinya. Dadanya serasa membuncah oleh perasaan hangat, ketika mata mereka bersatu dalam pesan yang tersirat,
"Aku mencintaimu." bisik Yunho lembut. Dan Jaejoongpun melayang, terbawa oleh cinta Yunho.
.
.
.
.
Yunho memeluk tubuh Jaejoong yang lunglai dan terlelap, tubuhnya rileks setelah percintaan mereka. Tapi otaknya berpikir keras.
Dia sengaja membuat Jaejoong mabuk malam ini, agar Jaejoong tidak waspada, agar Jaejoong tidak menyadari, tidak menyadari apa yang sudah dia rencanakan jauh sebelumnya.
Dia tidak memakai pelindung saat mereka bercinta tadi. Dia berusaha membuat Jaejoong hamil.
Yunho memejamkan mata dan mengernyit ketika sengatan rasa bersalah menyerbunya. Dia telah memanipulasi ketulusan perasaan Jaejoong dengan menjebaknya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah berusaha melupakan Jaejoong. Tuhan tahu dia berusaha sangat keras, apa saja agar Jaejoong bahagia bersama Changmin yang sudah dipilihnya. Dia bahkan mengajukan diri untuk perjalanan bisnis ke luar negeri agar bisa melupakan Jaejoong. Tapi yeoja itu membayanginya, membuatnya gelisah dan tidak bisa berkonsentrasi. Yunho merasa dirinya nyaris gila ketika memutuskan akan pulang dan memutuskan untuk memiliki Jaejoong dengan cara apapun. Jika Jaejoong tidak mau memilihnya, maka Yunho akan memaksa Jaejoong memilihnya!
Dengan lembut Yunho mengecup dahi Jaejoong yang berbaring di lengannya. Sebelah tangannya meraba perut Jaejoong yang telanjang di balik selimut dan mengelusnya.
Anakku mungkin sudah bertumbuh di sini, pikirnya posesif.
Rasa memiliki dengan intensitas luar biasa muncul tiba-tiba dalam hatinya ketika menyadari bahwa anaknya mungkin sudah mulai bertumbuh dan terbentuk di dalam rahim Jaejoong. Dengan lembut diusapnya perut Jaejoong, Yunho tidak bisa menahan diri, pelan-pelan diletakkannya kepala Jaejoong di bantal, lalu dia bergerak turun dan mengecup perut Jaejoong,
"Kau harus tumbuh di sana," bisiknya penuh tekad, "Kau harus tumbuh sehat dan kuat di sana, agar appamu bisa bersama dengan eommamu", Yunho berbicara sambil mengecup perut Jaejoong.
Kemungkinan bayi itu terbentuk dari percintaan mereka adalah 80%, Yunho sudah mempelajarinya dari semua referensi yang bisa ia dapat, ia mengetahui bahwa  dari rata-rata umur mereka berdua kemungkinan Jaejoong hamil malam ini sangat besar, dan diam-diam dia sudah mencocokkan dengan siklus Jaejoong, dia tahu yeoja itu sedang dalam masa suburnya.
Ciuman-ciuman lembut di perutnya itu membuat Jaejoong terbangun, dia membuka mata dan menatap Yunho,
"Bear?" Jaejoong bertanya-tanya kenapa Yunho mengecup perutnya.
Yunho tersenyum, senyum yang sedikit kejam menurut Jaejoong, tapi usapan tangan namja itu yang dilakukan sambil lalu di sepanjang kulitnya yang telanjang, terasa begitu lembut sekaligus menggoda,
"Aku bergairah lagi." gumam Yunho Serak, lalu bergerak naik dan mengecup bibir Jaejoong penuh gairah.
Yunho berbeda dengan tadi, pikir Jaejoong, kali ini sedikit lebih kasar, tidak menahan diri dan sangat posesif. Ciumannya begitu bergairah, melumat bibir Jaejoong kuat-kuat, lidahnya menjelajahi mulut Jaejoong dengan panas, tangannya mengusap tubuh Jaejoong penuh gairah,
"Kau milikku Boo." gumam Yunho parau sebelum bercinta lagi dengan Jaejoong.
.
.
.
.
.
To Be Continue
Mian, Saki baru update, seharian gak nyentuh laptop sama sekali...
Semakin mendekati final nih... Yunho sudah mulai unjuk gigi, tidak menyerahkan Jae kesiapapun.

10 comments:

  1. Jaenna ♥8:59 PM

    Ihh..kt sehati yahh..baru aja buka blog ini..eh semeenit lalu Saki apdet.
    Wow...wow...yunho..sedikit picik sihh memang.. tp memang yunjae harus bersama.. faithing appe bear

    ReplyDelete
  2. apapun lah cara yun buat dapetin jj,, aq dukung #plakk

    cepetan dong Min tau ttg yunjae,,,dan ngerelain jj buat yun dan ma junsu aja -MinSu-
    kkkkkk

    maki n deket ma ending,,,gak sabarrrr

    Sakiiiiii mau lgiiiii

    fighting !!!!!

    ReplyDelete
  3. Anonymous9:45 PM

    yunho picik tp aku suka
    semoga jadi anak ....
    yuho aku mendukungmu

    ReplyDelete
  4. Anonymous10:22 PM

    Yah apapun dan bagaimana pun cara'y elephant umma hrs bersatu sma appa bear ^^

    Sakiii d mhn d lanjutkan chap berikut'y...

    ~Fighthing ~

    ReplyDelete
  5. Mudah2an hamil ya yunpa...
    Makasih saki..

    Mudah2an cangmin dapat mengerti..
    Yunjae forever..

    ReplyDelete
  6. Aku pikir yunho akan menyerah tp ternyata nggak. Syukur deh. Berharap Jae cepet hamil *ketawanisatabarengYunho

    ReplyDelete
  7. Anonymous12:37 AM

    Yunho maju terus pantang mundur!! Aigoo, obsesi makin besar nih Yunho. Changmin, kemarilah! Biar aku peluk. gak bakal tega liat Changmin tau kenyataan tentang Jeje, belom lagi akal bulus Yunho! Haaahh, Changminie ;(

    ReplyDelete
  8. Pasti langsung jadi tuch secara bikin nya beronde2
    Stelah jae hamil
    jae mutlak milik yunho seorang
    semoga changmin tabah menghadapi nya

    ReplyDelete
  9. yei ceritain aja ke min ttghub kalian
    mmg agk jahat seh disaat kondisi min yg kyk gni

    ReplyDelete
  10. Ckckck....
    Apa2an itu Yunho malah ngejebak Jaejae...
    Tp bagus! Teruskan! Kkkkkkk.....

    ReplyDelete