Monday, March 31

[Remake] The Untittled Story Chapter X


Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita


Chapter 10
Jessica gwijangngnim tidak senang aku pindah ke ruang makan. Dia ingin aku di lapangan. Dia juga ingin aku mengawasi Junsu. Junsu cerita, dia tidak bersama Yoochun lagi. Dia bertemu dengan Yoochun untuk minum kopi karena Yoochun menelponnya dua puluh kali sore itu. Dia bilang padanya jika dia hanya menjadi rahasia kecil maka itu sudah berakhir. Yoochun meminta dan memohon, tapi menolak untuk mengakui Junsu ke lingkaran pertemanannya dan akhirnya Junsu mencampakkannya, memilih untuk pergi dari namja konyol itu. Aku begitu bangga.
Besok adalah hari liburku dan Junsu sudah datang mencariku untuk memastikan kami jadi ke Mirotic. Tentu saja kami akan pergi kesana. Aku butuh seorang namja, namja mana saja untuk mengeluarkan Yunho dari pikiranku.
Aku mengikuti Seok Chun gwajangnim sepanjang hari. Dia melatihku. Dia menarik, tinggi, karismatik dan menurut pengakuannya dia Gay padaku, entahlah kenapa dia memilih jujur padaku. Para anggota klub tidak tahu ini sama sekali. Dia main mata dengan yeoja tanpa malu-malu. Mereka benar-benar menikmatinya. Dia akan melihat kembali padaku dan mengedipkan mata ketika seseorang akan berbisik hal-hal nakal di telinganya. Namja itu seorang playboy dan ahli dalam hal itu.
Setelah jam tugasnya selesai kami kembali ke ruang istirahat staf dan menggantung celemek hitam panjang yang harus di pakai di atas seragam kami. "Kau akan jadi primadona, Jae. Para namja menyukaimu dan para yeoja terkesan olehmu. Tidak bermaksud menyinggungmu manis, tapi yeoja yang memiliki body dan tubuh seperti milikmu biasanya tidak bisa berjalan lurus tanpa cekikikan."
Aku tersenyum padanya. "Begitukah? Aku tersinggung dengan komentar itu."
Seok Chun gwajangnim memutar matanya dan mengulurkan tangan untuk menjitak kepalaku. "Aniyo, kau tidak tersinggung. Kau tahu kau adalah yeoja nakal yang mengejutkan."
"Mulai mendekati pelayan baru, Hong gwajangnim?" Suara Hyunjoong yang familiar bertanya. Seok Chun gwajangnim memberinya senyum sombong.
"Kau tahu lebih baik dari itu. Aku punya rasa tertentu," ia membiarkan suaranya memelan menjadi bisikan seksi saat matanya menelusuri ke tubuh bawah Hyunjoong.
Aku melirik Hyunjoong yang cemberut dengan tidak nyaman dan aku tidak bisa menahan tawa. Seok Chun gwajangnim bergabung denganku. "Senang membuat namja normal menggeliat," ia berbisik di telingaku, lalu memukul pantatku dan berjalan keluar pintu.
Hyunjoong memutar matanya dan berjalan masuk ke dalam ruangan setelah Seok Chun gwajangnim pergi. Rupanya, ia menyadari pilihan seksual Seok Chun gwajangnim.
"Apakah kau menikmati harimu?" Tanyanya sopan.
Aku menikmati hariku. Sangat. Itu pekerjaan yang jauh lebih mudah daripada berpanas-panasan di luar berurusan dengan para namja tua yang suka mengintai sepanjang hari. "Ya. Menyenangkan. Gomapta untuk menempatkanku di bagian ini."
Hyunjoong mengangguk. "Cheonma. Sekarang, bagaimana kalau kita pergi merayakan promosimu dengan makanan terbaik di pantai?"
Dia mengajakku keluar lagi. Aku harus pergi. Dia akan menjadi pengalih perhatian. Dia bukan tipe pekerja yang aku cari tapi siapa bilang aku akan menikah dengannya dan melahirkan bayinya?
Sebuah gambaran dari Yunho berkelebat dalam pikiranku dan ekspresi tersiksanya tadi malam. Aku tidak bisa membiarkan diriku untuk berkencan dengan seseorang yang ia kenal. Jika dia benar-benar serius dengan apa yang dia katakana, maka aku harus menjaga jarak aman dengannya. Aku tidak termasuk di dalam dunia dimana dia berada.
"Mungkin lain kali saja? Aku tidak bisa tidur nyenyak tadi malam dan aku lelah."
Wajah Hyunjoong agak kecewa tapi aku tahu dia tidak akan punya masalah menemukan seseorang untuk menggantikan tempatku.
"Ada pesta malam ini di rumah Yunho, tapi aku rasa kau tahu itu," kata Hyunjoong, menyaksikan dengan cermat pada reaksiku. Aku tidak tahu tentang pesta karena Yunho tidak memberitahuku.
"Aku bisa tidur dikamarku. Aku sudah terbiasa dengan itu." Itu bohong. Aku tidak akan tidur sampai orang terakhir berderap menaiki tangga.
"Bagaimana jika aku datang? Bisakah kau menghabiskan sedikit waktu denganku sebelum kau tidur? "
Hyunjoong bersikeras. Aku akan mengizinkannya. Aku mulai berkata tidak ketika aku sadar bahwa Yunho akan meniduri beberapa yeoja malam ini. Dia akan membawanya ke tempat tidur dan membuat mereka merasakan hal-hal yang tidak akan mungkin untuk aku rasakan. Aku memang butuh pengalih perhatian. Yunho bahkan mungkin sudah bersama salah satu yeoja di pangkuannya begitu aku tiba di rumah.
"Kau dan Yunho tampaknya tidak begitu dekat. Mungkin kita bisa jalan-jalan sedikit di luar ke tepi pantai? Aku tidak tahu apakah itu ide yang baik bagimu untuk berada di rumah di mana ia bisa melihatmu."
Hyunjoong mengangguk. "Oke. Aku tidak masalah dengan itu. Tapi aku punya satu pertanyaan, Jae, " katanya mengamatiku lekat-lekat. Aku menunggu.
"Mengapa begitu? Sampai malam itu di rumahnya, Yunho dan aku berteman. Kami tumbuh bersama-sama. Dalam lingkungan yang sama. Tidak pernah punya masalah sedikitpun. Apa yang memicunya? Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kalian berdua?"
Bagaimana aku menjawab itu? Tidak, karena ia tidak akan membiarkan hal itu dan lebih aman untuk hatiku jika kita tetap hanya berteman?
"Kami berteman. Dia protektif."
Hyunjoong mengangguk pelan tapi aku tahu dia tidak percaya padaku.
"Aku tidak keberatan bersaing. Aku hanya ingin tahu apa yang aku hadapi."
Dia tidak menghadapi apa-apa karena dia dan aku hanya akan berteman. Aku tidak mencari seorang namja kaya, apalagi yang berada didalam lingkaran yang sama dengan Yunho.
"Aku tidak dan tidak akan pernah menjadi bagian dari kelompokmu. Aku tidak berniat untuk berkencan serius dengan siapa pun yang merupakan bagian dari lingkaran elitmu."
Aku tidak menunggunya untuk mendebat. Sebaliknya, aku berjalan memutarinya dan keluar pintu. Aku harus pulang sebelum pesta jadi terlalu liar. Aku tidak ingin melihat Yunho diselimuti oleh beberapa yeoja.
Itu bukan kekacauan yang liar. Itu hanya sekitar dua puluh orang. Aku berjalan melewati beberapa dari mereka dalam perjalanan ke dapur. Beberapa dari mereka sedang menyiapkan minuman dan aku tersenyum pada mereka sebelum melangkah ke dapur dan kemudian ke kamar belakangku.
Jika teman-temannya tidak tahu aku tidur di bawah tangga, mereka tahu sekarang. Aku mengganti seragamku dan mengeluarkan sebuah gaun biru es untuk di pakai. Kakiku sakit karena berjalan sepanjang hari jadi aku akan bertelanjang kaki. Aku mendorong koperku kembali ke bawah tangga dan melangkah ke dapur untuk bertatap muka dengan Yunho. Dia bersandar pada pintu yang menuju ke dapur dengan lengan disilangkan di atas dada dan kerutan di wajahnya.
"Yunho? Musun iriya?" Aku bertanya ketika dia tidak mengatakan apa-apa.
"Hyunjoong di sini," jawabnya.
"Terakhir, yang aku tahu dia adalah temanmu."
Yunho menggelengkan kepala dan matanya mengamati tubuhku dengan cepat. "Tidak. Dia tidak kesini untukku. Dia datang untuk orang lain."
Aku menyilangkan tanganku di bawah payudaraku dan mengambil pose defensif yang sama. "Mungkin. Apakah kau memiliki masalah dengan teman-temanmu yang tertarik padaku?"
"Dia tidak cukup baik. Dia brengsek. Dia seharusnya tidak bisa menyentuhmu," kata Yunho dengan nada marah yang keras.
Mungkin dia seperti itu. Aku meragukannya, tapi itu mungkin. Itu tidak penting. Aku tidak akan membiarkan Hyunjoong menyentuhku. Kedekatannya tidak membuat perutku bergejolak dan rasa sakit di antara kakiku mulai terasa.
"Aku tidak tertarik pada Hyunjoong. Dia adalah bosku dan mungkin teman. Itu saja."
Yunho melarikan tangannya di atas kepalanya dan cincin perak polos di jempolnya tertangkap mataku. Aku belum pernah melihat dia memakainya sebelumnya. Siapa yang telah memberikan itu kepadanya?
"Aku tidak bisa tidur sementara orang-orang akan naik dan turun tangga. Itu membuatku terjaga. Daripada duduk di kamar sendirian bertanya-tanya siapa yang kau tiduri di atas sana malam ini, kupikir aku akan mengobrol dengan Hyunjoong di pantai. Memiliki percakapan dengan seseorang. Aku butuh teman."
Yunho tersentak seolah aku memukulnya. "Aku tidak ingin kau mengobrol di luar dengan Hyunjoong."
Ini konyol. "Ya, mungkin aku tidak ingin kau meniduri seorang yeoja tapi kau akan melakukannya."
Yunho menarik diri dari pintu dan menuju ke arahku mendorongku ke kamar kecilku sampai kami berdua di dalam. Satu inci lagi dan aku akan jatuh ke belakang ke tempat tidur.
"Aku tidak ingin meniduri siapa pun malam ini," ia berhenti kemudian menyeringai, "Itu tidak sepenuhnya benar. Biar aku perjelas, aku tidak ingin meniduri siapa pun di luar ruangan ini. Tinggallah di sini dan bicaralah denganku. Aku akan bicara. Aku bilang kita bisa menjadi teman. Kau tidak perlu Hyunjoong sebagai teman."
Aku meletakkan kedua tanganku di dadanya untuk mendorong dia ke belakang tapi aku tidak bisa membuat diriku melakukannya setelah aku menaruh tanganku pada dirinya. "Kau tidak pernah berbicara denganku. Aku mengajukan pertanyaan yang salah dan kau menjauh."
Yunho menggeleng. "Tidak sekarang. Kita berteman. Aku akan bicara dan aku tidak akan pergi. Jebal jangan pergi, tinggallah di sini bersamaku."
Aku melihat ke sekeliling persegi panjang mungil yang nyaris tidak punya ruang untuk tempat tidurku. "Tidak ada banyak ruang di sini," kataku sambil melirik ke arahnya dan memaksa tanganku untuk tetap menapak di dadanya dan tidak meraup kemeja nyamannya yang pas ke dalam tanganku dan menariknya lebih dekat.
"Kita bisa duduk di tempat tidur. Kita tidak bersentuhan. Hanya bicara. Seperti teman," dia meyakinkanku.
Aku menghela napas dan mengangguk. Aku tidak akan bisa menolaknya. Selain itu, ada begitu banyak yang ingin aku tahu tentang dia.
Aku duduk di tempat tidur pada kepala tempat tidur dan bersandar. Aku menyilangkan kaki di bawahku.
"Kalau begitu kita akan bicara." Kataku sambil tersenyum.
Yunho duduk ke tempat tidur dan bersandar ke dinding. Sebuah tawa yang dalam datang dari dadanya dan aku menyaksikan senyum yang nyata muncul di wajahnya. "Aku tidak percaya aku baru saja memohon pada seorang yeoja untuk duduk dan berbicara denganku."
Sejujurnya, aku juga tidak percaya.
"Apa yang akan kita bicarakan?" Aku bertanya, ingin dia yang memulainya. Aku tidak ingin dia merasa seolah-olah ini adalah interogasi. Aku punya begitu banyak pertanyaan berputar di kepalaku yang kutahu aku bisa menghujaninya dengan rasa ingin tahuku.
"Bagaimana kalau tentang bagaimana kau masih perawan pada usia sembilan belas?" Katanya, membalik cincin peraknya ke arahku.
Aku tidak pernah mengatakan kepadanya bahwa aku masih perawan. Dia menyebutku polos malam itu. Apakah sejelas itu?
"Siapa bilang aku masih perawan?" Tanyaku dengan nada yang paling kesal yang bisa aku kerahkan.
Yunho menyeringai, "Aku tahu yeoja perawan ketika aku menciumnya."
Aku bahkan tidak ingin berdebat tentang hal ini. Ini hanya akan membuat kenyataan bahwa aku masih perawan lebih jelas lagi.
"Aku pernah jatuh cinta. Namanya Hyunjoong. Dia adalah pacar pertamaku, ciuman pertamaku, sesi bercumbu pertamaku, betapa lemahnya itu mungkin terjadi. Dia bilang dia mencintaiku dan mengklaim aku adalah satu-satunya untuk dia. Kemudian eommaku jatuh sakit. Aku tidak lagi punya waktu untuk kencan dan menghabiskan waktu dengan Hyunjoong pada akhir pekan. Dia butuh keluar. Dia membutuhkan kebebasan untuk mendapatkan semacam hubungan dari orang lain. Jadi, aku membiarkan dia pergi. Setelah Hyunjoong aku tidak punya waktu untuk kencan dengan orang lain."
Yunho mengerutkan kening. "Dia tidak menemanimu ketika eommamu sakit?"
Aku tidak suka pembicaraan ini. Jika orang lain menunjukkan apa yang sudah kuketahui itu akan sulit untuk tidak memiliki perasaan marah pada Hyunjoong. Aku sudah lama memaafkannya. Aku menerimanya. Aku tidak butuh kepahitan terhadapnya menyelinap masuk sekarang. Apa gunanya?
"Kami masih muda dulu. Dia tidak mencintaiku. Dia hanya berpikir dia mencintaiku. Sesederhana itu."
Yunho mendesah, "Kau memang masih muda."
Aku tidak yakin aku menyukai nada dalam suaranya ketika dia mengatakan itu. "Aku sembilan belas, Yunho. Aku sudah mengurus eommaku selama tiga tahun dan menguburkannya tanpa bantuan dari appaku. Percayalah, aku merasa berumur empat puluh hampir setiap hari."
Yunho mengulurkan tangannya di atas tempat tidur dan menutupi tanganku dengan tangannya. "Kau seharusnya tidak melakukan itu sendiri."
Tidak, aku seharusnya tidak melakukannya tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku mencintai eommaku. Dia layak mendapatkan jauh lebih banyak daripada yang dia dapatkan. Satu-satunya hal yang meringankan rasa sakit itu adalah mengingatkan diri sendiri bahwa eomma dan Jaekyung bersama-sama sekarang. Mereka saling memiliki. Aku tidak ingin berbicara tentang kisahku lagi. Aku ingin tahu sesuatu tentang Yunho.
"Apa kau memiliki pekerjaan?" Tanyaku.
Yunho tertawa dan meremas tanganku tapi tidak membiarkannya lepas. "Apa kau percaya setiap orang harus memiliki pekerjaan setelah lulus kuliah?"
Aku mengangkat bahu. Aku selalu berpikir orang punya pekerjaan pada sesuatu. Dia harus memiliki beberapa tujuan. Bahkan jika dia tidak membutuhkan uang.
"Ketika aku lulus kuliah aku punya cukup uang di bank untuk menjalani sisa hidupku tanpa pekerjaan, berkat appaku." Dia melihat ke arahku dengan mata musang seksi berbulu mata hitam tebal. "Setelah beberapa minggu tidak melakukan apa-apa kecuali berpesta aku sadar aku butuh kehidupan. Jadi aku mulai bermain-main dengan pasar saham. Ternyata, aku cukup bagus dalam hal itu. Angka-angka selalu menjadi keahlianku. Aku juga menyumbangkan dukungan keuangan untuk lembaga yang bergerak dibidang property untuk warga miskin. Beberapa bulan dari tahun ini aku jadi lebih lihai dan bekerja di rumah. Pada musim panas aku libur dari segala sesuatu sebisaku, datang ke sini dan bersantai.
Aku tidak menyangka.
"Shock di wajahmu sedikit menghina," kata Yunho dengan irama menggoda dalam suaranya.
"Aku hanya tidak menyangka dengan jawaban itu," jawabku jujur.
Yunho mengangkat bahu dan memindahkan tangannya kembali ke sisi tempat tidurnya. Aku ingin menggapai dan meraihnya dan menggenggamnya tapi aku tidak melakukannya. Dia sudah selesai menyentuhku.
"Berapa umurmu?" Tanyaku.
Yunho menyeringai, "Terlalu tua untuk berada di ruangan ini denganmu dan terlalu sangat tua untuk memiliki pikiran tentangmu."
Dia berada di awal dua puluhan. Pasti. Dia tidak tampak lebih tua. "Aku akan mengingatkanmu bahwa aku sembilan belas. Aku akan dua puluh dalam enam bulan. Aku bukan bayi. "
"Tidak Jae, kau sudah pasti bukan bayi. Aku dua puluh empat dan letih. Hidupku tidak normal dan karena itu aku memiliki beberapa kekacauan serius. Aku sudah bilang ada hal-hal yang kau tidak tahu. Membiarkan diri untuk menyentuhmu akan salah. "
Dia hanya lima tahun lebih tua dariku. Itu tidak terlalu buruk. Dia memberikan uang kepada yayasan sosial dan bahkan melakukan pekerjaan dirumah? Dia akan jadi seburuk apa? Dia memiliki hati. Dia membiarkanku tinggal di sini ketika menginginkan tidak lebih dari membuatku berkemas.
"Kupikir kau meremehkan dirimu sendiri. Apa yang kulihat di dalam dirimu adalah istimewa."
Yunho merapatkan bibirnya lalu menggeleng. "Kau tidak melihat diriku yang sebenarnya. Kau tidak tahu semua yang telah aku lakukan. "
"Mungkin," jawabku, mencondongkan tubuhku ke depan. "Tapi apa yang sudah kulihat sedikit adalah tidak semuanya buruk. Aku mulai berpikir mungkin saja ada lapisan lain bagimu."
Yunho mengangkat matanya untuk bertemu mataku. Aku ingin meringkuk di pangkuannya dan hanya menatap mata itu selama berjam-jam. Dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu kemudian menutupnya, tapi tidak sebelum aku melihat sesuatu yang perak di mulutnya.
Aku menarik lututku di bawahku dan bergerak mendekatinya. "Apa yang ada dalam mulutmu?" Aku bertanya, mempelajari bibirnya dan menunggu dia untuk membuka lagi.
Yunho membuka mulutnya dan perlahan-lahan menjulurkan lidahnya. Itu ditindik dengan barbel perak. (Sumpah Saki gak bisa bayangin Yun dengan tampilan rocker, tato dan tindik di mulut… wew, tapi demi kepentingan cerita bayangin aja ne?)
"Apa itu sakit?" Tanyaku, mempelajari lidahnya dari dekat. Aku belum pernah melihat orang dengan lidah ditindik sebelumnya.
Dia menarik lidahnya kembali ke dalam mulut dan menyeringai. "Ani."
Aku ingat tato di punggungnya di malam ia sedang berhubungan seks dengan yeoja itu. "Tato apa yang di punggung?"
"Seekor elang di punggung bawah dengan sayapnya yang melebar dan lambang Lar’c en ciel. Ketika aku berumur tujuh belas tahun appaku membawaku ke konser di LA dan setelah itu ia membawaku untuk mendapatkan tato pertamaku. Dia ingin band-nya dicap di tubuhku. Setiap anggota Larc en ciel punya satu di tempat yang sama persis (Ngarang banget). Tepat di belakang bahu kiri mereka. Appaku sedang di bawah pengaruh obat-obatan malam itu tapi masih jadi memori yang benar-benar menyenangkan. Aku tidak mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan banyak waktu tumbuh dewasa dengannya. Tapi setiap kali aku bertemu dengannya, dia akan menambah tato atau tindikan lagi di tubuhku."
Dia punya tindikan lain? Aku mengamati wajahnya dan kemudian membiarkan mataku jatuh ke dadanya. Sebuah tawa rendah mengejutkanku dan aku sadar aku telah tertangkap basah mencari.
"Tidak ada tindikan di sana, Jae. Yang lain ada di telingaku. Aku menahan laju tindikan dan tato ketika aku berumur sembilan belas."
Appanya ditutupi tato dan tindikan seperti sisa personil Larc en ciel yang lain. Apakah itu sesuatu yang Yunho tidak ingin lakukan? Apa appanya memaksanya?
"Apa yang aku katakan hingga membuatmu mengerutkan kening?" Tanyanya, meluncurkan satu jarinya di bawah daguku dan memiringkan kepalaku sehingga aku menatapnya.
Aku tidak ingin menjawab ini dengan jujur. Aku sedang menikmati waktu kami bersama-sama. Aku tahu kalau aku terlalu cepat menggali terlalu dalam dia akan lari. "Ketika kau menciumku tadi malam aku tidak merasakan barbel perak ini."
Kelopak mata Yunho diturunkan dan ia mencondongkan tubuh ke depan. "Karena aku tidak memakainya."
Dia memakainya sekarang.
"Ketika kau, eh, mencium seseorang dengan itu dapatkah mereka merasakannya?"
Yunho menarik napas tajam dan mulutnya bergerak lebih dekat denganku. "Jae, suruh aku pergi. Please."
Jika dia hendak menciumku kemudian aku tidak akan menceritakan apa pun  kesenangannya. Aku ingin dia di sini. Aku juga ingin menciumnya dengan benda itu di mulutnya.
"Kau akan merasakannya. Di manapun aku ingin menciummu, kau akan merasakannya. Dan kau akan menikmatinya," ia berbisik di telingaku sebelum menekan ciuman ke bahuku dan mengambil napas dalam-dalam. Apakah dia menciumku?
"Apakah kau...kau akan menciumku lagi?" Tanyaku terengah-engah saat dia menempelkan hidungnya ke leherku dan menghirup.
"Aku ingin. Aku ingin, begitu sangat menginginkannya tapi aku mencoba untuk menjadi baik," gumamnya di kulitku.
"Bisakah kau tidak baik hanya untuk satu ciuman? Please?" Tanyaku, bergeser lebih dekat kepadanya. Aku akan berada di pangkuannya segera.
"Jae, kau begitu sangat mempesona, " katanya saat bibirnya menyentuh lekukan leher dan bahuku. Jika dia terus begini aku akan mulai mengemis.
Lidahnya keluar dan membelai cepat pada kulit lembut di leherku saat ia menjejaki ciuman di sepanjang rahangku sampai mulutnya melayang di atas mulutku. Aku mulai memohon lagi tapi ia menekan satu ciuman lembut ke bibirku dan itu menghentikanku. Lalu ia menariknya kembali tetapi hanya satu inci. Napasnya yang hangat masih terasa dibibirku.
"Jae, aku bukan namja romantis. Aku tidak mencium dan berpelukan. Ini semua tentang seks bagiku. Kau pantas mendapatkan seseorang yang mencium dan memeluk. Bukan aku. Aku hanya melakukan seks. Kau tidak ditakdirkan untuk orang sepertiku. Aku tidak pernah menyangkal diriku untuk sesuatu yang kuinginkan. Tapi kau terlalu menarik. Kali ini aku harus mengatakan tidak pada diri sendiri. "
Saat kata-katanya masuk ketelingaku aku merintih akan suara erotis dari kata-kata nakalnya yang terlontar dari lidahnya. Itu tidak sampai ia berdiri dan meraih gagang pintu aku menyadari bahwa ia akan pergi dariku. Lagi. Meninggalkanku seperti ini.
"Aku tak bisa bicara lagi. Tidak malam ini. Tidak sendirian di sini bersamamu." Kesedihan dalam suaranya membuat hatiku terluka sedikit. Lalu ia pergi dan menutup pintu di belakangnya.
.
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment:

  1. aduhh Yun posesif bgt ma Jae,,,
    cincin ???
    punya siapa / dari siapa tuh ???
    sumpahhh,,,jgn sampe ada sangkut pautnya ma Boa

    dan tiap ada kata2 taw scene Yun 'sama' cewek laen rasanya nyelekit bgt

    gimana si JJ tuh yg other half nya bang Yun

    chapternya lebih panjang dari SDA kah ???

    ReplyDelete