Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan
diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi
sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong
dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim
Jaejoong
Marga disesuaikan untuk
kepentingan cerita
Chapter 10
Jessica
gwijangngnim tidak senang aku pindah ke ruang makan. Dia ingin aku di lapangan.
Dia juga ingin aku mengawasi Junsu. Junsu cerita, dia tidak bersama Yoochun
lagi. Dia bertemu dengan Yoochun untuk minum kopi karena Yoochun menelponnya
dua puluh kali sore itu. Dia bilang padanya jika dia hanya menjadi rahasia
kecil maka itu sudah berakhir. Yoochun meminta dan memohon, tapi menolak untuk
mengakui Junsu ke lingkaran pertemanannya dan akhirnya Junsu mencampakkannya,
memilih untuk pergi dari namja konyol itu. Aku begitu bangga.
Besok adalah hari
liburku dan Junsu sudah datang mencariku untuk memastikan kami jadi ke Mirotic.
Tentu saja kami akan pergi kesana. Aku butuh seorang namja, namja mana saja
untuk mengeluarkan Yunho dari pikiranku.
Aku mengikuti Seok
Chun gwajangnim sepanjang hari. Dia melatihku. Dia menarik, tinggi, karismatik
dan menurut pengakuannya dia Gay padaku, entahlah kenapa dia memilih jujur
padaku. Para anggota klub tidak tahu ini sama sekali. Dia main mata dengan
yeoja tanpa malu-malu. Mereka benar-benar menikmatinya. Dia akan melihat
kembali padaku dan mengedipkan mata ketika seseorang akan berbisik hal-hal
nakal di telinganya. Namja itu seorang playboy dan ahli dalam hal itu.
Setelah jam
tugasnya selesai kami kembali ke ruang istirahat staf dan menggantung celemek
hitam panjang yang harus di pakai di atas seragam kami. "Kau akan jadi
primadona, Jae. Para namja menyukaimu dan para yeoja terkesan olehmu. Tidak
bermaksud menyinggungmu manis, tapi yeoja yang memiliki body dan tubuh seperti
milikmu biasanya tidak bisa berjalan lurus tanpa cekikikan."
Aku tersenyum
padanya. "Begitukah? Aku tersinggung dengan komentar itu."
Seok Chun
gwajangnim memutar matanya dan mengulurkan tangan untuk menjitak kepalaku.
"Aniyo, kau tidak tersinggung. Kau tahu kau adalah yeoja nakal yang
mengejutkan."
"Mulai
mendekati pelayan baru, Hong gwajangnim?" Suara Hyunjoong yang familiar
bertanya. Seok Chun gwajangnim memberinya senyum sombong.
"Kau tahu
lebih baik dari itu. Aku punya rasa tertentu," ia membiarkan suaranya
memelan menjadi bisikan seksi saat matanya menelusuri ke tubuh bawah Hyunjoong.
Aku melirik Hyunjoong
yang cemberut dengan tidak nyaman dan aku tidak bisa menahan tawa. Seok Chun
gwajangnim bergabung denganku. "Senang membuat namja normal
menggeliat," ia berbisik di telingaku, lalu memukul pantatku dan berjalan
keluar pintu.
Hyunjoong memutar
matanya dan berjalan masuk ke dalam ruangan setelah Seok Chun gwajangnim pergi.
Rupanya, ia menyadari pilihan seksual Seok Chun gwajangnim.
"Apakah kau
menikmati harimu?" Tanyanya sopan.
Aku menikmati
hariku. Sangat. Itu pekerjaan yang jauh lebih mudah daripada berpanas-panasan
di luar berurusan dengan para namja tua yang suka mengintai sepanjang hari.
"Ya. Menyenangkan. Gomapta untuk menempatkanku di bagian ini."
Hyunjoong
mengangguk. "Cheonma. Sekarang, bagaimana kalau kita pergi merayakan
promosimu dengan makanan terbaik di pantai?"
Dia mengajakku
keluar lagi. Aku harus pergi. Dia akan menjadi pengalih perhatian. Dia bukan
tipe pekerja yang aku cari tapi siapa bilang aku akan menikah dengannya dan
melahirkan bayinya?
Sebuah gambaran
dari Yunho berkelebat dalam pikiranku dan ekspresi tersiksanya tadi malam. Aku
tidak bisa membiarkan diriku untuk berkencan dengan seseorang yang ia kenal.
Jika dia benar-benar serius dengan apa yang dia katakana, maka aku harus
menjaga jarak aman dengannya. Aku tidak termasuk di dalam dunia dimana dia
berada.
"Mungkin
lain kali saja? Aku tidak bisa tidur nyenyak tadi malam dan aku lelah."
Wajah Hyunjoong
agak kecewa tapi aku tahu dia tidak akan punya masalah menemukan seseorang
untuk menggantikan tempatku.
"Ada pesta
malam ini di rumah Yunho, tapi aku rasa kau tahu itu," kata Hyunjoong,
menyaksikan dengan cermat pada reaksiku. Aku tidak tahu tentang pesta karena
Yunho tidak memberitahuku.
"Aku bisa
tidur dikamarku. Aku sudah terbiasa dengan itu." Itu bohong. Aku tidak akan
tidur sampai orang terakhir berderap menaiki tangga.
"Bagaimana
jika aku datang? Bisakah kau menghabiskan sedikit waktu denganku sebelum kau
tidur? "
Hyunjoong
bersikeras. Aku akan mengizinkannya. Aku mulai berkata tidak ketika aku sadar
bahwa Yunho akan meniduri beberapa yeoja malam ini. Dia akan membawanya ke
tempat tidur dan membuat mereka merasakan hal-hal yang tidak akan mungkin untuk
aku rasakan. Aku memang butuh pengalih perhatian. Yunho bahkan mungkin sudah
bersama salah satu yeoja di pangkuannya begitu aku tiba di rumah.
"Kau dan
Yunho tampaknya tidak begitu dekat. Mungkin kita bisa jalan-jalan sedikit di
luar ke tepi pantai? Aku tidak tahu apakah itu ide yang baik bagimu untuk
berada di rumah di mana ia bisa melihatmu."
Hyunjoong
mengangguk. "Oke. Aku tidak masalah dengan itu. Tapi aku punya satu
pertanyaan, Jae, " katanya mengamatiku lekat-lekat. Aku menunggu.
"Mengapa
begitu? Sampai malam itu di rumahnya, Yunho dan aku berteman. Kami tumbuh
bersama-sama. Dalam lingkungan yang sama. Tidak pernah punya masalah
sedikitpun. Apa yang memicunya? Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara
kalian berdua?"
Bagaimana aku
menjawab itu? Tidak, karena ia tidak akan membiarkan hal itu dan lebih aman
untuk hatiku jika kita tetap hanya berteman?
"Kami berteman.
Dia protektif."
Hyunjoong
mengangguk pelan tapi aku tahu dia tidak percaya padaku.
"Aku tidak
keberatan bersaing. Aku hanya ingin tahu apa yang aku hadapi."
Dia tidak
menghadapi apa-apa karena dia dan aku hanya akan berteman. Aku tidak mencari
seorang namja kaya, apalagi yang berada didalam lingkaran yang sama dengan
Yunho.
"Aku tidak
dan tidak akan pernah menjadi bagian dari kelompokmu. Aku tidak berniat untuk
berkencan serius dengan siapa pun yang merupakan bagian dari lingkaran
elitmu."
Aku tidak menunggunya
untuk mendebat. Sebaliknya, aku berjalan memutarinya dan keluar pintu. Aku
harus pulang sebelum pesta jadi terlalu liar. Aku tidak ingin melihat Yunho
diselimuti oleh beberapa yeoja.
Itu bukan
kekacauan yang liar. Itu hanya sekitar dua puluh orang. Aku berjalan melewati
beberapa dari mereka dalam perjalanan ke dapur. Beberapa dari mereka sedang
menyiapkan minuman dan aku tersenyum pada mereka sebelum melangkah ke dapur dan
kemudian ke kamar belakangku.
Jika
teman-temannya tidak tahu aku tidur di bawah tangga, mereka tahu sekarang. Aku
mengganti seragamku dan mengeluarkan sebuah gaun biru es untuk di pakai. Kakiku
sakit karena berjalan sepanjang hari jadi aku akan bertelanjang kaki. Aku
mendorong koperku kembali ke bawah tangga dan melangkah ke dapur untuk bertatap
muka dengan Yunho. Dia bersandar pada pintu yang menuju ke dapur dengan lengan
disilangkan di atas dada dan kerutan di wajahnya.
"Yunho?
Musun iriya?" Aku bertanya ketika dia tidak mengatakan apa-apa.
"Hyunjoong
di sini," jawabnya.
"Terakhir,
yang aku tahu dia adalah temanmu."
Yunho
menggelengkan kepala dan matanya mengamati tubuhku dengan cepat. "Tidak.
Dia tidak kesini untukku. Dia datang untuk orang lain."
Aku menyilangkan
tanganku di bawah payudaraku dan mengambil pose defensif yang sama.
"Mungkin. Apakah kau memiliki masalah dengan teman-temanmu yang tertarik
padaku?"
"Dia tidak
cukup baik. Dia brengsek. Dia seharusnya tidak bisa menyentuhmu," kata
Yunho dengan nada marah yang keras.
Mungkin dia
seperti itu. Aku meragukannya, tapi itu mungkin. Itu tidak penting. Aku tidak
akan membiarkan Hyunjoong menyentuhku. Kedekatannya tidak membuat perutku
bergejolak dan rasa sakit di antara kakiku mulai terasa.
"Aku tidak
tertarik pada Hyunjoong. Dia adalah bosku dan mungkin teman. Itu saja."
Yunho melarikan
tangannya di atas kepalanya dan cincin perak polos di jempolnya tertangkap
mataku. Aku belum pernah melihat dia memakainya sebelumnya. Siapa yang telah
memberikan itu kepadanya?
"Aku tidak
bisa tidur sementara orang-orang akan naik dan turun tangga. Itu membuatku
terjaga. Daripada duduk di kamar sendirian bertanya-tanya siapa yang kau tiduri
di atas sana malam ini, kupikir aku akan mengobrol dengan Hyunjoong di pantai.
Memiliki percakapan dengan seseorang. Aku butuh teman."
Yunho tersentak
seolah aku memukulnya. "Aku tidak ingin kau mengobrol di luar dengan Hyunjoong."
Ini konyol.
"Ya, mungkin aku tidak ingin kau meniduri seorang yeoja tapi kau akan
melakukannya."
Yunho menarik
diri dari pintu dan menuju ke arahku mendorongku ke kamar kecilku sampai kami
berdua di dalam. Satu inci lagi dan aku akan jatuh ke belakang ke tempat tidur.
"Aku tidak
ingin meniduri siapa pun malam ini," ia berhenti kemudian menyeringai,
"Itu tidak sepenuhnya benar. Biar aku perjelas, aku tidak ingin meniduri
siapa pun di luar ruangan ini. Tinggallah di sini dan bicaralah denganku. Aku
akan bicara. Aku bilang kita bisa menjadi teman. Kau tidak perlu Hyunjoong
sebagai teman."
Aku meletakkan
kedua tanganku di dadanya untuk mendorong dia ke belakang tapi aku tidak bisa
membuat diriku melakukannya setelah aku menaruh tanganku pada dirinya.
"Kau tidak pernah berbicara denganku. Aku mengajukan pertanyaan yang salah
dan kau menjauh."
Yunho menggeleng.
"Tidak sekarang. Kita berteman. Aku akan bicara dan aku tidak akan pergi.
Jebal jangan pergi, tinggallah di sini bersamaku."
Aku melihat ke sekeliling persegi panjang
mungil yang nyaris tidak punya ruang untuk tempat tidurku. "Tidak ada
banyak ruang di sini," kataku sambil melirik ke arahnya dan memaksa
tanganku untuk tetap menapak di dadanya dan tidak meraup kemeja nyamannya yang
pas ke dalam tanganku dan menariknya lebih dekat.
"Kita bisa duduk di tempat tidur. Kita
tidak bersentuhan. Hanya bicara. Seperti teman," dia meyakinkanku.
Aku menghela napas dan mengangguk. Aku tidak
akan bisa menolaknya. Selain itu, ada begitu banyak yang ingin aku tahu tentang
dia.
Aku duduk di tempat tidur pada kepala
tempat tidur dan bersandar. Aku menyilangkan kaki di bawahku.
"Kalau begitu kita akan bicara."
Kataku sambil tersenyum.
Yunho duduk ke tempat tidur dan bersandar
ke dinding. Sebuah tawa yang dalam datang dari dadanya dan aku menyaksikan
senyum yang nyata muncul di wajahnya. "Aku tidak percaya aku baru saja
memohon pada seorang yeoja untuk duduk dan berbicara denganku."
Sejujurnya, aku juga tidak percaya.
"Apa yang akan kita bicarakan?"
Aku bertanya, ingin dia yang memulainya. Aku tidak ingin dia merasa seolah-olah
ini adalah interogasi. Aku punya begitu banyak pertanyaan berputar di kepalaku
yang kutahu aku bisa menghujaninya dengan rasa ingin tahuku.
"Bagaimana kalau tentang bagaimana kau
masih perawan pada usia sembilan belas?" Katanya, membalik cincin peraknya
ke arahku.
Aku tidak pernah mengatakan kepadanya bahwa
aku masih perawan. Dia menyebutku polos malam itu. Apakah sejelas itu?
"Siapa bilang aku masih perawan?"
Tanyaku dengan nada yang paling kesal yang bisa aku kerahkan.
Yunho menyeringai, "Aku tahu yeoja
perawan ketika aku menciumnya."
Aku bahkan tidak ingin berdebat tentang hal
ini. Ini hanya akan membuat kenyataan bahwa aku masih perawan lebih jelas lagi.
"Aku pernah jatuh cinta. Namanya
Hyunjoong. Dia adalah pacar pertamaku, ciuman pertamaku, sesi bercumbu
pertamaku, betapa lemahnya itu mungkin terjadi. Dia bilang dia mencintaiku dan
mengklaim aku adalah satu-satunya untuk dia. Kemudian eommaku jatuh sakit. Aku
tidak lagi punya waktu untuk kencan dan menghabiskan waktu dengan Hyunjoong
pada akhir pekan. Dia butuh keluar. Dia membutuhkan kebebasan untuk mendapatkan
semacam hubungan dari orang lain. Jadi, aku membiarkan dia pergi. Setelah
Hyunjoong aku tidak punya waktu untuk kencan dengan orang lain."
Yunho mengerutkan kening. "Dia tidak
menemanimu ketika eommamu sakit?"
Aku tidak suka pembicaraan ini. Jika orang
lain menunjukkan apa yang sudah kuketahui itu akan sulit untuk tidak memiliki
perasaan marah pada Hyunjoong. Aku sudah lama memaafkannya. Aku menerimanya.
Aku tidak butuh kepahitan terhadapnya menyelinap masuk sekarang. Apa gunanya?
"Kami masih muda dulu. Dia tidak
mencintaiku. Dia hanya berpikir dia mencintaiku. Sesederhana itu."
Yunho mendesah, "Kau memang masih
muda."
Aku tidak yakin aku menyukai nada dalam
suaranya ketika dia mengatakan itu. "Aku sembilan belas, Yunho. Aku sudah
mengurus eommaku selama tiga tahun dan menguburkannya tanpa bantuan dari
appaku. Percayalah, aku merasa berumur empat puluh hampir setiap hari."
Yunho mengulurkan tangannya di atas tempat
tidur dan menutupi tanganku dengan tangannya. "Kau seharusnya tidak
melakukan itu sendiri."
Tidak, aku seharusnya tidak melakukannya
tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku mencintai eommaku. Dia layak mendapatkan
jauh lebih banyak daripada yang dia dapatkan. Satu-satunya hal yang meringankan
rasa sakit itu adalah mengingatkan diri sendiri bahwa eomma dan Jaekyung
bersama-sama sekarang. Mereka saling memiliki. Aku tidak ingin berbicara
tentang kisahku lagi. Aku ingin tahu sesuatu tentang Yunho.
"Apa kau memiliki pekerjaan?"
Tanyaku.
Yunho tertawa dan meremas tanganku tapi
tidak membiarkannya lepas. "Apa kau percaya setiap orang harus memiliki
pekerjaan setelah lulus kuliah?"
Aku mengangkat bahu. Aku selalu berpikir
orang punya pekerjaan pada sesuatu. Dia harus memiliki beberapa tujuan. Bahkan
jika dia tidak membutuhkan uang.
"Ketika aku lulus kuliah aku punya
cukup uang di bank untuk menjalani sisa hidupku tanpa pekerjaan, berkat
appaku." Dia melihat ke arahku dengan mata musang seksi berbulu mata hitam
tebal. "Setelah beberapa minggu tidak melakukan apa-apa kecuali berpesta
aku sadar aku butuh kehidupan. Jadi aku mulai bermain-main dengan pasar saham.
Ternyata, aku cukup bagus dalam hal itu. Angka-angka selalu menjadi keahlianku.
Aku juga menyumbangkan dukungan keuangan untuk lembaga yang bergerak dibidang
property untuk warga miskin. Beberapa bulan dari tahun ini aku jadi lebih lihai
dan bekerja di rumah. Pada musim panas aku libur dari segala sesuatu sebisaku,
datang ke sini dan bersantai.
Aku tidak menyangka.
"Shock di wajahmu sedikit
menghina," kata Yunho dengan irama menggoda dalam suaranya.
"Aku hanya tidak menyangka dengan
jawaban itu," jawabku jujur.
Yunho mengangkat bahu dan memindahkan
tangannya kembali ke sisi tempat tidurnya. Aku ingin menggapai dan meraihnya
dan menggenggamnya tapi aku tidak melakukannya. Dia sudah selesai menyentuhku.
"Berapa umurmu?" Tanyaku.
Yunho menyeringai, "Terlalu tua untuk
berada di ruangan ini denganmu dan terlalu sangat tua untuk memiliki pikiran
tentangmu."
Dia berada di awal dua puluhan. Pasti. Dia
tidak tampak lebih tua. "Aku akan mengingatkanmu bahwa aku sembilan belas.
Aku akan dua puluh dalam enam bulan. Aku bukan bayi. "
"Tidak Jae, kau sudah pasti bukan
bayi. Aku dua puluh empat dan letih. Hidupku tidak normal dan karena itu aku
memiliki beberapa kekacauan serius. Aku sudah bilang ada hal-hal yang kau tidak
tahu. Membiarkan diri untuk menyentuhmu akan salah. "
Dia hanya lima tahun lebih tua dariku. Itu
tidak terlalu buruk. Dia memberikan uang kepada yayasan sosial dan bahkan
melakukan pekerjaan dirumah? Dia akan jadi seburuk apa? Dia memiliki hati. Dia
membiarkanku tinggal di sini ketika menginginkan tidak lebih dari membuatku
berkemas.
"Kupikir kau meremehkan dirimu
sendiri. Apa yang kulihat di dalam dirimu adalah istimewa."
Yunho merapatkan bibirnya lalu menggeleng.
"Kau tidak melihat diriku yang sebenarnya. Kau tidak tahu semua yang telah
aku lakukan. "
"Mungkin," jawabku, mencondongkan
tubuhku ke depan. "Tapi apa yang sudah kulihat sedikit adalah tidak
semuanya buruk. Aku mulai berpikir mungkin saja ada lapisan lain bagimu."
Yunho mengangkat matanya untuk bertemu
mataku. Aku ingin meringkuk di pangkuannya dan hanya menatap mata itu selama
berjam-jam. Dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu kemudian menutupnya,
tapi tidak sebelum aku melihat sesuatu yang perak di mulutnya.
Aku menarik lututku di bawahku dan bergerak
mendekatinya. "Apa yang ada dalam mulutmu?" Aku bertanya, mempelajari
bibirnya dan menunggu dia untuk membuka lagi.
Yunho membuka mulutnya dan perlahan-lahan
menjulurkan lidahnya. Itu ditindik dengan barbel perak. (Sumpah Saki gak bisa
bayangin Yun dengan tampilan rocker, tato dan tindik di mulut… wew, tapi demi
kepentingan cerita bayangin aja ne?)
"Apa itu sakit?" Tanyaku,
mempelajari lidahnya dari dekat. Aku belum pernah melihat orang dengan lidah
ditindik sebelumnya.
Dia menarik lidahnya kembali ke dalam mulut
dan menyeringai. "Ani."
Aku ingat tato di punggungnya di malam ia
sedang berhubungan seks dengan yeoja itu. "Tato apa yang di
punggung?"
"Seekor elang di punggung bawah dengan
sayapnya yang melebar dan lambang Lar’c en ciel. Ketika aku berumur tujuh belas
tahun appaku membawaku ke konser di LA dan setelah itu ia membawaku untuk
mendapatkan tato pertamaku. Dia ingin band-nya dicap di tubuhku. Setiap anggota
Larc en ciel punya satu di tempat yang sama persis (Ngarang banget). Tepat di
belakang bahu kiri mereka. Appaku sedang di bawah pengaruh obat-obatan malam
itu tapi masih jadi memori yang benar-benar menyenangkan. Aku tidak mendapatkan
kesempatan untuk menghabiskan banyak waktu tumbuh dewasa dengannya. Tapi setiap
kali aku bertemu dengannya, dia akan menambah tato atau tindikan lagi di
tubuhku."
Dia punya tindikan lain? Aku mengamati
wajahnya dan kemudian membiarkan mataku jatuh ke dadanya. Sebuah tawa rendah
mengejutkanku dan aku sadar aku telah tertangkap basah mencari.
"Tidak ada tindikan di sana, Jae. Yang
lain ada di telingaku. Aku menahan laju tindikan dan tato ketika aku berumur
sembilan belas."
Appanya ditutupi tato dan tindikan seperti
sisa personil Larc en ciel yang lain. Apakah itu sesuatu yang Yunho tidak ingin
lakukan? Apa appanya memaksanya?
"Apa yang aku katakan hingga membuatmu
mengerutkan kening?" Tanyanya, meluncurkan satu jarinya di bawah daguku
dan memiringkan kepalaku sehingga aku menatapnya.
Aku tidak ingin menjawab ini dengan jujur.
Aku sedang menikmati waktu kami bersama-sama. Aku tahu kalau aku terlalu cepat
menggali terlalu dalam dia akan lari. "Ketika kau menciumku tadi malam aku
tidak merasakan barbel perak ini."
Kelopak mata Yunho diturunkan dan ia
mencondongkan tubuh ke depan. "Karena aku tidak memakainya."
Dia memakainya sekarang.
"Ketika kau, eh, mencium seseorang
dengan itu dapatkah mereka merasakannya?"
Yunho menarik napas tajam dan mulutnya
bergerak lebih dekat denganku. "Jae, suruh aku pergi. Please."
Jika dia hendak menciumku kemudian aku
tidak akan menceritakan apa pun
kesenangannya. Aku ingin dia di sini. Aku juga ingin menciumnya dengan
benda itu di mulutnya.
"Kau akan merasakannya. Di manapun aku
ingin menciummu, kau akan merasakannya. Dan kau akan menikmatinya," ia
berbisik di telingaku sebelum menekan ciuman ke bahuku dan mengambil napas
dalam-dalam. Apakah dia menciumku?
"Apakah kau...kau akan menciumku
lagi?" Tanyaku terengah-engah saat dia menempelkan hidungnya ke leherku
dan menghirup.
"Aku ingin. Aku ingin, begitu sangat
menginginkannya tapi aku mencoba untuk menjadi baik," gumamnya di kulitku.
"Bisakah kau tidak baik hanya untuk
satu ciuman? Please?" Tanyaku, bergeser lebih dekat kepadanya. Aku akan
berada di pangkuannya segera.
"Jae, kau begitu sangat mempesona,
" katanya saat bibirnya menyentuh lekukan leher dan bahuku. Jika dia terus
begini aku akan mulai mengemis.
Lidahnya keluar dan membelai cepat pada
kulit lembut di leherku saat ia menjejaki ciuman di sepanjang rahangku sampai
mulutnya melayang di atas mulutku. Aku mulai memohon lagi tapi ia menekan satu
ciuman lembut ke bibirku dan itu menghentikanku. Lalu ia menariknya kembali
tetapi hanya satu inci. Napasnya yang hangat masih terasa dibibirku.
"Jae, aku bukan namja romantis. Aku
tidak mencium dan berpelukan. Ini semua tentang seks bagiku. Kau pantas
mendapatkan seseorang yang mencium dan memeluk. Bukan aku. Aku hanya melakukan
seks. Kau tidak ditakdirkan untuk orang sepertiku. Aku tidak pernah menyangkal
diriku untuk sesuatu yang kuinginkan. Tapi kau terlalu menarik. Kali ini aku
harus mengatakan tidak pada diri sendiri. "
Saat kata-katanya masuk ketelingaku aku
merintih akan suara erotis dari kata-kata nakalnya yang terlontar dari
lidahnya. Itu tidak sampai ia berdiri dan meraih gagang pintu aku menyadari
bahwa ia akan pergi dariku. Lagi. Meninggalkanku seperti ini.
"Aku tak bisa bicara lagi. Tidak malam
ini. Tidak sendirian di sini bersamamu." Kesedihan dalam suaranya membuat
hatiku terluka sedikit. Lalu ia pergi dan menutup pintu di belakangnya.
.
.
.
.
.
To Be Continue

aduhh Yun posesif bgt ma Jae,,,
ReplyDeletecincin ???
punya siapa / dari siapa tuh ???
sumpahhh,,,jgn sampe ada sangkut pautnya ma Boa
dan tiap ada kata2 taw scene Yun 'sama' cewek laen rasanya nyelekit bgt
gimana si JJ tuh yg other half nya bang Yun
chapternya lebih panjang dari SDA kah ???