Jaejoong menatap mobil mercedes mewah yang masih
terparkir di tempat parkir direksi yang tak kalah mewah dengan atap yang luas
dan posisi yang lebih tinggi sehingga terlindung dari derasnya hujan.
Namja itu pasti belum pulang, mobilnya masih
terparkir dan semua orang bilang bahwa bos yang satu itu baru pulang setelah
lewat jam 8 malam, dan lebih malam lagi pada hari Jumat karena besoknya akhir
pekan.
Sekarang hari jumat.
Dan Jaejoong menunggu dengan cemas, bagaimana jika namja
itu sebenarnya sudah pulang? Jika bukan hari ini, akal sehatnya akan kembali
dan dia akan kehilangan keberanian.
Berbagai pikiran buruk berkelebat hingga Jaejoong
tidak memperhatikan derasnya hujan yang mulai membasahi tempat-tempat yang
tidak terlindung oleh payung kecilnya,
Lalu dengan mengendarai mobil Audinya sosok yang
ditunggu-tunggu Jaejoong akhirnya terlihat.
Sacrificio de Amor
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Serena
©Santhy
Agatha
Yunho tengah mengendarai audinya ditengah derasnya
hujan yang kini mengguyur seoul. Yunho selalu suka bekerja. Teman-temannya
sudah mengingatkannya untuk mengurangi kegilaannya dalam bekerja. Tapi Yunho
tak pernah sekalipun mendengarkan nasehat teman-temannya. Dia suka bekerja, dan
tak aka nada yang bisa menghalanginya untuk bekerja.
Hujan deras membuatnya tidak menyadari kehadiran Jaejoong.
Tetapi ketikamobilnya semakin dekat dengan posisi Jaejoong yang kini tengah
berdiri dijalan keluar perusahaan, Yunho menyadari bahwa Jaejoonglah yang
berdiri dengan payung mungil ditengah hujan menunggunya, dan mulutnya menegang,
Yunho menghentikan mobilnya didekat Jaejoong berdiri mengambil payungnya yang
ada dikursi belakang dia keluar menghampiri Jaejoong,
"Kau pikir apa yang kini tengah kau lakukan
disini?",
"Ssaa...ssaya...ingin bicara dengan
anda",
Yunho mengernyit menyadari suara Jaejoong yang
gemetar dan wajahnya yang pucat pasi, apakah yeoja itu kedinginan ? berapa lama
yeoja itu menunggunya di luar sini?
Tiba-tiba dorongan posesif membuatnya ingin meraih yeoja
itu, memeluknya dan menyalurkan kehangatan tubuhnya. Yunho menatap Jaejoong
dengan gusar,
"Demi Tuhan Jae!! Kenapa kau tidak menunggu
didalam ",
Sejujurnya Jaejoong tadi benar-benar panic hingga
melupakan bahwa dia bisa menunggu Yunho di basement. Yang dia pikirkan dia
harus segera mencari uang untuk biaya oprasi Changmin, hingga tanpa sadar dia
justru menunggu Jaejoong ditengah jalan.
Yunho menatapnya tajam, sama sekali tidak
menyembunyikan kejengkelannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku ada
undangan makan malam, waktuku tak banyak", gumamnya sombong.
Jaejoong menatap Yunho penuh tekad meski gemetaran,
"Sa...Saya menawarkan diri kepada anda, anda
boleh memiliki saya semau anda".
Yunho menyipitkan mata, menahan gumpalan kekecewaan
yang menyeruak di hatinya karena semudah dan secepat itu yeoja ini menyerahkan
diri kepadanya.
"Kau pikir aku masih berminat padamu?",
gumamnya mengejek
Wajah Jaejoong pucat pasi, kata-kata Yunho bagaikan
menamparnya keras. tapi dia bertahan, Demi Changmin, tekadnya dalam hati
"Anda boleh memiliki saya sepenuhnya, saya
hanya meminta pembayaran di muka, setelah itu saya tak akan meminta apa-apa
lagi",
"Memangnya kau terlibat hutang judi atau
apa??!",
Yunho membentak keras, gusar karena sikap penuh
tekad Jaejoong, dan gusar atas godaan dalam dirinya yang tak tertahankan untuk
langsung menerima tawaran yeoja itu. Tapi ketika melihat Jaejoong hampir
terlonjak kaget karena bentakannya, spontan Yunho melembut,
"Oke, Berapa?"
Jaejoong mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan
tiba-tiba itu
Yunho mendesah tak sabar,
"Cepat katakan berapa kau menjual dirimu, lalu
aku akan menawar sebelum mencapai kesepakatan", dengan sengaja dia melirik
jam tangannya seolah tak tertarik, "aku tak punya banyak waktu
untukmu"
Jaejoong menelan ludah,
"Ti..Tiga puluh...juta.."
"Mwo?", Yunho membelalakkan mata tak
percaya.
"Tiga puluh juta won", kali ini Jaejoong
berhasil terdengar mantap.
Yunho mengernyit jijik,
"Kau bercanda?! Kau pikir kau pantas dihargai
semahal itu??!",
"I..itu pembayaran lunas sepenuhnya, setelah
itu anda memiliki saya dan saya tak akan meminta apapun lagi"
"Kau pikir aku bodoh atau apa?", desis Yunho,
"Bagaimana aku bisa tahu kau tak akan mangkir dari perjanjian ini?
Bagaimanapun melakukan pembayaran di muka itu beresiko"
"Kalau begitu anda bisa membuat surat
perjanjian yang sah secara hukum untuk mengatur perjanjian ini",
Jaejoong mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan
gugup, mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini, mereka mengobrolkan
penjualan harga dirinya seolah olah mengobrolkan penjualan barang.
Yunho terdiam, tampak menimang-nimang usulan Jaejoong,
lalu wajahnya mengeras,
"Tidak, ini konyol, aku sudah tak tertarik,
lagipula...", ia memandang Jaejoong dengan tatapan menghina, "Baru
tadi siang kau menolakku mentah-mentah dan aku berkata kau pasti akan merangkak
memintaku menerimamu, sekarang kau hampir bisa disebut merangkak padaku dalam
waktu kurang dari 24 jam",
Yunho hendak membalikkan badan meninggalkan Jaejoong,
"Lupakan saja, yeoja yang terlalu murahan
memadamkan gairahku"
Jaejoong langsung panik melihat Yunho membalikkan
tubuh mengarah ke mobilnya,
Ani!! Yunho tidak
boleh menolaknya!! Dialah satu-satunya harapan Jaejoong untuk menyelamatkan Changmin!!
Dengan setengah histeris, Jaejoong melakukan
tindakan yang pasti akan ditentang akal sehatnya jika dia dalam keadaan tak
terdesak,
Ditariknya lengan Yunho, dan ketika namja itu
menoleh dengan marah, Jaejoong berjinjit, merangkul kepala Yunho dan mencium
bibirnya!
Tubuh Yunho kaku dengan rasa terkejut dan luar
biasa, yeoja itu dengan bibir yang lembut mencoba menciumnya dengan
membabi-buta, jelas-jelas sangat tidak berpengalaman dan tanpa teknik ciuman
yang memadai, tapi tetap saja gairah Yunho langsung meledak tak terkendali.
Dengan kasar dirangkulnya pinggang Jaejoong, Mengabaikan
payung masing-masing yang kini tergeletak dijalan.Yunho setengah mengangkat
Jaejoong agar merapat ke tubuhnya dan diciumnya cherry lips itu habis-habisan.
Ciuman Yunho sangat ganas dan penuh gairah, dan Jaejoong
meskipun bersusah payah, berusaha mengimbanginya. Tubuh Yunho menegang dan
terasa nyeri, begitu menginginkan Jaejoong. Dengan erangan yang parau, dia
memperdalam ciumannya.
Entah berapa lama mereka berciuman di tempat parkir
dengan diiringi derasnya hujan. Yunho benar-benar hanyut dalam kenikmatan dan
dia menyadari kalau dia tak akan bisa menolak yeoja ini.
Yunho baru melepaskan ciumannya ketika menyadari
napas Jaejoong yang mulai megap-megap.
Mereka berdiri dengan rapat dan Yunho masih memeluk
pinggang Jaejoong, setengah mengangkat Jaejoong, tangan yeoja itu berpegangan
pada pundaknya seolah-olah takut terjatuh.
Yunho menatap Jaejoong tajam, bibir yeoja itu agak
bengkak karena tekanan ciumannya yang panas dan habis-habisan, bibirnya pasti
juga seperti itu karena rasa panas di bibirnya belum juga hilang,
Well cium
saja aku dan aku akan terbakar, geram Yunho dalam hati,
Dengan kaku diturunkannya pinggang Jaejoong, lalu
dilepaskan pegangannya,
"Baik, aku akan membayarmu, besok pagi kau
akan mendapatkan uang itu beserta surat perjanjian yang harus kau
tandatangani",
Yunho menatap Jaejoong geram, lalu membalikkan
tubuhnya menuju mobilnya, "Masuk ke mobil! malam ini aku akan mencoba
barang yang sudah kubeli".
.
.
.
.
.
.
.
.
Jaejoong melirik Yunho agak ketakutan ketika namja
itu membelokkan mobilnya ke areal hotel berbintang lima. Namja itu sama sekali
tak mengajaknya bicara. Dia menyetir mobil dengan tenang tetapi rahangnya
menegang seperti menahan marah. Apakah namja itu akan berbuat kasar padanya
untuk melampiaskan kemarahannya?
Tadi siang dia sudah menghina Yunho dan dia
menyadari bahwa ego seorang namja sangat mudah terluka. Dia ketakutan kalau
Yunho akan melampiaskan kemarahannya dengan kasar, dia tidak pernah disentuh namja
sebelumnya selain ciuman dan pelukan dari Changmin yang tidak pernah melebihi
batas.
Apakah dia harus memberitahu Yunho kalau dia masih
perawan? Namja itu dari awal sudah beranggapan dia murahan, bagaimana jika...
Jaejoong terlonjak ketika pintu terbuka, ternyata
Yunho sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang,
Namja itu mengernyit ketika melihat wajah Jaejoong
yang pucat pasi,
"Kkaja", gumamnya kaku, dan meraih tangan
Jaejoong untuk membantunya keluar dari mobil.
Setelah Yunho menyerahkan kunci mobilnya kepada
petugas hotel untuk diparkir, mereka berjalan bersisian memasuki lobby hotel
yang sangat mewah.
Resepsionis hotel menerima mereka dengan ramah dan
memberikan kartu kamar yang dipilih Yunho,
Bahkan di dalam liftpun mereka lewati dengan
keheningan.
Kamar itu begitu luas dan sangat mewah sehingga
Jaejoong terpaku sambil terkagum-kagum akan keindahan interiornya.
Yunho hanya berdiri di sana menatapnya,
"Kau pasti belum makan, aku akan memesan makan
malam di kamar", lalu namja itu melirik Jaejoong dengan sinis,
"sementara itu, kupersilahkan kau mandi duluan, badanmu basah, kau bisa
mandi dengan air hangat"
"Ta...tapi, saya tidak membawa baju..."
Yunho sengaja menatap Jaejoong dari ujung kepala
sampai ujung kaki dengan begitu intens sehingga wajah Jaejoong merah padam.
"Aku akan memesan pakaian di butik kenalanku,
besok pagi pesanan akan diantarkan kemari. Bajumu yang basah letakkan ditempat
yang disediakan di kamar mandi, petugas hotel akan mengambilnya untuk di
laundry, sementara itu....",
Yunho sengaja menggantung kalimatnya dengan penuh
arti, "malam ini kau tak perlu repot-repot memikirkan baju, toh kau tak
akan sempat mengenakannya",
Kalau wajah Jaejoong bisa lebih merah padam lagi,
itu akan menunjukkan betapa malunya dia dengan kata-kata vulgar Yunho.
Setelah menggumamkan beberapa kalimat tak jelas
dengan gugup, Jaejoong setengah berlari menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Jaejoong merasa sedikit aman,
disandarkannya punggungnya ke pintu dan dicobanya menarik napas dengan normal.
Dia takut pada Yunho, namja itu seperti seekor singa yang menemukan domba
lemah, lalu memutuskan untuk bermain-main dengannya dulu sebelum memakannya.
Jaejoong melangkah telanjang ke kamar mandi lalu
menyiram tubuhnya yang letih dan kedinginan karena kehujanan dengan shower air
panas,
Setelah selesai mencuci rambutnya, Jaejoong
menyandarkan kepalanya di tembok dan membiarkan punggungnya yang pegal tersiram
shower air hangat.
Dia takut menghadapi masa depan dan ketika
membayangkan Changmin, air matanya menetes, mengalir bersama siraman shower,
“Mian Minnie,
setelah ini mungkin aku akan menjadi yeoja kotor dan tak pantas untukmu, tapi
hatiku tetap milikmu.”
.
.
.
.
.
.
.
Ketika selesai membasuh muka dan menggosok gigi,
Jaejoong memandang bayangan dirinya dicermin, keadaannya sudah lebih baik.
pipinya sudah tidak pucat lagi, sudah ada rona merah disana setelah mandi air
hangat.
Ketukan di pintu hampir membuat tubuh Jaejoong
melonjak,
"Kau lama sekali, apa kau baik-baik saja
disana?", tanya Yunho tak sabar,
"Yyaaa...sebentar lagi saya selesai",
Jaejoong menjawab sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling,
Apakah aku harus keluar dari kamar mandi dalam
keadaan telanjang??
Matanya menatap tumpukan baju kotornya memikirkan
kemungkinan mengenakan bajunya lagi, dan membayangkan mengenakan baju yang
hampir basah kuyup itu membuatnya begidik.
Senyumnya muncul ketika menemukan tumpukan handuk
berwarna biru tua di lemari samping wastafel, dan dia beruntung, bukan hanya
handuk, tapi dia menemukan sepasang jubah mandi dengan warna yang sama. Yang
satu berukuran besar dan yang satu berukuran kecil.
Dikenakannya jubah mandi ukuran kecil yang masih
kebesaran ditubuhnya sambil mengernyit, bahkan perlengkapan kamar mandi ini
seperti sengaja ditujukan untuk pasangan, sepasang jubah mandi, sepasang sikat
gigi, dan sepasang handuk.
Ditatapnya
bayangannya di cermin, wah lumayan, lebih dari lumayan malah, jubah itu
menutup rapat dadanya dan karena kebesaran, panjangnya hampir mencapai mata
kaki, dia kelihatan cukup sopan meski sebenarnya tidak mengenakan apa-apa lagi
di balik jubah mandinya.
Ketika Jaejoong keluar dari kamar mandi, Yunho
sedang memberikan instruksi pada pelayan hotel yang menata makan malam di meja.
Namja itu hanya mengangkat alis melihat akal Jaejoong memakai jubah mandi,lalu
memberikan tips pada pelayan sebelum dia pergi.
"Duduklah, makan dulu",
Gumam Yunho mulai santai sambil menunjuk kursi di
depannya,
Jaejoong duduk dengan gugup di kursi dan menatap
makanan yang tersaji di meja. Air liurnya langsung terbit melihat sajian yang
kelihatannya lezat itu, ada sup krim yang sangat panas yang pasti rasanya
sangat nikmat untuk orang yang habis basah kuyup kehujanan, lalu daging panggang
dengan bumbu keju dan saus yang sangat menggunggah selera, salad buah-buahan
dan cokelat panas yang pasti untuknya, karena Yunho sudah menyesap kopinya.
Namja itu dengan penuh perhatian menuangkan sup di
mangkuk dan menyodorkannya pada Jaejoong.
Jaejoong menatap Yunho ragu, dan untuk pertama
kalinya hari itu, Yunho tersenyum lembut padanya,
"Kka, makanlah, aku tahu kau lapar, aku
sendiri lapar sekali."
Mereka mulai makan dalam keheningan, dari sudut
matanya, Jaejoong dengan hati-hati melirik Yunho dan menyadari namja itu mulai
santai, jasnya sudah dilepas dan kancing kemejanya dibuka dua dengan dasi yang
sudah dibuka ikatannya.meskipun begitu, cara makannya sangat elegan hingga
membuat Jaejoong malu.
"Jae?",
Suara itu menembus lamunannya dengan keras hingga
membuat Jaejoong hampir melonjak karena terkejut.
Matanya mengerjap menatap Yunho,
"n...ne?"
"Kau hanya mengaduk-aduk supmu, apa tidak
enak?"
Dengan terburu-buru Jaejoong menyuap sesendok sup
dan menelannya,
"A..ani, ssayaa hanya sedang berpikir"
Yunho tersenyum, lalu sekali lagi menatap jubah
tidur Jaejoong,
"Pintar sekali kau memakai jubah itu, jadi kau
tak perlu tampil telanjang di depanku"
Komentar yang diucapkan dengan santai itu hampir
saja membuat Jaejoong tersedak, pipinya langsung merona merah.
Yunho menyesap kopinya sambil tetap memandang
Jaejoong, lalu meletakkan cangkirnya,
"Oke, giliranku mandi, makanlah sepuasmu,lalu
taruh saja disitu aku akan menelpon pelayan untuk membereskannya 30 menit
lagi",
Dengan santai namja itu melenggang ke dalam kamar
mandi,
Setelah menyesap cokelatnya, Jaejoong tidak tahu
harus mengerjakan apa lagi, jadi dia duduk di pinggir ranjang dan menyalakan
televisi,
Beberapa saat kemudian pelayan datang dengan sopan
dan membereskan makanan mereka. Jaejoong hanya terdiam agak malu karena
menyadari keadaannya yang hanya mengenakan jubah mandi.
Detik-detik berlalu dan terasa begitu mencekam bagi
Jaejoong, sangat kontras dengan Yunho yang sedang di kamar mandi, namja itu
mandi dengan santai, bahkan Jaejoong mendengar namja itu bersenandung di
shower.
Ketika Namja itu keluar dari kamar mandi, Jaejoong
sudah hampir tertidur di atas ranjang, pertarungan batin yang bertubi-tubi
sudah membuat jiwa dan raganya kelelahan, sehingga berdiam diri berbaring di
atas ranjang yang nyaman itu membuatnya merasa sangat mengantuk.
Yunho mengernyit sambil mengencangkan tali jubah
mandinya, ditatapnya Jaejoong yang berbaring miring membelakanginya dengan
posisi meringkuk seperti janin di dalam kandungan, pemandangan itu membuat
hatinya terasa sakit, entah kenapa, seperti ada dorongan untuk merengkuh yeoja
itu dan melawan seluruh dunia demi dirinya.
Kernyitan Yunho semakin dalam, tidak pernah dia
merasa seperti itu sebelumnya pada seorang yeoja, yeoja ini telah membangkitkan
semacam hasrat liar yang selama ini tersembunyi rapat-rapat dalam jiwa Yunho,
dan bukan hanya hasrat, Jaejoong juga memunculkan rasa obsesif dan posesif yang
mendalam yang belum pernah dimiliki Yunho sebelumnya.
“Ani!!”
geram Yunho dalam hati, hasrat ini tidak boleh sampai membuat dirinya lemah,
dia harus menunjukkan siapa yang berkuasa.
Dengan pelan Yunho naik ke ranjang dibelakang
Jaejoong yang memunggunginya, lalu diraihnya pundak Jaejoong, yeoja itu
terperanjat karena dibangunkan, dengan mata yang masih sayu setengah tidur
ditatapnya Yunho.
Yunho melihat sekelumit ketakutan didalam mata itu,
dan dengan sedikit kasar dibaliknya tubuh Jaejoong menghadap dirinya,
“Aku membayar kamar di hotel ini bukan hanya untuk
tidur”, geramnya parau lalu dikecupnya bibir Jaejoong,
Dan......meledaklah, Yunho merasa hasrat langsung
membakar tubuhnya sekaligus, menghanguskannya, sejenak dia merasa ragu
melampiaskan hasratnya seratus persen karena dirinya cenderung kasar ketika
sangat berhasrat, tapi mengingat bagaimana Jaejoong menawarkan diri padanya
hanya demi uang dan goresan rasa kecewa yang nyeri di hatinya karenanya membuat
Yunho tak peduli lagi, toh yeoja ini pasti sudah berpengalaman dan mungkin
sudah lebih dari sekali dia menjual dirinya demi uang. Tapi benarkah yeoja itu
sudah berpengalaman?
Yunho teringat ciuman Jaejoong yang tanpa teknik
memadai di tempat parkir tadi. Ani!!
putusnya dalam hati, mungkin yeoja itu hanya tidak pandai berciuman, Seorang pelacur harus diperlakukan seperti
pelacur!!.
.
.
.
.
.
.
To Be
Continue

gmana nih... aku pnsaran bgt..
ReplyDeletesmga next chap bsa cptan muncul.. mksh saki .
Baca remake ini berkali2 g bikin bosen, aplg dgn yunjae sbg main cast...makin suka
ReplyDeleteHueeee poor jae...duuuh kamu akan menyesal Yun...
ReplyDeleteMdh2an ga lama yaaaa Saki, cs penasaran neeeeehhhh... (ง'̀⌣'́)ง
ReplyDeleteCerita Yunjae yang ini bagus..Aku lebih suka ini dari pada yang choosey lover..Lebih pengen cerita ini yang tiap hari di update..hehehe
ReplyDeleteAishhh... yunho bnr2 dech.. lbh sk mempertahankan egonya dr pada hatinya..
ReplyDeleteaaaaaakkk aku suka banget sama novelnya mbak Shanty Agatha yang satu ini.. huhuhu...
ReplyDeletebtw, kayaknya aku juga udah pernah baca deh ff yunjae yg remake-annya yang satu ini selain sleep with the devil. tapi aku lupa dimana pernah baca. please continue ya saki and can't wait for the next update. :))
kenapa jae ga cerita yng sbenernya ke yunho
ReplyDeletejadi yunho ga nganggep jae wanita murahan ...
jadi yunho ga seenaknya
😊
ReplyDeleteTuh kan Jae tergoda, sebenernya krn terpaksa siy..
ReplyDeleteYunho bnr2 d..
Ak ga suka sama kata2 terakhirnya Yunho yg blg "seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!"
Miris bgt hidupmu Jae...Jae...