“Mirotic. Kau harus naik ke atas
kuda yang sama yang telah melemparkanmu.” Yixing mengatakannya dengan
keyakinan.
Panah ketidaknyamanan mengalir ke
dalam diri Jaejoong memikirkan untuk pergi ke klub dimana dia bertemu dengan
Yunho dulu. Apakah Yunho akan ada di sana? Jaejoong dan teman-temannya
mencintai klub itu, itu tempat favorit mereka untuk mengadakan pesta dan
Jaejoong tak dapat berhenti untuk pergi bersama-sama ke sana. Jaejoong mungkin
bisa mendapatkan kesempatan pertama kalinya untuk mencoba melalui ini semua.
Jaejoong perlahan menyetujui dan melihat teman seapartemennya saling memandang
dengan kelegaan. Sekarang yang harus Jaejoong lakukan adalah merencanakan untuk
memakai sesuatu yang spesial. Untuk berjaga-jaga...
Choosey
Lover
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung
Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan
©their self
Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya Lynda
Chance
Jumat malam, telepon Yunho berbunyi saat dia sedang
mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Yunho mengangkat teleponnya dan
mendengarkan sahabatnya Yifan.
“Hei hyung, cewek berlesung pipit yang tinggal
dengan pacarmu itu baru saja mengirimkan SMS padaku.”
Awan hitam menyelimuti Yunho. “Aku tak punya
pacar.” Kalimat yang dia paksakan keluar itu menyebabkan rasa sakit di dalam
dirinya.
“Gurae? lalu kau sebut dia apa? yeoja yang kau
tiduri?” Suara Yifan biasa-biasa saja.
Karena Yunho tak menceritakan pada Yifan bahwa
mereka telah putus, Yunho tahu tak mungkin Yifan untuk mengetahuinya.
“Persetan kau, brengsek. Aku belum menidurinya dan
dia bukan pacarku.”
Sejenak hening sebelum Yifan bicara, Kesembronoan
dalam suaranya hilang. “Jinca?”
“Kris, aku bersumpah sebaiknya kau berhenti menggunakan
kata itu,” Yunho membentak.
“Astaga, apa yang sebenarnya terjadi padamu?” Yifan
bertanya pada Yunho, ketidaksabaran terbersit pada suaranya.
“Tak ada.” Kata tunggal itu keluar dari mulut
Yunho.
Sejenak keheningan yang tak nyaman muncul sebelum
Yifan berkata.
“Baik. Lanjutkan. Yeoja manis itu bilang padaku
bahwa mereka akan pergi keMirotic malam ini.” Yifan berhenti sejenak. “Jaejoong
bukan pacarmu?” Nadanya bertanya, terdengar bingung. “Itu sebabnya kenapa yeoja
manis itu menulis SMS padaku?”
Yunho tak menjawab dan suasana hatinya menjadi
gelap saat dia berpikir Jaejoong akan pergi ke klub itu. Semua namja-namja
sialan itu akan mencoba untuk mendapatkannya.
“Apa kita akan datang, hyung?” Yifan memaksa
jawaban dari Yunho.
“Ya, kita akan datang.” Suara Yunho suram. “Kau
tahu bahwa dia tertarik padamu, kris?”
“Nugu?” Yifan bertanya.
“Yeoja yang kau sebut manis itu, Yixing.” Yunho
menjelaskan.
Hening. “Kau mendapatkan sinyal itu juga?”
“Kris, Dia mengirim SMS, benar?”
“Ya, tapi hanya untuk pesta …”
“Ani. Bukan hanya untuk berpesta. Dia menginginkanmu.
Hati-hati dengan dia, Kris,” Yunho mengingatkan temannya.
“Hati-hati? Apa-apaan maksudnya ini?” Yifan
terdengar terganggu dan terhina.
“Kris, kita tahu dia menyukaimu…”
Yifan menyela. “Kau pikir begitu? Aku perlu
mengajaknya keluar.”
“Bisakah kau sekali saja berpikir yang lain selain
berhubungan seks?” Yunho tahu dia terdengar marah.
“Hey. Aku tak bicara apapun soal berhubungan seks.”
Suara Yifan singkat.
“Ya. Tapi kita berdua tahu kau memikirkannya.“
“Kau tak tahu itu,” Yifan membantah.
“Omong kosong. Ya Tuhan, Kris, bukankah itu yang
selalu kau pikirkan? berhubungan seks?”
“Biasanya begitu. Tapi tidak selalu. berhubungan
seks dan mendapatkan uang. Dengan urutan seperti itu. Tidak. Mungkin urutannya
tidak begitu.“
“Ya. Ada jutaan yeoja di Seoul. Dia sepupu
Jaejoong. Apakah kau tahu itu? Dia lebih muda dari Jaejoong dan Heechul. Aku
bertaruh yeoja itu belum berumur dua puluh satu. Jangan menjadi baji…”
“Sejak kapan kau jadi begitu perduli?”
“Jaejoong akan kecewa jika kau mengecewakan
sepupunya. Masih banyak vagina lain. Tinggalkan Yixing.“
Yunho menunggu sebentar sementara Yifan diam tidak
seperti biasanya. Akhirnya, sahabatnya itu berkata. “Apakah kau serius hyung?"
Ada jeda dari kata-katanya. “Apakah kau serius mengatakan padaku agar aku
mundur? Hyung, Dia menarik. Sangat menarik. Apakah kau mengatakan padaku bahwa
kita akan mendapat masalah jika aku ingin mendekatinya?”
Yunho mengenali nada ini dan mendengar keperdulian
nyata di dalam nada suara Yifan. “Aku serius, Jangan mengacaukan keadaan demi
aku. Jaejoong… Jaejoong sangat berarti
untukku, Kris. Aku sudah melalui minggu yang buruk. Dia sudah berpikir kau
seorang player. Dan jika kau membuat sepupunya kecewa maka dia akan mengaitkan
hal itu denganku. Dia tak akan memberikan peluang lagi padaku. Aku minta tolong
padamu, Kris, Cari yeoja lain. Jangan membuat kekacauan dengan yeoja itu.“
Keheningan kembali terjadi sampai akhirnya Yifan
berbicara dengan nada datar, semua antusiasme itu hilang dari suaranya. “Arra,
kau akan menjemputku?”
“Ya.”
“Baiklah, kutunggu.”
.
.
.
.
.
Yunho duduk di bar memegang birnya. Yifan sedang
berada di lantai dansa bersama tiga yeoja. Mata Yunho melintas dari tontonan
itu sampai mendarat sekali lagi ke Jaejoong, duduk malu-malu dengan teman-teman
yeojanya dan dikelilingi oleh empat namja berisik sialan.
Gigi Yunho menggertak dan tangannya mencengkeram gelas
di hadapannya. Syukurlah Jaejoong kembali duduk di mejanya lagi. Tadinya dia
berdansa dengan seorang namja dan Yunho hampir saja datang untuk memisahkan.
Satu-satunya hal yang membuat Yunho tetap berada di atas kursi barnya adalah
dia tahu dirinya akan berakhir di penjara jika dia berdiri. Jika dia berakhir
di penjara maka dia tak akan bisa berada di situ untuk menghentikan Jaejoong
dari melakukan kesalahan yang lebih buruk.
Yunho diam dalam kemarahan dan menunggu lagu pelan
itu berhenti. Itu 3 menit paling buruk dalam hidupnya. Benar-benar terburuk.
Saat musik kembali berlanjut dengan lagu pelan lainnya, Yunho berpikir dia
mungkin harus berdiri dan memotong. Dia tak bisa bertahan hidup untuk melewati
lagu berikutnya. Tapi Yunho melihat Jaejoong menggelengkan kepalanya, menarik
diri dari namja sialan itu dan berjalan kembali ke mejanya. Cengkeraman
mematikan tangannya pada gelas perlahan mengendur. Detak jantungnya perlahan
membaik. Itu sangat dekat. Terlalu dekat dari kehilangan pikirannya. Sejak itu,
Jaejoong tetap berada di mejanya. Syukurlah.
Mata Yunho jatuh ke arah Jaejoong, melihat rambut
panjangnya sebatas pinggang yang mengikal di ujungnya. Kaki Jaejoong menyilang
dan sepatu hak tingginya membungkus otot betisnya dan mengait sekeliling
pergelangan kakinya. Roknya pendek dan kakinya mulus dan lembut dan sangat
mengacaukan kepala Yunho.
Pada akhirnya bisa dikatakan sangat mengganggu
pikiran.
Seorang yeoja pirang yang mabuk melintas di hadapan
Yunho dan mengatakan sesuatu di telinganya. Kalimat yeoja itu tidak jelas
terdengar Oleh Yunho Karena kemudian mata Jaejoong pada akhirnya memandang
Yunho dan darah mulai memompa ke dalam pembuluh darahnya bahkan lebih cepat.
Ini sudah menjadi minggu yang sialan. Minggu dari neraka yang sialan.
Yunho mengenyahkan yeoja pirang itu dan melanjutkan
memandang Jaejoong yang masih memandang Yunho. Yunho menghabiskan birnya saat
musik berubah dari keras menjadi pelan. Saat pembukaan musik pelan itu muncul
pasangan pergi dari atas lantai dansa
atau melanjutkan dengan gerakan pelan.
Yunho ingat lagu ini. Dia dan Jaejoong berdansa
dengan lagu ini malam itu. Apakah Jaejoong ingat itu? Mata Jaejoong tetap pada
Yunho dan pita gairah mengalir ke otaknya.
Heechul berdiri dan menghalangi pandangan Jaejoong
kepada Yunho.
Yunho berusaha untuk melihat Jaejoong saat Heechul
berjalan ke arah lantai dansa dengan salah satu namja yang mengitari meja
mereka, apa yang bisa Yunho lihat adalah Yixing tetap duduk, memandang ke arah
Yifan berada. Yifan sudah memilih salah satu diantara tiga yeoja itu, memeluk
pinggangnya dan menariknya ke dalam dansa yang pelan.
Yunho kembali meneguk bir dari gelasnya yang entah
sudah keberapa dan akhirnya kerumunan itu mereda dan Yunho dapat melihat
Jaejoong dengan jelas lagi. Yunho dapat melihat dengan jelas namja sialan yang
mengambil tangan Jaejoong dan mencoba untuk mengajaknya pergi ke lantai dansa
dengannya.
Pandangan Yunho berubah merah.
kecemburuan dan kemarahan melanda Yunho. Kemudian
menjadi sedikit mereda saat Yunho melihat Jaejoong menggelengkan kepalanya dan
mengambil minumannya dan melirik ke arah Yunho. Yunho mengunci pandangan
Jaejoong saat namja sialan itu tidak memahami isyarat yang diberikan oleh
Jaejoong dan namja itu lalu mengambil helaian rambut Jaejoong, menyibakkannya.
Menyentuh rambut Jaejoong! Emosi Yunho terikat dengan kasar saat namja itu
tidak berlalu. Namja sialan itu tidak mau berlalu.
Yunho berdiri, berjalan menuju Jaejoong dan
berhenti di hadapan namja itu.
“Dia bilang tidak, dude.” Suara Yunho rendah dan
mengancam.
“Apa urusanmu, brengsek?”
Dari sudut matanya Yunho melihat muka Jaejoong
berubah menjadi pucat. Mungkin Yunho sudah kelewatan tapi Yunho tidak perduli.
“Kau ingin berdansa dengannya,Jae?” melemparkan
pertanyaan itu kepada Jaejoong, Yunho menyipitkan matanya ke namja sialan ini,
mengitari bahunya untuk menunggu dan melihat apa yang akan kemudian terjadi.
Jantung Jaejoong berdetak sangat kencang, dia
berpikir dia akan pingsan. Yunho terlihat nikmat untuk disantap dan dia serius
bertanya pada dirinya dimana otaknya saat dia memutuskan Yunho. Yunho juga siap
untuk membunuh seseorang.
Jaejoong perlahan menggelengkan kepalanya pertanda
tidak.
Yunho meraih melintasi meja dan merenggut tangan
Jaejoong dengan tangannya. Mengirimkan sinyal ke namja dihadapannya ini untuk
mundur, Yunho menggenggamkan jemarinya ke jemari Jaejoong, menarik Jaejoong dan
mulai berjalan menuju lantai dansa.
Hati Jaejoong tak karuan. Jaejoong tidak berdansa
dengan Yunho sejak malam itu. Itu Sangat mengagumkan, malam yang luar biasa
saat mereka bertemu dan Yunho sudah mengambil tangannya untuk berdansa seperti
sekarang, tidak perlu bertanya, dan berjalan ke arah lantai dansa dan
mendekapnya di lengannya, dari satu lagu ke lagu berikutnya.
Lengan Yunho memeluknya sekarang dan membungkusnya
dengan dekapan. Aroma tubuh Yunho mengagumkan. Aroma Yunho selalu membuat
Jaejoong gila. Itu satu hal yang paling seksi dari Yunho. Detak jantung
Jaejoong mulai berdentuman dan tubuhnya gemetar.
Kepala Jaejoong berada di bawah Dagu Yunho dan
Restleting celana Yunho menempel di perut Jaejoong. Hati Jaejoong berpacu.
Yunho tidak seperti namja berbadan tinggi lain yang pernah berdansa dengannya
yang selalu berusaha untuk bersandar pada Jaejoong. Tidak. Yunho berdiri tegap
dan mendekap Jaejoong dengan dekapan erat saat mereka bergerak menari mengikuti
musik.
Jaejoong mendesah.
Ya Tuhan. Siapa yang mau dia bodohi? Lima minggu
terakhir ini sudah menjadi minggu yang paling intens untuk dirinya. Jaejoong
sudah jatuh cinta pada Yunho. Tak ada gunanya membohongi dirinya sendiri.
Itulah kenapa Jaejoong menjadi begitu takut. Itulah kenapa dia tak mau bercinta
dengan Yunho. Insting protektif Jaejoong sudah bermain dan membuat Jaejoong
takut. Realisasi telah menyentakkannya dari Yunho dan Jaejoong memandang ke
atas kepada Yunho.
Yunho menyadari rasa takut yang muncul pada wajah
Jaejoong, pada saat yang sama Yunho sadar Jaejoong kembali berusaha untuk lari
darinya. Itu tidak akan terjadi. Jaejoong merasa sempurna berada di pelukan
Yunho dan Yunho berusaha untuk menenangkan rasa takut yang dirasakan oleh
Jaejoong. Tangan Yunho bergeser ke sisi wajah Jaejoong dan menangkupnya. “Hey.
Semua akan baik-baik saja.” Yunho menarik Jaejoong ke tubuhnya dan memeluknya
dengan kasar kembali memeluk Jaejoong.
Yunho menyapukan mulutnya ke bawah untuk mencium
telinga Jaejoong.
“Apa yang harus aku lakukan, boo?” Yunho menggerakkan
tangannya ke bokong Jaejoong and mempererat dekapannya. “Kau tinggal mengatakan
apa pun yang kau inginkan.”
Yunho merasakan Jaejoong gemetar, tapi Jaejoong
tidak mencoba untuk menjawabnya.
“Aku begitu menginginkanmu. Aku ingin membawamu ke
atas tempat tidur, memelukmu, mencintaimu, bangun tidur bersamamu di pagi hari.
boo, aku begitu menginginkannya sampai aku tak bisa berkonsentrasi pada hal
lainnya kecuali kamu.” Lengan Yunho memeluk Jaejoong semakin erat dan Yunho
bernafas dengan panas di telinga Jaejoong. “Tapi Sayang, aku bisa menunggu jika
aku harus. Tapi tolong jangan menolakku lagi. Tolong. Jangan lakukan hal itu
lagi padaku, jangan pernah mencoba untuk pergi dan menghilang dari hadapanku.”
.
.
.
.
.
.
To Be
Continue
Hadeeeeehhh si babehh
ReplyDelete