Wednesday, March 12

[Remake] Choosey Lover Chapter II

Jaejoong tahu mereka benar. Dia harus keluar dan melanjutkan hidupnya. Jaejoong menegangkan tulang belakangnya dan menarik nafas. “Aratta.” Jaejoong melirik ke mereka berdua. “Oddiseo?”
“Mirotic. Kau harus naik ke atas kuda yang sama yang telah melemparkanmu.” Yixing mengatakannya dengan keyakinan.
Panah ketidaknyamanan mengalir ke dalam diri Jaejoong memikirkan untuk pergi ke klub dimana dia bertemu dengan Yunho dulu. Apakah Yunho akan ada di sana? Jaejoong dan teman-temannya mencintai klub itu, itu tempat favorit mereka untuk mengadakan pesta dan Jaejoong tak dapat berhenti untuk pergi bersama-sama ke sana. Jaejoong mungkin bisa mendapatkan kesempatan pertama kalinya untuk mencoba melalui ini semua. Jaejoong perlahan menyetujui dan melihat teman seapartemennya saling memandang dengan kelegaan. Sekarang yang harus Jaejoong lakukan adalah merencanakan untuk memakai sesuatu yang spesial. Untuk berjaga-jaga...

Choosey Lover
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan
©their self
Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya  Lynda Chance
Jumat malam, telepon Yunho berbunyi saat dia sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Yunho mengangkat teleponnya dan mendengarkan sahabatnya Yifan.
“Hei hyung, cewek berlesung pipit yang tinggal dengan pacarmu itu baru saja mengirimkan SMS padaku.”
Awan hitam menyelimuti Yunho. “Aku tak punya pacar.” Kalimat yang dia paksakan keluar itu menyebabkan rasa sakit di dalam dirinya.
“Gurae? lalu kau sebut dia apa? yeoja yang kau tiduri?” Suara Yifan biasa-biasa saja.
Karena Yunho tak menceritakan pada Yifan bahwa mereka telah putus, Yunho tahu tak mungkin Yifan untuk mengetahuinya.
“Persetan kau, brengsek. Aku belum menidurinya dan dia bukan pacarku.”
Sejenak hening sebelum Yifan bicara, Kesembronoan dalam suaranya hilang. “Jinca?”
“Kris, aku bersumpah sebaiknya kau berhenti menggunakan kata itu,” Yunho membentak.
“Astaga, apa yang sebenarnya terjadi padamu?” Yifan bertanya pada Yunho, ketidaksabaran terbersit pada suaranya.
“Tak ada.” Kata tunggal itu keluar dari mulut Yunho.
Sejenak keheningan yang tak nyaman muncul sebelum Yifan berkata.
“Baik. Lanjutkan. Yeoja manis itu bilang padaku bahwa mereka akan pergi keMirotic malam ini.” Yifan berhenti sejenak. “Jaejoong bukan pacarmu?” Nadanya bertanya, terdengar bingung. “Itu sebabnya kenapa yeoja manis itu menulis SMS padaku?”
Yunho tak menjawab dan suasana hatinya menjadi gelap saat dia berpikir Jaejoong akan pergi ke klub itu. Semua namja-namja sialan itu akan mencoba untuk mendapatkannya.
“Apa kita akan datang, hyung?” Yifan memaksa jawaban dari Yunho.
“Ya, kita akan datang.” Suara Yunho suram. “Kau tahu bahwa dia tertarik padamu, kris?”
“Nugu?” Yifan bertanya.
“Yeoja yang kau sebut manis itu, Yixing.” Yunho menjelaskan.
Hening. “Kau mendapatkan sinyal itu juga?”
“Kris, Dia mengirim SMS, benar?”
“Ya, tapi hanya untuk pesta …”
“Ani. Bukan hanya untuk berpesta. Dia menginginkanmu. Hati-hati dengan dia, Kris,” Yunho mengingatkan temannya.
“Hati-hati? Apa-apaan maksudnya ini?” Yifan terdengar terganggu dan terhina.
“Kris, kita tahu dia menyukaimu…”
Yifan menyela. “Kau pikir begitu? Aku perlu mengajaknya keluar.”
“Bisakah kau sekali saja berpikir yang lain selain berhubungan seks?” Yunho tahu dia terdengar marah.
“Hey. Aku tak bicara apapun soal berhubungan seks.” Suara Yifan singkat.
“Ya. Tapi kita berdua tahu kau memikirkannya.“
“Kau tak tahu itu,” Yifan membantah.
“Omong kosong. Ya Tuhan, Kris, bukankah itu yang selalu kau pikirkan? berhubungan seks?”
“Biasanya begitu. Tapi tidak selalu. berhubungan seks dan mendapatkan uang. Dengan urutan seperti itu. Tidak. Mungkin urutannya tidak begitu.“
“Ya. Ada jutaan yeoja di Seoul. Dia sepupu Jaejoong. Apakah kau tahu itu? Dia lebih muda dari Jaejoong dan Heechul. Aku bertaruh yeoja itu belum berumur dua puluh satu. Jangan menjadi baji…”
“Sejak kapan kau jadi begitu perduli?”
“Jaejoong akan kecewa jika kau mengecewakan sepupunya. Masih banyak vagina lain. Tinggalkan Yixing.“
Yunho menunggu sebentar sementara Yifan diam tidak seperti biasanya. Akhirnya, sahabatnya itu berkata. “Apakah kau serius hyung?" Ada jeda dari kata-katanya. “Apakah kau serius mengatakan padaku agar aku mundur? Hyung, Dia menarik. Sangat menarik. Apakah kau mengatakan padaku bahwa kita akan mendapat masalah jika aku ingin mendekatinya?”
Yunho mengenali nada ini dan mendengar keperdulian nyata di dalam nada suara Yifan. “Aku serius, Jangan mengacaukan keadaan demi aku. Jaejoong…  Jaejoong sangat berarti untukku, Kris. Aku sudah melalui minggu yang buruk. Dia sudah berpikir kau seorang player. Dan jika kau membuat sepupunya kecewa maka dia akan mengaitkan hal itu denganku. Dia tak akan memberikan peluang lagi padaku. Aku minta tolong padamu, Kris, Cari yeoja lain. Jangan membuat kekacauan dengan yeoja itu.“
Keheningan kembali terjadi sampai akhirnya Yifan berbicara dengan nada datar, semua antusiasme itu hilang dari suaranya. “Arra, kau akan menjemputku?”
“Ya.”
“Baiklah, kutunggu.”
.
.
.
.
.
Yunho duduk di bar memegang birnya. Yifan sedang berada di lantai dansa bersama tiga yeoja. Mata Yunho melintas dari tontonan itu sampai mendarat sekali lagi ke Jaejoong, duduk malu-malu dengan teman-teman yeojanya dan dikelilingi oleh empat namja berisik sialan.
Gigi Yunho menggertak dan tangannya mencengkeram gelas di hadapannya. Syukurlah Jaejoong kembali duduk di mejanya lagi. Tadinya dia berdansa dengan seorang namja dan Yunho hampir saja datang untuk memisahkan. Satu-satunya hal yang membuat Yunho tetap berada di atas kursi barnya adalah dia tahu dirinya akan berakhir di penjara jika dia berdiri. Jika dia berakhir di penjara maka dia tak akan bisa berada di situ untuk menghentikan Jaejoong dari melakukan kesalahan yang lebih buruk.
Yunho diam dalam kemarahan dan menunggu lagu pelan itu berhenti. Itu 3 menit paling buruk dalam hidupnya. Benar-benar terburuk. Saat musik kembali berlanjut dengan lagu pelan lainnya, Yunho berpikir dia mungkin harus berdiri dan memotong. Dia tak bisa bertahan hidup untuk melewati lagu berikutnya. Tapi Yunho melihat Jaejoong menggelengkan kepalanya, menarik diri dari namja sialan itu dan berjalan kembali ke mejanya. Cengkeraman mematikan tangannya pada gelas perlahan mengendur. Detak jantungnya perlahan membaik. Itu sangat dekat. Terlalu dekat dari kehilangan pikirannya. Sejak itu, Jaejoong tetap berada di mejanya. Syukurlah.
Mata Yunho jatuh ke arah Jaejoong, melihat rambut panjangnya sebatas pinggang yang mengikal di ujungnya. Kaki Jaejoong menyilang dan sepatu hak tingginya membungkus otot betisnya dan mengait sekeliling pergelangan kakinya. Roknya pendek dan kakinya mulus dan lembut dan sangat mengacaukan kepala Yunho.
Pada akhirnya bisa dikatakan sangat mengganggu pikiran.
Seorang yeoja pirang yang mabuk melintas di hadapan Yunho dan mengatakan sesuatu di telinganya. Kalimat yeoja itu tidak jelas terdengar Oleh Yunho Karena kemudian mata Jaejoong pada akhirnya memandang Yunho dan darah mulai memompa ke dalam pembuluh darahnya bahkan lebih cepat. Ini sudah menjadi minggu yang sialan. Minggu dari neraka yang sialan.
Yunho mengenyahkan yeoja pirang itu dan melanjutkan memandang Jaejoong yang masih memandang Yunho. Yunho menghabiskan birnya saat musik berubah dari keras menjadi pelan. Saat pembukaan musik pelan itu muncul pasangan pergi dari  atas lantai dansa atau melanjutkan dengan gerakan pelan.
Yunho ingat lagu ini. Dia dan Jaejoong berdansa dengan lagu ini malam itu. Apakah Jaejoong ingat itu? Mata Jaejoong tetap pada Yunho dan pita gairah mengalir ke otaknya.
Heechul berdiri dan menghalangi pandangan Jaejoong kepada Yunho.
Yunho berusaha untuk melihat Jaejoong saat Heechul berjalan ke arah lantai dansa dengan salah satu namja yang mengitari meja mereka, apa yang bisa Yunho lihat adalah Yixing tetap duduk, memandang ke arah Yifan berada. Yifan sudah memilih salah satu diantara tiga yeoja itu, memeluk pinggangnya dan menariknya ke dalam dansa yang pelan.
Yunho kembali meneguk bir dari gelasnya yang entah sudah keberapa dan akhirnya kerumunan itu mereda dan Yunho dapat melihat Jaejoong dengan jelas lagi. Yunho dapat melihat dengan jelas namja sialan yang mengambil tangan Jaejoong dan mencoba untuk mengajaknya pergi ke lantai dansa dengannya.
Pandangan Yunho berubah merah.
kecemburuan dan kemarahan melanda Yunho. Kemudian menjadi sedikit mereda saat Yunho melihat Jaejoong menggelengkan kepalanya dan mengambil minumannya dan melirik ke arah Yunho. Yunho mengunci pandangan Jaejoong saat namja sialan itu tidak memahami isyarat yang diberikan oleh Jaejoong dan namja itu lalu mengambil helaian rambut Jaejoong, menyibakkannya. Menyentuh rambut Jaejoong! Emosi Yunho terikat dengan kasar saat namja itu tidak berlalu. Namja sialan itu tidak mau berlalu.
Yunho berdiri, berjalan menuju Jaejoong dan berhenti di hadapan namja itu.
“Dia bilang tidak, dude.” Suara Yunho rendah dan mengancam.
“Apa urusanmu, brengsek?”
Dari sudut matanya Yunho melihat muka Jaejoong berubah menjadi pucat. Mungkin Yunho sudah kelewatan tapi Yunho tidak perduli.
“Kau ingin berdansa dengannya,Jae?” melemparkan pertanyaan itu kepada Jaejoong, Yunho menyipitkan matanya ke namja sialan ini, mengitari bahunya untuk menunggu dan melihat apa yang akan kemudian terjadi.
Jantung Jaejoong berdetak sangat kencang, dia berpikir dia akan pingsan. Yunho terlihat nikmat untuk disantap dan dia serius bertanya pada dirinya dimana otaknya saat dia memutuskan Yunho. Yunho juga siap untuk membunuh seseorang.
Jaejoong perlahan menggelengkan kepalanya pertanda tidak.
Yunho meraih melintasi meja dan merenggut tangan Jaejoong dengan tangannya. Mengirimkan sinyal ke namja dihadapannya ini untuk mundur, Yunho menggenggamkan jemarinya ke jemari Jaejoong, menarik Jaejoong dan mulai berjalan menuju lantai dansa.
Hati Jaejoong tak karuan. Jaejoong tidak berdansa dengan Yunho sejak malam itu. Itu Sangat mengagumkan, malam yang luar biasa saat mereka bertemu dan Yunho sudah mengambil tangannya untuk berdansa seperti sekarang, tidak perlu bertanya, dan berjalan ke arah lantai dansa dan mendekapnya di lengannya, dari satu lagu ke lagu berikutnya.
Lengan Yunho memeluknya sekarang dan membungkusnya dengan dekapan. Aroma tubuh Yunho mengagumkan. Aroma Yunho selalu membuat Jaejoong gila. Itu satu hal yang paling seksi dari Yunho. Detak jantung Jaejoong mulai berdentuman dan tubuhnya gemetar.
Kepala Jaejoong berada di bawah Dagu Yunho dan Restleting celana Yunho menempel di perut Jaejoong. Hati Jaejoong berpacu. Yunho tidak seperti namja berbadan tinggi lain yang pernah berdansa dengannya yang selalu berusaha untuk bersandar pada Jaejoong. Tidak. Yunho berdiri tegap dan mendekap Jaejoong dengan dekapan erat saat mereka bergerak menari mengikuti musik.
Jaejoong mendesah.
Ya Tuhan. Siapa yang mau dia bodohi? Lima minggu terakhir ini sudah menjadi minggu yang paling intens untuk dirinya. Jaejoong sudah jatuh cinta pada Yunho. Tak ada gunanya membohongi dirinya sendiri. Itulah kenapa Jaejoong menjadi begitu takut. Itulah kenapa dia tak mau bercinta dengan Yunho. Insting protektif Jaejoong sudah bermain dan membuat Jaejoong takut. Realisasi telah menyentakkannya dari Yunho dan Jaejoong memandang ke atas kepada Yunho.
Yunho menyadari rasa takut yang muncul pada wajah Jaejoong, pada saat yang sama Yunho sadar Jaejoong kembali berusaha untuk lari darinya. Itu tidak akan terjadi. Jaejoong merasa sempurna berada di pelukan Yunho dan Yunho berusaha untuk menenangkan rasa takut yang dirasakan oleh Jaejoong. Tangan Yunho bergeser ke sisi wajah Jaejoong dan menangkupnya. “Hey. Semua akan baik-baik saja.” Yunho menarik Jaejoong ke tubuhnya dan memeluknya dengan kasar kembali memeluk Jaejoong.
Yunho menyapukan mulutnya ke bawah untuk mencium telinga Jaejoong.
“Apa yang harus aku lakukan, boo?” Yunho menggerakkan tangannya ke bokong Jaejoong and mempererat dekapannya. “Kau tinggal mengatakan apa pun yang kau inginkan.”
Yunho merasakan Jaejoong gemetar, tapi Jaejoong tidak mencoba untuk menjawabnya.
“Aku begitu menginginkanmu. Aku ingin membawamu ke atas tempat tidur, memelukmu, mencintaimu, bangun tidur bersamamu di pagi hari. boo, aku begitu menginginkannya sampai aku tak bisa berkonsentrasi pada hal lainnya kecuali kamu.” Lengan Yunho memeluk Jaejoong semakin erat dan Yunho bernafas dengan panas di telinga Jaejoong. “Tapi Sayang, aku bisa menunggu jika aku harus. Tapi tolong jangan menolakku lagi. Tolong. Jangan lakukan hal itu lagi padaku, jangan pernah mencoba untuk pergi dan menghilang dari hadapanku.”
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment: