Wednesday, March 12

[Remake] Choosey Lover Chapter III


“Hey. Semua akan baik-baik saja.” Yunho menarik Jaejoong ke tubuhnya dan memeluknya dengan kasar kembali memeluk Jaejoong.
Yunho menyapukan mulutnya ke bawah untuk mencium telinga Jaejoong.
“Apa yang harus aku lakukan, boo?” Yunho menggerakkan tangannya ke bokong Jaejoong and mempererat dekapannya. “Kau tinggal mengatakan apa pun yang kau inginkan.”
Yunho merasakan Jaejoong gemetar, tapi Jaejoong tidak mencoba untuk menjawabnya.
“Aku begitu menginginkanmu. Aku ingin membawamu ke atas tempat tidur, memelukmu, mencintaimu, bangun tidur bersamamu di pagi hari. boo, aku begitu menginginkannya sampai aku tak bisa berkonsentrasi pada hal lainnya kecuali kamu.” Lengan Yunho memeluk Jaejoong semakin erat dan Yunho bernafas dengan panas di telinga Jaejoong. “Tapi Sayang, aku bisa menunggu jika aku harus. Tapi tolong jangan menolakku lagi. Tolong. Jangan lakukan hal itu lagi padaku, jangan pernah mencoba untuk pergi dan menghilang dari hadapanku.”

Choosey Lover
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan
©their self
Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya  Lynda Chance
Yunho menghembuskan nafas dengan dalam, lengannya menjepit Jaejoong dengan kencang dan Yunho gemetar. Jaejoong merasakan getaran melanda Yunho. Yunho mengangkat wajah Jaejoong kearahnya dan Yunho memandang ke doe eyes Jaejoong dengan kolam cair derita yang panas. Mata mereka mengait dan terpaku saat Yunho kembali mengulangi kata-katanya. “Jangan biarkan aku melalui kekacauan itu lagi boo.”
Jaejoong menarik nafas, menutup matanya dan bersandar ke arah Yunho saat kata-kata Yunho dan sentuhan menggoda Jaejoong. Tuhan, Jaejoong sangat menginginkan Yunho juga. Tak hanya menginginkan untuk pergi ke atas tempat tidur bersamanya, Jaejoong menginginkan Yunho lebih dari itu. Tapi Jaejoong pernah disakiti sebelumnya dan sedemian buruk sehingga secara insting Jaejoong tahu jika kali ini dia terbakar lagi, maka dia tidak akan pernah bisa keluar dengan selamat lagi.
Tubuh Jaejoong gemetar yang disebabkan oleh takut dan gairah.
“Mari kita pergi ke suatu tempat dimana kita bisa bicara.” Suara Yunho dalam.
Jaejoong ragu dan suara Yunho berubah jadi meyakinkan. “Aku tak akan menyakitimu, boo. Jebal, Mari kita bicara soal ini. Hemm?”
Jaejoong mengangguk lembut setuju.
.
.
.
.
Wu Yifan menunggu untuk untuk menyudutkan Zhang Yixing ke lorong gelap menuju restroom dari klub dansa. Malam sudah larut dan Yifan lebih dari sekedar marah. Emosinya mudah meledak, libidonya tinggi, dan menghantam tubuhnya dengan intensitas yang kasar. Yifan sudah menunggu Yixing keluar dari toilet wanita selama dua puluh menit. Yifan tahu antYunhonya panjang, tapi tetap saja, Yifan ingin menyalahkan Yixing untuk penantian ini. Hal ini membuat agresi di dalam darahnya semakin besar.
Yifan berdiri di depan dinding dan mengamati gadis-gadis yang keluar dari toilet wanita. Lebih dari satu wanita yang melirik ke arahnya saat mereka berlalu. Perhatian yang tidak diinginkan itu membuat Yifan lebih marah lagi. Jika saja Yixing keluar dari sana maka Yifan bisa dengan segera mengakhiri ini semua.
Yifan berdiri di sebelah mesin penjual rokok dan akhirnya melihat Yixing keluar dari toilet wanita. Rambut dark brownnya menggantung seperti sutera di atas tonjolan payudaranya. Gairah Yifan meninggi dalam kebutuhan yang sengit saat wajah Yifan mengernyit menjadi ketidaksabaran. Yifan tidak membuang waktu dan menarik tangan Yixing saat dia berjalan.
Yixing menghembuskan nafas tersentak saat pergelangan tangannya di kuasai oleh tangan yang kasar dan dia di tarik ke sudut gelap diantara mesin penjual otomatis dan dinding. Yixing membatalkan teriakannya saat dia mengenali wajah Yifan yang kini memandang ke arahnya. Detak jantung Yixing menjadi kacau dan kakinya mulai gemetar dengan hebat saat objek fantasi rahasianya menekannya ke dinding.
Yifan menjulang di depan Yixing, lengan depan Yifan berada di samping kepala Yixing. Yifan tinggi dan besar dan dia berdiri menutupi Yixing, otot-ototnya menjepit dan giginya mengeretak. Gulungan erat ketegangan membakar tubuh yang menjulang di hadapan Yixing, bersandar ke arahnya.
“Dengar yeoja manis, hal ini tak akan berhasil.” Yifan mendesis.
Yifan terlihat menggeram. Marah dan tidak bersahabat. Kemarahan yang mendidih datang dari mata Yifan yang kini menunduk ke arah Yixing. Kemarahan yang mendidih dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang kimiawi. Sesuatu yang seksual.
Ketertarikan. Ketertarikan yang tidak diinginkan.
Yixing menarik nafas saat getaran keragu-raguan bercampur takut, rangsangan, dan kekecewaan dari kata-kata Yifan menyebar ke dalam tubuh Yixing. Sudah berapa lama Yixing berusaha untuk dekat dengan Yifan? Yixing tahu dengan pasti sudah berapa lama. Sudah empat minggu sejak sepupunya Jaejoong berkencan dengan teman Yifan, Yunho.
Mereka berdua bertemu, saling bertukar nomor telepon, lalu tak ada apa-apa lagi.
Tak ada apa-apa untuk Yixing. Jaejoong berada di surga ke tujuh berkencan dengan Yunho. Atau Jaejoong waktu itu berada di surga ke tujuh sampai seminggu lalu saat tiba-tiba Jaejoong putus dengan Yunho.
Yixing mengirim pesan SMS ke Yifan hanya untuk alasan itu. Untuk menolong sepupunya dengan memberikan kesempatan Jaejoong dan Yunho untuk berada di tempat yang sama dalam waktu yang sama. Sepupunya dan Yunho ditakdirkan untuk bersama. Yixing dapat merasakan hal itu dan itu cerita yang dia yakini. Tak ada alasan darinya selain itu saat mengirimkan SMS itu kepada Yifan.
Jika Yixing bisa meyakinkan dirinya soal itu maka dia bisa meyakinkan orang lain.
Tapi saat ini dia tidak bisa membuat pita suaranya bekerja karena Yifan berada di dekatnya, mengancamnya dengan besar tubuhnya dan cercaan di suaranya.
“Jawab aku.” Kata-kata Yifan kasar, penuh tuntutan.
“A-Apakah kau bertanya padaku?“ tubuh Yixing gemetar dengan hebat Yixing hampir tak bisa mengontrolnya.
“Aku bilang ini tidak akan berhasil.” Yifan berusaha untuk mengintimidasi Yixing. Yifan harus membuat Yixing cukup takut untuk mengasingkan Yixing, membuat Yixing ingin berada cukup jauh dari Yifan. Ini hal yang tersulit yang Yifan pernah harus lakukan. Yixing sangat seksi, salah satu wanita paling seksi yang pernah Yifan temui. Tapi Yunho sudah memintanya untuk menjauhi Yixing dan Yifan adalah teman yang setia, Yifan akan mencobanya dengan susah payah. Dan sekarang Yixing berdiri di dalam lingkaran lengannya, beberapa inchi dari Yifan dan tubuh Yixing gemetar dengan kebutuhan seksual yang akan membuat Yifan kehilangan kendali.
“ Apa yang…apa yang kau m-maksud?” Yixing melihat ke arah koridor yang lengang. Tak ada orang lain di sekitar mereka untuk mengganggu ketegangan. Mereka sendirian.
“maksudku adalah tentang kau yang mengejar-ngejarku. Itu tidak akan berhasil. Kau harus menghentikannya.” Suara Yifan menggambarkan kefrustasian dan kemarahan.
“kau G-Gila. Aku tidak mengejar-ngejarmu.” Yixing kaget dia terlihat begitu jelas mengejar-ngejar Yifan. Bagaimana dan kapan dia terlihat begitu menyolok mengejar-ngejar Yifan? Apakah Yifan akan mempercayainya jika dia membantahnya? Ia pikir dia tidak melakukan satu hal pun yang akan membuat Yifan tahu apa yang dirasakan oleh Yixing. Itu hal yang memalukan yang akan diketahui oleh Yifan dan itu akan membuat Yixing sangat malu. Yixing menegangkan tulang belakangnya.
“Omong kosong.“ Mata Yifan turun ke wajah Yixing, melintasi bibir Yixing dan jatuh ke dada Yixing yang naik turun penuh pergolakan. ”Sebenarnya umurmu berapa?”
“21, dan itu bukan urusanmu.” Yixing berusaha untuk menjaga nada suaranya datar, tapi Yixing punya banyak sekali emosi yang mengalir di tubuhnya. Yixing begitu bersemangat untuk bisa dekat dengan Yifan, tapi Yixing mulai merasa marah dengan sikap Yifan. Tidak ada alasan bagi Yifan untuk bicara dengan nada seperti itu dengannya. Walaupun Yifan tahu Yixing sudah berlaku buruk padanya itu merupakan alasan lebih lainnya untuk berlaku baik dengan Yixing. Tidak bersikap seperti Yixing sudah melakukan dosa yang begitu besar.
“Omong kosong. Kau belum 21.” Yifan menekan kata-kata itu keluar diantara giginya yang bergemeretak.
“Bagaimana kau pikir aku bisa berada di sini? Sulap?” suara Yixing sarkastis, memotong, memberikan padanya kembali apa yang sudah dia hidangkan untuk Yixing.
“Sok pintar. Kau yeoja kecil sok pintar dan jika kau pikir sesuatu akan terjadi diantara kita, kau gila.”
“Kau orang tolol. Biarkan aku pergi.” Sekarang Yixing sama marahnya dengan Yifan dan mulai mempertanyakan penilaiannya sendiri. Ya, Yifan sangat menarik, tapi sial, siapa tahu yang tahu ternyata dia seorang menjengkelkan?
“Aku tidak menahanmu.” Yifan mencemooh Yixing.
Yixing menyadari Yifan Pada dasarnya benar. Yifan tidak menyentuhnya sama sekali. Tubuh Yifan hanya menjulang diatasnya, mengurung Yixing, Tapi Yifan tidak benar-benar menyentuh Yixing. Yixing tak mau bertahan untuk mendengar omong kosong Yifan lagi. Yixing mulai membungkuk ke bawah lengan Yifan tapi Yifan lalu meraih Yixing dan menghentikannya dan menariknya kembali ke posisi awal.
Hanya saja kali ini, Yifan menyentuh dan menahan Yixing.
Yixing kembali terhimpit ke dinding dan Yifan menutupi ruang lingkup Yixing. Mata Yifan dengan intens memandang Yixing. Tangan Yifan mencengkeram Yixing dengan erat.
Kaget dan ketegangan yang intens melanda Yixing saat Yixing mendorong Yifan dan dia tak membiarkan dirinya lepas. Jelas ini lebih dari sekedar kemarahan. Yifan pasti memiliki perasaan yang lebih dari sekedar kemarahan. Mungkin Yixing tidak salah saat dia membayangkan apa yang terjadi diantara mereka berdua. Yixing sudah memimpikan hal ini cukup lama.
Yixing menguji kekuatan cengkeraman Yifan dengan mencoba untuk melepas diri dari Yifan lagi.
“Jangan bergerak.” Suara Yifan brutal. Yifan memandang Yixing, Lubang hidung Yifan melebar dan bibirnya menggertak.
Tangan Yifan mencengkeram lengan atas Yixing dan Yifan memandang Yixing dengan seksama.
“Buat keputusanmu.” Yixing menatap ke  arah Yifan lewat kelopak matanya, mencoba untuk menjauh dari Yifan beberapa Inchi lebih jauh. Beberapa inchi yang dibutuhkan oleh Yixing untuk tetap berada dalam kewarasan.
Cengkeraman Yifan pada Yixing menjadi lebih erat.”Jangan Bergerak.” Yifan mengulangi dengan desisan.
Tubuh Yixing menjadi relaks seutuhnya, siap mendengarkan hal yang tak bisa terelakkan. “Baiklah. Apa yang kau inginkan?”
“Aku ingin kau menyerah. Berhenti mengirimiku SMS…”
“Aku hanya mengirimimu satu SMS!” Yixing balik berteriak.
Cengkeraman Yifan seakan menembus kulit Yixing, “Berhenti memandangku seperti kau ingin memakanku…”
Yixing menyentakkan lengan Yifan yang menahannya dan menyela Yifan. “Kau gila.” Ok, namja arogan didepannya ini sepertinya butuh kepalanya di periksa. Yixing tak pernah memandang Yifan seperti itu. Ini pasti imaginasi Yifan sepenuhnya.
Yifan tetap menahan Yixing di hadapannya. “Jaga mulutmu, gadis kecil.”
“Namaku Yixing.”
“Aku tahu siapa namamu“ kata-kata itu keluar dengan cepat.
“Ah gurae?” Yixing bertanya dengan nafas yang cepat.
“Ya.”
Mereka saling menatap saat kesunyian hadir dengan aura seksual yang mengalir di antara mereka.
Ketegangan sangat tinggi diantara mereka dan akhirnya Yifan kembali bicara. “Jaejoong tak akan suka jika aku bermain-main denganmu. Jaejoong akan marah lalu Yunho juga akan marah padaku. Itu tidak boleh terjadi.”
Penjelasan Yifan tak membuat Yixing tertarik.
“Jaejoong bukan penjagaku.“ Kata-kata Yixing bermaksud untuk menantang Yifan.
“Itu tidak boleh terjadi.“ Yifan mendorong kata-kata itu keluar, mengulangi posisinya.
Siapa sebenarnya yang Yifan coba yakinkan?
Yixing menarik nafas, menahannya lalu mengatakan apa yang sebenarnya Yixing pikirkan. “Ya, Tapi kau juga menginginkannya.”
Itu dia. Pernyataan Yixing mengisyaratkan bahwa perkiraan Yifan mungkin benar. Yixing menginginkannya dan Yixing berpikir Yifan juga menginginkannya.
Kesunyian total melanda mereka.
Mata Yifan menyala menatap ke arah Yixing, mukanya marah dengan garang.
Yixing mendorong dagunya ke atas, garis rahang Yixing menantang.
Saat Yifan kemudian membuka mulutnya, Yixing tahu Yifan tak akan menyerah dengan chemistry yang ada diantara mereka.
“Ini tak akan berhasil. Aku namja dewasa. Kau tidak bisa memperdaya atau menggiringku ke dalam sesuatu yang tidak aku inginkan.”
“Ah gurae?” Nada suara Yixing menggambarkan bahwa dia tidak percaya padanya.
“Aku benar.”
“Hemm.” Yixing menjawab Yifan dengan cara yang jelas ingin membuat Yifan menjadi lebih marah lagi.
Yixing benar. Jawaban singkat satu katanya membuat Yifan menjadi lebih marah. Tubuh Yifan maju satu inchi lebih dekat untuk mengancam dan mulut Yifan terkatup membentuk garis lurus yang rapat.
Yixing menegangkan tubuhnya terhadap tubuh Yifan dan menghantam Yifan dengan ungkapan yang terkenal tepat di wajahnya. “Baiklah Yifan. Aku menangkap apa yang kau katakan dengan sangat jelas. Biarkan aku pergi. Ada namja lain yang tak akan keberatan untuk berdansa denganku.”
Yifan menahan Yixing dengan erat, ekspresinya berubah menjadi muram.
“Kau harus berhati-hati, yeoja kecil.” Itu sebuah peringatan. Yifan mengatakannya dengan nada suara rendah, menggertak, suara Yifan bergetar jauh dari dalam dada Yifan.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

No comments:

Post a Comment