“Hey. Semua akan baik-baik saja.” Yunho menarik Jaejoong ke tubuhnya dan memeluknya dengan kasar kembali memeluk Jaejoong.
Yunho menyapukan mulutnya ke bawah untuk mencium
telinga Jaejoong.
“Apa yang harus aku lakukan, boo?” Yunho
menggerakkan tangannya ke bokong Jaejoong and mempererat dekapannya. “Kau
tinggal mengatakan apa pun yang kau inginkan.”
Yunho merasakan Jaejoong gemetar, tapi Jaejoong
tidak mencoba untuk menjawabnya.
“Aku begitu menginginkanmu. Aku ingin membawamu ke
atas tempat tidur, memelukmu, mencintaimu, bangun tidur bersamamu di pagi hari.
boo, aku begitu menginginkannya sampai aku tak bisa berkonsentrasi pada hal
lainnya kecuali kamu.” Lengan Yunho memeluk Jaejoong semakin erat dan Yunho
bernafas dengan panas di telinga Jaejoong. “Tapi Sayang, aku bisa menunggu jika
aku harus. Tapi tolong jangan menolakku lagi. Tolong. Jangan lakukan hal itu
lagi padaku, jangan pernah mencoba untuk pergi dan menghilang dari hadapanku.”
Choosey
Lover
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung
Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan
©their self
Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya Lynda
Chance
Yunho
menghembuskan nafas dengan dalam, lengannya menjepit Jaejoong dengan kencang
dan Yunho gemetar. Jaejoong merasakan getaran melanda Yunho. Yunho mengangkat
wajah Jaejoong kearahnya dan Yunho memandang ke doe eyes Jaejoong dengan kolam
cair derita yang panas. Mata mereka mengait dan terpaku saat Yunho kembali
mengulangi kata-katanya. “Jangan biarkan aku melalui kekacauan itu lagi boo.”
Jaejoong
menarik nafas, menutup matanya dan bersandar ke arah Yunho saat kata-kata Yunho
dan sentuhan menggoda Jaejoong. Tuhan, Jaejoong sangat menginginkan Yunho juga.
Tak hanya menginginkan untuk pergi ke atas tempat tidur bersamanya, Jaejoong
menginginkan Yunho lebih dari itu. Tapi Jaejoong pernah disakiti sebelumnya dan
sedemian buruk sehingga secara insting Jaejoong tahu jika kali ini dia terbakar
lagi, maka dia tidak akan pernah bisa keluar dengan selamat lagi.
Tubuh
Jaejoong gemetar yang disebabkan oleh takut dan gairah.
“Mari
kita pergi ke suatu tempat dimana kita bisa bicara.” Suara Yunho dalam.
Jaejoong
ragu dan suara Yunho berubah jadi meyakinkan. “Aku tak akan menyakitimu, boo.
Jebal, Mari kita bicara soal ini. Hemm?”
Jaejoong
mengangguk lembut setuju.
.
.
.
.
Wu
Yifan menunggu untuk untuk menyudutkan Zhang Yixing ke lorong gelap menuju
restroom dari klub dansa. Malam sudah larut dan Yifan lebih dari sekedar marah.
Emosinya mudah meledak, libidonya tinggi, dan menghantam tubuhnya dengan
intensitas yang kasar. Yifan sudah menunggu Yixing keluar dari toilet wanita
selama dua puluh menit. Yifan tahu antYunhonya panjang, tapi tetap saja, Yifan
ingin menyalahkan Yixing untuk penantian ini. Hal ini membuat agresi di dalam
darahnya semakin besar.
Yifan
berdiri di depan dinding dan mengamati gadis-gadis yang keluar dari toilet
wanita. Lebih dari satu wanita yang melirik ke arahnya saat mereka berlalu.
Perhatian yang tidak diinginkan itu membuat Yifan lebih marah lagi. Jika saja
Yixing keluar dari sana maka Yifan bisa dengan segera mengakhiri ini semua.
Yifan
berdiri di sebelah mesin penjual rokok dan akhirnya melihat Yixing keluar dari
toilet wanita. Rambut dark brownnya menggantung seperti sutera di atas tonjolan
payudaranya. Gairah Yifan meninggi dalam kebutuhan yang sengit saat wajah Yifan
mengernyit menjadi ketidaksabaran. Yifan tidak membuang waktu dan menarik
tangan Yixing saat dia berjalan.
Yixing
menghembuskan nafas tersentak saat pergelangan tangannya di kuasai oleh tangan
yang kasar dan dia di tarik ke sudut gelap diantara mesin penjual otomatis dan
dinding. Yixing membatalkan teriakannya saat dia mengenali wajah Yifan yang
kini memandang ke arahnya. Detak jantung Yixing menjadi kacau dan kakinya mulai
gemetar dengan hebat saat objek fantasi rahasianya menekannya ke dinding.
Yifan
menjulang di depan Yixing, lengan depan Yifan berada di samping kepala Yixing.
Yifan tinggi dan besar dan dia berdiri menutupi Yixing, otot-ototnya menjepit
dan giginya mengeretak. Gulungan erat ketegangan membakar tubuh yang menjulang
di hadapan Yixing, bersandar ke arahnya.
“Dengar
yeoja manis, hal ini tak akan berhasil.” Yifan mendesis.
Yifan
terlihat menggeram. Marah dan tidak bersahabat. Kemarahan yang mendidih datang
dari mata Yifan yang kini menunduk ke arah Yixing. Kemarahan yang mendidih dan
sesuatu yang lain. Sesuatu yang kimiawi. Sesuatu yang seksual.
Ketertarikan.
Ketertarikan yang tidak diinginkan.
Yixing
menarik nafas saat getaran keragu-raguan bercampur takut, rangsangan, dan
kekecewaan dari kata-kata Yifan menyebar ke dalam tubuh Yixing. Sudah berapa
lama Yixing berusaha untuk dekat dengan Yifan? Yixing tahu dengan pasti sudah
berapa lama. Sudah empat minggu sejak sepupunya Jaejoong berkencan dengan teman
Yifan, Yunho.
Mereka
berdua bertemu, saling bertukar nomor telepon, lalu tak ada apa-apa lagi.
Tak
ada apa-apa untuk Yixing. Jaejoong berada di surga ke tujuh berkencan dengan
Yunho. Atau Jaejoong waktu itu berada di surga ke tujuh sampai seminggu lalu
saat tiba-tiba Jaejoong putus dengan Yunho.
Yixing
mengirim pesan SMS ke Yifan hanya untuk alasan itu. Untuk menolong sepupunya
dengan memberikan kesempatan Jaejoong dan Yunho untuk berada di tempat yang
sama dalam waktu yang sama. Sepupunya dan Yunho ditakdirkan untuk bersama.
Yixing dapat merasakan hal itu dan itu cerita yang dia yakini. Tak ada alasan
darinya selain itu saat mengirimkan SMS itu kepada Yifan.
Jika
Yixing bisa meyakinkan dirinya soal itu maka dia bisa meyakinkan orang lain.
Tapi
saat ini dia tidak bisa membuat pita suaranya bekerja karena Yifan berada di
dekatnya, mengancamnya dengan besar tubuhnya dan cercaan di suaranya.
“Jawab
aku.” Kata-kata Yifan kasar, penuh tuntutan.
“A-Apakah
kau bertanya padaku?“ tubuh Yixing gemetar dengan hebat Yixing hampir tak bisa
mengontrolnya.
“Aku
bilang ini tidak akan berhasil.” Yifan berusaha untuk mengintimidasi Yixing.
Yifan harus membuat Yixing cukup takut untuk mengasingkan Yixing, membuat
Yixing ingin berada cukup jauh dari Yifan. Ini hal yang tersulit yang Yifan
pernah harus lakukan. Yixing sangat seksi, salah satu wanita paling seksi yang
pernah Yifan temui. Tapi Yunho sudah memintanya untuk menjauhi Yixing dan Yifan
adalah teman yang setia, Yifan akan mencobanya dengan susah payah. Dan sekarang
Yixing berdiri di dalam lingkaran lengannya, beberapa inchi dari Yifan dan tubuh
Yixing gemetar dengan kebutuhan seksual yang akan membuat Yifan kehilangan
kendali.
“ Apa
yang…apa yang kau m-maksud?” Yixing melihat ke arah koridor yang lengang. Tak
ada orang lain di sekitar mereka untuk mengganggu ketegangan. Mereka sendirian.
“maksudku
adalah tentang kau yang mengejar-ngejarku. Itu tidak akan berhasil. Kau harus
menghentikannya.” Suara Yifan menggambarkan kefrustasian dan kemarahan.
“kau
G-Gila. Aku tidak mengejar-ngejarmu.” Yixing kaget dia terlihat begitu jelas
mengejar-ngejar Yifan. Bagaimana dan kapan dia terlihat begitu menyolok
mengejar-ngejar Yifan? Apakah Yifan akan mempercayainya jika dia membantahnya?
Ia pikir dia tidak melakukan satu hal pun yang akan membuat Yifan tahu apa yang
dirasakan oleh Yixing. Itu hal yang memalukan yang akan diketahui oleh Yifan
dan itu akan membuat Yixing sangat malu. Yixing menegangkan tulang belakangnya.
“Omong
kosong.“ Mata Yifan turun ke wajah Yixing, melintasi bibir Yixing dan jatuh ke
dada Yixing yang naik turun penuh pergolakan. ”Sebenarnya umurmu berapa?”
“21,
dan itu bukan urusanmu.” Yixing berusaha untuk menjaga nada suaranya datar,
tapi Yixing punya banyak sekali emosi yang mengalir di tubuhnya. Yixing begitu
bersemangat untuk bisa dekat dengan Yifan, tapi Yixing mulai merasa marah dengan
sikap Yifan. Tidak ada alasan bagi Yifan untuk bicara dengan nada seperti itu
dengannya. Walaupun Yifan tahu Yixing sudah berlaku buruk padanya itu merupakan
alasan lebih lainnya untuk berlaku baik dengan Yixing. Tidak bersikap seperti
Yixing sudah melakukan dosa yang begitu besar.
“Omong
kosong. Kau belum 21.” Yifan menekan kata-kata itu keluar diantara giginya yang
bergemeretak.
“Bagaimana
kau pikir aku bisa berada di sini? Sulap?” suara Yixing sarkastis, memotong,
memberikan padanya kembali apa yang sudah dia hidangkan untuk Yixing.
“Sok
pintar. Kau yeoja kecil sok pintar dan jika kau pikir sesuatu akan terjadi
diantara kita, kau gila.”
“Kau
orang tolol. Biarkan aku pergi.” Sekarang Yixing sama marahnya dengan Yifan dan
mulai mempertanyakan penilaiannya sendiri. Ya, Yifan sangat menarik, tapi sial,
siapa tahu yang tahu ternyata dia seorang menjengkelkan?
“Aku
tidak menahanmu.” Yifan mencemooh Yixing.
Yixing
menyadari Yifan Pada dasarnya benar. Yifan tidak menyentuhnya sama sekali.
Tubuh Yifan hanya menjulang diatasnya, mengurung Yixing, Tapi Yifan tidak
benar-benar menyentuh Yixing. Yixing tak mau bertahan untuk mendengar omong
kosong Yifan lagi. Yixing mulai membungkuk ke bawah lengan Yifan tapi Yifan
lalu meraih Yixing dan menghentikannya dan menariknya kembali ke posisi awal.
Hanya
saja kali ini, Yifan menyentuh dan menahan Yixing.
Yixing
kembali terhimpit ke dinding dan Yifan menutupi ruang lingkup Yixing. Mata
Yifan dengan intens memandang Yixing. Tangan Yifan mencengkeram Yixing dengan
erat.
Kaget
dan ketegangan yang intens melanda Yixing saat Yixing mendorong Yifan dan dia
tak membiarkan dirinya lepas. Jelas ini lebih dari sekedar kemarahan. Yifan
pasti memiliki perasaan yang lebih dari sekedar kemarahan. Mungkin Yixing tidak
salah saat dia membayangkan apa yang terjadi diantara mereka berdua. Yixing
sudah memimpikan hal ini cukup lama.
Yixing
menguji kekuatan cengkeraman Yifan dengan mencoba untuk melepas diri dari Yifan
lagi.
“Jangan
bergerak.” Suara Yifan brutal. Yifan memandang Yixing, Lubang hidung Yifan
melebar dan bibirnya menggertak.
Tangan
Yifan mencengkeram lengan atas Yixing dan Yifan memandang Yixing dengan
seksama.
“Buat
keputusanmu.” Yixing menatap ke arah
Yifan lewat kelopak matanya, mencoba untuk menjauh dari Yifan beberapa Inchi
lebih jauh. Beberapa inchi yang dibutuhkan oleh Yixing untuk tetap berada dalam
kewarasan.
Cengkeraman
Yifan pada Yixing menjadi lebih erat.”Jangan Bergerak.” Yifan mengulangi dengan
desisan.
Tubuh
Yixing menjadi relaks seutuhnya, siap mendengarkan hal yang tak bisa
terelakkan. “Baiklah. Apa yang kau inginkan?”
“Aku
ingin kau menyerah. Berhenti mengirimiku SMS…”
“Aku
hanya mengirimimu satu SMS!” Yixing balik berteriak.
Cengkeraman
Yifan seakan menembus kulit Yixing, “Berhenti memandangku seperti kau ingin
memakanku…”
Yixing
menyentakkan lengan Yifan yang menahannya dan menyela Yifan. “Kau gila.” Ok,
namja arogan didepannya ini sepertinya butuh kepalanya di periksa. Yixing tak
pernah memandang Yifan seperti itu. Ini pasti imaginasi Yifan sepenuhnya.
Yifan
tetap menahan Yixing di hadapannya. “Jaga mulutmu, gadis kecil.”
“Namaku
Yixing.”
“Aku
tahu siapa namamu“ kata-kata itu keluar dengan cepat.
“Ah
gurae?” Yixing bertanya dengan nafas yang cepat.
“Ya.”
Mereka
saling menatap saat kesunyian hadir dengan aura seksual yang mengalir di antara
mereka.
Ketegangan
sangat tinggi diantara mereka dan akhirnya Yifan kembali bicara. “Jaejoong tak
akan suka jika aku bermain-main denganmu. Jaejoong akan marah lalu Yunho juga
akan marah padaku. Itu tidak boleh terjadi.”
Penjelasan
Yifan tak membuat Yixing tertarik.
“Jaejoong
bukan penjagaku.“ Kata-kata Yixing bermaksud untuk menantang Yifan.
“Itu
tidak boleh terjadi.“ Yifan mendorong kata-kata itu keluar, mengulangi
posisinya.
Siapa
sebenarnya yang Yifan coba yakinkan?
Yixing
menarik nafas, menahannya lalu mengatakan apa yang sebenarnya Yixing pikirkan.
“Ya, Tapi kau juga menginginkannya.”
Itu
dia. Pernyataan Yixing mengisyaratkan bahwa perkiraan Yifan mungkin benar.
Yixing menginginkannya dan Yixing berpikir Yifan juga menginginkannya.
Kesunyian
total melanda mereka.
Mata
Yifan menyala menatap ke arah Yixing, mukanya marah dengan garang.
Yixing
mendorong dagunya ke atas, garis rahang Yixing menantang.
Saat
Yifan kemudian membuka mulutnya, Yixing tahu Yifan tak akan menyerah dengan
chemistry yang ada diantara mereka.
“Ini
tak akan berhasil. Aku namja dewasa. Kau tidak bisa memperdaya atau
menggiringku ke dalam sesuatu yang tidak aku inginkan.”
“Ah
gurae?” Nada suara Yixing menggambarkan bahwa dia tidak percaya padanya.
“Aku
benar.”
“Hemm.”
Yixing menjawab Yifan dengan cara yang jelas ingin membuat Yifan menjadi lebih
marah lagi.
Yixing
benar. Jawaban singkat satu katanya membuat Yifan menjadi lebih marah. Tubuh
Yifan maju satu inchi lebih dekat untuk mengancam dan mulut Yifan terkatup
membentuk garis lurus yang rapat.
Yixing
menegangkan tubuhnya terhadap tubuh Yifan dan menghantam Yifan dengan ungkapan
yang terkenal tepat di wajahnya. “Baiklah Yifan. Aku menangkap apa yang kau
katakan dengan sangat jelas. Biarkan aku pergi. Ada namja lain yang tak akan
keberatan untuk berdansa denganku.”
Yifan
menahan Yixing dengan erat, ekspresinya berubah menjadi muram.
“Kau
harus berhati-hati, yeoja kecil.” Itu sebuah peringatan. Yifan mengatakannya
dengan nada suara rendah, menggertak, suara Yifan bergetar jauh dari dalam dada
Yifan.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be
Continue
No comments:
Post a Comment