Tuesday, March 11

[Remake] Sacrificio de Amor Chapter IV

Ya Tuhan ... Dimana Dia??!
Jaejoong menatap mobil mercedes mewah yang masih terparkir di tempat parkir direksi yang tak kalah mewah dengan atap yang luas dan posisi yang lebih tinggi sehingga terlindung dari derasnya hujan.
Namja itu pasti belum pulang, mobilnya masih terparkir dan semua orang bilang bahwa bos yang satu itu baru pulang setelah lewat jam 8 malam, dan lebih malam lagi pada hari Jumat karena besoknya akhir pekan.
Sekarang hari jumat.
Dan Jaejoong menunggu dengan cemas, bagaimana jika namja itu sebenarnya sudah pulang? Jika bukan hari ini, akal sehatnya akan kembali dan dia akan kehilangan keberanian.
Berbagai pikiran buruk berkelebat hingga Jaejoong tidak memperhatikan derasnya hujan yang mulai membasahi tempat-tempat yang tidak terlindung oleh payung kecilnya,
Lalu dengan mengendarai mobil Audinya sosok yang ditunggu-tunggu Jaejoong akhirnya terlihat.

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Serena
©Santhy Agatha
Yunho tengah mengendarai audinya ditengah derasnya hujan yang kini mengguyur seoul. Yunho selalu suka bekerja. Teman-temannya sudah mengingatkannya untuk mengurangi kegilaannya dalam bekerja. Tapi Yunho tak pernah sekalipun mendengarkan nasehat teman-temannya. Dia suka bekerja, dan tak aka nada yang bisa menghalanginya untuk bekerja.
Hujan deras membuatnya tidak menyadari kehadiran Jaejoong. Tetapi ketikamobilnya semakin dekat dengan posisi Jaejoong yang kini tengah berdiri dijalan keluar perusahaan, Yunho menyadari bahwa Jaejoonglah yang berdiri dengan payung mungil ditengah hujan menunggunya, dan mulutnya menegang, Yunho menghentikan mobilnya didekat Jaejoong berdiri mengambil payungnya yang ada dikursi belakang dia keluar menghampiri Jaejoong,
"Kau pikir apa yang kini tengah kau lakukan disini?",
"Ssaa...ssaya...ingin bicara dengan anda",
Yunho mengernyit menyadari suara Jaejoong yang gemetar dan wajahnya yang pucat pasi, apakah yeoja itu kedinginan ? berapa lama yeoja itu menunggunya di luar sini?
Tiba-tiba dorongan posesif membuatnya ingin meraih yeoja itu, memeluknya dan menyalurkan kehangatan tubuhnya. Yunho menatap Jaejoong dengan gusar,
"Demi Tuhan Jae!! Kenapa kau tidak menunggu didalam ",
Sejujurnya Jaejoong tadi benar-benar panic hingga melupakan bahwa dia bisa menunggu Yunho di basement. Yang dia pikirkan dia harus segera mencari uang untuk biaya oprasi Changmin, hingga tanpa sadar dia justru menunggu Jaejoong ditengah jalan.
Yunho menatapnya tajam, sama sekali tidak menyembunyikan kejengkelannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku ada undangan makan malam, waktuku tak banyak", gumamnya sombong.
Jaejoong menatap Yunho penuh tekad meski gemetaran,
"Sa...Saya menawarkan diri kepada anda, anda boleh memiliki saya semau anda".
Yunho menyipitkan mata, menahan gumpalan kekecewaan yang menyeruak di hatinya karena semudah dan secepat itu yeoja ini menyerahkan diri kepadanya.
"Kau pikir aku masih berminat padamu?", gumamnya mengejek
Wajah Jaejoong pucat pasi, kata-kata Yunho bagaikan menamparnya keras. tapi dia bertahan, Demi Changmin, tekadnya dalam hati
"Anda boleh memiliki saya sepenuhnya, saya hanya meminta pembayaran di muka, setelah itu saya tak akan meminta apa-apa lagi",
"Memangnya kau terlibat hutang judi atau apa??!",
Yunho membentak keras, gusar karena sikap penuh tekad Jaejoong, dan gusar atas godaan dalam dirinya yang tak tertahankan untuk langsung menerima tawaran yeoja itu. Tapi ketika melihat Jaejoong hampir terlonjak kaget karena bentakannya, spontan Yunho melembut,
"Oke, Berapa?"
Jaejoong mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan tiba-tiba itu
Yunho mendesah tak sabar,
"Cepat katakan berapa kau menjual dirimu, lalu aku akan menawar sebelum mencapai kesepakatan", dengan sengaja dia melirik jam tangannya seolah tak tertarik, "aku tak punya banyak waktu untukmu"
Jaejoong menelan ludah,
"Ti..Tiga puluh...juta.."
"Mwo?", Yunho membelalakkan mata tak percaya.
"Tiga puluh juta won", kali ini Jaejoong berhasil terdengar mantap.
Yunho mengernyit jijik,
"Kau bercanda?! Kau pikir kau pantas dihargai semahal itu??!",
"I..itu pembayaran lunas sepenuhnya, setelah itu anda memiliki saya dan saya tak akan meminta apapun lagi"
"Kau pikir aku bodoh atau apa?", desis Yunho, "Bagaimana aku bisa tahu kau tak akan mangkir dari perjanjian ini? Bagaimanapun melakukan pembayaran di muka itu beresiko"
"Kalau begitu anda bisa membuat surat perjanjian yang sah secara hukum untuk mengatur perjanjian ini",
Jaejoong mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan gugup, mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini, mereka mengobrolkan penjualan harga dirinya seolah olah mengobrolkan penjualan barang.
Yunho terdiam, tampak menimang-nimang usulan Jaejoong, lalu wajahnya mengeras,
"Tidak, ini konyol, aku sudah tak tertarik, lagipula...", ia memandang Jaejoong dengan tatapan menghina, "Baru tadi siang kau menolakku mentah-mentah dan aku berkata kau pasti akan merangkak memintaku menerimamu, sekarang kau hampir bisa disebut merangkak padaku dalam waktu kurang dari 24 jam",
Yunho hendak membalikkan badan meninggalkan Jaejoong,
"Lupakan saja, yeoja yang terlalu murahan memadamkan gairahku"
Jaejoong langsung panik melihat Yunho membalikkan tubuh mengarah ke mobilnya,
Ani!! Yunho tidak boleh menolaknya!! Dialah satu-satunya harapan Jaejoong untuk menyelamatkan Changmin!!
Dengan setengah histeris, Jaejoong melakukan tindakan yang pasti akan ditentang akal sehatnya jika dia dalam keadaan tak terdesak,
Ditariknya lengan Yunho, dan ketika namja itu menoleh dengan marah, Jaejoong berjinjit, merangkul kepala Yunho dan mencium bibirnya!
Tubuh Yunho kaku dengan rasa terkejut dan luar biasa, yeoja itu dengan bibir yang lembut mencoba menciumnya dengan membabi-buta, jelas-jelas sangat tidak berpengalaman dan tanpa teknik ciuman yang memadai, tapi tetap saja gairah Yunho langsung meledak tak terkendali.
Dengan kasar dirangkulnya pinggang Jaejoong, Mengabaikan payung masing-masing yang kini tergeletak dijalan.Yunho setengah mengangkat Jaejoong agar merapat ke tubuhnya dan diciumnya cherry lips itu habis-habisan.
Ciuman Yunho sangat ganas dan penuh gairah, dan Jaejoong meskipun bersusah payah, berusaha mengimbanginya. Tubuh Yunho menegang dan terasa nyeri, begitu menginginkan Jaejoong. Dengan erangan yang parau, dia memperdalam ciumannya.
Entah berapa lama mereka berciuman di tempat parkir dengan diiringi derasnya hujan. Yunho benar-benar hanyut dalam kenikmatan dan dia menyadari kalau dia tak akan bisa menolak yeoja ini.
Yunho baru melepaskan ciumannya ketika menyadari napas Jaejoong yang mulai megap-megap.
Mereka berdiri dengan rapat dan Yunho masih memeluk pinggang Jaejoong, setengah mengangkat Jaejoong, tangan yeoja itu berpegangan pada pundaknya seolah-olah takut terjatuh.
Yunho menatap Jaejoong tajam, bibir yeoja itu agak bengkak karena tekanan ciumannya yang panas dan habis-habisan, bibirnya pasti juga seperti itu karena rasa panas di bibirnya belum juga hilang,
Well cium saja aku dan aku akan terbakar, geram Yunho dalam hati,
Dengan kaku diturunkannya pinggang Jaejoong, lalu dilepaskan pegangannya,
"Baik, aku akan membayarmu, besok pagi kau akan mendapatkan uang itu beserta surat perjanjian yang harus kau tandatangani",
Yunho menatap Jaejoong geram, lalu membalikkan tubuhnya menuju mobilnya, "Masuk ke mobil! malam ini aku akan mencoba barang yang sudah kubeli".
.
.
.
.
.
.
.
.
Jaejoong melirik Yunho agak ketakutan ketika namja itu membelokkan mobilnya ke areal hotel berbintang lima. Namja itu sama sekali tak mengajaknya bicara. Dia menyetir mobil dengan tenang tetapi rahangnya menegang seperti menahan marah. Apakah namja itu akan berbuat kasar padanya untuk melampiaskan kemarahannya?
Tadi siang dia sudah menghina Yunho dan dia menyadari bahwa ego seorang namja sangat mudah terluka. Dia ketakutan kalau Yunho akan melampiaskan kemarahannya dengan kasar, dia tidak pernah disentuh namja sebelumnya selain ciuman dan pelukan dari Changmin yang tidak pernah melebihi batas.
Apakah dia harus memberitahu Yunho kalau dia masih perawan? Namja itu dari awal sudah beranggapan dia murahan, bagaimana jika...
Jaejoong terlonjak ketika pintu terbuka, ternyata Yunho sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang,
Namja itu mengernyit ketika melihat wajah Jaejoong yang pucat pasi,
"Kkaja", gumamnya kaku, dan meraih tangan Jaejoong untuk membantunya keluar dari mobil.
Setelah Yunho menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas hotel untuk diparkir, mereka berjalan bersisian memasuki lobby hotel yang sangat mewah.
Resepsionis hotel menerima mereka dengan ramah dan memberikan kartu kamar yang dipilih Yunho,
Bahkan di dalam liftpun mereka lewati dengan keheningan.
Kamar itu begitu luas dan sangat mewah sehingga Jaejoong terpaku sambil terkagum-kagum akan keindahan interiornya.
Yunho hanya berdiri di sana menatapnya,
"Kau pasti belum makan, aku akan memesan makan malam di kamar", lalu namja itu melirik Jaejoong dengan sinis, "sementara itu, kupersilahkan kau mandi duluan, badanmu basah, kau bisa mandi dengan air hangat"
"Ta...tapi, saya tidak membawa baju..."
Yunho sengaja menatap Jaejoong dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan begitu intens sehingga wajah Jaejoong merah padam.
"Aku akan memesan pakaian di butik kenalanku, besok pagi pesanan akan diantarkan kemari. Bajumu yang basah letakkan ditempat yang disediakan di kamar mandi, petugas hotel akan mengambilnya untuk di laundry, sementara itu....",
Yunho sengaja menggantung kalimatnya dengan penuh arti, "malam ini kau tak perlu repot-repot memikirkan baju, toh kau tak akan sempat mengenakannya",
Kalau wajah Jaejoong bisa lebih merah padam lagi, itu akan menunjukkan betapa malunya dia dengan kata-kata vulgar Yunho.
Setelah menggumamkan beberapa kalimat tak jelas dengan gugup, Jaejoong setengah berlari menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Jaejoong merasa sedikit aman, disandarkannya punggungnya ke pintu dan dicobanya menarik napas dengan normal. Dia takut pada Yunho, namja itu seperti seekor singa yang menemukan domba lemah, lalu memutuskan untuk bermain-main dengannya dulu sebelum memakannya.
Jaejoong melangkah telanjang ke kamar mandi lalu menyiram tubuhnya yang letih dan kedinginan karena kehujanan dengan shower air panas,
Setelah selesai mencuci rambutnya, Jaejoong menyandarkan kepalanya di tembok dan membiarkan punggungnya yang pegal tersiram shower air hangat.
Dia takut menghadapi masa depan dan ketika membayangkan Changmin, air matanya menetes, mengalir bersama siraman shower,
“Mian Minnie, setelah ini mungkin aku akan menjadi yeoja kotor dan tak pantas untukmu, tapi hatiku tetap milikmu.”
.
.
.
.
.
.
.
Ketika selesai membasuh muka dan menggosok gigi, Jaejoong memandang bayangan dirinya dicermin, keadaannya sudah lebih baik. pipinya sudah tidak pucat lagi, sudah ada rona merah disana setelah mandi air hangat.
Ketukan di pintu hampir membuat tubuh Jaejoong melonjak,
"Kau lama sekali, apa kau baik-baik saja disana?", tanya Yunho tak sabar,
"Yyaaa...sebentar lagi saya selesai", Jaejoong menjawab sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling,
Apakah aku harus keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang??
Matanya menatap tumpukan baju kotornya memikirkan kemungkinan mengenakan bajunya lagi, dan membayangkan mengenakan baju yang hampir basah kuyup itu membuatnya begidik.
Senyumnya muncul ketika menemukan tumpukan handuk berwarna biru tua di lemari samping wastafel, dan dia beruntung, bukan hanya handuk, tapi dia menemukan sepasang jubah mandi dengan warna yang sama. Yang satu berukuran besar dan yang satu berukuran kecil.
Dikenakannya jubah mandi ukuran kecil yang masih kebesaran ditubuhnya sambil mengernyit, bahkan perlengkapan kamar mandi ini seperti sengaja ditujukan untuk pasangan, sepasang jubah mandi, sepasang sikat gigi, dan sepasang handuk.
Ditatapnya  bayangannya di cermin, wah lumayan, lebih dari lumayan malah, jubah itu menutup rapat dadanya dan karena kebesaran, panjangnya hampir mencapai mata kaki, dia kelihatan cukup sopan meski sebenarnya tidak mengenakan apa-apa lagi di balik jubah mandinya.
Ketika Jaejoong keluar dari kamar mandi, Yunho sedang memberikan instruksi pada pelayan hotel yang menata makan malam di meja. Namja itu hanya mengangkat alis melihat akal Jaejoong memakai jubah mandi,lalu memberikan tips pada pelayan sebelum dia pergi.
"Duduklah, makan dulu",
Gumam Yunho mulai santai sambil menunjuk kursi di depannya,
Jaejoong duduk dengan gugup di kursi dan menatap makanan yang tersaji di meja. Air liurnya langsung terbit melihat sajian yang kelihatannya lezat itu, ada sup krim yang sangat panas yang pasti rasanya sangat nikmat untuk orang yang habis basah kuyup kehujanan, lalu daging panggang dengan bumbu keju dan saus yang sangat menggunggah selera, salad buah-buahan dan cokelat panas yang pasti untuknya, karena Yunho sudah menyesap kopinya.
Namja itu dengan penuh perhatian menuangkan sup di mangkuk dan menyodorkannya pada Jaejoong.
Jaejoong menatap Yunho ragu, dan untuk pertama kalinya hari itu, Yunho tersenyum lembut padanya,
"Kka, makanlah, aku tahu kau lapar, aku sendiri lapar sekali."
Mereka mulai makan dalam keheningan, dari sudut matanya, Jaejoong dengan hati-hati melirik Yunho dan menyadari namja itu mulai santai, jasnya sudah dilepas dan kancing kemejanya dibuka dua dengan dasi yang sudah dibuka ikatannya.meskipun begitu, cara makannya sangat elegan hingga membuat Jaejoong malu.
"Jae?",
Suara itu menembus lamunannya dengan keras hingga membuat Jaejoong hampir melonjak karena terkejut.
Matanya mengerjap menatap Yunho,
"n...ne?"
"Kau hanya mengaduk-aduk supmu, apa tidak enak?"
Dengan terburu-buru Jaejoong menyuap sesendok sup dan menelannya,
"A..ani, ssayaa hanya sedang berpikir"
Yunho tersenyum, lalu sekali lagi menatap jubah tidur Jaejoong,
"Pintar sekali kau memakai jubah itu, jadi kau tak perlu tampil telanjang di depanku"
Komentar yang diucapkan dengan santai itu hampir saja membuat Jaejoong tersedak, pipinya langsung merona merah.
Yunho menyesap kopinya sambil tetap memandang Jaejoong, lalu meletakkan cangkirnya,
"Oke, giliranku mandi, makanlah sepuasmu,lalu taruh saja disitu aku akan menelpon pelayan untuk membereskannya 30 menit lagi",
Dengan santai namja itu melenggang ke dalam kamar mandi,
Setelah menyesap cokelatnya, Jaejoong tidak tahu harus mengerjakan apa lagi, jadi dia duduk di pinggir ranjang dan menyalakan televisi,
Beberapa saat kemudian pelayan datang dengan sopan dan membereskan makanan mereka. Jaejoong hanya terdiam agak malu karena menyadari keadaannya yang hanya mengenakan jubah mandi.
Detik-detik berlalu dan terasa begitu mencekam bagi Jaejoong, sangat kontras dengan Yunho yang sedang di kamar mandi, namja itu mandi dengan santai, bahkan Jaejoong mendengar namja itu bersenandung di shower.
Ketika Namja itu keluar dari kamar mandi, Jaejoong sudah hampir tertidur di atas ranjang, pertarungan batin yang bertubi-tubi sudah membuat jiwa dan raganya kelelahan, sehingga berdiam diri berbaring di atas ranjang yang nyaman itu membuatnya merasa sangat mengantuk.
Yunho mengernyit sambil mengencangkan tali jubah mandinya, ditatapnya Jaejoong yang berbaring miring membelakanginya dengan posisi meringkuk seperti janin di dalam kandungan, pemandangan itu membuat hatinya terasa sakit, entah kenapa, seperti ada dorongan untuk merengkuh yeoja itu dan melawan seluruh dunia demi dirinya.
Kernyitan Yunho semakin dalam, tidak pernah dia merasa seperti itu sebelumnya pada seorang yeoja, yeoja ini telah membangkitkan semacam hasrat liar yang selama ini tersembunyi rapat-rapat dalam jiwa Yunho, dan bukan hanya hasrat, Jaejoong juga memunculkan rasa obsesif dan posesif yang mendalam yang belum pernah dimiliki Yunho sebelumnya.
“Ani!!” geram Yunho dalam hati, hasrat ini tidak boleh sampai membuat dirinya lemah, dia harus menunjukkan siapa yang berkuasa.
Dengan pelan Yunho naik ke ranjang dibelakang Jaejoong yang memunggunginya, lalu diraihnya pundak Jaejoong, yeoja itu terperanjat karena dibangunkan, dengan mata yang masih sayu setengah tidur ditatapnya Yunho.
Yunho melihat sekelumit ketakutan didalam mata itu, dan dengan sedikit kasar dibaliknya tubuh Jaejoong menghadap dirinya,
“Aku membayar kamar di hotel ini bukan hanya untuk tidur”, geramnya parau lalu dikecupnya bibir Jaejoong,
Dan......meledaklah, Yunho merasa hasrat langsung membakar tubuhnya sekaligus, menghanguskannya, sejenak dia merasa ragu melampiaskan hasratnya seratus persen karena dirinya cenderung kasar ketika sangat berhasrat, tapi mengingat bagaimana Jaejoong menawarkan diri padanya hanya demi uang dan goresan rasa kecewa yang nyeri di hatinya karenanya membuat Yunho tak peduli lagi, toh yeoja ini pasti sudah berpengalaman dan mungkin sudah lebih dari sekali dia menjual dirinya demi uang. Tapi benarkah yeoja itu sudah berpengalaman?
Yunho teringat ciuman Jaejoong yang tanpa teknik memadai di tempat parkir tadi. Ani!! putusnya dalam hati, mungkin yeoja itu hanya tidak pandai berciuman, Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!!.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

10 comments:

  1. jaejae4:29 PM

    gmana nih... aku pnsaran bgt..
    smga next chap bsa cptan muncul.. mksh saki .

    ReplyDelete
  2. Baca remake ini berkali2 g bikin bosen, aplg dgn yunjae sbg main cast...makin suka

    ReplyDelete
  3. Hueeee poor jae...duuuh kamu akan menyesal Yun...

    ReplyDelete
  4. Anonymous2:50 AM

    Mdh2an ga lama yaaaa Saki, cs penasaran neeeeehhhh... (ง'̀⌣'́)ง

    ReplyDelete
  5. Anonymous7:43 AM

    Cerita Yunjae yang ini bagus..Aku lebih suka ini dari pada yang choosey lover..Lebih pengen cerita ini yang tiap hari di update..hehehe

    ReplyDelete
  6. Anonymous3:38 PM

    Aishhh... yunho bnr2 dech.. lbh sk mempertahankan egonya dr pada hatinya..

    ReplyDelete
  7. Anonymous10:37 PM

    aaaaaakkk aku suka banget sama novelnya mbak Shanty Agatha yang satu ini.. huhuhu...
    btw, kayaknya aku juga udah pernah baca deh ff yunjae yg remake-annya yang satu ini selain sleep with the devil. tapi aku lupa dimana pernah baca. please continue ya saki and can't wait for the next update. :))

    ReplyDelete
  8. kenapa jae ga cerita yng sbenernya ke yunho
    jadi yunho ga nganggep jae wanita murahan ...
    jadi yunho ga seenaknya

    ReplyDelete
  9. Tuh kan Jae tergoda, sebenernya krn terpaksa siy..
    Yunho bnr2 d..
    Ak ga suka sama kata2 terakhirnya Yunho yg blg "seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!"
    Miris bgt hidupmu Jae...Jae...

    ReplyDelete