tidak adakah yang pengen translate ff itu?
Saki pengen baca, tapi males sama bahasa inggrisnya T.T
.
.
Di sana terlukis seorang yeoja yang sedang berdiri
di tengah taman mawar, dengan gaun merah muda dan rambut cokelat tuanya yang
panjang dan berkilau, sedang tertawa bahagia, seolah-olah yeoja itu tidak bisa
menahan senyumnya kepada siapapun yang melukisnya. Yeoja itu memeluk perutnya
yang sedikit buncit, sedang hamil muda. Yeoja itu tampak penuh bahagia...penuh
cinta, dan yang membuat Jaejoong luar biasa kagetnya, wajah yeoja itu...Wajah yeoja
itu...Sama persis dengan wajahnya.
Oh ya Tuhan! Sama persis! Bagaikan pinang di belah
dua. Meskipun yeoja di lukisan itu tampak lebih anggun dan lebih feminin,
Jaejoong sangat yakin bahwa selain semua alasan itu, wajah mereka berdua tampak
begitu serupa!
Tapi Jaejoong yakin itu bukan lukisan dirinya. Dia
tidak pernah mengenakan gaun merah muda, dia tidak pernah dilukis di tengah
taman mawar, dan yang pasti, dia tidak pernah hamil sebelumnya!
Jadi siapakah yeoja itu? Siapakah dia...?
salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim
Jaejoong, Jung Yunho
Sleep
with the Devil
©Shanty Agatha
Suara
dingin dan tenang di belakangnya membuat Jaejoong terlonjak kaget. Dia
menolehkan kepalanya gugup dan menemukan Changmin berdiri di sana, menatapnya
dengan tatapan dingin yang biasanya.
“Siapa yeoja
di lukisan itu Min?”
Changmin
melirik sekilas pada lukisan di dinding itu, Jaejoong merasa melihat sepercik
kesedihan di sana, meskipun dia tidak yakin, karena ketika menatap Changmin
lagi, namja itu sudah kembali memasang ekspresi datar.
“Saya
tidak bisa mengatakannya kepada Anda, Tuan Jung akan sangat marah...”
“Jebbal,”
Jaejoong menyela dengan cepat, “Jika kau tidak mau mengatakannya kepadaku, aku
akan menanyakan langsung kepada Yunho.”
Wajah
Changmin mengeras, “Anda tidak boleh melakukannya, saya tidak akan
membiarkannya karena itu akan menyakiti Tuan Jung.”
Perkataan
Changmin itu makin membuat Jaejoong penasaran. Ada apa ini sebenarnya? Apakah
inilah jawaban kenapa Yunho menyekapnya selama ini?
Jaejoong
akan mengejar jawaban itu dari Changmin, apapun yang terjadi, ditatapnya
Changmin dengan keras kepala, “Kalau begitu jelaskan padaku siapa yeoja ini,
kenapa wajahnya begitu sama denganku, dan apakah ini penyebab Yunho
menyekapku?”
Changmin
menghela nafas panjang,
“Baik
akan saya jelaskan, tetapi jangan di sini, mari ikut saya,” Namja itu
membalikkan tubuhnya dan bergegas keluar dari kamar, seolah-olah berada di
dalam kamar itu terasa menyesakkannya. Tiba-tiba Jaejoong juga merasa sesak
sehingga dia langsung mengikuti langkah Changmin keluar dari kamar itu.
.
.
.
.
.
.
.
“Yeoja
itu adalah Nyonya Jung Jessica,” Changmin bergumam datar, menatap mata Jaejoong
dalam-dalam.
Mereka
sekarang duduk di ruang duduk di bagian belakang rumah yang berakses langsung
ke taman belakang dan dilengkapi dengan sofa-sofa cantik yang nyaman dan meja
kopi yang saat ini menyediakan kopi hangat yang mengepul di meja.
Jaejoong
mengernyit mendengar informasi itu, Jung Jessica? Apakah dia eomma Yunho?
Tetapi setahunya, ibu Yunho bernama Heechul.
“Bukan
ibu Tuan Jung,” Changmin sepertinya bisa membaca pikiran Jaejoong, “Nyonya Jessica
adalah almarhum isteri Tuan Jung.”
Jaejoong
terperangah dan tiba-tiba merasa sesak napas, dadanya seperti dihantam oleh
ribuan ton batu sehingga terasa nyeri. Isteri?? Yunho pernah punya isteri
sebelumnya? Dan kenapa wajah yeoja itu sama persis dengannya?
“Tuan
Jung menikahi Nyonya Jessica ketika masih sangat muda, di Italia ketika Tuan
Jung lulus dari kuliahnya, pada usia 20 tahun. Mereka pasangan muda yang saling
mencintai. Setahu saya, Tuan Jung sangat mencintai isterinya,” Changmin berdehem, “Saya sudah mulai bekerja
kepada Tuan Jung ketika itu...Dulu, beliau adalah orang yang baik, sangat mudah
tertawa dan ramah...tetapi...Nyonya Jessica memang berbadan lemah sejak awal,
dia mempunyai penyakit jantung dengan katup yang tidak sempurna...” Changmin
menghela nafas panjang, seolah berusaha mengumpulkan kekuatan untuk bercerita,
“Kemudian Nyonya Jessica hamil...mereka sangat bahagia sekaligus
cemas...bahagia karena itu adalah anak pertama mereka, dan cemas karena itu
adalah kehamilan yang sangat beresiko...Nyonya Jessica seharusnya tidak boleh
hamil karena kondisi penyakitnya, tetapi dia yeoja yang keras kepala di balik
tubuhnya yang lemah...” Changmin tanpa sadar tersenyum, melembutkan garis-garis
datar di wajahnya, “Dia bertekad untuk hamil dan melahirkan anak Tuan Jung,
meskipun semua orang menentangnya, bahkan Tuan Jung sendiri.”
“Yunho
menentangnya?” Jaejoong membayangkan seorang yeoja dengan tubuh lemah, tetapi
mampu menantang seluruh dunia demi calon anak yang dikandungnya, sungguh yeoja
yang luar biasa.
“Ya,
sudah pasti Tuan Jung menentangnya, kehamilan itu berbahaya, nyawa Nyonya Jessica
taruhannya,” Changmin menundukkan kepalanya sedih, “Kemudian Nyonya Jessica
keguguran."
Jaejoong
tertegun. Keguguran, jadi bayi mereka tak pernah lahir? Tiba-tiba Jaejoong
merasa sedih mengingat senyuman Jessica di lukisan itu, senyuman seorang calon
ibu yang sangat bahagia, dengan tangan memeluk perutnya seperti melindungi sang
buah hati yang sedang terlelap di sana.
“Tubuh
nyonya Jessica ternyata terlalu lemah untuk menumbuhkan seorang bayi dalam
rahimnya, dia tidak mungkin mengandung sampai anak itu lahir...kenyataan itu
menghancurkan perasaan Nyonya Jessica dan membuat kondisi fisiknya makin
lemah...” Changmin menghela nafas, “Nyonya Jessica semakin hari semakin sakit,
hingga akhirnya sudah tak mampu bangun dari ranjangnya. Di suatu pagi, Tuan
Jung menemukannya sudah meninggal dalam tidurnya.”
Air
mata Jaejoong menetes, meninggal karena patah hati. Jaejoong teringat kepada
ibunya. Mereka berdua meninggal karena patah hati...Tidakkah mereka menyadari
bahwa mereka egois? Meninggalkan semua beban di dunia ini dengan lepasnya, tanpa memikirkan bahwa mereka juga membuat patah
hati bagi siapapun yang mereka tinggalkan?
“Sejak
kematian Nyonya Jessica, sepuluh tahun yang lalu...Tuan Jung berubah, dia
menutup hatinya. Dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Dia tidak pernah sama
lagi sejak saat itu.”
Jaejoong
mengusap air matanya dan menatap Changmin tajam.
“Jadi,
karena itukah Yunho menyekapku di sini? Karena wajahku sama persis dengan
almarhumah isterinya?”
Changmin
menatap Jaejoong dalam-dalam,
“Anda
seharusnya tahu bahwa...”
“Changmin.”
Suara
dingin Yunho dari arah pintu membuat mereka berdua menoleh. Wajah Changmin
memucat menemukan Yunho sedang berdiri di sana, berdiri bersandar di pintu
dengan wajah tidak terbaca.
“Aku
sebenarnya tidak ingin mengganggu kau yang sedang asyik bergosip dengan
Jaejoong,” Mata Yunho menajam, “Tetapi aku membutuhkanmu sekarang. Ada sesuatu
yang perlu kita bahas.”
Secepat
kilat Changmin berdiri, meskipun ada kekhawatiran yang terpancar di wajahnya,
dia telah melangkahi wewenangnya dengan menceritakan tentang Jessica kepada
Jaejoong. Entah apa yang akan dilakukan Tuannya ini kepadanya.
Yunho
bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah Jaejoong, dia membalikkan badan dan
membiarkan Changmin mengikutinya.
.
.
.
.
.
.
.
Jaejoong
termenung di kamarnya, seluruh kata-kata Changmin terngiang di telinganya,
berulang-ulang. Kisah tentang Jung Jessica yang cantik dan sempurna dan betapa
Yunho mencintainya.
Jadi,
selama ini dia hanya dipakai sebagai pengganti dari Jessica. Entah kenapa
perasaan sedih yang samar menyeruak di dada Jaejoong, terasa begitu
menyakitkan. Yunho menyekap dan mempertahankan dirinya di sini karena wajahnya
mirip dengan Jessica. Bahkan Yunho bercinta dengannya mungkin juga sambil
membayangkan Jessica. Kemiripan wajahnya dengan almarhumah isteri Yunholah yang
menyelamatkannya, mungkin. Kalau tidak dia sudah dibunuh dan dihancurkan oleh
Yunho atas percobaannya melukai namja itu.
Ternyata
bahkan gairah Yunho yang meluap-luap itu bukan ditujukan kepadanya. Dia
hanyalah sosok pengganti dari yeoja yang benar-benar diinginkan oleh Yunho.
“Aku
berani bertaruh bahwa pikiran-pikiran yang buruk sedang berkecamuk di kepalamu
yang mungil itu.”
Karena
sibuk dengan pikirannya, Jaejoong tidak menyadari kedatangan Yunho. Jaejoong
mengamati Yunho, namja itu tampak lelah,
“Aku
ingin segera keluar dari sini, setelah aku mengetahui semuanya, kau tidak
berhak lagi memanfaatkanku dan menahanku di sini.” Jaejoong mendongakkan
dagunya dengan angkuh.
Yunho
melangkah mendekat, berdiri di sofa di depan Jaejoong duduk, dan menatap tajam,
“Kupikir
semalam kita sudah mencapai kesepakatan.”
“Semalam
terjadi karena kau mengancamku!!” Napas Jaejoong terengah menahan emosi,
“Sekarang aku sudah kembali ke pikiran warasku.”
“Tidakkah
kau ingin bersamaku, Jae? Kita begitu cocok di ranjang, kau dan aku. Kita bisa
menjalin hubungan yang saling menguntungkan.”
“Aku
menolak untuk dimanfaatkan untuk menjadi pengganti siapapun.”
“Kau
bukan pengganti siapapun!” Yunho menyela tampak marah.
Mereka
berdiri berhadap-hadapan saling mengukur kekuatan masing-masing. Akhirnya
Jaejoong berkata,
“Aku
sudah mengetahui semua kebenarannya Jung. Aku memang bersalah mencoba
mencelakaimu. Tetapi itu tidak penting lagi. Kau memang bersalah atas kematian
kedua orang tuaku, dan aku berhak merasa benci dan dendam kepadamu. Tetapi kau
juga sudah menyelamatkan nyawaku, jadi aku menganggap kita impas. Kalau kau
melepaskanku, aku berjanji tidak akan muncul dalam kehidupanmu lagi dan tidak
akan pernah berusaha mencelakaimu lagi,” Jaejoong menatap Yunho
sungguh-sungguh, “Itulah penawaran terbaik yang bisa kuberikan.”
“Penawaran
katamu?” Yunho mengibaskan tangannya jengkel, “Kau boleh berprasangka dengan
semua kebencian tak beralasanmu itu, yang harus kau tahu, semua yang kau
pikirkan di dalam kepala cantikmu itu salah.”
“Aku
tahu mana yang salah dan benar. Dan kali ini aku sungguh-sungguh,” Jaejoong
menatap Yunho dengan tatapan mengancam, “Pilihanmu hanya dua, melepaskanku,
atau mendapati aku mati.”
.
.
.
.
.
.
.
Jaejoong
melaksanakan ancamannya. Dia mogok makan. Di hari pertama Yunho masih
menganggap remeh ancaman Jaejoong yang kekanak-kanakan itu, dan
menertawakannya.
Tetapi
sekarang sudah hampir dua hari, dan Changmin melapor bahwa Jaejoong sama sekali
tidak menyentuh makanan dan minumannya.
“Sama sekali?”
Yunho berdiri dari duduknya dan menatap Changmin frustrasi.
“Dia
sama sekali tidak menyentuh makanannya, kami meletakkan makanannya di kamar dan
dia hanya tidur di sana. Ketika kami menengok nampannya, dia tidak menyentuhnya
sama sekali, bahkan minumannya pun tidak disentuhnya. Anda harus melakukan
sesuatu sebelum yeoja itu membahayakan dirinya sendiri.” jawab Changmin datar,
meskipun ada nada khawatir di sana.
“Aku
akan menengoknya.”
Yunho
melangkah memasuki kamar putih itu, dan menemukan Jaejoong terbaring lemah di
ranjang. Yeoja ini benar-benar keras kepala.
“Kenapa
kau tidak memakan makananmu?” Yunho mendesis menahan kemarahannya, “Apakah kau
ingin membunuh dirimu sendiri?”
Jaejoong
membalikkan badan dan menatapnya, membuat Yunho mengernyit, wajah Jaejoong
tampak pucat dan bibirnya kering, yeoja itu juga tampak lemah.
“Kau
harus memakan makananmu Jae, kalau tidak kau akan sakit dan membahayakan dirimu
sendiri.”
Jaejoong
menggelengkan kepalanya dan memalingkan wajahnya dari Yunho.
Yunho
mengacak rambutnya frustrasi.
“Oke,
Kau mau apa?! Kau ingin bebas? Baik! Kau akan dapatkan apa yang kau mau,
asalkan kau mau makan!”
Pernyataan
itu membuat Jaejoong menolehkan kepalanya lagi menatap Yunho, dia berdehem,
tenggorokannya terasa kering membuatnya susah berbicara, perutnya terasa nyeri,
dan kepalanya pusing,
“Kau...berjanji?”
gumamnya lemah.
Yunho
menatap Jaejoong marah, “Kau pikir aku bisa berbuat lain?? Aku berjanji, kau
bisa pegang janji seorang Jung. Sekarang, biarkan aku membantumu minum!”
Sambil
berdehem kembali karena tenggorokannya sakit, Jaejoong berusaha menantang
tatapan marah Yunho dan membaca arti yang tersirat di dalamnya. Ya, Jung yunho
selalu menjunjung harga dirinya, dia tidak akan mengingkari janji. Setelah
merasa yakin, Jaejoong menganggukkan kepalanya.
“Astaga
Jae.” Yunho mendesah lega, meraih gelas air putih yang tak tersentuh, tak jauh dari ranjang,
lalu duduk di samping ranjang dan membantu Jaejoong duduk,
“Kau
bisa minum?”
Jaejoong
haus sekali, dan keinginannya yang paling besar adalah langsung minum dari
gelas itu dengan sekali teguk. Ketika menerima gelas itu, Jaejoong langsung
meneguknya dengan rakus, tetapi berhenti di tegukan pertama karena tersedak dan
sakit di tenggorokannya.
“Pelan-pelan,”
bisik Yunho lembut, menjauhkan gelas itu dari Jaejoong, “Yeoja keras kepala.”
gerutunya, lalu meneguk minuman di gelas itu,
Selanjutnya
yang terjadi sama sekali tidak disangka-sangka oleh Jaejoong. Yunho duduk
menerjangnya dan melumat bibirnya, sekaligus mengalirkan air minum itu ke
tenggorokannya.
Air
minum itu meluncur dengan mulus ke tenggorokan Jaejoong, membasahinya yang
kehausan. Sejenak, ketika air itu telah seluruhnya berpindah, Yunho masih
bermain-main di bibir Jaejoong, mempermainkannya.
Kemudian,
sedikit terengah, Yunho melepaskan bibir Jaejoong, mereka duduk dengan wajah
berhadapan, sangat dekat hingga napas panas mereka bersahutan.
Lalu
dengan gerakan tiba-tiba Yunho menjauhkan tubuhnya dari Jaejoong dan menatapnya
tegang,
“Besok
Hyunjoong akan membantu mengemasi pakaianmu dan Changmin akan mengantarkanmu
pulang.”
“Aku
tidak mau membawa apapun dari sini, aku datang kesini tanpa membawa apapun, dan
begitupun ketika aku keluar dari sini.”
Yunho
mendesis tajam, “Aku memaksa, Jae. dan jangan bermain-main dengan kesabaranku.”
Jaejoong
terdiam. Yunho membebaskannya, itu sudah cukup. Dan kalau konsekuensinya
Jaejoong harus bertoleransi dengan sikap arogan namja itu, mungkin itu cukup
sepadan.
.
.
.
.
.
.
.
Pakaian-pakaian
yang dibelikan Yunho untuknya sangat banyak hingga membutuhkan 3 koper besar
untuk mengepaknya, belum lagi satu koper besar berisi perhiasan dan aksesoris
seperti koleksi sepatu dan tas yang bahkan tidak sempat Jaejoong pakai.
Pegawai
Yunho sudah mengatur barang-barang itu dengan rapi di bagasi, dan Changmin
sudah berdiri di sisi mobil, mempersilahkan Jaejoong masuk untuk diantar
pulang.
Jaejoong
melirik ke arah rumah besar itu, Yunho tidak ada dari pagi tadi, namja itu
pergi entah kemana tadi pagi-pagi sekali dan Jaejoong tidak berani bertanya kepada
Changmin.
Seharusnya
Jaejoong berbahagia, Dahi Jaejoong berkerut memikirkan perasaannya. Tetapi
entah kenapa dia tidak bahagia. Rasanya menyesakkan dada dan menyedihkan entah
kenapa. Dan Jaejoong menahan diri kuat-kuat atas dorongan emosi yang membuatnya
ingin menangis.
Dengan
cepat, tanpa berani menoleh ke arah rumah Yunho, Jaejoong memasuki mobil hitam
itu. Changmin menutup pintu penumpang dan duduk di kursi supir bersama seorang
pengawal lain. Pelan, mobil itu meluncur melalui taman besar di halaman Yunho
dan melewati gerbang.
Detik
itulah Jaejoong memberanikan diri menatap rumah Yunho, mungkin ini akan jadi
yang terakhir kalinya. Dia menyerap pemandangan rumah itu dan mengenangnya,
sampai kemudian pintu gerbang hitam yang tinggi itu tertutup, menghalangi
pandangannya.
Selamat
tinggal Jung yunho. Jaejoong mengusap setitik air mata di sudut matanya.
Setelah ini aku tidak akan memikirkanmu lagi.
.
.
.
.
.
To Be Continue

Thorn year? Kayaknya ada yg translate tp lp situsnya hehehe..
ReplyDeletewah jae sdh terpaut sm yunho sbnernya, tp kecewa krn menganggap dirinya sekedar pelampiasan
Ahhh.. ternyata. ..jung jessica istrinya yunho.. so gmn nih klanjutan yunjae. Thorn year ad tuh yg terjemahin tp smpe chap 4 berenti..d ffn aa kok.. cm author ny lp
ReplyDeletetorn year? aku udah pernah baca sampe abis
ReplyDeleteceritanya mengharukan banget (TT_TT)
eh tapi sepertinya aku pernah baca traslate indonya deh di fb. tapi lupa nama grupnya
thorn year aku pernah bca di fb ada yang translate lia purnama sari tapi cuma sampe bagian ke dua ..yang ketiga nya ga di lanjut2 ... knapa saki ga coba translate aja trus post di sini hehe .....
ReplyDeleteternyata itu alasan yunho nyekap jaejoong karna kemiripan jae sama jessica
changmin blum slese ngomong si jung udh nyela aja
akhirnya jae bebas
Thorn Year? Baca ampe bag ke 2 abis itu gak pernh baca lagi
ReplyDeleteWoow Jae di lepas#mukahoror
Begitusaja? Kok kayak gak mungkin yah
Jaejoong beneran tuh pergi dari rumah Yunho?
ReplyDeleteApa mungkin Yunho sekap Jaejoong karena Jaejoong mirip istrinya yg udah meninggal?
Tambah seru nih....