Tuesday, February 25

[Remake] Salang-Ui Ba Chapter 16

Hei,... Ada yang sudah pernah baca Tohrn Year?
tidak adakah yang pengen translate ff itu?
Saki pengen baca, tapi males sama bahasa inggrisnya T.T
.
.

Di sana terlukis seorang yeoja yang sedang berdiri di tengah taman mawar, dengan gaun merah muda dan rambut cokelat tuanya yang panjang dan berkilau, sedang tertawa bahagia, seolah-olah yeoja itu tidak bisa menahan senyumnya kepada siapapun yang melukisnya. Yeoja itu memeluk perutnya yang sedikit buncit, sedang hamil muda. Yeoja itu tampak penuh bahagia...penuh cinta, dan yang membuat Jaejoong luar biasa kagetnya, wajah yeoja itu...Wajah yeoja itu...Sama persis dengan wajahnya.
Oh ya Tuhan! Sama persis! Bagaikan pinang di belah dua. Meskipun yeoja di lukisan itu tampak lebih anggun dan lebih feminin, Jaejoong sangat yakin bahwa selain semua alasan itu, wajah mereka berdua tampak begitu serupa!
Tapi Jaejoong yakin itu bukan lukisan dirinya. Dia tidak pernah mengenakan gaun merah muda, dia tidak pernah dilukis di tengah taman mawar, dan yang pasti, dia tidak pernah hamil sebelumnya!
Jadi siapakah yeoja itu? Siapakah dia...?
“Seharusnya Anda tidak boleh ke area ini.”
salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
Suara dingin dan tenang di belakangnya membuat Jaejoong terlonjak kaget. Dia menolehkan kepalanya gugup dan menemukan Changmin berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan dingin yang biasanya.
“Siapa yeoja di lukisan itu Min?”
Changmin melirik sekilas pada lukisan di dinding itu, Jaejoong merasa melihat sepercik kesedihan di sana, meskipun dia tidak yakin, karena ketika menatap Changmin lagi, namja itu sudah kembali memasang ekspresi datar.
“Saya tidak bisa mengatakannya kepada Anda, Tuan Jung akan sangat marah...”
“Jebbal,” Jaejoong menyela dengan cepat, “Jika kau tidak mau mengatakannya kepadaku, aku akan menanyakan langsung kepada Yunho.”
Wajah Changmin mengeras, “Anda tidak boleh melakukannya, saya tidak akan membiarkannya karena itu akan menyakiti Tuan Jung.”
Perkataan Changmin itu makin membuat Jaejoong penasaran. Ada apa ini sebenarnya? Apakah inilah jawaban kenapa Yunho menyekapnya selama ini?
Jaejoong akan mengejar jawaban itu dari Changmin, apapun yang terjadi, ditatapnya Changmin dengan keras kepala, “Kalau begitu jelaskan padaku siapa yeoja ini, kenapa wajahnya begitu sama denganku, dan apakah ini penyebab Yunho menyekapku?”
Changmin menghela nafas panjang,
“Baik akan saya jelaskan, tetapi jangan di sini, mari ikut saya,” Namja itu membalikkan tubuhnya dan bergegas keluar dari kamar, seolah-olah berada di dalam kamar itu terasa menyesakkannya. Tiba-tiba Jaejoong juga merasa sesak sehingga dia langsung mengikuti langkah Changmin keluar dari kamar itu.
.
.
.
.
.
.
.
“Yeoja itu adalah Nyonya Jung Jessica,” Changmin bergumam datar, menatap mata Jaejoong dalam-dalam.
Mereka sekarang duduk di ruang duduk di bagian belakang rumah yang berakses langsung ke taman belakang dan dilengkapi dengan sofa-sofa cantik yang nyaman dan meja kopi yang saat ini menyediakan kopi hangat yang mengepul di meja.
Jaejoong mengernyit mendengar informasi itu, Jung Jessica? Apakah dia eomma Yunho? Tetapi setahunya, ibu Yunho bernama Heechul.
“Bukan ibu Tuan Jung,” Changmin sepertinya bisa membaca pikiran Jaejoong, “Nyonya Jessica adalah almarhum isteri Tuan Jung.”
Jaejoong terperangah dan tiba-tiba merasa sesak napas, dadanya seperti dihantam oleh ribuan ton batu sehingga terasa nyeri. Isteri?? Yunho pernah punya isteri sebelumnya? Dan kenapa wajah yeoja itu sama persis dengannya?
“Tuan Jung menikahi Nyonya Jessica ketika masih sangat muda, di Italia ketika Tuan Jung lulus dari kuliahnya, pada usia 20 tahun. Mereka pasangan muda yang saling mencintai. Setahu saya, Tuan Jung sangat mencintai isterinya,”  Changmin berdehem, “Saya sudah mulai bekerja kepada Tuan Jung ketika itu...Dulu, beliau adalah orang yang baik, sangat mudah tertawa dan ramah...tetapi...Nyonya Jessica memang berbadan lemah sejak awal, dia mempunyai penyakit jantung dengan katup yang tidak sempurna...” Changmin menghela nafas panjang, seolah berusaha mengumpulkan kekuatan untuk bercerita, “Kemudian Nyonya Jessica hamil...mereka sangat bahagia sekaligus cemas...bahagia karena itu adalah anak pertama mereka, dan cemas karena itu adalah kehamilan yang sangat beresiko...Nyonya Jessica seharusnya tidak boleh hamil karena kondisi penyakitnya, tetapi dia yeoja yang keras kepala di balik tubuhnya yang lemah...” Changmin tanpa sadar tersenyum, melembutkan garis-garis datar di wajahnya, “Dia bertekad untuk hamil dan melahirkan anak Tuan Jung, meskipun semua orang menentangnya, bahkan Tuan Jung sendiri.”
“Yunho menentangnya?” Jaejoong membayangkan seorang yeoja dengan tubuh lemah, tetapi mampu menantang seluruh dunia demi calon anak yang dikandungnya, sungguh yeoja yang luar biasa.
“Ya, sudah pasti Tuan Jung menentangnya, kehamilan itu berbahaya, nyawa Nyonya Jessica taruhannya,” Changmin menundukkan kepalanya sedih, “Kemudian Nyonya Jessica keguguran."
Jaejoong tertegun. Keguguran, jadi bayi mereka tak pernah lahir? Tiba-tiba Jaejoong merasa sedih mengingat senyuman Jessica di lukisan itu, senyuman seorang calon ibu yang sangat bahagia, dengan tangan memeluk perutnya seperti melindungi sang buah hati yang sedang terlelap di sana.
“Tubuh nyonya Jessica ternyata terlalu lemah untuk menumbuhkan seorang bayi dalam rahimnya, dia tidak mungkin mengandung sampai anak itu lahir...kenyataan itu menghancurkan perasaan Nyonya Jessica dan membuat kondisi fisiknya makin lemah...” Changmin menghela nafas, “Nyonya Jessica semakin hari semakin sakit, hingga akhirnya sudah tak mampu bangun dari ranjangnya. Di suatu pagi, Tuan Jung menemukannya sudah meninggal dalam tidurnya.”
Air mata Jaejoong menetes, meninggal karena patah hati. Jaejoong teringat kepada ibunya. Mereka berdua meninggal karena patah hati...Tidakkah mereka menyadari bahwa mereka egois? Meninggalkan semua beban di dunia ini dengan lepasnya, tanpa  memikirkan bahwa mereka juga membuat patah hati bagi siapapun yang mereka tinggalkan?
“Sejak kematian Nyonya Jessica, sepuluh tahun yang lalu...Tuan Jung berubah, dia menutup hatinya. Dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Dia tidak pernah sama lagi sejak saat itu.”
Jaejoong mengusap air matanya dan menatap Changmin tajam.
“Jadi, karena itukah Yunho menyekapku di sini? Karena wajahku sama persis dengan almarhumah isterinya?”
Changmin menatap Jaejoong dalam-dalam,
“Anda seharusnya tahu bahwa...”
“Changmin.”
Suara dingin Yunho dari arah pintu membuat mereka berdua menoleh. Wajah Changmin memucat menemukan Yunho sedang berdiri di sana, berdiri bersandar di pintu dengan wajah tidak terbaca.
“Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu kau yang sedang asyik bergosip dengan Jaejoong,” Mata Yunho menajam, “Tetapi aku membutuhkanmu sekarang. Ada sesuatu yang perlu kita bahas.”
Secepat kilat Changmin berdiri, meskipun ada kekhawatiran yang terpancar di wajahnya, dia telah melangkahi wewenangnya dengan menceritakan tentang Jessica kepada Jaejoong. Entah apa yang akan dilakukan Tuannya ini kepadanya.
Yunho bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah Jaejoong, dia membalikkan badan dan membiarkan Changmin mengikutinya.
.
.
.
.
.
.
.
Jaejoong termenung di kamarnya, seluruh kata-kata Changmin terngiang di telinganya, berulang-ulang. Kisah tentang Jung Jessica yang cantik dan sempurna dan betapa Yunho mencintainya.
Jadi, selama ini dia hanya dipakai sebagai pengganti dari Jessica. Entah kenapa perasaan sedih yang samar menyeruak di dada Jaejoong, terasa begitu menyakitkan. Yunho menyekap dan mempertahankan dirinya di sini karena wajahnya mirip dengan Jessica. Bahkan Yunho bercinta dengannya mungkin juga sambil membayangkan Jessica. Kemiripan wajahnya dengan almarhumah isteri Yunholah yang menyelamatkannya, mungkin. Kalau tidak dia sudah dibunuh dan dihancurkan oleh Yunho atas percobaannya melukai namja itu.
Ternyata bahkan gairah Yunho yang meluap-luap itu bukan ditujukan kepadanya. Dia hanyalah sosok pengganti dari yeoja yang benar-benar diinginkan oleh Yunho.
“Aku berani bertaruh bahwa pikiran-pikiran yang buruk sedang berkecamuk di kepalamu yang mungil itu.”
Karena sibuk dengan pikirannya, Jaejoong tidak menyadari kedatangan Yunho. Jaejoong mengamati Yunho, namja itu tampak lelah,
“Aku ingin segera keluar dari sini, setelah aku mengetahui semuanya, kau tidak berhak lagi memanfaatkanku dan menahanku di sini.” Jaejoong mendongakkan dagunya dengan angkuh.
Yunho melangkah mendekat, berdiri di sofa di depan Jaejoong duduk, dan menatap tajam,
“Kupikir semalam kita sudah mencapai kesepakatan.”
“Semalam terjadi karena kau mengancamku!!” Napas Jaejoong terengah menahan emosi, “Sekarang aku sudah kembali ke pikiran warasku.”
“Tidakkah kau ingin bersamaku, Jae? Kita begitu cocok di ranjang, kau dan aku. Kita bisa menjalin hubungan yang saling menguntungkan.”
“Aku menolak untuk dimanfaatkan untuk menjadi pengganti siapapun.”
“Kau bukan pengganti siapapun!” Yunho menyela tampak marah.
Mereka berdiri berhadap-hadapan saling mengukur kekuatan masing-masing. Akhirnya Jaejoong berkata,
“Aku sudah mengetahui semua kebenarannya Jung. Aku memang bersalah mencoba mencelakaimu. Tetapi itu tidak penting lagi. Kau memang bersalah atas kematian kedua orang tuaku, dan aku berhak merasa benci dan dendam kepadamu. Tetapi kau juga sudah menyelamatkan nyawaku, jadi aku menganggap kita impas. Kalau kau melepaskanku, aku berjanji tidak akan muncul dalam kehidupanmu lagi dan tidak akan pernah berusaha mencelakaimu lagi,” Jaejoong menatap Yunho sungguh-sungguh, “Itulah penawaran terbaik yang bisa kuberikan.”
“Penawaran katamu?” Yunho mengibaskan tangannya jengkel, “Kau boleh berprasangka dengan semua kebencian tak beralasanmu itu, yang harus kau tahu, semua yang kau pikirkan di dalam kepala cantikmu itu salah.”
“Aku tahu mana yang salah dan benar. Dan kali ini aku sungguh-sungguh,” Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan mengancam, “Pilihanmu hanya dua, melepaskanku, atau mendapati aku mati.”
.
.
.
.
.
.
.
Jaejoong melaksanakan ancamannya. Dia mogok makan. Di hari pertama Yunho masih menganggap remeh ancaman Jaejoong yang kekanak-kanakan itu, dan menertawakannya.
Tetapi sekarang sudah hampir dua hari, dan Changmin melapor bahwa Jaejoong sama sekali tidak menyentuh makanan dan minumannya.
“Sama sekali?” Yunho berdiri dari duduknya dan menatap Changmin frustrasi.
“Dia sama sekali tidak menyentuh makanannya, kami meletakkan makanannya di kamar dan dia hanya tidur di sana. Ketika kami menengok nampannya, dia tidak menyentuhnya sama sekali, bahkan minumannya pun tidak disentuhnya. Anda harus melakukan sesuatu sebelum yeoja itu membahayakan dirinya sendiri.” jawab Changmin datar, meskipun ada nada khawatir di sana.
“Aku akan menengoknya.”
Yunho melangkah memasuki kamar putih itu, dan menemukan Jaejoong terbaring lemah di ranjang. Yeoja ini benar-benar keras kepala.
“Kenapa kau tidak memakan makananmu?” Yunho mendesis menahan kemarahannya, “Apakah kau ingin membunuh dirimu sendiri?”
Jaejoong membalikkan badan dan menatapnya, membuat Yunho mengernyit, wajah Jaejoong tampak pucat dan bibirnya kering, yeoja itu juga tampak lemah.
“Kau harus memakan makananmu Jae, kalau tidak kau akan sakit dan membahayakan dirimu sendiri.”
Jaejoong menggelengkan kepalanya dan memalingkan wajahnya dari Yunho.
Yunho mengacak rambutnya frustrasi.
“Oke, Kau mau apa?! Kau ingin bebas? Baik! Kau akan dapatkan apa yang kau mau, asalkan kau mau makan!”
Pernyataan itu membuat Jaejoong menolehkan kepalanya lagi menatap Yunho, dia berdehem, tenggorokannya terasa kering membuatnya susah berbicara, perutnya terasa nyeri, dan kepalanya pusing,
“Kau...berjanji?” gumamnya lemah.
Yunho menatap Jaejoong marah, “Kau pikir aku bisa berbuat lain?? Aku berjanji, kau bisa pegang janji seorang Jung. Sekarang, biarkan aku membantumu minum!”
Sambil berdehem kembali karena tenggorokannya sakit, Jaejoong berusaha menantang tatapan marah Yunho dan membaca arti yang tersirat di dalamnya. Ya, Jung yunho selalu menjunjung harga dirinya, dia tidak akan mengingkari janji. Setelah merasa yakin, Jaejoong menganggukkan kepalanya.
“Astaga Jae.” Yunho mendesah lega, meraih gelas air putih  yang tak tersentuh, tak jauh dari ranjang, lalu duduk di samping ranjang dan membantu Jaejoong duduk,
“Kau bisa minum?”
Jaejoong haus sekali, dan keinginannya yang paling besar adalah langsung minum dari gelas itu dengan sekali teguk. Ketika menerima gelas itu, Jaejoong langsung meneguknya dengan rakus, tetapi berhenti di tegukan pertama karena tersedak dan sakit di tenggorokannya.
“Pelan-pelan,” bisik Yunho lembut, menjauhkan gelas itu dari Jaejoong, “Yeoja keras kepala.” gerutunya, lalu meneguk minuman di gelas itu,
Selanjutnya yang terjadi sama sekali tidak disangka-sangka oleh Jaejoong. Yunho duduk menerjangnya dan melumat bibirnya, sekaligus mengalirkan air minum itu ke tenggorokannya.
Air minum itu meluncur dengan mulus ke tenggorokan Jaejoong, membasahinya yang kehausan. Sejenak, ketika air itu telah seluruhnya berpindah, Yunho masih bermain-main di bibir Jaejoong, mempermainkannya.
Kemudian, sedikit terengah, Yunho melepaskan bibir Jaejoong, mereka duduk dengan wajah berhadapan, sangat dekat hingga napas panas mereka bersahutan.
Lalu dengan gerakan tiba-tiba Yunho menjauhkan tubuhnya dari Jaejoong dan menatapnya tegang,
“Besok Hyunjoong akan membantu mengemasi pakaianmu dan Changmin akan mengantarkanmu pulang.”
“Aku tidak mau membawa apapun dari sini, aku datang kesini tanpa membawa apapun, dan begitupun ketika aku keluar dari sini.”
Yunho mendesis tajam, “Aku memaksa, Jae. dan jangan bermain-main dengan kesabaranku.”
Jaejoong terdiam. Yunho membebaskannya, itu sudah cukup. Dan kalau konsekuensinya Jaejoong harus bertoleransi dengan sikap arogan namja itu, mungkin itu cukup sepadan.
.
.
.
.
.
.
.
Pakaian-pakaian yang dibelikan Yunho untuknya sangat banyak hingga membutuhkan 3 koper besar untuk mengepaknya, belum lagi satu koper besar berisi perhiasan dan aksesoris seperti koleksi sepatu dan tas yang bahkan tidak sempat Jaejoong pakai.
Pegawai Yunho sudah mengatur barang-barang itu dengan rapi di bagasi, dan Changmin sudah berdiri di sisi mobil, mempersilahkan Jaejoong masuk untuk diantar pulang.
Jaejoong melirik ke arah rumah besar itu, Yunho tidak ada dari pagi tadi, namja itu pergi entah kemana tadi pagi-pagi sekali dan Jaejoong tidak berani bertanya kepada Changmin.
Seharusnya Jaejoong berbahagia, Dahi Jaejoong berkerut memikirkan perasaannya. Tetapi entah kenapa dia tidak bahagia. Rasanya menyesakkan dada dan menyedihkan entah kenapa. Dan Jaejoong menahan diri kuat-kuat atas dorongan emosi yang membuatnya ingin menangis.
Dengan cepat, tanpa berani menoleh ke arah rumah Yunho, Jaejoong memasuki mobil hitam itu. Changmin menutup pintu penumpang dan duduk di kursi supir bersama seorang pengawal lain. Pelan, mobil itu meluncur melalui taman besar di halaman Yunho dan melewati gerbang.
Detik itulah Jaejoong memberanikan diri menatap rumah Yunho, mungkin ini akan jadi yang terakhir kalinya. Dia menyerap pemandangan rumah itu dan mengenangnya, sampai kemudian pintu gerbang hitam yang tinggi itu tertutup, menghalangi pandangannya.
Selamat tinggal Jung yunho. Jaejoong mengusap setitik air mata di sudut matanya. Setelah ini aku tidak akan memikirkanmu lagi.
.
.
.
.
.
To Be Continue

6 comments:

  1. Thorn year? Kayaknya ada yg translate tp lp situsnya hehehe..
    wah jae sdh terpaut sm yunho sbnernya, tp kecewa krn menganggap dirinya sekedar pelampiasan

    ReplyDelete
  2. Anonymous12:11 PM

    Ahhh.. ternyata. ..jung jessica istrinya yunho.. so gmn nih klanjutan yunjae. Thorn year ad tuh yg terjemahin tp smpe chap 4 berenti..d ffn aa kok.. cm author ny lp

    ReplyDelete
  3. torn year? aku udah pernah baca sampe abis
    ceritanya mengharukan banget (TT_TT)

    eh tapi sepertinya aku pernah baca traslate indonya deh di fb. tapi lupa nama grupnya

    ReplyDelete
  4. thorn year aku pernah bca di fb ada yang translate lia purnama sari tapi cuma sampe bagian ke dua ..yang ketiga nya ga di lanjut2 ... knapa saki ga coba translate aja trus post di sini hehe .....
    ternyata itu alasan yunho nyekap jaejoong karna kemiripan jae sama jessica
    changmin blum slese ngomong si jung udh nyela aja
    akhirnya jae bebas

    ReplyDelete
  5. Thorn Year? Baca ampe bag ke 2 abis itu gak pernh baca lagi

    Woow Jae di lepas#mukahoror
    Begitusaja? Kok kayak gak mungkin yah

    ReplyDelete
  6. Jaejoong beneran tuh pergi dari rumah Yunho?
    Apa mungkin Yunho sekap Jaejoong karena Jaejoong mirip istrinya yg udah meninggal?
    Tambah seru nih....

    ReplyDelete