Tuesday, February 25

[Remake] Salang-Ui Ba Chapter 17


Seharusnya Jaejoong berbahagia, Dahi Jaejoong berkerut memikirkan perasaannya. Tetapi entah kenapa dia tidak bahagia. Rasanya menyesakkan dada dan menyedihkan entah kenapa. Dan Jaejoong menahan diri kuat-kuat atas dorongan emosi yang membuatnya ingin menangis.
Dengan cepat, tanpa berani menoleh ke arah rumah Yunho, Jaejoong memasuki mobil hitam itu. Changmin menutup pintu penumpang dan duduk di kursi supir bersama seorang pengawal lain. Pelan, mobil itu meluncur melalui taman besar di halaman Yunho dan melewati gerbang.
Detik itulah Jaejoong memberanikan diri menatap rumah Yunho, mungkin ini akan jadi yang terakhir kalinya. Dia menyerap pemandangan rumah itu dan mengenangnya, sampai kemudian pintu gerbang hitam yang tinggi itu tertutup, menghalangi pandangannya.
Selamat tinggal Jung yunho. Jaejoong mengusap setitik air mata di sudut matanya. Setelah ini aku tidak akan memikirkanmu lagi.

salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
Hari pertamanya dalam kebebasan dan Jaejoong luar biasa menikmatinya. Rumah mungil yang dikontraknya masih tertata rapi seolah-olah tidak pernah ditinggalkan sebelumnya. Mungkinkah Yunho mengirimkan orang-orangnya untuk membersihkan rumah ini? Jaejoong menggelengkan kepalanya dan mencoba menghapus bayangan Yunho dari pikirannya. Dia harus melupakan namja itu dan melangkah maju.
Pagi itu yang dilakukan oleh Jaejoong pertama kali adalah memeriksa kulkasnya dan mengerutkan kening ketika menemukan kulkasnya penuh bahan makanan. Ini pasti pekerjaan namja itu, gumam Jaejoong, menolak menyebut nama Yunho demi usahanya melupakannya. Tetapi Jaejoong tidak mau membiarkan gangguan ini merusak hari pertama kebebasannya.
Diambilnya sayuran, daging sapi, dan telur. Lalu dia membuat tumis daging dengan sayuran dan telur yang berbau harum, setelah menuang masakan harum itu dari wajan, Jaejoong menuang teh hangat yang sudah diseduhnya tadi pagi ke cangkir berwarna putih, dan meletakkan semuanya di meja. Sambil menyantap makanannya Jaejoong menyalakan komputernya. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencari pekerjaan, karena Jaejoong harus bertahan hidup. Seperti semula.
Seingat Jaejoong, dirinya masih punya tabungan di rekeningnya, tidak banyak memang hanya cukup untuk bertahan hidup selama satu sampai dengan dua bulan setelah dikurangi pembayaran kontrak rumah kecil ini secara bulanan. Setelah itu Jaejoong harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri sekaligus membayar tempat tinggalnya, kalau Jaejoong tidak bisa melakukannya, dia akan menjadi gelandangan. Jadi, waktunya untuk mencari pekerjaan sangatlah sempit.
Oh ya, hal kedua yang harus dilakukannya adalah mengambil uang tabungannya, mungkin nanti siang dia akan ke bank. Jaejoong menghirup tehnya yang terasa harum dan meneguknya dengan tegukan panas yang nikmat. Lalu mulai menyantap sarapannya sambil membuka situs pencari pekerjaan di komputernya.
Lowongan kerja...lowongan kerja yang cepat dan sesuai kualifikasinya...mata Jaejoong bergerak cepat dan mencatat beberapa perkerjaan yang sesuai. Dia mengirimkan email surat lamaran ke beberapa perusahaan tersebut sambil menghabiskan sarapannya.
Ketika Jaejoong selesai melakukan kegiatannya, waktu sudah hampir jam dua belas siang. Jaejoong teringat bahwa dia harus ke bank, dengan bergegas Jaejoong mengambil tas kecilnya dan hendak keluar rumah ketika ada yang mengetuk pintunya.
Seketika Jaejoong waspada. Dia tidak pernah punya teman sebelumnya. Jadi, itu tidaklah mungkin teman yang bertamu. Lagipula, dalam penyamarannya waktu itu karena berencana membalas dendam kepada Yunho, tidak banyak yang tahu kalau Jaejoong tinggal di rumah mungil ini.
Apakah itu musuh Yunho yang ingin mencelakainya? Jaejoong bergidik ngeri. Kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan diri. Tidak, musuh Yunho pasti sudah mengurus masalah itu sebelum memutuskan melepaskan Jaejoong. Jadi, siapa yang sedang mengetuk pintunya saat ini?
Dengan hati-hati Jaejoong mengintip melalui jendela sebelah dan menemukan seorang namja dengan setelan jas mahal dan resmi berdiri di depan pintunya. Dari penampilannya, tampaknya namja itu namja baik-baik. Tetapi penampilan bisa menipu bukan? Jaejoong masih tidak bisa percaya bahwa Dokter lee yang begitu baik dan selalu tersenyum itu ternyata adalah psikopat berjiwa kejam.
Jaejoong meraih pisau dapur dan membuka pintu dengan hati-hati, membiarkan rantai tetap menahan pintu itu,
“Nugu?” Jaejoong menatap pria tampan dalam balutan jas rapi itu sambil mengerutkan keningnya.
“Anyonghaseyo, Anda Nona Jaejoong? Saya Freddy, pengacara yang dikirim kemari.”
Pengacara? “Pengacara untuk apa? Saya tidak berkaitan dengan masalah hukum apapun,” Jaejoong masih mengintip dari pintu, belum mau membukanya, menatap Freddy dengan curiga.
“Saya dikirim untuk menyerahkan dokumen-dokumen kepada Anda,” Freddy tampak berdehem memikirkan sesuatu, “Anda mungkin tidak mengenal saya, tapi saya teman Yoochun dan Junsu.”
Jaejoong tertarik, “Apakah Junsu yang mengirimmu kemari.”
“Sayangnya bukan, meski Junsu menitip salam dan berharap kalian bisa bertemu di lain kesempatan,” Freddy mengangkat bahu, “Saya dikirim oleh tuan Jung.”
Jaejoong mengernyitkan kening, setelah berpikir sejenak, dia berpendapat bahwa namja yang mengaku pengacara ini tampak meyakinkan. Dia meletakkan pisaunya dan masih dengan waspada dia membuka pintunya.
“Boleh saya masuk, Anda boleh tenang, saya bukan orang jahat,” Freddy tersenyum dengan gaya profesional.
Jaejoong mempersilahkannya masuk, dan dia duduk menatap namja itu mengeluarkan berkas-berkas yang tampak penting dari tas kerjanya.
“Ini adalah surat kepemilikan rumah ini, tuan Jung telah membelinya atas nama Anda. Dan ini nomor rekening yang dibukakan tuan Jung atas nama Anda, seluruh kelengkapannya ada di dalam amplop, Anda tinggal menggunakannya,” Freddy meletakkan berkas-berkas itu dalam map terbuka di meja lalu tersenyum lagi, "Saya hanya diperintahkan menyerahkan berkas-berkas ini kepada Anda, kalau semua sudah lengkap, saya akan berpamitan,” Namja itu beranjak dari duduknya meninggalkan Jaejoong yang masih menatap kertas-kertas di meja itu dengan kaget.
Surat rumah? Rekening tabungan? Matanya melirik sekilas pada surat-surat itu. Semua atas namanya!
“Chankammanyo! Saya tidak tahu sebelumnya tentang surat-surat ini! Saya tidak bisa menerimanya!"
"Nona,” Freddy menyela sudah siap pergi dari rumah itu, “Saya hanya menyampaikan apa yang ditugaskan kepada saya, kalau Anda ada pertanyaan, mungkin Anda bisa menghubungi langsung tuan Jung.”
Dan Freddy pun pergi meninggalkan Jaejoong yang masih tercenung dan bingung menatap berkas-berkas di depannya.
.
.
.
.
.
“Saya ingin bertemu tuan Jung.” Jaejoong bergumam gugup kepada resepsionis di lobby kantor yang mewah itu. Kemewahan lobby itu begitu mengintimidasi dan Jaejoong merasakan semua mata memandangnya, seolah dia orang aneh yang salah tempat. Tangannya memeluk amplop berkas yang diberikan Freddy kepadanya tadi siang dan berusaha menantang tatapan mata tajam dari resepsionis yang menatapnya curiga.
“Tuan Jung, Jung Yunho yang anda maksud? Anda yakin? Kalau Anda ingin melamar pekerjaan, mungkin bisa Anda titipkan di sini...”
“Saya tidak ingin melamar pekerjaan,” Jaejoong mulai merasa jengkel menerima tatapan meremehkan dari resepsionis itu, “Tolong atur pertemuan saya dengan Jung Yunho.”
“Nona, saya tidak bermaksud menyinggung Anda, tetapi Tuan Jung tidak mungkin bisa ditemui semudah itu, Anda harus membuat janji pertemuan yang rumit dengan sekretarisnya dulu...”
“Biarkan dia masuk, dia datang bersamaku. Saya ada janji temu dengan Yunho jam dua,” sebuah suara yang dalam di sebelah Jaejoong mengagetkannya.
Jaejoong menoleh dan menyipitkan matanya. Sedikit silau akan ketampanan namja yang berdiri di sebelahnya. Well, satu lagi namja dengan anugerah kesempurnaan fisik yang luar biasa. Batin Jaejoong sambil menatap Yoochun yang memakai jas warna hitam dan tersenyum samar di sebelahnya. Tapi untunglah yang satu ini namja baik dan menyayangi isterinya. Mau tak mau Jaejoong mengingat kemesraan Yoochun dan Junsu di pesta malam itu, dan merasa kagum melihat besarnya cinta yang terpancar dari Yoochun dan Junsu ketika mereka bertatapan.
resepsionis itu menatap Yoochun dan sudah pasti mengenalinya,
“Oh, Tuan Park Yoochun, anyonghasimnika,” sikapnya berubah ramah dan Jaejoong mencibir atas perbedaan perlakuan yang diterimanya, apalagi resepsionis itu menatap Yoochun dengan tatapan memuja, “Mianhada, tadi siang kami sudah mengirimkan pesan kepada sekretaris Anda bahwa pertemuan hari ini dibatalkan, Tuan jung mendadak harus ke luar negeri."
Yoochun dan Jaejoong sama-sama mengerutkan keningnya. Yunho ke luar negeri?
“Aku tidak menerima pesan itu,” gumam Yoochun tajam, membuat resepsionis itu menunduk gugup hingga Jaejoong merasa kasihan. Tetapi kemudian Yoochun mengangkat bahunya, “Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke kantor dan mengganti waktuku yang tersia-siakan untuk kemari,” Yoochun menoleh kepada Jaejoong, “Kalau waktuku tersia-siakan aku akan terlambat pulang ke rumah.”
Jaejoong mau tak mau menahan senyum. Yoochun tampak lebih kesal karena terpaksa terlambat pulang daripada karena batal bertemu Yunho.
“Aku akan kembali ke kantor, oh ya, Junsu menitip salam kepadamu,” dengan senyumnya yang mempesona, Yoochun mengedipkan sebelah matanya ramah, lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari lobby itu.
Jaejoong menatap punggung Yoochun yang menjauh dan akhirnya tersenyum. Betapa beruntungnya Junsu memiliki pasangan yang luar biasa seperti Yoochun...
“Nona Jaejoong?” kali ini sebuah suara yang familiar menyapanya. Jaejoong menoleh dan mendapati Changmin yang berdiri menatapnya, baru saja keluar dari lift, “Apa yang Anda lakukan di sini?”
Jaejoong mengerjapkan matanya, “Aku mencari Yunho,” ditunjukkannya amplop berkas itu kepada Changmin, “Ini...aku ingin mengembalikan berkas-berkas ini.”
Changmin menatap berkas-berkas itu dan mengerti, “Tuan jung ingin Anda menerimanya.”
“Aku tidak mau menerimanya, aku tidak ingin berhutang budi kepadanya.”
“Itu uang anda,” sela Changmin tenang, “Itu adalah bagian saham Anda dari perusahaan ayah Anda yang sudah di take over oleh Tuan jung.”
Jaejoong tertegun. Bagian sahamnya? Dia tidak pernah mendengar ini sebelumnya.
“Bagian saham ini, sesuai dengan surat perjanjian jual beli akan diberikan kepada Anda begitu usia Anda genap 25 tahun,” Changmin menatap sekelilingnya yang ramai dan tampak tidak nyaman, “Mari saya akan jelaskan kepada Anda.”
.
.
.
.
.
Dia dibawa ke sebuah ruangan dengan perabot kayu dan nuansa cokelat dan elegan di lantai dua. Changmin duduk di sofa di depannya dan mempersilahkan Jaejoong duduk,
“Mari duduk dulu, Anda ingin kopi?”
Jaejoong menggelengkan kepalanya, terlalu tercengang dengan semuanya yang tampak begitu tiba-tiba.
“Tuan jung saat ini sedang ada di Italia ada beberapa urusan yang mendesak di sana,” Changmin mengubah posisi duduknya supaya nyaman, “Seharusnya dari awal saya menceritakan ini kepada Anda, tetapi Tuan jung menahan saya.”
Cerita apalagi? Kejutan apa lagi? Jantung Jaejoong berdegup kencang.
“Tuan jung tidak pernah menghancurkan perusahaan ayah Anda, apalagi membuat ayah Anda bangkrut,” Changmin mengangkat bahunya, “Anda boleh tidak percaya, tetapi Anda bisa mencari informasi di manapun, yang dilakukan Tuan jung bukanlah membangkrutkan perusahaan-perusahaan, dia menolong perusahaan-perusahaan yang sudah hampir bangkrut dan menghidupkannya lagi. Banyak perusahaan yang sudah dia take over menjadi berlipat-lipat lebih maju berkat kehebatan tuan jung.”
Jaejoong mengerutkan keningnya membantah, “Tetapi perusahaan ayahku baik-baik saja sebelum ayah membuat perjanjian dengan Yunho, kami sama sekali tidak bangkrut!” Jaejoong teringat gaun-gaun dan perhiasan mewah yang dibelikan ayahnya untuk ibunya, pelayan-pelayan yang hilir mudik siap sedia memenuhi kebutuhan mereka, rumah mewah mereka yang nyaman, mobil dan segala kemewahan lainnya yang dicukupkan ayahnya waktu itu. Ayahnya tidak mungkin bangkrut!
“Ayah Anda menyembunyikan hal ini dari keluarganya, dia tidak ingin ibu dan Anda merasa cemas,” Changmin menghela nafas, “Anda boleh tidak percaya kepada saya, tetapi biarkan saya bercerita dulu, setelah itu Anda boleh memutuskan. Apapun penerimaan Anda nanti, saya tidak akan mempermasalahkan, yang pasti tidak ada sedikitpun kebohongan dari saya kepada Anda.”
Mata Changmin menerawang ke masa lalu ketika mulai bercerita.
“Ayah Anda datang kepada Tuan jung waktu itu, memohon suntikan dana dan perjanjian kerja sama. Tuan jung sebenarnya tidak tertarik dan dia sudah siap menolak mentah-mentah. Perusahaan ayah Anda yang sudah benar-benar kolaps akibat manajemen yang kacau balau, akan membutuhkan biaya dan perhatian yang luar biasa besar untuk memperbaiki semuanya. Tetapi kemudian ayah Anda memberikan penawaran kepada tuan jung.”
“Penawaran?”
Changmin menatap Jaejoong hati-hati, “Ya...penawaran yang sebenarnya konyol, tapi langsung membuat tuan jung berubah pikiran.”
“Penawaran apa?”
“Anda.”
Jaejoong tertegun, pucat pasi, “Aku?”
“Ayah Anda sepertinya sudah sangat putus asa sebelum meminta bantuan kepada tuan jung, harap Anda memaklumi,” Changmin menghela nafas, “Mungkin Andalah satu-satunya harta yang dimilikinya yang bisa ditawarkannya kepada tuan jung, mengingat waktu itu reputasi tuan jung sebagai playboy sangat terkenal. Mungkin ayah Anda berfikir bisa menggunakan Anda untuk menarik hati tuan jung.”
Jaejoong hampir tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu. Ayahnya menawarkannya kepada iblis jahat itu sebagai ganti suntikan dana untuk perusahaannya?? Tidak mungkin!! Ayahnya tidak mungkin melakukan itu!!
“Saya tahu Anda tidak percaya, tetapi kami memiliki bukti penawaran itu yang nanti akan saya tunjukkan kepada Anda. Sekarang saya akan melanjutkan cerita saya,” Changmin berdehem tampak amat mengerti berbagai emosi yang berkecamuk, silih berganti di wajah Jaejoong, “Segalanya pasti akan berbeda jika yang ditawarkan bukan Anda. Tuan jung, saya yakin akan menolak mentah-mentah ayah Anda. Tetapi Tuan jung langsung berubah pikiran ketika beliau melihat foto Anda.”
Fotonya yang sangat mirip dengan almarhumah isteri Yunho. Dada Jaejoong terasa perih menyadari kenyataan itu.
“Yah Anda mengerti kan...walau hanya dengan tatapan sekilas saja pasti mudah menyadari kemiripan Anda dengan...” Changmin menghentikan kata-katanya, menyadari wajah Jaejoong yang pucat pasi, “Anda tidak apa-apa nona?”
Jaejoong menganggukkan kepalanya, “Ani, Nan gwenchana,” suaranya terdengar serak, susah payah berusaha dikeluarkannya.
“Tuan jung langsung menyetujuinya, tetapi dia tidak mau terburu-buru. Menurut perjanjian itu pada usia 25 tahun Anda akan diserahkan kepada Tuan jung, sebagai isteri. Dan mas kawinnya dibayar di muka, Tuan jung tidak pernah melakukan take over kepada perusahaan ayah Anda, dia hanya memberikan dana yang luar biasa besar sesuai dengan permintaan ayah Anda...” Changmin menatap Jaejoong miris, “Tetapi ayah Anda rupanya bekerja dengan manajemen yang tidak becus dan mengkhianatinya, uang itu ludes dalam sekejap dan bahkan perusahaan ayah Anda, bukannya terselamatkan malahan makin hancur. Ayah Anda lalu datang kembali meminta tolong kepada tuan jung.”
Jaejoong hanya termenung berusaha menyerap kata-kata Changmin sebaik-baiknya. Apakah Changmin berbohong? Tetapi namja itu tampak lurus dan jujur...Jaejoong cuma masih belum bisa menerima bayangannya selama ini terhadap ayahnya hancur lebur begitu saja. Jika apa yang dikatakan oleh Changmin adalah kebenaran, maka Jaejoong harus menerima kenyataan bahwa kehidupannya dulu bersama ayahnya yang bagaikan di negeri dongeng, sebagian besar hanyalah kebohongan semata.
Jaejoong sudah dijual menjadi isteri Yunho di ulang tahunnya yang ke 25, itu seminggu lagi. Jaejoong mengernyit, dia sudah dibayar di muka. Rasanya seperti dihina dan dihantam secara bersamaan. Ingin rasanya dia berteriak kalau dia bukan barang, dia manusia dan dia punya kehendak yang bebas.
“Tuan jung sangat marah kepada ayah Anda, kesempatan yang diberikannya disia-siakan begitu saja oleh ayah Anda, dan tuan jung tidak mau memberikan kesempatan kedua lagi. Perusahaan itu tidak boleh ada di tangan ayah Anda lagi kalau tidak mau lebih hancur. Jadi, Tuan jung membelinya, dengan harga yang pantas, bahkan masih memberikan jatah bulanan kepada keluarga Anda setiap bulannya meskipun ayah Anda tidak berhak menerimanya,” Changmin menatap Jaejoong dalam-dalam, “itu semua karena Tuan jung mengkhawatirkan Anda.”
Yunho mengkhawatirkannya? Tidak mungkin! Namja itu hanya cemas, karena Jaejoong adalah yeoja yang berwajah sama dengan isteri yang dicintainya, yeoja yang diharapkannya bisa menggantikan isterinya...
“Saya mengerti perasaan Anda, tetapi ada beberapa hal yang belum sempat saya jelaskan kepada Anda waktu itu ketika Tuan jung menyela pembicaraan kita,” Changmin bekata-kata lagi, “Memang Anda pasti akan melihat bahwa Tuan jung hanya menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Jessica. Tetapi tidak. Seiring dengan berjalannya waktu, yang dilihat Tuan jung adalah benar-benar Anda, diri anda sendiri.”
Seiring berjalannya waktu?
Changmin mengangguk, seolah bisa membaca pertanyaan di mata Jaejoong,
“Yah selama ini kami mengawasi Anda. Rumah mungil yang Anda tempati bersama keluarga Anda waktu itu, merupakan salah satu properti milik tuan jung...Semua sudah diatur supaya kehidupan Anda baik-baik saja meskipun ayah Anda bangkrut.”
Tiba-tiba Jaejoong menyadarinya. Kemudahan-kemudahan yang dia dapat tanpa sengaja, seperti rumah mungil itu yang bisa didapat ayahnya dengan harga yang sangat murah...
“Kami bahkan tahu bahwa Anda berencana membalas dendam atas kematian orang tua Anda,” wajah Changmin melembut melihat pipi Jaejoong merona merah, lalu menatap Jaejoong dengan menyesal, “Kematian orang tua Anda juga mengejutkan kami, Jae. Percayalah, tuan jung terkejut atas hal itu. Dia memang terkenal kejam dan jahat tapi yang pasti dia tidak pernah bermaksud melukai orang yang lemah. Dia sudah berusaha membantu ayah Anda, demi Anda,” Changmin menekankan kata-katanya, “Semua yang terjadi bukan kesalahan Tuan jung.”
Jaejoong merasa malu. Bagaimana lagi? Perasaan itulah yang sekarang menyergapnya. Jika kata-kata Changmin ini benar...dan sepertinya memang semua adalah kebenaran. maka Jaejoong harus merasa malu,
Semua dendamnya selama ini, pemikirannya selama ini, kemarahannya selama ini, dan kebenciannya semua ini, semuanya dibangun atas persepsi yang benar-benar salah. Dan Yunho bahkan tidak pernah membela diri dengan segala cacian, makian, dan tuduhannya. Kenapa Yunho tidak pernah membela diri dan membiarkannya makin liar dengan emosi dan kemarahan membabi butanya?
“Sebentar lagi ulang tahun Anda...sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani oleh ayah Anda... tuan Jung akan memperisteri Anda.”
Jaejoong membelalakkan matanya. Apakah Yunho masih menganggap perjanjian bertahun-tahun lalu itu dengan serius? Tetapi perjanjian itu melibatkan uang yang tidak sedikit, yang diberikan Yunho kepada ayahnya dan kemudian disia-siakan begitu saja. Kalaupun Jaejoong menolak Yunho, maka dia menanggung hutang yang sangat besar kepada namja itu.
“Apakah...apakah Yunho menyuruh Anda mengatakan semua ini kepada saya...?”
Changmin langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Jaejoong itu,
“Anindeyo. Tidak ada satupun perintah dari Tuan jung kepada saya untuk menceritakan ini semua, bahkan Tuan jung berkesan merahasiakan semua ini dari Anda,” Changmin tersenyum, “Saya hanya memikirkan cara-cara Tuan jung, mengingat wataknya, beliau tidak akan menjelaskan apapun kepada Anda. Mungkin beliau akan menculik Anda lagi dan memaksakan pernikahannya dengan Anda, saya hanya menyiapkan Anda kalau itu benar-benar terjadi.”
Jaejoong mengernyit, “Mengingat selama ini dia selalu memaksakan kehendaknya, aku yakin dia akan melakukannya...jadi dia membebaskanku hanya sementara?”
Changmin mengangguk, minta permakluman, “Semoga Anda bisa menghilangkan semua dendam yang tidak perlu. Yang pasti saya bisa menjamin itu, Tuan jung benar-benar peduli kepada Anda. Perlu Anda tahu, Tuan jung benar-benar serius ingin menikahi anda, beliau saat ini berada di Italia, mengunjungi makam nyonya Jessica."
Meminta izin kepada isterinya. Jaejoong memejamkan matanya pedih. Setelah dendam itu menghilang, yang ada di dadanya hanyalah kekosongan yang perih...kekosongan yang menyesakkan dadanya...Hampir seperti...patah hati.
.
.
.
.
.
To Be Continue

5 comments:

  1. Asyiiikkk nikaahhh...status KTP berubah hahahaha...ternyata akar masalahnya hanya slh paham

    ReplyDelete
  2. semua salah paham yunho ga sejahat yang jae pikirkan
    yeayyy yunjae nikah

    ReplyDelete
  3. jaejae6:32 PM

    saki.. kenapa gak update2 lagi?
    apa saki skit? aku trus ngecek.. tpi kok gak ada yg baru..

    ReplyDelete
  4. Oke semuanya sudah jelas tentang masalah Orangtua, dan bagaimana Jaejoong untuk Yunho.
    Ah~ menikah eoh? Bagus kalau begitu :3

    ReplyDelete
  5. Ooh gitu toh ceritanya..
    Berarti Yunho emang dari dulu udah suka sama Jaejoong donk..

    ReplyDelete