Seharusnya Jaejoong berbahagia, Dahi Jaejoong berkerut memikirkan perasaannya. Tetapi entah kenapa dia tidak bahagia. Rasanya menyesakkan dada dan menyedihkan entah kenapa. Dan Jaejoong menahan diri kuat-kuat atas dorongan emosi yang membuatnya ingin menangis.
Dengan
cepat, tanpa berani menoleh ke arah rumah Yunho, Jaejoong memasuki mobil hitam
itu. Changmin menutup pintu penumpang dan duduk di kursi supir bersama seorang
pengawal lain. Pelan, mobil itu meluncur melalui taman besar di halaman Yunho
dan melewati gerbang.
Detik
itulah Jaejoong memberanikan diri menatap rumah Yunho, mungkin ini akan jadi
yang terakhir kalinya. Dia menyerap pemandangan rumah itu dan mengenangnya,
sampai kemudian pintu gerbang hitam yang tinggi itu tertutup, menghalangi
pandangannya.
Selamat
tinggal Jung yunho. Jaejoong mengusap setitik air mata di sudut matanya.
Setelah ini aku tidak akan memikirkanmu lagi.
salang-ui
ba
©Kitahara Saki
Kim
Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with
the Devil
©Shanty Agatha
Hari
pertamanya dalam kebebasan dan Jaejoong luar biasa menikmatinya. Rumah mungil
yang dikontraknya masih tertata rapi seolah-olah tidak pernah ditinggalkan
sebelumnya. Mungkinkah Yunho mengirimkan orang-orangnya untuk membersihkan
rumah ini? Jaejoong menggelengkan kepalanya dan mencoba menghapus bayangan
Yunho dari pikirannya. Dia harus melupakan namja itu dan melangkah maju.
Pagi
itu yang dilakukan oleh Jaejoong pertama kali adalah memeriksa kulkasnya dan
mengerutkan kening ketika menemukan kulkasnya penuh bahan makanan. Ini pasti
pekerjaan namja itu, gumam Jaejoong, menolak menyebut nama Yunho demi usahanya
melupakannya. Tetapi Jaejoong tidak mau membiarkan gangguan ini merusak hari
pertama kebebasannya.
Diambilnya
sayuran, daging sapi, dan telur. Lalu dia membuat tumis daging dengan sayuran
dan telur yang berbau harum, setelah menuang masakan harum itu dari wajan,
Jaejoong menuang teh hangat yang sudah diseduhnya tadi pagi ke cangkir berwarna
putih, dan meletakkan semuanya di meja. Sambil menyantap makanannya Jaejoong
menyalakan komputernya. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencari
pekerjaan, karena Jaejoong harus bertahan hidup. Seperti semula.
Seingat
Jaejoong, dirinya masih punya tabungan di rekeningnya, tidak banyak memang
hanya cukup untuk bertahan hidup selama satu sampai dengan dua bulan setelah
dikurangi pembayaran kontrak rumah kecil ini secara bulanan. Setelah itu
Jaejoong harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri sekaligus membayar
tempat tinggalnya, kalau Jaejoong tidak bisa melakukannya, dia akan menjadi
gelandangan. Jadi, waktunya untuk mencari pekerjaan sangatlah sempit.
Oh
ya, hal kedua yang harus dilakukannya adalah mengambil uang tabungannya,
mungkin nanti siang dia akan ke bank. Jaejoong menghirup tehnya yang terasa
harum dan meneguknya dengan tegukan panas yang nikmat. Lalu mulai menyantap
sarapannya sambil membuka situs pencari pekerjaan di komputernya.
Lowongan
kerja...lowongan kerja yang cepat dan sesuai kualifikasinya...mata Jaejoong
bergerak cepat dan mencatat beberapa perkerjaan yang sesuai. Dia mengirimkan
email surat lamaran ke beberapa perusahaan tersebut sambil menghabiskan
sarapannya.
Ketika
Jaejoong selesai melakukan kegiatannya, waktu sudah hampir jam dua belas siang.
Jaejoong teringat bahwa dia harus ke bank, dengan bergegas Jaejoong mengambil
tas kecilnya dan hendak keluar rumah ketika ada yang mengetuk pintunya.
Seketika
Jaejoong waspada. Dia tidak pernah punya teman sebelumnya. Jadi, itu tidaklah
mungkin teman yang bertamu. Lagipula, dalam penyamarannya waktu itu karena
berencana membalas dendam kepada Yunho, tidak banyak yang tahu kalau Jaejoong
tinggal di rumah mungil ini.
Apakah
itu musuh Yunho yang ingin mencelakainya? Jaejoong bergidik ngeri. Kemudian
menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan diri. Tidak, musuh Yunho pasti sudah
mengurus masalah itu sebelum memutuskan melepaskan Jaejoong. Jadi, siapa yang
sedang mengetuk pintunya saat ini?
Dengan
hati-hati Jaejoong mengintip melalui jendela sebelah dan menemukan seorang
namja dengan setelan jas mahal dan resmi berdiri di depan pintunya. Dari
penampilannya, tampaknya namja itu namja baik-baik. Tetapi penampilan bisa
menipu bukan? Jaejoong masih tidak bisa percaya bahwa Dokter lee yang begitu
baik dan selalu tersenyum itu ternyata adalah psikopat berjiwa kejam.
Jaejoong
meraih pisau dapur dan membuka pintu dengan hati-hati, membiarkan rantai tetap
menahan pintu itu,
“Nugu?”
Jaejoong menatap pria tampan dalam balutan jas rapi itu sambil mengerutkan
keningnya.
“Anyonghaseyo,
Anda Nona Jaejoong? Saya Freddy, pengacara yang
dikirim kemari.”
Pengacara?
“Pengacara untuk apa? Saya tidak berkaitan dengan masalah hukum apapun,”
Jaejoong masih mengintip dari pintu, belum mau membukanya, menatap Freddy
dengan curiga.
“Saya
dikirim untuk menyerahkan dokumen-dokumen kepada Anda,” Freddy tampak berdehem
memikirkan sesuatu, “Anda mungkin tidak mengenal saya, tapi saya teman Yoochun
dan Junsu.”
Jaejoong
tertarik, “Apakah Junsu yang mengirimmu kemari.”
“Sayangnya
bukan, meski Junsu menitip salam dan berharap kalian bisa bertemu di lain
kesempatan,” Freddy mengangkat bahu, “Saya dikirim oleh tuan Jung.”
Jaejoong
mengernyitkan kening, setelah berpikir sejenak, dia berpendapat bahwa namja
yang mengaku pengacara ini tampak meyakinkan. Dia meletakkan pisaunya dan masih
dengan waspada dia membuka pintunya.
“Boleh
saya masuk, Anda boleh tenang, saya bukan orang jahat,” Freddy tersenyum dengan
gaya profesional.
Jaejoong
mempersilahkannya masuk, dan dia duduk menatap namja itu mengeluarkan
berkas-berkas yang tampak penting dari tas kerjanya.
“Ini
adalah surat kepemilikan rumah ini, tuan Jung telah membelinya atas nama Anda.
Dan ini nomor rekening yang dibukakan tuan Jung atas nama Anda, seluruh
kelengkapannya ada di dalam amplop, Anda tinggal menggunakannya,” Freddy
meletakkan berkas-berkas itu dalam map terbuka di meja lalu tersenyum lagi,
"Saya hanya diperintahkan menyerahkan berkas-berkas ini kepada Anda, kalau
semua sudah lengkap, saya akan berpamitan,” Namja itu beranjak dari duduknya
meninggalkan Jaejoong yang masih menatap kertas-kertas di meja itu dengan
kaget.
Surat rumah? Rekening
tabungan? Matanya
melirik sekilas pada surat-surat itu.
Semua atas namanya!
“Chankammanyo!
Saya tidak tahu sebelumnya tentang surat-surat ini! Saya tidak bisa
menerimanya!"
"Nona,”
Freddy menyela sudah siap pergi dari rumah itu, “Saya hanya menyampaikan apa
yang ditugaskan kepada saya, kalau Anda ada pertanyaan, mungkin Anda bisa
menghubungi langsung tuan Jung.”
Dan
Freddy pun pergi meninggalkan Jaejoong yang masih tercenung dan bingung menatap
berkas-berkas di depannya.
.
.
.
.
.
“Saya
ingin bertemu tuan Jung.” Jaejoong bergumam gugup kepada resepsionis di lobby
kantor yang mewah itu. Kemewahan lobby itu begitu mengintimidasi dan Jaejoong
merasakan semua mata memandangnya, seolah dia orang aneh yang salah tempat.
Tangannya memeluk amplop berkas yang diberikan Freddy kepadanya tadi siang dan
berusaha menantang tatapan mata tajam dari resepsionis yang menatapnya curiga.
“Tuan
Jung, Jung Yunho yang anda maksud? Anda yakin? Kalau Anda ingin melamar
pekerjaan, mungkin bisa Anda titipkan di sini...”
“Saya
tidak ingin melamar pekerjaan,” Jaejoong mulai merasa jengkel menerima tatapan
meremehkan dari resepsionis itu, “Tolong atur pertemuan saya dengan Jung
Yunho.”
“Nona,
saya tidak bermaksud menyinggung Anda, tetapi Tuan Jung tidak mungkin bisa
ditemui semudah itu, Anda harus membuat janji pertemuan yang rumit dengan
sekretarisnya dulu...”
“Biarkan
dia masuk, dia datang bersamaku. Saya ada janji temu dengan Yunho jam dua,”
sebuah suara yang dalam di sebelah Jaejoong mengagetkannya.
Jaejoong
menoleh dan menyipitkan matanya. Sedikit silau akan ketampanan namja yang
berdiri di sebelahnya. Well, satu lagi namja dengan anugerah kesempurnaan fisik
yang luar biasa. Batin Jaejoong sambil menatap Yoochun yang memakai jas warna
hitam dan tersenyum samar di sebelahnya. Tapi untunglah yang satu ini namja
baik dan menyayangi isterinya. Mau tak mau Jaejoong mengingat kemesraan Yoochun
dan Junsu di pesta malam itu, dan merasa kagum melihat besarnya cinta yang
terpancar dari Yoochun dan Junsu ketika mereka bertatapan.
resepsionis
itu menatap Yoochun dan sudah pasti mengenalinya,
“Oh,
Tuan Park Yoochun, anyonghasimnika,” sikapnya berubah ramah dan Jaejoong
mencibir atas perbedaan perlakuan yang diterimanya, apalagi resepsionis itu
menatap Yoochun dengan tatapan memuja, “Mianhada, tadi siang kami sudah
mengirimkan pesan kepada sekretaris Anda bahwa pertemuan hari ini dibatalkan,
Tuan jung mendadak harus ke luar negeri."
Yoochun
dan Jaejoong sama-sama mengerutkan keningnya. Yunho ke luar negeri?
“Aku
tidak menerima pesan itu,” gumam Yoochun tajam, membuat resepsionis itu
menunduk gugup hingga Jaejoong merasa kasihan. Tetapi kemudian Yoochun
mengangkat bahunya, “Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke kantor dan
mengganti waktuku yang tersia-siakan untuk kemari,” Yoochun menoleh kepada
Jaejoong, “Kalau waktuku tersia-siakan aku akan terlambat pulang ke rumah.”
Jaejoong
mau tak mau menahan senyum. Yoochun tampak lebih kesal karena terpaksa
terlambat pulang daripada karena batal bertemu Yunho.
“Aku
akan kembali ke kantor, oh ya, Junsu menitip salam kepadamu,” dengan senyumnya
yang mempesona, Yoochun mengedipkan sebelah matanya ramah, lalu membalikkan
tubuh dan melangkah pergi dari lobby itu.
Jaejoong
menatap punggung Yoochun yang menjauh dan akhirnya tersenyum. Betapa
beruntungnya Junsu memiliki pasangan yang luar biasa seperti Yoochun...
“Nona
Jaejoong?” kali ini sebuah suara yang familiar menyapanya. Jaejoong menoleh dan
mendapati Changmin yang berdiri menatapnya, baru saja keluar dari lift, “Apa
yang Anda lakukan di sini?”
Jaejoong
mengerjapkan matanya, “Aku mencari Yunho,” ditunjukkannya amplop berkas itu
kepada Changmin, “Ini...aku ingin mengembalikan berkas-berkas ini.”
Changmin
menatap berkas-berkas itu dan mengerti, “Tuan jung ingin Anda menerimanya.”
“Aku
tidak mau menerimanya, aku tidak ingin berhutang budi kepadanya.”
“Itu
uang anda,” sela Changmin tenang, “Itu adalah bagian saham Anda dari perusahaan
ayah Anda yang sudah di take over oleh Tuan jung.”
Jaejoong
tertegun. Bagian sahamnya? Dia tidak pernah mendengar ini sebelumnya.
“Bagian
saham ini, sesuai dengan surat perjanjian jual beli akan diberikan kepada Anda
begitu usia Anda genap 25 tahun,” Changmin menatap sekelilingnya yang ramai dan
tampak tidak nyaman, “Mari saya akan jelaskan kepada Anda.”
.
.
.
.
.
Dia
dibawa ke sebuah ruangan dengan perabot kayu dan nuansa cokelat dan elegan di
lantai dua. Changmin duduk di sofa di depannya dan mempersilahkan Jaejoong
duduk,
“Mari
duduk dulu, Anda ingin kopi?”
Jaejoong
menggelengkan kepalanya, terlalu tercengang dengan semuanya yang tampak begitu
tiba-tiba.
“Tuan
jung saat ini sedang ada di Italia ada beberapa urusan yang mendesak di sana,”
Changmin mengubah posisi duduknya supaya nyaman, “Seharusnya dari awal saya
menceritakan ini kepada Anda, tetapi Tuan jung menahan saya.”
Cerita
apalagi? Kejutan apa lagi? Jantung Jaejoong berdegup kencang.
“Tuan
jung tidak pernah menghancurkan perusahaan ayah Anda, apalagi membuat ayah Anda
bangkrut,” Changmin mengangkat bahunya, “Anda boleh tidak percaya, tetapi Anda
bisa mencari informasi di manapun, yang dilakukan Tuan jung bukanlah
membangkrutkan perusahaan-perusahaan, dia menolong perusahaan-perusahaan yang
sudah hampir bangkrut dan menghidupkannya lagi. Banyak perusahaan yang sudah
dia take over menjadi berlipat-lipat lebih maju berkat kehebatan tuan jung.”
Jaejoong
mengerutkan keningnya membantah, “Tetapi perusahaan ayahku baik-baik saja
sebelum ayah membuat perjanjian dengan Yunho, kami sama sekali tidak bangkrut!”
Jaejoong teringat gaun-gaun dan perhiasan mewah yang dibelikan ayahnya untuk
ibunya, pelayan-pelayan yang hilir mudik siap sedia memenuhi kebutuhan mereka,
rumah mewah mereka yang nyaman, mobil dan segala kemewahan lainnya yang
dicukupkan ayahnya waktu itu. Ayahnya tidak mungkin bangkrut!
“Ayah
Anda menyembunyikan hal ini dari keluarganya, dia tidak ingin ibu dan Anda
merasa cemas,” Changmin menghela nafas, “Anda boleh tidak percaya kepada saya,
tetapi biarkan saya bercerita dulu, setelah itu Anda boleh memutuskan. Apapun
penerimaan Anda nanti, saya tidak akan mempermasalahkan, yang pasti tidak ada
sedikitpun kebohongan dari saya kepada Anda.”
Mata
Changmin menerawang ke masa lalu ketika mulai bercerita.
“Ayah
Anda datang kepada Tuan jung waktu itu, memohon suntikan dana dan perjanjian
kerja sama. Tuan jung sebenarnya tidak tertarik dan dia sudah siap menolak
mentah-mentah. Perusahaan ayah Anda yang sudah benar-benar kolaps akibat
manajemen yang kacau balau, akan membutuhkan biaya dan perhatian yang luar
biasa besar untuk memperbaiki semuanya. Tetapi kemudian ayah Anda memberikan
penawaran kepada tuan jung.”
“Penawaran?”
Changmin
menatap Jaejoong hati-hati, “Ya...penawaran yang sebenarnya konyol, tapi
langsung membuat tuan jung berubah pikiran.”
“Penawaran
apa?”
“Anda.”
Jaejoong
tertegun, pucat pasi, “Aku?”
“Ayah
Anda sepertinya sudah sangat putus asa sebelum meminta bantuan kepada tuan
jung, harap Anda memaklumi,” Changmin menghela nafas, “Mungkin Andalah
satu-satunya harta yang dimilikinya yang bisa ditawarkannya kepada tuan jung,
mengingat waktu itu reputasi tuan jung sebagai playboy sangat terkenal. Mungkin
ayah Anda berfikir bisa menggunakan Anda untuk menarik hati tuan jung.”
Jaejoong
hampir tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu. Ayahnya menawarkannya kepada
iblis jahat itu sebagai ganti suntikan dana untuk perusahaannya?? Tidak
mungkin!! Ayahnya tidak mungkin melakukan itu!!
“Saya
tahu Anda tidak percaya, tetapi kami memiliki bukti penawaran itu yang nanti
akan saya tunjukkan kepada Anda. Sekarang saya akan melanjutkan cerita saya,”
Changmin berdehem tampak amat mengerti berbagai emosi yang berkecamuk, silih
berganti di wajah Jaejoong, “Segalanya pasti akan berbeda jika yang ditawarkan
bukan Anda. Tuan jung, saya yakin akan menolak mentah-mentah ayah Anda. Tetapi
Tuan jung langsung berubah pikiran ketika beliau melihat foto Anda.”
Fotonya
yang sangat mirip dengan almarhumah isteri Yunho. Dada Jaejoong terasa perih
menyadari kenyataan itu.
“Yah
Anda mengerti kan...walau hanya dengan tatapan sekilas saja pasti mudah
menyadari kemiripan Anda dengan...” Changmin menghentikan kata-katanya,
menyadari wajah Jaejoong yang pucat pasi, “Anda tidak apa-apa nona?”
Jaejoong
menganggukkan kepalanya, “Ani, Nan gwenchana,” suaranya terdengar serak, susah
payah berusaha dikeluarkannya.
“Tuan
jung langsung menyetujuinya, tetapi dia tidak mau terburu-buru. Menurut
perjanjian itu pada usia 25 tahun Anda akan diserahkan kepada Tuan jung,
sebagai isteri. Dan mas kawinnya dibayar di muka, Tuan jung tidak pernah
melakukan take over kepada perusahaan ayah Anda, dia hanya memberikan dana yang
luar biasa besar sesuai dengan permintaan ayah Anda...” Changmin menatap
Jaejoong miris, “Tetapi ayah Anda rupanya bekerja dengan manajemen yang tidak
becus dan mengkhianatinya, uang itu ludes dalam sekejap dan bahkan perusahaan
ayah Anda, bukannya terselamatkan malahan makin hancur. Ayah Anda lalu datang
kembali meminta tolong kepada tuan jung.”
Jaejoong
hanya termenung berusaha menyerap kata-kata Changmin sebaik-baiknya. Apakah
Changmin berbohong? Tetapi namja itu tampak lurus dan jujur...Jaejoong cuma
masih belum bisa menerima bayangannya selama ini terhadap ayahnya hancur lebur
begitu saja. Jika apa yang dikatakan oleh Changmin adalah kebenaran, maka
Jaejoong harus menerima kenyataan bahwa kehidupannya dulu bersama ayahnya yang
bagaikan di negeri dongeng, sebagian besar hanyalah kebohongan semata.
Jaejoong
sudah dijual menjadi isteri Yunho di ulang tahunnya yang ke 25, itu seminggu
lagi. Jaejoong mengernyit, dia sudah dibayar di muka. Rasanya seperti dihina
dan dihantam secara bersamaan. Ingin rasanya dia berteriak kalau dia bukan
barang, dia manusia dan dia punya kehendak yang bebas.
“Tuan
jung sangat marah kepada ayah Anda, kesempatan yang diberikannya disia-siakan
begitu saja oleh ayah Anda, dan tuan jung tidak mau memberikan kesempatan kedua
lagi. Perusahaan itu tidak boleh ada di tangan ayah Anda lagi kalau tidak mau
lebih hancur. Jadi, Tuan jung membelinya, dengan harga yang pantas, bahkan
masih memberikan jatah bulanan kepada keluarga Anda setiap bulannya meskipun
ayah Anda tidak berhak menerimanya,” Changmin menatap Jaejoong dalam-dalam,
“itu semua karena Tuan jung mengkhawatirkan Anda.”
Yunho
mengkhawatirkannya? Tidak mungkin! Namja itu hanya cemas, karena Jaejoong
adalah yeoja yang berwajah sama dengan isteri yang dicintainya, yeoja yang diharapkannya
bisa menggantikan isterinya...
“Saya
mengerti perasaan Anda, tetapi ada beberapa hal yang belum sempat saya jelaskan
kepada Anda waktu itu ketika Tuan jung menyela pembicaraan kita,” Changmin
bekata-kata lagi, “Memang Anda pasti akan melihat bahwa Tuan jung hanya
menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Jessica. Tetapi tidak. Seiring dengan
berjalannya waktu, yang dilihat Tuan jung adalah benar-benar Anda, diri anda
sendiri.”
Seiring berjalannya
waktu?
Changmin
mengangguk, seolah bisa membaca pertanyaan di mata Jaejoong,
“Yah
selama ini kami mengawasi Anda. Rumah mungil yang Anda tempati bersama keluarga
Anda waktu itu, merupakan salah satu properti milik tuan jung...Semua sudah
diatur supaya kehidupan Anda baik-baik saja meskipun ayah Anda bangkrut.”
Tiba-tiba
Jaejoong menyadarinya. Kemudahan-kemudahan yang dia dapat tanpa sengaja,
seperti rumah mungil itu yang bisa didapat ayahnya dengan harga yang sangat
murah...
“Kami
bahkan tahu bahwa Anda berencana membalas dendam atas kematian orang tua Anda,”
wajah Changmin melembut melihat pipi Jaejoong merona merah, lalu menatap
Jaejoong dengan menyesal, “Kematian orang tua Anda juga mengejutkan kami, Jae.
Percayalah, tuan jung terkejut atas hal itu. Dia memang terkenal kejam dan
jahat tapi yang pasti dia tidak pernah bermaksud melukai orang yang lemah. Dia
sudah berusaha membantu ayah Anda, demi Anda,” Changmin menekankan
kata-katanya, “Semua yang terjadi bukan kesalahan Tuan jung.”
Jaejoong
merasa malu. Bagaimana lagi? Perasaan itulah yang sekarang menyergapnya. Jika
kata-kata Changmin ini benar...dan sepertinya memang semua adalah kebenaran.
maka Jaejoong harus merasa malu,
Semua
dendamnya selama ini, pemikirannya selama ini, kemarahannya selama ini, dan
kebenciannya semua ini, semuanya dibangun atas persepsi yang benar-benar salah.
Dan Yunho bahkan tidak pernah membela diri dengan segala cacian, makian, dan
tuduhannya. Kenapa Yunho tidak pernah membela diri dan membiarkannya makin liar
dengan emosi dan kemarahan membabi butanya?
“Sebentar
lagi ulang tahun Anda...sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani oleh ayah
Anda... tuan Jung akan memperisteri Anda.”
Jaejoong
membelalakkan matanya. Apakah Yunho masih menganggap perjanjian bertahun-tahun
lalu itu dengan serius? Tetapi perjanjian itu melibatkan uang yang tidak
sedikit, yang diberikan Yunho kepada ayahnya dan kemudian disia-siakan begitu
saja. Kalaupun Jaejoong menolak Yunho, maka dia menanggung hutang yang sangat
besar kepada namja itu.
“Apakah...apakah
Yunho menyuruh Anda mengatakan semua ini kepada saya...?”
Changmin
langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Jaejoong itu,
“Anindeyo.
Tidak ada satupun perintah dari Tuan jung kepada saya untuk menceritakan ini
semua, bahkan Tuan jung berkesan merahasiakan semua ini dari Anda,” Changmin tersenyum,
“Saya hanya memikirkan cara-cara Tuan jung, mengingat wataknya, beliau tidak
akan menjelaskan apapun kepada Anda. Mungkin beliau akan menculik Anda lagi dan
memaksakan pernikahannya dengan Anda, saya hanya menyiapkan Anda kalau itu
benar-benar terjadi.”
Jaejoong
mengernyit, “Mengingat selama ini dia selalu memaksakan kehendaknya, aku yakin
dia akan melakukannya...jadi dia membebaskanku hanya sementara?”
Changmin
mengangguk, minta permakluman, “Semoga Anda bisa menghilangkan semua dendam
yang tidak perlu. Yang pasti saya bisa menjamin itu, Tuan jung benar-benar
peduli kepada Anda. Perlu Anda tahu, Tuan jung benar-benar serius ingin
menikahi anda, beliau saat ini berada di Italia, mengunjungi makam nyonya
Jessica."
Meminta
izin kepada isterinya. Jaejoong memejamkan matanya pedih. Setelah dendam itu
menghilang, yang ada di dadanya hanyalah kekosongan yang perih...kekosongan
yang menyesakkan dadanya...Hampir seperti...patah hati.
.
.
.
.
.
To Be Continue

Asyiiikkk nikaahhh...status KTP berubah hahahaha...ternyata akar masalahnya hanya slh paham
ReplyDeletesemua salah paham yunho ga sejahat yang jae pikirkan
ReplyDeleteyeayyy yunjae nikah
saki.. kenapa gak update2 lagi?
ReplyDeleteapa saki skit? aku trus ngecek.. tpi kok gak ada yg baru..
Oke semuanya sudah jelas tentang masalah Orangtua, dan bagaimana Jaejoong untuk Yunho.
ReplyDeleteAh~ menikah eoh? Bagus kalau begitu :3
Ooh gitu toh ceritanya..
ReplyDeleteBerarti Yunho emang dari dulu udah suka sama Jaejoong donk..