“Saya hanya memikirkan cara-cara Tuan jung, mengingat wataknya, beliau tidak akan menjelaskan apapun kepada Anda. Mungkin beliau akan menculik Anda lagi dan memaksakan pernikahannya dengan Anda, saya hanya menyiapkan Anda kalau itu benar-benar terjadi.”
Jaejoong
mengernyit, “Mengingat selama ini dia selalu memaksakan kehendaknya, aku yakin
dia akan melakukannya...jadi dia membebaskanku hanya sementara?”
Changmin
mengangguk, minta permakluman, “Semoga Anda bisa menghilangkan semua dendam
yang tidak perlu. Yang pasti saya bisa menjamin itu, Tuan jung benar-benar
peduli kepada Anda. Perlu Anda tahu, Tuan jung benar-benar serius ingin
menikahi anda, beliau saat ini berada di Italia, mengunjungi makam nyonya
Jessica."
Meminta
izin kepada isterinya. Jaejoong memejamkan matanya pedih. Setelah dendam itu
menghilang, yang ada di dadanya hanyalah kekosongan yang perih...kekosongan
yang menyesakkan dadanya...Hampir seperti...patah hati.
salang-ui
ba
©Kitahara Saki
Kim
Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with
the Devil
©Shanty Agatha
Hari
ini adalah hari ulang tahunnya. Jaejoong sudah tahu hari ini akan tiba. Entah
kenapa dia tahu, bahwa Yunho akan datang menjemputnya dan merenggutnya kembali,
dan jantungnya berdegup kencang.
Ketukan
di pintu rumahnya membuatnya terlonjak, meskipun Jaejoong sudah
mengantisipasinya. Dan ketika membuka pintu, Jaejoong bertatapan wajah dengan
Yunho. Namja itu tampak luar biasa tampan, bahkan lebih tampan dari terakhir
mereka bertemu. Mengenakan kaca mata hitam dan kemeja biru berlapis jaket khaki
dan celana yang senada, dengan rambut cokelatnya yang acak-acakan. Dia seperti
malaikat yang diturunkan di depan pintu Jaejoong.
“Aku
sudah tahu apa yang akan kau katakan,” Jaejoong berkata, mencoba mencari-cari
mata Yunho, tetapi kesulitan karena kacamata hitam itu menghalanginya.
Yunho
terdiam, “Arrata, Changmin menceritakan pertemuan kalian,” Namja itu menoleh ke
belakang Jaejoong, “Boleh aku masuk?”
Jaejoong mundur
dengan tidak nyaman. Membiarkan Jung Yunho masuk ke rumahnya sama seperti
membiarkan iblis menguasai kehidupannya. Tetapi tidak ada pilihan lain. Mereka
harus berbicara, panjang lebar. Dan mereka tidak mungkin berbicara di ambang
pintu seperti ini.
Jaejoong
memiringkan tubuhnya mempersilahkan Yunho masuk ke rumahnya yang mungil tetapi indah
itu. Yunho langsung duduk di sofa cokelat itu, tampak nyaman, kemudian
melepaskan kacamata hitamnya dan meletakkan di meja,
“Apa yang kau
rencanakan di hari ulang tahunmu?” Yunho mengedarkan pandangannya ke sekeliling
ruangan.
“Tidak ada,”
Jaejoong punya cheese cake strawberry di kulkasnya. Tapi itu untuk dia makan
sendiri nanti malam. Tanpa gangguan Yunho.
Yunho menatap
Jaejoong seolah mengukur-ukur,
“Aku bisa
mengadakan pesta untukmu.”
“Aku tidak butuh
pesta darimu.”
“Hmm,” Namja itu
mendesah, lalu ketika menatap Jaejoong, tatapannya berubah serius, “Kau tahu
kan kenapa aku kemari?”
Jaejoong
mengangguk, “Dan sebelum kau katakan maksudmu, aku ingin membuat penawaran baru
untukmu.”
“Penawaran?”
Yunho mengangkat alisnya, “Oke jelaskan.”
“Aku akan mengembalikan
semua uang yang pernah kau berikan kepada ayahku.”
“Jae,” Yunho
terkekeh, “Utang itu begitu besar hingga kau mungkin hanya bisa menggantinya
dengan tubuhmu. Tidak. Aku menolak penawaranmu. Dan kau...” mata Yunho berubah
sensual, “Kau akan menjadi isteriku sebentar lagi sesuai perjanjian.”
.
.
.
.
.
“Aku bukan
barang yang bisa dibeli seenaknya, dan kenapa kau begitu santai?? Ini masalah
pernikahan bukan jual beli perusahaan.”
“Aku hanya ingin
kau menjadi isteriku,” Yunho bersedekap, menatap Jaejoong yang mulai emosi,
“Itu sudah kutetapkan sejak awal mula.”
“Wae?” Jaejoong
tidak bisa menahan suara tajam di
lidahnya, “Karena kau ingin menjadikanku boneka pengganti Jessica?”
Wajah Yunho
mengeras ketika Jaejoong menyebut nama Jessica, bibirnya mengetat, “Jangan
hubung-hubungkan dia dengan ini semua.”
“Bagaimana aku
bisa tidak menghubungkan?” Jaejoong sudah menahan diri, tetapi suaranya
meninggi, “Semua ini karena wajah ini, karena wajah yang sama dengan almarhumah
isterimu! Kau tidak bisa menganggapku sebagai penggantinya Yunho! Kami orang
yang berbeda, dan aku menolak diperlakukan seperti itu!”
“Aku tahu kalian
orang yang berbeda,” Yunho berdiri di depan Jaejoong, siap berkonfrontasi,
“Percayalah, aku benar-benar tahu, karena gairah semacam ini, tidak pernah
kurasakan dengan siapapun!”
Namja itu meraih
Jaejoong ke pelukannya dan langsung mencium bibirnya. Dengan lembut. Tidak
memaksa seperti biasa, dengan pelan dia menguak bibir Jaejoong, mencicipinya
pelan-pelan kemudian melumatnya lembut. Lidahnya menelusuri seluruh bibir
Jaejoong dan kemudian bermain-main dengan lidah Jaejoong, mencecapnya
habis-habisan. Ketika akhirnya ciuman itu selesai mereka sama-sama
terengah-engah,
“Apakah pada
akhirnya kau mengakui kalau kau merindukanku?”
“Dalam mimpimu,
Jung.” Jaejoong menjawab dengan ketus, membuat Yunho terkekeh geli.
“Kita adalah
pasangan yang sangat cocok,” Yunho mendekatkan tubuh Jaejoong ke tubuhnya,
dalam rangkuman dadanya, “Kaitkan kakimu di kakiku.”
Jaejoong menatap
Yunho dengan cemas, “Apa yang sedang kau coba lakukan Jung?”
“Lakukan saja
Jae,” jemari Yunho menyentuh paha Jaejoong. Mungkin sudah waktunya mereka
berhenti berkata-kata dan berkomunikasi dengan bahasa non verbal yang sudah
sangat mereka kuasai.
Jemari Yunho
membimbing agar paha Jaejoong melingkarinya, “Aku ingin menunjukkan padamu,
bahwa kau tidak akan diperlakukan sebagai boneka. Kau bukan boneka, boneka
hanya untuk dipajang di dalam rak. Aku ingin kau berada di tanganku, untuk
disentuh, dipuaskan dan dimiliki dengan cara yang kusuka.”
Jaejoong
terkesiap, merasakan jemari Yunho menyelusup ke balik roknya dan menyentuh
bagian tubuhnya yang paling sensitif.
“Ya
sayang...seperti ini...“ Yunho mendesah di telinga Jaejoong, ia menyelipkan
satu jari dan mencumbu Jaejoong, berusaha sepelan mungkin meski hasratnya sudah
hampir menggelegak,
Jaejoong
terpekik dan mencengkram pundak Yunho dengan erat. Yunho menunduk, tangannya
yang bebas meraih tali atasan Jaejoong dan menurunkannya, untuk membuka
jalannya ke payudara Jaejoong. Saat tangan Yunho menangkup payudaranya,
Jaejoong mengigit bibir Yunho,
“Menggigit,
Jae?” Yunho menyeringai, “Ck...ck...ck,” jari Yunho bergerak lebih dalam lagi.
Gairah bercampur
penentangan berkelebat di mata Jaejoong ketika menatap Yunho, “Kau akan
membayar untuk semua ini, Jung.”
Yunho mulai
mencium leher Jaejoong, bertanya-tanya apakah Jaejoong tahu betapa
menggairahkannya dirinya dengan bagian atas kemejanya yang terbuka, menampilkan
sebagian payudaranya yang begitu indah. Rambutnya tergerai berantakan di bahu
dan sebelah kakinya melingkari pinggul Yunho dengan lembut. Mendadak Yunho
tidak sanggup menahan diri lagi.
Dan ia pun
bercinta dengan Jaejoongnya yang cantik. Saat itu juga hingga mereka berdua
sama-sama dibutakan oleh hasrat yang membara.
.
.
.
.
.
Yunho
mengetatkan pelukannya ke punggung Jaejoong yang setengah tertidur, dipeluknya
Jaejoong yang masih lemas setelah orgasme yang mereka lalui. Jaejoong akan
menjadi isterinya. Bahkan ketika Jaejoong menolak Yunho dengan kata-kata, Yunho
tahu bahwa tubuh Jaejoong tidak akan mampu menolaknya.
“Setelah ini
apakah kau akan menerima lamaranku?”
Jaejoong
terdiam, memejamkan matanya dalam pelukan Yunho. Masih bertanya-tanya mengapa
bercinta dengan seorang namja berbaju lengkap sementara dirinya sendiri
telanjang bisa terasa begitu erotis. Walaupun sekarang ia tidak tahu bagaimana
mereka bisa berakhir di ranjang ini, di tempat tidur ini. Dia sekarang
telanjang bulat, tanpa sehelai benangpun. Pakaiannya bertebaran dari ruang tamu
sampai ke lantai di sebelah.
Yunho
benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya. Ini akan menjadi pernikahan
tanpa cinta. Jaejoong memejamkan matanya, setidaknya bukan dari dirinya.
Ketika
mengetahui bahwa Yunho bukanlah penyebab kematian kedua orangtuanya, perasaan
Jaejoong langsung terjun bebas, jatuh ke dalam pesona Yunho yang begitu deras.
Namja ini luar biasa pandai bercinta, dan dia sudah memiliki tubuh Jaejoong.
Kalaupun Jaejoong menolak lamarannya, Jaejoong yakin Yunho tidak akan pernah
melepaskannya, apalagi membiarkannya menjalin hubungan dengan namja lain.
“Apakah kalau
aku menolak kau akan memaksaku?” Jaejoong menyuarakan pertanyaan di dalam
pikirannya.
Hening sejenak,
lalu Yunho mengusap punggung Jaejoong dengan lembut,
“Mungkin,” namja
itu menghela nafas panjang, “Jae. Aku bukan namja baik, mungkin kita akan
menghabiskan hari-hari kita dengan penuh pertengkaran dan meledak-ledak. Tapi
kau harus tahu satu hal, aku akan menjaga isteriku.”
Ucapan itu
bagaikan janji, yang diungkapkan di kegelapan kamar itu. Tetapi
pertanyaan-pertanyaan masih berkecamuk di benak Jaejoong. Kalau kau tidak
mencintaiku kenapa kau ingin menikahiku? Bahkan Jaejoong sudah tahu jawabannya.
Karena wajahnya, karena dia begitu mirip dengan kekasih sejati Yunho.
Kalau Jaejoong
mengambil resiko dengan menikahi Yunho, akankah suatu saat nanti Yunho akan
benar-benar memandang wajahnya dan mengakui bahwa itu Jaejoong? Bukan Jessica?
Akankah suatu saat nanti Jaejoong diakui sebagai suatu pribadi yang asli, bukan
pengganti dari siapapun? Resikonya terlalu besar. Tetapi godaan untuk jatuh ke
dalam pelukan iblis ini terlalu menarik untuk dilepaskan.
“Ya Yun. Aku
bersedia menjadi isterimu.”
Yunho memejamkan
matanya dan memeluk Jaejoong erat, “Dan aku berjanji padamu, kau akan dijaga
sebaik-baiknya.”
Begitu saja
lamaran itu, tanpa pernyataan cinta yang romantis, tanpa perasaan menggebu-gebu
yang biasanya dimiliki oleh pasangan yang tengah dilanda cinta. Jaejoong tidak
pernah membayangkan bahwa dia akan dilamar dengan cara seperti itu.
.
.
.
.
.
Pernikahan itu,
karena dilaksanakan dengan gaya Jung Yunho, menjadi sebuah pesta pernikahan
yang luar biasa mewah. Segalanya yang terbaik. Gaun Jaejoong didatangkan
langsung dari Perancis, makanannya yang paling enak, langsung dari restoran
milik Yunho. Yeoja-yeoja menatapnya iri dan para namja memujinya karena pada
akhirnya bisa membuat Jung Yunho berlabuh. Semua yeoja pasti memimpikan pesta
pernikahan yang seperti ini, pesta pernikahan yang bagaikan mimpi untuk puteri
di negeri dongeng.
Tetapi tidak
dengan Jaejoong. Tiba-tiba dia dihinggapi ketakutan yang diam-diam melandanya.
Dia sekarang sudah menjadi isteri Jung Yunho. Tetapi bayang-bayang isteri Yunho
yang terdahulu, Jessica yang cantik, yang sebenar-benarnya ada di hati Yunho
terasa menyesakkan dadanya.
Dan malam ini,
di malam pernikahannya. Jaejoong duduk di tepi ranjang Yunho. Merasakan
perasaan resah yang begitu mengganggu. Apakah aku menyesali ini? Kenapa aku mau
saja dinikahi oleh namja arogan ini? Sebegitu besarkah pesona namja ini hingga
membuatku rela hanya menjadi boneka pengganti?
Pintu terbuka
dan Yunho masuk, namja itu masih memakai jas yang dipakainya untuk pesta meski
dasinya sudah dilepas dan kancing kemeja di bagian atasnya sudah dibuka.
“Kenapa dahimu
berkerut?” Yunho melepaskan jasnya hanya mengenakan kemeja putih, lalu berdiri di
depan Jaejoong, “Kau sudah berganti baju, hmm.” dengan lembut Yunho menghela
pundak Jaejoong supaya berdiri menghadapnya, “Kau tampak lelah, apakah kau
ingin tidur atau...” tatapan Yunho tampak sensual.
Jaejoong menatap
Yunho dalam-dalam. Apakah hanya gairah yang ada di dalam benak namja ini.
Bahkan sampai sekarangpun Jaejoong masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya ada
di dalam hati Yunho.
“Aku ingin
membuat pengaturan,” Jaejoong bergumam cepat, sebelum dia kehilangan
keberaniannya, “Tentang pernikahan kita.”
“Pengaturan?”
Yunho mengerutkan kening, tampak tidak senang, “Apa maksudmu?”
“Pengaturan
tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pernikahan kita.”
Mata cokelat
Yunho membara, “Kau isteriku Jae, dan aku berhak atasmu.”
“Kau bilang kau
akan menghormatiku dalam pernikahan ini,” Jaejoong menatap Yunho tajam, “Kalau
kau tidak mau berkompromi atas pengaturanku ini aku...”
“Apa? Kau akan
melarikan diri lagi? Akan mogok makan lagi?” Yunho melepaskan pegangannya dari
Jaejoong dengan pahit.
Pipi Jaejoong
merona malu, tetapi dia menegarkan diri, “Aku hanya ingin menetapkan beberapa
hal yang membuatku merasa aman.”
“Oke,” desis
Yunho, “Cepat katakan apa maumu dan aku akan memilah mana yang bisa kuterima
dan mana yang tidak.”
“Pertama, aku
tidak mau dipaksa untuk bercinta denganmu kalau aku tidak mau...apalagi memakai
obat itu.”
Yunho mengangkat
alisnya dan menatap Jaejoong dengan sensual,
“Diterima.
Lagipula sepertinya aku tidak membutuhkan obat itu lagi,” tambahnya penuh arti,
membuat pipi Jaejoong makin merona.
“Kedua aku ingin
hubungan yang saling menghormati, aku akan menjaga kesetiaanku karena aku
isterimu, dan aku mau kau juga.”
Yunho terkekeh,
“Diterima,” jemarinya menyentuh pipi Jaejoong lembut, “Kau menjadi posesif
kepadaku, eh?” godanya.
Jaejoong
berusaha mengabaikan kalimat-kalimat Yunho yang menjurus itu,
“Ketiga, aku
tidak mau dibelikan apapun tanpa persetujuanku,” masih teringat di pikiran
Jaejoong betapa banyaknya baju-baju yang dibelikan Yunho untuknya, belum lagi
aksesoris dan perhiasan-perhiasan mahal yang dibeli Yunho seolah membeli
sesuatu yang tidak berharga. Yunho harus belajar bahwa memperlakukan yeoja
dengan baik bukan berarti melimpahinya dengan harta dan benda.
“Ditolak,”
tatapan Yunho menajam lagi, “Kau isteriku Jae, aku berhak membelikanmu apapun
yang aku mau.”
Jaejoong
mengernyit dan menantang mata Yunho, mereka saling bertatapan tajam sampai
akhirnya Jaejoong menyerah, “Oke...kau boleh membelikan asal tidak berlebihan.”
Yunho mengangkat
bahunya. “Apakah ini sudah selesai? Atau aku harus menunggu lebih lama untuk
berlanjut ke babak selanjutnya?”
Pipi Jaejoong
merona dan menatap Yunho dengan waspada, babak selanjutnya?
“Malam pertama
kita,” Yunho mengucapkannya lambat-lambat dengan nada yang sangat sensual
hingga membuat seluruh tubuh Jaejoong menggelenyar, “Kau tidak berpikir aku
akan melewatkannya kan?”
“Aku
masih punya satu syarat lagi,” Jaejoong tanpa sadar melangkah menjauhi Yunho,
“Aku ingin tinggal di kamar putih yang dulu...kau...eh bisa mengunjungiku kalau
kau perlu sesuatu...”
“Cukup!
Sekarang giliranku memberikan pengaturan untuk pernikahan kita!” kesabaran
Yunho tampaknya sudah habis, namja itu meraih pinggang Jaejoong dan merapatkan
di tubuhnya membuat Jaejoong merasakan tubuh Yunho yang mengeras di sana, “Kau
rasakan itu?” Yunho menatap Jaejoong, marah sekaligus bergairah, “Aku berniat
untuk menjadikanmu isteriku yang sesungguhnya. Bukan kekasih yang kukunjungi
jika aku perlu bercinta,” Jemari Yunho menuruni sisi lengan Jaejoong dengan
sensual dan kemudian berhenti di sisi payudaranya, meremasnya lembut, “Dan jika
kita melakukan itu, kita tidak akan tidur di kamar yang terpisah!”
Hening.
“Wae?
Kau tidak suka dengan syarat dariku?” Yunho terus menahan payudara Jaejoong
dengan posesif. Jaejoong adalah isterinya, sekarang dia harus menerima seluruh
dirinya, tidak lagi berusaha menentangnya sekehendak hatinya. Pilihannya adalah
mereka suami isteri atau tidak sama sekali, “Jika kau tidak menyukainya, lebih
baik kita berhenti di sini sekarang juga,” sambil berusaha menahan
keposesifannya, Yunho memperlembut tuntutannya, “Malam ini cukup sampai di sini
kalau kau tidak siap.”
Satu-satunya
yang mendesak saat ini adalah tubuhnya yang berhasrat, tetapi Yunho masih mampu
mengendalikannya jika Jaejoong tidak mau melanjutkan. Yeoja ini telah
menunjukkan keberanian besar dengan mengemukakan persyaratannya di depan Yunho
dan Yunho menghargainya, dan karena itu ia bersedia memberikan waktu sebanyak
yang diinginkan Jaejoong.
Jaejoong
hanya terdiam di sana, menatap Yunho dengan tatapan kosong. Astaga, apa
sebenarnya yang ada di dalam kepala mungil itu? Jaejoong pasti sudah larut
dalam persepsi dan pemikirannya sendiri. Apalagi setelah dia mengetahui kisah
tentang Jessica.
Yunho
sendiri tidak bisa menjelaskan perasaannya. Memang pada mulanya, dia
menginginkan Jaejoong karena kemiripannya dengan Jessica. Tetapi sekarang, dia
merasa Tuhan telah memberikannya kesempatan kedua, dalam wujud yeoja yang
sangat mirip dengan Jessica. Tidak, dia tidak pernah membayangkan Jessica.
Tidak lagi. Setelah malam-malam kelam yang menghancurkan hati, yang dia lalui
karena kematian Jessica dulu, Jessica telah berubah menjadi bayang samar yang
kadang hadir dalam bentuk kenangan masa lalu yang indah. Yunho bahkan sudah
berhasil tidak memikirkan Jessica lagi sejak bertahun-tahun lalu.
Jaejoong
terasa...berbeda...tetapi bagaimana dia menjelaskannya kepada Jaejoong? Yeoja
itu tidak akan percaya bahwa gairah yang meluap-luap ini memang murni untuk
dirinya. Yunho menyadari bahwa ia menginginkan pernikahan yang nyata, bersama
Jaejoong.
Jaejoong
bagaikan malaikat yang menariknya dari kegelapan. Hatinya yang kelam telah
tersentuh secercah Matahari sejak kehadiran Jaejoong. Dan Yunho tidak ingin
melepaskannya.
“Baiklah,”
suara pelan terdengar dari bibir Jaejoong, terdengar enggan seolah-olah
Jaejoong tidak benar-benar setuju dengan dominasi Yunho dalam hubungan ini. Dan
itu membuat Yunho senang, seorang isteri yang selalu setuju dengan pendapat
suaminya sama sekali tidak menyenangkan. Di dalam kehidupan pernikahan yang nyata,
terdapat banyak ketidaksepakatan, sebanyak kasih sayang, tawa, maupun
kesetiaan.
Yunho
tersenyum dan menatap Jaejoong dengan penuh bergairah, “Apakah kau sudah siap
untukku Jae?” jemari Yunho mengusap ujung payudara Jaejoong dengan lembut.
“Aku...”
sekujur tubuh Jaejoong bergetar,
“Mungkin
aku perlu memeriksanya dulu,” Yunho meluncurkan sebelah tangannya dari payudara
Jaejoong, mengusap perut Jaejoong yang basah dan terus bergerak turun. Dan
karena kaki Yunho, entah sejak kapan, berada di antara kakinya, Jaejoong tidak
bisa menghalangi niat Yunho kalaupun ia ingin.
Yunho
bergerak perlahan-lahan, memperhatikan isyarat sekecil apapun kalau-kalau
Jaejoong ingin berhenti. Di luar dugaan, Jaejoong tidak menolaknya, tubuh yeoja
itu menyambutnya, membuat Yunho harus menggertakkan gigi menahan hasratnya yang
makin menggelegak.
Jaejoong
membiarkan jemari Yunho menyentuhnya. Tubuh Jaejoong begitu lembut, dan ia
gemetar ketika Yunho menyentuh tubuhnya di bagian yang paling sensitif,
berusaha menemukan pusat dirinya. Ketika akhirnya menemukannya, Yunho
menggerakkan jemarinya dengan lembut. Hanya sekedar menggoda. Jaejoong
mengerang, tubuhnya bergetar hebat. Tubuh Yunho sendiri sudah menegang putus
asa.
“Ya,
kau memang sudah siap,” ucap Yunho sangat parau, Lalu mendorong Jaejoong
terbaring di ranjangnya yang berseprai satin hitam.
Yunho
mengangkat kedua tangan Jaejoong, meskipun Jaejoong sedikit melawan. Sambil
meletakkan kedua tangan Jaejoong ke atas kepalanya, Yunho bergerak menindih
Jaejoong. Jaejoong menatap Yunho dengan liar, teringat peristiwa yang mirip,
ketika Yunho mengikat kedua tangan Jaejoong di atas kepala dengan dasinya,
apakah Yunho akan mengikatnya lagi?
“Aku
tidak perlu mengikatmu boo,” Yunho melepaskan tangan Jaejoong dan mengecup
bibirnya penuh gairah, jemarinya menyentuh kembali payudara Jaejoong, membuat
seluruh tubuh Jaejoong menggelenyar,
“Boo?
Nugu?”
“Itu
nama untukmu dariku.”
“Yunnie...”
tubuh Jaejoong bergetar karena gairah,
“Benar
boo, ucapkan namaku, aku suka kau mendesahkan namaku” Yunho bergeser turun dan
menunduk, lalu mengulum puncak payudara Jaejoong dalam bibirnya yang panas.
Jaejoong
mengerang setengah meronta, “Yunnie...please...please...”
Erangan
itu membuat Yunho ingin menyerah kepada Jaejoong. Tubuhnya sendiri sudah sangat
bergairah sampai terasa nyeri, Tetapi ia tahu betapa pentingnya mencumbu
Jaejoong sebelum bercinta dengannya. Setelah bercinta nanti, ia pasti ingin
mencicipi Jaejoong, lagi dan lagi dan dia ingin isterinya terus menginginkannya
dengan hasrat yang sama besarnya.
Yunho
menelusurkan tangannya ke bawah dan mengangkat pinggul Jaejoong. Jaejoong
melingkarkan kedua kakinya di tubuh Yunho, mendekap Yunho ke tubuhnya, membuka
diri,
“Belum
boo, belum saatnya aku masuk,” Ketika Jaejoong membuka bibirnya untuk
memprotes, Yunho menciumnya.
Karena
bibir Jaejoong telah terbuka, ciuman itu berlangsung dengan sangat sensual.
Yunho menggoda Jaejoong dengan belaian dan jilatan lidahnya dan kemudian
mencicipi bibir Jaejoong dengan sedikit lebih dalam.
Kedua
tangan Jaejoong mencengkeram rambut Yunho, untuk sejenak Jaejoong tampak ragu,
tetapi kemudian lidahnya membalas, membelai bibir Yunho dengan malu-malu dan
hati-hati. Yunho tidak dapat menahan diri lagi.
Ia
sudah berada di dalam tubuh Jaejoong sebelum mereka sempat menarik napas.
Jaejoong
merapat, berusaha agar mereka menyatu lebih dalam lagi. Yunho menahan diri,
meskipun gairah membuat tubuhnya menegang,
“Cium
aku boo, cium aku seperti kau menginginkanku untuk berada jauh di dalam dirimu,
di dalam tempat yang belum pernah didatangi oleh siapapun.”
Jaejoong
merespon dengan malu-malu tetapi tepat, tubuh Jaejoong sedikit maju ke atas,
lalu menangkup wajah Yunho dengan kedua tangan dan menciumnya. Kelembutan sikap
Jaejoong mengguncang Yunho, dan meruntuhkan segenap kendali dirinya.
Sambil
menjalin jemarinya dengan jemari Jaejoong, Yunho mendesak lebih dalam. Api
gairah berdesir di dalam tubuhnya, mendesaknya untuk menandakan kepemilikannya
pada diri Jaejoong.
Sambil
menggertakkan gigi untuk melawan godaan melakukannya dengan cepat, Yunho
bergerak sedikit demi sedikit ke dalam tubuh Jaejoong. Sebagian dirinya yang
benar-benar primitif menggeramkan kepemilikannya. Jaejoong adalah miliknya.
Selamanya. Hanya dirinya yang boleh memiliki Jaejoong.
Yunho
meraih bibir Jaejoong dengan ciuman rakus, dan bergerak kembali dengan kekuatan
penuh, bagi Jaejoong kenikmatan yang dirasakannya tak terlukiskan. Sementara
bibir mereka bertautan, sebelah tangan Yunho kembali bergerak ke payudara
Jaejoong, membelainya. Jaejoong hampir kehilangan kewarasannya akibat cumbuan
itu dan dia berusaha menahan dirinya,
“Lepaskan
boo, jangan menahannya,” Yunho seolah mengerti apa yang dirasakan Jaejoong,
permintaan panas itu dibisikkan ke mulut Jaejoong yang nyaris tenggelam dalam
hasrat gairahnya.
Dan
ketika jemari Yunho menyentuh sekujur tubuhnya, Jaejoong menyerahkan dirinya.
Tubuhnya mendesak di tubuh Yunho sementara gelombang kepuasan mendera tubuhnya.
Orgasme Jaejoong menggiring Yunho hingga ke ambang batas kesadarannya, ia mulai
mempercepat iramanya dan merasakan dirinya meledak, di dalam tubuh Jaejoong.
Terbenam dalam puncak kepuasannya.
.
.
.
.
.
To Be Continue

Finally they're married...how romantic this chap
ReplyDeleteWaw..nikah ya..akhirnya. .lalu kpn mrka bilang "saranghae"
ReplyDeletejae masih aja ngasih bnyak aturan ....pdahal yunho udah ngasih semuanya
ReplyDeletedan cintanya hanya untuk jaejoong seorang
tapi jae msih belum yakin
Yeey! Aaaah manis sekali, biarpun sama-sama keras, tapi kalau udah urusan ranjang .....#ahsudahlah >„„„<
ReplyDeleteJae belum percaya sepenuhnya dengan Yun eoh, Yun harus berusaha lebih keras lagi agar Jae percaya.
Boo Yunnie ~ Aww~
Akhirnya mereka nikah juga...
ReplyDeleteTapi tetep ya di malam pertama sempet2nya ribut dulu..