Wednesday, February 26

[Remake] Salang-Ui Ba Chapter 18


“Saya hanya memikirkan cara-cara Tuan jung, mengingat wataknya, beliau tidak akan menjelaskan apapun kepada Anda. Mungkin beliau akan menculik Anda lagi dan memaksakan pernikahannya dengan Anda, saya hanya menyiapkan Anda kalau itu benar-benar terjadi.”
Jaejoong mengernyit, “Mengingat selama ini dia selalu memaksakan kehendaknya, aku yakin dia akan melakukannya...jadi dia membebaskanku hanya sementara?”
Changmin mengangguk, minta permakluman, “Semoga Anda bisa menghilangkan semua dendam yang tidak perlu. Yang pasti saya bisa menjamin itu, Tuan jung benar-benar peduli kepada Anda. Perlu Anda tahu, Tuan jung benar-benar serius ingin menikahi anda, beliau saat ini berada di Italia, mengunjungi makam nyonya Jessica."
Meminta izin kepada isterinya. Jaejoong memejamkan matanya pedih. Setelah dendam itu menghilang, yang ada di dadanya hanyalah kekosongan yang perih...kekosongan yang menyesakkan dadanya...Hampir seperti...patah hati.

salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Jaejoong sudah tahu hari ini akan tiba. Entah kenapa dia tahu, bahwa Yunho akan datang menjemputnya dan merenggutnya kembali, dan jantungnya berdegup kencang.
Ketukan di pintu rumahnya membuatnya terlonjak, meskipun Jaejoong sudah mengantisipasinya. Dan ketika membuka pintu, Jaejoong bertatapan wajah dengan Yunho. Namja itu tampak luar biasa tampan, bahkan lebih tampan dari terakhir mereka bertemu. Mengenakan kaca mata hitam dan kemeja biru berlapis jaket khaki dan celana yang senada, dengan rambut cokelatnya yang acak-acakan. Dia seperti malaikat yang diturunkan di depan pintu Jaejoong.
“Aku sudah tahu apa yang akan kau katakan,” Jaejoong berkata, mencoba mencari-cari mata Yunho, tetapi kesulitan karena kacamata hitam itu menghalanginya.
Yunho terdiam, “Arrata, Changmin menceritakan pertemuan kalian,” Namja itu menoleh ke belakang Jaejoong, “Boleh aku masuk?”
Jaejoong mundur dengan tidak nyaman. Membiarkan Jung Yunho masuk ke rumahnya sama seperti membiarkan iblis menguasai kehidupannya. Tetapi tidak ada pilihan lain. Mereka harus berbicara, panjang lebar. Dan mereka tidak mungkin berbicara di ambang pintu seperti ini.
Jaejoong memiringkan tubuhnya mempersilahkan Yunho masuk ke rumahnya yang mungil tetapi indah itu. Yunho langsung duduk di sofa cokelat itu, tampak nyaman, kemudian melepaskan kacamata hitamnya dan meletakkan di meja,
“Apa yang kau rencanakan di hari ulang tahunmu?” Yunho mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
“Tidak ada,” Jaejoong punya cheese cake strawberry di kulkasnya. Tapi itu untuk dia makan sendiri nanti malam. Tanpa gangguan Yunho.
Yunho menatap Jaejoong seolah mengukur-ukur,
“Aku bisa mengadakan pesta untukmu.”
“Aku tidak butuh pesta darimu.”
“Hmm,” Namja itu mendesah, lalu ketika menatap Jaejoong, tatapannya berubah serius, “Kau tahu kan kenapa aku kemari?”
Jaejoong mengangguk, “Dan sebelum kau katakan maksudmu, aku ingin membuat penawaran baru untukmu.”
“Penawaran?” Yunho mengangkat alisnya, “Oke jelaskan.”
“Aku akan mengembalikan semua uang yang pernah kau berikan kepada ayahku.”
“Jae,” Yunho terkekeh, “Utang itu begitu besar hingga kau mungkin hanya bisa menggantinya dengan tubuhmu. Tidak. Aku menolak penawaranmu. Dan kau...” mata Yunho berubah sensual, “Kau akan menjadi isteriku sebentar lagi sesuai perjanjian.”
.
.
.
.
.
“Aku bukan barang yang bisa dibeli seenaknya, dan kenapa kau begitu santai?? Ini masalah pernikahan bukan jual beli perusahaan.”
“Aku hanya ingin kau menjadi isteriku,” Yunho bersedekap, menatap Jaejoong yang mulai emosi, “Itu sudah kutetapkan sejak awal mula.”
“Wae?” Jaejoong tidak bisa menahan  suara tajam di lidahnya, “Karena kau ingin menjadikanku boneka pengganti Jessica?”
Wajah Yunho mengeras ketika Jaejoong menyebut nama Jessica, bibirnya mengetat, “Jangan hubung-hubungkan dia dengan ini semua.”
“Bagaimana aku bisa tidak menghubungkan?” Jaejoong sudah menahan diri, tetapi suaranya meninggi, “Semua ini karena wajah ini, karena wajah yang sama dengan almarhumah isterimu! Kau tidak bisa menganggapku sebagai penggantinya Yunho! Kami orang yang berbeda, dan aku menolak diperlakukan seperti itu!”
“Aku tahu kalian orang yang berbeda,” Yunho berdiri di depan Jaejoong, siap berkonfrontasi, “Percayalah, aku benar-benar tahu, karena gairah semacam ini, tidak pernah kurasakan dengan siapapun!”
Namja itu meraih Jaejoong ke pelukannya dan langsung mencium bibirnya. Dengan lembut. Tidak memaksa seperti biasa, dengan pelan dia menguak bibir Jaejoong, mencicipinya pelan-pelan kemudian melumatnya lembut. Lidahnya menelusuri seluruh bibir Jaejoong dan kemudian bermain-main dengan lidah Jaejoong, mencecapnya habis-habisan. Ketika akhirnya ciuman itu selesai mereka sama-sama terengah-engah,
“Apakah pada akhirnya kau mengakui kalau kau merindukanku?”
“Dalam mimpimu, Jung.” Jaejoong menjawab dengan ketus, membuat Yunho terkekeh geli.
“Kita adalah pasangan yang sangat cocok,” Yunho mendekatkan tubuh Jaejoong ke tubuhnya, dalam rangkuman dadanya, “Kaitkan kakimu di kakiku.”
Jaejoong menatap Yunho dengan cemas, “Apa yang sedang kau coba lakukan Jung?”
“Lakukan saja Jae,” jemari Yunho menyentuh paha Jaejoong. Mungkin sudah waktunya mereka berhenti berkata-kata dan berkomunikasi dengan bahasa non verbal yang sudah sangat mereka kuasai.
Jemari Yunho membimbing agar paha Jaejoong melingkarinya, “Aku ingin menunjukkan padamu, bahwa kau tidak akan diperlakukan sebagai boneka. Kau bukan boneka, boneka hanya untuk dipajang di dalam rak. Aku ingin kau berada di tanganku, untuk disentuh, dipuaskan dan dimiliki dengan cara yang kusuka.”
Jaejoong terkesiap, merasakan jemari Yunho menyelusup ke balik roknya dan menyentuh bagian tubuhnya yang paling sensitif.
“Ya sayang...seperti ini...“ Yunho mendesah di telinga Jaejoong, ia menyelipkan satu jari dan mencumbu Jaejoong, berusaha sepelan mungkin meski hasratnya sudah hampir menggelegak,
Jaejoong terpekik dan mencengkram pundak Yunho dengan erat. Yunho menunduk, tangannya yang bebas meraih tali atasan Jaejoong dan menurunkannya, untuk membuka jalannya ke payudara Jaejoong. Saat tangan Yunho menangkup payudaranya, Jaejoong mengigit bibir Yunho,
“Menggigit, Jae?” Yunho menyeringai, “Ck...ck...ck,” jari Yunho bergerak lebih dalam lagi.
Gairah bercampur penentangan berkelebat di mata Jaejoong ketika menatap Yunho, “Kau akan membayar untuk semua ini, Jung.”
Yunho mulai mencium leher Jaejoong, bertanya-tanya apakah Jaejoong tahu betapa menggairahkannya dirinya dengan bagian atas kemejanya yang terbuka, menampilkan sebagian payudaranya yang begitu indah. Rambutnya tergerai berantakan di bahu dan sebelah kakinya melingkari pinggul Yunho dengan lembut. Mendadak Yunho tidak sanggup menahan diri lagi.
Dan ia pun bercinta dengan Jaejoongnya yang cantik. Saat itu juga hingga mereka berdua sama-sama dibutakan oleh hasrat yang membara.
.
.
.
.
.
Yunho mengetatkan pelukannya ke punggung Jaejoong yang setengah tertidur, dipeluknya Jaejoong yang masih lemas setelah orgasme yang mereka lalui. Jaejoong akan menjadi isterinya. Bahkan ketika Jaejoong menolak Yunho dengan kata-kata, Yunho tahu bahwa tubuh Jaejoong tidak akan mampu menolaknya.
“Setelah ini apakah kau akan menerima lamaranku?”
Jaejoong terdiam, memejamkan matanya dalam pelukan Yunho. Masih bertanya-tanya mengapa bercinta dengan seorang namja berbaju lengkap sementara dirinya sendiri telanjang bisa terasa begitu erotis. Walaupun sekarang ia tidak tahu bagaimana mereka bisa berakhir di ranjang ini, di tempat tidur ini. Dia sekarang telanjang bulat, tanpa sehelai benangpun. Pakaiannya bertebaran dari ruang tamu sampai ke lantai di sebelah.
Yunho benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya. Ini akan menjadi pernikahan tanpa cinta. Jaejoong memejamkan matanya, setidaknya bukan dari dirinya.
Ketika mengetahui bahwa Yunho bukanlah penyebab kematian kedua orangtuanya, perasaan Jaejoong langsung terjun bebas, jatuh ke dalam pesona Yunho yang begitu deras. Namja ini luar biasa pandai bercinta, dan dia sudah memiliki tubuh Jaejoong. Kalaupun Jaejoong menolak lamarannya, Jaejoong yakin Yunho tidak akan pernah melepaskannya, apalagi membiarkannya menjalin hubungan dengan namja lain.
“Apakah kalau aku menolak kau akan memaksaku?” Jaejoong menyuarakan pertanyaan di dalam pikirannya.
Hening sejenak, lalu Yunho mengusap punggung Jaejoong dengan lembut,
“Mungkin,” namja itu menghela nafas panjang, “Jae. Aku bukan namja baik, mungkin kita akan menghabiskan hari-hari kita dengan penuh pertengkaran dan meledak-ledak. Tapi kau harus tahu satu hal, aku akan menjaga isteriku.”
Ucapan itu bagaikan janji, yang diungkapkan di kegelapan kamar itu. Tetapi pertanyaan-pertanyaan masih berkecamuk di benak Jaejoong. Kalau kau tidak mencintaiku kenapa kau ingin menikahiku? Bahkan Jaejoong sudah tahu jawabannya. Karena wajahnya, karena dia begitu mirip dengan kekasih sejati Yunho.
Kalau Jaejoong mengambil resiko dengan menikahi Yunho, akankah suatu saat nanti Yunho akan benar-benar memandang wajahnya dan mengakui bahwa itu Jaejoong? Bukan Jessica? Akankah suatu saat nanti Jaejoong diakui sebagai suatu pribadi yang asli, bukan pengganti dari siapapun? Resikonya terlalu besar. Tetapi godaan untuk jatuh ke dalam pelukan iblis ini terlalu menarik untuk dilepaskan.
“Ya Yun. Aku bersedia menjadi isterimu.”
Yunho memejamkan matanya dan memeluk Jaejoong erat, “Dan aku berjanji padamu, kau akan dijaga sebaik-baiknya.”
Begitu saja lamaran itu, tanpa pernyataan cinta yang romantis, tanpa perasaan menggebu-gebu yang biasanya dimiliki oleh pasangan yang tengah dilanda cinta. Jaejoong tidak pernah membayangkan bahwa dia akan dilamar dengan cara seperti itu.
.
.
.
.
.
Pernikahan itu, karena dilaksanakan dengan gaya Jung Yunho, menjadi sebuah pesta pernikahan yang luar biasa mewah. Segalanya yang terbaik. Gaun Jaejoong didatangkan langsung dari Perancis, makanannya yang paling enak, langsung dari restoran milik Yunho. Yeoja-yeoja menatapnya iri dan para namja memujinya karena pada akhirnya bisa membuat Jung Yunho berlabuh. Semua yeoja pasti memimpikan pesta pernikahan yang seperti ini, pesta pernikahan yang bagaikan mimpi untuk puteri di negeri dongeng.
Tetapi tidak dengan Jaejoong. Tiba-tiba dia dihinggapi ketakutan yang diam-diam melandanya. Dia sekarang sudah menjadi isteri Jung Yunho. Tetapi bayang-bayang isteri Yunho yang terdahulu, Jessica yang cantik, yang sebenar-benarnya ada di hati Yunho terasa menyesakkan dadanya.
Dan malam ini, di malam pernikahannya. Jaejoong duduk di tepi ranjang Yunho. Merasakan perasaan resah yang begitu mengganggu. Apakah aku menyesali ini? Kenapa aku mau saja dinikahi oleh namja arogan ini? Sebegitu besarkah pesona namja ini hingga membuatku rela hanya menjadi boneka pengganti?
Pintu terbuka dan Yunho masuk, namja itu masih memakai jas yang dipakainya untuk pesta meski dasinya sudah dilepas dan kancing kemeja di bagian atasnya sudah dibuka.
“Kenapa dahimu berkerut?” Yunho melepaskan jasnya hanya mengenakan kemeja putih, lalu berdiri di depan Jaejoong, “Kau sudah berganti baju, hmm.” dengan lembut Yunho menghela pundak Jaejoong supaya berdiri menghadapnya, “Kau tampak lelah, apakah kau ingin tidur atau...” tatapan Yunho tampak sensual.
Jaejoong menatap Yunho dalam-dalam. Apakah hanya gairah yang ada di dalam benak namja ini. Bahkan sampai sekarangpun Jaejoong masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya ada di dalam hati Yunho.
“Aku ingin membuat pengaturan,” Jaejoong bergumam cepat, sebelum dia kehilangan keberaniannya, “Tentang pernikahan kita.”
“Pengaturan?” Yunho mengerutkan kening, tampak tidak senang, “Apa maksudmu?”
“Pengaturan tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pernikahan kita.”
Mata cokelat Yunho membara, “Kau isteriku Jae, dan aku berhak atasmu.”
“Kau bilang kau akan menghormatiku dalam pernikahan ini,” Jaejoong menatap Yunho tajam, “Kalau kau tidak mau berkompromi atas pengaturanku ini aku...”
“Apa? Kau akan melarikan diri lagi? Akan mogok makan lagi?” Yunho melepaskan pegangannya dari Jaejoong dengan pahit.
Pipi Jaejoong merona malu, tetapi dia menegarkan diri, “Aku hanya ingin menetapkan beberapa hal yang membuatku merasa aman.”
“Oke,” desis Yunho, “Cepat katakan apa maumu dan aku akan memilah mana yang bisa kuterima dan mana yang tidak.”
“Pertama, aku tidak mau dipaksa untuk bercinta denganmu kalau aku tidak mau...apalagi memakai obat itu.”
Yunho mengangkat alisnya dan menatap Jaejoong dengan sensual,
“Diterima. Lagipula sepertinya aku tidak membutuhkan obat itu lagi,” tambahnya penuh arti, membuat pipi Jaejoong makin merona.
“Kedua aku ingin hubungan yang saling menghormati, aku akan menjaga kesetiaanku karena aku isterimu, dan aku mau kau juga.”
Yunho terkekeh, “Diterima,” jemarinya menyentuh pipi Jaejoong lembut, “Kau menjadi posesif kepadaku, eh?” godanya.
Jaejoong berusaha mengabaikan kalimat-kalimat Yunho yang menjurus itu,
“Ketiga, aku tidak mau dibelikan apapun tanpa persetujuanku,” masih teringat di pikiran Jaejoong betapa banyaknya baju-baju yang dibelikan Yunho untuknya, belum lagi aksesoris dan perhiasan-perhiasan mahal yang dibeli Yunho seolah membeli sesuatu yang tidak berharga. Yunho harus belajar bahwa memperlakukan yeoja dengan baik bukan berarti melimpahinya dengan harta dan benda.
“Ditolak,” tatapan Yunho menajam lagi, “Kau isteriku Jae, aku berhak membelikanmu apapun yang aku mau.”
Jaejoong mengernyit dan menantang mata Yunho, mereka saling bertatapan tajam sampai akhirnya Jaejoong menyerah, “Oke...kau boleh membelikan asal tidak berlebihan.”
Yunho mengangkat bahunya. “Apakah ini sudah selesai? Atau aku harus menunggu lebih lama untuk berlanjut ke babak selanjutnya?”
Pipi Jaejoong merona dan menatap Yunho dengan waspada, babak selanjutnya?
“Malam pertama kita,” Yunho mengucapkannya lambat-lambat dengan nada yang sangat sensual hingga membuat seluruh tubuh Jaejoong menggelenyar, “Kau tidak berpikir aku akan melewatkannya kan?”
“Aku masih punya satu syarat lagi,” Jaejoong tanpa sadar melangkah menjauhi Yunho, “Aku ingin tinggal di kamar putih yang dulu...kau...eh bisa mengunjungiku kalau kau perlu sesuatu...”
“Cukup! Sekarang giliranku memberikan pengaturan untuk pernikahan kita!” kesabaran Yunho tampaknya sudah habis, namja itu meraih pinggang Jaejoong dan merapatkan di tubuhnya membuat Jaejoong merasakan tubuh Yunho yang mengeras di sana, “Kau rasakan itu?” Yunho menatap Jaejoong, marah sekaligus bergairah, “Aku berniat untuk menjadikanmu isteriku yang sesungguhnya. Bukan kekasih yang kukunjungi jika aku perlu bercinta,” Jemari Yunho menuruni sisi lengan Jaejoong dengan sensual dan kemudian berhenti di sisi payudaranya, meremasnya lembut, “Dan jika kita melakukan itu, kita tidak akan tidur di kamar yang terpisah!”
Hening.
“Wae? Kau tidak suka dengan syarat dariku?” Yunho terus menahan payudara Jaejoong dengan posesif. Jaejoong adalah isterinya, sekarang dia harus menerima seluruh dirinya, tidak lagi berusaha menentangnya sekehendak hatinya. Pilihannya adalah mereka suami isteri atau tidak sama sekali, “Jika kau tidak menyukainya, lebih baik kita berhenti di sini sekarang juga,” sambil berusaha menahan keposesifannya, Yunho memperlembut tuntutannya, “Malam ini cukup sampai di sini kalau kau tidak siap.”
Satu-satunya yang mendesak saat ini adalah tubuhnya yang berhasrat, tetapi Yunho masih mampu mengendalikannya jika Jaejoong tidak mau melanjutkan. Yeoja ini telah menunjukkan keberanian besar dengan mengemukakan persyaratannya di depan Yunho dan Yunho menghargainya, dan karena itu ia bersedia memberikan waktu sebanyak yang diinginkan Jaejoong.
Jaejoong hanya terdiam di sana, menatap Yunho dengan tatapan kosong. Astaga, apa sebenarnya yang ada di dalam kepala mungil itu? Jaejoong pasti sudah larut dalam persepsi dan pemikirannya sendiri. Apalagi setelah dia mengetahui kisah tentang Jessica.
Yunho sendiri tidak bisa menjelaskan perasaannya. Memang pada mulanya, dia menginginkan Jaejoong karena kemiripannya dengan Jessica. Tetapi sekarang, dia merasa Tuhan telah memberikannya kesempatan kedua, dalam wujud yeoja yang sangat mirip dengan Jessica. Tidak, dia tidak pernah membayangkan Jessica. Tidak lagi. Setelah malam-malam kelam yang menghancurkan hati, yang dia lalui karena kematian Jessica dulu, Jessica telah berubah menjadi bayang samar yang kadang hadir dalam bentuk kenangan masa lalu yang indah. Yunho bahkan sudah berhasil tidak memikirkan Jessica lagi sejak bertahun-tahun lalu.
Jaejoong terasa...berbeda...tetapi bagaimana dia menjelaskannya kepada Jaejoong? Yeoja itu tidak akan percaya bahwa gairah yang meluap-luap ini memang murni untuk dirinya. Yunho menyadari bahwa ia menginginkan pernikahan yang nyata, bersama Jaejoong.
Jaejoong bagaikan malaikat yang menariknya dari kegelapan. Hatinya yang kelam telah tersentuh secercah Matahari sejak kehadiran Jaejoong. Dan Yunho tidak ingin melepaskannya.
“Baiklah,” suara pelan terdengar dari bibir Jaejoong, terdengar enggan seolah-olah Jaejoong tidak benar-benar setuju dengan dominasi Yunho dalam hubungan ini. Dan itu membuat Yunho senang, seorang isteri yang selalu setuju dengan pendapat suaminya sama sekali tidak menyenangkan. Di dalam kehidupan pernikahan yang nyata, terdapat banyak ketidaksepakatan, sebanyak kasih sayang, tawa, maupun kesetiaan.
Yunho tersenyum dan menatap Jaejoong dengan penuh bergairah, “Apakah kau sudah siap untukku Jae?” jemari Yunho mengusap ujung payudara Jaejoong dengan lembut.
“Aku...” sekujur tubuh Jaejoong bergetar,
“Mungkin aku perlu memeriksanya dulu,” Yunho meluncurkan sebelah tangannya dari payudara Jaejoong, mengusap perut Jaejoong yang basah dan terus bergerak turun. Dan karena kaki Yunho, entah sejak kapan, berada di antara kakinya, Jaejoong tidak bisa menghalangi niat Yunho kalaupun ia ingin.
Yunho bergerak perlahan-lahan, memperhatikan isyarat sekecil apapun kalau-kalau Jaejoong ingin berhenti. Di luar dugaan, Jaejoong tidak menolaknya, tubuh yeoja itu menyambutnya, membuat Yunho harus menggertakkan gigi menahan hasratnya yang makin menggelegak.
Jaejoong membiarkan jemari Yunho menyentuhnya. Tubuh Jaejoong begitu lembut, dan ia gemetar ketika Yunho menyentuh tubuhnya di bagian yang paling sensitif, berusaha menemukan pusat dirinya. Ketika akhirnya menemukannya, Yunho menggerakkan jemarinya dengan lembut. Hanya sekedar menggoda. Jaejoong mengerang, tubuhnya bergetar hebat. Tubuh Yunho sendiri sudah menegang putus asa.
“Ya, kau memang sudah siap,” ucap Yunho sangat parau, Lalu mendorong Jaejoong terbaring di ranjangnya yang berseprai satin hitam.
Yunho mengangkat kedua tangan Jaejoong, meskipun Jaejoong sedikit melawan. Sambil meletakkan kedua tangan Jaejoong ke atas kepalanya, Yunho bergerak menindih Jaejoong. Jaejoong menatap Yunho dengan liar, teringat peristiwa yang mirip, ketika Yunho mengikat kedua tangan Jaejoong di atas kepala dengan dasinya, apakah Yunho akan mengikatnya lagi?
“Aku tidak perlu mengikatmu boo,” Yunho melepaskan tangan Jaejoong dan mengecup bibirnya penuh gairah, jemarinya menyentuh kembali payudara Jaejoong, membuat seluruh tubuh Jaejoong menggelenyar,
“Boo? Nugu?”
“Itu nama untukmu dariku.”
“Yunnie...” tubuh Jaejoong bergetar karena gairah,
“Benar boo, ucapkan namaku, aku suka kau mendesahkan namaku” Yunho bergeser turun dan menunduk, lalu mengulum puncak payudara Jaejoong dalam bibirnya yang panas.
Jaejoong mengerang setengah meronta, “Yunnie...please...please...”
Erangan itu membuat Yunho ingin menyerah kepada Jaejoong. Tubuhnya sendiri sudah sangat bergairah sampai terasa nyeri, Tetapi ia tahu betapa pentingnya mencumbu Jaejoong sebelum bercinta dengannya. Setelah bercinta nanti, ia pasti ingin mencicipi Jaejoong, lagi dan lagi dan dia ingin isterinya terus menginginkannya dengan hasrat yang sama besarnya.
Yunho menelusurkan tangannya ke bawah dan mengangkat pinggul Jaejoong. Jaejoong melingkarkan kedua kakinya di tubuh Yunho, mendekap Yunho ke tubuhnya, membuka diri,
“Belum boo, belum saatnya aku masuk,” Ketika Jaejoong membuka bibirnya untuk memprotes, Yunho menciumnya.
Karena bibir Jaejoong telah terbuka, ciuman itu berlangsung dengan sangat sensual. Yunho menggoda Jaejoong dengan belaian dan jilatan lidahnya dan kemudian mencicipi bibir Jaejoong dengan sedikit lebih dalam.
Kedua tangan Jaejoong mencengkeram rambut Yunho, untuk sejenak Jaejoong tampak ragu, tetapi kemudian lidahnya membalas, membelai bibir Yunho dengan malu-malu dan hati-hati. Yunho tidak dapat menahan diri lagi.
Ia sudah berada di dalam tubuh Jaejoong sebelum mereka sempat menarik napas.
Jaejoong merapat, berusaha agar mereka menyatu lebih dalam lagi. Yunho menahan diri, meskipun gairah membuat tubuhnya menegang,
“Cium aku boo, cium aku seperti kau menginginkanku untuk berada jauh di dalam dirimu, di dalam tempat yang belum pernah didatangi oleh siapapun.”
Jaejoong merespon dengan malu-malu tetapi tepat, tubuh Jaejoong sedikit maju ke atas, lalu menangkup wajah Yunho dengan kedua tangan dan menciumnya. Kelembutan sikap Jaejoong mengguncang Yunho, dan meruntuhkan segenap kendali dirinya.
Sambil menjalin jemarinya dengan jemari Jaejoong, Yunho mendesak lebih dalam. Api gairah berdesir di dalam tubuhnya, mendesaknya untuk menandakan kepemilikannya pada diri Jaejoong.
Sambil menggertakkan gigi untuk melawan godaan melakukannya dengan cepat, Yunho bergerak sedikit demi sedikit ke dalam tubuh Jaejoong. Sebagian dirinya yang benar-benar primitif menggeramkan kepemilikannya. Jaejoong adalah miliknya. Selamanya. Hanya dirinya yang boleh memiliki Jaejoong.
Yunho meraih bibir Jaejoong dengan ciuman rakus, dan bergerak kembali dengan kekuatan penuh, bagi Jaejoong kenikmatan yang dirasakannya tak terlukiskan. Sementara bibir mereka bertautan, sebelah tangan Yunho kembali bergerak ke payudara Jaejoong, membelainya. Jaejoong hampir kehilangan kewarasannya akibat cumbuan itu dan dia berusaha menahan dirinya,
“Lepaskan boo, jangan menahannya,” Yunho seolah mengerti apa yang dirasakan Jaejoong, permintaan panas itu dibisikkan ke mulut Jaejoong yang nyaris tenggelam dalam hasrat gairahnya.
Dan ketika jemari Yunho menyentuh sekujur tubuhnya, Jaejoong menyerahkan dirinya. Tubuhnya mendesak di tubuh Yunho sementara gelombang kepuasan mendera tubuhnya. Orgasme Jaejoong menggiring Yunho hingga ke ambang batas kesadarannya, ia mulai mempercepat iramanya dan merasakan dirinya meledak, di dalam tubuh Jaejoong. Terbenam dalam puncak kepuasannya.
.                                                                                                                                                    
.
.
.
.
To Be Continue

5 comments:

  1. Finally they're married...how romantic this chap

    ReplyDelete
  2. Anonymous12:47 PM

    Waw..nikah ya..akhirnya. .lalu kpn mrka bilang "saranghae"

    ReplyDelete
  3. jae masih aja ngasih bnyak aturan ....pdahal yunho udah ngasih semuanya
    dan cintanya hanya untuk jaejoong seorang
    tapi jae msih belum yakin

    ReplyDelete
  4. Yeey! Aaaah manis sekali, biarpun sama-sama keras, tapi kalau udah urusan ranjang .....#ahsudahlah >„„„<
    Jae belum percaya sepenuhnya dengan Yun eoh, Yun harus berusaha lebih keras lagi agar Jae percaya.

    Boo Yunnie ~ Aww~

    ReplyDelete
  5. Akhirnya mereka nikah juga...
    Tapi tetep ya di malam pertama sempet2nya ribut dulu..

    ReplyDelete