Terdorong perasaan peduli atas apa yang dilihatnya, Sungmin membungkuk. "Kyunnie, Jaejoong belum akan meninggal dunia, bukan?"
"Tidak, tidak,
pasti tidak," sahut Kyuhyun, meyakinkan Sungmin dan mengeluselus
rambutnya. "Ia mungkin hanya letih saja."
"Aku berharap
begitu. Aku tidak ingin ada yang meninggal lagi sampai aku meninggal. Terutama
kyunnie," kata Sungmin sambil mendekap Kyuhyun erat-erat. "Jangan
meninggalkan aku."
Kyuhyun balas mendekap
erat Sungmin. Ia merasakan napas istrinya yang lembut menyentuh kulitnya dan
tahu Sungmin tertidur. Ditutupinya tubuh wanita itu dengan selimut lalu
dipeluknya sekali lagi. Tetapi Kyuhyun tidak bisa tidur. Pikirannya menerawang
di kegelapan kamar, dahinya berkerut. Ia juga mengkhawatirkan Jaejoong. Apalagi
mengingat apa yang baru saja disampaikan Sungmin padanya, perasaannya jadi
makin khawatir.
.
♥
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
♥
.
Festival musim gugur ternyata diberkati cuaca
cerah. Acara pembukaan dilakukan di pagi hari yang ceria. Jaejoong memutuskan
memakai setelan jas barunya. Udara akan agak dingin.
Setelah. mengetuk pintu kamar Jaejoong perlahan,
Boa masuk membawa baki. "Aku tidak suka mengganggumu. Kau harus tidur
lebih banyak. Tetapi aku tahu kau pasti jengkel padaku bila membiarkan kau
tidur terus."
"Terima kasih, Boa." Di atas baki itu
terhidang seteko teh, minuman yang dipilih Jaejoong belakangan ini ketimbang
kopi, segelas jus jeruk, dan dua potong kue muffin. "Aku tidak tidur.
Hanya berbaring, bermalas-malasan."
"Itu pun baik untuk tubuh sesekali.
Terutama hari ini, yang akan banyak menguras tenagamu. Mau kupijat? Atau
kusiapkan air mandi?"
"Aku sudah menyiapkan pakaian," kata Jaejoong,
sambil duduk di kursi di samping meja tempat Boa meletakkan baki. Jaejoong
menuangkan teh ke cangkir. "Barangkali enak juga mandi pakai air panas.
Udara di luar dingin."
Boa ke kamar mandi, sambil terus mengoceh soal
acara yang akan dilangsungkan akhir pekan ini. Jaejoong hampir tak
mendengarkannya ketika menyeruput teh. "Airnya sudah siap. Kenapa kau
tidak memakan muffinnya?"
"Aku tidak lapar." Setiap kali
membayangkan berdiri di hadapan orang banyak untuk menerima penghargaan itu, Jaejoong
langsung mulas. Andai ia melahap makanan dalam keadaan begitu, akan sangat
berbahaya.
Boa mengamati Jaejoong yang bangkit dari duduk
dan berjalan ke lemari untuk mengambil jubah mandi berbahan handuk. Di balik
gaun tidurnya, Boa melihat berat badan Jaejoong banyak berkurang. Tubuhnya yang
dulu ramping kini hanya tinggal tulang dibalut kulit, menurut Boa. "Apakah
ia akan hadir?" Boa membungkuk, merapikan seprai tempat tidur Jaejoong.
"Nugu?" Boa memandang Jaejoong dengan
sorot mata yang membuat Jaejoong merasa malu, membuatnya menunduk dan menjawab,
"Ah, entahlah." Jaejoong masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya,
menutup pembicaraan yang menyinggung soal Yunho.
Sejam kemudian, saat Jaejoong menuruni tangga, Kyuhyun
bersiul. Sungmin bertepuk tangan.
Wajah Boa memancarkan ekspresi prihatin
bercampur bangga.
"Wow, luar biasa!" puji Kyuhyun.
Jaejoong tertawa dan ketiga orang yang
memerhatikannya memandangnya dengan penuh kagum sambil berseru-seru. Jaejoong
jarang sekali tertawa belakangan ini. "Bagaimana kelihatannya?"
"Nomu Yeppota, Jae," puji Sungmin
bersemangat. "Oh, kau sangat cantik."
"Ia terlalu kurus," komentar Boa
sambil menarik bagian bahu gaun Jaejoong.
"Kurasa, kalau mereka ingin membicarakan
aku, mereka pasti akan melakukannya. aku akan membuat diriku jadi bahan
pembicaraan. Di samping itu, aku mewakili warga kota terpilih kota ini. Aku
harus mengenakan pakaian yang pantas."
Jaejoong memakai setelan warna krem yang terbuat
dari wol. Blusnya abu-abu muda. Rambutnya dihias dengan jepitan yang warnanya
hampir sama dengan setelan jasnya. Rambutnya disisir agak jatuh di dahi. Riasan
wajahnya sederhana, untuk menyamarkan lingkaran hitam di bawah mata. Anting-anting
mutiara menempel di telinganya. Stokingnya kuning gading muda. Ia mengenakan
sepatu berhak rendah dari bahan suede warna kekuningan dan sarung tangan dengan
warna senada.
"Kalian juga kelihatan keren," puji Jaejoong
ketika memerhatikan mereka dengan bangga. Sungmin memakai gaun warna biru muda,
terkesan molek seperti boneka. Kyuhyun memakai jas yang dikenakannya waktu
pernikahan, dengan dasi kupu-kupu yang biasa dikenakan pada acara resmi. Boa
juga mengenakan gaun cantik.
"Mobil sudah menunggu," kata Kyuhyun,
sambil menjulurkan tangan hendak menggandeng Sungmin. "kekasihku Minnie, Jae."
Kyuhyun berbalik dan Jaejoong menggandeng tangan Kyuhyun yang satu lagi. "Boa,
ayo," ajak Kyuhyun, dan mereka pun pergi meninggalkan Jung Mansion.
Auditorium penuh sesak. Tak pernah gedung itu
sepadat hari ini, bahkan saat latihan football sekalipun.
Jaejoong duduk di podium, diapit anggota-anggota
keluarganya dan Boa, yang dipaksanya menemaninya walaupun tidak disukai para
pejabat.
Untuk menenangkan perasaan gugup, Jaejoong
mengamati bendera Korea di sudut panggung. Jaejoong merasa mual.
Sekilas ia melempar pandang ke arah penonton.
Yang dilihatnya hanyalah lautan wajah yang memandangnya penuh rasa ingin tahu. Jaejoong
mengalihkan pandangan ke tangannya yang berada di pangkuannya, ia melihat
telapak tangannya mengilap karena keringat. Jika memakai sarung tangan,
tangannya akan kepanasan meskipun udara saat ini dingin. Ia berusaha menekan
rasa mual yang sudah sampai di tenggorokannya. Ia menyesal tadi mengikat pita
di lehernya terlalu ketat.
Perutnya berbunyi. Mengapa tadi ia tidak makan
kue muffin dulu? Andai tadi ia memakannya, mungkin ia sudah memuntahkannya
sekarang. Tetapi sekalipun tidak, ia merasa ingin muntah. Ia akan mempermalukan
dirinya sendiri di hadapan seluruh penonton.
Mengapa panas sekali udara di sini? Kulitnya
terasa lengket. Ia melihat sekelilingnya. Tak ada yang kelihatan resah. Kyuhyun
dan Sungmin berbisik-bisik. Boa bertemu teman gerejanya dan asyik mengobrol.
Walikota, melanggar aturan dilarang merokok di dalam gedung, mengisap cerutu
sambil berbicara dengan suara keras pada hakim wilayah. Bau asap cerutunya
membuat perut Jaejoong makin seperti teraduk-aduk.
Waktu pandangannya tertuju pada Walikota, pria
itu meminta maaf pada si hakim karena harus ke belakang panggung. "Well,
kita bisa mulai sekarang. Aku sudah khawatir kau tidak bisa datang, Nak.
Bagaimana kabarmu, Yunho?"
Jaejoong menelan ludah. Ia. bernapas dengan
mulut, berusaha menekan rasa mual. Sekujur tubuhnya sesaat terasa dingin,
sesaat kemudian panas. Telinganya serasa terbakar.
Ia mendengar Yunho menyapa orang-orang di
sekeliling Jaejoong. Dengan ekor matanya, Jaejoong melihat Boa menghampiri Yunho
dengan tergesa-gesa. Yunho menghentikan ocehan Boa dengan mendaratkan ciuman di
pipinya. Boa tampak terkesima, wajahnya merah padam bak gadis remaja, kemudian
ia memeluk Yunho. Sungmin melompat dari kursi dan berlari menghampiri Yunho. Kyuhyun
pun berdiri lalu kedua laki-laki itu berjabat tangan.
Kemudian ia melihat pria yang mengenakan celana
cokelat itu melangkah ke arahnya. Ia berdiri tepat di hadapannya. Jaejoong
dapat merasakan gelombang panas dan energi yang terpancar keluar dari tubuh Yunho.
Karena seluruh mata penduduk kota tertuju ke arah mereka, Jaejoong hanya
tersenyum kecil dan mengangkat kepala sedikit ketika memandang Yunho. "Anyong,
Yun."
Yunho menatapnya dan tampak hanya sesaat
berhasil menyembunyikan perasaan terkejutnya. Ia melihat lingkaran hitam di
mata Jaejoong. Pipinya tirus. Mukanya pucat. Jaejoong kelihatan seperti orang
yang tak pernah tidur dan makan.
Tetapi ia kelihatan tetap cantik.
Yunho harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk
meredam perasaan ingin mendekap Jaejoong erat. Dua bulan terakhir ini ia sangat
tersiksa. Bisa dibilang menit-menit yang dilaluinya penuh kepedihan, karena ia
tidak bisa mengerjakan apa-apa, kecuali memikirkan Jaejoong, merindukannya.
Persetan dengan temperamennya. Persetan dengan
keangkuhannya. Yunho marah gara-gara dua pemabuk di tempat minum bicara
sembarangan. Ia memuntahkan frustrasinya pada Jaejoong. Kali ini Jaejoong
membalas tindakannya. Sikap itu mengejutkan Yunho dan membuatnya makin marah.
Terutama karena apa yang dikatakan Jaejoong benar-benar tepat mengenai sasaran.
Siwon tidak dapat disalahkan lagi. Ia sendiri yang menciptakan penderitan ini
bagi dirinya, bagi Jaejoong. Ia pergi tanpa pamit. Pria dewasa macam apa yang
berperilaku demikian?
Pria yang tengah jatuh cinta?
Ah, memang orang yang tengah jatuh cinta bisa
kejam dan gila. Cinta bisa membuat seseorang bertingkah seperti orang tolol.
Bahkan sekalipun menyadari perilakunya seperti orang bodoh tidak akan mampu
mengendalikan dirinya untuk tidak bersikap seperti orang tolol. Cinta membuat
seseorang mampu berjabat tangan dengan sikap dingin yang mengejutkan dan
berkata hambar, "Anyong, Jae. Kau tampak cantik sekali," padahal yang
ingin dilakukan Yunho adalah merangkul wanita itu, meminta maaf, menuntutnya
sebagai miliknya, dan tidak ingin siapa pun ada di antara mereka.
Yunho duduk di sebelah Jaejoong. Ujung celananya
menyentuh kaki Jaejoong, dengan hati-hati Jaejoong menggeser kakinya. Yunho
melihat Jaejoong dengan sadar menarik ujung roknya ketika duduk kaku di
panggung. Oh, Tuhan, perempuan ini begitu memesona. Ia masih kelihatan seperti
gadis remaja yang dikenalnya di hutan, gadis kecil putri keluarga Kim, yang
berjuang mati-matian untuk mendapat pengakuan status. Yunho merasa sesak karena
memendam cintanya pada Jaejoong. Ingin ia berteriak pada wanita itu,
"Mengapa kau pedulikan pendapat orang-orang tentang dirimu? Statusmu jauh
di atas orang-orang itu."
Yang mengejutkannya kemudian adalah kenyataan
bahwa dirinya tidak berbeda dengan Jaejoong. Kerinduannya pada Jaejoong jauh
lebih besar ketimbang memikirkan masa depannya. Namun saat ini ia harus
menerima kenyataan ia harus jauh dari Jaejoong demi menjaga reputasinya di mata
orang banyak. Jaejoong pernah menjadi istri ayahnya. Apakah orang-orang itu
menganggap itu pernikahan yang normal? Ia lebih tahu daripada mereka. Bahkan
kalaupun tidak....
Yunho menoleh ke arah Jaejoong seketika, membuat
Jaejoong terkejut karena ia pun tengah menatapnya. Mereka bertemu pandang.
Diamatinya setiap bagian wajah Jaejoong.
Direkamnya setiap detail yang ada. Di matanya, Jaejoong masih secantik saat pertama
kali ia mengenalnya. Bahkan kini seribu kali lebih mencintainya dibandingkan
musim panas dua belas tahun yang lalu.
Dan Yunho yakin, dengan cintanya yang buta,
kalaupun ia tidak tahu bagaimana situasi pernikahan Jaejoong dengan ayahnya, ia
tetap mendambakannya. Ia mencintai Jaejoong lebih daripada siapa pun, lebih
daripada opini masyarakat yang menganggap cintanya tidak masuk akal, lebih
daripada keinginannya menantang ayahnya, lebih daripada apa pun, ia sangat
mencintai Kim Jaejoong.
"Maka kini kami mohon Nyonya Jung Jaejoong,
janda tuan Siwon, untuk naik ke podium."
Mata Yunho tertuju ke mikrofon yang ditinggalkan
Walikota, yang memanggil Jaejoong. Ia tidak mendengarkan pidatonya yang berbunga-bunga.
Jelas Jaejoong pun tidak mendengarkannya. Ketika para hadirin bertepuk tangan
meriah, Jaejoong kelihatan terkejut.
Yunho melihat Jaejoong berusaha menenangkan hati
dan bangkit dari duduk dengan anggun. Ia meletakkan tas dan sarung tangannya di
kursi, kemudian berjalan ke podium dengan gaya seorang ratu. Senyum yang
diberikannya kepada Walikota sangat manis dan para hadirin tampak menyukainya. Yunho
mengamati wajah setiap orang. Kau tak perlu cemas. Mereka menerima dirimu.
Jaejoong menerima penghargaan dengan tangan yang
satu dan tangan yang lain menjabat tangan Walikota. Pria itu bergeser,
menyerahkan mikrofon pada Jaejoong. "Andai masih hidup, Siwon pasti akan
sangat bangga menerima penghargaan Anda sekalian ini. Saya dan seluruh keluarga
menerimanya atas namanya dan mengucapkan terima kasih."
Tak ada basa-basi dalam pidato Jaejoong yang
singkat. Apa yang dikatakan Jaejoong adalah yang sebenarnya. Ia tidak mengulang
pujian yang tadi diucapkan Walikota tentang Siwon. Ia hanya menerima
penghargaan itu mewakili Siwon. Ia memberi orang-orang ini apa yang mereka inginkan,
pahlawan yang mereka tunjuk hari ini. Menurut Yunho, semua itu baik.
Kemudian mata Yunho beralih kepada Jaejoong.
Mukanya pucat seputih benda antik yang disimpan dalam lemari pajangan di Jung
Mansion. Jaejoong berhenti sejenak dan memejamkan mata, seperti berjuang keras
untuk bernapas dan menjaga keseimbangan tubuh. Ia maju selangkah lagi dan
terjerembap. Walikota berhasil menyambar sikunya dan memanggil-manggil namanya.
Yunho melompat dari kursi. Jaejoong melihat ke
arahnya, mengerjap-ngerjapkan mata seperti hendak memfokuskan pandangan pada Yunho.
Kemudian perlahan matanya terpejam, lututnya menekuk lemas, dan ia pingsan di
lantai.
Riuh rendah suara orang-orang terkejut melihat
hal itu dan bangkit dari duduk. Sungmin menjerit dan mencengkeram lengan Kyuhyun.
Boa berteriak, "Oh, Tuhan!" sambil meletakkan tangan di dadanya yang
lebar. Mereka yang dekat dengan Jaejoong berlari menghampirinya, mengangkatnya
dari panggung.
Yunho, dipenuhi perasaan cemas yang amat sangat,
menyeruak di antara orang-orang yang berkerumun, meminta mereka menjauh.
"Tolong, minggir, minggir. Cepat, minggir! Persetan, minggir brengsek!"
Akhirnya Yunho berhasil berada di dekat Jaejoong.
Ia berlutut dan memegangi tangan Jaejoong. Tangan itu terkulai dalam
genggamannya. "Jae, Jaejoong. Ya ampun, tolong panggilkan dokter. Jaejoong,
boo. Oh Tuhan, Jae, bicaralah padaku!"
Yunho meloloskan ikatan pita blus Jaejoong, dan
membuka beberapa kancingnya. Dilepaskannya jas Jaejoong, yang menyebabkan
masalah. Dilepasnya topi di kepala wanita itu, lalu dilemparkannya. Rambutnya
yang hitam digerai. Dengan gerak tangan terlatih, sigap, lagi cekatan, Yunho
memukul-mukul pipi Jaejoong. Kelopak mata wanita itu bergerak-gerak. Yunho
mendesah lega. "Istirahatlah, boo, Ada apa? Kenapa? Tidak, tak usah bicara.
Dokter sudah dipanggil."
"Yun," bisik Jaejoong sambil
tersenyum. "bear."
"Kau pingsan, boo." Dengan lemah Jaejoong
mengangkat tangan dan mengelus pipi Yunho, membelai rambutnya.
Seperti dikomando, orang-orang yang berkerumun
di sekeliling mereka serentak menaikkan alis. Terdengar seseorang bergumam,
"Wah, bukan main."
"Kau akan segera sembuh. Pasti. Aku
yakin." Yunho mengangkat tangan Jaejoong dan meletakkannya di bibir, lalu
menekan telapak tangannya. Diangkatnya tubuh Jaejoong ke pangkuannya, hingga Jaejoong
tidak terbaring di lantai lagi. "Dokter akan segera kemari."
"Aku tak perlu dokter."
"Tak usah banyak bicara. Kau baru saja
pingsan. Karena terlalu gembira, makanya kau pingsan. Kau akan...."
"Aku hamil, bear."
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

Uwaa hamil....tuuh kan, aq udh firasat hbs baca chap sebelumnya
ReplyDeleteTernyata yang di blog udah sampe jauhhhhh...Aku memang g baca semua partnya tapi ini bagus..
ReplyDeleteJae hamilll. N mereka msh d tmpat umum ?? Ommo
ReplyDelete