Wednesday, February 26

[Remake] Bittersweet Rain Chapter 29


Terdorong perasaan peduli atas apa yang dilihatnya, Sungmin membungkuk. "Kyunnie, Jaejoong belum akan meninggal dunia, bukan?"
"Tidak, tidak, pasti tidak," sahut Kyuhyun, meyakinkan Sungmin dan mengeluselus rambutnya. "Ia mungkin hanya letih saja."
"Aku berharap begitu. Aku tidak ingin ada yang meninggal lagi sampai aku meninggal. Terutama kyunnie," kata Sungmin sambil mendekap Kyuhyun erat-erat. "Jangan meninggalkan aku."
Kyuhyun balas mendekap erat Sungmin. Ia merasakan napas istrinya yang lembut menyentuh kulitnya dan tahu Sungmin tertidur. Ditutupinya tubuh wanita itu dengan selimut lalu dipeluknya sekali lagi. Tetapi Kyuhyun tidak bisa tidur. Pikirannya menerawang di kegelapan kamar, dahinya berkerut. Ia juga mengkhawatirkan Jaejoong. Apalagi mengingat apa yang baru saja disampaikan Sungmin padanya, perasaannya jadi makin khawatir.
.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
.
Festival musim gugur ternyata diberkati cuaca cerah. Acara pembukaan dilakukan di pagi hari yang ceria. Jaejoong memutuskan memakai setelan jas barunya. Udara akan agak dingin.
Setelah. mengetuk pintu kamar Jaejoong perlahan, Boa masuk membawa baki. "Aku tidak suka mengganggumu. Kau harus tidur lebih banyak. Tetapi aku tahu kau pasti jengkel padaku bila membiarkan kau tidur terus."
"Terima kasih, Boa." Di atas baki itu terhidang seteko teh, minuman yang dipilih Jaejoong belakangan ini ketimbang kopi, segelas jus jeruk, dan dua potong kue muffin. "Aku tidak tidur. Hanya berbaring, bermalas-malasan."
"Itu pun baik untuk tubuh sesekali. Terutama hari ini, yang akan banyak menguras tenagamu. Mau kupijat? Atau kusiapkan air mandi?"
"Aku sudah menyiapkan pakaian," kata Jaejoong, sambil duduk di kursi di samping meja tempat Boa meletakkan baki. Jaejoong menuangkan teh ke cangkir. "Barangkali enak juga mandi pakai air panas. Udara di luar dingin."
Boa ke kamar mandi, sambil terus mengoceh soal acara yang akan dilangsungkan akhir pekan ini. Jaejoong hampir tak mendengarkannya ketika menyeruput teh. "Airnya sudah siap. Kenapa kau tidak memakan muffinnya?"
"Aku tidak lapar." Setiap kali membayangkan berdiri di hadapan orang banyak untuk menerima penghargaan itu, Jaejoong langsung mulas. Andai ia melahap makanan dalam keadaan begitu, akan sangat berbahaya.
Boa mengamati Jaejoong yang bangkit dari duduk dan berjalan ke lemari untuk mengambil jubah mandi berbahan handuk. Di balik gaun tidurnya, Boa melihat berat badan Jaejoong banyak berkurang. Tubuhnya yang dulu ramping kini hanya tinggal tulang dibalut kulit, menurut Boa. "Apakah ia akan hadir?" Boa membungkuk, merapikan seprai tempat tidur Jaejoong.
"Nugu?" Boa memandang Jaejoong dengan sorot mata yang membuat Jaejoong merasa malu, membuatnya menunduk dan menjawab, "Ah, entahlah." Jaejoong masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya, menutup pembicaraan yang menyinggung soal Yunho.
Sejam kemudian, saat Jaejoong menuruni tangga, Kyuhyun bersiul. Sungmin bertepuk tangan.
Wajah Boa memancarkan ekspresi prihatin bercampur bangga.
"Wow, luar biasa!" puji Kyuhyun.
Jaejoong tertawa dan ketiga orang yang memerhatikannya memandangnya dengan penuh kagum sambil berseru-seru. Jaejoong jarang sekali tertawa belakangan ini. "Bagaimana kelihatannya?"
"Nomu Yeppota, Jae," puji Sungmin bersemangat. "Oh, kau sangat cantik."
"Ia terlalu kurus," komentar Boa sambil menarik bagian bahu gaun Jaejoong.
"Kurasa, kalau mereka ingin membicarakan aku, mereka pasti akan melakukannya. aku akan membuat diriku jadi bahan pembicaraan. Di samping itu, aku mewakili warga kota terpilih kota ini. Aku harus mengenakan pakaian yang pantas."
Jaejoong memakai setelan warna krem yang terbuat dari wol. Blusnya abu-abu muda. Rambutnya dihias dengan jepitan yang warnanya hampir sama dengan setelan jasnya. Rambutnya disisir agak jatuh di dahi. Riasan wajahnya sederhana, untuk menyamarkan lingkaran hitam di bawah mata. Anting-anting mutiara menempel di telinganya. Stokingnya kuning gading muda. Ia mengenakan sepatu berhak rendah dari bahan suede warna kekuningan dan sarung tangan dengan warna senada.
"Kalian juga kelihatan keren," puji Jaejoong ketika memerhatikan mereka dengan bangga. Sungmin memakai gaun warna biru muda, terkesan molek seperti boneka. Kyuhyun memakai jas yang dikenakannya waktu pernikahan, dengan dasi kupu-kupu yang biasa dikenakan pada acara resmi. Boa juga mengenakan gaun cantik.
"Mobil sudah menunggu," kata Kyuhyun, sambil menjulurkan tangan hendak menggandeng Sungmin. "kekasihku Minnie, Jae." Kyuhyun berbalik dan Jaejoong menggandeng tangan Kyuhyun yang satu lagi. "Boa, ayo," ajak Kyuhyun, dan mereka pun pergi meninggalkan Jung Mansion.
Auditorium penuh sesak. Tak pernah gedung itu sepadat hari ini, bahkan saat latihan football sekalipun.
Jaejoong duduk di podium, diapit anggota-anggota keluarganya dan Boa, yang dipaksanya menemaninya walaupun tidak disukai para pejabat.
Untuk menenangkan perasaan gugup, Jaejoong mengamati bendera Korea di sudut panggung. Jaejoong merasa mual.
Sekilas ia melempar pandang ke arah penonton. Yang dilihatnya hanyalah lautan wajah yang memandangnya penuh rasa ingin tahu. Jaejoong mengalihkan pandangan ke tangannya yang berada di pangkuannya, ia melihat telapak tangannya mengilap karena keringat. Jika memakai sarung tangan, tangannya akan kepanasan meskipun udara saat ini dingin. Ia berusaha menekan rasa mual yang sudah sampai di tenggorokannya. Ia menyesal tadi mengikat pita di lehernya terlalu ketat.
Perutnya berbunyi. Mengapa tadi ia tidak makan kue muffin dulu? Andai tadi ia memakannya, mungkin ia sudah memuntahkannya sekarang. Tetapi sekalipun tidak, ia merasa ingin muntah. Ia akan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan seluruh penonton.
Mengapa panas sekali udara di sini? Kulitnya terasa lengket. Ia melihat sekelilingnya. Tak ada yang kelihatan resah. Kyuhyun dan Sungmin berbisik-bisik. Boa bertemu teman gerejanya dan asyik mengobrol. Walikota, melanggar aturan dilarang merokok di dalam gedung, mengisap cerutu sambil berbicara dengan suara keras pada hakim wilayah. Bau asap cerutunya membuat perut Jaejoong makin seperti teraduk-aduk.
Waktu pandangannya tertuju pada Walikota, pria itu meminta maaf pada si hakim karena harus ke belakang panggung. "Well, kita bisa mulai sekarang. Aku sudah khawatir kau tidak bisa datang, Nak. Bagaimana kabarmu, Yunho?"
Jaejoong menelan ludah. Ia. bernapas dengan mulut, berusaha menekan rasa mual. Sekujur tubuhnya sesaat terasa dingin, sesaat kemudian panas. Telinganya serasa terbakar.
Ia mendengar Yunho menyapa orang-orang di sekeliling Jaejoong. Dengan ekor matanya, Jaejoong melihat Boa menghampiri Yunho dengan tergesa-gesa. Yunho menghentikan ocehan Boa dengan mendaratkan ciuman di pipinya. Boa tampak terkesima, wajahnya merah padam bak gadis remaja, kemudian ia memeluk Yunho. Sungmin melompat dari kursi dan berlari menghampiri Yunho. Kyuhyun pun berdiri lalu kedua laki-laki itu berjabat tangan.
Kemudian ia melihat pria yang mengenakan celana cokelat itu melangkah ke arahnya. Ia berdiri tepat di hadapannya. Jaejoong dapat merasakan gelombang panas dan energi yang terpancar keluar dari tubuh Yunho. Karena seluruh mata penduduk kota tertuju ke arah mereka, Jaejoong hanya tersenyum kecil dan mengangkat kepala sedikit ketika memandang Yunho. "Anyong, Yun."
Yunho menatapnya dan tampak hanya sesaat berhasil menyembunyikan perasaan terkejutnya. Ia melihat lingkaran hitam di mata Jaejoong. Pipinya tirus. Mukanya pucat. Jaejoong kelihatan seperti orang yang tak pernah tidur dan makan.
Tetapi ia kelihatan tetap cantik.
Yunho harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk meredam perasaan ingin mendekap Jaejoong erat. Dua bulan terakhir ini ia sangat tersiksa. Bisa dibilang menit-menit yang dilaluinya penuh kepedihan, karena ia tidak bisa mengerjakan apa-apa, kecuali memikirkan Jaejoong, merindukannya.
Persetan dengan temperamennya. Persetan dengan keangkuhannya. Yunho marah gara-gara dua pemabuk di tempat minum bicara sembarangan. Ia memuntahkan frustrasinya pada Jaejoong. Kali ini Jaejoong membalas tindakannya. Sikap itu mengejutkan Yunho dan membuatnya makin marah. Terutama karena apa yang dikatakan Jaejoong benar-benar tepat mengenai sasaran. Siwon tidak dapat disalahkan lagi. Ia sendiri yang menciptakan penderitan ini bagi dirinya, bagi Jaejoong. Ia pergi tanpa pamit. Pria dewasa macam apa yang berperilaku demikian?
Pria yang tengah jatuh cinta?
Ah, memang orang yang tengah jatuh cinta bisa kejam dan gila. Cinta bisa membuat seseorang bertingkah seperti orang tolol. Bahkan sekalipun menyadari perilakunya seperti orang bodoh tidak akan mampu mengendalikan dirinya untuk tidak bersikap seperti orang tolol. Cinta membuat seseorang mampu berjabat tangan dengan sikap dingin yang mengejutkan dan berkata hambar, "Anyong, Jae. Kau tampak cantik sekali," padahal yang ingin dilakukan Yunho adalah merangkul wanita itu, meminta maaf, menuntutnya sebagai miliknya, dan tidak ingin siapa pun ada di antara mereka.
Yunho duduk di sebelah Jaejoong. Ujung celananya menyentuh kaki Jaejoong, dengan hati-hati Jaejoong menggeser kakinya. Yunho melihat Jaejoong dengan sadar menarik ujung roknya ketika duduk kaku di panggung. Oh, Tuhan, perempuan ini begitu memesona. Ia masih kelihatan seperti gadis remaja yang dikenalnya di hutan, gadis kecil putri keluarga Kim, yang berjuang mati-matian untuk mendapat pengakuan status. Yunho merasa sesak karena memendam cintanya pada Jaejoong. Ingin ia berteriak pada wanita itu, "Mengapa kau pedulikan pendapat orang-orang tentang dirimu? Statusmu jauh di atas orang-orang itu."
Yang mengejutkannya kemudian adalah kenyataan bahwa dirinya tidak berbeda dengan Jaejoong. Kerinduannya pada Jaejoong jauh lebih besar ketimbang memikirkan masa depannya. Namun saat ini ia harus menerima kenyataan ia harus jauh dari Jaejoong demi menjaga reputasinya di mata orang banyak. Jaejoong pernah menjadi istri ayahnya. Apakah orang-orang itu menganggap itu pernikahan yang normal? Ia lebih tahu daripada mereka. Bahkan kalaupun tidak....
Yunho menoleh ke arah Jaejoong seketika, membuat Jaejoong terkejut karena ia pun tengah menatapnya. Mereka bertemu pandang.
Diamatinya setiap bagian wajah Jaejoong. Direkamnya setiap detail yang ada. Di matanya, Jaejoong masih secantik saat pertama kali ia mengenalnya. Bahkan kini seribu kali lebih mencintainya dibandingkan musim panas dua belas tahun yang lalu.
Dan Yunho yakin, dengan cintanya yang buta, kalaupun ia tidak tahu bagaimana situasi pernikahan Jaejoong dengan ayahnya, ia tetap mendambakannya. Ia mencintai Jaejoong lebih daripada siapa pun, lebih daripada opini masyarakat yang menganggap cintanya tidak masuk akal, lebih daripada keinginannya menantang ayahnya, lebih daripada apa pun, ia sangat mencintai Kim Jaejoong.
"Maka kini kami mohon Nyonya Jung Jaejoong, janda tuan Siwon, untuk naik ke podium."
Mata Yunho tertuju ke mikrofon yang ditinggalkan Walikota, yang memanggil Jaejoong. Ia tidak mendengarkan pidatonya yang berbunga-bunga. Jelas Jaejoong pun tidak mendengarkannya. Ketika para hadirin bertepuk tangan meriah, Jaejoong kelihatan terkejut.
Yunho melihat Jaejoong berusaha menenangkan hati dan bangkit dari duduk dengan anggun. Ia meletakkan tas dan sarung tangannya di kursi, kemudian berjalan ke podium dengan gaya seorang ratu. Senyum yang diberikannya kepada Walikota sangat manis dan para hadirin tampak menyukainya. Yunho mengamati wajah setiap orang. Kau tak perlu cemas. Mereka menerima dirimu.
Jaejoong menerima penghargaan dengan tangan yang satu dan tangan yang lain menjabat tangan Walikota. Pria itu bergeser, menyerahkan mikrofon pada Jaejoong. "Andai masih hidup, Siwon pasti akan sangat bangga menerima penghargaan Anda sekalian ini. Saya dan seluruh keluarga menerimanya atas namanya dan mengucapkan terima kasih."
Tak ada basa-basi dalam pidato Jaejoong yang singkat. Apa yang dikatakan Jaejoong adalah yang sebenarnya. Ia tidak mengulang pujian yang tadi diucapkan Walikota tentang Siwon. Ia hanya menerima penghargaan itu mewakili Siwon. Ia memberi orang-orang ini apa yang mereka inginkan, pahlawan yang mereka tunjuk hari ini. Menurut Yunho, semua itu baik.
Kemudian mata Yunho beralih kepada Jaejoong. Mukanya pucat seputih benda antik yang disimpan dalam lemari pajangan di Jung Mansion. Jaejoong berhenti sejenak dan memejamkan mata, seperti berjuang keras untuk bernapas dan menjaga keseimbangan tubuh. Ia maju selangkah lagi dan terjerembap. Walikota berhasil menyambar sikunya dan memanggil-manggil namanya.
Yunho melompat dari kursi. Jaejoong melihat ke arahnya, mengerjap-ngerjapkan mata seperti hendak memfokuskan pandangan pada Yunho. Kemudian perlahan matanya terpejam, lututnya menekuk lemas, dan ia pingsan di lantai.
Riuh rendah suara orang-orang terkejut melihat hal itu dan bangkit dari duduk. Sungmin menjerit dan mencengkeram lengan Kyuhyun. Boa berteriak, "Oh, Tuhan!" sambil meletakkan tangan di dadanya yang lebar. Mereka yang dekat dengan Jaejoong berlari menghampirinya, mengangkatnya dari panggung.
Yunho, dipenuhi perasaan cemas yang amat sangat, menyeruak di antara orang-orang yang berkerumun, meminta mereka menjauh. "Tolong, minggir, minggir. Cepat, minggir! Persetan, minggir brengsek!"
Akhirnya Yunho berhasil berada di dekat Jaejoong. Ia berlutut dan memegangi tangan Jaejoong. Tangan itu terkulai dalam genggamannya. "Jae, Jaejoong. Ya ampun, tolong panggilkan dokter. Jaejoong, boo. Oh Tuhan, Jae, bicaralah padaku!"
Yunho meloloskan ikatan pita blus Jaejoong, dan membuka beberapa kancingnya. Dilepaskannya jas Jaejoong, yang menyebabkan masalah. Dilepasnya topi di kepala wanita itu, lalu dilemparkannya. Rambutnya yang hitam digerai. Dengan gerak tangan terlatih, sigap, lagi cekatan, Yunho memukul-mukul pipi Jaejoong. Kelopak mata wanita itu bergerak-gerak. Yunho mendesah lega. "Istirahatlah, boo, Ada apa? Kenapa? Tidak, tak usah bicara. Dokter sudah dipanggil."
"Yun," bisik Jaejoong sambil tersenyum. "bear."
"Kau pingsan, boo." Dengan lemah Jaejoong mengangkat tangan dan mengelus pipi Yunho, membelai rambutnya.
Seperti dikomando, orang-orang yang berkerumun di sekeliling mereka serentak menaikkan alis. Terdengar seseorang bergumam, "Wah, bukan main."
"Kau akan segera sembuh. Pasti. Aku yakin." Yunho mengangkat tangan Jaejoong dan meletakkannya di bibir, lalu menekan telapak tangannya. Diangkatnya tubuh Jaejoong ke pangkuannya, hingga Jaejoong tidak terbaring di lantai lagi. "Dokter akan segera kemari."
"Aku tak perlu dokter."
"Tak usah banyak bicara. Kau baru saja pingsan. Karena terlalu gembira, makanya kau pingsan. Kau akan...."
"Aku hamil, bear."
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

3 comments:

  1. Uwaa hamil....tuuh kan, aq udh firasat hbs baca chap sebelumnya

    ReplyDelete
  2. Ternyata yang di blog udah sampe jauhhhhh...Aku memang g baca semua partnya tapi ini bagus..

    ReplyDelete
  3. Anonymous2:14 PM

    Jae hamilll. N mereka msh d tmpat umum ?? Ommo

    ReplyDelete