Tuesday, February 25

[Remake] Sacrificied De Amor episode I



Jaejoong menarik napas panjang sebelum membuka pintu itu, pintu besar kokoh yang terlihat begitu mewah dan berkuasa yang seakan mencerminkan apa yang menunggu dibaliknya. Sambil menenangkan debaran jantungnya dibukanya pintu itu, dan ketika menyadari tangannya berkeringat, Jaejoong tersenyum kecut,
“Seperti akan menghadapi hukuman mati saja”,  desisnya dalam hati.
Ketika masuk Jaejoong menyadari ruangan itu sangat luas. Suasana didalam ruangan itu sungguh elegan, dengan penataan ruang dari desainer terkenal dan perabotan kelas tinggi yang khusus dipesan untuk ruangan ini. Temperaturnya diatur senyaman mungkin dan samar-samar tercium aroma cendana yang menenangkan. Semua yang ada diruangan ini sungguh menyenangkan, ups!!,.. salah, semua menyenangkan kecuali satu hal, dan satu hal itu adalah sosok dingin yang duduk tegak dibalik meja dengan keangkuhan yang mencerminkan seolah-olah dirinyalah pusat dunia,
Lalu tatapannya itu, tatapannya itu!!  Sangat mengerikan. Mata musang itu menatapnya dengan kadar kebencian yang begitu kental.

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Serena
©Santhy Agatha
Jaejoong membasahi bibirnya dengan gugup, dan menunggu,  dan terus menunggu. Tetapi namja itu hanya diam menatapnya, mempertahankan keheningan di antara mereka. Jaejoong mengangkat dagunya dan melemparkan tatapan ‘well aku sudah disini, sekarang apalagi?’ kepada namja itu.
Si mata musang mengerutkan alis gusar melihat tingkah berani jaejoong, mulutnya menipis,
"Kudengar kau menyebabkan kekacauan di proyek  kali ini",
“Akhirnya!!” Jaejoong menghembuskan napas setengah lega setengah panik mendengar kalimat pembuka namja itu.
"Saya hanya mencoba menyelamatkan keadaan", sebenarnya Jaejoong tidak mau kedengaran begitu kurang ajar, tapi tatapan meremehkan namja itu mau tak mau memunculkan sisi defensif dari dirinya.
"Menyelamatkan keadaan kau bilang?" , Namja itu tampak begitu murka mendengar jawaban Jaejoong,"Kau mengusir klien terpenting perusahaan ini, dan mempermalukannya di depan umum, dan kau anggap itu menyelamatkan keadaan !!"
Jaejoong membalas tatapan garang namja itu dengan tak kalah garang, "Orang yang anda bilang klien terpenting itu, merayu dan meraba salah satu pegawai anda di tengah-tengah pameran, apakah menurut anda, saya, sebagai pengawas yang bertugas dilapangan hanya boleh diam saja dan tidak membelanya ??!"
Tatapan mata meremehkan dari mata musang itu benar benar membuat Jaejoong sebal,
"Kau bekerja disini sebagai panjang1 dan harusnya kau tahu salah satu tugasmu adalah menjaga hubungan baik dengan klien potensial, bukannya mengusirnya", jawab namja itu tenang.
"Jadi menurut anda saya harus melupakan moralitas hanya demi keuntungan perusahaan semata?!"
"Moralitas selamanya tidak akan dapat memberikan keuntungan, dalam hal apapun", si mata musang mengangkat bahu dengan bosan.
Cukup sudah! Jaejoong menarik napas dalam-dalam,
"Kalau begitu saya tidak mau bekerja di perusahaan yang tidak bermoral, paling cepat nanti siang, anda akan menerima surat pengunduran diri dari saya !",
Sejenak suasana menjadi begitu hening, dan kalaupun si mata musang itu kaget dengan keputusan impulsif Jaejoong, dia berhasil menyembunyikannya dengan baik karena ekspresinya tidak dapat ditebak, dia hanya memandang Jaejoong dengan ekspresi menilai.
Suasana terasa makin hening, dan Jaejoong menunggu. Ketegangan terasa bagaikan senar yang ditarik kencang, siap untuk putus.
Lalu, sebuah senyum muncul disudut bibir namja itu, walaupun begitu, sinar matanya tampak begitu kejam.
"Tidak semudah itu nona Kim, mungkin saya adalah pemimpin tertinggi sekaligus pemilik perusahaan ini, tetapi bukan berarti saya tidak mengetahui setiap detail terkecil pegawai di sini",
Namja itu menatap dengan tajam sebelum menjatuhkan bom-nya,
"Kau memiliki pinjaman yang belum selesai pada perusahaan ini senilai 40 juta, katakan sekarang Kim, apakah kau bisa melunasi pinjaman itu dengan tunai sekarang juga? Kalau ya, aku akan dengan senang hati meluluskan permohonan pengunduran dirimu".
Wajah Jaejoong benar-benar pucat pasi, dalam kemarahannya tadi, sama sekali tidak terpikirkan mengenai pinjaman itu. Dan si mata musang menanyai apakah dia bisa membayar pinjamannya secara tunai? Tanpa sadar Jaejoong mengernyit seolah kesakitan, Ya Tuhan , itu tidak mungkin, bahkan sekarang dia sedang  dalam kekalutan besar dan membutikan lebih banyak uang untuk...., cepat-cepat dihapusnya pikiran  itu sebelum melayang lebih jauh,
Si mata musang mendengus menghina melihat kebekuan Jaejoong,
"Oke saya asumsikan anda tidak dapat membayar tunai pinjaman itu, meskipun saya sedikit bertanya-tanya kenapa yeoja lajang seperti anda bisa menghabiskan uang sebanyak itu, tapi itu bukan urusan saya",
Senyum di sudut bibir namja itu langsung menghilang dan tatapannya berubah menjadi dingin,
"Jadi, selama kau masih berhutang pada perusahaan ini dan belum bisa menyelesaikan kewajibanmu, jangan seenaknya mengira kau bisa mengundurkan diri dari perusahaan ini. Hanya akulah, yang bisa memutuskan apakah kau layak dipertahankan atau disingkirkan, jadi kembalilah bekerja dan singkirkan moralitasmu yang munafik itu !!!"
Jaejoong menatap namja itu dengan kebencian yang meluap-luap,
"Hanya pinjaman itu yang menahan saya disini, dan jika saya berhasil melunasi pinjaman itu, saya akan langsung angkat kaki dari perusahaan ini!, sekarang mohon ijin permisi, saya akan kembali bekerja!"
.
.
.
.
.
.
Yunho menatap pintu yang tertutup dengan agak keras di depannya. Dia menunggu beberapa saat, lalu mendesah sambil melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik, dengan letih dia bersandar di kursi sambil memejamkan mata,
Bukan salah yeoja itu jika sekarang tubuhnya terasa begitu panas, Bahkan bukan hanya panas, kau sekarang benar-benar terbakar Jung!!,
"Kim Jaejoong,"
Yunho menggumamkan nama itu bagaikan mantra, lalu matanya membuka penuh perhitungan,
“Well, jangan harap kau bisa semudah itu pergi dari sini, karena aku tak akan membiarkanmu pergi, Jae,” gumamnya dalam hati.
Yunho mengingat saat dia pertama kali melihat Jaejoong, dia tak pernah memperhatikan yeoja sebelumnya, yeojalah yang mengejarnya, Meski suka berganti-ganti yeoja, Yunho dikenal sebagai kekasih yang sangat dingin. Dia selalu menjaga jarak dan tak pernah mengijinkan siapapun terlalu dekat, baginya yeoja hanyalah tempat penyaluran gairahnya dan dia akan membayar itu dengan perhiasan, pakaian mewah dan hadiah-hadiah mahal lainnya, dan itu sudah  cukup memuaskan bagi dirinya dan yeoja-yeoja itu.
Tapi Jaejoong....., yeoja itu sudah 2 tahun bekerja sebagai panjang diperusahaannya, dan Yunho bahkan tak pernah bertemu langsung dengannya,
“Yah tentu saja!” Yunho mendengus, “Seorang CEO tidak ada urusannya dengan pekerja di lapangan.”
Dan entah nasib sial apa yang menghinggapinya ketika pertama kali dia bertemu dengan Jaejoong, Hari itu dia sedang menjamu tamu penting dilokasi yang berdekatan dengan proyek pameran pemasaran yang sedang berlangsung, maka secara impulsif diputuskannya untuk mampir.Manajer pameran langsung tergopoh-gopoh menyambutnya.
Lalu yeoja itu muncul. Dengan tubuh mungil, pakaian kerja yang efisien dan make up sederhana, Jaejoong jelas-jelas kalah jika dibandingkan dengan pacar-pacarnya yang selalu seksi dan spektakuler serta berasal dari kelas atas. Tapi tubuh Yunho bagai disadarkan ketika melihat Jaejoong, dan ketika mereka bersalaman, tangannya seperti disengat listrik,gairah langsung meletup dari ujung kepala sampai ke kakinya begitu menggebu-gebu sampai membuat kepalanya pening.
Kenyataan bahwa Jaejoong sama sekali tidak memperhatikannya kecuali sebagai bos sama sekali tidak membantu,
Yunho menyadari ia mulai terobsesi pada Jaejoong, dimanapun ia berada, kapanpun ia ada, ia selalu mencari yeoja itu.Tak mau seharipun dilewatinya tanpa menyempatkan diri melihat Jaejoong, hingga seolah-olah yeoja itu merupakan eksistensi kehidupannya.Bahkan demi hal itu, sekarang ia mendapati dirinya mulai memanipulasi beberapa proyek yang sedapat mungkin melibatkan divisi Jaejoong semata-mata  agar dia bisa sering  melihat Jaejoong.
Mungkin ini kegilaan sesaat, atau mungkin alamiah. Yunho pernah membaca bahwa ada orang-orang tertentu yang memang dapat membuatmu sangat bergairah, entah karena hormon, aroma atau yang lainnya, mungkin Jaejoong salah satu diantaranya.
Ini hanyalah masalah nafsu, dan akan segera hilang begitu nafsu ini dipuaskan, gumam Yunho dalam hati, berusaha menenangkan dirinya.
Dengan dahi berkerut dipandanginya laporan pinjaman karyawan dimejanya.
Yah sepertinya ini akan sangat mudah, melihat besarnya pinjaman Jaejoong, kelihatannya yeoja ini sangat konsumtif dan menyukai uang, dengan sedikit pengeluaran ekstra pasti akan sangat mudah menarik yeoja itu ke ranjangnya, dan setelah dia terpuaskan, pasti akan lega sekali bisa terlepas dari obsesi yang menyiksa ini.
“Ya, Kim Jaejoong pasti akan segera jatuh ketanganku.”
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana kondisinya uisa?",
Jaejoong baru saja sampai, di luar hujan deras sekali, dan air menetes-netes dari rambutnya.
Boa memandangnya dengan penuh kasih, sudah 2 tahun dia mengenal Jaejoong. Dari Jaejoong masih yeoja polos yang kebingungan, sampai akhirnya dia berubah menjadi yeoja tegar yang penuh semangat dan mengambil alih semua tanggung jawab yang mungkin terlalu berat untuknya,
Kasihan sekali kau Jae, gumamnya dalam hati,
"Kondisinya baik Jae, tekanan darahnya normal dan detak jantungnya stabil, itu bagus, dia begitu tenang seharian ini, dia tidak mengalami serangan, jadi tidak perlu merasakan kesakitan"
"Dia tidak mengalami serangan?", mata Jaejoong melebar bahagia, "Gomapta uisa ,kalau begitu aku akan melihatnya dulu",
Jaejoong memasuki ruangan putih sederhana itu, dipandangnya ranjang yang menjadi pusat ruangan itu. Di atas ranjang, terbaring sosok yang lemah, tubuhnya terhubung dengan selang yang terjalin ke mesin-mesin,
Jaejoong duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan yang terhubung dengan jarum infus, sebuah cincin emas melingkar di jari namja itu, ya, cincin yang sama yang melingkar di jarinya, namja ini adalah Changmin, tunangannya yang terbaring koma sejak lebih dua tahun yang lalu,
"Apa kabarmu Minnie?", gumamnya penuh perasaan.
Sosok itu tetap diam dan ruangan terasa hening, hanya suara elektro kardiograf dan desisan alat pengatur oksigen yang terdengar,
Jaejoong mengecup cincin di jari namja itu, ingatannya menerawang kembali ke masa dua tahun lalu dimana hidupnya yang indah dan bahagia berubah menjadi tragedi,
Saat itu persiapan pernikahan mereka, Changmin sudah cukup mapan dan sangat mencintai Jaejoong, dan Changmin tidak mempunyai keluarga, namja itu dibesarkan di panti asuhan lalu berjuang mandiri sehingga bisa menjadi pengacara handal yang cukup sukses,
"Aku sebatang kara di dunia ini sebelum bertemu denganmu", ucapnya dulu ketika Jaejoong menerima lamarannya. Jaejoong begitu bahagia waktu itu, dia begitu dicintai dan kedua orang tuanya begitu mendukungnya, sebagai anak tunggal orang tuanya memang sedikit lebih protektif padanya dibandingkan orang tua lainnya, tapi mereka bisa melihat ketulusan hati Changmin dan menerima Changmin dengan tangan terbuka,
Lalu pagi yang penuh tragedi itu terjadi, Jaejoong sedang melakukan pengepasan gaun pengantin, pernikahan mereka tinggal sebulan lagi. Ketika itu Changmin menelpon, karena Jaejoong meminta tolong padanya untuk menjemput orangtua Jaejoong di bandara, orang tua Jaejoong baru pulang dari tugas dinas ayah Jaejoong di Jepang.
Sebenarnya merupakan tugas Jaejoong menjemput mereka, tetapi karena supir keluarga sedang cuti dan waktunya bersamaan dengan jadwal fitting baju pengantin, Jaejoong meminta bantuan Changmin . Changmin tidak pernah merasakan punya orang tua, jadi dia sangat menyayangi kedua orang tua Jaejoong, begitu pula sebaliknya, jadi, tugas sepele seperti menjemput orangtua di bandara terasa sangat menyenangkan baginya,
"Kami akan menuju ke tempat fitting baju segera setelah sampai,lalu kita bisa makan siang bersama-sama, tapi ups! Kau kan tidak boleh makan banyak-banyak Jongie baby, nanti baju pengantin itu tak akan cukup sebulan lagi"' candanya dengan riang
Jaejoong sempat merajuk tapi kemudian Changmin bisa membuatnya tertawa lagi,
"Kau tahu,aku tidak sabar bertemu dengan orangtuamu,.......aku merindukan mereka"
Namja itu tertawa lalu menutup telepon setelah mengucapkan satu-satunya janji yang tidak bisa ditepatinya,
"Aku janji,segera setelah kami dekat tempatmu, aku akan menelponmu, jadi kau bisa menunggu kami di depan,  saranghae Joongie",
Itulah saat terakhir Changmin menelponnya.
Sama sekali tidak ada firasat hari itu, sama sekali tidak ada pertanda bahwa pagi itu akan menjadi mimpi paling buruk dalam hidupnya, Dan telepon itulah awal dari rentetan bencana.
Yang menelponnya kemudian bukanlah Changmin yang dicintainya, melainkan petugas rumah sakit. Mobil yang dikendarai Changmin menjadi salah satu korban tabrakan beruntun di jalan tol, Ayahnya meninggal di tempat, Ibunya dalam kondisi kritis dan Changmin sudah tak sadarkan diri karena benturan keras di kepalanya.
Jaejoong menjalani semuanya seorang diri, hari itu dia bergerak bagai robot mengurusi pemakaman ayahnya sekaligus mengkhawatirkan kondisi ibu dan tunangannya, tak ada waktu untuk menangis, dan kemudian keesokan harinya ibunya meninggal menyusul ayahnya, Jaejoong harus menanggung kepedihan memakamkan kedua orang tuanya dalam dua hari berturut-turut seorang diri, lalu malam itu, ketika dokter memutuskan bahwa Changmin mengalami koma serta tidak diketahui kapan akan sadar, ketegaran Jaejoong runtuhlah sudah, semua kepedihan bertubi-tubi yang menerjangnya sudah tidak dapat ditanggungnya lagi, dia pingsan dan ketika sadar dia hanya bisa  menangis,
Lalu Boa datang, seorang perawat setengah baya yang sangat keibuan. Suster itulah yang membantu Jaejoong agar tidak terpuruk, yang membuat Jaejoong sadar bahwa dialah satu-satunya yang dimiliki Changmin untuk membantunya bertahan hidup.
Dengan cepat Jaejoong bangkit, menyadari bahawa dia sendiri yang harus berjuang demi Changmin, namja yang sangat dia cintai. Dan mengetahui bahwa biaya perawatan Changmin tidak murah, Jaejoong segera bergerak cepat, dijualnya rumah keluarganya, dan dikumpulkannya semua aset yang dimilikinya lalu pindah ke tempat kost yang mungil memahami bahwa efisiensi sangatlah penting, lalu dia pindah pekerjaan dengan gaji lebih bagus,
"Berjuanglah untuk bertahan Minnie, karena aku akan berjuang untukmu", tekad Jaejoong dalam hati waktu itu.
Namun sekarang hampir dua tahun lebih berlalu, seluruh aset yang dimiliki Jaejoong sudah habis, bahkan dia harus menanggung hutang ke perusahaan untuk menutup biaya perawatan Changmin, dan tunangannya tercinta itu masih belum sadar juga,
"Kau tahu, tadi pagi aku bertengkar dengan bosku." Jaejoong memulai kebiasaannya, berbicara dengan Changmin, menceritakan kisah kehidupannya sehari-hari pada Changmin, berharap Changmin mendengarnya dan segera bangun dari tidur panjangnya "Matanya tajam, seperti musang dan dia sangat menyebalkan, dan kau tahu? Namja brengsek itu, dia sama sekali tak menghargai moralitas, aku yakin, kalian pasti akan bertengkar jika bertemu. Karena sebagai pengacara kau sangat menjunjung tinggi moralitas."
Jaejoong terkekeh membayangkan hal itu, lalu direbahkannya kepalanya di ranjang sambil mengamati wajah Changmin," aku merindukanmu Minnie, sudah lama aku tidak mendengar suaramu, sampai kapan kau mau tidur? Apa disana begitu menyenangkan sampai kau tidak merindukanku? Apa kau tak merindukanku? Kau tak takut ada namja tampan yang menggodaku? Awas ya, jangan salahkan aku kalau suatu saat kau memanggilku ditempat ramai dan aku tidak mengenali suaramu."
Diluar pintu, Boa yang mendengar percakapan itu menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. Betapa tegarnya yeoja itu, betapa hebatnya dia, selama dua tahun dia berjuang dan belum mendapat jawaban, tapi semangatnya sama sekali tidak pernah surut.
Selama hampir dua jam Jaejoong bercakap-cakap searah dengan Changmin, lalu ketika Boa mengingatkan bahwa waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, Jaejoong bangkit dari duduknya, dikecupnya dahi Changmin penuh kasih sayang,
"Sudah dulu ya Minnie, aku akan pulang dan tidur, besok aku akan kesini dan menengokmu lagi, Saranghae Minnie, Anyong.",
Jaejoong lalu menemui Boa yang masih menunggu di luar, suster itu kotak makan pada Jaejoong,
"Ini, didalamnya ada kimchi kesukaanmu."
"Gomapta uisa." Jaejoong memeluk yeoja setengah baya yang selama dua tahun ini telah menjadi sandaran hatinya.
"Kau terlihat pucat Jae, kau pasti kecapekan, jangan terlalu memaksakan diri",
Jaejoong menarik napas letih tapi tetap mencoba tersenyum riang,
"Aku harus terus bekerja uisa, apalagi sudah hampir tanggal lima",
Tanggal lima adalah tanggal rutin Jaejoong harus melunasi biaya perawatan Changmin yang makin membengkak setiap bulannya,
Boa memandang Jaejoong dengan hati-hati,
"Kau tahu Jae, ada beberapa cara yang lebih ringan, dokter memperbolehkan Changmin dirawat dirumah...",
"Andwae!", Jaejoong memandang Boa dengan ngeri dan tanpa sengaja menaikkan nada suaranya, "Ah, mianhe uisa. Selama ini Changmin sering mengalami serangan, saya tidak mau Changmin kenapa-kenapa, disini adalah tempat Changmin akan mengalami penanganan yang paling tepat, dan saya akan berjuang berapapun biayanya"
Boa memandang Jaejoong dengan penuh kasih sayang, menyadari betapa keras kepalanya yeoja itu jika dia sudah punya kemauan,
"Ya sudah, pulang dan istirahatlah, jangan lupa untuk makan malam, dan ingat Jae, kalau kau kekurangan uang, aku punya simpanan uang yang...",
Jaejoong memeluk Boa sekali lagi dengan penuh rasa sayang,
"Anda tahu uisa, Bantuan uisa sudah lebih dari cukup selama ini, saya tidak tahu bagaimana lagi saya harus berterimakasih"
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
Untuk anonim yang meninggalkan jejaknya di teaser kemarin...
Ah, imajinasi Saki dan tangan Saki belum bisa untuk menulis Yaoi. Saki baru bisa membacanya saja, itupun imajinasi saki tidak bermain dengan benar. Dan ya di covernya itu, Saki nglihatnya dengan rambut Jae yang cruel2 itu cantik banget, Saki aja kalah. dan Jae disana Saki nglihatnya sebagai gadis yang wataknya sama dengan karakter Jae disini. oke makasih yang mau baca tulisan Saki. 

5 comments:

  1. changmin koma jae setia banget sampe2 rela banting tulang buat biaya rumah sakit changmin ... jae keras kepala banget

    ReplyDelete
  2. kereeeennnnn.......mencintai 'tunangan' sampe segitunya

    ReplyDelete
  3. Biarpun ini cerita remake, kalau udah versi yunjae tetep kerasa beda...good job saki

    ReplyDelete
  4. Ga nyesel buka google deh,nemuin nih ff

    ReplyDelete
  5. Kehidupannya Jae bener2 menyentuh..
    Mudah2an Yun bs bantu..

    ReplyDelete