Jaejoong menarik napas panjang sebelum membuka pintu itu, pintu
besar kokoh yang terlihat begitu mewah dan berkuasa yang seakan mencerminkan
apa yang menunggu dibaliknya. Sambil menenangkan debaran jantungnya dibukanya
pintu itu, dan ketika menyadari tangannya berkeringat, Jaejoong tersenyum
kecut,
“Seperti akan
menghadapi hukuman mati saja”,
desisnya dalam hati.
Ketika masuk Jaejoong menyadari ruangan itu sangat luas. Suasana
didalam ruangan itu sungguh elegan, dengan penataan ruang dari desainer terkenal
dan perabotan kelas tinggi yang khusus dipesan untuk ruangan ini. Temperaturnya
diatur senyaman mungkin dan samar-samar tercium aroma cendana yang menenangkan.
Semua yang ada diruangan ini sungguh menyenangkan, ups!!,.. salah, semua
menyenangkan kecuali satu hal, dan satu hal itu adalah sosok dingin yang duduk
tegak dibalik meja dengan keangkuhan yang mencerminkan seolah-olah dirinyalah
pusat dunia,
Lalu tatapannya itu, tatapannya itu!! Sangat mengerikan. Mata musang itu menatapnya
dengan kadar kebencian yang begitu kental.
Sacrificio de Amor
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Serena
©Santhy
Agatha
Jaejoong membasahi bibirnya dengan gugup, dan menunggu, dan terus menunggu. Tetapi namja itu hanya
diam menatapnya, mempertahankan keheningan di antara mereka. Jaejoong
mengangkat dagunya dan melemparkan tatapan ‘well aku sudah disini, sekarang
apalagi?’ kepada namja itu.
Si mata musang mengerutkan alis gusar melihat tingkah berani
jaejoong, mulutnya menipis,
"Kudengar kau menyebabkan kekacauan di proyek kali ini",
“Akhirnya!!” Jaejoong
menghembuskan napas setengah lega setengah panik mendengar kalimat pembuka
namja itu.
"Saya hanya mencoba menyelamatkan keadaan", sebenarnya
Jaejoong tidak mau kedengaran begitu kurang ajar, tapi tatapan meremehkan namja
itu mau tak mau memunculkan sisi defensif dari dirinya.
"Menyelamatkan keadaan kau bilang?" , Namja itu tampak
begitu murka mendengar jawaban Jaejoong,"Kau mengusir klien terpenting
perusahaan ini, dan mempermalukannya di depan umum, dan kau anggap itu
menyelamatkan keadaan !!"
Jaejoong membalas tatapan garang namja itu dengan tak kalah garang,
"Orang yang anda bilang klien terpenting itu, merayu dan meraba salah satu
pegawai anda di tengah-tengah pameran, apakah menurut anda, saya, sebagai
pengawas yang bertugas dilapangan hanya boleh diam saja dan tidak membelanya
??!"
Tatapan mata meremehkan dari mata musang itu benar benar membuat
Jaejoong sebal,
"Kau bekerja disini sebagai panjang1 dan harusnya
kau tahu salah satu tugasmu adalah menjaga hubungan baik dengan klien
potensial, bukannya mengusirnya", jawab namja itu tenang.
"Jadi menurut anda saya harus melupakan moralitas hanya demi
keuntungan perusahaan semata?!"
"Moralitas selamanya tidak akan dapat memberikan keuntungan,
dalam hal apapun", si mata musang mengangkat bahu dengan bosan.
Cukup sudah! Jaejoong
menarik napas dalam-dalam,
"Kalau begitu saya tidak mau bekerja di perusahaan yang tidak
bermoral, paling cepat nanti siang, anda akan menerima surat pengunduran diri
dari saya !",
Sejenak suasana menjadi begitu hening, dan kalaupun si mata musang
itu kaget dengan keputusan impulsif Jaejoong, dia berhasil menyembunyikannya
dengan baik karena ekspresinya tidak dapat ditebak, dia hanya memandang
Jaejoong dengan ekspresi menilai.
Suasana terasa makin hening, dan Jaejoong menunggu. Ketegangan
terasa bagaikan senar yang ditarik kencang, siap untuk putus.
Lalu, sebuah senyum muncul disudut bibir namja itu, walaupun
begitu, sinar matanya tampak begitu kejam.
"Tidak semudah itu nona Kim, mungkin saya adalah pemimpin
tertinggi sekaligus pemilik perusahaan ini, tetapi bukan berarti saya tidak
mengetahui setiap detail terkecil pegawai di sini",
Namja itu menatap dengan tajam sebelum menjatuhkan bom-nya,
"Kau memiliki pinjaman yang belum selesai pada perusahaan ini
senilai 40 juta, katakan sekarang Kim, apakah kau bisa melunasi pinjaman itu
dengan tunai sekarang juga? Kalau ya, aku akan dengan senang hati meluluskan
permohonan pengunduran dirimu".
Wajah Jaejoong benar-benar pucat pasi, dalam kemarahannya tadi,
sama sekali tidak terpikirkan mengenai pinjaman itu. Dan si mata musang
menanyai apakah dia bisa membayar pinjamannya secara tunai? Tanpa sadar
Jaejoong mengernyit seolah kesakitan, Ya Tuhan , itu tidak mungkin, bahkan
sekarang dia sedang dalam kekalutan
besar dan membutikan lebih banyak uang untuk...., cepat-cepat dihapusnya
pikiran itu sebelum melayang lebih jauh,
Si mata musang mendengus menghina melihat kebekuan Jaejoong,
"Oke saya asumsikan anda tidak dapat membayar tunai pinjaman
itu, meskipun saya sedikit bertanya-tanya kenapa yeoja lajang seperti anda bisa
menghabiskan uang sebanyak itu, tapi itu bukan urusan saya",
Senyum di sudut bibir namja itu langsung menghilang dan tatapannya
berubah menjadi dingin,
"Jadi, selama kau masih berhutang pada perusahaan ini dan
belum bisa menyelesaikan kewajibanmu, jangan seenaknya mengira kau bisa
mengundurkan diri dari perusahaan ini. Hanya akulah, yang bisa memutuskan
apakah kau layak dipertahankan atau disingkirkan, jadi kembalilah bekerja dan
singkirkan moralitasmu yang munafik itu !!!"
Jaejoong menatap namja itu dengan kebencian yang meluap-luap,
"Hanya pinjaman itu yang menahan saya disini, dan jika saya
berhasil melunasi pinjaman itu, saya akan langsung angkat kaki dari perusahaan
ini!, sekarang mohon ijin permisi, saya akan kembali bekerja!"
.
.
.
.
.
.
Yunho menatap pintu yang tertutup dengan agak keras di depannya.
Dia menunggu beberapa saat, lalu mendesah sambil melonggarkan ikatan dasinya
yang terasa mencekik, dengan letih dia bersandar di kursi sambil memejamkan
mata,
Bukan salah yeoja itu jika sekarang tubuhnya terasa begitu panas, Bahkan
bukan hanya panas, kau sekarang benar-benar terbakar Jung!!,
"Kim Jaejoong,"
Yunho menggumamkan nama itu bagaikan mantra, lalu matanya membuka
penuh perhitungan,
“Well, jangan
harap kau bisa semudah itu pergi dari sini, karena aku tak akan membiarkanmu
pergi, Jae,” gumamnya dalam hati.
Yunho mengingat saat dia pertama kali melihat Jaejoong, dia tak
pernah memperhatikan yeoja sebelumnya, yeojalah yang mengejarnya, Meski suka
berganti-ganti yeoja, Yunho dikenal sebagai kekasih yang sangat dingin. Dia
selalu menjaga jarak dan tak pernah mengijinkan siapapun terlalu dekat, baginya
yeoja hanyalah tempat penyaluran gairahnya dan dia akan membayar itu dengan
perhiasan, pakaian mewah dan hadiah-hadiah mahal lainnya, dan itu sudah cukup memuaskan bagi dirinya dan yeoja-yeoja
itu.
Tapi Jaejoong....., yeoja itu sudah 2 tahun bekerja sebagai panjang
diperusahaannya, dan Yunho bahkan tak pernah bertemu langsung dengannya,
“Yah tentu
saja!” Yunho mendengus, “Seorang
CEO tidak ada urusannya dengan pekerja di lapangan.”
Dan entah nasib sial apa yang menghinggapinya ketika pertama kali
dia bertemu dengan Jaejoong, Hari itu dia sedang menjamu tamu penting dilokasi yang
berdekatan dengan proyek pameran pemasaran yang sedang berlangsung, maka secara
impulsif diputuskannya untuk mampir.Manajer pameran langsung tergopoh-gopoh
menyambutnya.
Lalu yeoja itu muncul. Dengan tubuh mungil, pakaian kerja yang
efisien dan make up sederhana, Jaejoong jelas-jelas kalah jika dibandingkan
dengan pacar-pacarnya yang selalu seksi dan spektakuler serta berasal dari
kelas atas. Tapi tubuh Yunho bagai disadarkan ketika melihat Jaejoong, dan
ketika mereka bersalaman, tangannya seperti disengat listrik,gairah langsung
meletup dari ujung kepala sampai ke kakinya begitu menggebu-gebu sampai membuat
kepalanya pening.
Kenyataan bahwa Jaejoong sama sekali tidak memperhatikannya kecuali
sebagai bos sama sekali tidak membantu,
Yunho menyadari ia mulai terobsesi pada Jaejoong, dimanapun ia
berada, kapanpun ia ada, ia selalu mencari yeoja itu.Tak mau seharipun
dilewatinya tanpa menyempatkan diri melihat Jaejoong, hingga seolah-olah yeoja
itu merupakan eksistensi kehidupannya.Bahkan demi hal itu, sekarang ia
mendapati dirinya mulai memanipulasi beberapa proyek yang sedapat mungkin
melibatkan divisi Jaejoong semata-mata
agar dia bisa sering melihat Jaejoong.
Mungkin ini kegilaan sesaat, atau mungkin alamiah. Yunho pernah
membaca bahwa ada orang-orang tertentu yang memang dapat membuatmu sangat
bergairah, entah karena hormon, aroma atau yang lainnya, mungkin Jaejoong salah
satu diantaranya.
Ini hanyalah masalah nafsu, dan akan segera hilang begitu nafsu ini
dipuaskan, gumam Yunho dalam hati, berusaha menenangkan dirinya.
Dengan dahi berkerut dipandanginya laporan pinjaman karyawan
dimejanya.
Yah sepertinya ini akan sangat mudah, melihat besarnya pinjaman Jaejoong,
kelihatannya yeoja ini sangat konsumtif dan menyukai uang, dengan sedikit
pengeluaran ekstra pasti akan sangat mudah menarik yeoja itu ke ranjangnya, dan
setelah dia terpuaskan, pasti akan lega sekali bisa terlepas dari obsesi yang
menyiksa ini.
“Ya, Kim
Jaejoong pasti akan segera jatuh ketanganku.”
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana kondisinya uisa?",
Jaejoong baru saja sampai, di luar hujan deras sekali, dan air
menetes-netes dari rambutnya.
Boa memandangnya dengan penuh kasih, sudah 2 tahun dia mengenal Jaejoong.
Dari Jaejoong masih yeoja polos yang kebingungan, sampai akhirnya dia berubah
menjadi yeoja tegar yang penuh semangat dan mengambil alih semua tanggung jawab
yang mungkin terlalu berat untuknya,
Kasihan
sekali kau Jae, gumamnya dalam hati,
"Kondisinya baik Jae, tekanan darahnya normal dan detak
jantungnya stabil, itu bagus, dia begitu tenang seharian ini, dia tidak
mengalami serangan, jadi tidak perlu merasakan kesakitan"
"Dia tidak mengalami serangan?", mata Jaejoong melebar
bahagia, "Gomapta uisa ,kalau begitu aku akan melihatnya dulu",
Jaejoong memasuki ruangan putih sederhana itu, dipandangnya ranjang
yang menjadi pusat ruangan itu. Di atas ranjang, terbaring sosok yang lemah,
tubuhnya terhubung dengan selang yang terjalin ke mesin-mesin,
Jaejoong duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan yang
terhubung dengan jarum infus, sebuah cincin emas melingkar di jari namja itu,
ya, cincin yang sama yang melingkar di jarinya, namja ini adalah Changmin,
tunangannya yang terbaring koma sejak lebih dua tahun yang lalu,
"Apa kabarmu Minnie?", gumamnya penuh perasaan.
Sosok itu tetap diam dan ruangan terasa hening, hanya suara elektro
kardiograf dan desisan alat pengatur oksigen yang terdengar,
Jaejoong mengecup cincin di jari namja itu, ingatannya menerawang
kembali ke masa dua tahun lalu dimana hidupnya yang indah dan bahagia berubah
menjadi tragedi,
Saat itu persiapan pernikahan mereka, Changmin sudah cukup mapan
dan sangat mencintai Jaejoong, dan Changmin tidak mempunyai keluarga, namja itu
dibesarkan di panti asuhan lalu berjuang mandiri sehingga bisa menjadi
pengacara handal yang cukup sukses,
"Aku sebatang kara di dunia ini sebelum bertemu
denganmu", ucapnya dulu ketika Jaejoong menerima lamarannya. Jaejoong
begitu bahagia waktu itu, dia begitu dicintai dan kedua orang tuanya begitu
mendukungnya, sebagai anak tunggal orang tuanya memang sedikit lebih protektif
padanya dibandingkan orang tua lainnya, tapi mereka bisa melihat ketulusan hati
Changmin dan menerima Changmin dengan tangan terbuka,
Lalu pagi yang penuh tragedi itu terjadi, Jaejoong sedang melakukan
pengepasan gaun pengantin, pernikahan mereka tinggal sebulan lagi. Ketika itu Changmin
menelpon, karena Jaejoong meminta tolong padanya untuk menjemput orangtua Jaejoong
di bandara, orang tua Jaejoong baru pulang dari tugas dinas ayah Jaejoong di Jepang.
Sebenarnya merupakan tugas Jaejoong menjemput mereka, tetapi karena
supir keluarga sedang cuti dan waktunya bersamaan dengan jadwal fitting baju
pengantin, Jaejoong meminta bantuan Changmin . Changmin tidak pernah merasakan
punya orang tua, jadi dia sangat menyayangi kedua orang tua Jaejoong, begitu
pula sebaliknya, jadi, tugas sepele seperti menjemput orangtua di bandara
terasa sangat menyenangkan baginya,
"Kami akan menuju ke tempat fitting baju segera setelah
sampai,lalu kita bisa makan siang bersama-sama, tapi ups! Kau kan tidak boleh
makan banyak-banyak Jongie baby, nanti baju pengantin itu tak akan cukup
sebulan lagi"' candanya dengan riang
Jaejoong sempat merajuk tapi kemudian Changmin bisa membuatnya
tertawa lagi,
"Kau tahu,aku tidak sabar bertemu dengan orangtuamu,.......aku
merindukan mereka"
Namja itu tertawa lalu menutup telepon setelah mengucapkan
satu-satunya janji yang tidak bisa ditepatinya,
"Aku janji,segera setelah kami dekat tempatmu, aku akan
menelponmu, jadi kau bisa menunggu kami di depan, saranghae Joongie",
Itulah saat terakhir Changmin menelponnya.
Sama sekali tidak ada firasat hari itu, sama sekali tidak ada
pertanda bahwa pagi itu akan menjadi mimpi paling buruk dalam hidupnya, Dan
telepon itulah awal dari rentetan bencana.
Yang menelponnya kemudian bukanlah Changmin yang dicintainya,
melainkan petugas rumah sakit. Mobil yang dikendarai Changmin menjadi salah
satu korban tabrakan beruntun di jalan tol, Ayahnya meninggal di tempat, Ibunya
dalam kondisi kritis dan Changmin sudah tak sadarkan diri karena benturan keras
di kepalanya.
Jaejoong menjalani semuanya seorang diri, hari itu dia bergerak
bagai robot mengurusi pemakaman ayahnya sekaligus mengkhawatirkan kondisi ibu
dan tunangannya, tak ada waktu untuk menangis, dan kemudian keesokan harinya
ibunya meninggal menyusul ayahnya, Jaejoong harus menanggung kepedihan
memakamkan kedua orang tuanya dalam dua hari berturut-turut seorang diri, lalu
malam itu, ketika dokter memutuskan bahwa Changmin mengalami koma serta tidak
diketahui kapan akan sadar, ketegaran Jaejoong runtuhlah sudah, semua kepedihan
bertubi-tubi yang menerjangnya sudah tidak dapat ditanggungnya lagi, dia
pingsan dan ketika sadar dia hanya bisa
menangis,
Lalu Boa datang, seorang perawat setengah baya yang sangat keibuan.
Suster itulah yang membantu Jaejoong agar tidak terpuruk, yang membuat Jaejoong
sadar bahwa dialah satu-satunya yang dimiliki Changmin untuk membantunya
bertahan hidup.
Dengan cepat Jaejoong bangkit, menyadari bahawa dia sendiri yang
harus berjuang demi Changmin, namja yang sangat dia cintai. Dan mengetahui
bahwa biaya perawatan Changmin tidak murah, Jaejoong segera bergerak cepat,
dijualnya rumah keluarganya, dan dikumpulkannya semua aset yang dimilikinya
lalu pindah ke tempat kost yang mungil memahami bahwa efisiensi sangatlah
penting, lalu dia pindah pekerjaan dengan gaji lebih bagus,
"Berjuanglah untuk bertahan Minnie, karena aku akan berjuang
untukmu", tekad Jaejoong dalam hati waktu itu.
Namun sekarang hampir dua tahun lebih berlalu, seluruh aset yang
dimiliki Jaejoong sudah habis, bahkan dia harus menanggung hutang ke perusahaan
untuk menutup biaya perawatan Changmin, dan tunangannya tercinta itu masih
belum sadar juga,
"Kau tahu, tadi pagi aku bertengkar dengan bosku." Jaejoong
memulai kebiasaannya, berbicara dengan Changmin, menceritakan kisah
kehidupannya sehari-hari pada Changmin, berharap Changmin mendengarnya dan
segera bangun dari tidur panjangnya "Matanya tajam, seperti musang dan dia
sangat menyebalkan, dan kau tahu? Namja brengsek itu, dia sama sekali tak
menghargai moralitas, aku yakin, kalian pasti akan bertengkar jika bertemu. Karena
sebagai pengacara kau sangat menjunjung tinggi moralitas."
Jaejoong terkekeh membayangkan hal itu, lalu direbahkannya
kepalanya di ranjang sambil mengamati wajah Changmin," aku merindukanmu Minnie,
sudah lama aku tidak mendengar suaramu, sampai kapan kau mau tidur? Apa disana
begitu menyenangkan sampai kau tidak merindukanku? Apa kau tak merindukanku? Kau
tak takut ada namja tampan yang menggodaku? Awas ya, jangan salahkan aku kalau
suatu saat kau memanggilku ditempat ramai dan aku tidak mengenali suaramu."
Diluar pintu, Boa yang mendengar percakapan itu menutup mulutnya
dengan tangan, matanya berkaca-kaca. Betapa tegarnya yeoja itu, betapa hebatnya
dia, selama dua tahun dia berjuang dan belum mendapat jawaban, tapi semangatnya
sama sekali tidak pernah surut.
Selama hampir dua jam Jaejoong bercakap-cakap searah dengan Changmin,
lalu ketika Boa mengingatkan bahwa waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, Jaejoong
bangkit dari duduknya, dikecupnya dahi Changmin penuh kasih sayang,
"Sudah dulu ya Minnie, aku akan pulang dan tidur, besok aku
akan kesini dan menengokmu lagi, Saranghae Minnie, Anyong.",
Jaejoong lalu menemui Boa yang masih menunggu di luar, suster itu kotak
makan pada Jaejoong,
"Ini, didalamnya ada kimchi kesukaanmu."
"Gomapta uisa." Jaejoong memeluk yeoja setengah baya yang
selama dua tahun ini telah menjadi sandaran hatinya.
"Kau terlihat pucat Jae, kau pasti kecapekan, jangan terlalu memaksakan
diri",
Jaejoong menarik napas letih tapi tetap mencoba tersenyum riang,
"Aku harus terus bekerja uisa, apalagi sudah hampir tanggal
lima",
Tanggal lima adalah tanggal rutin Jaejoong harus melunasi biaya
perawatan Changmin yang makin membengkak setiap bulannya,
Boa memandang Jaejoong dengan hati-hati,
"Kau tahu Jae, ada beberapa cara yang lebih ringan, dokter
memperbolehkan Changmin dirawat dirumah...",
"Andwae!", Jaejoong memandang Boa dengan ngeri dan tanpa
sengaja menaikkan nada suaranya, "Ah, mianhe uisa. Selama ini Changmin sering
mengalami serangan, saya tidak mau Changmin kenapa-kenapa, disini adalah tempat
Changmin akan mengalami penanganan yang paling tepat, dan saya akan berjuang
berapapun biayanya"
Boa memandang Jaejoong dengan penuh kasih sayang, menyadari betapa keras
kepalanya yeoja itu jika dia sudah punya kemauan,
"Ya sudah, pulang dan istirahatlah, jangan lupa untuk makan
malam, dan ingat Jae, kalau kau kekurangan uang, aku punya simpanan uang
yang...",
Jaejoong memeluk Boa sekali lagi dengan penuh rasa sayang,
"Anda tahu uisa, Bantuan uisa sudah lebih dari cukup selama
ini, saya tidak tahu bagaimana lagi saya harus berterimakasih"
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be
Continue
Untuk anonim yang meninggalkan jejaknya di teaser kemarin...
Ah, imajinasi Saki dan tangan Saki belum bisa untuk menulis Yaoi. Saki baru bisa membacanya saja, itupun imajinasi saki tidak bermain dengan benar. Dan ya di covernya itu, Saki nglihatnya dengan rambut Jae yang cruel2 itu cantik banget, Saki aja kalah. dan Jae disana Saki nglihatnya sebagai gadis yang wataknya sama dengan karakter Jae disini. oke makasih yang mau baca tulisan Saki.

changmin koma jae setia banget sampe2 rela banting tulang buat biaya rumah sakit changmin ... jae keras kepala banget
ReplyDeletekereeeennnnn.......mencintai 'tunangan' sampe segitunya
ReplyDeleteBiarpun ini cerita remake, kalau udah versi yunjae tetep kerasa beda...good job saki
ReplyDeleteGa nyesel buka google deh,nemuin nih ff
ReplyDeleteKehidupannya Jae bener2 menyentuh..
ReplyDeleteMudah2an Yun bs bantu..