Monday, February 24

[Remake] Salang-Ui Ba Chapter 15


Yunho terengah menahan kemarahan, “Jendela itu!” tunjuknya marah, lalu melangkah lebar-lebar menyeberangi ruangan dan menutup kaca jendela itu dengan kasar, dia membalikkan tubuhnya menghadap Jaejoong dengan posisi siap bertarung, “Lain kali tutup rapat-rapat jendela itu kalau sudah malam!!” teriaknya marah.
Jaejoong menatap Yunho bingung, “He, Wae?”
Karena aku melihatmu berganti pakaian bagaikan siluet erotis dari bawah!! Karena pemandangan itu membuatku terangsang sampai terasa nyeri!! Karena….
Yunho berdiri dengan tatapan membakar, siap memuntahkan emosinya, tetapi kemudian menyadari bahwa dia hanya akan tampak bodoh kalau meluapkan apa yang ada di pikirannya. Ditatapnya Jaejoong dengan dingin dan mendesis pelan, “Pokoknya tutup jendela itu kalau sudah malam!” Dan dengan penuh harga diri, Yunho melangkah keluar dari kamar Jaejoong, meninggalkan pintu berdebam di belakangnya.

salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
Pagi itu tak seperti biasa ada dua pelayan muda yang membereskan kamar Jaejoong, sepertinya mereka orang baru. Jaejoong masih duduk di sana selepas mandi dan membiarkan para pelayan itu membereskan ranjangnya.
Salah seorang pelayan itu menarik bed cover Jaejoong tampak memeriksa sepreinya, lalu berbisik-bisik satu sama lain dan tertawa cekikikan, ketika Jaejoong menatap mereka dengan dahi berkerut, dua pelayan yeoja itu memasang muka datar dan bergegas pergi.
Jaejoong menoleh ke arah Hyunjoong, yang juga ada di ruangan itu, sedang membereskan baju-baju Jaejoong yang sepertinya tidak ada habisnya dan terus berdatangan itu ke dalam lemari pakaian Jaejoong,
“Kenapa mereka bersikap seperti itu?” tanya Jaejoong ingin tahu.
Hyunjoong melirik ke arah kepergian pelayan itu dan tersenyum, “Mereka orang baru, dan tentu saja sangat penasaran denganmu.”
“Penasaran denganku?”
“Kekasih Jung Yunho yang terbaru,” jawab Hyunjoong datar, “Ah, kau tidak tahu ya, semua orang kan membicarakan kalian. Bahkan, namamu sempat muncul di beberapa tabloid gosip dan acara-acara gosip, yang membahas kekasih terbaru Jung yunho yang misterius. Kau adalah satu-satunya yeoja yang pernah tinggal bersama Yunho, dan mereka menebak-nebak serta mencari bukti bahwa kalian telah bercinta, karena itulah tadi para pelayan tertawa cekikikan ketika memeriksa sepraimu.”
Pipi Jaejoong merah padam, tetapi Hyunjoong sepertinya tidak menyadarinya, dan tetap melanjutkan kata-katanya, “Yah para pelayan itu mungkin saling berspekulasi dan menanti, kapan saat mereka akhirnya bisa menemukan bukti-bukti bahwa kalian tidur bersama untuk dijadikan bahan gosip selanjutnya,” gumamnya dalam senyum, Lalu menatap Jaejoong sambil mengangkat alisnya, “Hei aku juga penasaran, kalau mereka serius mencarinya, apakah mereka akan menemukan bukti-bukti itu Jae?” tanyanya penuh arti, membuat pipi Jaejoong semakin merah padam.
.
.
.
.
.
.
.
“Nona Jaejoong?” Changmin masuk dan mengangkat alis melihat Jaejoong mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah.
“Mwo?” suara Jaejoong tanpa sadar menegang. Semua yang berhubungan dengan Yunho membuatnya tegang dan ingin mengumpat-umpat siapapun yang ada di dekatnya.
“Tuan jung ingin bertemu anda.”
Bagus. Jaejoong menganggukkan kepalanya dan mengikuti Changmin, lalu tertegun setengah mengernyit ketika Changmin membawa Jaejoong ke kamar Yunho,
“Di kamar ini?”
Changmin mengangguk, dan entah Jaejoong salah lihat atau tidak, hanya sedetik dia sempat melihat sinar geli di mata namja itu. Kurang ajar. Jangan-jangan mereka semua mentertawakan ketakutannya pada Yunho.
“Ya Nona, Tuan jung ingin menemui anda di kamar ini.”
Sejenak Jaejoong ingin kabur saja. Tetapi Jaejoong sadar, ini sebuah tantangan, Yunho menantangnya dan Jaejoong tidak akan kalah.
“Baiklah.” Jaejoong menghela napas dalam-dalam dan membiarkan Changmin membukakan pintu untuknya,
Dia langsung berhadapan Yunho yang berdiri dengan begitu tampan di tengah ruangan. Namja itu menunggu Changmin menutup pintu dan meninggalkan mereka berdua sendirian, lalu berkata tenang,
“Anyong Jae,” Yunho tersenyum tenang, “Sebenarnya aku ingin membahas hal-hal yang berkaitan dengan ulang tahunmu ke dua puluh lima….” senyumnya berubah misterius, “Tetapi kemudian aku sadar bahwa pembiacaraan baik-baik tidak akan ada gunanya di antara kita, jadi aku langsung saja.”
Hening, Yunho terdiam dan Jaejoong menunggu dengan ingin tahu apa yang akan dikatakan namja itu,
“Aku sudah memutuskan masa depanmu.” Mata Yunho begitu kelam seperti danau kecoklatan di kegelapan malam.
Masa depannya? Memangnya siapa namja ini bisa memutuskan masa depannya? Jaejoong ingin meledak dalam kemarahan, tetapi tidak mampu. Yunho tampak berbeda, dia tampak begitu tenang tetapi dibalut kemarahan berbahaya, begitu dingin sekaligus mempesona. Lagipula, kenapa Jaejoong berpikir bahwa Yunho mempesona? Sambil mengutuk dirinya sendiri, Jaejoong mencoba menghapus pikiran-pikiran yang mengarah kepada keterpesonaannya kepada Yunho.
Jaejoong mengamati Yunho lagi dan sedikit merasa tidak nyaman, karena melihat Yunho begitu tenang, tanpa sedikitpun emosi malah terasa menakutkan.
Jaejoong tidak suka, dia lebih suka Yunho yang meledak-ledak dan marah daripada Yunho yang seperti ini.Dengan Yunho yang meledak-ledak Jaejoong bisa melawan dengan emosinya, tetapi dengan Yunho yang begitu dingin yang bisa dilakukan Jaejoong hanyalah menyurut mundur, ketakutan.
Yunho mengamati reaksi Jaejoong melemparkan pandangan menilai, lalu melanjutkan kata-katanya,
“Kau harus menjadi kekasihku yang sebenar-benarnya, Jae. Mulai malam ini,” Yunho mulai berdiri, “Aku hanya sekali memberikan penawaran. Kau jadi kekasihku, dan aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kalau kau menolak, aku akan menganggapmu tak berharga dan melemparmu kepada pengawal-pengawalku.”
Mwo?
Keringat membasahi dahi Jaejoong, Yunho bercanda bukan? Apa maksudnya melemparnya kepada pelayan-pelayannya? Apakah Yunho ingin memberikannya supaya diperkosa para pengawalnya? Yunho tidak mungkin sekejam itu bukan? Jaejoong menatap mata Yunho dengan ketakutan, mencoba mencari kebenaran di sana, tetapi dia tidak menemukannya.
Namja ini kejam, dan siapa tahu apa yang akan dilakukannya?
“Otte Jae? Aku atau kau dibuang ke para pengawalku?”
Jaejoong menatap Yunho marah, “Kau tidak akan berani melakukan hal menjijikkan semacam itu.”
“Jangan menantangku Kim,” desis Yunho tajam, “Aku bukannya belum pernah melakukannya kepada yeoja yang kuanggap tidak berguna lagi.”
Jaejoong tertegun. Apakah Yunho benar-benar serius?
“Kau hidup disini dengan mewah, diperlakukan seperti puteri raja, dihormati layaknya kekasih Jung yunho dan aku sudah muak dengan kelakuanmu yang selalu menantangku setiap ada kesempatan. Sekarang hanya ini pilihanmu dan kau akan memutuskan sekarang. Aku atau dibuang kepada para pengawalku.”
Apakah dia bisa melarikan diri dari sini? Jaejoong ingin berteriak panik, ataukah dia harus bunuh diri saja? Tetapi Jaejoong yakin Yunho tidak akan membiarkannya. Oh, dengan kekejamannya mungkin Yunho akan membiarkan Jaejoong mati, tetapi dia akan memastikan Jaejoong menderita dulu sebelumnya.
“Kau...” Jaejoong menelan suara yang dikeluarkannya dengan berat.
Ada nyala di mata Yunho, “Apa Jae? Aku tidak mendengar.”
Yunho sengaja dan Jaejoong menggeram marah dalam hatinya, kurang ajar!
”Kau, aku memilih kau.”
Senyum di bibir Yunho adalah senyum kemenangan yang dingin.
“Kalau begitu, datanglah kemari kekasihku,” Namja itu membuka tangannya, dan Jaejoong melangkah dengan tertahan ke arahnya.
Dengan sensual, namja itu meraih Jaejoong dan mengecup bibirnya sekilas,
“Bagus, jangan uji kesabaranku, aku tidak mau dilawan malam ini.”
.
.
.
.
.
.
.
Yunho membaringkan Jaejoong ke atas ranjang. Jemarinya menyusup ke balik rok Jaejoong dan langsung menyentuh pusat kewanitaannya. Sentuhan itu membakar sekaligus menyejukkan dan Jaejoong langsung mengangkat tubuhnya penuh gairah. Yunho menundukkan kepalanya, mengecup leher dan pundak Jaejoong sambil menurunkan kemejanya, menikmati betapa Jaejoong menyerah kepada gairahnya.
“Ah Jae, kau begitu indah.” Yunho menangkup payudara Jaejoong di telapaknya, merasakan dan menikmati kelembutan itu. Lalu bibir panasnya turun dan menangkup pucuknya, melumatnya penuh gairah, membuat Jaejoong hampir menjerit karena siksaan kenikmatan yang berbaur menjadi satu.
Namja itu menurunkan rok Jaejoong dan mulai menyentuhnya, dimana-mana, meninggalkan gelenyar panas yang membakarnya. Jemari Yunho menyentuh pusat kewanitaannya dan Jaejoong merasakan dorongan yang amat sangat untuk memohon agar Yunho mau memasukinya.
Dan Yunho sudah siap, Namja itu terasa begitu keras dan panas di bawah sana. Jaejoong mendesak-desakkan tubuhnya dengan frustrasi, permohonan tanpa kata.
“Tenang Jae.” Yunho mulai terengah, menahan pinggul Jaejoong yang bergairah di bawahnya, “Aku akan memuaskanmu sebentar lagi.”
Yunho menyentuhkan dirinya, dan langsung menggertakkan giginya, melawan dorongan kuat untuk memasuki Jaejoong dengan kasar. Jaejoong sudah sangat siap menerimanya, tetapi Yunho bertekad memperlakukannya dengan lembut, memberikan tubuhnya untuk kenikmatan Jaejoong.
Ketika kehangatan Yunho merasukinya, tenggelam dalam tubuhnya yang panas dan basah, Jaejoong mengerang dan memejamkan mata. Oh astaga! Rasanya begitu tepat, kenikmatan ini, kedekatan ini yang telah dia sangkal selama ini. Rasanya luar biasa tepatnya!
Mereka bergerak dalam alunan gairah yang keras, berusaha memuaskan gejolaknya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya tubuh Jaejoong terasa melayang, mencapai puncak kenikmatannya didorong oleh rasa klimaks yang begitu dalam. Ketika mendengar erangan, Yunho mengikutinya. Menyerah dalam orgasme bersamanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada yang berbeda dalam hubungan mereka. Jaejoong menyadari pagi itu, mengingat senyum lembut Yunho ketika Jaejoong terbirit-birit kembali ke kamarnya ketika hari hampir menjelang pagi. Terutama perasaan Jaejoong pada Yunho, ada yang berubah.
Ternyata selama ini dia juga frustrasi oleh gairah yang tertahan, sama seperti yang dirasakan Yunho. Dan ketika semalaman mereka saling memuaskan gairah masing-masing, pagi ini perasaannya luar biasa bahagia. Jaejoong bahkan merasa ingin bersenandung.
Pagi ini, karena Yunho biasanya sudah berangkat bekerja jam-jam segini. Jaejoong memutuskan untuk mengisi waktunya dengan menjelajah seluruh isi rumah. Dia memutuskan untuk menjelajahi area sayap kanan rumah yang besar itu.
Tanpa di temani siapapun, Jaejoong menyusuri lorong-lorong, ruangan demi ruangan, sampai akhirnya tiba di ujung lorong, dengan dinding yang sepenuhnya terbuat dari kaca, memantulkan cahaya matahari ke seluruh lorong dan pemandangan yang luar biasa indahnya di balik kaca. Pemandangan kebun mawar berwarna merah tua yang merambat dan memenuhi taman kecil di sana.
Jaejoong terpesona hingga hampir sesak napas. Dia berdiri cukup lama di depan taman itu, lalu kemudian mengerutkan keningnya ketika menyadari, bahwa sayap kanan rumah ini, meskipun tampak bersih dan terawat, tampaknya hampir tidak pernah digunakan.
Jaejoong menoleh ke kiri, dan menemukan sebuah pintu besar berwarna keemasan, dengan penuh rasa ingin tahu dia membuka handle pintu itu. Sepertinya susah dan macet, tetapi kemudian setelah Jaejoong mencoba beberapa kali, pintu itu terbuka dengan mudahnya, dengan suara berderit karena engsel yang sudah lama tak diminyaki.
Ruangan itu temaram, karena jendela kamarnya tertutup rapat oleh gorden, baunya pengap seperti sudah lama tidak dimasuki. Jaejoong meraba-raba dinding dan menemukan saklar di kamar itu, ditekannya saklar kamar itu, dan cahaya kekuningan yang lembut langsung menyinari seluruh ruangan.
Itu sebuah kamar. Kamar yang sangat feminin dengan nuansa merah muda yang lembut, hampir putih. Jaejoong mengitarkan pandangannya ke kamar itu dan mememukan sesuatu yang membuatnya tertegun...Dan memucat.
Ada sebuah lukisan besar yang digantung di kamar itu. Lukisan yang sangat besar dengan bingkai keemasan yang sangat indah. Tetapi bukan besarnya lukisan itu atau indahnya bingkai itu yang membuat Jaejoong tertegun, tetapi orang dalam lukisan itu.
Di sana terlukis seorang yeoja yang sedang berdiri di tengah taman mawar, dengan gaun merah muda dan rambut cokelat tuanya yang panjang dan berkilau, sedang tertawa bahagia, seolah-olah yeoja itu tidak bisa menahan senyumnya kepada siapapun yang melukisnya. Yeoja itu memeluk perutnya yang sedikit buncit, sedang hamil muda. Yeoja itu tampak penuh bahagia...penuh cinta, dan yang membuat Jaejoong luar biasa kagetnya, wajah yeoja itu...Wajah yeoja itu...Sama persis dengan wajahnya.
Oh ya Tuhan! Sama persis! Bagaikan pinang di belah dua. Meskipun yeoja di lukisan itu tampak lebih anggun dan lebih feminin, Jaejoong sangat yakin bahwa selain semua alasan itu, wajah mereka berdua tampak begitu serupa!
Tapi Jaejoong yakin itu bukan lukisan dirinya. Dia tidak pernah mengenakan gaun merah muda, dia tidak pernah dilukis di tengah taman mawar, dan yang pasti, dia tidak pernah hamil sebelumnya!
Jadi siapakah yeoja itu? Siapakah dia...?
“Seharusnya Anda tidak boleh ke area ini.”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

5 comments:

  1. Lukisan siapa itu?? Penasaran...

    ReplyDelete
  2. Anonymous11:55 AM

    Lukisa siapa itu .dan apa hubungan lukisan itu dg yunho

    ReplyDelete
  3. yunjae so sweet bngt .....jae pura2 selama ini ternyata dia mmndm prsaan yang sama
    yunho pintar bngt bikin jj nurut

    ReplyDelete
  4. Oh oke, jadi Yunho ... #plototinYun
    Jangan bilang..... ah sudah lah
    jadi kesel gue sama Yun, tapi semoga aja prasangka gue salah #manyun

    ReplyDelete
  5. Wah, Yunjae udah jadian nih ceritanya..
    Jaejoong terpaksa tp jg menikmati bgt kyanya. hihihi...
    Btw, foto siapa itu?

    ReplyDelete