Yunho terengah menahan kemarahan, “Jendela itu!” tunjuknya marah, lalu melangkah lebar-lebar menyeberangi ruangan dan menutup kaca jendela itu dengan kasar, dia membalikkan tubuhnya menghadap Jaejoong dengan posisi siap bertarung, “Lain kali tutup rapat-rapat jendela itu kalau sudah malam!!” teriaknya marah.
Jaejoong menatap Yunho bingung, “He, Wae?”
Karena aku melihatmu berganti pakaian bagaikan
siluet erotis dari bawah!! Karena pemandangan itu membuatku terangsang sampai
terasa nyeri!! Karena….
Yunho berdiri dengan tatapan membakar, siap
memuntahkan emosinya, tetapi kemudian menyadari bahwa dia hanya akan tampak
bodoh kalau meluapkan apa yang ada di pikirannya. Ditatapnya Jaejoong dengan
dingin dan mendesis pelan, “Pokoknya tutup jendela itu kalau sudah malam!” Dan
dengan penuh harga diri, Yunho melangkah keluar dari kamar Jaejoong,
meninggalkan pintu berdebam di belakangnya.
salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim
Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep
with the Devil
©Shanty Agatha
Pagi itu tak seperti biasa ada dua pelayan muda
yang membereskan kamar Jaejoong, sepertinya mereka orang baru. Jaejoong masih
duduk di sana selepas mandi dan membiarkan para pelayan itu membereskan
ranjangnya.
Salah seorang pelayan itu menarik bed cover Jaejoong
tampak memeriksa sepreinya, lalu berbisik-bisik satu sama lain dan tertawa
cekikikan, ketika Jaejoong menatap mereka dengan dahi berkerut, dua pelayan yeoja
itu memasang muka datar dan bergegas pergi.
Jaejoong menoleh ke arah Hyunjoong, yang juga ada
di ruangan itu, sedang membereskan baju-baju Jaejoong yang sepertinya tidak ada
habisnya dan terus berdatangan itu ke dalam lemari pakaian Jaejoong,
“Kenapa mereka bersikap seperti itu?” tanya Jaejoong
ingin tahu.
Hyunjoong melirik ke arah kepergian pelayan itu dan
tersenyum, “Mereka orang baru, dan tentu saja sangat penasaran denganmu.”
“Penasaran denganku?”
“Kekasih Jung Yunho yang terbaru,” jawab Hyunjoong
datar, “Ah, kau tidak tahu ya, semua orang kan membicarakan kalian. Bahkan,
namamu sempat muncul di beberapa tabloid gosip dan acara-acara gosip, yang
membahas kekasih terbaru Jung yunho yang misterius. Kau adalah satu-satunya yeoja
yang pernah tinggal bersama Yunho, dan mereka menebak-nebak serta mencari bukti
bahwa kalian telah bercinta, karena itulah tadi para pelayan tertawa cekikikan
ketika memeriksa sepraimu.”
Pipi Jaejoong merah padam, tetapi Hyunjoong
sepertinya tidak menyadarinya, dan tetap melanjutkan kata-katanya, “Yah para
pelayan itu mungkin saling berspekulasi dan menanti, kapan saat mereka akhirnya
bisa menemukan bukti-bukti bahwa kalian tidur bersama untuk dijadikan bahan
gosip selanjutnya,” gumamnya dalam senyum, Lalu menatap Jaejoong sambil
mengangkat alisnya, “Hei aku juga penasaran, kalau mereka serius mencarinya,
apakah mereka akan menemukan bukti-bukti itu Jae?” tanyanya penuh arti, membuat
pipi Jaejoong semakin merah padam.
.
.
.
.
.
.
.
“Nona Jaejoong?” Changmin masuk dan mengangkat alis
melihat Jaejoong mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah.
“Mwo?” suara Jaejoong tanpa sadar menegang. Semua yang
berhubungan dengan Yunho membuatnya tegang dan ingin mengumpat-umpat siapapun
yang ada di dekatnya.
“Tuan jung ingin bertemu anda.”
Bagus. Jaejoong menganggukkan kepalanya dan
mengikuti Changmin, lalu tertegun setengah mengernyit ketika Changmin membawa Jaejoong
ke kamar Yunho,
“Di kamar ini?”
Changmin mengangguk, dan entah Jaejoong salah lihat
atau tidak, hanya sedetik dia sempat melihat sinar geli di mata namja itu.
Kurang ajar. Jangan-jangan mereka semua mentertawakan ketakutannya pada Yunho.
“Ya Nona, Tuan jung ingin menemui anda di kamar
ini.”
Sejenak Jaejoong ingin kabur saja. Tetapi Jaejoong
sadar, ini sebuah tantangan, Yunho menantangnya dan Jaejoong tidak akan kalah.
“Baiklah.” Jaejoong menghela napas dalam-dalam dan
membiarkan Changmin membukakan pintu untuknya,
Dia langsung berhadapan Yunho yang berdiri dengan
begitu tampan di tengah ruangan. Namja itu menunggu Changmin menutup pintu dan
meninggalkan mereka berdua sendirian, lalu berkata tenang,
“Anyong Jae,” Yunho tersenyum tenang, “Sebenarnya
aku ingin membahas hal-hal yang berkaitan dengan ulang tahunmu ke dua puluh
lima….” senyumnya berubah misterius, “Tetapi kemudian aku sadar bahwa
pembiacaraan baik-baik tidak akan ada gunanya di antara kita, jadi aku langsung
saja.”
Hening, Yunho terdiam dan Jaejoong menunggu dengan
ingin tahu apa yang akan dikatakan namja itu,
“Aku sudah memutuskan masa depanmu.” Mata Yunho
begitu kelam seperti danau kecoklatan di kegelapan malam.
Masa depannya? Memangnya siapa namja ini bisa
memutuskan masa depannya? Jaejoong ingin meledak dalam kemarahan, tetapi tidak
mampu. Yunho tampak berbeda, dia tampak begitu tenang tetapi dibalut kemarahan
berbahaya, begitu dingin sekaligus mempesona. Lagipula, kenapa Jaejoong
berpikir bahwa Yunho mempesona? Sambil mengutuk dirinya sendiri, Jaejoong
mencoba menghapus pikiran-pikiran yang mengarah kepada keterpesonaannya kepada Yunho.
Jaejoong mengamati Yunho lagi dan sedikit merasa
tidak nyaman, karena melihat Yunho begitu tenang, tanpa sedikitpun emosi malah
terasa menakutkan.
Jaejoong tidak suka, dia lebih suka Yunho yang
meledak-ledak dan marah daripada Yunho yang seperti ini.Dengan Yunho yang
meledak-ledak Jaejoong bisa melawan dengan emosinya, tetapi dengan Yunho yang
begitu dingin yang bisa dilakukan Jaejoong hanyalah menyurut mundur, ketakutan.
Yunho mengamati reaksi Jaejoong melemparkan
pandangan menilai, lalu melanjutkan kata-katanya,
“Kau harus menjadi kekasihku yang sebenar-benarnya,
Jae. Mulai malam ini,” Yunho mulai berdiri, “Aku hanya sekali memberikan
penawaran. Kau jadi kekasihku, dan aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kalau
kau menolak, aku akan menganggapmu tak berharga dan melemparmu kepada
pengawal-pengawalku.”
Mwo?
Keringat membasahi dahi Jaejoong, Yunho bercanda
bukan? Apa maksudnya melemparnya kepada pelayan-pelayannya? Apakah Yunho ingin
memberikannya supaya diperkosa para pengawalnya? Yunho tidak mungkin sekejam
itu bukan? Jaejoong menatap mata Yunho dengan ketakutan, mencoba mencari
kebenaran di sana, tetapi dia tidak menemukannya.
Namja ini kejam, dan siapa tahu apa yang akan
dilakukannya?
“Otte Jae? Aku atau kau dibuang ke para
pengawalku?”
Jaejoong menatap Yunho marah, “Kau tidak akan
berani melakukan hal menjijikkan semacam itu.”
“Jangan menantangku Kim,” desis Yunho tajam, “Aku
bukannya belum pernah melakukannya kepada yeoja yang kuanggap tidak berguna
lagi.”
Jaejoong tertegun. Apakah Yunho benar-benar serius?
“Kau hidup disini dengan mewah, diperlakukan
seperti puteri raja, dihormati layaknya kekasih Jung yunho dan aku sudah muak
dengan kelakuanmu yang selalu menantangku setiap ada kesempatan. Sekarang hanya
ini pilihanmu dan kau akan memutuskan sekarang. Aku atau dibuang kepada para
pengawalku.”
Apakah dia bisa melarikan diri dari sini? Jaejoong
ingin berteriak panik, ataukah dia harus bunuh diri saja? Tetapi Jaejoong yakin
Yunho tidak akan membiarkannya. Oh, dengan kekejamannya mungkin Yunho akan
membiarkan Jaejoong mati, tetapi dia akan memastikan Jaejoong menderita dulu
sebelumnya.
“Kau...” Jaejoong menelan suara yang dikeluarkannya
dengan berat.
Ada nyala di mata Yunho, “Apa Jae? Aku tidak
mendengar.”
Yunho sengaja dan Jaejoong menggeram marah dalam
hatinya, kurang ajar!
”Kau, aku memilih kau.”
Senyum di bibir Yunho adalah senyum kemenangan yang
dingin.
“Kalau begitu, datanglah kemari kekasihku,” Namja
itu membuka tangannya, dan Jaejoong melangkah dengan tertahan ke arahnya.
Dengan sensual, namja itu meraih Jaejoong dan
mengecup bibirnya sekilas,
“Bagus, jangan uji kesabaranku, aku tidak mau
dilawan malam ini.”
.
.
.
.
.
.
.
Yunho membaringkan Jaejoong ke atas ranjang.
Jemarinya menyusup ke balik rok Jaejoong dan langsung menyentuh pusat kewanitaannya.
Sentuhan itu membakar sekaligus menyejukkan dan Jaejoong langsung mengangkat
tubuhnya penuh gairah. Yunho menundukkan kepalanya, mengecup leher dan pundak
Jaejoong sambil menurunkan kemejanya, menikmati betapa Jaejoong menyerah kepada
gairahnya.
“Ah Jae, kau begitu indah.” Yunho menangkup
payudara Jaejoong di telapaknya, merasakan dan menikmati kelembutan itu. Lalu
bibir panasnya turun dan menangkup pucuknya, melumatnya penuh gairah, membuat
Jaejoong hampir menjerit karena siksaan kenikmatan yang berbaur menjadi satu.
Namja itu menurunkan rok Jaejoong dan mulai
menyentuhnya, dimana-mana, meninggalkan gelenyar panas yang membakarnya. Jemari
Yunho menyentuh pusat kewanitaannya dan Jaejoong merasakan dorongan yang amat
sangat untuk memohon agar Yunho mau memasukinya.
Dan Yunho sudah siap, Namja itu terasa begitu keras
dan panas di bawah sana. Jaejoong mendesak-desakkan tubuhnya dengan frustrasi,
permohonan tanpa kata.
“Tenang Jae.” Yunho mulai terengah, menahan pinggul
Jaejoong yang bergairah di bawahnya, “Aku akan memuaskanmu sebentar lagi.”
Yunho menyentuhkan dirinya, dan langsung menggertakkan
giginya, melawan dorongan kuat untuk memasuki Jaejoong dengan kasar. Jaejoong
sudah sangat siap menerimanya, tetapi Yunho bertekad memperlakukannya dengan
lembut, memberikan tubuhnya untuk kenikmatan Jaejoong.
Ketika kehangatan Yunho merasukinya, tenggelam
dalam tubuhnya yang panas dan basah, Jaejoong mengerang dan memejamkan mata. Oh
astaga! Rasanya begitu tepat, kenikmatan ini, kedekatan ini yang telah dia
sangkal selama ini. Rasanya luar biasa tepatnya!
Mereka bergerak dalam alunan gairah yang keras,
berusaha memuaskan gejolaknya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya tubuh Jaejoong
terasa melayang, mencapai puncak kenikmatannya didorong oleh rasa klimaks yang
begitu dalam. Ketika mendengar erangan, Yunho mengikutinya. Menyerah dalam
orgasme bersamanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada yang berbeda dalam hubungan mereka. Jaejoong
menyadari pagi itu, mengingat senyum lembut Yunho ketika Jaejoong
terbirit-birit kembali ke kamarnya ketika hari hampir menjelang pagi. Terutama
perasaan Jaejoong pada Yunho, ada yang berubah.
Ternyata selama ini dia juga frustrasi oleh gairah
yang tertahan, sama seperti yang dirasakan Yunho. Dan ketika semalaman mereka
saling memuaskan gairah masing-masing, pagi ini perasaannya luar biasa bahagia.
Jaejoong bahkan merasa ingin bersenandung.
Pagi ini, karena Yunho biasanya sudah berangkat
bekerja jam-jam segini. Jaejoong memutuskan untuk mengisi waktunya dengan
menjelajah seluruh isi rumah. Dia memutuskan untuk menjelajahi area sayap kanan
rumah yang besar itu.
Tanpa di temani siapapun, Jaejoong menyusuri lorong-lorong,
ruangan demi ruangan, sampai akhirnya tiba di ujung lorong, dengan dinding yang
sepenuhnya terbuat dari kaca, memantulkan cahaya matahari ke seluruh lorong dan
pemandangan yang luar biasa indahnya di balik kaca. Pemandangan kebun mawar
berwarna merah tua yang merambat dan memenuhi taman kecil di sana.
Jaejoong terpesona hingga hampir sesak napas. Dia
berdiri cukup lama di depan taman itu, lalu kemudian mengerutkan keningnya
ketika menyadari, bahwa sayap kanan rumah ini, meskipun tampak bersih dan
terawat, tampaknya hampir tidak pernah digunakan.
Jaejoong menoleh ke kiri, dan menemukan sebuah
pintu besar berwarna keemasan, dengan penuh rasa ingin tahu dia membuka handle
pintu itu. Sepertinya susah dan macet, tetapi kemudian setelah Jaejoong mencoba
beberapa kali, pintu itu terbuka dengan mudahnya, dengan suara berderit karena
engsel yang sudah lama tak diminyaki.
Ruangan itu temaram, karena jendela kamarnya
tertutup rapat oleh gorden, baunya pengap seperti sudah lama tidak dimasuki.
Jaejoong meraba-raba dinding dan menemukan saklar di kamar itu, ditekannya
saklar kamar itu, dan cahaya kekuningan yang lembut langsung menyinari seluruh
ruangan.
Itu sebuah kamar. Kamar yang sangat feminin dengan
nuansa merah muda yang lembut, hampir putih. Jaejoong mengitarkan pandangannya
ke kamar itu dan mememukan sesuatu yang membuatnya tertegun...Dan memucat.
Ada sebuah lukisan besar yang digantung di kamar
itu. Lukisan yang sangat besar dengan bingkai keemasan yang sangat indah.
Tetapi bukan besarnya lukisan itu atau indahnya bingkai itu yang membuat
Jaejoong tertegun, tetapi orang dalam lukisan itu.
Di sana terlukis seorang yeoja yang sedang berdiri
di tengah taman mawar, dengan gaun merah muda dan rambut cokelat tuanya yang
panjang dan berkilau, sedang tertawa bahagia, seolah-olah yeoja itu tidak bisa
menahan senyumnya kepada siapapun yang melukisnya. Yeoja itu memeluk perutnya
yang sedikit buncit, sedang hamil muda. Yeoja itu tampak penuh bahagia...penuh
cinta, dan yang membuat Jaejoong luar biasa kagetnya, wajah yeoja itu...Wajah yeoja
itu...Sama persis dengan wajahnya.
Oh ya Tuhan! Sama persis! Bagaikan pinang di belah
dua. Meskipun yeoja di lukisan itu tampak lebih anggun dan lebih feminin,
Jaejoong sangat yakin bahwa selain semua alasan itu, wajah mereka berdua tampak
begitu serupa!
Tapi Jaejoong yakin itu bukan lukisan dirinya. Dia
tidak pernah mengenakan gaun merah muda, dia tidak pernah dilukis di tengah
taman mawar, dan yang pasti, dia tidak pernah hamil sebelumnya!
Jadi siapakah yeoja itu? Siapakah dia...?
“Seharusnya Anda tidak boleh ke area ini.”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

Lukisan siapa itu?? Penasaran...
ReplyDeleteLukisa siapa itu .dan apa hubungan lukisan itu dg yunho
ReplyDeleteyunjae so sweet bngt .....jae pura2 selama ini ternyata dia mmndm prsaan yang sama
ReplyDeleteyunho pintar bngt bikin jj nurut
Oh oke, jadi Yunho ... #plototinYun
ReplyDeleteJangan bilang..... ah sudah lah
jadi kesel gue sama Yun, tapi semoga aja prasangka gue salah #manyun
Wah, Yunjae udah jadian nih ceritanya..
ReplyDeleteJaejoong terpaksa tp jg menikmati bgt kyanya. hihihi...
Btw, foto siapa itu?